Anda di halaman 1dari 13

USULAN

PROGRAM KEMITRAAN MASYARAKAT

PEMBERDAYAAN DESA SOKKOLIA MENUJU DESA SEHAT 5.0

TIM PENGUSUL

Ketua
dr. DITO ANUROGO, M.Sc. (NIDN: 0923078303)

Anggota
1. dr. ANDI WERI SOMPA, Sp.S, M.Kes. (NIDN: 0921068004)
2. AGUSDIWANA SUARNI, S.E., M.Acc. (NIDN: 0904088601)
3. Prof. Dr. H. ABDUL RAHMAN RAHIM, S.E., M.M. (NIDN: 0925086302)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR


2019
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..............................................................................................i
DAFTAR ISI ..........................................................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................iii
IDENTITAS ...........................................................................................................iv
RINGKASAN .........................................................................................................v
PENDAHULUAN...................................................................................................1
SOLUSI PERMASALAHAN ................................................................................3
METODE PELAKSANAAN .................................................................................3
LUARAN DAN TARGET CAPAIAN ..................................................................4
ANGGARAN BIAYA ...........................................................................................5
JADWAL ...............................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................7
LAMPIRAN ...........................................................................................................8
Lampiran 1. GAMBARAN IPTEK .......................................................................8
Lampiran 2. PETA LOKASI MITRA SASARAN ................................................8
Lampiran 3. DAFTAR RIWAYAT HIDUP (CV) .................................................9
Lampiran 4. SURAT PERNYATAAN KETUA PELAKSANA ..........................37
Lampiran 5. SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN BEKERJASAMA DARI MITRA PKM .................... 38

Lampiran 6. DESKRIPSI TUGAS ........................................................................39


HALAMAN PENGESAHAN
HIBAH INTERNAL PROGRAM KEMITRAAN MASYARAKAT (PKM)

Judul PKM : PEMBERDAYAAN DESA SOKKOLIA MENUJU DESA SEHAT 5.0

Ketua PKM
a. Nama Lengkap : dr.Dito Anurogo, M.Sc.
b. NIDN : 0923078303
c. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
d. Program Studi : Kedokteran Umum / Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
e. Bidang Keahlian : Kedokteran, Kesehatan, Biomedis, Literasi Digital
f. Nomor HP : 081224422693
g. Alamat Email : dito.anurogo@med.unismuh.ic.id

Anggota Tim Pengusul


a. Jumlah Anggota : 3 Orang
b. Mahasiswa yang terlibat : 6 Orang
c. Nama Lengkap : 1. dr. ANDI WERI SOMPA, Sp.S, M.Kes
2. AGUSDIWANA SUARNI, S.E., M.Acc.
3. Prof. Dr. H. ABDUL RAHMAN RAHIM, S.E., M.M.
d. NIDN : 1. 0921068004 2. 0904088601 3. 0925086302
e. Jabatan Fungsional : 1. Asisten Ahli 2. Asisten Ahli 3. Guru Besar
f. Program Studi : 1. Kedokteran Umum 2. Ekonomi Islam 3. Manajemen
g. Nomor HP : 1. 081355355450 2. 081341568133 3. 081241495210
h. Alamat Email : 1. andiwerisompa@med.unismuh.ac.id 2. agusdiwana.suarni@unismuh.ac.id
3. abdul.rahman201152@yahoo.co.id
Lokasi Kegiatan/Mitra
a. Wilayah Mitra : Desa Sokkolia
b. Kabupaten/Kota : Kabupaten Gowa
c. Provinsi : Sulawesi Selatan

Makassar, 5 Juli 2019


Mengetahui,
Dekan Ketua PKM

dr. Mahmud Ghaznawie, Ph.D. SpPA(K) dr. Dito Anurogo, M.Sc.


NIP: 1951 1029 198103 1004 NIP/NIK. 63.17.0859

Menyetujui,
Ketua LP3M Universitas Muhammadiyah Makassar

Dr. Ir. Abubakar Idhan, M.P.


