Anda di halaman 1dari 13

1.

Definisi

Meningitis adalah sindrom klinis yang ditandai dengan peradangan pada

meninges atau lapisan otak, 3 lapisan membran yang melapisi otak dan sumsum

tulang belakang yang terdiri dari Duramater, Arachnoid dan Piamater. Secara

klinis, meningitis bermanifestasi dengan gejala meningeal (misalnya, sakit kepala,

kaku kuduk, fotofobia), serta pleositosis (peningkatan jumlah sel darah putih)

dalam cairan cerebrospinal (CSS).

2. Etiologi

Bakteri penyebab meningitis juga bervariasi menurut kelompok umur.5

Selama usia bulan pertama, bakteri yang menyebabkan meningitis pada bayi

normal merefleksikan flora ibu atau lingkungan bayi tersebut (yaitu,

Streptococcus group B, basili enterik gram negatif, dan Listeria monocytogenes).

Meningitis pada kelompok ini kadang -kadang dapat karena Haemophilus

influenzae dan patogen lain ditemukan pada penderita yang lebih tua. Meningitis

bakteri pada anak usia 2 bulan – 12 tahun biasanya karena H. influenzae tipe B,

Streptococcus pneumoniae, atau Neisseria meningitidis. Penyakit yang

disebabkan oleh H.influenzae tipe B dapat terjadi segala umur namun sering kali

terjadi sebelum usia 2 tahun. Klebsiella, Enterobacter, Pseudomonas, Treponema

pallidum, dan Mycobacterium tuberculosis dapat juga mengakibatkan

meningitis. Citrobacter diversus merupakan penyebab abses otak yang penting.

Mikroorganisme yang sering menyebabkan meningitis berdasarkan usia:3

Universitas Lambung Mangkurat


2

a. 0 – 3 bulan :

Pada grup usia ini meningitis dapat disebabkan oleh semua agen termasuk

bakteri, virus, jamur, Mycoplasma, dan Ureaplasma. Bakteri penyebab yang

tersering seperti Streptococcus grup B, E.Coli, Listeria, bakteri usus selain E.Coli

(Klebsiella, Serratia spesies, Enterobacter), streptococcus lain, jamur, nontypeable

H.influenza, dan bakteri anaerob. Virus yang sering seperti Herpes simplekx virus

(HSV), enterovirus dan Cytomegalovirus

Universitas Lambung Mangkurat


3

b. 3 bulan – 5 tahun
Sejak vaksin conjugate HIB menjadi vaksinasi rutin di Amerika

Serikat, penyakit yang disebabkan oleh H.influenza tipe B telah menurun.

Bakteri penyebab tersering meningitis pada grup usia ini belakangan seperti

N.meningitidis dam S.Pneumoniae. H. influenza tipe B masih dapat

dipertimbangkan pada meningitis yang terjadi pada anak kurang dari 2

tahun yang belum mendapat imunisasi atau imunisasi yang tidak lengkap.

Meningitis oleh karena Mycobacterium Tuberculosis jarang, namun harus

dipertimbangkan pada daerah dengan prevalensi tuberculosis yang tinggi

dan jika didapatkan anamnesis, gejala klinis, LCS dan laboratorium yang

mendukung diagnosis Tuberkulosis. Virus yang sering pada grup usia ini

seperti enterovirus, HSV, Human Herpesvirus -6 (HHV-6).

c. 5 tahun – dewasa

Bakteri yang tersering menyebabkan meningitis pada grup usia ini seperti

N.meningitidis dan S.pneumoniae. Mycoplasma pneumonia juga dapat

menyebabkan meningitis yang berat dan meningoencephalitis pada grup usia ini.

Meningitis virus pada grup ini tersering disebabkan oleh enterovirus, herpes virus,

dan arbovirus. Virus lain yang lebih jarang seperti virus Epstein-Barr , virus

lymphocytic choriomeningitis, HHV-6, virus rabies, dan virus influenza A dan B.

