Anda di halaman 1dari 13

NAMA : SEPTIANI

NIM : 20173123059
KELAS : A TK 2
MATA KULIAH : DASAR-DASAR PENCABUTAN
DOSEN : drg. Abral, M.Pd

1. Sebutkan Obat – obat untuk mencegah pendarahan pada pencabutan gigi !

2. Mengapa gigi bisa mengalami kegoyangan?


3. Sebutkan Indikasi dan kontra indikasi pencabutan yang berhubungan dengan penyakit
sistemik!

JAWABAN 1 :

Adapun obat untuk menghentikan darah sehabis cabut gigi yang bisa anda konsumsi akan dipaparkan
berikut ini:

1. Tranexamic acid

Tranexamic acid merupakan salah satu obat penghenti pendarahan yang mengandung agen
antifibrinolytic. Obat ini bekerja dengan menghalangi pemecahan bekuan darah, yang mencegah
pendarahan. Obat yang tersedia dalam bentuk tablet dan sirup ini sebaiknya dikonsumsi melalui resep
dokter. Untuk itu, anda perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

2. Asam traneksamat

Asam traneksamat juga merupakan obat yang berfungsi untuk mengurangi bahkan menghentikan
pendarahan yang anda alami, termasuk pendarahan pasca cabut gigi. Obat ini bekerja dengan cara
menghambat hancurnya bekuan darah yang sudah terbentuk, sehingga perdarahan tidak terus terjadi.

Asam traneksamat biasanya digunakan untuk mengurangi perdarahan pada wanita yang memiliki
menorrhagia serta dapat mencegah perdarahan saat tindakan cabut gigi pada pasien hemofilia. Obat
ini juga termasuk obat resep yang penggunaannya harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih
dahulu.

3. Plasminex

Plasminex merupakan obat yang mengandung asam traneksamat. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa Asam traneksamat merupakan golongan obat penghenti pendarahan yang
mengandung anti-fibrinolitik. Obat ini dapat digunakan untuk menghentikan pendarahan pada
sejumlah kondisi, misalnya pendarahan pascaoperasi, mimisan, pendarahan akibat menstruasi
berlebihan, dan pendarahan pada penderita angio-edema turunan serta pendarahan pasca cabut gigi.

JAWABAN 2:

 Trauma:

Langsung : trauma yang dapat mengakibatkan kerusakan ligamen periodontal bisa luksasi bisa gigi
lepas dari soketnya

Tidak langsung : trauma yang menimbulkan celah antara ligamen periodontal, Bakteri menyebabkan
inflamasi atau peradangan kemudian terjadi luksasi atau gigi lepas dari soketnya.

 Respon Patologi

Infeksi bakteri lewat plak yang berakibat peradangan / inflamasi kemudian gigi goyang

Plak yang membentuk karang gigi mendesak ligamen periodontal hingga gigi mengalami
kegoyangan.

 Melemahnya Dukungan Periodontal

Kerusakan periodontium akibat inflamasi pada periodontitis menimbulkan ketidakseimbangan antara


gigi dengan tekanan oklusal dan tekanan otot-otot yang biasa dideritanya. Gigi yang telah lemah tidak
mampu untuk mempertahankan posisi normalnya pada lengkung gigi dan bergerak menghindari
tekanan, kecuali jika dipertahankan oleh kontak proksimal. Tekanan yang menggerakkan gigi yang
telah lemah dapat ditimbullkan oleh faktor-faktor seperti kontak oklusal atau tekanan dari lidah.

