Anda di halaman 1dari 21

AKUT LIMFOBLASTIK LEUKEMIA (ALL)

ATAU
LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT
A.PENGERTIAN
Leukemia adalah keganasan organ pembuat darah, sehingga sumsum tulang didominasi oleh
limfoblas yang abnormal. Leukemia limfoblastik akut adalah keganasan yang sering ditemukan
pada masa anak-anak (25-30% dari seluruh keganasan pada anak), anak laki lebih sering ditemukan
dari pada anak perempuan, dan terbanyak pada anak usia 3-4 tahun. Faktor risiko terjadi leukimia
adalah faktor kelainan kromosom, bahan kimia, radiasi faktor hormonal,infeksi virus (Ribera,
2009).
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) adalah suatu keganasan pada sel-sel prekursor limfoid, yakni
sel darah yang nantinya akan berdiferensiasi menjadi limfosit T dan limfosit B. LLA ini banyak
terjadi pada anak-anak yakni 75%, sedangkan sisanya terjadi pada orang dewasa. Lebih dari 80%
dari kasus LLA adalah terjadinya keganasan pada sel T, dan sisanya adalah keganasan pada sel B.
Insidennya 1 : 60.000 orang/tahun dan didominasi oleh anak-anak usia < 15 tahun, dengan insiden
tertinggi pada usia 3-5 tahun (Landier dkk, 2004).

