Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Falsafah yang mendasari pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pendidikan


ialah “homo homoni socius” (pembelajaran gotong-royong) yang menekankan bahwa
manusia adalah makhluk sosial. Pembelajaran kooperatif terutama tipe jigsaw
dianggap sangat cocok di terapkan di Indonesia karena sesuai dengan budaya Indonesia
yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Model pembelajaran jigsaw adalah suatu tehnik pembelajaran kooperatiff
dimana siswa, bukan guru yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam
pelaksanaan pembelajaran. Adapun tujuan dari model pembelajaran jigsaw ini
mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar kooperatif, serta menguasai
pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh bila mereka mencoba
untuk mempelajari semua materi secara sendirian.
Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning Teknik Jigsaw”
bahwa metode pembelajaran koopertif teknik jigsaw tidak sama dengan sekadar belajar
kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian
kelompok yang dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mangatakan bahwa
tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning teknik jigsaw.

B. Rumusan Masalah

Dalam pembuatan makalah ini kami merumuskan beberapa rumusan masalah


sabagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran jigsaw?
2. Siapa tokoh/pelopor model pembelajaran jigsaw?
3. Bagaimana langkah-langkah penerapan model pembelajaran jigsaw?
4. Apa kelebihan model pembelajaran jigsaw?
5. Apa kekurangan model pembelajaran jigsaw?

1
C. Tujuan Penulisan

Dalam pembuatan makalah ini kami merumuskan beberapa tujuan penulisan


sabagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian model pembelajaran jigsaw.
2. Untuk mengetahui tokoh/pelopor model pembelajaran jigsaw.
3. Untuk mengetahui langkah-langkah penerapan model pembelajaran jigsaw.
4. Untuk mengetahui kelebihan dalam model pembelajaran jigsaw.
5. Untuk mengetahui kekurangan dalam model pembelajaran jigsaw.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw


Pembelajaran jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan
oleh Elliot Aronson’s. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa
tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang
lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus
siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya.Pada model
pembelajaran jigsaw ini, keaktifan siswa (student centered) sangat dibutuhkan,
dengan dibentuknya kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 3-5 orang yang
terdiri dari kelompok asal dan kelompok ahli.
Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari berapa anggota
kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang.
Guru harus trampil dan mengetahui latar belakang siswa agar terciptanya suasana yang
baik bagi setiap angota kelompok. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa
yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk
mendalami topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Setelah pembahasan selesai, para anggota kelompok kemudian kembali pada
kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka
dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli.Para kelompok ahli harus mampu
untuk membagi pengetahuan yang di dapatkan saat melakuakn diskusi di kelompok
ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiap anggota pada kelompok
asal. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependence setiap siswa terhadap anggota tim
yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya para siswa harus memiliki
tanggunga jawab dan kerja sama yang positif dan saling ketergantungan untuk
mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang biberikan.
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diu jicobakan oleh Elliot Aronson dan
teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-
teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001:78). Teknik mengajar Jigsaw
dikembangkan oleh Aronson sebagai metode pembelajaran kooperatif. Teknik ini
dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun
berbicara. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang
pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran

3
menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam
suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi
dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003


menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus
memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model
pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan
perencanaan pengajaran yang matang oleh guru.
Jhonson (dalam Isjoni, 2007:17) mengatakan bahwa pembelajaran
kooperatif adalah sebagai upaya mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu
kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang
mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang lebih banyak


melibatkan interaksi aktif antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru maupun siswa
dengan lingkungan belajarnya. Siswa belajar bersama-sama dan memastikan bahwa
setiap anggota kelompok telah benar-benar menguasai materi yang sedang dipelajari.
Keuntungan yang bisa diperoleh dari penerapan pembelajaran kooperatif ini yaitu
siswa dapat mencapai hasil belajar yang bagus karena pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa yangmerupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi hasil belajar.