JAWABAN 3 :

a) Indikasi Pencabutan Gigi


Gigi mungkin perlu di cabut untuk berbagai alasan, misalnya karena sakit gigi itu sendiri,
sakit pada gigi yang mempengaruhi jaringan di sekitarnya, atau letak gigi yang salah. Di
bawah ini adalah beberapa contoh indikasi dari pencabutan gigi:
1) Karies yang parah
Alasan paling umum dan yang dapat diterima secara luas untuk pencabutan gigi
adalah karies yang tidak dapat dihilangkan. Sejauh ini gigi yang karies merupakan alasan
yang tepat bagi dokter gigi dan pasien untuk dilakukan tindakan pencabutan.
2) Nekrosis pulpa
Sebagai dasar pemikiran, yang ke-dua ini berkaitan erat dengan pencabutan gigi
adalah adanya nekrosis pulpa atau pulpa irreversibel yang tidak diindikasikan untuk
perawatan endodontik. Mungkin dikarenakan jumlah pasien yang menurun atau perawatan
endodontik saluran akar yang berliku-liku, kalsifikasi dan tidak dapat diobati dengan tekhnik
endodontik standar. Dengan kondisi ini, perawatan endodontik yang telah dilakukan ternyata
gagal untuk menghilangkan rasa sakit sehingga diindikasikan untuk pencabutan.
3) Penyakit periodontal yang parah.
Alasan umum untuk pencabutan gigi adalah adanya penyakit periodontal yang parah.
Jika periodontitis dewasa yang parah telah ada selama beberapa waktu, maka akan nampak
kehilangan tulang yang berlebihan dan mobilitas gigi yang irreversibel. Dalam situasi seperti
ini, gigi yang mengalami mobilitas yang tinggi harus dicabut.
4) Alasan orthodontik.
Pasien yang akan menjalani perawatan ortodonsi sering membutuhkan pencabutan
gigi untuk memberikan ruang untuk keselarasan gigi. Gigi yang paling sering diekstraksi
adalah premolar satu rahang atas dan bawah, tapi premolar ke-dua dan gigi insisivus juga
kadang-kadang memerlukan pencabutan dengan alasan yang sama.
5) Gigi yang mengalami malposisi
Gigi yang mengalami malposisi dapat diindikasikan untuk pencabutan dalam situasi
yang parah. Jika gigi mengalami trauma jaringan lunak dan tidak dapat ditangani oleh
perawatan ortodonsi, gigi tersebut harus diekstraksi. Contoh umum ini adalah molar ketiga
rahang atas yang keluar kearah bukal yang parah dan menyebabkan ulserasi dan trauma
jaringan lunak di pipi. Dalam situasi gigi yang mengalami malposisi ini dapat
dipertimbangkan untuk dilakukan pencabutan.
6) Gigi yang retak
Indikasi ini jelas untuk dilakukan pencabutan gigi karena gigi yang telah retak.
Pencabutan gigi yang retak bisa sangat sakit dan rumit dengan tekhnik yang lebih konservatif.
Bahkan prosedur restoratif endodontik dan kompleks tidak dapat mengurangi rasa sakit
akibat gigi yang retak tersebut.
7) Pra-prostetik ekstraksi
Kadang-kadang, gigi mengganggu desain dan penempatan yang tepat dari peralatan
prostetik seperti gigitiruan penuh, gigitiruan sebagian lepasan atau gigitiruan cekat. Ketika
hal ini terjadi, pencabutan sangat diperlukan.
8) Gigi impaksi
Gigi yang impaksi harus dipertimbangkan untuk dilakukan pencabutan. Jika terdapat
sebagian gigi yang impaksi maka oklusi fungsional tidak akan optimal karena ruang yang
tidak memadai, maka harus dilakukan bedah pengangkatan gigi impaksi tersebut. Namun,
jika dalam mengeluarkan gigi yang impaksi terdapat kontraindikasi seperti pada kasus
kompromi medis, impaksi tulang penuh pada pasien yang berusia diatas 35 tahun atau pada
pasien dengan usia lanjut, maka gigi impaksi tersebut dapat dibiarkan.
9) Supernumary gigi
Gigi yang mengalami supernumary biasanya merupakan gigi impaksi yang harus
dicabut. Gigi supernumary dapat mengganggu erupsi gigi dan memiliki potensi untuk
menyebabkan resorpsi gigi tersebut.
10) Gigi yang terkait dengan lesi patologis
Gigi yang terkait dengan lesi patologis mungkin memerlukan pencabutan. Dalam
beberapa situasi, gigi dapat dipertahankan dan terapi terapi endodontik dapat dilakukan.
Namun, jika mempertahankan gigi dengan operasi lengkap pengangkatan lesi, gigi tersebut
harus dicabut.
11) Terapi pra-radiasi
Pasien yang menerima terapi radiasi untuk berbagai tumor oral harus memiliki
pertimbangan yang serius terhadap gigi untuk dilakukan pencabutan.
12) Gigi yang mengalami fraktur rahang
Pasien yang mempertahankan fraktur mandibula atau proses alveolar kadang-kadang
harus merelakan giginya untuk dicabut. Dalam sebagian besar kondisi gigi yang terlibat
dalam garis fraktur dapat dipertahankan, tetapi jika gigi terluka maka pencabutan mungkin
diperlukan untuk mencegah infeksi.
13) Estetik
Terkadang pasien memerlukan pencabutan gigi untuk alasan estetik. Contoh kondisi
seperti ini adalah yang berwarna karena tetracycline atau fluorosis, atau mungkin malposisi
yang berlebihan sangat menonjol. Meskipun ada tekhnik lain seperti bonding yang dapat
meringankan masalah pewarnaan dan prosedur ortodonsi atau osteotomy dapat digunakan
untuk memperbaiki tonjolan yang parah, namun pasien lebih memilih untuk rekonstruksi
ekstraksi dan prostetik.
14) Ekonomis
Indikasi terakhir untuk pencabutan gigi adalah faktor ekonomi. Semua indikasi untuk
ekstraksi yang telah disebutkan diatas dapat menjadi kuat jika pasien tidak mau atau tidak
mampu secara finansial untuk mendukung keputusan dalam mempertahankan gigi tersebut.
Ketidakmampuan pasien untuk membayar prosedur tersebut memungkinkan untuk dilakukan
pencabutan gigi

