Anda di halaman 1dari 9

BUKAN SEKEDAR TEMAN

“KRINGGG! KRINGGG! KRINGGG!“,Suara itu selalu mengganggu

pagi hariku,dengan sangat terpaksa aku harus beranjak dari tempat

tidur,langsung saja aku bersiap-siap menuju ke sekolah untuk melakukan

aktifitas pagi sebagaimana semestinya. Oiya,Perkenalkan namaku Rina ratika,

aku duduk dikelas 10 di SMA 1 Jakarta Barat.

“Rinnn!Rinnn! itu temen kamu jemput,udah siap belum?”,ucap mamaku

dari luar kamar.

“Iya,ini udah mau keluar kok ma”,Dengan membawa tas dan juga sepatu

kets hitam yang biasa rina kenakan.

“Ma Rina berangkat dulu ya”,dengan sopan Rina menyalam tangan serta

berpamitan kepada ibunya.

“Gak sarapan dulu Rin?”,tanya ibu nya.

“Gak deh ma,takut gak keburu ini udah terlambat”,Sambil berlari kearah

Tia,dia teman yang menjemput Rina itu.

Sampailah Rina dan temannya itu disekolah dengan keadaan gerbang

yang sudah tertutup.”Yah... gimana dong ti,ini gerbang udah tutup”,mengeluh

seraya turun dari motor temannya itu.”Ya mau gimana lagi,mau gak mau kita

harus dihukum deh”,sambil berjalan menuju gerbang bersama Rina dan

beberapa temannya yang terlambat lainnya.


“Hei kalian yang terlambat baris di sini sekarang!”,ucap bapak Cahyadi

selaku guru BK yang terkenal killer itu. “IYA PAK”,Ucap Rina dan teman-

temannya.

“Sudah berapa kali bapak bilangin gerbang tutup jam 07.10 kenapa masih

ada juga yang terlambat? Apa gak ada yang tau peraturan sekolah ini?”,dengan

wajah geram pak Cahyadi mengeluarkan pena dan buku kecil untuk mencatat

siapa saja yang terlambat. Satu persatu nama kami pun dicatat.

“Oke,bapak akan bagi beberapa kelompok untuk hukuman yang akan

kalian jalani, Tedi,Dimas,dan Riyon silahkan bersihkan ruang lab fisika”, Rina

tidak terlalu mendengarkan bapak itu berbicara sampai tiba nama nya

disebutkan “Tia,Rina,dan Rahma silahkan bersihkan toilet belakang”, ucap pak

Cahyadi dengan santainya. “HAH! Bersihkan toilet belakang? Toilet yang

terkenal jorok itu?”,ucap Rina dengan sangat terkejut Karena konon ada rumor

bahwa toilet tersebut angker . “Iya Rani,Gak apa-apa kok kita bertiga jadi gak

terlalu sepi disana”.

Sampai lah Rina dengan kedua temannya tadi, dengan sangat terkejut,

Rani melihat betapa joroknya toilet tersebut.Mulai lah Rani dan kedua

temannya membersihkan toilet itu. Dari yang Rani lihat disini sedikit gelap

akibat hanya ada 1 lampu yang masih hidup dan juga lampu tersebut tidak

terlalu terang. Mulailah Rani dan kedua temannya mengepel toilet tersebut.

Tiba-tiba lampu mati dan ada bunyi “BRAKK!” sepertinya ada yang

menutup pintu dari luar. Tiba-tiba Rani merasa takut “Ti kamu dimana? Aku
takut.... Rahma,kamu dimana?”, tidak ada yang menyahuti ucapannya tiba-tiba

Rani menangis sambil berjalan memegang tepi dinding toilet itu. Dengan sangat

histeris Rani menangis dengan mengucapkan nama “Tia” tiba-tiba lampu hidup

dan terlihat Tia yang sedang tegak dihadapannya dengan senyum yang hangat

dan hasrat akan kekhawatiran akibat melihat Rani menangis, tiba-tiba Rani

memeluk Tia dan Rani mulai mencari-cari Rahma dan dia tidak melihat Rahma

mulai saat itu dia mulai sadar bahwa Tia bukan hanya sekedar teman baginya

melainkan “SAHABAT”.