3. Patogenesis

Infeksi dapat mencapai selaput otak melalui :

1. Alian darah (hematogen) oleh karena infeksi di tempat lain seperti faringitis,

tonsillitis, endokarditis, pneumonia, infeksi gigi. Pada keadaan ini sering

Universitas Lambung Mangkurat


4

didapatkan biakan kuman yang positif pada darah, yang sesuai dengan kuman

yang ada dalam cairan otak.

2. Perluasan langsung dari infeksi (perkontinuitatum) yang disebabkan oleh

infeksi dari sinus paranasalis, mastoid, abses otak, sinus cavernosus.

3. Implantasi langsung : trauma kepala terbuka, tindakan bedah otak, pungsi

lumbal dan mielokel.

4. Meningitis pada neonates dapat terjadi oleh karena:

• Aspirasi cairan amnion yang terjadi pada saat bayi melalui jalan lahir atau

oleh

 kuman-kuman yang normal ada pada jalan lahir

• Infeksi bakteri secara transplacental terutama Listeria.

Sebagian besar infeksi susunan saraf pusat terjadi akibat penyebaran hematogen.

Saluran napas merupakan port of entry utama bagi banyak penyebab meningitis

purulenta. Proses terjadinya meningitis bakterial melalui jalur hematogen

mempunyai tahap-tahap

sebagai berikut :

1. Bakteri melekat pada sel epitel mukosa nasofaring (kolonisasi)

2. Bakteri menembus rintangan mukosa

3. Bakteri memperbanyak diri dalam aliran darah (menghindar dari sel fagosit dan

aktivitas bakteriolitik) dan menimbulkan bakteriemia.

4. Bakteri masuk ke dalam cairan serebrospinal

5. Bakteri memperbanyak diri dalam cairan serebrospinal

6. Bakteri menimbulkan peradangan pada selaput otak (meningen) dan otak.

Universitas Lambung Mangkurat


5

Bakteri yang menimbulkan meningitis adalah bakteri yang mampu

melampaui semua tahap dan masing-masing bakteri mempunyai mekanisme

virulensi yang berbeda-beda, dan masing-masing mekanisme mempunyai peranan

yang khusus pada satu atau lebih dari tahaptahap tersebut. Terjadinya meningitis

bacterial dipengaruhi oleh interaksi beberapa faktor, yaitu host yang rentan,

bakteri penyebab dan lingkungan yang menunjang.

Faktor Host

Beberapa faktor host yang mempermudah terjadinya meningitis:

1. Telah dibuktikan bahwa laki-laki lebih sering menderita meningitis

dibandingkan dengan wanita. Pada neonates sepsis menyebabkan meningitis,

laki-laki dan wanita berbanding 1,7 : 1

2. Bayi dengan berat badan lahir rendah dan premature lebih mudah menderita

meningitis disbanding bayi cukup bulan

3. Ketuban pecah dini, partus lama, manipulasi yang berlebihan selama

kehamilan, adanya infeksi ibu pada akhir kehamilan mempermudah terjadinya

sepsis dan meningitis

4. Pada bayi adanya kekurangan maupun aktivitas bakterisidal dari leukosit,

defisiensi beberapa komplemen serum, seperti C1, C3. C5, rendahnya

properdin serum, rendahnya konsentrasi IgM dan IgA ( IgG dapat di transfer

melalui plasenta pada bayi, tetapi IgA dan IgM sedikit atau sama sekali tidak di

transfer melalui plasenta), akan mempermudah terjadinya infeksi atau

meningitis pada neonates. Rendahnya IgM dan IgA berakibat kurangnya

kemampuan bakterisidal terhadap bakteri gram negatif.

Universitas Lambung Mangkurat


6

5. Defisiensi kongenital dari ketiga immunoglobulin ( gamma globulinemia atau

dysgammaglobulinemia), kekurangan jaringan timus kongenital, kekurangan

sel B dan T, asplenia kongenital mempermudah terjadinya meningitis

6. Keganasan seperti system RES, leukemia, multiple mieloma, penyakit Hodgkin

menyebabkan penurunan produksi immunoglobulin sehingga mempermudah

terjadinya infeksi.

7. Pemberian antibiotik, radiasi dan imunosupresan juga mempermudah

terjadinya infeksi

8. Malnutrisi

Faktor Mikroorganisme

Penyebab meningitis bakterial terdiri dari bermacam-macam bakteri.