b) Kontraindikasi Pencabutan Gigi

Kontaindikasi sistemik
1) Diabetes Melitus

Penyakit apadabila tidak terkontrol sangat mempengaruhi penyembuhan luka. Akibat yang
ditimbulkan bila pencabutan gigi dilakukan pada saat kadar gula darah tinggi antara lain :

 Terjadinya infeksi pasca pencabutan pada daerah bekas pencabutan.


 Terjadinya sepsis atau peningkatan jumlah bakteri dalam darah.
 Terjadinya perdarahan yang terus menerus akibat infeksi pasca pencabutan.Oleh karena
alasan tersebut di atas,maka biasanya dokter gigi menunda pencabutan gigi pada penderita
diabetes melitus yang tidak terkontrol.

Gejala dan tanda tanda kinik dirongga mulut :

Ø Gusi agak membengkak, sakit, merah gelap dan biasanya agak lepas dari gigi

Ø Insiden karies naik pada DM yang tidk terkontrol

Ø Jumlah saliva menurun(xerostomia) mulut kering

Ø Mulut bau aseton

Perawatan gigi penderita:

Ø Perawatan gigi harus dilakukan 3-4 bulan sekali (semua fokal infeksi harus dibersihkan)

Ø Pembersihan karang gigi(skaling) dengan segera

Ø Penyuluhan pada penderita cara sikat gigi yang baik

Ø Pemberian vitamin B komplek dan vitamin C dosis tinggi serta antibiotik akan mempercepat
penyembuhan

2) Kelainan Jantung

Pada penyakit kardiovaskuler, denyut nadi pasien meningkat, tekanan darah pasien naik menyebabkan
bekuan darah yang sudah terbentuk terdorong sehingga terjadi perdarahan. Pasien dengan penyakit
jantung termasuk kontra indikasi eksodonsi. Kontra indikasi eksodonsi di sini bukan berarti kita tidak
boleh melakukan tindakan eksodonsi pada pasien ini, namun dalam penangannannya perlu konsultasi
pada para ahli, dalam hal ini dokter spesialis jantung. Dengan berkonsultasi, kita bisa mendapatkan
rekomendasi atau izin dari dokter spesialis mengenai waktu yang tepat bagi pasien untuk menerima
tindakan eksodonsi tanpa terjadi komplikasi yang membahayakan bagi jiwa pasien serta tindakan
pendamping yang diperlukan sebelum atau sesudah dilakukan eksodonsi, misalnya saja penderita
jantung rema harus diberi penicillin sebelum dan sesudah eksodonsi dilakukan.
Gejala dan tanda tanda kinik dirongga mulut penderita Penyakit jantung:

