Anda di halaman 1dari 11

Available online at: http://journal.uny.ac.id/index.

php/jipi

Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017, 150-160

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan KPS


dan Hasil Belajar Siswa SMP Kelas VIII
I. Iswatun 1 *, M. Mosik 1, Bambang Subali 1
1
Pendidikan Fisika, Program Sarjana, Universitas Negeri Semarang. Jalan Sekaran, Gunung Pati,
Semarang 50229 Jawa Tengah, Indonesia
* Corresponding Author. Email: iswatuniswa0@gmail.com
Received: 14 July 2017; Revised: 3 October 2017; Accepted: 25 October 2017

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan proses sains (KPS) dan hasil belajar
kognitif siswa melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing serta untuk mengetahui korelasi KPS
terhadap hasil belajar kognitif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1
Bojong Kabupaten Pekalongan tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan penelitian quasi
experiment dengan desain control group pretest posttest. Pengambilan data dilakukan dengan metode
tes dan observasi. Pembelajaran inkuiri terbimbing diterapkan pada kelas eksperimen sedangkan
Direct Instruction (DI) diterapkan pada kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan KPS
kelas eksperimen sebesar 0,52 sedangkan kelas kontrol sebesar 0,33. Pada penelitian ini, aspek kete-
rampilan proses sains yang memperoleh hasil optimal adalah aspek observasi, mengukur, melakukan
percobaan, dan komunikasi. Peningkatan hasil belajar kognitif kelas eksperimen sebesar 0,53 sedang-
kan kelas kontrol sebesar 0,38. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan
kelas eksperimen baik KPS maupun hasil belajar kognitif lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol.
Hasil uji korelasi pearson menunjukkan bahwa KPS memberikan pengaruh positif terhadap hasil
belajar kognitif siswa dengan hasil output korelasi pearsonr(35)=0,554; . Sehingga dapat
disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan KPS dan
hasil belajar kognitif siswa serta memberikan pengaruh positif antara KPS terhadap hasil belajar
kognitif siswa.
Kata Kunci: inkuiri terbimbing, keterampilan proses sains, hasil belajar kognitif
Application of Guided Inquiry Learning Model to Improve SPS and Student
Learning Outcomes for Junior High School Grade VIII
Abstract
The aim of this reseach is to improve the Science Prosess Skill (SPS) and to find out the student
cognitive learning outcomes by guided inquiry learning models and also to find out the corelation of
SPS and student’s learning outcomes. The populations of this reseach is 8th grade of SMP Negeri 1
Bojong’s students on 2016/2017 school year, in Pekalongan city. The kind of this research is quasy
experimental research used control group pretest posttest design. The datas took by test and
observation method. Guided inquiry learning was applied in experimental class while direct
instruction was applied in control class instead. The results of this research shown 0.52 for
experimental class while 0.33 for control class in improvement of SPS. In this research, the aspects of
improvement of SPS which got optimal result is observation, measurement, experiment, dan
comunications aspect. The improvement of cognitive learning outcomes for experimental class is 0.53
while 0.38 for control class. Based on the results of this research, experimental class got higher point
for SPS and cognitive learning outcomes than control class. The result of analisys in pearson
corelation shown that SPS gave more positive effect for student cognitive learning outcomes at points
r(35)=0.554; p<0.01 for pearson corelation score. From this research can be conclude that applyng
the guided inquiry learning models can improve SPS and student cognitive learning outcomes and
also give more positive effect of SPS in student cognitive learning outcomes.
Keywords: guided inquiry, science process skills, cognitive learning outcomes
How to Cite: Iswatun, I., Mosik, M., & Subali, B. (2017). Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing
untuk meningkatkan KPS dan hasil belajar siswa SMP kelas VIII. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3(2), 150-160.
doi:http://dx.doi.org/10.21831/jipi.v3i2.14871

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 151
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