NIP 1958 0602 199203 1001
IDENTITAS
a. Identitas Ketua Pengusul
1. Nama pelaksana : dr. Dito Anurogo, M.Sc.
2. NIDN : 0923078303
3. Pangkat dan Jabatan : Asisten Ahli dan Staf Pengajar
4. a. ID Google Scholar : VJzrQV8AAAAJ
b. Personal webpage : https://hellosehat.com/expert/dito-anurogo/
5. ID Sinta : 6198330
6. No HP : 081224422693
6. Isian anggota pengusul
Keterangan dr. ANDI WERI SOMPA, AGUSDIWANA Prof. Dr. H. ABDUL RAHMAN
Sp.S, M.Kes. SUARNI, S.E., M.Acc. RAHIM, S.E., M.M.
NIDN 0921068004 0904088601 0925086302
Jabatan Fungsional Asisten Ahli Asisten Ahli Guru Besar
ID Google Scholar - ssDhnwUAAAAJ QGnMKbcAAAAJ
ID Sinta 6666617 6654680 6028265
No HP 081355355450 081341568133 081241495210

b. Identitas usulan
1. Judul PKM: PEMBERDAYAAN DESA SOKKOLIA MENUJU ESA SEHAT 5.0
2. Skema PKM: PROGRAM KEMITRAAN MASYARAKAT (PKM)
3. Tahun usulan dan lama PKM: 2019, periode satu tahun
4. Biaya yang diusulkan di tahun berjalan: Rp20.000.000
5. Total biaya pengabdian kepada masyarakat: Rp20.000.000
6. Target capaian luaran PKM: publikasi berupa jurnal nasional terakreditasi, artikel di media
massa cetak/online, video kegiatan, buku ber-ISBN, dsb.