B.ETIOLOGI
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan
terjadinya leukemia yaitu :
Genetik
a. keturunan
1. Adanya Penyimpangan Kromosom
Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital, diantaranya pada
sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia, sindroma Wiskott-Aldrich,
sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter, D-Trisomy sindrome, sindroma
von Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan kongenital ini
dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada kromosom 21
atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak stabil, seperti
pada aneuploidy.
2. Saudara kandung
Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar identik dimana
kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama kelahiran. Hal ini berlaku
juga pada keluarga dengan insidensi leukemia yang sangat tinggi
b. Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan kromosom dapatan,
misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang dihubungkan dengan insiden yang meningkat
pada leukemia akut, khususnya ALL ,
Virus
Dalam banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus menyebabkan leukemia
pada hewan termasuk primata. Penelitian pada manusia menemukan adanya RNA dependent DNA
polimerase pada sel-sel leukemia tapi tidak ditemukan pada sel-sel normal dan enzim ini berasal
dari virus tipe C yang merupakan virus RNA yang menyebabkan leukemia pada hewan. (Wiernik,
1985). Salah satu virus yang terbukti dapat menyebabkan leukemia pada manusia adalah Human T-
Cell Leukemia . Jenis leukemia yang ditimbulkan adalah Acute T- Cell Leukemia.
Bahan Kimia dan Obat-obatan
a. Bahan Kimia
Paparan kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan dengan
peningkatan insidensi leukemia akut, misal pada tukang sepatu yang sering terpapar
benzen. Selain benzen beberapa bahan lain dihubungkan dengan
resiko tinggi dari AML, antara lain : produk – produk minyak, cat , ethylene oxide,
herbisida, pestisida, dan ladang elektromagnetik
b. Obat-obatan
Obat-obatan anti neoplastik (misal : alkilator dan inhibitor topoisomere II) dapat
mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan
AML. Kloramfenikol, fenilbutazon, dan methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan
kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML
Radiasi
Hubungan yang erat antara radiasi dan leukemia (ANLL) ditemukan pada pasien-pasien anxylosing
spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan pada kasus lain seperti peningkatan insidensi leukemia
pada penduduk Jepang yang selamat dari ledakan bom atom. Peningkatan resiko leukemia ditemui
juga pada pasien yang mendapat terapi radiasi misal : pembesaran thymic, para pekerja yang
terekspos radiasi dan para radiologis.
Leukemia Sekunder
Leukemia yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain disebut Secondary Acute
Leukemia ( SAL ) atau treatment related leukemia. Termasuk diantaranya penyakit Hodgin,
limphoma, myeloma, dan kanker payudara. Hal ini disebabkan karena obat-obatan yang digunakan
termasuk golongan imunosupresif selain menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan DNA.
C.PATOFISIOLOGI
Komponen sel darah terdiri atas eritrosit atau sel darah merah (RBC) dan leukosit atau sel darah
putih (WBC) serta trombosit atau platelet. Seluruh sel darah normal diperoleh dari sel batang
tunggal yang terdapat pada seluruh sumsum tulang. Sel batang dapat dibagi ke dalam lymphpoid
dan sel batang darah (myeloid), dimana pada kebalikannya menjadi cikal bakal sel yang terbagi
sepanjang jalur tunggal khusus. Proses ini dikenal sebagai hematopoiesis dan terjadi di dalam
sumsum tulang tengkorak, tulang belakang., panggul, tulang dada, dan pada proximal epifisis pada
tulang-tulang yang panjang.
ALL meningkat dari sel batang lymphoid tungal dengan kematangan lemah dan pengumpulan sel-
sel penyebab kerusakan di dalam sumsum tulang. Biasanya dijumpai tingkat pengembangan
lymphoid yang berbeda dalam sumsum tulang mulai dari yang sangat mentah hingga hampir
menjadi sel normal. Derajat kementahannya merupakan petunjuk untuk menentukan/meramalkan
kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan sel muda limfoblas dan biasanya ada
leukositosis, kadang-kadang leukopenia (25%). Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah,
demikian pula kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum tulang biasanya
menunjukkan sel-sel blas yang dominan. Pematangan limfosit B dimulai dari sel stem pluripoten,
kemudian sel stem limfoid, pre pre-B, early B, sel B intermedia, sel B matang, sel plasmasitoid dan
sel plasma. Limfosit T juga berasal dari sel stem pluripoten, berkembang menjadi sel stem limfoid,
sel timosit imatur, cimmom thymosit, timosit matur, dan menjadi sel limfosit T helper dan limfosit
T supresor.
Peningkatan prosuksi leukosit juga melibatkan tempat-tempat ekstramedular sehingga anak-anak
menderita pembesaran kelenjar limfe dan hepatosplenomegali. Sakit tulang juga sering dijumpai.
Juga timbul serangan pada susunan saraf pusat, yaitu sakit kepala, muntah-muntah, “seizures” dan
gangguan penglihatan.
Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur / abnormal dalam jumlah yang berlebihan. Leukosit
imatur ini menyusup ke berbagai organ, termasuk sumsum tulang dan menggantikan unsur-unsur
sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga
mengganggu perkembangan sel normal. Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat,
akibatnya terjadi penurunan jumlah leucosit, sel darah merah dan trombosit. Infiltrasi sel kanker ke
berbagai organ menyebabkan pembersaran hati, limpa, limfodenopati, sakit kepala, muntah, dan
nyeri tulang serta persendian. Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia, penurunan jumlah
trombosit mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis, perdarahan gusi, epistaksis dll.).
Adanya sel kanker juga mempengaruhi sistem retikuloendotelial yang dapat menyebabkan
gangguan sistem pertahanan tubuh, sehingga mudah mengalami infeksi. Adanya sel kaker juga
mengganggu metabolisme sehingga sel kekurangan makanan. (Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare,
2002; Suriadi dan Rita Yuliani, 2001, Betz & Sowden, 2002).
PATHWAY
D.TANDA DAN GEJALA
Gejala-gejala dari ALL sebagian besar disebabkan oleh kurangnya sel darah normal dalam
sistem peredaran darah. Hal ini meliputi:
 Anemia yang disebabkan oleh rendahnya jumlah sel darah merah.
 Anak sering mudah letih dan terlihat pucat.
 Mudah sekali memar dan berdarah karena rendahnya tingkat trombosit.
 Sering kali atau terus menerus terkena infeksi karena anak tidak memiliki jumlah sel
darah putih dewasa untuk mengatasi infeksi.
 Rasa sakit pada tulang dan atau persendian.
 Keluhan lain dapat meliputi membengkaknya kelenjar getah bening, hilangnya selera
makan, hilangnya berat badan, sakit di dada, dan rasa tidak nyaman pada bagian per

