Anda di halaman 1dari 22

Penghasilan Kena Pajak

(Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Pajak)

Dosen pengampu: Ismawati Haribowo

Disusun oleh :

Muhammad Bagus D. W. 11170820000057


Nadhir Khairunnisa 11170820000058
Rizal Umami Ahmada 11170820000076
Ramadhan 11170820000071

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN AKUNTANSI

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt. karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tema “AKUNTANSI PERPAJAKAN : Penghasilan kena
pajak”. Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen Akuntansi
Perpajakan Ismawati Haribowo,S.E.,M.Si.semoga makalah ini membantu menambah
pengetahuan untuk para pembaca, sehingga kedepannya dapat lebih baik.Makalah ini kami
akui masih banyak kekurangan, karena pengetahuan yang kami miliki sangat terbatas.

Oleh karena itu, kami berharap kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Ciputat, 9 September 2019

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1


1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Penghasilan kena pajak 2


2.2 Penghasilan final dan tidak final 5
2.3 Konsep realisasi 13
2.4 Penghasilan luar negeri 14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 16

DAFTAR PUSTAKA 17

2
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang

Pada zaman sekarang, tepatnya di era revolusi industri ini, pemerintah sangat gencar
melakukan pembangunan di berbagai sektor. Mulai dari pendidikan, ekonomi, maupun
Sumber daya masyarakatnya. Pembangunan ini bersumber dari APBN. APBN memiliki
sumber pemasukan paling banyak melalui sektor perpajakan.

Pemerintah telah mengatur segala aktivitas yang memutarkan roda ekonomi masyarakat
dengan adanya pajak ini. Pajak selain sebagi sumber pendapatan negara juga bisa sebagai
pengatur roda perekonomian masyarakat. Segala transaksi yang ada dimasyarakat sudah
diatur dalam Undang undang perpajakan. Seluruh Orang Pribadi maupun badan usaha sudah
tercantum didalam undang-undang tersebut. Seluruh penghasilan atau kegiatan bernilai
tambah ekonomi sudah terpantau oleh undang-undang ini.

I.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja instrumen dari Penghasilan kena pajak ?

2. Apa itu konsep realisasi dalam perpajakan?

I.3 Tujuan

Tujuan dari makalah ini yaitu mengetahui tentang apa saja yang terkait dengan
penghasilan kena pajak dan memahami konsep realisasi dalam perpajakan.

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penghasilan kena pajak
Penghasilan kena pajak atau penghasilan yang merupakan objek pajak dapat dibedakan
menjadi seperti berikut ini.

a) Penghasilan dari kegiatan usaha

b) Penghasilan sebagai karyawan

c) Penghasilan dari pemberi jasa

d) Penghasilan dari modal atas harta yang bergerak

e) Penghasilan dari modal atas harta tak bergerak

f) Penghasilan dari pembebasan hutang

a) Penghasilan dari kegiatan usaha

Penghasilan dari suatu kegiatan usaha, yang merupakan objek pajak didapat dari
kegiatan usaha pokoknya maupun kegiatan usaha lainnya. Penghasilan tersebut dapat
dibedakan menjadi seperti berikut ini:

- Laba Usaha

Laba usaha adalah penghasilan utama dari suatu kegiatan usaha perusahaan yang
bersifat rutin.

- Penghasilan diluar usaha

Selain penghasilan utama perusahaan yang bersumber dari laba, perusahaan juga bisa
mendapatkan penghasilan di luar usaha, baik dari kegiatan sampingan ataupun yang
berasal dari pemanfaatan harta, atau akibat adanya peraturan tertentu.

Penghasilan dari luar usaha tersebut pada akhir tahun harus digabung dengan laba
usaha untuk diperhitungkan pajaknya, kecuali kalau penghasilan di luar usaha tersebut bukan
merupakan objek PPh atau sudah dikenakan PPh Final.

b) Penghasilan sebagai karyawan

4
Penghasilan yang didapat dalam kaitannya WP sebagai karyawan atau pegawai
merupakan objek pemotongan PPh pasal 21 dari pemberi kerja. Adapun penghasilan ini
antara lain dapat berupa :

- Gaji

- Upah

- Tunjangan

- Honorarium

- Komisi, bonus, THR, Gratifikasi, dan lainnya

- Hadiah

c) Penghasilan dari Pemberian Jasa

Jasa dapat diberikan oleh WP baik sebgai orang pribadi maupun sebgai badan usaha.
Pekerjaan berupa jasa yang diberikan oleh pemberi jasa, yang atas jasa tersebut pemakai jasa
tersebut pemakai jasa memberikan imbalan yang terlebih dahulu pemakai jasa (pemberi
imbalan) harus memotong PPN maupun PPh. Bagi pemberi jasa (penerima imbalan) imbalan
jasa tersebut merupakan penghasilan. Kegiatan jasa dapat merupakan pekerjaan utama Wajib
Pajak, tetapi juga dapat merupakan pekerjaan sampingan.

