Anda di halaman 1dari 9

MINI RISET

BERSIH DUSUN SEBAGAI UPAYA


PELESTARIAN BUDAYA LOKAL

Dosen Pengampu : Hudan Mudaris, M.S.I.

Disusun oleh :

Diki Octavianto

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM YOGYAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan tugas makalah mini riset ini tanpa ada
hambatan apapun.

Walaupun masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, namun kami
berharap agar makalah ini dapat dipergunakan dan dimanfaatkan dengan baik oleh
semua kalangan.

Dalam menyelesaikan makalah ini banyak pihak yang terlibat dan membantu sehingga
dapat menjadi satu makalah yang dapat dibaca dan dimanfaatkan.

Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Akhir kata semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dari kami, ada kurang dan lebihnya kami
mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Ponjong, 1 Desember 2018

Penyusun
PENDAHULUAN

Budaya adalah bagian dari sebuah masyararakat. Masyarakat yang tinggal di


daerah tertentu pasti mempunyai budaya atau tradisi yang di yakini dan dipegang teguh.
Budaya dan tradisi itu biasanya dipercaya turun temurun oleh suatu masyarakat yang
tinggal di dalamnya. Tradisi diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya dengan
harapan anak-anaknya mewarisi atau melakukan tradisi yang sama. Sama halnya
dengan upacara bersih desa atau yang dikenal dengan istilah Rasulan. Bersih desa atau
rasulan ini adalah sebuah upacara atau rangkaian proses sebagai perwujudan syukur
atas hasil panen yang melimpah. Upacara ini juga tidak jelas apa latar belakang dan
darimana datangnya namun sampai saat ini masih di lakukan oleh warga di beberapa
daerah seperti di Kabupaten Gunungkidul.

Upacara ini terus dilakukan satu tahun sekali agar hasil panen tahun depan terus
meningkat dan para warganya terhindar dari malapetaka. Dengan upacara ini kita
menemukan nilai-nilai masyarakat yang tak dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari,
upacara senantiasa mengingatkan manusia tentang eksistensi mereka dan hubungan
mereka dengan lingkungan, hubungan masyarakat dengan masyarakat, karena melalui
upacara ini warga masyarakat dibiasakan untuk menggunakan simbol-simbol yang
bersifat abstrak yang berada pada tingkat pemikiran di berbagai kegiatan sosial.
(Soetarno, 2002)

Di dalamnya selain terdapat ucapan syukur tetapi juga terdapat interksi sosial
antarra warga desa dengan yang lainnya, interaksi antara manusia dengan Tuhannya
dan juga ada interaksi manusia dengan dunia lain yang hidup berdampingan dengan
manusia seperti roh dan para arwah leluhur. Bersih desa ini memiliki makna yang luas
bagi masyarakat yang mempercayai dan yang mempunyai tradisi ini.
PEMBAHASAN
Acara Rasulan di Dusun Sunggingan, Desa Umbulrejo, Kecamatan Ponjong

1. Hal yang mendasari diadakannya Rasulan atau bersih dusun

Acara Bersih Dusun atau Rasulan telah menjadi tradisi yang mengakar kuat dalam
kehidupan masyarakat Gunungkidul. Hampir semua wilayah di Gunungkidul
menggelar rasulan sesuai hari yang telah ditetapkan oleh masing-masing dusun. Seperti
halnya Dusun Sunggingan, Desa Umbulrejo, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul. Setiap
bulan dzulhijjah hari Kamis legi dalam penanggalan Jawa warga Dusun Sunggingan
mengadakan upacara bersih dusun atau rasulan. Bersih dusun digelar sebagai ungkapan
rasa syukur warga atas limpahan rejeki yang telah diterima warga dalam waktu satu
tahun.

Ritual rasulan, yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Sunggingan ini


memiliki dua aspek penting yang perlu mendapatkan apresiasi. Aspek pertama adalah
rasa syukur masyarakat Dusun sunggingan atas berbagai nikmat yang telah diberikan
oleh Allah Swt. Mereka mengadakan tasyakuran guna menunjukkan rasa terima
kasihnya kepada Allah Swt, dan berdoa agar di hari kemudian semakin bertambah
nikmat yang diberikan-Nya.