E.MANIFESTASI KLINIS
leukemia limfositik akut menyerupai leukemia granulositik akut dengan tanda dan gejala dikaitkan
dengan penekanan unsur sumsum tulang normal (kegagalan sumsum tulang) atau keterlibatan
ekstramedular oleh sel leukemia. Akumulasi sel-sel limfoblas ganas di sumsumtulang
menyebabkan berkurangnya sel-sel normal di darah perifer dengan manifestasi utama berupa
infeksi, perdarahan, dan anemia. Gejala lain yang dapat ditemukan yaitu:
1. Anemia: mudah lelah, letargi, pusing, sesak, nyeri dada
2. Anoreksia, kehilangan berat badan, malaise
3. Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel leukemia), biasanya terjadi
pada anak
4. Demam, banyak berkeringat pada malam hari(hipermetabolisme)
5. Infeksi mulut, saluran napas, selulitis, atau sepsis. Penyebab tersering adalah gramnegatif
usus
6. stafilokokus, streptokokus, serta jamur
7. Perdarahan kulit, gusi, otak, saluran cerna, hematuria
8. Hepatomegali, splenomegali, limfadenopati
9. Massa di mediastinum (T-ALL)
10. Leukemia SSP (Leukemia cerebral); nyeri kepala, tekanan intrakranial naik,
muntah,kelumpuhan saraf otak (VI dan VII), kelainan neurologik fokal, dan perubahan
statusmental.
F.PEMERIKSAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang mengenai leukemia adalah :
1. Hitung darah lengkap menunjukkan normositik, anemia normositik.
2. Hemoglobin : dapat kurang dari 10 g/100 ml
3. Retikulosit : jumlah biasanya rendah
4. Jumlah trombosit : mungkin sangat rendah (<50.000/mm)
5. SDP : mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang imatur (mungkin
menyimpang ke kiri). Mungkin ada sel blast leukemia.
6. PT/PTT : memanjang
7. LDH : mungkin meningkat
8. Asam urat serum/urine : mungkin meningkat
9. Muramidase serum (lisozim) : penigkatabn pada leukimia monositik akut dan
mielomonositik.
G.PENATALAKSANAAN MEDIS
1.Leukemia Limfoblastik Akut :
Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan menghancurkan sel-sel leukemik
sehingga sel noramal bisa tumbuh kembali di dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani
kemoterapi perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung
kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang.
Sebelum sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan: transfusi sel
darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik
untuk mengatasi infeksi. Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya
diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu. Suatu kombinasi terdiri dari prednison per-
oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan antrasiklin atau asparaginase intravena.
Untuk mengatasi sel leukemik di otak, biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam
cairan spinal dan terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah
pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan pengobatan
tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel leukemik. Pengobatan bisa
berlangsung selama 2-3 tahun. Sel-sel leukemik bisa kembali muncul, seringkali di sumsum tulang,
otak atau buah zakar. Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan masalah
yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani kemoterapi. Pencangkokan sumsum tulang
menjanjikan kesempatan untuk sembuh pada penderita ini. Jika sel leukemik kembali muncul di
otak, maka obat kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu.
Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan kemoterapi dan terapi
penyinaran.
2.Pengobatan Leukeumia Limfositik Kronik
Leukemia limfositik kronik berkembang dengan lambat, sehingga banyak penderita yang tidak
memerlukan pengobatan selama bertahun-tahun sampai jumlah limfosit sangat banyak, kelenjar
getah bening membesar atau terjadi penurunan jumlah eritrosit atau trombosit. Anemia diatasi
dengan transfusi darah dan suntikan eritropoietin (obat yang merangsang pembentukan sel-sel
darah merah). Jika jumlah trombosit sangat menurun, diberikan transfusi trombosit. Infeksi diatasi
dengan antibiotik.
Terapi penyinaran digunakan untuk memperkecil ukuran kelenjar getah bening, hati atau limpa.
Obat antikanker saja atau ditambah kortikosteroid diberikan jika jumlah limfositnya sangat banyak.
Prednison dan kortikosteroid lainnya bisa menyebabkan perbaikan pada penderita leukemia yang
sudah menyebar. Tetapi respon ini biasanya berlangsung singkat dan setelah pemakaian jangka
panjang, kortikosteroid menyebabkan beberapa efek samping. Leukemia sel B diobati dengan
alkylating agent, yang membunuh sel kanker dengan mempengaruhi DNAnya. Leukemia sel
berambut diobati dengan interferon alfa dan pentostatin.

