Anda di halaman 1dari 4

DERMATOFITOSIS

/SOP/UKP-VII/PAK/
No.Dokumen :
/2018

No. Revisi : 00
SOP
Tanggal Terbit :

Halaman : 1/4

UPT
PUSKESMAS dr. Ratna Tanjung
ARAS KABU NIP. 19740402 200801 2 016

1. Pengertian Dermatofitosis adalah infeksi jamur dermatofita yang memiliki sifat


mencernakan keratin di jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum
korneum pada epidermis, rambut, dan kuku.
Penularan melalui kontak langsung dengan agen penyebab. Sumber penularan
dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik) atau
dari tanah (jamur geofilik).

2. Tujuan 2.1 Dokter mampu mendiagnosa Dermatofitosis


2.2 Memberikan terapi yang tepat sehingga mampu mencegah terjadinya
komplikasi

3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT. Puskesmas Aras Kabu


No. /SKP/UKP-VII/PAK/ /2018. tentang Kebijakan Pelayanan Klinis

4. Referensi Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 514 Tahun 2015 tentang
Pedoman Pelayanan Klinis

5. Alat dan a. Tensi meter


Bahan b. Stetoskop
c. Termometer
d. Arloji

6. Langkah- 6.1. Anamnesa


langkah Keluhan
Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah
bersisik yang gatal. Adanya riwayat kontak dengan orang yang mengalami
dermatofitosis.
Faktor Risiko
a. Lingkungan yang lembab dan panas

1
b. Imunodefisiensi
c. Obesitas
d. Diabetes Melitus
6.2. Pemeriksaan Fisik
Lesi berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang
lebih aktif daripada bagian tengah, dan konfigurasi polisiklik. Lesi dapat
dijumpai di daerah kulit berambut terminal, berambut velus (glabrosa) dan
kuku.
6.3 Pemeriksaan Penunjang
Bila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan KOH,
akan ditemukan hifa panjang dan artrospora.
6.4 Penegakan Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Bila
diperlukan dilakukan pemeriksaan penunjang. Klasifikasi dermatofitosis
yang praktis adalah berdasarkan lokasi, yaitu antara lain:
 Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala
 Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jenggot
 Tinea kruris, pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan perut
bagian bawah.
 Tinea pedis et manum, pada kaki dan tangan
 Tinea unguium, pada kuku jari tangan dan kaki
 Tinea korporis, pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea di
atas. Bila terjadi di seluruh tubuh disebut dengan tinea imbrikata.
6.5 Diagnosa Banding
 TINEA KORPORIS
 Dermatitis numularis.
 Pytiriasis rosea.
 Erythema annulare centrificum.
 Granuloma annulare.
 TINEA KRURIS
 Candidiasis.
 Dermatitis Intertrigo.
 Eritrasma.
 TINEA PEDIS
 Hiperhidrosis.
 Dermatitis kontak.
 Dyshidrotic eczema.
 TINEA MANUM

2
 Dermatitis kontak iritan
 Psoriasis
 TINEA FASIALIS
 Dermatitis seboroik
 Dermatitis kontak
6.6 Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
a. Hygiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara
bersamaan harus dihindari.
b. Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:
c. Antifungal topikal seperti krim klotrimazol, mikonazol, atau terbinafin,
yang diberikan hingga lesi hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian
untuk mencegah rekurensi.
d. Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal,
dilakukan pengobatan sistemik dengan:
a. Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g untuk orang dewasa
dan 0,25 – 0,5 g untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg/kgBB/hari,
terbagi dalam 2 dosis.
b. Golongan azol, seperti:
 Ketokonazol: 200 mg/hari,
 Itrakonazol: 100 mg/hari, atau
 Terbinafin: 250 mg/hari
Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.
6.7 Komplikasi
Jarang ditemukan, dapat berupa infeksi bakterial sekunder.
6.8 Edukasi dan Konseling
Edukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit. Edukasi pasien
dan keluarga juga untuk menjaga hygienetubuh, namun penyakit ini bukan
merupakan penyakit yang berbahaya.
6.9 Kriteria Rujukan
 Penyakit tidak sembuh dalam 10-14 hari setelah terapi.
 Terdapat imunodefisiensi.
 Terdapat penyakit penyerta yang menggunakan multifarmaka.
6.10 Prognosis
Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya bonam, sedangkan
pasien dengan imunokompromais, quo ad sanationamnya menjadi dubia ad
bonam.

7. Bagan Alur -

3
8. Hal-hal yang Mengobservasi keadaan pasien
perlu
diperhatikan
9. Unit Terkait 1. Pendaftaran
2. Poli Umum
3. Apotek
10. Dokumen 1. Rekam medis
terkait 2. Catatan tindakan
11. Rekaman No Yang Diubah Isi Perubahan Tanggal mulai diberlakukan
histori
perubahan