Anda di halaman 1dari 6

FISIKA STATISTIK

Prinsip Ekipartisi Energi

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisika Statistik

Dosen Pengampu:
Febri Berthalita Pujaningsih, S.Si., M.Si.

Oleh:
Kelompok 9
1. Dinda Desma Romadona RSA1C317007
2. Febrina Rosa Winda RSA1C317012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA PGMIPA-U


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
JAMBI
2019
9.9 Prinsip Ekipartisi Energi
Prinsip ekipartisi energi menyatakan bahwa tiap derajat kebebasan yang memiliki energi fungsi
dalam ungkapan funsi kuadratik dari variabel derajat kebebasan memberikan kontribusi energi
rata-rata kepada partikel sebesar 𝑘𝑇/2.

𝑘𝑇
𝐸̅ = 𝑓
2

Pada bagian ini kita akan membuktikan prinsip diatas secara umum untuk derajat kebebasan
yang sembarang.

Misalkan suatu partikel memiliki 𝑓 derajat kekebasan. Energi total partikel diungkapkan dalam
bentuk umum

𝐸 = 𝐴𝜉 2 + 𝐵𝜂2 + 𝐶𝜓2 + ⋯, (9.69)

Di mana penjumlahan mengandung 𝑓 suku. 𝐴, 𝐵, 𝐶, dan seterusnya adalah konstanta dan


𝜉, 𝜂, 𝜓, dan seterusnya adalah variabel yang berkaitan dengan derajat kebebasan. Variabel-
variabel tersebut boleh posisi, momentum, sudut, atau apa saja.

Dengan menganggap bahwa partikel tersebut memenuhi fungsi distribusi Maxwell-Boltzmann


maka energi rata-rata satu partikel adalah

∑ 𝐸𝑒 −𝐸⁄𝑘𝑇
𝐸̅ = ∑ 𝑒 −𝐸⁄𝑘𝑇 (9.70)

Diketahui 𝛽 = −1⁄𝑘𝑇 dan 𝑍 = ∑ 𝑒 𝛽𝐸 maka

𝑑𝑍 𝑑
= 𝑑𝛽 (∑ 𝑒 𝛽𝐸 )
𝑑𝛽

𝑑𝑍
= ∑ 𝐸𝑒𝛽𝐸 (9.71)
𝑑𝛽

Dengan demikian, energi rata-rata partikel dapat ditulis menjadi

𝑑𝑍⁄𝑑𝛽 𝑑
𝐸̅ = 𝑍 = 𝑑𝛽 ln 𝑍 (9.72)

𝑑𝑍 1 𝑑 1 𝑑
𝐸̅ = 𝑑𝛽 ∙ 𝑍 = 𝑑𝛽 ∫ 𝑍 𝑑𝑍 = 𝑑𝛽 ln 𝑍

Selanjutnya kita fokuskan pada pencarian 𝑍

𝑍 = ∑ 𝑒 𝛽𝐸
𝑍 = ∑ 𝑒𝑥𝑝[𝛽(𝐴𝜉 2 + 𝐵𝜂2 + 𝐶𝜓2 + ⋯ )]

𝑍 = ∑ 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ]𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐵𝜂2 ]𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐶𝜓2 ] …

𝑍 = ∑ 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ] ∑ 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐵𝜂2 ] ∑ 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐶𝜓2 ] … (9.73)

Penyelesaian penjumlahan di atas hampir tidak mungkin dilakukan. Namun penyelesaian dapat
dilakukan dengan mengganti penjumlahan dengan integral terhadap variabel-variabel yang
merepresentasikan derajat kebebasan.

∑ 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ] = ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ](𝑔1 𝑑𝜉) (9.74)

Pada persamaan (9.74) 𝑔1 adalah kerapatan keadaan yang berkaitan dengan variabel 𝜉. Dengan
demikian persamaan (9.73) dapat ditulis menjadi
∞ ∞ ∞
𝑍 = ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ](𝑔1 𝑑𝜉) ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐵𝜂2 ](𝑔2 𝑑𝜂) ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐶𝜓2 ](𝑔3 𝑑𝜓) …

∞ ∞ ∞
𝑍 = (𝑔1 𝑔2 𝑔3 … ) ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ]𝑑𝜉 ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐵𝜂2 ]𝑑𝜂 ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐶𝜓2 ]𝑑𝜓 … (9.75)

Selesaikan integral pertama, yaitu



∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ]𝑑𝜉

Misalkan :