· Oral hygiene buruk

· Menumpuknya bakteri Streptococcus viridan. Masuknya bakteri dari rongga mulut ke dalam
aliran darah memudahkan kuman mencapai bagian abnormal di rongga jantung dan menyebabkan
infeksi.

3) Kelainan darah.

Setelah tindakan ekstraksi gigi yang menimbulkan trauma pada pembuluh darah, hemostasis primer
yang terjadi adalah pembentukan platelet plug (gumpalan darah) yang meliputi luka, disebabkan
karena adanya interaksi antara trombosit, faktor-faktor koagulasi dan dinding pembuluh darah. Selain
itu juga ada vasokonstriksi pembuluh darah. Luka ekstraksi juga memicu clotting cascade dengan
aktivasi thromboplastin, konversi dari prothrombin menjadi thrombin, dan akhirnya membentuk
deposisi fibrin. Agar tidak terjadi komplikasi pasca eksodonsia perlu ditanyakan adakah kelainan
perdarahan seperti waktu perdarahan dan waktu penjendalan darah yg tdk normal pada penderita.

a) Purpura hemoragi

Pada pasien dengan keadaan scurvy lanjut maka perdarahan ke dan dari dalam gusi merupakan
keadaan yang biasa terjadi. Hal ini disebabkan karena fragilitas kapiler (daya tahan kapiler abnormal
terhadap rupture) pada pasien tersebut dalam keadaan kurang, sehingga menuju kearah keadaan
mudah terjadi pendarahan petechie dan ecchimosis.

Perlu ditanyakan kepada pasien tentang riwayat perdarahan pasca eksodonsia, atau
pengalaman pendarahan lain. Selanjutnya diteruskan pada pemerikasaan darah yaitu waktu
pendarahan dan waktu penjedalan darah, juga konsentrasi protrombin.

b) Leukemia

Pada leukemia terjadi perubahan proliferasi dan perkembangan leukosit dan prekursornya dalam
darah dan sumsum tulang. Sehingga mudah infeksi dan terjadi perdarahan.

Leukemia Limfatika Tanda-tanda :

• badan makin lelah dan lemah ,pucat, jantung berdesir, tekanan darah rendah,tanda-tanda anemia

• limfonodi membesr diseluruh tubuh

• gusi berdarah
• petechyae

• perdarahan pasca eksodonsia

• batuk-batuk

• pruritus

• pemeriksaan darah menunjukkan ada anemia tipe sekunder

Leukemia Mielogenous

• Kekebalan tubuh penderita berkurang

• Berat badan berkurang

• Tabda tanda anemia

• pembesaran limfa

• perut terasa kembung & mual

• demam

• gangguan gastro intestinal

• gatal gatal pada kulit

• perdarahan pada berbagai bagian tubuh

• gangguan penglihatan / perdarahan karena infiltrais leukemik

• perbesaran lien

• perdarahan petechyae

• perdrahan gusi

• rasa berat di daerah sternum

c) Anemia

Ciri-ciri anemia yaitu rendahnya jumlah hemoglobin dalam darah sehingga kemampuan darah
untuk mengangkut oksigen menjadi berkurang. Selain itu, penderita anemia memiliki kecenderungan
adanya kerusakan mekanisme pertahanan seluler.
d) Hemofilia

Setelah tindakan ekstraksi gigi yang menimbulkan trauma pada pembuluh darah, hemostasis
primer yang terjadi adalah pembentukan platelet plug (gumpalan darah) yang meliputi luka,
disebabkan karena adanya interaksi antara trombosit, faktor-faktor koagulasi dan dinding pembuluh
darah. Selain itu juga ada vasokonstriksi pembuluh darah. Luka ekstraksi juga memicu clotting
cascade dengan aktivasi thromboplastin, konversi dari prothrombin menjadi thrombin, dan akhirnya
membentuk deposisi fibrin.