Dalam hubungannya dengan pengakuan penghasilan, tidak semua jenis jasa akan
dibahas. Beberapa spesifiakasi jasa tertentu saja yang akan merupakan bahasan, sedangkan
kegiatan jasa lainnya yang tidak memiliki spesifikasi khusus dalam peraturan perpajakan
yang akan dibahas secara umum. Adapun berbagai jenis jasa tersebut antara lain:

 Jasa pelayaran

 Jasa Kontruksi

 Jasa Perenca dan jasa pengawasan

 Jasa tenaga ahli

d) Penghasian dari modal atas harta yang bergerak

Penghasilan dari modal atau harta yang bergerak dapat berupa:

 Keuntungan karena selisih kurs

 Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta

 Sewa harta yang bergerak

5
e) Penghasilan dari modal berupa harta yang tak bergerak

Penghasilan dari modal berupa harta tak bergerak, antara lain dapat berupa :

- Bunga

- Dividen

- Royalti

f) Penghasilan dari pembebasan Hutang

Pembebasan hutang oleh pihak yang berhutang dianggap sebagai penghasilan bagi
pihak yang semula berhutang, sedangkan bagi pihak yang berpiutang dapat dibebankan
sebgai biaya. Dengan peraturan pemerintah dapat dikecualikan dari ketentuan tersebut,
seperti dalam hal berikut ini:

- Hutang dari debitur kecil, misalnya Kredit Usaha Keluarga Prasejahtera


(Kukesra), Kredit Usaha Tani (KUT), kredit untuk perumahan sangat sederhana.

- Kredit kecil sampai batasan sebesar Rp300.000.000,-

6
B. Pajak Penghasilan Final
Defenisi Pajak Penghasilan Final

Pajak penghasilan (PPh) dapat dikelompokkan menjadi PPh yang bersifat final dan PPh
bersifat tidak final. Pajak penghasilan bersifat final artinya pajak penghasilan yang
pengenaannya sudah final (berakhir) sehingga tidak dapat dapat dikreditkan (dikurangkan)
dari total pajak penghasilan terutang pada akhir tahun pajak. Pajak penghasilan bersifat final
dikelompokkan sebagai berikut.

1. PPh atas penghasilan dari usaha yang diterima/diperoleh Wajib Pajak yang memiliki
peredaran bruto tertentu
2. PPh Pasal 15 UU PPh untuk usaha tertentu
3. PPh Pasal 4 ayat (2) UU PPh

a. Pajak Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima/diperoleh Wajib


Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu
Pajak penghasilan atas penghasilan dari usaha bagi Wajib Pajak dengan peredaran bruto
tertentu dapat melakukan penghitungan, penyetoranm dan pelaporan pajak penghasilan
yang terutang. Tarif Pajak Penghasilan (PPh) final 0,5% bagi usaha skala UKM (usaha
kecil menengah) resmi diberlakukan mulai 1 Juli 2018 berdasarkan Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor 23 tahun 2018. Penghasilan wajib pajak yang tidak termasuk dalam
peraturan pemerintah ini adalah peredaran bruto dari:
a. Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas,yaitu pengacara, akuntan, arsitek, dokter,
konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris, pemain musik dan kegiatan sejenis lainnya.
b. Penghasilan yang diterima dari luar negri.
c. Usaha yang atas penghasilannya telah dikenai pajak penghasilan yang bersifat final
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri.
d. Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.
e. Wajib Pajak badan yang belum beroperasi secara komersial.
f. Wajib Pajak badan yang dalam jaangka waktu 1 tahun setelah beroperasi secara
komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp.4.800.000.000,-

b. Pajak Penghasilan Bersifat Final Pasal 15

Penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan Final berdasarkan PPH Pasal 15 adalah
perusaahn pelayaran dan/atau penerbangan luar negri yang mempunyai Bentuk Usaha Tetap
(BUT) di Indonesia dan perusahaan pelayaran dalam negeri untuk mengangkut orang
dan/atau barang.