∫0 exp(−𝑥 2 ) 𝑑𝑥
𝑑𝜉 𝑑 1
𝛽𝐴𝜉 2 = −𝑥 2 = 𝑑𝑥 ( 𝑥) 1
𝑑𝑥 √−𝛽𝐴 Misal : 𝑢 = 𝑥 2 → 𝑥 = 𝑢2
1 𝑑𝑢 𝑑𝑢
−𝛽𝐴𝜉 2 = 𝑥 2 𝑑𝜉 = 𝑑𝑥 𝑑𝑥
= 2𝑥 → 𝑑𝑥 =
2𝑥
√−𝛽𝐴
∞ 𝑑𝑢
𝑥2 = ∫0 exp(−𝑢) 2𝑥
𝜉 2 = −𝛽𝐴 1
∞1
= ∫0 𝑢−2 exp(−𝑢) 𝑑𝑢
2
𝑥2 1
𝜉 = √−𝛽𝐴 = 𝑥 =
1

∞ −1
𝑢 2 exp(−𝑢) 𝑑𝑢
√−𝛽𝐴 2 0
∞ ∞ 1 Persamaan fungsi gamma :
∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ]𝑑𝜉 = ∫0 exp(−𝑥 2 ) √−𝛽𝐴 𝑑𝑥

Γ(𝑃) = ∫0 𝑥 𝑃−1 exp −𝑥 𝑑𝑥
1 ∞
= ∫ exp(−𝑥 2 ) 𝑑𝑥
√−𝛽𝐴 0 𝑃−1=−
1
2
1 1 1
= √𝜋 𝑃=
2
√−𝛽𝐴 2
∞ 1
∫0 exp(−𝑥 2 ) 𝑑𝑥 =
2
Γ(1)
1 𝜋 2
= √ ∞ 1
√−𝛽𝐴 4 ∫0 exp(−𝑥 2 ) 𝑑𝑥 = √𝜋
2
∞ 1 𝜋
∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ]𝑑𝜉 = √−𝛽 √4𝐴 (9.76a)
Dengan cara sama persis seperti diatas, kita akan mendapatkan
Integral kedua, yaitu

∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐵𝜂2 ]𝑑𝜂

Misalkan : ∞
∫0 exp(−𝑦 2 ) 𝑑𝑦
1
2 2 𝑑𝜂 𝑑 1 Misal : 𝑢 = 𝑦 2 → 𝑦 = 𝑢2
𝛽𝐵𝜂 = −𝑦 = 𝑑𝑦 ( 𝑦)
𝑑𝑦 √−𝛽𝐵 𝑑𝑢 𝑑𝑢
= 2𝑦 → 𝑑𝑦 =
𝑑𝑦 2𝑦
1
−𝛽𝐵𝜂2 = 𝑦 2 𝑑𝜂 = 𝑑𝑦 ∞ 𝑑𝑢
√−𝛽𝐵 = ∫0 exp(−𝑢)
2𝑦
𝑦2 1
𝜂2 = −𝛽𝐵 = ∫0
∞1
𝑢 −
2 exp(−𝑢) 𝑑𝑢
2
∞ 1
1
𝑦2 1 = ∫0 𝑢−2 exp(−𝑢) 𝑑𝑢
𝜂 = √−𝛽𝐵 = 𝑦 2
√−𝛽𝐵
Persamaan fungsi gamma :
∞ ∞ 1
∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐵𝜂2 ]𝑑𝜂 ∫0 exp(−𝑦 2 ) √−𝛽𝐵

= 𝑑𝑦 Γ(𝑃) = ∫0 𝑥 𝑃−1 exp −𝑥 𝑑𝑥
1
1 ∞ 𝑃−1=−
= ∫ exp(−𝑦 2 ) 𝑑𝑦
√−𝛽𝐵 0
2
1
𝑃=
1 1 2
= √𝜋 ∞ 1
√−𝛽𝐵 2 ∫0 exp(−𝑦 2 ) 𝑑𝑦 =
2
Γ(1)
2

1 𝜋 ∞ 1
= √4 ∫0 exp(−𝑦 2 ) 𝑑𝑦 = √𝜋
2
√−𝛽𝐵

∞ 1 𝜋
∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐵𝜂2 ]𝑑𝜂 = √−𝛽 √4𝐵 (9.76b)

Integral ketiga, yaitu



∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐶𝜓2 ]𝑑𝜓 ∞
∫0 exp(−𝑧 2 ) 𝑑𝑧
Misalkan : Misal : 𝑢 = 𝑧 2 → 𝑧 = 𝑢2
1