PENDAHULUAN puan siswa dalam belajar IPA melalui pembina-


an keterampilan proses yaitu keterampilan
Proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan
sosial, dan fisik diproses untuk memperoleh
Alam (IPA), harus disesuaikan dengan kebijak-
ilmu pengetahuan yang lebih baik. Peningkatan
an yang berlaku sebagai salah satu mata pelajar-
keterampilan proses sains ini dapat dilakukan
an di sekolah. Berdasarkan Lampiran Permen-
dengan penerapan model pembelajaran yang
diknas nomor 22 tahun 2006. Mata pelajaran
mengajak siswa untuk mencari, menemukan dan
IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang
memahami konsep-konsep materi. Salah satu
alam secara sistematis, sehingga IPA bukan
model yang bertujuan untuk menemukan dan
hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang
menguasai konsep materi adalah model pembel-
berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-
ajaran inkuiri terbimbing.
prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses
Model pembelajaran inkuiri terbimbing
penemuan (inquiry).
adalah satu pendekatan mengajar dimana guru
Proses belajar mengajar IPA lebih dite-
memberi siswa contoh-contoh topik spesifik dan
kankan pada pendekatan keterampilan proses,
memandu siswa untuk memahami topik tersebut
hingga siswa dapat menemukan fakta-fakta,
(Eggen & Kauchak, 2012, p. 177). Pada tahap
membangun konsep-konsep, teori-teori dan
ini dalam proses pembelajaran siswa mendapat-
sikap ilmiah siswa (Trianto, 2010, p. 143).
kan bimbingan dari guru untuk mendapatkan
Melatihkan keterampilan proses dalam
jawaban suatu permasalahan.
pelaksanaannya diawali oleh pemodelan guru,
Keunggulan model pembelajaran inkuiri
kemudian siswa diminta untuk bekerja dan
terbimbing adalah efektif untuk meningkatkan
berlatih sesuai dengan petunjuk dan bimbingan
motivasi siswa. Hal ini karena siswa mempunyai
guru (Trianto, 2010, p. 149). Hal ini karena guru
tingkat keterlibatan yang tinggi dalam proses
mempunyai peran penting untuk mengajarkan
pembelajaran, proses ini melibatkan siswa untuk
keterampilan proses sains di kelas melalui
berusaha menemukan konsep atau pemahaman
perencanaan dan mengatur kegiatan belajar
pada topik yang diberikan guru. Selain itu, rasa
mengajar untuk mencapai informasi ilmiah.
ingin tahu siswa yang tinggi dari proses pembel-
Keterampilan proses sains berfungsi seba-
ajaran tersebut (Eggen & Kauchak, 2012, p.
gai tumpuan untuk keterampilan kognitif lainnya
201).
seperti berpikir logis, penalaran dan keteram-
Selain memiliki keunggulan, model pem-
pilan pemecahan masalah (Rauf, Rasul, Mansor,
belajaran inkuiri dapat mengakomodasi siswa
Othman, & Lyndon, 2013). Untuk meningkat-
dalam melatihkan keterampilan proses sains
kan keterampilan proses sains siswa dapat dila-
melalui tahap pembelajaran yang dimiliki.
kukan dengan pembelajaran berbasis
Tahap pembelajaran model inkuiri terdiri dari
laboratorium.
observasi, mengajukan pertanyaan (merumuskan
Pembelajaran berbasis laboratorium mem-
permasalahan), merumuskan hipotesis, meran-
berikan kesempatan lebih besar bagi siswa untuk
cang percobaan, melaksanakan percobaan,
mengembangkan keterampilan proses sains
mengumpulkan data, analisis data, argumentasi.
Sukarno, Permanasari, & Hamidah (2013). Pada
(Scott, Tomasek, & Matthews, 2010).
penelitian ini, pengembangan keterampilan
Berdasarkan lampiran permendiknas no
proses sains siswa dalam kegiatan belajar ilmu
20 tahun 2006. Model pembelajaran inkuiri
pengetahuan dan pembelajaran masih relatif
terbimbing disarankan untuk diterapkan dalam
rendah. Data menunjukkan bahwa sebanyak
pembelajaran IPA.Hal ini untuk menumbuhkan
43,48% kategori rendah, 30,43% kategori
kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap
sedang dan 26,09% dari kategori tinggi.
ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai
Rendahnya keterampilan proses sains
aspek penting kecakapan hidup.
pada penelitian tersebut dikarenakan kurangnya
Inkuiri terbimbing berbasis laboratorium
pemahamanan dan pengetahuan guru dalam
mempunyai pengaruh positif yang signifikan
menerapkan pembelajaran yang mengarah pada
terhadap hasil belajar dan sikap ilmiah siswa
keterampilan proses sains. Serta kurangnya
(Maretasari, Subali, & Hartono, 2012). Hasil
pengembangan bahan ajar yang secara khusus
penelitian ini diperoleh peningkatan gain hasil
mampu mengarahkan guru dan siswa untuk
belajar sebesar 0,53 dan peningkatan gain sikap
praktek keterampilan proses sains.
ilmiah sebesar 0,31.
Peningkatan keterampilan proses sains
Penggunaan metode inkuiri terbimbing
perlu dilakukan untuk mengembangkan kemam-
direkomendasikan untuk diterapkan dalam mata

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 152
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

pelajaran IPA untuk meningkatkan keterampilan ajaran yang sesuai. Strategi pembelajaran yang
proses sains siswa. Penelitian yang dilakukan dapat meningkatkan keterampilan proses sains
oleh Akinbobola & Afolabi (2010) menunjuk- dan hasil belajar adalah strategi pembelajaran
kan bahwa jumlah keterampilan proses dasar inkuiri terbimbing yang dipadukan dengan
secara signifikan lebih tinggi daripada keteram- metode eksperimen. Aspek keterampilan proses
pilan poses terintegrasi. Hal ini dikarenakan sains yang akan dikembangkan dalam penelitian
seringnya penggunaan model pembelajaran yang meliputi aspek mengamati, mengukur, menyu-
berpusat pada guru. Namun analisis lima tahun sun hipotesis, merencanakan eksperimen, mela-
terakhir menunjukkan hasil yang stabil pada kukan eksperimen, mengolah data, inferensi,
keterampilan berkomunikasi. Hal ini disebabkan dan komunikasi,
karena pembelajaran yang berpusat pada guru
METODE
telah begeser pada pembelajaran yang berpusat
pada anak seperti pemecahan masalah, Penelitian ini dilaksanakan di SMP Nege-
penemuan dan metode penyelidikan. ri 1 Bojong Kabupaten Pekalongan. Populasi
Bilgin (2009) menggambarkan guided dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII
inquiry sebagai pendekatan yang berpusat pada SMP Negeri 1 Bojong Tahun Ajaran 2016/2017.
siswa. Pendekatan ini memiliki pengaruh positif Pengambilan sampel pada penelitian ini meng-
terhadap keberhasilan akademik siswa dan sikap gunakan teknik purposive sampling sehingga
ilmiah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh diperoleh kelas VIII C sebagai kelas eksperimen
Bilgin (2009) menunjukkan hasil yang signifi- dan kelas VIII D sebagai kelas kontrol. Pene-
kan setelah menggunakan model guided inquiry. litian ini menggunakan metode penelitian quasi
Guided Inquiry adalah satu pendekatan experiment dengan desain control group pretest
mengajar dimana guru memberi siswa contoh- posttest.
contoh topik spesifik dan memandu siswa untuk Setelah diberikan pretest, kelas eksperi-
memahami topik tersebut (Eggen & Kauchak, men dan kelas kontrol pada pertemuan pertama
2012). Selain itu, pembelajaran guided inquiry mendapatkan perlakuan sama yaitu mengguna-
menciptakan efektivitas dan efisiensi waktu kan model pembelajaran Direct Instructure (DI).
yang tinggi dalam mengajar karena pembel- Pada pertemuan kedua, kelas eksperimen dan
ajaran berpusat pada siswa dan peran guru hanya kelas kontrol mendapatkan perlakuan yang
sebatas fasilitator dan pengarah atau pembim- berbeda.Pembelajaran di kelas eksperimen
bing siswa (Yuniastuti, 2013). menggunakan model pembelajaran inkuiri ter-
Berdasarkan hasil observasi yang dilaku- bimbing sedangkan pembelajaran di kelas
kan di SMP Negeri 1 Bojong, Kabupaten kontrol menggunaka model pembelajaran Direct
Pekalongan menunjukkan bahwa siswa masih Instructure.
cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Metode pengumpulan data yang diguna-
Hal ini terjadi disebabkan guru lebih sering kan adalah metode dokumentasi, metode tes dan
menggunakan metode ceramah dibanding metode observasi. Metode dokumentasi dilaku-
metode yang lainnya. kan untuk mendapatkan data awal siswa yang
Pada keadaan sebenarnya kegiatan belajar menjadi sampel berupa daftar nama siswa dan
mengajar di sekolah sudah tersedia kit percoba- nilai ujian akhir sekolah semester gasal. Tes
an yang lengkap tetapi kurang perawatan. Selain uraian digunakan untuk menentukan pening-
itu, pada semester ini guru tidak pernah melaku- katan hasil belajar kognitif siswa pada materi
kan kegiatan keterampilan proses dalam pembel- pemantulan cahaya. Lembar observasi diguna-
ajaran seperti kegiatan laboratorium. Sehingga kan untuk menentukan peningkatan keterampil-
pelajaran fisika menjadi monoton dan mem- an proses sains siswa yang berisi sebuah daftar
bosankan karena pembelajaran hanya berpusat jenis kegiatan yang diamati dan kolom skor.
pada guru teacher centered. Siswa menjadi tidak Lembar observasi digunakan pada setiap proses
termotivasi untuk belajar fisika yang meng- pembelajaran khususnya saat melakukan ekspe-
akibatkan keterampilan proses sains tidak rimen sebanyak dua kali pertemuan.
berkembang. Analisis data yang dilakukan meliputi
Berdasarkan hasil observasi dan hasil analisis uji coba soal tes uraian berupa uji
penelitian sebelumnya maka diperlukan upaya validitas, reliabilitias, daya pembeda dan taraf
tindak lanjut agar tujuan pembelajaran dapat kesukaran, analisis data tahap awal berupa uji
tercapai secara optimal. Salah satu upaya terse- homogenitas, dan uji normalitas serta analisis
but adalah penggunaan suatu strategi pembel- data tahap akhir berupa uji normalitas, uji

