Anda di halaman 1dari 1

Setelah memahami rentetan penjelasan di atas, dan sepakat dengan hipotesis penulis tentang

keragaman pajak, maka muncul pertanyaan kritis berikutnya. Okelah, kita sepakat bahwa pajak atau
pungutan itu beragam jenisnya tapi kenapa harus dibedakan pemungutnya? Ada yang dipungut oleh
pemerintah pusat dan ada yang dipungut oleh pemerintah daerah, kenapa tidak diserahkan saja kepada
satu pemungut, misal pemerintah pusat atau pemerintah daerah?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus kembali pada sistem pemerintahan di negara kita, di
mana sistem pemerintahan di negara kita menganut desentralisasi atau berdasarkan asas otonomi bagi
suatu pemerintahan daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014. Desentralisasi
sebenarnya adalah istilah dalam keorganisasian yang secara sederhana didefinisikan sebagai
penyerahan kewenangan.

Kewenangan dimaksud meliputi kewenangan dalam menyusun, mengatur, dan mengurus daerahnya
sendiri tanpa ada campur tangan serta bantuan dari pemerintah pusat. Bagian terbesar dari
kewenangan itu salah satunya dalam menyusun dan menjalankan keuangan daerah secara mandiri. Hal
ini terlihat adanya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang disusun atau dirancang oleh
pimpinan eksekutif daerah (bupati/walikota/gubernur) dengan pimpinan legislatif daerah (DPRD Tingkat
I dan Tingkat II) yang mencerminkan otonomi penuh daerah dalam mengelola keuangannya. Dan salah
satu sumber utama keuangan di sebuah daerah adalah pajak. Karena itulah, pemerintah pusat berbagi
objek pungutan pajak dengan pemerintah daerah alasan utamanya adalah sistem desentralisasi atau
otonomi daerah di negara kita. Dan semangat ini kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Nomor
28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.