𝑑𝜓 𝑑 1 𝑑𝑢 𝑑𝑢
𝛽𝐶𝜓2 = −𝑧 2 = 𝑑𝑧 ( 𝑧) 𝑑𝑧
= 2𝑧 → 𝑑𝑧 =
2𝑧
𝑑𝑧 √−𝛽𝐶
∞ 𝑑𝑢
1 = ∫0 exp(−𝑢) 2𝑧
−𝛽𝐶𝜓 2 = 𝑧 2 𝑑𝜂 = 𝑑𝑧
√−𝛽𝐶 1
∞1
= ∫0 𝑢−2 exp(−𝑢) 𝑑𝑢
𝑧2 2
𝜓2 = 1 ∞ 1
−𝛽𝐶 = ∫0 𝑢−2 exp(−𝑢) 𝑑𝑢
2
𝑧2 1 Persamaan fungsi gamma :
𝜓 = √−𝛽𝐶 = 𝑧
√−𝛽𝐶 ∞
Γ(𝑃) = ∫0 𝑥 𝑃−1 exp −𝑥 𝑑𝑥
∞ ∞ 1
∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐶𝜓2 ]𝑑𝜓 = ∫0 exp(−𝑧 2 ) √−𝛽𝐶 𝑑𝑧 𝑃−1=−
1
2
1 ∞ 1
= ∫ exp(−𝑧 2 ) 𝑑𝑧
√−𝛽𝐶 0
𝑃=
2
∞ 1
1 1 ∫0 exp(−𝑧 2 ) 𝑑𝑧 =
2
Γ(1)
= √𝜋 2
√−𝛽𝐶 2 ∞ 1
∫0 exp(−𝑧 2 ) 𝑑𝑧 = √𝜋
2
1 𝜋
= √4
√−𝛽𝐶

∞ 1 𝜋
∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐶𝜓2 ]𝑑𝜓 = √−𝛽 √4𝐶 (9.76c)

dan seterusnya. Akhirnya dapat diungkapkan untuk 𝑍 sebagai berikut :


∞ ∞ ∞
𝑍 = (𝑔1 𝑔2 𝑔3 … ) ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐴𝜉 2 ]𝑑𝜉 ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐵𝜂2 ]𝑑𝜂 ∫0 𝑒𝑥𝑝[𝛽𝐶𝜓2 ]𝑑𝜓 …

1 𝜋 1 𝜋 1 𝜋
𝑍 = (𝑔1 𝑔2 𝑔3 … ) ( √ ) (√−𝛽 √4𝐵) (√−𝛽 √4𝐶) …
√−𝛽 4𝐴

1 𝜋 𝜋 𝜋
𝑍= {(𝑔1 𝑔2 𝑔3 … )√4𝐴 √4𝐵 √4𝐶 … }
√−𝛽

1 𝜋 𝜋 𝜋
𝑍 = (−𝛽)𝑓⁄2 {(𝑔1 𝑔2 𝑔3 … )√4𝐴 √4𝐵 √4𝐶 … }

1 𝜋 𝜋 𝜋
ln 𝑧 = ln (−𝛽)𝑓⁄2 ln {(𝑔1 𝑔2 𝑔3 … )√4𝐴 √4𝐵 √4𝐶 … } ln 𝐴 ∙ ln 𝐵 = ln 𝐴 + ln 𝐵

1 𝜋 𝜋 𝜋
ln 𝑧 = ln (−𝛽)𝑓⁄2 + ln {(𝑔1 𝑔2 𝑔3 … )√4𝐴 √4𝐵 √4𝐶 … } ln 𝐴𝑥 = 𝑥 ln 𝐴

𝑓 𝜋 𝜋 𝜋
ln 𝑧 = − 2 ln(−𝛽) + ln {(𝑔1 𝑔2 𝑔3 … )√4𝐴 √4𝐵 √4𝐶 … } (9.77)

Subtitusikan persamaan (9.77) dengan persamaan (9.72) menjadi


𝑑
𝐸̅ = 𝑑𝛽 ln 𝑍

𝑑 𝑓 𝜋 𝜋 𝜋
𝐸̅ = 𝑑𝛽 [− 2 ln(−𝛽) + ln {(𝑔1 𝑔2 𝑔3 … )√4𝐴 √4𝐵 √4𝐶 … }]

𝑓 𝑑 𝑑 𝜋 𝜋 𝜋
𝐸̅ = − 2 𝑑𝛽 ln(−𝛽) + 𝑑𝛽 ln {(𝑔1 𝑔2 𝑔3 … )√4𝐴 √4𝐵 √4𝐶 … } (9.78)

Semua suku di ruas paling kanan persamaan (9.78) tidak mengandung 𝛽 sehingga diferensial
terhadap 𝛽 adalah nol. Jadi diperoleh
𝑓 𝑑
𝐸̅ = − ln(−𝛽) + 0
2 𝑑𝛽
𝑓 1
𝐸̅ = − 2 ∙ 𝛽
𝑓
𝐸̅ = − 2𝛽
𝑓
𝐸̅ = − 2(−1⁄𝑘𝑇)
1
𝐸̅ = 𝑓 (2 𝑘𝑇) (9.79)
𝑘𝑇
𝐸̅ = 𝑓 2 (Terbukti)
Karena partikel yang kita bahas memiliki 𝑓 derajat kebebasan maka kita simpulkan bahwa tiap
derajat kebebasan menyumbang energi sebesar 𝑘𝑇/2 . Jadi kita telah membuktikan prinsip
ekipartisi energi.