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 153
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

homogenitas, uji t atau independent samples t- Hasil perhitungan uji N-Gain nilai kete-
test, uji N-Gain, uji korelasi pearson, dan rampilan proses sains kelas kontrol diperoleh
koefisien determinasi. Uji normalitas digunakan sebesar 0,33 termasuk kategori sedang semen-
untuk mengetahui apakah data yang akan tara kelas eksperimen sebesar 0,52 termasuk
dianalisis terdistribusi secara normal atau tidak. kategori sedang. Hasil analisis tersebut menun-
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui jukkan bahwa peningkatan KPS siswa eksperi-
apakah memiliki varian yang sama (homogen) men lebih besar dibanding kelas kontrol.Nilai
atau tidak. Uji t atau independent samples t- KPS dan uji N-Gain kelas kontrol dan kelas
testdigunakan untuk mengetahui apakah ada eksperimen disajikan pada Tabel 1.
perbedaan nilai rata-rataposttest hasil belajar Berdasarkan hasil analisis diperoleh
kognitif dan keterampilan proses sains siswa bahwa pada setiap eksperimen yang dilakukan
antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Uji nampak KPS siswa mengalami peningkatan.
N-Gain digunakan untuk mengetahui peningkat- Baik ditinjau dari skor total maupun skor dari
an data hasil tes uraian dan hasil observasi kelas setiap aspek KPS yang diamati. Rata-rata nilai
kontrol dan kelas eksperimen, uji korelasi KPS eksperimen I pada kelas kontrol sebesar
pearson digunakan untuk mengetahui hubungan 48,57 sementara pada kelas eksperimen sebesar
keterampilan proses sains terhadap hasil belajar 50,89. Hasil penilaian KPS eksperimen I me-
kognitif dan koefisien determinasi. nunjukan bahwa hampir sebagian besar siswa
belum baik dalam KPS. Hal ini dikarenakan
HASIL DAN PEMBAHASAN
siswa belum terbiasa dengan kegiatan percobaan
Peningkatan Keterampilan Proses Sains dan eksperimen I merupakan percobaan kali
Nilai Keterampilan Proses Sains (KPS) pertama pada kelas VIII baik semester ganjil
siswa diperoleh melalui observasi selama proses maupun semester genap. Kemudian saat mela-
pembelajaran berlangsung. Hasil observasi KPS kukan penilaian KPS eksperimen II diperoleh
yang diamati merupakan hasil belajar psiko- rata-rata nilai pada kelas kontrol sebesar 65,36
motorik. Penilaian KPS siswa meliputi aspek: dan pada kelas eksperimen sebesar 76,34
observasi, mengukur, menyusun hipotesis, Analisis uji perbedaan nilai rata-rata post-
merencanakan percobaan, melakukan percoba- test KPS antara kelas kontrol dan kelas eksperi-
an, mengolah data, menginterfernsi, dan men menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
komunikasi. yang signifikan nilai rata-rata posttest KPS
Penelitian dilakukan pada saat pembel- antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.
ajaran berlangsung menggunakan lembar obser- Selain itu, nilai rata-rata posttest kelas eksperi-
vasi. Pada pertemuan pertama kelas kontrol dan men lebih tinggi dari kelas kontrol.
kelas eksperimen menggunakan model pembel- Tabel 1 menunjukkan bahwa pembelajar-
ajaran direct instruction (DI) untuk mendapat- an inkuiri terbimbing dapat meningkatkan KPS
kan data pretest keterampilan proses sains. Pada siswa pada materi pemantulan cahaya dibanding
pertemuan kedua kelas kontrol menggunakan model pembelajaran DI. Hasil peningkatan tiap
model pembelajaran DI, sedangkan kelas aspek KPS berdasarkan nilai ekperimen I dan
eksperimen mendapatkan perlakuan mengguna- eksperimen II pada kelas kontrol disajikan pada
kan model pembelajaran inkuiri terbimbing Gambar 1.
untuk mendapatkan data posttest KPS.
Tabel 1 Nilai rata-rata KPS kelas kontrol dan kelas eksperimen
Kelas Kontrol Kelas Eksperimen
Kategori
Eksperimen I Eksperimen II Eksperimen I Eksperimen II
Nilai Terendah 34,38 50,00 34,38 53,13
Nilai Teringgi 62,50 75,00 68,75 90,63
Rata-rata 48,57 65,36 50,89 76,34
N-Gain 0,33 0,52
Kriteria Sedang Sedang