7
Berdasarkan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak perusahaan pelayaran dan/atau
penerbangan luar negeri yang mempunyai Bentuk Usaha Tetap (BUT) di Indonesia adalah
sebesar 2,64% dari peredaran bruto yaitu semua imbalan atau nilai pengganti berupa uang
atau nilai uang yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak perusahaan pelayaran dan/atau
penerbangan luar negri dari pengangkutan orang dan/atau barang yang dimuat dari satu
pelabuahn ke pelabuhan lain di Indonesia.

c. Pajak Penghasilan atas penghasilan bersifat final Pasal 4 ayat (2) UU PPh

 Bunga Deposito/Tabungan, Diskonto SBI dan Jasa Giro


Deposito adalah deposito dengan nama dan dalam bentuk apapun,termasuk deposito
berjangka,sertifikat deposito dan “deposit on call” baik dalam mata uang rupiah
maupun dalam mata uang asing yang ditempatkan pada atau diterbitkan oleh bank.

Tabungan adalah simpanan pada bank dengan nama apapun, termasuk giro, yang
penarikannya dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh masing-
masing bank.

Penghasilan berupa bunga dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diterima atau
diperoleh dari deposito dan tabunagn serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia
dipotong Pajak Penghasilan yang bersifat final. Pengenaan Pajak Pengasilan atas
bunga deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia adalah sebagai
berikut:
 dikenakan PPh final sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto terhadap
Wajib Pajak dalan negeri dan bentuk usaha tetap,
 dikenakan PPh final sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto atau
dengan tarif berdasarkan Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda yang
berlaku,terhadap Wajib Pajak luar negeri.

Pemotongan PPh final di atas tidak dilakukan terhadap :

a. bunga deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia sepanjang
jumlah deposito dan tabungan serta Sertifikat Bank Indonesia tersebut tidak
melebihi Rp.7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah);
b. bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di Indonesia
atau cabang bank luar negeri di Indonesia;
c. bunga deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia yang
diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan sepanjang dananya diperoleh dari sumber pendapatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 UU No. 11 Tahun 1992 tentang Dana
Pensiun;

8
d. bunga tabungan pada bank yang ditunjuk Pemerintah dalam rangka pemilikan
rumah sederhana dan sangat sederhana,kaveling siap bangun untuk rumah
sederhana dan sangat sederhana,atau rumah susun sederhana sesuai dengan
ketentuan yang berlaku,untuk dihuni sendiri.

 Bunga/Diskonto Obligasi
Besarnya Pajak Penghasilan yang bersifat final :
1. Atas bunga obligasi dengan kupon (interest bearing bond) sebesar:
1.1 Lima belas persen (15%),bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
(BUT);
1.2 Dua puluh persen (20%) atau tarif sesuai ketentuan Persetjuan Penghindaran Pajak
Berganda (P3B) yang berlaku, bagi Wajib Pajak penduduk/ berkedudukan di luar
negri, dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikkan obligasi.
2. Atas diskonto obligasi dengan kupon sebesar:
2.1 Lima belas persen (15%),Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
(BUT);
2.2 Dua puluh persen (20%) atau tarif sesuai sesuai ketentuan Persetjuan
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang berlaku, bagi Wajib Pajak penduduk/
berkedudukan di luar negri,dari selisih lebih harga jual pada saat transaksi atau
nominal pada saat jatuh tempo obligasi di atas harga perolehan obligasi,tidak
termasuk bunga berjalan (accrued interest).
3. Atas diskonto obligasi tanpa bunga (zero coupon bond) sebesar:
3.1 Lima belas persen (15%),Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
(BUT);
3.2 Dua puluh persen (20%) atau tarif sesuai sesuai ketentuan Persetjuan
Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang berlaku, bagi Wajib Pajak penduduk/
berkedudukan di luar negri,dari selisih lebih harga jual pada saat transaksi atau
nominal pada saat jatuh tempo obligasi di atas harga perolehan obligasi.
4. Bunga dan/atau diskonto dari obligasi yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak
reksadana yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
sebesar:
4.1 Nol persen (0%) untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010;
4.2 Lima persen (5%) tahun 2011 sampai dengan tahun 2013;dan
4.3 Lima belas persen (15%) untk tahun 2014 dan seterusnya.