Siswa juga dapat menerima dengan senang hati pembelajaran yang digunakan
karena adanya kontak fisik antar siswa. Terdapat banyak tipe dalam pembelajaran
kooperatif salah satunya adalah Jigsaw. Pembelajaran kooperatif jigsaw
adalah model pembelajaran yang dikembangkan agar dapat membangun kelas sebagai
komunitas belajar yang menghargai semua kemampuan siswa.

Pembelajaran dengan kooperatif jigsaw siswa secara individual dapat


mengembangkan keahliannya dalam satu aspek dari materi yang sedang dipelajari serta
menjelaskan konsep dan keahliannya itu pada kelompoknya. Setiap anggota kelompok
dalam pembelajaran kooperatif jigsaw mempelajari materi yang berbeda dan
bertanggung jawab untuk mempelajari bagiannya masing-masing. Pembelajaran
dengan kooperatif jigsaw diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pembelajaran kooperatif Jigsaw menjadikan siswa termotivasi untuk belajar


karena skor-skor yang dikontribusikan para siswa kepada tim didasarkan pada sistem

4
skor perkembangan individual, dan para siswa yang skor timnya meraih skor tertinggi
akan menerima sertifikat atau bentuk-bentuk penghargaan(rekognisi) tim lainnya
sehingga para siswa termotivasi untuk mempelajari materi dengan baik dan untuk
bekerja keras dalam kelompok ahli mereka supaya mereka dapat membantu timnya
melakukan tugas dengan baik (Slavin, 2006:5).

A. Tokoh/Pelopor Pembelajaran Jigsaw


Elliot Aronson (lahir 9 Januari 1932) adalah seorang psikolog Amerika. Dia
terdaftar di antara 100 psikolog paling terkemuka abad ke-20, terkenal karena
penemuan Kelas Jigsaw sebagai metode untuk mengurangi permusuhan antaretnis dan
prasangka; Penelitian disonansi kognitif, dan psikologi sosial. Dalam kalimat klasiknya
(1972), The Social Animal, (sekarang di edisi ke-11-nya), ia menyatakan Hukum
Pertama Aronson: “Orang-orang yang melakukan hal-hal gila yang belum tentu
gila” Beliau menegaskan pentingnya faktor situasional dalam perilaku aneh. Dia adalah
satu-satunya orang dalam 120 tahun sejarah American Psychological Association telah
memenangkan tiga penghargaan utama: untuk menulis, untuk mengajar, dan untuk
penelitian. Pada tahun 2007 ia menerima William James Award untuk Lifetime
Achievement dari Asosiasi untuk Psychological Science. Dia resmi pensiun pada tahun
1994, namun terus mengajar dan menulis. Aronson dibesarkan dalam kemiskinan
ekstrim di Revere, Massachusetts, selama Depresi Besar. Meskipun nilai SMA-nya
biasa-biasa saja, nilai SAT-nya cukup tinggi baginya untuk mendapatkan beasiswa
kerja / studi di Brandeis University. Ia meraih gelar Sarjana dari Brandeis pada tahun
1954 (di mana ia adalah seorang anak didik psikolog humanis Abraham Maslow). Dia
melanjutkan untuk mendapatkan gelar Master dari Universitas Wesleyan pada tahun
1956 (di mana ia bekerja dengan David McClelland), dan Ph.D. dari Stanford
University pada tahun 1959 (di mana penasihat doktornya dan mentor adalah psikolog
sosial eksperimental Leon Festinger).

5
B. Langkah-Langkah Pembelajaran Jigsaw
Sebagaimana telah disebutkan di depan bahwa strategi jigsaw merupakan salah
satu dari sekian banyak strategi pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif memerlukan pendekatan pengajaran melalui
penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi
belajar dan mencapai tujuan belajar. Oleh sebab itu pembelajaran dengan
menggunakan strategi jigsaw menuntut adanya pengelompokan siswa.