Apa yang menjadi kebiasaan dan tujuan masyarakat Sunggingan ini, secara jelas
bersesuaian dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7 :

َ َ‫عذَا ِبيْْل‬
ْ‫شدِيد‬ َّْ ‫لَ ِزيدَنَّـ ُكمْْ َولَئِنْْ َكفَرتُمْْا‬
َ ْ‫ِن‬ َ ْْ‫َواِذْْتَاَذَّنَْْ َربُّ ُكمْْلَئِن‬
ْ َ ْْْ‫ش َكرتُم‬
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."

(QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Dengan demikian, wujud bersyukur dalam tradisi rasulan haruslah bersesuaian dengan
nilai-nilai agama, jangan sampai justru bertentangan dengan syariat agama.

Masih dalam kaca mata agama, rasulan menunjukkan sikap kebersamaan. Dengan
mengadakan rasulan, warga bergotong royong menyiapkan beragam kebutuhan acara.
Mereka tidak mendapatkan gaji dari kerjanya. Malahan, selain bekerja dengan
keikhlasannya, mereka juga membayar iuran untuk pelaksanaan acara-acara yang ada.
Legitimasi persaudaran Islam supaya tidak sampai terpecah-belah, sangat jelas dalam
Al-Qur’an surat Al Hujurat ayat 49 yang artinya
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat rahmat."
(QS al-Hujurat: 49).

Dengan landasan tersebut, acara kegiatan rasulan sebagai bentuk rasa syukur haruslah
menunjukkan nilai-nilai keluhuran agama, mengisinya dengan akivitas yang berguna,
dan momentum untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Aspek kedua adalah melestarikan budaya luhur yang ada. Masyarakat Sunggingan
dalam mengadakan rasulan dilengkapi dengan pelestarian budaya daerah yang ada.
Selain mengadakan pengajian juga mengadakan olahraga seperti tournamen bola voli
antar RT, senam masalah dan olahraga lainnya. Terlebih dari itu, dalam rasulan Dusun
Sunggingan juga diadakan kesenian-kesenian semisal jathilan, campur sari dan lain
sebagainya. Semua diadakan guna me-refresh warga setempat dari penatnya
memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari, dan juga difungsikan sebagai media
pelestarian budaya setempat agar tidak punah.

2. Nilai-nilai yang dapat di ambil dari rasulan Dusun Sunggingan

Menurut Mbah Harto selaku sesepuh di Dusun Sunggingan di dalam rasulan atau
bersih Dusun banyak terkandung nilai-nilai kehidupan, antara lain sebagai berikut :

a) Nilai Kebersamaan/Sosial
Yaitu masyarakat secara bersama-sama bekerja bakti membersihkan balai
dusun tempat diadakannya Rasulan dan membuat umbul-umbul sehingga
kebersamaan antar mereka tetap terjalin dengan baik.
b) Nilai Religi
Yaitu hubungan manusia dengan Tuhan dapat terjalin dengan baik jika
mereka menjalankan agama dan tradisi upacara Rasulan atau bersih dusun
setiap tahunnya.
c) Nilai Keamanan
Yaitu masyarakat bisa terbebas dari penyakit dan seluruh dusun akan
merasa aman
d) Nilai Ekonomi
Yaitu dengan tetap melaksanakan upacara masyarakat akan lebih mudah
dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, serta hasil panen akan meningkat di
tahun depan.
3. Hal-hal Yang Perlu di Siapkan Sebelum Melakukan Acara Inti (kenduri)

Sebelum dilaksanakannya acara inti para warga sibuk menyiapkan berbagai


keperluan yang di gunakan sebagai perlengkapan kenduri. Perlengkapan tersebut antara
lain :

a. Nasi Ambeng

Gambar 1. Nasi ambeng Rasulan Dusun Sunggingan

Nasi Ambeng pada acara bersih Dusun Sunggingan ini adalah nasi yang di masak
menggunakan kukusan dan memasaknyapun harus menggunakan kayu bakar, tidak
boleh menggunakan kompor ataupun magic com.