H.Asuhan keperawatan
1.Pengkajian keperawatan
a.Identitas
Acute lymphoblastic leukemia sering terdapat pada anak-anak usia di bawah 15 tahun (85%) ,
puncaknya berada pada usia 2 – 4 tahun. Rasio lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada
anak perempuan.
b.Riwayat Kesehatan
1)Keluhan Utama : Pada anak keluhan yang sering muncul tiba-tiba adalah demam, lesu dan malas
makan atau nafsu makan berkurang, pucat (anemia) dan kecenderungan terjadi perdarahan.
2)Riwayat kesehatan masa lalu : Pada penderita ALL sering ditemukan riwayat keluarga yang
erpapar oleh chemical toxins (benzene dan arsen), infeksi virus (epstein barr, HTLV-1), kelainan
kromosom dan penggunaan obat-obatan seperti phenylbutazone dan khloramphenicol, terapi radiasi
maupun kemoterapi.
3) Pola Persepsi - mempertahankan kesehatan : Tidak spesifik dan berhubungan dengan kebiasaan
buruk dalam mempertahankan kondisi kesehatan dan kebersihan diri. Kadang ditemukan laporan
tentang riwayat terpapar bahan-bahan kimia dari orangtua.
4) Pola Nurisi : Anak sering mengalami penurunan nafsu makan, anorexia, muntah, perubahan
sensasi rasa, penurunan berat badan dan gangguan menelan, serta pharingitis. Dari pemerksaan fisik
ditemukan adanya distensi abdomen, penurunan bowel sounds, pembesaran limfa, pembesaran
hepar akibat invasi sel-sel darah putih yang berproliferasi secara abnormal, ikterus, stomatitis,
ulserasi oal, dan adanya pmbesaran gusi (bisa menjadi indikasi terhadap acute monolytic leukemia)
5) Pola Eliminasi : Anak kadang mengalami diare, penegangan pada perianal, nyeri abdomen, dan
ditemukan darah segar dan faeces berwarna ter, darah dalam urin, serta penurunan urin output. Pada
inspeksi didapatkan adanya abses perianal, serta adanya hematuria.
6) Pola Tidur dan Istrahat : Anak memperlihatkan penurunan aktifitas dan lebih banyak waktu yang
dihabiskan untuk tidur /istrahat karena mudah mengalami kelelahan.
7)Pola Kognitif dan Persepsi : Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami penurunan
kesadaran (somnolence) , iritabilits otot dan “seizure activity”, adanya keluhan sakit kepala,
disorientasi, karena sel darah putih yang abnormal berinfiltrasi ke susunan saraf pusat.
8)Pola Mekanisme Koping dan Stress : Anak berada dalam kondisi yang lemah dengan pertahan
tubuh yang sangat jelek. Dalam pengkajian dapat ditemukan adanya depresi, withdrawal, cemas,
takut, marah, dan iritabilitas. Juga ditemukan peerubahan suasana hati, dan bingung.
9)Pola Seksual : Pada pasien anak-anak pola seksual belum dapat dikaji
10)Pola Hubungan Peran : Pasien anak-anak biasanya merasa kehilangan kesempatan bermain dan
berkumpul bersama teman-teman serta belajar.
11)Pola Keyakinan dan Nilai : Anak pra sekolah mengalami kelemahan umum dan
ketidakberdayaan melakukan ibadah.
12)Pengkajian tumbuh kembang anak.
Pemeriksaan Diagnostik
Count Blood Cells : indikasi normocytic, normochromic anemia
Hemoglobin : bisa kurang dari 10 gr%
Retikulosit : menurun/rendah
Platelet count : sangat rendah (<50.000/mm)
White Blood cells : > 50.000/cm dengan peningkatan immatur WBC (“kiri ke kanan”)
Serum/urin uric acid : meningkat
Serum zinc : menurun
Bone marrow biopsy : indikasi 60 – 90 % adalah blast sel dengan erythroid
Prekursor, sel matur dan penurunan megakaryosit
Rongent dada dan biopsi kelenjar limfa : menunjukkan tingkat kesulitan tertentu
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
3. Resiko terhadap cedera: perdarahan berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
5. Perubahan membran mukosa mulut: stomatitis berhubungan dengan efek samping , agen
kemoterapi
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, malaise,
mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
7. Nyeri berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
8. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi,
imobilitas.
L. RENCANA KEPERAWATAN
DIAGNOSA
NO TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN
1 Resiko infeksi NOC : NIC :
 Immune Status
Definisi : Peningkatan resiko Infection Control (Kontrol
masuknya organisme  Knowledge : Infection infeksi)
patogen control  Bersihkan lingkungan setelah
Faktor-faktor resiko :  Risk control dipakai pasien lain
- Prosedur Infasif Kriteria Hasil :  Pertahankan teknik isolasi
- Ketidakcukupan  Klien bebas dari tanda dan
 Batasi pengunjung bila perlu
pengetahuan untuk gejala infeksi  Instruksikan pada pengunjung
menghindari paparan  Mendeskripsikan proses untuk mencuci tangan saat
patogen penularan penyakit, factor berkunjung dan setelah
- Trauma yang mempengaruhi berkunjung meninggalkan pasien
- Kerusakan jaringan dan penularan serta
 Gunakan sabun antimikrobia
peningkatan paparan penatalaksanaannya,
untuk cuci tangan
lingkungan  Menunjukkan kemampuan
 Cuci tangan setiap sebelum dan
- Ruptur membran amnion untuk mencegah timbulnya
sesudah tindakan kperawtan
- Agen farmasi infeksi
 Gunakan baju, sarung tangan
(imunosupresan)  Jumlah leukosit dalam batas
sebagai alat pelindung
- Malnutrisi normal
 Pertahankan lingkungan aseptik
- Peningkatan paparan  Menunjukkan perilaku
selama pemasangan alat
lingkungan patogen hidup sehat
 Ganti letak IV perifer dan line
- Imonusupresi
central dan dressing sesuai dengan
- Ketidakadekuatan imum
petunjuk umum
buatan
 Gunakan kateter intermiten untuk
- Tidak adekuat pertahanan
menurunkan infeksi kandung
sekunder (penurunan Hb,
kencing
Leukopenia, penekanan
 Tingktkan intake nutrisi
respon inflamasi)
- Tidak adekuat pertahanan  Berikan terapi antibiotik bila perlu