Sebelum menggunakan strategi jigsaw guru harus memahami terlebih dahulu


cara pengelompokan siswa. Hal yang harus diperhatikan dalam pengelompokan siswa
adalah anggota kelompok diupayakan heterogen. Keheterogenan kelompok mencakup
jenis kelamin, ras, agama (kalau mungkin), tingkat kemampuan (tinggi, rendah,
sedang), dan sebagainya. Adapun teknik untuk mengelompokkan siswa dapat ditempuh
berdasarkan metode sosiometri, berdasarkan kesamaan nomor, atau menggunakan
teknik acak (Nurhadi, 2004:68).

Melalui metode sosiometri guru dapat menentukan siswa yang tergolong


disukai oleh banyak teman (bintang kelas) hingga yang paling tidak disukai atau tidak
memiliki teman (terisolasi). Berdasarkan metode sosiometri tersebut guru menyusun
kelompok-kelompok belajar yang di dalam tiap kelompok ada siswa yang tergolong
banyak teman, yang tergolong biasa, dan yang terisolasi.

Pembentukan kelompok dengan mendasarkan pada kesamaan nomor, misalnya


dalam kelas terdiri atas 30 siswa dan guru ingin membentuk 6 kelompok belajar yang
masing-masing beranggotakan 5 orang, guru dapat menghitung siswa dari satu hingga
6. Selanjutnya, para siswa yang bernomor sama dikelompokkan sehingga terbentuklah
6 kelompok siswa dengan masing-masing kelompok beranggotakan 5 orang siswa yang
memiliki karakteristik heterogen.

Pada pembentukan kelompok secara acak, guru terlebih dahulu


mengelompokkan siswa secara homogen. Selanjutnya dari kelompok homogen
tersebut dipilih secara acak dan dimasukkan ke dalam sejumlah kelompok yang telah
ditentukan sehingga terbentuklah kelompok-kelompok belajar yang heterogen.

Setelah kelompok-kelompok belajar terbentuk barulah pembelajaran dengan


strategi jigsaw dimulai. Namun untuk kelas yang baru pertama kali digunakan strategi
ini, guru harus menjelaskan mekanismenya. Adapun langkah-langkah pembelajaran
dengan strategi jigsaw menurut Nurhadi (2004:64) adalah :

6
Kelas dibagi menjadi beberapa team yang anggotanya terdiri 5 atau 6 siswa dengan
karakteristik yang heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk
teks; dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan
akademik tersebut. Para anggota dari berbagai tim yang berbeda memiliki tanggung
jawab untuk mempelajari suatu bagian akademik yang sama dan selanjutnya
berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan tersebut. Kumpulan siswa
semacam ini disebut “kelompok pakar” (expert group). Selanjutnya, para siswa yang
berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula (home teams) untuk
mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok pakar.
Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam home teams, para siswa dievaluasi
secara individual mengenai bahan yang telah dipelajari.

Sementara prosedur pembelajaran dengan strategi jigsaw menurut Malvin


(2004: 193-194) adalah :
1. Pilihlah materi belajar yang bisa dipecah menjadi beberapa bagian. Sebuah
bagian bisa sependek kalimat atau sepanjang beberapa paragraf. (Jika
materinya panjang, perintahkan siswa untuk membaca tugas mereka sebelum
pelajaran).
2. Hitunglah jumlah bagian yang hendak dipelajari dan jumlah siswa. Bagikan
secara adil berbagai tugas kepada berbagai kelompok siswa. Sebagai contoh,
bayangkan sebuah kelas yang terdiri dari 12 siswa. Dimisalkan bahwa anda bisa
membagi materi pelajaran menjadi tiga segmen atau bagian. Anda mungkin
selanjutnya dapat membetuk kuartet (kelompok empat anggota) dengan
memberikan segmen 1, 2 atau 3 kepada tiap kelompok. Kemudian perintahkan
tiap “kelompok belajar” untuk membaca, mendiskusikan, dan mempelajari
materi yang mereka terima terlebeih dahulu.
3. Setelah waktu belajar selesai, bentuklah kelompok-kelompok “belajar ala
jigsaw,”. Kelompok tersebut terdiri dari perwakilan tiap “kelompok belajar” di
kelas. Dalam contoh yang baru saja diberikan, anggota dari tiap kuartet dapat
berhitung mulai 1, 2, 3 dan 4. Kemudian bentuklah kelompok belajar jigsaw
dengan jumlah yang sama. Hasilnya adalah kelompok trio. Dalam masing-
masing trio akan ada satu siswa yang telah mempelajari segmen 1, segmen 2
dan segmen 3.
4. Perintahkan anggotan kelompok jigsaw untuk mengajarkan satu sama lain apa
yang telah mereka pelajari.
5. Perintahkan siswa untuk kembali ke posisi semula dalam rangka membahas
pertanyaan yang masih tersisa guna memastikan pemahaman yang akurat.