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 154
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

100,00 Gambar 3. Grafik Peningkatan Setiap Aspek


KPS pada Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen
80,00
0,6 0,52
60,00 0,5
0,4 0,33
40,00
0,3
20,00 0,2
0,1
0,00 0
1 2 3 4 5 6 7 8 N-gain
Eksperimen I Eksperimen II Eksperimen Kontrol

Gambar 1. Grafik Peningkatan Aspek KPS Gambar 4. Grafik N-Gain Seluruh Aspek KPS
Kelas Kontrol Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen
Peningkatan tiap aspek keterampilan pro- Model pembelajaran guided inquiry
ses sains berdasarkan nilai ekperimen I dan dalam penelitian ini menggunakan metode eks-
eksperimen II pada kelas eksperimen disajikan perimen. Kegiatan eksperimen dapat mening-
pada Gambar 2. katkan kepercayaan diri dalam mendapatkan
100,00 informasi. Sehingga kegiatan laboratorium
berbasis guided inquiry ini diperlukan untuk
80,00 dapat meningkatkan hasil pembelajaran (Ural,
60,00
2016) dan keterampilan proses sains siswa
(Ratunguri, 2016).
40,00 Penerapan model pembelajaran guided
inquiry bertujuan untuk meningkatkan keteram-
20,00 pilan proses sains siswa meliputi keterampilan
observasi, mengukur, menyusun hipotesis, me-
0,00
rencanakan percobaan, melakukan percobaan,
1 2 3 4 5 6 7 8
mengolah data, interferensi dan komunikasi.
Eksperimen I Eksperimen II Model pembelajaran guided inquiry yang
melibatkan proses secara ilmiah melalui eksperi-
men mampu meningkatkan keterampilan proses
Gambar 2 Grafik Peningkatan Aspek KPS Kelas
sains dasar (Ambarsari, Santosa, & Maridi,
Eksperimen
2013). Selain itu, menurut Abungu, Okere, &
Peningkatan keterampilan proses sains Wachanga (2014) menyatakan bahwa ketika
berdasarkan rata-rata niai eksperimen I dan siswa melakukan eksperimen maka siswa akan
eksperimen II antara kelas kontrol dan kelas melatih keterampilan dan kemampuan proses
eksperimen disajikan pada Gambar 3. mereka. Sehingga keterampilan ilmiah memberi-
1,00 kan dampak prestasi secara keseluruhan. Hal ini
sesuai dengan hasil penelitian bahwa kelas
0,80 eksperimen mengalami peningkatan keterampil-
an proses sains lebih baik dari kelas kontrol.
0,60 Berdasarkan hasil penelitian semua aspek
pada penelitian ini mengalami peningkatan N-
0,40 Gain, namun aspek inferensi dan komunikasi
pada kelas eksperimen mengalami peningkatan
0,20 N-Gain yang lebih kecil dari kelas kontrol.
Peningkatan keterampilan observasi lebih
0,00 tinggi di kelas eksperimen daripada kelas kon-
1 2 3 4 5 6 7 8 trol. Hal ini dikarenakan keterampilan observasi
Kontrol Eksperimen adalah keterampilan utama yang harus dimiliki
siswa untuk memulai penyelidikan dalam pene-

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 155
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