 Bunga Simpanan Yang Dibayarkan Oleh Koperasi Kepada Anggota Wajib


Pajak Orang Pribadi

Bunga simpanan adalah imbalan berupa bunga simpanan yang diterima anggota koperasi
orang pribadi dari dananya yang disimpan pada koperasi tempatnya menjadi anggota
yang merupakan bagian dari sisa hasil usaha (SHU) (Billy Ivan Tansuria,2011:28).

9
Anggota koperasi orang pribadi yang memperoleh penghasilan berupa bunga simpanan
yang dibayarkan oleh koperasi yang didirikan di Indonesia dikenai Pajak Penghasilan
yang bersifat final.

5. Besarnya Pajak Penghasilan adalah:


a. Nol persen (0%) untuk penghasilan berupa bunga simpanan sampai dengan
Rp.240.000,- (dua ratus empat puluh ribu rupiah) per bulan;atau
b. Sepuluh persen (10%) dari jumlah bruto bunga untuk penghasilan berupa bunga
simpanan lebih dari Rp.240.000,- (dua ratus empat puluh ribu rupiah) per bulan.

Pajak Penghasilan di atas wajib dipotong oleh koperasi yang melakukan pembayaran
bunga simpanan kepada anggota koperasi orang pribadi pada saat pembayaran (Thomas
Sumarsan,2017:218).

Contoh :
a. Bunga yang dibayarkan pada bula Februari adalah Rp 240.000,00 untuk masa Januari.
Berdasrkan Pph terutang:
0% x Rp 240.000,00 = Rp 0,00
b. Bunga dibayarkan pada bulan Februari Rp 245.000,00 untuk masa Januari.Besarnya
PPh terutang:
10% x Rp 24.000,00 = Rp 24.500,00
c. Bunga dibayarkan pada bulan April sebesar Rp 500.000,00 dengan rincian:
Bulan Januari Rp 250.000,00
Bulan Februari Rp 150.000,00
Bulan Maret Rp 100.000,00
Jadi yang dikenakan PPh 10% adalah bunga bulan Januari sebesar 10% x Rp
250.0000,00 = Rp.25.000,00 dan untuk bulan Februari dan Maret Rp0,00 kaena
besarnya bunga tidak lebih dari Rp.240.000,00 per bulan (Anastasia Diana Lilis
Setiawati,2010:20).

 Sewa Tanah dan/atau Bangunan


Penghasilan berupa sewa atas tanah dan atau bangunan berupa tanah,rumah,rumah
susun,apartemen,kondominium,gedung perkantoran,gedung pertokoan,atau gedung
pertemuan termasuk bagiannya,rumah kantor,toko,rumah toko,gudang dan bangunan
industri,dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final.

Besarnya Pajak Penghasilan yang terutang bagi Wajib Pajak orang pribadi maupun Wajib
Pajak badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari persewaan tanah dan atau
bangunan adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan atau
bangunan.

10
 Pengalihan Hak Atas/Bangunan
Pajak peghasilan yang terutang atas Penghasilan yang diterima atau diperoleh orang
pribadi atau badan dari penglihatan hak atas tanah dan/atau bangunan wajib dibayar
sendiri oleh pribadi atau badan yang bersangkuan dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak (SSP) pada bank persepsi atau Kantor Pos dan Giro, sebelum akta, keputusan,
perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang.

Besarnya Pajak Penghasilan yang terutang sebagaimana dimaksud di atas adalah sebesar
2,5% (dua koma lima persen) dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah da/atau
bangunan.

Kecuali atas pengalihan hak atas Rumah Susun dan Rumah Susun Sederhana yang
dilakukanoleh Wajib Pajak yang usaha pokonya melakukan pengalihan hak atas tanah
dan/atau bangunan dikenai Pajak Penghasilan sebesar 1% (satu persen) dari jumlah
bruto nilai pengalihan (Thomas Sumarsan,2017:219).

 Transaksi Penjualan Saham


Pengertian saham pendiri adalah:
 Saham yang diperoleh pendiri yang berasal dari kapitalisasi agio yang dikeluarkan
setelah penawaran umum perdana (intial public offering);
 Saham yang berasal dari pemecahan saham pendiri.