Mikroorganisme penyebab berhubungan erat dengan umur pasien. Pada periode

neonatal bakteri penyebab utama adalah golongan enterobacter terutama

Escherichia Coli disusul oleh bakteri lainnya seperti Streptococcus grup B,

Streptococcus pneumonia, Staphylococuc sp dan Salmonella sp. Sedangkan pada

bayi umur 2 bulan sampai 4 tahun yang terbanyak adalah Haemophillus influenza

type B disusul oleh Streptococcus pneumonia dan Neisseria meningitides. Pada

anak lebih besar dari 4 tahun yang terbanyak adalah Streptococcus pneumonia,

Neisseria meningitides. Bakteri lain yang dapat menyebabkan meningitis bakterial

adalah kuman batang gram negative seperti Proteus, Aerobacter, Enterobacter,

Klebsiella Sp dan Seprata Sp.

Universitas Lambung Mangkurat


7

Faktor Lingkungan

Kepadatan penduduk, kebersihan yang kurang, pendidikan rendah dan sosial

ekonomi rendah memgang peranan penting untuk mempermudah terjadinya

infeksi. Pada tempat penitipan bayi apabila terjadi infeksi lebih mudah terjadi

penularan. Adanya vektor binatang seperti anjing, tikus, memungkinkan suatu

predisposisi, untuk terjadinya leptospirosis.

7. Manifestasi Klinis

Bayi berumur 3 bulan – 2 tahun jarang memberi gambaran klasik

meningitis. Biasanya manifestasi yang timbul hanya berupa demam, muntah,

gelisah, kejang berulang, kadang-kadang didapatkan pula high pitch cry (pada

bayi). Tanda fisik yang tampak jelas adalah ubun-ubun tegang dan membonjol,

sedangkan tanda Kernig dan Brudzinsky sulit di evaluasi. Oleh karena insidens

meningitis pada umur ini sangat tinggi, maka adanya infeksi susuan saraf pusat

perlu dicurigai pada anak dengan demam terus menerus yang tidak dapat

diterangkan penyebabnya.

Pada anak besar dan dewasa meningitis kadang-kadang memberikan

gambaran klasik. Gejala biasanya dimulai dengan demam, menggigil, muntah dan

nyeri kepala. Kadang-kadang gejala pertama adalah kejang, gelisah, gangguan

tingkah laku. Penurunan kesadaran seperti delirium, stupor, koma dapat juga

terjadi. Tanda klinis yang biasa didapatkan adalah kaku kuduk, tanda Brudzinski

dan Kernig. Nyeri kepala timbul akibat inflamasi pembuluh darah meningen,

sering disertai fotofobia dan hiperestesi, kaku kuduk disertai rigiditas spinal

disebabkan karena iritasi meningen serta radiks spinalis.

Universitas Lambung Mangkurat


8

Kelainan saraf otak disebabkan oleh inflamasi lokal pada perineurium, juga

karena terganggunya suplai vaskular ke saraf. Saraf – saraf kranial VI, VII, dan IV

adalah yang paling sering terkena. Tanda serebri fokal biasanya sekunder karena

nekrosis kortikal atau vaskulitis oklusif, paling sering karena trombosis vena

kortikal. Vaskulitis serebral menyebabkan kejang dan hemiparesis.1

Manifestasi Klinis yang dapat timbul adalah:9

5. Gejala infeksi akut.

a. Lethargy.

b. Irritabilitas.

c. Demam ringan.

d. Muntah.

e. Anoreksia.

f. Sakit kepala (pada anak yang lebih besar).

g. Petechia dan Herpes Labialis (untuk infeksi Pneumococcus).

6. Gejala tekanan intrakranial yang meninggi.

a. Muntah.

b. Nyeri kepala (pada anak yang lebih besar).

c. Moaning cry /Tangisan merintih (pada neonatus)

d. Penurunan kesadaran, dari apatis sampai koma.

e. Kejang, dapat terjadi secara umum, fokal atau twitching.

f. Bulging fontanel /ubun-ubun besar yang menonjol dan tegang.

g. Gejala kelainan serebral yang lain, mis. Hemiparesis, Paralisis,

Strabismus.