muan suatu masalah. Selain itu, keterampilan merencanakan percobaan merupakan salah satu
observasi mempunyai peran penting dalam pe- tahap pembelajaran pembelajaran inkuiri (Scott
nyelidikan sains dan pembentukan pengetahuan et al., 2010). Pada kelas eks-perimen siswa
ilmiah. Siswa dapat melakukan keterampilan diberi tugas untuk mencari dan mempelajari
sederhana ketika sekedar melihat benda untuk langkah-langkah percobaan sebelum melakukan
menyatakan sesuatu secara konkret. Observasi percobaan.
dapat dikatakan sebagai ketarampilan yang Peningkatan keterampilan melakukan
kompleks ketika diterapkan untuk memberikan percobaan pada kelas eksperimen lebih tinggi
penjelasan lebih jauh dan menghasilkan teori daripada kelas kontrol. Hal ini menunjukkan
terkait fenomena yang diobservasi (Ahtee, bahwa model pembelajaran guided inquiry dapat
Suomela, Juuti, Lampiselkä, & Lavonen, 2012). meningkatkan keterampilan melakukan percoba-
Berbeda dengan model pembelajaran DI dimana an dibanding dengan model pembelajaran DI.
siswa hanya mengamati apa yang diperintahkan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
Berdasarkan nilai faktor N-Gain dan nilai Rahmasiwi, Santosari, & Sari (2015) teradapat
rata-rata eksperimen terakhir dapat disimpulkan peningkatan melakukan percobaan dengan
bahwa model pembelajaran guided inquiry dapat menggunakan model pembelajaran inkuiri. Serta
meningkatkan keterampilan observasi. Hal ini hasil penelitian Subagyo, Wiyanto, & Marwoto
sesuai dengan hasil penelitian Ambarsari, (2012) yang menggunakan LKS berbasis inkuiri.
Santosa, & Maridi (2013) yang menyatakan Keterampilan mengolah data di kelas
bahwa model pembelajaran guided inquiry dapat eksperimen meningkat lebih baik daripada di
meningkatkan keterampilan proses sains dimana kelas kontrol, sedangkan kelas kontrol tidak
salah satu aspeknya yaitu observasi. memiliki keterampilan mengolah data karena
Peningkatan keterampilan mengukur di LKS yang digunakan tidak berbasis inkuiri.
kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas Kelas eksperimen menganalisis data mengacu
kontrol. Hal ini dikarenakan kelas eksperimen pada rumusan masalah yang diberikan dan
sudah menyiapkan percobaan dengan mencari disediakan pada LKS yang berbasis inkuiri.
rencana percobaan sebelum melakukannya Pada keterampilan mengolah data, siswa
sebagai langkah dari pembelajaran guided belum terbiasa mengubah data tabel menjadi
inquiry. grafik sehingga siswa mengalami kesulitan
Peningkatan keterampilan menyusun dalam membuat grafik dan menentukan variabel
hipotesis pada kelas eksperimen termasuk bebas untuk dijadikan sumbu x dan variabel
kategori sedang. Sedangkan pada kelas kontrol terikat sebagai sumbu y. Namun dengan adanya
aspek keterampilan menyusun hipotesis tidak bimbingan dari guru, siswa belajar mengolah
mengalami peningkatan disebabkan karena data dengan mengubah data dalam tabel menjadi
perlakukan yang diberikan di kelas kontrol grafik. Sehingga siswa memiliki bekal penge-
berupa pembelajaran DI, sehingga siswa tidak tahuan dasar yang baik dalam keterampilan
dituntut untuk berhipotesis. Pembelajaran mengolah data.
guided inquiry melatih siswa untuk menyusun Pada aspek inferensi menunjukkan bahwa
hipotesis terhadap rumusan masalah yang disaji- kelas kontrol lebih baik daripada kelas eksperi-
kan, berbeda dengan pembelajaran DI yang men.Hal ini disebabkan karena siswa pada kelas
tidak menyajikan masalah sehingga hipotesis eksperimen belum terbiasa dengan perlakuan
tidak dapat dirumuskan. Jadi keterampilan hipo- menggunakan model pembelajaran guided
tesis merupakan salah satu bagian dari proses inquiry.Tidak adanya pembagian tugas meng-
pembelajaran guided inquiry yang belum tentu akibatkan kekurangan waktu dalam menyelesai-
diperoleh dalam model pembelajaran lainnya. kan percobaan. Salah satu hambatan dalam
Peningkatan keterampilan merencanakan menerapkan model pembelajarn guided inquiry
percobaan pada kelas eksperimen termasuk adalah kekurangan waktu (Cheung, 2007).
kategori sedang, sedangkan kelas kontrol tidak Percobaan berbasis inkuiri membutuhkan
memiliki keterampilan merencanakan percobaan waktu lebih lama untuk menyelesaikannya
karena menggunakan model pembelajaran DI, karena siswa membutuhkan waktu tambahan
sehingga siswa tidak dituntut untuk meren- untuk merencanakan percobaan, dan mengolah
canakan percobaan. Pada model guided inquiry, data. Maka solusinya perlu ditingkatkan jam
aspek keterampilan merencanakan percobaan kegiatan laboratorium (Ural, 2016).
merupakan salah satu langkah yang dibutuhkan Pada aspek komunikasi menunjukkan
untuk melakukan kegiatan penemuan. Selain itu, bahwa kelas kontrol lebih baik daripada kelas

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 156
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

eksperimen. Hal ini disebabkan karena kete- (2013) menegaskan bahwa keterampilan proses
rampilan awal komunikasi pada kelas eksperi- sains dapat dikembangkan melalui implementasi
men sudah baik sehingga hasil peningkatannya pembelajaran yang didasarkan pada penemuan
sedikit atau rendah. Berbeda dengan kelas kon- melalui penyelidikan yaitu model pembelajran
trol yang mempunyai kemampuan awal inkuiri.
komunikasinya rendah sehingga hasil pening-
Peningkatan Hasil Belajar Kognitif
katannya sedang. Tetapi hasil menunjukkan
tetap adanya peningkatan keterampilan komu- Hasil belajar kognitif siswa diukur dari
nikasi di kelas eksperimen. Hasil ini sesuai nilai rata-rata pretest dan posttest. Hasil analisis
dengan hasil penelitian Likayati dan Ismono rata-rata pretest, posttest dan peningkatan hasil
(2016) menunjukkan bahwa dengan model belajar kognitif siswa disajikan dalam Tabel 2
pembelajaran guided inquiry dapat meningkat- Tabel 2 Nilai rata-rata hasil belajar kognitif
kan keterampilan proses sains yang salah satu kelas kontrol dan kelas eksperimen
aspeknya yaitu keterampilan komunikasi.
Pada penelitian ini, aspek keterampilan Kelas
Kelas Kontrol
proses sains yang memperoleh hasil optimal Kategori Eksperimen
adalah aspek observasi, mengukur, melakukan Pretest Posttest Pretest Posttest
percobaan, dan komunikasi. Penelitian yang Nilai
14,00 34,88 20,13 65,63
Terendah
dilakukan oleh Rahmasiwi, Santosari, & Sari
Nilai
(2015) menyatakan bahwa aspek komunikasi Teringgi
38,88 66,60 35,00 31,25
belum optimal karena belum mencapai target Rata-rata 26,07 54,20 25,52 64,67
minimalnya. Sedangkan hasil penelitian Amalia N-Gain 0,38 0,53
(2015) menyatakan bahwa peningkatan aspek Kriteria Sedang Sedang
mengukur pada kelas eksperimen lebih rendah
dari kelas kontrol. Dari hasil kedua penelitian Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil belajar
tersebut, maka dapat dikatakan bahwa pada kognitif siswa kelas eksperimen dan kelas
penelitian ini penerapan model pembelajarn kontrol mengalami peningkatan. Meningkatnya
guided inquiry mampu meningkatkan keteram- hasil belajar kognitif siswa pada kelas ekspe-
pilan proses sains siswa. rimen dan kelas kontrol disebabkan oleh keter-
Secara keseluruhan semua aspek keteram- libatan siswa selama proses pembelajaran ber-
pilan proses sains pada kelas eksperimen mem- langsung. Model pembelajaran guided inquiry
punyai nilai peningkatan yang lebih tinggi memusatkan pembelajaran pada siswa. Siswa
dibanding dengan nilai peningkatan kelas menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran
kontrol. memperoleh pengetahuan melalui pengalaman
Berdasarkan hasil penelitian yang saya langsung, bukan hanya sekedar mendengar dan
lakukan didapatkan nilai faktor N-Gain kelas menerima pengetahuan atau informasi dari apa
kelas eksperimen 0,54 lebih besar dari kelas yang dikatakan oleh guru saja (Wijayanti,
kontrol 0,33. Sedangkan pada penelitian sebe- Mosik, & Hindarto, 2016).
lumnya oleh Subagyo, Wiyanto, & Marwoto Berdasarkan hasil analisis data uji-t per-
(2012) yang memiliki kesamaan dalam peneliti- bedaan rata-rata nilai posttest hasil belajar
an ini didapatkan hasil nilai peningkatan N-Gain kongitif antara kelas eksperimen dan kelas
keterampilan proses sains sebesar 0,478. Se- kontrol menunjukkan uji hipotesis menggunakan
dangkan hasil penelitian Saputra, Widoretno, & independent samples t test diperoleh Sig. (2-
Santosa (2012) menghasilkan nilai rata-rata KPS tailed) < 0,05 menunjukkan bahwa terdapat
sebesar 68,48.Selain itu, hasil penelitian perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai
Rahmazani (2017) menghasilkan nilai posttest kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
peningkatan N-Gain keterampilan proses sains Pembelajaran guided inquiry lebih efektif
sebesar 0,49. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada
penelitian yang saya lakukan mendapatkan hasil materi pokok pemantulan cahaya dibanding
yang lebih baik dari penelitian yang dengan model pembelajaran DI dengan nifai
sebelummya. nilai faktor N-Gain kelas eksperimen mencapai
Maka dapat disimpulkan bahwa model 0,53 lebih besar dari nilai faktor N-Gain kelas
pembelajaran guided inquiry dapat meningkat- kontrol mencapai 0,38. Sedangkan pada peneliti-
kan keterampilain proses sains siswa. Sejalan an sebelumnya oleh Subagyo, Wiyanto, &
dengan hasil penelitian Ongowo & Indoshi Marwoto (2012) dan Rahmazani (2017) yang