7
Dari dua kutipan tentang langkah-langkah penerapan strategi jigsaw dalam
pembelajaran dapatlah disimpulkan bahwa strategi jigsaw dilaksanakan dengan suatu
urutan langkah-langkah khusus. Adapun langkah-langkah tersebut adalah :

Langkah 1 : Materi pelajaran dibagi ke dalam beberapa bagian. Sebagai contoh suatu
materi dibagi menjadi 4 bagian.

Langkah 2 : Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Banyak kelompok adalah


hasil bagi jumlah siswa dengan banyak bagian materi. Misalnya dalam kelas ada 20
siswa, maka banyak kelompok adalah 5, karena materinya 4 bagian. Selanjutnya
kepada setiap anggota dalam satu kelompok diberikan satu bagian materi.
Langkah 3 : Anggota dari setiap kelompok yang mendapatkan materi yang sama
membentuk kelompok. Kelompok ini disebut kelompok ahli (expert group).
Banyaknya kelompok ahli ini sama dengan banyaknya bagian materi. Pada kelompok
ahli inilah siswa melakukan diskusi untuk membahas materi yang menjadi tanggung
jawabnya.

Langkah 4 : Setelah materi didiskusikan dan dibahas pada kelompok ahli, masing
anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asalnya (home teams) untuk mengajarkan
kepada anggota kawan-kawannya. Karena ada 4 bagian materi, maka ada 4 orang yang
mengajar secara bergantian.

Langkah 5 : Guru melakukan evaluasi secara individual mengenai bahan yang telah
dipelajari.
Langkah 6 : Penutup, yaitu menutup pelajaran sebagaimana biasanya.

Bila langkah-langkah di atas dihubungkan dengan penggunaan indera dan


ingatan siswa, maka tidak dapat diragukan bahwa strategi jigsaw dapat meningkatkan
dan memaksimalkan ingatan siswa. Hal ini disebabkan dalam serangkaian langkah-
langkah pelaksanaannya, strategi jigsaw menuntut siswa untuk aktif. Sangat banyak
indera yang dilibatkan dalam belajar, yaitu mulai dari membaca dan menelaah materi,
mendengar pendapat teman, menyanggah pendapat, mempertahankan pendapat dan
mengajarkan kawan serta dievaluasi secara individual oleh guru.

8
C. Kelebihan Pembelajaran Jigsaw

1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada


kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya.
2. Mengembangkan kemampuan siswa mengungkapkan ide atau gagasan
dalam memecahkan masalah tanpa takut membuat salah.
3. Dapat meningkatkan kemampuan sosial: mengembangkan rasa harga diri
dan hubungan interpersonal yang positif.
4. Siswa lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat karena siswa diberikan
kesempatan untuk berdiskusi dan menjelaskan materi pada masing-masing
kelompok.
5. Siswa lebih memahami materi yang diberikan karena dipelajari lebih dalam
dan sederhana dengan anggota kelompoknya.
6. Siswa lebih menguasai materi karena mampu mengajarkan materi tersebut
kepada teman kelompok belajarnya.
7. Siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam kelompok
8. Materi yang diberikan kepada siswa dapat merata.
9. Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif.