b. Ayam Panggang

Gambar 2. Proses memasak ayam panggang


Ayam yang di gunakan dalam acara bersih Dusun Sunggingan ini menggunakan ayam
kampung jantan yang benar-benar sehat. Sebelum di panggang ayam ini di ungkep
dengan di baluri bumbu-bumbu rahasia ala Dusun Sunggingan, baru kemudian ayam di
panggang sampai matang

3. Pelaksanaan Acara Inti Dari Rasulan di Dusun Sunggingan (Kenduri)

Acara inti dari bersih dusun Sunggingan yaitu kenduri bersama. Dalam kenduri
bersama ini seluruh warga dusun Sunggingan yang terdiri dari 309 KK semuanya
menyiapkan ambengan dari rumah masing-masing warga. Nasi ambeng terdiri dari nasi
dan ayam panggang. Uborampe ambengan kemudian dimasukkan ke dalam tenggok
lalu dibawa ke Balai Dusun Sunggingan untuk didoakan bersama dalam acara kenduri.
Nasi yang dibawa warga itu dikumpulkan menjadi satu dan dipisah-pisah sesuai
jenisnya. Untuk nasi dikumpulkan tersendiri demikian juga untuk lauk pauk juga
dikumpulkan tersendiri.

Kenduri dipimpin oleh sesepuh Dusun Sunggingan, yaitu Mbah Harto. Dalam
kenduri itu warga mengucapkan rasa syukur atas rejeki yang telah diterima baik berupa
hasil pertanian, perdagangan maupun hasil profesi lainnya. Di samping itu, warga juga
memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh warga Dusun
Sunggingan diberikan perlindungan dan dijauhkan dari segala mara bahaya. Tak lupa
pula warga memohon kepada Tuhan agar diberikan kehidupan yang makmur sejahtera.

Setelah selesai membaca doa kenduri selanjutnya nasi ambeng yang dibawa warga
tersebut di ambil separuh untuk di kumpulkan menjadi satu berikut juga dengan lauknya,
kemudian setelah terkumpul dibagikan kepada seluruh warga yang hadir. Pembagian
nasi ambeng ini sebagai bentuk sodakoh warga. Masing-masing orang yang datang ke
acara bersih dusun mendapatkan bagian nasi lengkap dengan lauknya. Dalam acara
kenduri itu terlihat wujud kebersamaan warga. Inilah salah satu manfaat dari digelarnya
acara bersih dusun atau rasulan. “Dengan adanya hal-hal seperti ini menambah
kerekatan antar penduduk di Sunggingan sendiri,” kata mantan Dukuh Sunggingan,
Sunar.
KESIMPULAN
Bersih desa merupakan salah satu tradisi warisan leluhur yang masih terus
dilakukan sampai saat ini. Upacara bersih desa ini merupakan perwujudan terimakasih
atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dengan diberikan panen yang melimpah
pada warga desa setempat. Bersih desa juga digunakan sebagai sarana interaksi sosial
antar warga desa. Ini juga dapat menumbuhkan sikap kebersamaan dan gotong royong
yang ditunjukkan pada saat kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan. Entah
sampai kapan tradisi ini akan tetap dilaksanakan mengingat kondisi masyarakat
sekarang ini yang mulai melupakan tradisi-tradisi warisan leluhur.

PENUTUP
Demikian mini riset yang dapat saya sampaikan. Mini riset inipun tak luput dari
kesalahan dan kekurangan maupun target yang ingin dicapai. Kritik dan saran yang
membangun sangat saya harapkan. Akhir kata semoga mini riset ini dapat bermanfaat
bagi kita semua. Sekian dari saya, ada kurang dan lebihnya saya mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Bacaan
 Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka
Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Depdikbud.
 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bersih_Desa. Diakses pada 29 Nov 2018
 http://litungpedia.blogspot.com/2016/01/artikel-tradisi-
rasulan.html?m=1. Di unduh pada 29 Nov 2018
 Jogjatrip. (2015). RasulanGunungkidul. [Online]. Tersedia : http: //
jogjatrip. Diakses pada tanggal 02 Des. 2018
2. Wawancara
 Harto (60) sesepuh Dusun Sunggingan pada 29 November 2018
 Sunar (56) mantan Kepala Dusun Sunggingan pada 29 November 2018