UNSUR INTRINSIK DARI CERPEN DIATAS :

Tema: Persahabatan

Tokoh: Utama-Rani

Pembantu-Tia,Ibu Rani,Pak Cahyadi

Watak: Rani penakut dan baik hati,Tia baik hati dan dermawan

Alur: Maju

Latar: Tempat- Rumah Rani,Sekolah,Toilet Sekolah

Waktu-Pagi

Suasana-Mengharukan

Sudut Pandang: Orang Pertama

Amanat: Sahabat sejati akan melakukan apapun untuk menyelamatkan

kita dan selalu setia disamping kita.


Seorang Istri

Wanita tersebut bernama Martini. Kini ia telah kembali untuk mengijakkan kaki

di tanah air yaitu tanah air Indonesia, setelah tiga tahun ia meninggalkan

kampung halamannya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari arah selatan

Wonosari Gunung Kidul. Di dalam benak wanita tersebut berbaur antara rasa

haru, rindu dan senang. Tinggal hitungan jam, ia akan dapat bertemu kembali

dengan sang suami dan anaknya.

Ketika itu Martini meninggalkan anaknya yang masih berumur tiga tahun. Ia

membayangkan anak laki-lakinya kini sudah duduk dibangku sekolah dasar

mengenakan seragam putih merah serta menempati rumahnya yang baru hasil

dari keringatnya bekerja di Arab Saudi.

Martini merupakan seorang tenaga kerja wanita yang tergolong berhasil dari

sekian banyak cerita mengenai tenaga kerja wanita yang nasibnya tidak

seberuntung Martini. Tak jarang seorang TKW pulang kembali ke tanah air

dengan berbadan dua alias hamil tanpa jelas siapa ayah sang janin tersebut.

Disiksa, dianiaya dan berbagai macam penyiksaan terus dialami oleh TKW

Indonesia di luar negeri. Martini merupakan TKW yang beruntung memiliki

majikan yang sangat baik hari, bahkan dalam kurun waktu tiga tahun bekerja

dengan majikannya. Ia sudah dua kali melaksanakan umroh dengan dibiayai

oleh majikannya.
Setelah pesawat sampai di bandar, martini melihat dengan seksama

disekelilingnya. Ia berharap ada suami dan anaknya yang menjemput dirinya.

Rasa kecewa dan iri sempat merasuki pikirannya pada saat ia melihat rekan-

rekannya dijemput serta disambut kedatangannya oleh keluarganya.

Namun ia memilih untuk berhusnudzon karena ia berpikir bahwa ia datang

terlambat tiga hari dari jadwal kepulangannya. Bahkan Martini merasa bersalah

karena tidak memberitahukan kedatangannya melalui telepon sebelumnya.

Akhirnya ia memutuskan naik taksi bandara menuju terminal Pulogadung. Dari

terminal Pulogadung ia akan langsung berangkat ke Wonosari dengan menaiki

bus maju lancar. Ia ingin segera naik bus dan langsung beristirahat karena

tubuhnya saat ini sudah terlalu letih untuk perjalanan yang cukup memakan

waktu dan tenaga dari Arab Saudi.

Tanpa ia sadari, ia sudah sampai di kampung halamannya yaitu di Wonosari.

Namun, ia melihat ada hal yang aneh, rumahnya yang sekaligus warisan

ayahnya yang telah ia huni bersama suami, anak dan ibunya masih terlihat

sama. Ia berpikir dimana rumah baru yang dikirimkan fotonya oleh suaminya.

Ia pun langsung mengetuk pintu rumah, lalu ada seorang anak yang menjawab.

“Mba ingin cari siapa?” tanya anak tersebut setelah membukakan pintu rumah.
“Andra? Ini aku ibumu, sudah lupa ya. Apakah bapakmu tidak pernah

menceritakan tentang diriku?” ucap martini yang balik bertanya kepada

anaknya.

“Ayah? Ibu? silahkan masuk. Sebentar nanti Andra bangunkan mbah dulu,”

Ucap Andra sambil berlari menuju ke arah kamar sang nenek.