D. Kekurangan pembelajaran jigsaw

1. Siswa yang tidak memiliki rasa percaya diri dalam berdiskusi maka akan
sulit dalam menyampaikan materi pada teman.
2. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung
mengontrol jalannya diskusi.
3. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan
mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai
tenaga ahli.
4. Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
5. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti
proses pembelajaran.
6. Penugasan anggota kelompok untuk menjadi tim ahli sering tidak sesuai
antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari.
7. Keadaan kondisi kelas yang ramai, sehingga membuat siswa kurang bisa
berkonsentrasi dalam menyampaikan pembelajaran yang dikuasainya.
8. Jika jumlah anggota kelompok kurang akan menimbulkan masalah, misal
jika ada anggota yang hanya membonceng dalam menyelesaikan tugas-
tugas dan pasif dalam diskusi.

9
9. Jika tidak didukung dengan kondisi kelas yang mumpuni (luas) metode
sulit dijalankan mengingat siswa harus beberapa kali berpindah dan
berganti kelompok.
10. Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila penataan ruang belum
terkondiki dengan baik, sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat
juga menimbulkan gaduh serta butuh waktu dan persiapan yang matang
sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik.

E. Dampak Pembelajaran Jigsaw


1. Melalui pembelajaran ini siswa tidak terlalu tergantung pada guru, tapi
dapat menambah kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari
berbagi sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2. Siswa dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau
gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan
ide-ide orang lain.
3. Pembelajaran ini dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan
menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4. Pembelajaran ini merupakan strategi yang cukup ampuh untuk
meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk
mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif
dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan
sikap positif terhadap sekolah.
5. Melalui pembelajaran ini siswa dapat mengembangkan kemampuan untuk
menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa
dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan,
karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
6. Interaksi selama pembelajaran berlangsung dapat meningkatkan motivasi
dan memberikan rangsangan untuk berfikir. Hal ini berguna untuk proses
pendidikan jangka panjang.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

a. Pembelajaran kooperatif adalah sebagai upaya mengelompokkan siswa di


dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama
dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama
lain dalam kelompok tersebut.
b. Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diu jicobakan oleh Elliot Aronson dan
teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan
teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001:78). Teknik mengajar
Jigsaw dikembangkan oleh Aronson sebagai metode pembelajaran kooperatif.
Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis,
mendengarkan, ataupun berbicara.
c. Pada model pembelajaran jigsaw ini, keaktifan siswa (student centered) sangat
dibutuhkan, dengan dibentuknya kelompok-kelompok kecil yang
beranggotakan 3-5 orang yang terdiri dari kelompok asal dan kelompok ahli.
d. Kelebihan model pembelajaran jigsaw diantarnya adalah mempermudah
pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas
menjelaskan materi kepada rekan-rekannya.
e. Salah satu kelemahan model pembelajaran jigsaw adalah siswa yang tidak
memiliki rasa percaya diri dalam berdiskusi maka akan sulit dalam
menyampaikan materi pada teman.

B. Saran

a. Bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa bias melihat
guru/papan tulis dengna jelas, bias melihat rekan-rekan kelompoknya dengan
baik,dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata.
b. Model pembelajaran kooperatif tipejigsaw perlu digunakan atau diterepkan
karena suasana positif yang timbul akan membarikan kesempatan kepada
siswa untuk mencintai pelajaran dan sekolah atau guru, selain itu siswa akan
merasa lebih terdorong untuk belajar dan berpikir serta meningkatkan
keaktifan.

11
DAFTAR PUSTAKA

https://idtesis.com/metode-pembelajaran-jigsaw-model-team-ahli/

http://modelpembelajaranmukhlis.blogspot.com/2015/09/pengertian-langkah-
langkah-kelebihan_85.html
http://kumpulantugassekolahdankuliah.blogspot.com/2015/01/kelebihan-dan-
kekurangan-pembelajaran.html
https://syariftugas.blogspot.com/2011/10/adapun-kelebihandan-kekurangan-dari.html

12