Pada pasien hemofilli A (hemofilli klasik) ditemukan defisiensi factor VIII. Pada hemofilli B
(penyakit Christmas) terdapat defisiensi faktor IX. Sedangkan pada von Willebrand’s disease terjadi
kegagalan pembentukan platelet, tetapi penyakit ini jarang ditemukan.

Agar tidak terjadi komplikasi pasca eksodonsia perlu ditanyakan adakah kelainan perdarahan seperti
waktu perdarahan dan waktu penjendalan darah yg tdk normal pada penderita

4) Hipertensi

Kecemasan yang biasa dialami pasien saat akan menerima perawatan gigi dapat mempengaruhi
tekanan darah. Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik antara dokter gigi dan pasien,
diharapkan pasien menjadi tenang dan nyaman. Selain itu, prosedur perawatan yang memakan waktu
mungkin dapat dibagi menjadi beberapa sesi, supaya pasien tidak duduk terbaring terlalu lama di
dental chair.

Pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol beresiko untuk mengalami perdarahan paska
pencabutan gigi. Hal ini berkaitan dengan obat bius yang digunakan umumnya mengandung
vasokonstriktor (agar efek obat bius bertahan lama) yang berefek menyempitkan pembuluh darah,
sehingga tekanan darah semakin meningkat. Hal ini dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah
kecil dan terjadi perdarahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebelum
tindakan pencabutan dilakukan. Jika tekanan darah pasien tinggi, pencabutan gigi sebaiknya ditunda
dan pasien dirujuk ke ahli penyakit dalam terlebih dulu untuk mengontrol tekanan darah.

5) Toxic Goiter

Ciri-ciri pasien tersebut adalah tremor, emosi tidak stabil, tachycardia dan palpitasi ,
keringat keluar berlebihan, glandula tiroidea membesar secara difus (kadang tidak ada), exophthalmos
(bola mata melotot), berat badan susut, rata-rata basal metabolic naik, kenaikan pada tekanan pulsus,
gangguan menstruasi (pada wanita), nafsu makan berlebih.

Tindakan bedah mulut, termasuk mencabut gigi, dapat mengakibatkan krisis tiroid, tanda-
tandanya yaitu setengah sadar, sangat gelisah ,tidak terkontrol meskipun telah diberi obat penenang.
Pada penderita toxic goiter jangan dilakukan tindakan bedah mulut, termasuk tindakan
eksodonsi, karena dapat menyababkan krisis tiroid dan kegagalan jantung.

Pasien dengan penyakit syphilis, karena pada saat itu daya tahan terutama tubuh sangat rendah
sehingga mudah terjadi infeksi dan penyembuhan akan memakan waktu yang lama.

6) Alergi pada anastesi local

Kontraindikasi eksodonsi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu infeksi akut jaringan di
sekitar gigi.

a. Infeksi gingival akut

Infeksi gingival akut biasa juga disebut dengan acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG) atau
fusospirochetal gingivitis. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri fusospirochaetal atau
streptococcus.

Ciri-ciri penderita infeksi gingival akut adalah :

· memiliki OH yg jelek

· perdarahan pada gusi

· radang pada gusi

· nafas tidak sedap (adanya akumulasi plak)

b. Infeksi perikoronal akut

Merupakan infeksi yang terjadi pada jaringan lunak di sekitar mahkota gigi molar yang terpendam
(gigi impaksi). Perikoronitis dapat terjadi ketika gigi molar 3 bererupsi sebagian (hanya muncul
sedikit pada permukaan gusi). Keadaan ini menyebabkan bakteri dapat masuk ke sekitar gigi dan
menyebabkan infeksi. Pada perikoronitis, makanan / plak dapat tersangkut di bawah flap gusi di
sekitar gigi sehingga dapat mengiritasi gusi, pembengkakan dan infeksi dapat meluas di sekitar pipi,
leher, dan rahang. Selain itu, faktor-faktor yang juga menyebabkan infeksi adalah trauma dari gigi di
sebelahnya, merokok dan infeksi saluran pernapasan bagian atas.