tubuh primer (kulit tidak Infection Protection (proteksi

utuh, trauma jaringan, terhadap infeksi)


penurunan kerja silia, cairan  Monitor tanda dan gejala infeksi
tubuh statis, perubahan sistemik dan lokal
sekresi pH, perubahan  Monitor hitung granulosit, WBC
peristaltik)  Monitor kerentanan terhadap
- Penyakit kronikhiperplasia infeksi
dinding bronkus, alergi jalan  Batasi pengunjung
nafas, asma.
 Saring pengunjung terhadap
- Obstruksi jalan nafas :
penyakit menular
spasme jalan nafas, sekresi
 Partahankan teknik aspesis pada
tertahan, banyaknya mukus,
pasien yang beresiko
adanya jalan nafas buatan,
 Pertahankan teknik isolasi k/p
sekresi bronkus, adanya
 Berikan perawatan kuliat pada
eksudat di alveolus, adanya
area epidema
benda asing di jalan nafas.
 Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
 Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang
cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif

2 Intoleransi aktivitas b/d NOC : NIC :


fatigue  Energy conservation Energy Management
 Self Care : ADLs
Definisi : Ketidakcukupan  Observasi adanya pembatasan
energu secara fisiologis klien dalam melakukan aktivitas
maupun psikologis untuk Kriteria Hasil :  Dorong anak untuk
meneruskan atau  Berpartisipasi dalam mengungkapkan perasaan
menyelesaikan aktifitas yang aktivitas fisik tanpa disertai terhadap keterbatasan
diminta atau aktifitas sehari peningkatan tekanan darah, Kaji adanya factor yang
hari. nadi dan RR. menyebabkan kelelahan
 Mampu melakukan  Monitor nutrisi dan sumber energi
Batasan karakteristik : aktivitas sehari hari (ADLs) tangadekuat
a. melaporkan secara verbal secara mandiri  Monitor pasien akan adanya
adanya kelelahan atau kelelahan fisik dan emosi secara
kelemahan. berlebihan
b. Respon abnormal dari  Monitor respon kardivaskuler
tekanan darah atau nadi terhadap aktivitas
terhadap aktifitas  Monitor pola tidur dan lamanya
c. Perubahan EKG yang tidur/istirahat pasien
menunjukkan aritmia atau 
iskemia Activity Therapy
d. Adanya dyspneu atau  Kolaborasikan dengan Tenaga
ketidaknyamanan saat Rehabilitasi Medik
beraktivitas. dalammerencanakan progran
terapi yang tepat.
Faktor factor yang  Bantu klien untuk mengidentifikasi
berhubungan : aktivitas yang mampu dilakukan
 Tirah Baring atau  Bantu untuk memilih aktivitas
imobilisasi konsisten yangsesuai dengan
 Kelemahan menyeluruh kemampuan fisik, psikologi dan

 Ketidakseimbangan antara social

suplei oksigen dengan  Bantu untuk mengidentifikasi dan

kebutuhan mendapatkan sumber yang

 Gaya hidup yang diperlukan untuk aktivitas yang

dipertahankan. diinginkan
 Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
 Bantu untu mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
 Bantu klien untuk membuat jadwal
latihan diwaktu luang
 Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
 Sediakan penguatan positif bagi
yang aktif beraktivitas
 Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi diri
dan penguatan
 Monitor respon fisik, emoi, social
dan spiritual
3 Resiko terhadap Tujuan : klien tidak  Gunakan semua tindakan untuk
cedera/perdarahan yang menunjukkan bukti-bukti mencegah perdarahan khususnya
berhubungan dengan perdarahan pada daerah ekimosis
penurunan jumlah trombosit  Cegah ulserasi oral dan rectal

