Anda di halaman 1dari 16

Cover

Kata pengatar
Daftar isi
BAB I

PENDAHULUAN
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

A. Konsep Diri
Konsep diri (self concept) merupakan masalah psikososial yang tidak didapat
sejak lahir, akan tetapi bertahap sesuai dari pengalaman seseorang terhadap dirinya.
Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan, serta pendirian sebagai
suatu nilai yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan
dengan orang lain termasuk karakter, nilai, ide, tujuan, kemampuan (Hidayat, 2006).
Konsep diri adalah representative fisik seorang individu, pusat inti dari “ Aku”
dimana semua pesepsi dan pengalaman terorganisir. Konsep diri adalah kombinasi
dinamis yang dibentuk selama bertahun-tahun yang didasarkan pada:
1). Reaksi orang lain terhadap tubuh seseorang;
2). Persepsi berkelanjutan tentang reaksi orang lain terhadap diri;
3). Hubungan diri dengan orang lain;
4).Struktur kepribadian;
5).Persepsi terhadap stimulus yang mempunyai dampak terhadap diri;
6).Pengalaman baru atau sebelumnya;
7).Perasaan saat ini tentang fisik, emosional, social diri;
8).Harapan tentang diri ( Potter, 2005).
Konsep diri terdiri dari lima komponen antara lain :
a. Citra tubuh (body image)
Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan
tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang,
serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Yang secara
berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman baru (
Sundden, 2006). Citra tubuh membentuk persesi seseorang tentang tubuh, baik
secara internal maupun eksternal. Persepsi mencakup perasaaan dan sikap
yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi
tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi dari pandangan
orang lain ( Potter, 2005) 11 Citra tubuh adalah Sikap sesesorang terhadap
tubuhnya baik secara sadar maupun tidak sadar. Persepsi dan perasaan tentang
ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan serta potensi tubuh saat ini dan masa
lalu. Jika individu menerima dan menyukai dirinya, merasa aman dan bebas
dari rasa cemas self esteem meningkat. Citra tubuh sangat terkait dengan : 1).
Fokus individu terhadap fisik yang menonjol; bentuk tubuh, TB, dan BB;
Organ seksual/ reproduksi. Individu memandang diri dengan cara : 1).
Gambaran realistis terhadap menerima dan menyukai bagian-bagian tubuh;
stabilitas psikologis Factor lain yang berpengaruh terhadap citra tubuh adalah
sosiokultural, jenis kelamin, status hubungan, agama, dan kondisi fisik. Stresor
yang dapat menyebabkan perubahan / terjadinya gangguan citra tubuh adalah
stroke, amputasi, buta, obesitas dan perubahan fisik pada remaja, dan lain-lain
( Kusumawati & Yudi, 2010).
b. Ideal diri
Ideal diri ialah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya
berperilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal ( Sundden,
2006). Persepsi individu seseorang tentang bagaimana ia berperilaku sesuai
dengan standar perilaku. Ideal diri ini dapat mewujudkan harapan serta cita-
cita pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe seseorang yang di
inginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai yang ingin dicapai. Ideal diri
adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan
standar ( Wartonah, 2004). Ideal diri adalah persepsi individu tentang
bagaimana ia harus berperilaku sesuai standar pribadi; Dibentuk oleh
gambaran tipe oranng yang diinginkan; Sejumlah aspirasi, nilai, dan tujuan
yang dicapai; Berdasarkan norma masyarakat dan usaha individu untuk
memenuhi; Dipengaruhi oleh budaya, keluarga, dan kemampuan individu;