c. Lembaga Pengusul
1. Nama unit lembaga pengusul: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unismuh Makassar
2. Sebutan jabatan unit: Staf pengajar, dosen tetap
3. Nama Pimpinan: dr. Mahmud Ghaznawie.,Ph.D. SpPA(K)
4. NIP pimpinan: 1951 1029 198103 1004
RINGKASAN
Desa Sokkolia memiliki luas wilayah 952,6 km 2. Desa yang terletak di Kecamatan Bontomarannu
Kabupaten Gowa ini mempunyai jumlah penduduk mencapai 3526 jiwa. Upaya strategis pengembangan
potensi desa Sokkolia dilakukan melalui pendekatan struktural dan subjektif. Strategi pendekatan
struktural berupa: pengembangan jaringan pendukung, sistem pengawasan berbasis masyarakat, dan
kapasitas kelembagaan. Peningkatan dan pengembangan aksebilitas masyarakat terhadap sumber daya
alam, sumber daya ekonomi, informasi, proses pengambilan keputusan. Strategi pendekatan subjektif
berupa: upaya ekonomi hijau, pengembangan kualitas dan potensi diri, pengembangan atau
pemberdayaan kapasitas pemuda dan warga, peningkatan ilmu pengetahuan, pengalaman, serta wawasan
kebangsaan dan pelestarian alam lingkungan, peningkatan partisipasi masyarakat di dalam program
pembangunan desa, penggalian dan pengembangan multikecerdasan, keterampilan dan soft-skills, nilai-
nilai budaya, adat, tradisional, dan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Desa Sokkolia.
Desa sebagai pondasi dasar kemajuan bangsa perlu dikembangkan potensinya. Salah satu elemen
fundamental di dalam pemberdayaan desa adalah melalui literasi digital. Literasi digital adalah alat utama
di dalam mengatasi pelbagai problematika sosial sekaligus sarana seseorang agar interaktif dengan
lingkungan kehidupannya. Literasi digital juga memberdayakan warga sehingga mampu memilih,
memilah, mengakses, menyaring, mengolah, memahami informasi sebagai sarana peningkatan kualitas
kehidupan di berbagai bidang, seperti: ekonomi, kesehatan, pendidikan, dsb.
Berdasarkan observasi, interview, dan wawancara mendalam terhadap warga dan perangkat desa,
didapatkan beberapa problematika di Desa Sokkolia. Misalnya: kurangnya kesadaran warga akan aspek
kesehatan. Mereka berobat bila sakitnya sudah parah. Masih dijumpainya kasus tuberkulosis, hipertensi,
dan beberapa penyakit degeneratif. Belum adanya tempat pembuangan sampah yang dikelola secara
profesional. Sebagian warga masih membuang sampah sembarangan dan membakar sampah mereka
secara tradisional. Budaya literasi (membaca, menulis) belum menjadi kebiasaan sehari-hari. Hal ini
tampak jelas dari belum adanya perpustakaan desa. Pola hidup bersih dan sehat juga belum menjadi
tradisi di kehidupan keseharian. Pengetahuan warga akan kesehatan reproduksi juga belum begitu tinggi.
Program Eduneurolitechnopreneurship dirumuskan sebagai solusi atas pelbagai problematika di
Desa Sokkolia. Eduneurolitechnopreneurship dirumuskan oleh Dito Anurogo sebagai akronim dari
edukasi (lintas-multidisipliner), neurologi dan neurosains, literasi (kesehatan), teknologi dan sains
(IPTEK), entrepreneurship. Program ini terdiri dari tiga bagian, yakni: program neuroedukasi, literasi
sehat, dan technopreneurship.
Metode pelaksanaan disesuaikan dengan program yang dilakukan. Secara umum, metode yang
digunakan berupa pendidikan masyarakat, pelatihan, penyuluhan, konsultasi, diskusi dan dialog interaktif,
brain storming, rembug desa, focus grup discussion, partisipasi aktif, senam otak, kelas alam inspiratif,
dan sebagainya.
Luaran yang diharapkan adalah adanya peningkatan pengetahuan pada mitra, peningkatan
kesadaran akan lingkungan, adanya publikasi di jurnal nasional bereputasi dan di media massa online
serta cetak, adanya buku yang ber-ISBN, adanya materi atau bahan ajar yang sesuai dengan PKM ini.
Kata Kunci: Sokkolia; Desa Sehat 5.0, Literasi Digital; Eduneurolitechnopreneurship.
PENDAHULUAN
Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, desa adalah kesatuan masyarakat hukum
yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.1
Desa Sokkolia memiliki luas wilayah 952,6 km2 dengan kepadatan penduduk mencapai
8,09 per kilometer persegi. Terbagi menjadi empat dusun, yakni: Dusun Timbuseng (168,01 Ha),
Dusun Borongkaluku (290.02 Ha), Dusun Borong Bulo (176.01 Ha), dan Dusun Borong Rappo
(318.02 Ha). Batas wilayah sebelah utara adalah Desa Pakatto. Batas sebelah selatan adalah
Kecamatan Palangga. Batas sebelah timur adalah Desa Mata Allo dan Desa Romangloe. Batas
sebelah barat adalah Kelurahan Bontomanai. Desa yang sebagian besar merupakan dataran ini
terletak di Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa dan berada di 0-499,9 meter dari
permukaan laut. Ibukota desa Sokkolia adalah Dusun Borongrappo. Jumlah penduduk tahun
2010 sebanyak 2854 orang (1400 pria dan 1454 perempuan). Potensi sumber daya manusia Desa
Sokkolia terlihat dari jumlah penduduk di usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 2185 jiwa.2,3
Di bulan Maret 2018, jumlah penduduk mencapai 3526 (1693 pria dan 1833 perempuan).
Jumlah kepala keluarga (KK) mencapai 1019 KK. Profesi terbanyak adalah petani (515 orang),
disusul buruh harian lepas (215 orang), wiraswasta (120 orang), PNS (15 orang), pengusaha (4
orang). Desa Sokkolia memiliki 9 RW, 20 RT, 1 LKMD, 1 PKK, dan 1 BPD. Sarana jalan
umumnya telah beraspal. Dengan rincian: aspal beton (4 Km), aspal (1,5 Km), pengerasan (6
Km), paving blok (1 Km).4,5
Lokasi Desa Sokkolia amat dekat dengan bendungan Bili-Bili dan beberapa sungai besar
sebagai sumber irigasi. Aliran sungai yang melewati Desa Sokkolia misalnya Sungai Salupuang
dan anak sungai Jeneberang. Komoditas unggulan di Desa Sokkolia berupa ayam (petelur dan
potong), kacang hijau, padi, pasir, rambutan, sapi, sayuran, ubi kayu.2