Universitas Lambung Mangkurat


9

h. Crack pot sign.

i. Pernafasan Cheyne Stokes.

j. Hipertensi dan Choked disc papila N. optikus (pada anak yang lebih

besar).

7. Gejala ransangan meningeal.

a. Kaku kuduk positif.

b. Kernig, Brudzinsky I dan II positif. Pada anak besar sebelum gejala di atas

terjadi, sering terdapat keluhan sakit di daerah leher dan punggung.

8. Diagnosis
a. Pungsi lumbal1

Pungsi lumbal adalah cara memperoleh cairan serebrospimal yang paling

sering dilakukan pada segala umur, dan relatif aman. Pungsi lumbal juga

dilakukan pada demam yang tidak diketahui sebabnya dah pada pasien dengan

proses degeneratif. Pungsi lumbal sebagai pengobatan dilakukan pada meningitis

kronis yang disebabkan oleh limfoma dan sarkoidosis. Cairan serebrospinal

dikeluarkan perlahan-lahan untuk mengurangi rasa sakit kepala dan sakit

pinggang. Pungsi lumbal berulang-ulang juga dilakukan pada tekanan intrakranial

meninggi jinak (beningn intracranial hypertension), pungsi lumbal juga dilakukan

untuk memasukkan obat-obat tertentu.

Pemeriksaan LCS

Biasanya pada LP yang berhasil LCS yang keluar ditampung dalam botol steril

untuk pemeriksaan lengkap. Cairan yang keluar diperhatikan kejernihan dan

warnanya, kemudian ditentukan adanya protein yang meninggi dengan

menggunakan uji Pandy dan Nonne.

Universitas Lambung Mangkurat


10

Pada uji Pandy 1-2 tetes LCS diteteskan ke dalam tabung reaksi yang

sebelumnya telah diisi dengan 1 ml larutan fenol jenuh (carbolic acid). Bila kadar

protein meninggi akandidapatkan warna putih keruh atau endapan putih dalam

tabung reaksi tersebut.

Pada uji Nonne, 0,5 ml LCS dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang

sebelumnya telah diisi dengan 1 ml larutan amonium-sulfat jenuh. Bila kadar

protein LCS meningkat didapati cincin putih pada perbatasan kedua cairan

tersebut.

Pada kesempatan selanjutnya ditentukan jumlah dan diferensiasi sel, kadar

protein, glukosa dan kuman dengan preparat langsung maupun kultur. Pada

keadaan normal LCS berwarna jernih seperti akuadest, tetapi pada neonatus bisa

xantokrom.

Sel

Untuk menghitung jumlah sel LCS harus segar, harus sudah dihitung dalam

waktu 1 jam sesduah pungsi, karena jika terlalu lama sebagia sel menempel di

dinding tabung/botol, sebagian sudah lisis sehingga mempengaruhi perhitungan.

Jumlah sel leukosit normal pada bayi sampai umur 1 tahun adalah 10 sel/ μl, 1-4

tahun 8 sel/ μl, reamaj dan dewasa 2,59 ± 1,73 leukosit /μl. Eritrosit biasanya

tidak terdapat pada anak dan orang dewasa, kecuali pada pungsi traumatik.

Adanya sel neoplastik, plasmasit, sel stem dan eosinofil dalam LCS selalu

abnormal.

Sel eritrosit berlebihan dalam LCS menunjukkan adanya perdarahan atau

pungsi traumatik, untuk membedakannya segera lakukan pemutaran (centrifuge)

Universitas Lambung Mangkurat


11

dan perhatikan supernatanya. Apabila supernatan berwarna xantokrom berarti

perdarah lama, jika jernih berarti pungsi traumatik.

Apabila terdapat peninggian jumlah sel dan terutama PMN, maka

kemungkinan pasien menderita meningitis bakterial, atau pada meningitis virus

dini atau neoplasma.dibeberapa rumah sakit memakai patokan jumlah sel LCS

normal pada anak 20/3 per μl dan pada neonatus minggu pertama 100/3 per μl,

tetapi tergantung juga pada keadaan klinis pasien dan diferensiasi sel.