Tidak terlalu tinggi, tetapi harus cukup untuk memberi dukungan secara
kontinu pada self respect ( Kusumawati & Yudi, 2010).
c. Harga diri
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang
diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan
ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam
penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan dengan kesalahan,
kekalahan dan kegagalan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan
berharga ( Sundden, 2006). Harga diri (self-esteem) adalah penilaian individu
tentang dirinya dengan menganalisis,sejauh mana perilaku untuk memenuhi
ideal diri. Ideal diri ini dapat dipengaruhi oleh suatu penghargaan diri sendiri
maupun dari orang lain, jika seseorang sukses maka harga dirinya akan tinggi
dan sebaliknya jika harga dirinya mengalami kegagalan maka cenderung harga
diri menjadi rendah ( Wartonah, 2004). Harga diri adalah penilaian pribadi
terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa jauh perilaku
memenuhi ideal diri; Merupakan bagian dari kebutuhan manusia ( Maslow);
Adalah perasaan individu tentang nilai / harga diri, manfaat, dan keefektifan
dirinya; Pandangan seseorang tentang dirinya secara keseluruhan berupa
positif atau negative, “ Most of the time I feel really good about myself”.
Harga diri diperoleh dari diri dan orang lain yang dicintai, mendapat perhatian,
dan respek dari orang lain. Harga diri dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu:
1). Ideal diri: harapan, tujuan, nilai, dan standar perilaku yang ditetapkan; 2).
Interaksi dengan orang lain; 3). Norma social; 4). Harapan orang terhadap
dirinya dan kemampuan dirinya untuk memenuhi harapan tersebut; 5). Harga
diri tinggi: seimbang antar ideal diri dengan konsep diri; 6). Harga diri rendah:
adanya kesenjangan antara ideal diri dengan konsep diri.
Ciri-ciri harga diri rendah adalah sebagai berikut: 1). Perasan bersalah /
penyesalan; 2). Menghukum diri; 3). Merasa gagal; 4). Gangguan hubungan
interpersonal; 5). Mengkritik diri sendiri dan orang lain. Menganggap diri
lebih penting dari orang lain ( Kusumawati & Yudi, 2010).
d. Peran diri
Peran diri adalah rangkaian perilaku yang diharapkan oleh lingkungan
social yang berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok social.
Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai
pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih dengan
individu ( Sundden, 2006). Peran adalah seperangkat pola perilaku yang
diharapkan secara social yang berhubungan dengan fungsi individu di
berbagai kelompok social ( Kusumawati & Yudi, 2010).
e. Identitas diri
Identitas diri / personal adalah pengorganisasian prinsip dari
kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan,
konsisten, dan keunikan individu. Mempunyai konotasi otonomi dan meliputi
persepsi seksualitas seseorang. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi
dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada
masa remaja ( Sundden, 2006). Identitas Diri adalah kesadaran akan diri
sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesis
dari semua aspek konsep diri sebagaisuatu yang utuh; Berhubungan dengan
perasaan berbeda dengan orang lain; Berhubungan dengan jenis kelamin.
Identitas mencakup rasa internal tentang individualitas, keutuhan, dan
konsistensi dari seseorang sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi.
Karenanya konsep tentang identitas mencakup konstansi dan kontinuitas.
Identitas menunjukkan menjadi diri yang utuh dan unik.Sesuai dengan kultur
yang diterima anak mulai belajar tentang nilai, perilaku, dan peran ( Potter,
2005).