Keterangan gambar: (dari kiri ke kanan)


A. Perkebunan kacang panjang, perkebunan jagung, potensi wisata danau buatan, potensi kelas alam .
B. Program hibah air minum, kantor desa Sokkolia, SMPN 3 Bontomarannu, Puskesmas Pembantu Desa Sokkolia.
C. Proyek Gorong-gorong dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Tahun 2016, Dito
Anurogo bersama plh Kepala Desa Sokkolia (Usman Ewa), jalanan beraspal, perkebunan rambutan.
D. Area lapangan tandus dipenuhi sampah dan bekas pembakaran sampah.
Beberapa prioritas utama dalam pemberdayaan Desa Sokkolia di tahun 2010, antara lain:
pelatihan SDM, pengembangan jalan, pengadaan pasar, pengelolaan sistem persampahan,
pembangunan infrastruktur untuk mendukung sektor pertanian, sarana angkutan umum untuk
pemasaran hasil kebun dan kemudahan aksesibilitas ke pelayanan kesehatan dan pendidikan.2
Upaya strategis untuk mengembangkan potensi desa Sokkolia dapat dilakukan melalui dua
pendekatan, yakni pendekatan struktural dan subjektif. Beberapa strategi di dalam pendekatan
struktural berupa: pengembangan jaringan pendukung, sistem pengawasan berbasis masyarakat,
dan kapasitas kelembagaan. Peningkatan dan pengembangan aksebilitas masyarakat terhadap
sumber daya alam, sumber daya ekonomi, informasi, proses pengambilan keputusan. Beberapa
strategi di dalam pendekatan subjektif berupa: berbagai upaya ekonomi alternatif yang ramah
lingkungan (ekonomi hijau), pengembangan kualitas dan potensi diri, pengembangan atau
pemberdayaan kapasitas pemuda dan warga, peningkatan ilmu pengetahuan, pengalaman, serta
wawasan kebangsaan dan pelestarian alam lingkungan, peningkatan partisipasi masyarakat di
dalam program pembangunan desa, penggalian dan pengembangan multikecerdasan,
keterampilan dan softskills, nilai-nilai budaya, adat, tradisional, dan kearifan lokal yang
berkembang di masyarakat Desa Sokkolia.2-4
Berdasarkan observasi, interview, dan wawancara mendalam terhadap warga dan perangkat
desa, didapatkan beberapa problematika di Desa Sokkolia. Misalnya: kurangnya kesadaran
warga akan aspek kesehatan. Mereka berobat bila sakitnya sudah parah. Masih dijumpainya
kasus tuberkulosis, hipertensi, dan beberapa penyakit degeneratif. Belum adanya tempat
pembuangan sampah yang dikelola secara profesional. Sebagian warga masih membuang
sampah sembarangan dan membakar sampah mereka secara tradisional. Budaya literasi
(membaca, menulis) belum menjadi kebiasaan sehari-hari. Hal ini tampak jelas dari belum
adanya perpustakaan desa. Pola hidup bersih dan sehat juga belum menjadi tradisi di kehidupan
keseharian. Pengetahuan warga akan kesehatan reproduksi juga belum begitu tinggi.