7. Radiasi

Rahang yang baru saja telah diradiasi, pada keadaan ini suplai darah menurun sehingga rasa sakit
hebat dan bisa fatal.Alasan melarang eksodonsi dengan keadaan seperti tersebut diatas adalah bahwa
infeksi akut yang berada di sekitar gigi, akan menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan
terjadi keadaan septikemia. Septikemia adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan oleh infeksi
dengan tanda-tanda respon sistemik, septikimia juga biasa diartikan dengan infeksi berat pada darah.
Infeksi dalam rongga mulut bila tidak ditangani secara adekuat dapat menjadi suatu induksi untuk
terjadinya sepsis. Bila pasien telah mengalami sepsis dan tidak segera ditangani maka keadaan sepsis
ini akan berlanjut menjadi syok septic dan dapat mengakibatkan kematian pasien.

Alasan melarang eksodonsi dengan keadaan seperti tersebut diatas adalah bahwa infeksi akut yang
berada di sekitar gigi, akan menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan terjadi keadaan
septikemia. Septikemia adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan oleh infeksi dengan tanda-tanda
respon sistemik, septikimia juga biasa diartikan dengan infeksi berat pada darah. Infeksi dalam rongga
mulut bila tidak ditangani secara adekuat dapat menjadi suatu induksi untuk terjadinya sepsis. Bila
pasien telah mengalami sepsis dan tidak segera ditangani maka keadaan sepsis ini akan berlanjut
menjadi syok septic dan dapat mengakibatkan kematian pasien.

Tanda-tanda respon sistemik sepsis :

a. Takhipne (respirasi > 20 kali/menit

b. Takhikardi (denyut nadi > 90 kali/menit)

c. Hipertermi (suhu badan rektal > 38,3)

Sedangkan syok septik adalah suatu sindroma klinik yang disebabkan oleh tidak cukupnya perfusi
jaringan dan adanya hipoksia jaringan yang disebabkan oleh sepsis. Keadaan diatas kadangkala
disebut juga Sindroma Respon Inflamasi Sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome =
SIRS) yaitu suatu respon inflamasi sistemik yang bervariasi bentuk kliniknya, ditunjukkan oleh dua
atau lebih keadaan sebagai berikut :

a. Temperatur > 38

b. Denyut jantung > 90 kali /menit

c. Respirasi > 20 kali/menit

d. Jumlah leukosit > 12.000/mm3 atau <>3

8. Kehamilan.

pada trimester ke-dua karena obat-obatan pada saat itu mempunyai efek rendah terhadap janin.
Penderita yang hamil (gravid)

Gejala klinis :
a. Gingivitis kehamilan (pregnancy gingivitis).

· Biasan ya terjadi pada ibu hamil setelah 3 bulan kehamilan dikarenakan perubahan hormon
estrogen dan progesteron yang pengaruhnya lebih besar terhadap inflamasi/peradangan

· Tidak sakit, Warna merah, mudah berdarah.

· Penonjolan ginggiva di interproximal

· Derajat keradangan dari ringan hingga berat

· Oral hygiene buruk

· Hilang dengan sendirinya setelah melahirkan

b. Tumor kehamilan (pregnancy tumor / epulis gravidarum / granuloma kehamilan)

· Biasanya berkembang di sekitar daerah papilla interdental dan pada daerah-daerah yang
terdapat iritasi lokal, seperti tepi restorasi yang tidak baik, tepi dari gigi yang mengalami karies atau
pada paket periodontal

· Warna gingiva merah keunguan sampai merah kebiruan

· Lesi ini lebih sering terjadi pada rahang atas terutama disisi vestibtuar pada daerah anterior dan
dapat membesar sampai menutupi mahkota gigi.

· Tumor kehamilan mudah berdarah terutama apabila terkena injuri

· Psychosis dan neurosis pasien yang mempunyai mental yang tidak stabil karena dapat
berpengaruh pada saat dilakukan ekstraksi gigi

· Terapi dengan antikoagulan.