B. Pengertian Konsep Kesehatan Spiritual


Spirituality atau spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas
atau udara, spirit memberikan hidup,menjiwai seseorang. Spirit memberikan arti
penting ke hal apa saja yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan
seseorang (Dombeck,1995). Spiritual adalah konsep yang unik pada masing-masing
individu (Farran et al, 1989). Masing-masing individu memiliki definisi yang berbeda
mengenai spiritual, hal ini dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman
hidup dan ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Spiritual menghubungkan antara
intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri), interpersonal (hubungan antara diri
sendiri dan orang lain), dan transpersonal (hubungan antara diri sendiri dengan
tuhan/kekuatan gaib). Spiritual adalah suatu kepercayaan dalam hubungan antar
manusia dengan beberapa kekuatan diatasnya, kreatif, kemuliaan atau sumber energi
serta spiritual juga merupakan pencarian arti dalam kehidupan dan pengembangan
dari nilai-nilai dan sistem kepercayaan seseorang yang mana akan terjadi konflik bila
pemahamannya dibatasi.
Dalam hierarki kebutuhan manusia, kesehatan spiritual tampak untuk pemenuhan
yang mengandung arti dari kebutuhan melebihi tingkat aktualisasi diri. Kesehatan
spiritual berkaitan erat dengan dimensi lain dan dapat dicapai jika terjadi
keseimbangan dengan dimensi lain (fisiologis, psikologis, sosiologis, kultural). Peran
perawat adalah bagaimana perawat mampu mendorong klien untuk meningkatkan
spiritualitasnya dalam berbagai kondisi, Sehingga klien mampu menghadapi,
menerima dan mempersiapkan diri terhadap berbagai perubahan yang terjadi pada diri
individu tersebut.
 Pengertian Agama dan Hubungannya dengan Sehat dan Sakit
Agama merupakan suatu system ibadah yang terorganisir atau teratur.
Agama mempunyai keyakinan sentral, ritual, dan praktik yang biasanya
berhubungan dengan kehilangan,kematian dan berduka,perkawinan dan
keselamatan/penyelamatan (salvation). Agama mempunyai aturan-aturan
tertentu yang dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari yang memberikan
kepuasan bagi yang menjalankannya. Perkembangan keagamaan individu
merujuk pada penerimaan keyakinan, nilai, aturan dan ritual tertentu.
Agama merupakan petunjuk perilaku karena di dalam agama terdapat ajaran
baik dan larangan yang dapat berdampak pada kehidupan dan kesehatan
seseorang, contohnya minuman beralkohol sesuatu yang dilarang agama dan
akan berdampak pada kesehatan bila di konsumsi manusia. Agama sebagai
sumber dukungan bagi seseorang yang mengalami kelemahan (dalam keadan
sakit) untuk membangkitkan semangat untuk sehat, atau juga dapat
mempertahankan kesehatan untuk mencapai kesejahteraan. Sebagai contoh
orang sakit dapat memperoleh kekuatan dengan menyerahkan diri atau
memohon pertolongan dari Tuhannya.
Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap
manusia. Apabila seseorang dalam keadaan sakit, maka hubungan dengan
Tuhannya pun semakin dekat, mengingat seseorang dalam kondisi sakit
menjadi lemah dalam segala hal, tidak ada yang mampu membangkitkan dari
kesembuhan, kecuali Sang Pencipta. Dalam pelayanan kesehatan, perawat
sebagai petugas kesehatan harus memiliki peran utama dalam memenuhi
kebutuhan spiritual. Perawat dituntut mampu memberikan pemenuhan yang
lebih pada saat pasien kritis atau menjelang ajal. Dengan demikian, terdapat
keterkaitan antara keyakinan dengan pelayanan kesehatan, di mana kebutuhan
dasar manusia yang diberikan melalui pelayanan kesehatan tidak hanya
berupa aspek biologis, tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual dapat
membantu membangkitkan semangat pasien dalam proses penyembuhan.