Desa Sehat Berbasis Literasi Digital


Desa sehat 5.0 dirumuskan berdasarkan program prioritas Nawacita. Salah satunya
membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka
negara kesatuan. Tentunya dengan tetap memperhatikan kearifan lokal dan karakter kepribadian
masyarakat. Desa Sehat 5.0 adalah desa yang unik, mandiri, visioner, futuristik, memiliki
nasionalisme tinggi, memiliki multikecerdasan (emosional, spiritual, intelektual, dsb).
Desa sebagai pondasi dasar kemajuan bangsa perlu dikembangkan potensinya. Salah satu
elemen fundamental di dalam pemberdayaan desa adalah melalui literasi digital. Paul Gilster
dalam Digital Literacy (1997) menyatakan bahwa literasi digital adalah kemampuan untuk
memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang
sangat luas yang diakses melalui piranti komputer. Pemahaman literasi digital menurut Bawden
(2001) terkait dengan softskills di dalam mengakses, merangkai, memahami, dan
menyebarluaskan informasi. Hal ini berakar dari literasi informasi dan literasi komputer. 6
Dapatlah disimpulkan bahwa literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk
menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan,
mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak,
cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam
kehidupan sehari-hari.7
Literasi digital merupakan bagian dari enam literasi dasar. Lima elemen literasi dasar
lainnya yaitu: literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi budaya
dan kewargaan.Untuk membangun budaya literasi di semua aspek kehidupan dan ranah
pendidikan (termasuk individu, keluarga, sekolah, masyarakat, desa), maka sejak tahun 2016
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN)
sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun
2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.7
Literasi digital bersifat unik karena berpusat pada potensi individu. Setiap orang memiliki
kapabilitas dan perilakunya yang khas di dalam mengembangkan aspek kesehatan dan social
care workforce. Ada setidaknya enam aspek fundamental di dalam literasi digital. Pertama,
komunikasi, kolaborasi, dan partisipasi. Kedua, pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan
diri. Ketiga, informasi, data, dan literasi media. Keempat, kreasi, inovasi, beasiswa. Kelima,
keahlian teknis. Keenam, identitas digital, kesejahteraan, keselamatan, dan keamanan. Riset yang
dilakukan oleh Mitchell Kapoor menunjukkan bahwa generasi milenial di era digital belum
menggunakan media digital secara maksimal untuk memaksimalkan kapasitas dan potensi diri.
Inilah alasan fundamental perlunya dikembangkan literasi digital.7,8
Hal ini senada dengan Douglas A.J. Belshaw dalam What is ‘Digital Literacy‘? (2011). Ia
mengatakan, ada delapan elemen esensial di dalam mengembangkan literasi digital, yakni: (1)
Kultural, pemahaman tentang dunia digital; (2) Kognitif, daya pikir untuk menilai konten; (3)
Konstruktif, reka cipta sesuatu yang inovatif dan solutif; (4) Komunikatif, pemahaman softskill
berkomunikasi dan kinerja jejaring di dunia digital; (5) Kepercayaan diri dan tanggung jawab;
(6) Kreatif melakukan hal baru dengan cara baru; (7) Kritis saat menyikapi konten; dan (8).
Bertanggung jawab secara sosial.7
Literasi digital adalah alat utama di dalam mengatasi pelbagai problematika sosial
sekaligus sarana seseorang agar interaktif dengan lingkungan kehidupannya. Literasi digital juga
memberdayakan warga sehingga mampu memilih, memilah, mengakses, menyaring, mengolah,
memahami informasi sebagai sarana peningkatan kualitas kehidupan di berbagai bidang, seperti:
ekonomi, kesehatan, pendidikan, dsb.7 Literasi digital dapat dikembangkan di keluarga, sekolah,
masyarakat, dan desa sebagai bagian dari pembelajaran berkesinambungan selama hidup, melalui
pemberdayaan masyarakat, kelompok pengajian, organisasi, komunitas, termasuk PKM.7

SOLUSI PERMASALAHAN
Berdasarkan pemaparan dan uraian di atas, maka kami merumuskan program
Eduneurolitechnopreneurship sebagai solusi atas pelbagai problematika di Desa Sokkolia. Istilah
Eduneurolitechnopreneurship ini merupakan terminologi (istilah) asli ciptaan Dito Anurogo,
yang mensinergiskan antara edukasi, neurosains dan neurologi, literasi, teknologi, kewirausahaan
(entrepreneurship).

METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan disesuaikan dengan program yang dilakukan. Secara umum, metode
yang digunakan berupa pendidikan masyarakat, pelatihan, penyuluhan, konsultasi, diskusi dan
dialog interaktif, brain storming, rembug desa, focus grup discussion, partisipasi aktif, senam
otak, kelas alam inspiratif, dan sebagainya.
Program neuroedukasi berupa penyuluhan dan pelatihan di bidang kesehatan, medis,
neurosains-neurologi, ekonomi Islam, kewirausahaan, parenting, teknologi tepat guna, dan
keagamaan atau religiospiritual. Program neuroedukasi ini menggunakan The Art of Medicine9,
Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid10, 45 Penyakit dan Gangguan Saraf11, Tata Laksana Terapi
Penyakit Sistem Syaraf Pusat12, 100 Ide untuk Guru13 sebagai referensi utamanya di dalam proses
pembelajaran, pengajaran, pelatihan, dan diskusi interaktif.

Metode pelaksanaan untuk program neuroedukasi dilakukan dengan cara sosialisasi dan
koordinasi dengan aparat desa dan warga masyarakat, diskusi interaktif, penyuluhan dengan
menggunakan laptop / komputer dan power point, senam otak, menyelenggarakan sarasehan
kesehatan untuk warga, focus grup discussion, tanya-jawab langsung, pemeriksaan tekanan darah
oleh tim medis serta pencatatan data tekanan darah, glukosa darah, asam urat, dan kolesterol.
Mengadakan pengajian dan pengkajian Alquran dan hadits. Edukasi pencegahan tuberkulosis,
penyakit saraf, dan sebagainya. Konsultasi berbasis media sosial bersama pakar. Pelaksanaan
program neuroedukasi berkoordinasi dan berkolaborasi dengan semua pihak dan dinas terkait,
termasuk Puskesmas atau Puskesmas pembantu.
Program literasi sehat berupa pelatihan dan sosialisasi di bidang literasi dan kesehatan,
writenesia atau workshop kepenulisan demi kejayaan Indonesia, satu rumah satu buku, gerakan
membaca dan menulis 10 menit setiap hari, perpustakaan digital, festival Desa 4.0: Enlitech
(berfokus kepada literasi, seni, budaya tradisional). Enlitech di sini merupakan akronim dari
Eduneurolitechnopreneurship.
Metode pelaksanaan untuk program literasi dilakukan dengan cara sosialisasi, diskusi
interaktif, tanya jawab, brain storming, pemberian pelatihan serta praktik langsung. Belajar
peribahasa dan kearifan lokal melalui kartu atau permainan. Konsultasi online bersama pakar.
Wawancara langsung dengan tokoh masyarakat, pemuda, pengusaha dan pejabat sukses.
Menuliskan profil inspiratif atau kisah sukses para pemuda, pengusaha, tokoh masyarakat lalu
menerbitkan dalam bentuk buku digital dan/atau cetak ber-ISBN.
Program technopreneurship berupa edukasi dan pelatihan tentang desa global, seluk-
beluk dunia digital, media sosial dan dampak negatifnya, plus minus internet, marketing digital,
bahaya disrupsi di era globalisasi, pengenalan software microsoft office, aplikasi online, dan
pelatihan kewirausahaan, training motivasi ‘’pengusaha dan pejabat menyapa rakyat’’.
Metode pelaksanaan untuk program technopreneurship dilakukan dengan cara visitasi dan
silaturahmi warga ke pengusaha atau UMKM dan media, dialog inovatif, diskusi interaktif,
pelatihan dan praktik secara langsung.
LUARAN DAN TARGET CAPAIAN
Luaran yang diharapkan adalah adanya peningkatan pengetahuan pada mitra, peningkatan
kesadaran akan lingkungan, adanya publikasi di media massa dan cetak, adanya buku yang
berISBN, adanya materi atau bahan ajar yang sesuai dengan PKM ini.