Martini pun masuk ke dalam rumah sambil memerhatikan keadaan rumah yang

tidak berubah sedikit pun semenjak ia pergi. Ibu Martini pun keluar dari

kamarnya menyambut sang anak, lalu disusul Anda yang membawakan segelas

teh hangat.

“Bagaimana keadaan simbok?”. Tanya Martini kepada ibunya.

“Oh, anakku simbok di sini keadannya baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana

keadaannya, tin?”. Tanya balik ibunya kepada Martini.

“Aku baik-baik saja mbok, oh iya mau tanya suami aku dimana yah mbik?”

Tanya Martini. Mendengar hal tersebut raut ibu Martini berubah drastis.

“Tentang suamimu, nanti simbok akan ceritakan padamu, sebaiknya kamu

istirahat dulu. Kamu pasti capek setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh.

Inget, diminum dulu teh hangatnya”. saran ibu Martini.


Martini pun menurut saja apa yang telah disarankan oleh ibunya. Setelah

meminum segelas teh hangat, ia pun tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya

yang lelah. Tetapi, tetap aja ia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya

tetap memikirkan tentang suaminya.

Karena rasa penasarannya, ia pun mencoba bangkit lalu bertemu dengan ibunya

yang sedang memasak di dapur.

“Maaf mbok, suamiku dimana yah? Tini sudah rindu dan ingin bicara

dengannya.” Ujar Martini memulai kembali percakapan. Ibu Martini pun

terlihat berpikir sejenak, kemudian berdiri dan mengambil satu gelas air putih

dari kendi.

“Minumlah air putihnya supaya kamu lebih tenang. Tini, nanti simbok akan

ceritakan di mana suamimu berada, jika kamu sudah tidak sabar.”

Ia pun diceritakan oleh ibunya mengenai suaminya yang telah membuat rumah

baru di desa sebelah. Namun ia tergoda oleh wanita yang tepat berada disebelah

rumah baru tersebut, yaitu tetangganya sendiri. Akhirnya ia pun meninggalkan

kami disini.

Wajah Martini pun terlihat sedih mendengar kabar tersebut. Ia telah bersusah

payah kerja demi suami dan anaknya. Namun suaminya tersebut

meninggalkannya. Pikirannya sangat kacau ketika itu. Ia pun memutuskan


untuk menyambangi suami dan istri barunya. Ia berjalan dengan penuh rasa

kecewa dan sekaligus sedih.

Tapi, tiba-tiba terdengar suara, “Mbak-mbak bangun sudah sampai Wonosari!”.

Dan ternyata kejadian tersebut hanyalah mimpi. Setelah bangun, ia memastikan

bahwasanya hal tersebut merupakan mimpi yaitu dengan melihat ke jendela.

“Alhamdulillah Ya Allah, ternyata semua itu mimpi.” ucapan syukur Martini

yang bahagia karena kejadian yang membuat ia sedih merupakan mimpi.

Unsur Intrinsik

1. Tema: Percayalah kepada niat baikmu.

2. Latar:

– Tempat: Di dalam bis dan di kampung halaman (Wonosari)

– Waktu: Tiga tahun sesudah kepergian Martini menuju Arab Saudi.

– Suasana: Diawal cerita suasana yang tampak biasa saja, namun pada

pertengahan kisah suasana yang timbul sedikit menegangkan pada

saattokoh utama bermimpi

3. Alur: Alur Maju

4. Tokoh:

– Martini : Wataknya bertanggung jawab terhadap keluarga, pekerja

keras, lembut dan sabar.

– Mbok: Sabar
– Andra: Patuh terhadap orang tua

– Mas +oko: Tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga.

5. Sudut Pandang: orang ketiga

6. Suasana Hati/Mood: kebahagiaan, penyesalan, kecemburuan, kesabaran

dan kecuriagaa.

7. Amanat:

– Senantiasa berbuat baik untuk menggapai ridho Allah SWT.

– Kesabaran serta keuletan dalam bekerja akan membuahkan hasil.

– Jangan bersikap su’udzon terhadap segala hal sebelum ada buktinya.

– Seharusnya seorang suami haruslah bertanggung untuk mencari nafkah

bukan sang istri