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari transaksi
penjualan saham di bursa efek dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar
0,1% (nol koma satu persen) dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham.

Pemilik saham pendiri dikenakan tambahan Pajak Penghasilan dan bersifat final sebesar
0,5% (nol koma lima persen) dari nilai saham (Thomas Sumarsan,2017:220).

 Hadiah Undian
Penghasilan berupa hadiah undian dengan nama dan dalam bentuk apapun dipotong atau
dipungut Pajak Penghasilan yang bersifat final.
Besarnya penghasilan Pajak Penghasilan yang wajib dipotong atau dipungut atas
penghasilan adalah sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah bruto hadiah undian
(Thomas Sumarsan,2017:221).
Contoh pemotongan PPh atas penghasilan berupa hadiah undian:
a. Jemmy menerima hadiah undian berupa uang tunai sebesar Rp.10.000.000.Oleh
penyelenggara undian,wajib dipotong PPh yang bersifat final sebesar Rp.2.500.000
(25% x Rp.10.000.000).
b. Gideon menerima hadiah undian berupa satu unit sepeda motor Honda.Nilai apsar
yang berlaku untuk sepeda motor tersebut adalah sebesar Rp.15.000.000. Oleh
penyelenggara undian,wajib dipotong PPh yang bersifat final sebesar Rp.3.750.000
(25% x Rp.15.000.000).

11
Pengenaan Pajak Atas Hadiah dan Penghargaan Lainnya

1) Hadiah atau penghargaan perlombaan.Merupakan hadiah atau penghargaan


yang diberikan melalui suatu perlombaan atau adu ketangkasan.
2) Hadiah sehubungan dengan pekerjaan,jasa dan kegiatan lainnya.Merupakan
hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan sehubungan
dengan pekerjaan,jasa dan kegoatan yang dilakukan oleh penerima hadiah.
3) Penghargaan.Merupakan imbalan yang diberikan sehubungan dengan prsetassi
dalam kegiatan tertentu.

Hadiah atau penghargaan perlombaan,penghargaan dan hadiah sehubungan dengan


pekerjaan,jasa dan kegiatan lainnya dikenakan PPh yang tidak besifat final dengan
ketentuan sebagai berikut:

1) Bilamana penerimaan penghasilan adalah orang pribadi Wajib Pajak dalam


negeri,dikenakan pemotongan PPh Pasa 21 sebesar tarif menurut Pasal 17 UU
PPh x Penghasilan bruto.
2) Bilamana penerimaan penghasilan adalah Wajib Pajak luar negri selain
BUT,dikenakan pemotongan PPh Pasal 26 sebesar 20% x jumlah bruto atau
sesuai ketentuan dalam P3B yang berlaku.
3) Apabila penerima penghasilan adalah Wajib Pajak badan termasuk
BUT,dikenakan pemotongan PPh berdasarkan Pasal 23 UU PPh,sebesar 15% x
penghasilan bruto (Billy Ivan Tansuria,2011:33).

 Jasa Konstruksi
Jasa Konstruksi adalah layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan konstruksi,layanan
jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi dan layanan jasa konsultansi pengawasan
pekerjaan konstruksi.

Kualifikasi usaha adalah stratifikasi yang ditentukan berdasarkan sertifikasi Yang


dikeluarkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi.Dalam hal Penyedia Jasa
adalah bentuk usaha tetap,tarif Pajak Penghasilan tersebut tidak termasuk Pajak
Penghasilan atas sisa laba bentuk usaha tetap setelah Pajak Penghasilan yang bersifat
final.

Sisa laba dari bentuk usaha tetap setelah Pajak penghasilan tersebut dikenakan pajak
sesuai dengan ketentuan mengenai Pajak Penghaislan bagi Wajib Pajak Luar Negeri
(Pasal 26 UU PPh) yaitu sebesar 20% dari jumlah bruto atau sesuai dengan ketentuan
dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda(Anastasia Diana Lilis
Setiawati,2010:21).

 Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka Yang Diperdagangkan Bursa

12
Penghasilan yang berasal dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang
diperdagangkan di bursa dikenakan pemungutan PPh yang bersifat final berdasarkan
ketentuan Pasal 4 ayat (2) UU PPh.Dasar hukumnya adalah “PP-17 Tahun 2009 tentang
PPh atas Penghasilan dari Transaksi Derivatif berupa Kontrak Berjangka yang
Diperdagangkan di Bursa”.