Target capaian PKM ini antara lain:


1. Publikasi berupa artikel di jurnal nasional terakreditasi, yakni: Jurnal Pengabdian kepada
Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) di UGM.
2. Artikel di media massa cetak nasional (Harian Fajar) dan media online (Makassar Terkini).
3. Informasi kegiatan yang diunggah di pelbagai media sosial.
4. Video kegiatan yang diunggah di You Tube.
5. Buku ber-ISBN, dicetak oleh penerbit deepublish (https://penerbitbukudeepublish.com).
6. Mitra produktif ekonomi (dengan indikator: peningkatan pengetahuan, keterampilan,
kualitas-kuantitas produk, jumlah tenaga kerja, kemampuan manajemen, keuntungan, unit
usaha berbadan hukum, jumlah wirausaha baru mandiri)
7. Mitra sasaran memiliki website interaktif, email resmi, dan akun resmi di pelbagai media
sosial (LinkedIn, Whatsapp, Facebook, Twitter, Telegram, Instagram, Path)

ANGGARAN BIAYA
Justifikasi Anggaran Biaya
RINCIAN PENGGUNAAN
1. HONORARIUM
Honor Honor / Jam Waktu Minggu Honor per
(Rp) (Jam / Minggu) Tahun
(dalam Rp)
Tahun 1
Honor Pelatih 25.000 8 4 800.000
Honor Pakar 30.000 8 4 960.000
Honor 20.000 8 4 640.000
Narasumber
Honor Moderator 15.000 8 4 480.000
Honor Panitia dan 5000 16 4 320.000
Kebersihan
Sub Total 3.200.000
2. PEMBELIAN BAHAN HABIS PAKAI

Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Harga


Pemakaian (Rp) Peralatan
Penunjang
(Rp)
Tahun 1
Kertas HVS A4 Administrasi 20 rim 45.000 900.000
Kertas sertifikat Administrasi 20 lembar 25.000 500.000
Bingkai Administrasi 20 buah 35.000 700.000
sertifikat
Alat tulis Administrasi 20 paket 25.000 500.000
Alat tulis Peserta 200 paket 20.000 4.000.000
Plakat Pemateri Administrasi 20 buah 45.000 900.000
Tinta print Administrasi 4 buah 95.000 380.000
warna
Tinta print hitam Administrasi 8 buah 75.000 600.000
Buku agenda Administrasi 20 buah 25.000 500.000
Stop map batik Panitia 10 buah 15.000 150.000
Staples besar Administrasi 5 buah 46.000 230.000
Staples sedang Administrasi 4 buah 35.000 140.000
Sub Total 9.500.000
3. BIAYA PERJALANAN

Material Justifikasi Kuantitas Harga Harga


Pemakaian Satuan (Rp) Peralatan
Penunjang
(Rp)
Tahun 1
Perjalanan ke Observasi awal, 1 kali 1.000.000 1.000.000
lokasi penelitian Pengambilan data
(wawancara dan
dokumentasi)
Perjalanan dan Konsultasi ahli dan 2 kali 1.000.000 2.000.000
proses pelaporan proses pelaporan
Sub Total 3.000.000
4. LAIN – LAIN
Material Justifikasi Kuantitas Harga Satuan Harga
Pemakaian (Rp) Peralatan
Penunjang
(Rp)
Tahun 1
Fotokopi dan Kegiatan 3 program 500.000 1.500.000
penjilidan pelatihan
laporan
Stempel Panitia Kegiatan 2 stempel 50.000 100.000
pelatihan
Publikasi Jurnal Publikasi pasca 1 kali 500.000 500.000
dan Seminar kegiatan
Publikasi di Publikasi pasca 1 kali 200.000 200.000
media massa kegiatan
Cetak Buku ber- Publikasi pasca 4 buku 500.000 2.000.000
ISSN kegiatan
Sub Total 4.300.000
REKAPITULASI ANGGARAN
NO JENIS PENGELUARAN BIAYA YANG DIUSULKAN (Rp)
1 HONORARIUM 3.200.000
2 PEMBELIAN BAHAN HABIS PAKAI 9.500.000
3 BIAYA PERJALANAN 3.000.000
4 LAIN – LAIN 4.300.000
Total 20.000.000