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 157
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

memiliki kesamaan dalam penelitian ini didapat- termasuk kategori sedang, selain itu
kan hasil penelitian peningkatan hasil belajar menunjukkan bahwa hubungan kedua variabel
sebesar 0,219 dan 0,50. Hal ini menunjukkan sangat signifikan.
bahwa penelitian yang saya lakukan mendapat- Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
kan hasil yang lebih baik dari penelitian yang Yuniastuti (2013) yang menyatakan bahwa
sebelummya. penerapan model pembelajaran guided inquiry
Jadi dapat disimpulkan bahwa model di dalam kelas memicu terjadinya kenaikan
pembelajaran guided inquiry lebih efektif keterampilan proses sains siswa dalam melaku-
meningkatkan hasil belajar kognitif siswa.Hal kan percobaan sehingga berdampak pada
ini dikarenakan, model pembelajaran guided kenaikan motivasi belajar. Sedangkan hasil
inquiry memusatkan pembelajaran pada siswa. belajar mengalami peningkatan sebagai dampak
Siswa menjadi lebih aktif dalam proses dari kenaikan keterampilan proses sains dan
pembelajaran Sejalan dengan hasil penelitian motivasi belajar.
Alanindra dkk (2012)& Yuniastuti (2013) bah- Sehingga dapat disimpulkan bahwa sema-
wa model pembelajaran inkuiri dapat mening- kin besar nilai keterampilan proses sains siswa
katkan hasil belajar kognitif siswa. maka semakin besar pula hasil belajar kognitif
Berdasarkan hasil penelitian Murningsih, siswa. Sebaliknya, semakin kecil nilai keteram-
Masykuri, & Mulyani (2016) bahwa penerapan pilan proses sains siswa maka semakin kecil
model pembelajaran guided inquiry dapat pula hasil belajar kognitif siswa.
meningkatan hasil belajar aspek kognitif. Hal ini
Besarnya Pengaruh Penerapan Model
dikarenakan model pembelajaran guided inquiry
Pembelajaran Guided inquiry terhadap
siswa dibimbing untuk menemukan konsep dari
Peningkatan KPS dan Hasil Belajar Siswa
pengamatan sehingga siswa lebih mudah meng-
abstraksikan ke dalam pikiran. Untuk mengetahui besarnya pengaruh
Walaupun hasil penelitian belum semua- penerapan model pembelajaran guided inquiry
nya tercapai dengan hasil yang sangat baik, hal terhadap keterampilan proses sains dan hasil
ini dikarenakan siswa belum terbiasa dengan belajar siswa diperoeh dari hasil koefisien
model pembelajaran guided inquiry determinasi. Berdasarkan hasil analisis koefisien
(Damawiyah & Sani, 2015). Sehingga determinasi menunjukkan bahwa besarnya
dibutuhkan waktu penyesuaian dengan siswa pengaruh model pembelajaran guided inquiry
saat proses pembel-ajaran berlangsung. Oleh terhadap peningkatan keterampilan proses sains
sebab itu hendaknya dalam proses pembelajaran dan hasil belajar kognitif siswa mencapai
sebaiknya siswa diajarkan dengan menggunakan 30,69%.
model pembel-ajaran yang lebih variatif supaya Peningkatan keterampilan proses sains
siswa mampu memahami materi pelajaran mengakibatkan terjadinya peningkatan pada
secara efektif dan efisien. prestasi hasil belajar. Siswa dengan keteram-
pilan proses sains tinggi mampu melakukan
Korelasi Keterampilan Proses Sains terhadap
percobaan dengan baik, sehingga siswa lebih
Hasil Belajar Siswa
mudah dalam memahami materi yang diajarkan
Untuk mengetahui korelasi keterampilan melalui pelaksanaan percobaan. Hal ini ber-
proses sains terhadap hasil belajar siswa diguna- dampak pada hasil belajar siswa yakni siswa
kan uji korelasi pearson, dimana variabel bebas- dengan keterampilan proses sains tinggi akan
nya adalah nilai posttest keterampilan proses memiliki prestasi kognitif yang lebih baik
sains sedangkan variabel terikatnya adalah nilai daripada siswa dengan keterampilan proses sains
posttest hasil belajar kognitif siswa. Kedua rendah. Keterampilan proses sains pada siswa
variabel telah diuji normalitasnya dan termasuk dapat terbentuk dan dikembangkan dengan
terdistribusi normal. Hasil output uji korelasi kebiasaan yang dilakukan dan dilatih terus
pearson disajikan pada Tabel 3. menerus pada proses pembelajaran (Ariani,
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai Hamid, & Leny, 2017).
r(35)=0,554; hal ini menunjukkan bahwa hu-
bungan antara kedua variabel merupakan positif,