Transaksi derivatif adalah transaksi yang didasari pada kontrak atau perjanjian
pembayaran yang nilainya merupakan turunan dari nilai instrumen yang mendasari seperti
suku bunga,nilai tukar,komiditi,ekuiti dan indeks,baik yang diikuti dengan pergerakan
maupun tanpa pergerakan dana atau instrumen (Billy Ivan Tansuria,2011:41).

Penghasilan yang diterima da/atau diperoleh orang pribadi atau badan transaksi derivatif
berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa dikenai Pajak Penghasilan yang
bersifat final.Berdasarkan Pajak Penghasilan adalah sebesar 2,5% dari margin awal
(Thomas Sumarsan,2017:222).

 Deviden Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi

Penghasilan berupa deviden yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi
dalam negeri dikenai pajak 10% (sepuluh persen)
dan bersifat final.Pengenaan pajak penghasilan dilakukan dengan melelui pemotongan
oleh pihak yang membayar atau pihak yang ditunjuk selaku pembayar deviden (Thomas
Sumarsan,2017:222).

Penghasilan yang telah dikenai pajak dengan tarif yang bersifat final tidak boleh
digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenai tarif umum (Anastasia Diana Lilis
Setiawati,2010:24).

Peraturan Pemerintah Tentang PPh Final Atas Deviden Yang Diterima/Diperoleh Oleh
Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri

Sebagai pelaksanaan atas Pasal 4 ayat (2) huruf e khususnya atas penghasilan deviden
yang diperoleh oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri makan diterbitkan Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2009 tanggal 09 Februari 2009.Berikut ini isi peraturan
tersebut (Mohammad Yamin,2012:136):

Pasal 1

Penghasilan berupa deviden yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi
dalam negeri dikenai Pajak Penghasilan sebesar 10% dan bersifat final.

Pasal 2

13
Pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dilakukan melalui
pemotongan oleh pihak yang membayar atau pihak lain yang ditunjuk selaku membayar
deviden.

Pasal 3

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan pemotongan, penyetoran, dan
pelaporan Pajak Penghasilan atas deviden yang diterima Menteri Keuangan.

Pasal 4

Peraturan pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009.

Contoh:

Novi menerima deviden dari PT Kawanua sebesar Rp.10.000.000 atas penyertaan saham
biasa pada perusahaan tersebut.Atas pembayaran deviden tersebut,PT Kawanua wajib
memotong PPh sebesar Rp.1.000.000 (10% x Rp10.000.000).

Objek Pajak PPh Tidak Final

Adapun Objek Pajak PPh Tidak Final adalah selain yang dikenakan PPh Final yakni
sebagai berikut:

1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh.
2. Hadiah dari pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan.
3. Laba usaha.
4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta.
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan
pembayaran tambahan pengembalian pajak.
6. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian
utang.
7. Dividen.
8. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak.
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
11. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang
ditetapkan Peraturan Pemerintah.
12. Keuntungan selisih kurs mata uang asing.
13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
14. Premi asuransi.

14
15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari
Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
16. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.
17. Penghasilan dari usaha berbasis syariah.
18. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur
mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan.
19. Surplus Bank Indonesia.

C. Prinsip Realisasi
Akuntansi pajak cenderung menggunakan prinsip realisasi, walaupun terdapat juga
pengakuan terhadap prinsip konservatif seperti pada perhitungan rugi selisih kurs, dimana
Wajib Pajak boleh memilih :

 Kurs tetap, dimana rugi selisih kurs diakui kalau sudah direalisasi.

 Kurs tengah BI atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun, dimana rugi kurs
diakui pada tiap-tiap akhir tahun, walaupun belum direalisasi.