JADWAL
Bulan
No Nama Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Persiapan dan perizinan X
2 Survei awal X X
3 Program neuroedukasi X
4 Program literasi sehat X
5 Program technopreneurship X
6 Follow-up, Monitoring, Evaluasi X X X
Penyusunan dan finalisasi
7
laporan, draft publikasi ilmiah. X X X

DAFTAR PUSTAKA
1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
2. Ramli M, Amir N, Markama I, Murdiono M, Anwar A, Pratama MI. Analisa Potensi Desa Sokkolia Kecamatan
Bontomarannu Kabupaten Gowa. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi Universitas
Islam Negeri Alauddin Makassar. 2010.
3. Badan Pusat Statistik. Disitasi dari https://www.bps.go.id pada 19 Oktober 2018.
4.Laporan Kependudukan bulan Maret 2018 Desa Sokkolia Kecamatan Bontomarannu. Tidak dipublikasikan.
5. Gambaran Umum Desa Sokkolia 2018. Tidak dipublikasikan.
6. Bawden D. Information and Digital Literacies: A Review of Concepts. Journal of Documentation.
2001;57(2):218-259.
7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Materi Pendukung Literasi Digital. Jakarta. 2017.
8. https://www.hee.nhs.uk/our-work/digital-literacy Diakses 20 Oktober 2018.
9. Anurogo D. The Art of Medicine. Gramedia. Jakarta. 2016.
10. Anurogo D, Wulandari A. Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid. Penerbit Andi. Yogyakarta. 2011.
11. Anurogo D, Usman FS. 45 Penyakit Dan Gangguan Saraf. Penerbit Andi. Yogyakarta. 2014.
12.Ikawati Z, Anurogo D. Tata Laksana Terapi Penyakit Sistem Syaraf Pusat. Bursa Ilmu. Yogyakarta. 2018.
13. Bowkett S. 100 Ide untuk Guru: Mengembangkan Keterampilan Berpikir. Esensi-Penerbit Erlangga. Jakarta.
2017.

LAMPIRAN

GAMBARAN IPTEK
Gambaran IPTEK yang akan dilaksanakan pada mitra berupa penggunaan smartphone, LCD, laptop, dan
komputer, pengenalan aplikasi, softwares, atau start up yang inovatif dan aplikatif, penyusunan anggaran
berbasis Excel, pembuatan dokumen berbasis pdf, pemanfaatan Microsoft Word dalam kehidupan sehari-
hari, pembelajaran teknik presentasi menggunakan slides power point, penggunaan google docs dan
google form untuk kemudahan birokrasi, pengenalan serta penggunaan internet dan media sosial
(termasuk pemanfaatan email, Facebook, Instagram, Whatsapp, You Tube untuk keperluan edukasi,
pendidikan, kesehatan, bisnis, marketing, dan kehidupan sehari-hari), juga antisipasi berita hoaks, dampak
negatif internet, dan media sosial.

PETA LOKASI MITRA SASARAN

Jarak dari Universitas Muhammadiyah Makassar ke Desa Sokkolia melalui JL. Malino sekitar 15,6 Km.
Rute ini ditempuh dengan mobil selama 37 menit pada kondisi normal (tidak macet).