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 158
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

Tabel 3 Hasil Uji Korelasi (Korelasi Pearson) antar Dua Variabel


Keterampilan proses Sains Hasil Belajar Kognitif
Keterampilan proses Sains Pearson Correlation 1 ,554**
Sig. (2-tailed) ,001
N 35 35
Hasil Belajar Kognitif Pearson Correlation ,554** 1
Sig. (2-tailed) ,001
N 35 35
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Berdasarkan hasil penelitian Kang & pengaruh pembelajaran guided inquiry terhadap
Keinonen (2017) bahwa model pembelajaran keterampilan proses sains dan hasil belajar
guided inquiry memberikan pengaruh positif kognitif siswa sebesar 30,69%
yang kuat terhadap prestasi siswa dan minat Berdasarkan simpulan di atas, saran yang
siswa. Hal ini model pembelajaran guided dapat direkomendasikan yaitu agar pelaksanaan
inquiry berorientasi tidak hanya pada hasil model pembelajaran guided inquiry dapat
belajar tetapi juga berorientasi pada proses dilaksanakan dengan maksimal, diperlukan
pembelajaran. Selain itu, hasil penelitian ini juga pengondisian kesiapan siswa dengan menerap-
sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan kan model pembelajaran guided inquiry secara
oleh Subagyo, Wiyanto, & Marwoto (2012) berkala. Selain itu, perlu dilakukan penelitian
bahwa hasil belajar siswa dapat ditingkatkan lebih lanjut menggunakan model pembelajaran
dengan pendekatan keterampilan proses pada guided inquiry sebagai alternatif untuk mening-
pokok bahasan suhu dan pemuaian. katkan keterampilan proses sains siswa dan
Berdasarkan hasil penelitian menunjuk- mengukur aspek lainnya seperti karakteristik
kan bahwa hasil yang didapatkan sudah sesuai siswa.
dengan yang diharapkan yakni model
DAFTAR PUSTAKA
pembelajaran guided inquiry dapat memberikan
pengaruh positif terhadap keterampilan proses Abungu, H. E., Okere, M. I. O., & Wachanga, S.
sains dan hasil belajar kognitif siswa. Sesuai W. (2014). The effect of science process
dengan hasil penelitian Udiani, Marhaeni, & skills teaching approach on secondary
Arnyana (2017) bahwa keterampilan proses school students’ achievement in chemistry
sains mempunyai pengaruh positif terhadap hasil in Nyando District, Kenya. Journal of
belajar IPA siswa ketika menggunakan pembel- Educational and Social Research (Vol.
ajaran model guided inquiry. Siswa yang diajar 4). Retrieved from
dengan model pembelajaran guided inquiry http://www.mcser.org/journal/index.php/j
mempunyai keterampilan proses sains yang esr/article/view/4101
tinggi dan hasil belajar kognitif lebih tinggi. Ahtee, M., Suomela, L., Juuti, K., Lampiselkä,
Sejalan dengan hasil penelitian Subekti & J., & Lavonen, J. (2012). Primary school
Ariswan (2016) bahwa model pembelajaran student teachers’ views about making
guided inquiry melalui metode eksperimen observations. Nordic Studies in Science
memberikan pegnaruh positif yang signifikan Education, 5(2), 128.
terhadap peningkatan keterampilan proses sains https://doi.org/10.5617/nordina.346
dan hasil belajar fisika aspek kognitif Akinbobola, A. O., & Afolabi, F. (2010).
SIMPULAN Analysis of science process skills in West
African senior secondary school
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
certificate physics practical examinations
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Model
in Nigeria. Bulgarian Journal of Science
pembelajaran guided inquiry dapat meningkat-
and Education Policy (BJSEP), 4(1), 32–
kan keterampilan proses sains siswa dengan
47. Retrieved from
peningkatan 0,52 termasuk kategori sedang serta
http://bjsep.org/getfile.php?id=64
hasil belajar kognitif siswa dengan peningkatan
0,53 termasuk kategori sedang. Model pembel- Ambarsari, W., Santosa, S., & Maridi, M.
ajaran guided inquiry berpengaruh positif (2013). Penerapan pembelajaran inkuiri
terhadap keterampilan proses sains dan hasil terbimbing terhadap keterampilan proses
belajar kognitif siswa r(35)=0,554. Besarnya sains dasar pada pelajaran biologi siswa
kelas VIII SMP Negeri 7 Surakarta.

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 159
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