Prinsip realisasi dalam akuntansi pajak ini tampak pada ketentuan berikut ini:

 Pasal 9 ayat 1 (c) UU PPh, dimana wajib pajak tidak diperbolehkan membentuk dana
cadangan (penyisihan), kecuali untuk:

o Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank

o Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha sewa guna usaha dengan hak opsi .

o Cadangan untuk usaha asuransi

o Cadangan biaya reklamasi untuk pertambangan

 Pasal 10 ayat 6 UU PPh: Persediaan dan pemakaian persediaan untuk menghitung


harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan, tidak diperbolehkan berdasar “harga
pokok dan harga pasar mana yang lebih rendah”

Contoh Pada 1 Juni 2003 PT. Yasindo membeli saham PT. Dayatindo sebanyak 50.000
lembar @Rp2.000 atau senilai Rp100.000.000. Pada tanggal 31 Desember 2003 nilai saham
itu turun menjadi sebesar Rp1.500,- per lembarnya sehingga seandainya saham itu dijual PT.
Yasindo akan menderita rugi sebesar Rp500 dikalikan 50.000 lembar atau senilai
Rp25.000.000. Kerugian sebesar Rp25.000.000 tersebut sesuai prinsip konservatif sudah
diakui, yaitu dengan membentuk cadangan penyisihan penurunan nilai surat berharga.

Dalam akuntansi pajak kerugian diakui apabila saham tersebut telah dijual oleh PT.
Yasindo.

15
D. Penghasilan Luar Negeri
Dalam materi kali ini, kami merujuk sumber pada aturan PPh pasal 24 yang isinya
mengatur mengenai hak wajib pajak untuk memanfaatkan kredit pajak mereka di luar negeri
(jika ada).

Pajak Penghasilan Pasal 24 ini bertujuan agar wajib pajak tidak dikenakan pajak
ganda. Dalam artian, pajak yang telah dibayarkan di luar negeri oleh wajib pajak dapat
menjadi pengurang nilai pajak terutang yang wajib pajak miliki di Indonesia

a. Sumber penghasilan dari luar negeri yang dapat menjadi pengurang pajak di
dalam negeri adalah:

 Penghasilan dari saham dan surat berharga lainnya.


 Pendapatan lain berupa bunga, royalti, dan sewa yang berkaitan dengan penggunaan
harta benda bergerak.
 Jasa imbalan yang berhubungan dengan jasa, pekerjaan dan kegiatan.
 Keuntungan dari pengalihan saham dan surat berharga lainnya.
 Pendapatan yang berupa sewa terkait dengan penggunaan harta benda tidak bergerak.
 Keuntungan dari pengalihan harta tetap.
 Ada beberapa persyaratan administratif Pengkreditan Pajak Luar Negeri.
 Wajib pajak yang telah membayarkan pajaknya di luar negeri dan akan
mengkreditkannya di Indonesia harus menyampaikan permohonannya terlebih dahulu
ke kepala KPP (Kantor Pelayanan Pajak) dan dilaporkan bersamaan dengan pada saat
pelaporan SPT Tahunan dengan melampirkan laporan keuangan yang berasal dari luar
negeri, fotokopi SPT (Tax Return) yang dilaporkan di luar negeri, serta dokumen
pembayaran pajak di luar negeri.

b. PERMOHONAN KREDIT PAJAK LUAR NEGERI (164/KMK.03/2002)

Supaya pajak yang terutang atau dibayar diluar negeri dapat dikreditkan, maka Wajib Pajak
harus menyampaikan surat permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan dilampiri:

1. Laporan Keuangan yang mencantumkan dengan jelas penghasilan dari luar negeri tersebut;

2. Salinan Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri;

3. Dokumen pembayaran pajak di luar negeri

Permohonan kredit pajak tersebut harus disampaikan bersama dengan penyampaian Surat
Pemberitahuan Tahunan Penghasilan. Namun atas permohonan Wajib Pajak, Direktur
Jenderal Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian lampiran-lampiran
permohonan tersebut karena alasan-alasan diluar kekuasaan wajib pajak.

c. PENGGABUNGAN PENGHASILAN

16
Untuk menghitung Pajak Penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan yang diterima
atau diperoleh Wajib Pajak dari dalam negeri maupun dari luar negeri maka seluruh
penghasilan Wajib Pajak tersebut dihitung dan digabungkan. Hasil penggabungan tersebut
dijadikan dasar untuk menghitung PPh pasal 24.