9. Jaundice

Tanda-tandanya adalah ( Archer, 1961 ) ialah kulit berwarna kekuning-kuningan disebut


bronzed skin, conjuntiva berwarna kekuning-kuningan, membrana mukosa berwarna kuning, juga
terlihat pada cairan tubuh ( bila pigmen yang menyebabakan warna menjadi kuning ).

Tindakan eksodonsi pada penderita ini dapat menyebabkan “prolonged hemorrahage” yaitu
perdarahan yang terjadi berlangsung lama sehingga bila penderita akan menerima pencabutan gigi
sebaiknya dikirimkan dulu kepada dokter ahli yang merawatnya atau sebelum eksodonsi lakukan
premediksi dahulu dengan vitamin K.
10. AIDS

Lesi oral sering muncul sebagai tanda awal infeksi HIV. Tanpa pemeriksaan secara hati-hati, sering
lesi oral tersebut tidak terpikirkan, karena lesi oral sering tidak terasa nyeri. Macam-macam
manifestasi infeksi HIV pada oral dapat berupa infeksi jamur, infeksi bakteri, infeksi virus dan
neoplasma.

Pada penderita AIDS terjadi penghancuran limfosit sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi
berkurang. Pada tindakan eksodonsi dimana tindakan tersebut melakukan perlukaan pada jaringan
mulut, maka akan lebih mudah mengalami infeksi yang lebih parah. Bila pasien sudah terinfeksi dan
memerlukan premedikasi, maka upayakan untuk mendapatkan perawatan medis dulu. Tetapi bila
belum terinfeksi bisa langsung cabut gigi.

Dengan demikian, apabila dokter gigi sudah menemui gejala penyakit mematikan ini pada pasiennya,
maka dokter bisa langsung memperoteksi diri sesuai standar universal precautaion (waspada
unievrsal). Perlindungan ini bisa memakai sarung tangan, masker, kacamata, penutup wajah, bahkan
juga sepatu. Karena hingga kini belum ditemukan vaksin HIV

11. Sifilis

Sifilis adalah penyakit infeksi yang diakibatkan Treponema pallidum. Pada penderita sifilis,
daya tahan tubuhnya rendah, sehingga mudah terjadi infeksi sehingga penyembuhan luka
terhambat.Luka padakemaluantanpa rasa nyeri,bintil/bercakmerahditubuh,menyerangsemua organ
tubuhsepertikelainansaraf,jantung,kulit,bagianroggamulut.

Tanda-Tanda Klinis :

Stadium I : ada ulkus durum pada selaput lendir dan sedikit sakit

Staduim II : ada mucous patch ( peradangan yang paling menular) berwarna putih kelabu
dikelilingibatas merah pada mukosa mulut

Stadium III : ada gumma yaitu suatu kelainan yang khas bisa intra oral dan ekstra oral. Intra oral
terutama terdapat dipalatum dan dapat menyebabkan perporasi palatum

12. Gagal ginjal

GagalGinjal (renal failure) merupakanistilah non-spesifik yang


menggambarkanpenurunanfungsiginjal.
hap proses penyaringanginjaldiblokirbaikkarenakerusakanginjallangsung (misalnyakarena diabetes)
atauolehpenyumbatantidaklangsung (sepertiolehbatuginjal), makaitudapatmenyebabkangagalginjal.

CiriCiriGagalGinjalAwal – Akut – Kronis

Ø Perubahan warna dan pola air kencing

Ø Tubuh sangat lelah

Ø Tubuh bengkak

Ø Bau mulut

Ø Gatal dan muncul ruam kulit

Ø Kram otot

Ø Nafsu makan turun

Ø Sekitar mata bengkak

Ø Gangguan pencernaan (mual dan muntah)

Ø Meriang

Ø Sulit bernafas

Ø Punggung atas sakit

Ø sakit kepala berat

Ø sulit konsentrasi

Ø Sulit tidur

Ø Busa dalam urin