 Gunakan jarum yang kecil pada


saat melakukan injeksi

 Menggunakan sikat gigi yang


lunak dan lembut
 Laporkan setiap tanda-tanda
perdarahan (tekanan darah
menurun, denyut nadi cepat, dan
pucat)
 Hindari obat-obat yang
mengandung aspirin
 Ajarkan orang tua dan anak yang
lebih besar ntuk mengontrol
perdarahan hidung
4 Defisit Volume Cairan NOC: NIC :
Definisi : Penurunan cairan  Fluid balance Fluid management
intravaskuler, interstisial,  Hydration  Timbang popok/pembalut jika
dan/atau intrasellular. Ini  Nutritional Status : Food and diperlukan
mengarah ke dehidrasi, Fluid Intake  Pertahankan catatan intake dan
kehilangan cairan dengan Kriteria Hasil : output yang akurat
pengeluaran sodium  Mempertahankan  Monitor
urine status hidrasi (
output sesuai dengan usia kelembaban membran mukosa,
Batasan Karakteristik : dan BB, BJ urine normal, nadi adekuat, tekanan darah
- Kelemahan HT normal ortostatik ), jika diperlukan
- Haus  Tekanan darah, nadi, suhu  Monitor vital sign
- Penurunan turgor kulit/lidah tubuh dalam batas normal
 Monitor masukan makanan /
- Membran mukosa/kulit  Tidak ada tanda tanda
cairan dan hitung intake kalori
kering dehidrasi, Elastisitas turgor
harian
- Peningkatan denyut nadi, kulit baik, membran
 Kolaborasikan pemberian cairan
penurunan tekanan darah, mukosa lembab, tidak ada
IV
penurunan volume/tekanan rasa haus yang berlebihan
 Monitor status nutrisi
nadi
 Berikan cairan IV pada suhu
- Pengisian vena menurun
ruangan
- Perubahan status mental
 Dorong masukan oral
- Konsentrasi urine meningkat
 Berikan penggantian nesogatrik
- Temperatur tubuh
sesuai output
meningkat
 Dorong keluarga untuk
- Hematokrit meninggi
- Kehilangan berat badan membantu pasien makan

seketika (kecuali pada third  Tawarkan snack ( jus buah, buah

spacing) segar )
 Kolaborasi dokter jika tanda

Faktor-faktor yang cairan berlebih muncul meburuk


berhubungan:  Atur kemungkinan tranfusi
- Kehilangan volume cairan  Persiapan untuk tranfusi
secara aktif
- Kegagalan mekanisme
pengaturan

5 Perubahan membran Tujuan : pasien tidak Inspeksi mulut setiap hari untuk
mukosa mulut : stomatitis mengalami mukositis oral adanya ulkus oral
yang berhubungan dengan  Gunakan sikat gigi berbulu lembut,
efek samping agen aplikator berujung kapas, atau jari
kemoterapi yang dibalut
kasa
 Berikan pencucian mulut yang
sering dengan cairan salin normal
atau tanpa larutan
bikarbonat
 Gunakan pelembab bibir
 Hindari penggunaan larutan
lidokain pada anak kecil
 Berikan diet cair, lembut dan lunak
 Inspeksi mulut setiap hari
 Dorong masukan cairan dengan
menggunakan sedotan
 Hindari penggunaa swab gliserin,
hidrogen peroksida dan susu
magnesi
 Berikan obat-obat anti infeksi
sesuai ketentuan
 Berikan analgetik

6 Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC :


 Nutritional Status : food and
kurang dari kebutuhan tubuh Nutrition Management
b/d pembatasan cairan, diit, Fluid Intake  Kaji adanya alergi makanan
dan hilangnya protein Kriteria Hasil :  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Definisi : Intake nutrisi tidak Adanya peningkatan berat menentukan jumlah kalori dan
cukup untuk keperluan badan sesuai dengan tujuan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
metabolisme tubuh.  Berat badan ideal sesuai  Anjurkan pasien untuk
Batasan karakteristik : dengan tinggi badan meningkatkan intake Fe
- Berat badan 20 % atau lebih Mampu mengidentifikasi  Anjurkan pasien untuk
di bawah ideal kebutuhan nutrisi meningkatkan protein dan vitamin
- Dilaporkan adanya intake  Tidak ada tanda tanda C
makanan yang kurang dari malnutrisi  Berikan substansi gula
RDA (Recomended Daily  Tidak terjadi penurunan  Yakinkan diet yang dimakan
Allowance) berat badan yang berarti mengandung tinggi serat untuk
- Membran mukosa dan mencegah konstipasi
konjungtiva pucat  Berikan makanan yang terpilih (
- Kelemahan otot yang sudah dikonsultasikan dengan ahli
digunakan untuk gizi)
menelan/mengunyah  Ajarkan pasien bagaimana membuat
- Luka, inflamasi pada rongga catatan makanan harian.
mulut  Monitor jumlah nutrisi dan
- Mudah merasa kenyang, kandungan kalori
sesaat setelah mengunyah  Berikan informasi tentang
makanan kebutuhan nutrisi
- Dilaporkan atau fakta  Kaji kemampuan pasien untuk
adanya kekurangan mendapatkan nutrisi yang
makanan dibutuhkan
- Dilaporkan adanya
perubahan sensasi rasa Nutrition Monitoring
- Perasaan ketidakmampuan  BB pasien dalam batas normal
untuk mengunyah makanan  Monitor adanya penurunan berat
- Miskonsepsi badan
- Kehilangan BB dengan  Monitor tipe dan jumlah aktivitas
makanan cukup yang biasa dilakukan
- Keengganan untuk makan  Monitor interaksi anak atau
- Kram pada abdomen orangtua selama makan
- Tonus otot jelek  Monitor lingkungan selama makan
- Nyeri abdominal dengan  Jadwalkan pengobatan dan
atau tanpa patologi tindakan tidak selama jam makan
- Kurang berminat terhadap  Monitor kulit kering dan perubahan
makanan pigmentasi
- Pembuluh darah kapiler  Monitor turgor kulit
mulai rapuh  Monitor kekeringan, rambut kusam,
- Diare dan atau steatorrhea dan mudah patah
- Kehilangan rambut yang  Monitor mual dan muntah
cukup banyak (rontok)  Monitor kadar albumin, total
- Suara usus hiperaktif protein, Hb, dan kadar Ht
- Kurangnya informasi,  Monitor makanan kesukaan
misinformasi  Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Faktor-faktor yang  Monitor pucat, kemerahan, dan
berhubungan : kekeringan jaringan konjungtiva
Ketidakmampuan  Monitor kalori dan intake nuntrisi
pemasukan atau mencerna  Catat adanya edema, hiperemik,
makanan atau mengabsorpsi hipertonik papila lidah dan cavitas
zat-zat gizi berhubungan oral.
dengan faktor biologis,  Catat jika lidah berwarna magenta,
psikologis atau ekonomi. scarlet

7 Nyeri NOC : NIC :


Definisi :  Pain Level, Pain Management
Sensori yang tidak  Pain control,  Lakukan pengkajian nyeri secara
menyenangkan dan  Comfort level komprehensif termasuk lokasi,
pengalaman emosional yang Kriteria Hasil : karakteristik, durasi, frekuensi,
muncul secara aktual atau  Mampu mengontrol nyeri kualitas dan faktor presipitasi
potensial kerusakan jaringan (tahu penyebab  Observasi reaksi
nyeri, nonverbal dari
atau menggambarkan mampu menggunakan ketidaknyamanan
adanya kerusakan (Asosiasi tehnik  Gunakan
nonfarmakologi teknik komunikasi
Studi Nyeri Internasional): untuk mengurangi nyeri, terapeutik untuk mengetahui
serangan mendadak atau mencari bantuan) pengalaman nyeri pasien
pelan intensitasnya dari  Melaporkan bahwa nyeri
 Kaji kultur yang mempengaruhi
ringan sampai berat yang berkurang dengan respon nyeri
dapat diantisipasi dengan  Evaluasi pengalaman nyeri masa
menggunakan manajemen
akhir yang dapat diprediksi nyeri lampau
dan dengan durasi kurang  Mampu mengenali  Evaluasi bersama pasien dan tim
nyeri
dari 6 bulan. (skala, intensitas, frekuensi kesehatan lain tentang
Batasan karakteristik : dan tanda nyeri) ketidakefektifan kontrol nyeri
- Laporan secara verbal atau  Menyatakan rasa nyaman masa lampau
non verbal setelah nyeri berkurang  Bantu pasien dan keluarga untuk
- Fakta dari observasi  Tanda vital dalam rentang mencari dan menemukan
- Posisi antalgic untuk normal dukungan
menghindari nyeri  Kontrol lingkungan yang dapat
- Gerakan melindungi mempengaruhi nyeri seperti suhu
- Tingkah laku berhati-hati ruangan, pencahayaan dan
- Muka topeng kebisingan
- Gangguan tidur (mata sayu,  Kurangi faktor presipitasi nyeri
tampak capek, sulit atau  Pilih dan lakukan penanganan nyeri
gerakan kacau, menyeringai) (farmakologi, non farmakologi
- Terfokus pada diri sendiri dan inter personal)
- Fokus menyempit  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
(penurunan persepsi waktu, menentukan intervensi
kerusakan proses berpikir,  Ajarkan tentang teknik non
penurunan interaksi dengan farmakologi
orang dan lingkungan)  Berikan analgetik untuk mengurangi
- Tingkah laku distraksi, nyeri
contoh : jalan-jalan,  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
menemui orang lain dan/atau  Tingkatkan istirahat
aktivitas, aktivitas berulang-  Kolaborasikan dengan dokter jika
ulang) ada keluhan dan tindakan nyeri
- Respon autonom (seperti tidak berhasil
diaphoresis, perubahan  Monitor penerimaan pasien tentang
tekanan darah, perubahan manajemen nyeri
nafas, nadi dan dilatasi
pupil) Analgesic Administration
- Perubahan autonomic dalam  Tentukan lokasi, karakteristik,
tonus otot (mungkin dalam kualitas, dan derajat nyeri
rentang dari lemah ke kaku) sebelum pemberian obat
- Tingkah laku ekspresif  Cek instruksi dokter tentang jenis
(contoh : gelisah, merintih, obat, dosis, dan frekuensi
menangis, waspada, iritabel,  Cek riwayat alergi
nafas panjang/berkeluh  Pilih analgesik yang diperlukan atau
kesah) kombinasi dari analgesik ketika
- Perubahan dalam nafsu pemberian lebih dari satu
makan dan minum  Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya nyeri
Faktor yang berhubungan :  Tentukan analgesik pilihan, rute
Agen injuri (biologi, kimia, pemberian, dan dosis optimal
fisik, psikologis)  Pilih rute pemberian secara IV, IM
untuk pengobatan nyeri secara
teratur
 Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
 Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi efektivitas analgesik, tanda
dan gejala (efek samping)