1. Atas penghasilan dari usaha, penggabungan penghasilan dilakukan dalam tahun


diperolehnya penghasilan tersebut (accrual basis)

2. Atas penghasilan lainnya seperti sewa, bunga, royalti, dan lain-lain, penggabungan
penghasilan dilakukan dalam tahun pajak diterimanya penghasilan tersebut (cash
basis)

17
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dalam perpajakan, penghasilan kena pajak memiliki banyak jenis didalamnya


seperti penghasilan usaha dan non-usaha, penghasilan final dan tidak final, dan
penghasilan dari luar negeri. Jadi setelah mengetahui ini, kita sebagai masyarakat
wajib menjalankan kewajiban kita sebagai Warga negara yang baik dengan membayar
pajak. Tidak ada lagi alasan ketidaktahuan untuk tidak membayar pajak.

Konsep realisasi yaitu pajak mengakui adanya keuntungan dan kerugian jika
sudah direalisasikan. Pembentukan cadangan tidak diperkenankan kecuali bagi usaha
perbankan, leasing, asuransi dan pertambangan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Muljono, Djoko. 2005. Akuntansi Pajak. Yogyakarta: Penerbit ANDI

Resmi, Siti. 2017. Perpajakan Teori & Kasus. Jakarta: Penerbit Salemba Empat

19
Jurusan : Akuntansi 5 B
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
Mata Kuliah : Akuntansi Perpajakan
Dosen : Ismawati Haribowo S.E.,M.Si.

Universitas : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

REVIEW JURNAL
PERIHALYANG
JAWABAN
DIIDENTIFIKASI
ANALISIS PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN
Judul
FINAL TERHADAP WAJIB PAJAK TERTENTU
Penulis Muhammad Yusuf
Tahun 2016
Sumber Jurnal ISSN 2339-2991
Reviewer Kelompok 1
Tanggal Review 9 September 2019
Teori Definisi pajak menurut Andriani yang disadur oleh Santoso
Brotodihardjo dalam buku “Pengantar Ilmu Hukum Pajak”
(1991:2) menyebutkan bahwa “Pajak adalah iuran kepada negara
(yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib pajak, yang
membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak
mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan
gunanya adalah untuk membiayai pengeluaranpengeluaran umum
berhubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan
pemerintahan.

Metode Penelitian Peneliti memilih metode analisa data yang digunakan adalah
metode kualitatif dan paradigma naturalistik yang bertujuan agar
dapat lebih memahami gejala yang diteliti dengan cara
pengamatan dan pengumpulan data yang dilakukan secara apa
adanya tanpa memanipulasi subyek yang diteliti. Dalam tesis ini
kategori-kategori atau entitas-entitas (yang dalam pendekatan

20
kuantitatif disebut sebagai variabelvariabel ) yang terkait dengan
isu pengenaan PPh final UMKM sebagai salah satu fenomena
dalam pemungutan pajak, entitas yang dominan diantaranya azas
keadilan, efisiensi/ekonomi, kepastian hukum, kesenangan dalam
pembayaran pajak, kesederhanaan sistem perpajakan, dan
kemudahan administrasi, semuanya pada hakikatnya mutual
simultaneous shaping ‘saling memperkuat ‘ (Norman K. Denzin
and Yvonna S. Lincoln, 1994 : 119)
Hasil 1. Kondisi di lapangan sejumlah wajib pajak yang bergerak di
bidang UMKM didapati mengeluhkan kondisi pajak yang
dikenakan saat ini. Melalui wawancara yang dilakukan
ditemukan pernyataan bahwa para pelaku bisnis UMKM
merasa keberatan dengan penerapan peraturan oleh
pemerintah pada saat ini. Sehingga mereka merasa adanya
diskriminasi pada pelaku bisnis tersebut, terlebih pada
pebisnis yang termasuk dalam skala UMKM.
2. Selain itu, hal yang dirasakan oleh pengusaha UMKM
adalah ketidak konsistenan pemerintah dalam penerapan
peraturan yang dibuatnya sendiri ( terutama peraturan
perpajakan), sehingga menimbulkan anggapan bahwa
pemerintah menerapkan peraturan dengan cara yang
arogan dan disinyalir menjadi tidak netral dan dipengaruhi
oleh pelaku usaha pengusaha besar sehingga menimbulkan
anggapan rasa ketidak adilan terhadap pelaku usaha yang
berskala UMKM.
3. Ketidakadilan yang dirasakan oleh pengusaha UMKM
karena pajak dihitung dari peredaran bruto bukan dari
penghasilan neto. Kesulitan keuangan, sehingga sering
terjadi keterlambatan dalam pembayaran pajak. PPh final
merugikan perusahaan yang sudah tertib
menyelenggarakan pembukuan

21