Protein

Kadar protein normal 20-40 mg/dl. Kadar ini meningkat pada sindrom

Guillain Barre, tumor intrakranial atau intraspinal, perdarah intrakranial, penyakit

degeneratif dan meningitis. Pada neonatus kadar protein agak lebih tinggi, yaitu

40-80 mg/dl pada umur 0-2 minggu, dan 30-50 mg/dl pada umur 2-4 minggu.

Pada neonatus dengan berat badan lahir rendah kadar protein lebih tinggi lagi rata-

rata 100 mg/dl. Kadar protein yang tinggi pada neonatus mungkin disebabkan

oleh fungsi sawar darah otak yang belum matang dan adanya perdarahan-

perdarahan kecil saat partus.

Glukosa

Kadar normal glukosa dalam LCS antara ½ - 2/3 kadar glukosa plasma,

biasanya 50-90 mg/dl. Bila memeriksa kadar glukosa LCS perlu pula ditentukan

kadar glukosa plasma dan kedua nilai ini dibandingkan. Bila kadar glukosa LCS

kurang dari 50% kadar glukosa plasma, maka dapat dikatakan bahwa kadar

glukosa dalam LCS merendah. Penurunan kadar glukosa dalam LCS didapati

Universitas Lambung Mangkurat


12

pada pasien dengan meningitis bakterial, karsinomatosis selaput otak dan lain-

lain.

9. Tatalaksana

Menurut Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak tahun 2004, terapi

empirik untuk neonatus dengan meningitis bakterial sebagai berikut :11

• Umur 0-7 hari

- Ampisilin 150 mg/kgBB/hari setiap 8 jam IV + Sefotaksim 100

mg/kgBB/hari setiap 12 jam IV atau

- Seftriakson 50 mg/kgBB/hari setiap 24 jam IV atau

- Ampisilin 150 mg/kgBB/hari setiap 8 jam IV + Gentamisin 5 mg/kgBB/hari

setiap 12 ajm IV.

• Umur >7 hari

- Ampisilin 200 mg/kgBB/hari setiap 6 jam IV + Gentamisin 7,5 mg/kgBB/hari

setiap 12 jam IV atau

- Ampisilin 200 mg/kgBB/hari setiap 8 jam IV atau

- Seftriakson 75 mg/kgBB/hari setiap 24 jam IV.

9. Prognosis

Prognosis pasien meningitis bakterial tergantung dari banyak faktor, antara lain:

1. Umur pasien

2. Jenis mikroorganisme

3. Berat ringannya infeksi

4. Lamanya sakit sebelum mendapat pengobatan

5. Kepekaan bakteri terhadap antibiotic yang diberikan

Universitas Lambung Mangkurat


13

Makin muda umur pasien makin jelek prognosisnya; pada bayi baru lahir

yang menderita meningitis angka kematian masih tinggi. Infeksi berat disertai

DIC mempunyai prognosis yang kurang baik. Apabila pengobatan terlambat

ataupun kurang adekuat dapat menyebabkan kematian atau cacat yang permanen.

Infeksi yang disebabkan bakteri yang resisten terhadap antibiotik bersifat fatal.

Dengan deteksi bakteri penyebab yang baik pengobatan antibiotik yang

adekuat dan pengobatan suportif yang baik angka kematian dan kecacatan dapat

diturunkan. Walaupun kematian dan kecacatan yang disebabkan oleh bakteri gram

negatif masih sulit diturunkan, tetapi meningitis yang disebabkan oleh bakteri-

bakteri seperti H.influenzae, pneumokok dan meningokok angka kematian dapat

diturunkan dari 50-60% menjadi 20-25%. Insidens sequele Meningitis bakterialis

9-38%, karena itu pemeriksaan uji pendengaran harus segera dikerjakan setelah

pulang, selain pemeriksaan klinis neurologis. Pemeriksaan penunjang lain

disesuaikan dengan temuan klinis pada saat itu.1,9

Universitas Lambung Mangkurat