8 Kerusakan intergritas kulit NOC : Tissue Integrity : NIC : Pressure Management


b/d edema dan menurunnya Skin and  Anjurkan
Mucous pasien untuk
tingkat aktivitas Membranes menggunakan pakaian yang
Definisi : Perubahan pada Kriteria Hasil : longgar
epidermis dan dermis  Integritas kulit yang baik
 Hindari kerutan padaa tempat tidur
 Jaga kebersihan kulit agar tetap
bisa dipertahankan (sensasi,
Batasan karakteristik : elastisitas, temperatur, bersih dan kering
- Gangguan pada bagian hidrasi, pigmentasi)  Mobilisasi pasien (ubah posisi
tubuh  Tidak ada luka/lesi pada pasien) setiap dua jam sekali
- Kerusakan lapisa kulit kulit  Monitor kulit akan adanya
(dermis)  Perfusi jaringan baik kemerahan
- Gangguan permukaan kulit  Menunjukkan  Oleskan lotion atau minyak/baby oil
pemahaman
(epidermis) dalam proses perbaikan pada derah yang tertekan
Faktor yang berhubungan : kulit dan  Monitor aktivitas dan mobilisasi
mencegah
Eksternal : terjadinya sedera berulang pasien
- Hipertermia atau hipotermia Mampu melindungi kulit
 Monitor status nutrisi pasien
- Substansi kimia dan  Memandikan pasien dengan sabun
mempertahankan
- Kelembaban udara kelembaban kulit dan dan air hangat
- Faktor mekanik (misalnya : perawatan alami
alat yang dapat
menimbulkan luka, tekanan,
restraint)
- Immobilitas fisik
- Radiasi
- Usia yang ekstrim
- Kelembaban kulit
- Obat-obatan

Internal :
- Perubahan status metabolik
- Tulang menonjol
- Defisit imunologi
- Faktor yang berhubungan
dengan perkembangan
- Perubahan sensasi
- Perubahan status nutrisi
(obesitas, kekurusan)
- Perubahan status cairan
- Perubahan pigmentasi
- Perubahan sirkulasi
- Perubahan turgor (elastisitas
kulit)

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa
Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.2. Tucke
Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit
buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Ribera JM, Oriol A. Acute lymphoblastic leukemia in adolescents and young adults. Hematol
Oncol Clin North Am. Oct 2009;23(5):1033-42.2.
Landier W, Bhatia S, Eshelman DA, Forte KJ, Sweeney T, Hester AL, et al.Development of risk-
based guidelines for pediatric cancer survivors: the Children'sOncology Group Long-Term Follow-
Aster, Jon.2007.Sistem Hematopoietik dan Limfoid dalam Buku Ajar Patologi Edisi 7.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC
Atul, Mehta dan A. Victor Hoffbrand. 2006.At a Glance Hematologi.Edisi 2. Jakarta: Erlangga
Baldy, Catherine M.2006.Komposisi Darah dan Sistem Makrofag-Monosit dalam Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC
Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa
Peter Anugrah. Ed.Jakarta : EGC; 19945.
Reeves, Charlene J et al. Medical-Surgical Nursing. Alih Bahasa Joko Setyono. Ed. I. Jakarta :
Salemba Medika; 2001.
Marjory Gordon, dkk, 2001, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2001-2002, NANDA