Pendidikan Biologi, 5(1). Retrieved from B. (2016). Penerapan model pembelajaran


http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/bio/a inkuiri terbimbing untuk meningkatkan
rticle/view/1441 sikap ilmiah dan prestasi belajar kimia
Ariani, M., Hamid, A., & Leny, L. (2017). siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA,
Meningkatkan keterampilan proses sains 2(2), 177.
dan hasil belajar siswa pada materi koloid https://doi.org/10.21831/jipi.v2i2.11196
dengan model inkuiri terbimbing (guided Ongowo, R. O., & Indoshi, F. C. (2013).
inquiry) pada siswa kelas XI IPA 1 SMA Science process skills in the Kenya
Negeri 11 Banjarmasin. Quantum (Jurnal certificate of secondary education biology
Inovasi Pendidikan Sains), 6(1). practical examinations. Creative
Retrieved from Education, 4(11), 713–717.
http://ppjp.unlam.ac.id/journal/index.php/ https://doi.org/10.4236/ce.2013.411101
quantum/article/view/3242 Rahmasiwi, A., Santosari, S., & Sari, D. P.
Bilgin, I. (2009). The effects of guided inquiry (2015). Peningkatan keterampilan proses
instruction incorporating a cooperative sains siswa dalam pembelajaran biologi
learning approach on university students’ melalui penerapan model pembelajaran
achievement of acid and bases concepts inkuiri di kelas XI MIA 9 (ICT) SMA
and attitude toward guided inquiry Negeri 1 Karanganyar tahun pelajaran
instruction. Scientific Research and 2014/2015. In Seminar Nasional XII
Essay, 4(10), 1038–1046. Retrieved from Pendidikan Biologi FKIP UNS 2015 (pp.
http://www.academicjournals.org/sre 428–433). Surakarta: Universitas Sebelas
Cheung, D. (2007). Facilitating chemistry Maret. Retrieved from
teachers to implement inquiry-based https://media.neliti.com/media/publication
laboratory work. International Journal of s/174936-ID-none.pdf
Science and Mathematics Education, 6(1), Ratunguri, Y. (2016). Implementasi metode
107–130. https://doi.org/10.1007/s10763- pembelajaran eksperimen untuk
007-9102-y meningkatkan keterampilan proses sains
Damawiyah, S., & Sani, R. A. (2015). Pengaruh mahasiswa PGSD. PEDAGOGIA: Jurnal
model pembelajaran inkuiri terbimbing Pendidikan, 5(2), 137–146. Retrieved
terhadap hasil belajar siswa pada materi from
pokok usaha dan energy di kelas VIII http://ojs.umsida.ac.id/index.php/pedagog
semester II SMP Negeri 1 Pagajahan. ia/article/view/243/pdf
INPAFI (Inovasi Pembelajaran Fisika), Rauf, R. A. A., Rasul, M. S., Mansor, A. N.,
3(2). Othman, Z., & Lyndon, N. (2013).
Eggen, P., & Kauchak, D. (2012). Strategi dan Inculcation of science process skills in a
model pembelajaran. Jakarta: Indeks. science classroom. Asian Social Science,
9(8), 47.
Kang, J., & Keinonen, T. (2017). The effect of
https://doi.org/10.5539/ass.v9n8p47
student-centered approaches on students’
interest and achievement in science: Saputra, A., Widoretno, S., & Santosa, S.
Relevant topic-based, open and guided (2012). Increasing students science
inquiry-based, and discussion-based process skills and achievement through
approaches. Research in Science the implementation of guided inquiry
Education, 1–21. learning strategy of class VIII-F SMP
https://doi.org/10.1007/s11165-016-9590- Negeri 5 Surakarta class year 2011/2012.
2 Bio-Pedagogi, 1(1), 36–45. Retrieved
from
Maretasari, E., Subali, B., & Hartono, H. (2012).
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pdg/
Penerapan model pembelajaran inkuiri
article/view/1120
terbimbing berbasis laboratorium untuk
meningkatkan hasil belajar dan sikap Scott, C., Tomasek, T., & Matthews, C. E.
ilmiah siswa. Unnes Physics Education (2010). Thinking like a ssssscientist!
Journal, 1(2). Science and Children, 48(1), 38.
https://doi.org/10.15294/upej.v1i2.1375 Subagyo, Y., Wiyanto, W., & Marwoto, P.
Murningsih, I. M. T., Masykuri, M., & Mulyani, (2012). Pembelajaran dengan pendekatan

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 3 (2), 2017 - 160
I. Iswatun, M. Mosik, Bambang Subali

keterampilan proses sains untuk keterampilan proses sains siswa kelas IV


meningkatkan penguasaan konsep suhu SD no.7 Benoa Kecamatan Kuta Selatan
dan pemuaian. Jurnal Pendidikan Fisika Kabupaten Badung. Jurnal Penelitian
Indonesia, 5(1). Pascasarjana Undiksa, 7(1). Retrieved
https://doi.org/10.15294/jpfi.v5i1.999 from http://pasca.undiksha.ac.id/e-
Subekti, Y., & Ariswan, A. (2016). journal/index.php/jurnal_pendas/article/vi
Pembelajaran fisika dengan metode ew/2242
eksperimen untuk meningkatkan hasil Ural, E. (2016). The effect of guided-inquiry
belajar kognitif dan keterampilan proses laboratory experiments on science
sains. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, education students’ chemistry laboratory
2(2), 252. attitudes, anxiety and achievement.
https://doi.org/10.21831/jipi.v2i2.6278 Journal of Education and Training
Sukarno, S., Permanasari, A., & Hamidah, I. Studies, 4(4), 217–227.
(2013). The profile of science process https://doi.org/10.11114/jets.v4i4.1395
skill (SPS) student at secondary high Wijayanti, P. I., Mosik, M., & Hindarto, N.
school (Case study in Jambi). (2016). Eksplorasi kesulitan belajar siswa
International Journal of Scientific pada pokok bahasan cahaya dan upaya
Engineering and Research (IJSER) peningkatan hasil belajar melalui
Www.ijser.in ISSN (Online, 1(1), 2347– pembelajaran inkuiri terbimbing. Jurnal
3878. Retrieved from Pendidikan Fisika Indonesia, 6(1).
http://www.ijser.in/archives/v1i1/MDEx https://doi.org/10.15294/jpfi.v6i1.1093
MzA5MTg=.pdf Yuniastuti, E. (2013). Peningkatan keterampilan
Trianto, T. (2010). Model pembelajaran proses, motivasi, dan hasil belajar biologi
terpadu: Konsep, strategi, dan dengan strategi pembelajaran inkuiri
implementasinya dalam Kurikulum terbimbing pada siswa kelas VII SMP
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kartika V-1 Balikpapan.
Jakarta: Bumi Aksara. EDUCATIONIST: Jurnal Kajian Filosofi,
https://doi.org/2010 Teori, Kualitas, Dan Manajemen
Udiani, N. K., Marhaeni, A. A. I. N., & Pendidikan, 14(1). Retrieved from
Arnyana, I. B. P. (2017). Pengaruh model http://ejournal.upi.edu/index.php/JER/arti
pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap cle/viewFile/3509/2489
hasil belajar IPA dengan mengendalikan

Copyright © 2017, Jurnal Inovasi Pendidikan IPA


ISSN 2406-9205 (print), ISSN 2477-4820 (online)