C. Konsep Seksualitas
Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Lingkupan
seksualitas suatu yang lebih luas dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan
kegiatan hubungan fisik seksual. Kondisi Seksualitas yang sehat juga menunjukkan
gambaran kualitas kehidupan manusia, terkait dengan perasaan paling dalam, akrab
dan intim yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam, dapat berupa pengalaman,
penerimaan dan ekspresi diri manusia. Seks adalah perbedaan badani atau biologis
perempuan dan laki-laki, yang sering disebut jenis kelamin yaitu penis untuk laki-laki
dan vagina untuk perempuan. Seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat
luas, yaitu dimensi biologis, sosial, perilaku dan kultural. Seksualitas dari dimensi
biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagaimana
menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan
seksual (BKKBN, 2006). Seksualitas dari dimensi psikologis erat kaitannya dengan
bagaimana menjalankan fungsi sebagai mahluk seksual, identitas peran atau jenis
(BKKBN, 2006). Dari dimensi sosial dilihat pada bagaimana seksualitas muncul
dalam hubungan antar manusia, bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk
pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seks (BKKBN,
2006). Dimensi perilaku menerjemahkan seksualitas menjadi perilaku seksual, yaitu
perilaku yang muncul berkaitan dengan dorongan atau hasrat seksual (BKKBN,
2006).
 Sikap Terhadap Kesehatan Seksualitas
Kesehatan seksual adalah kemampuan seseorang mencapai kesejahteraan fisik,
mental dan sosial yang terkait dengan seksualitas, hal ini tercermin dari
ekspresi yang bebas namun bertanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan
sosialnya misalnya dalam menjaga hubungan dengan teman atau pacar dalam
batasan yang diperbolehkan oleh norma dalam masyarakat atau agama. Bukan
hanya tidak adanya kecacatan, penyakit atau gangguan lainnya. Kondisi ini
hanya bisa dicapai bila hak seksual individu perempuan dan laki-laki diakui
dan dihormati (BKKBN, 2006).
D. Konsep Stres
Stres merupakan respons tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap
tuntutan atau beban atasnya (Selye, 1950 dalam Aziz, 2009). Stres adalah segala
situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespon
atau melakukan tindakan. Respon atau tindakan ini termasuk respon fisiologis dan
psikologis. Stres dapat menyebabkan respon negatif atau berlawanan dengan apa yang
di inginkan atau mengancam kesejahteraan emosional (Potter & Perry, 2005). Stres
merupakan reaksi tertentu yang muncul pada tubuh yang bisa disebabkan oleh
berbagai tuntutan, misalnya ketika manusia menghadapi tantangan-tantangan
(challenge) yang penting, ketika dihadapkan pada ancaman (threat), atau ketika harus
berusaha mengatasi harapan-harapan yang tidak realistis dari lingkungannya. Stres
adalah kondisi yang tidak menyenangkan dimana adanya tuntutan dalam suatu situasi
sebagai beban atau diluar batas kemampuan individu untuk memenuhi tuntutan
tersebut sehingga mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan
tindakan(Patel, 1996 dalam Nasir & Muhith, 2011). Stres adalah suatu kondisi atau
situasi internal atau lingkungan yang membebankan tuntutan penyesuaian terhadap
individu yang bersangkutan. Universitas Sumatera Utara 9 Keadaan stres cenderung
menimbulkan usaha ekstra dan penyesuaian baru, tetapi dalam waktu yang lama akan
melemahkan pertahanan individu dan menyebabkan ketidakpuasan (Goldenso, 1970
dalam Saam & Wahyuni, 2014). Dengan demikian, stres adalah situasi yang tidak
menyenangkan yang disebabkan oleh adanya tuntutan sebagai beban sehingga
mengharuskan individu untuk berespons secara respon fisiologis maupun psikologis.

E. Konsep Kehilangan
Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu
dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan
cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda.
Kehilangan adalah penarikan sesuatu atau seseorang atau situasi yang berharga atau
bernilai, baik sebagai pemisahan yang nyata maupun yang diantisipasi. Kehilangan
pribadi adalah segala kehilangan signifikan yang membutuhkan adaptasi melalui
proses berduka. Kehilangan terjadi apabila sesuatu atau seseorang tidak dapat lagi
ditemui, diraba, diketahui atau dipahami. Tipe dari kehilangan memengaruhi tingkat
distress. Misalnya, kehilangan benda mungkin tidak menimbulkan distress yang sama
ketika kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. Namun demikian, setiap individu
berespon terhadap kehilangan secara berbeda. Kematian seorang anggota keluarga
mungkin menyebabkan distress lebih besar dibanding dengan saudaranya yang sudah
tidak lagi bertemu selama bertahun-tahun. Tipe kehilangan penting artinya untuk
proses berduka. Namun perawat harus mengenali bahwa setiap interpretasi seseorang
tentang kehilangan sangat bersifat individualis.
Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan
asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga
yang mengalami kehilangan dan berduka. Penting bagi perawat memahami
kehilangan dan berduka. Ketika merawat klien dan keluarga, perawat juga mengalami
kehilangan pribadi ketika hubungan klien-keluarga-perawat berakhir karena
perpindahan, pemulangan, penyembuhan atau kematian. Perasaan pribadi, nilai dan
pengalaman pribadi memengaruhi seberapa jauh perawat dapat mendukung klien dan
keluarganya selama kehilangan dan kematian (Potter dan Perry, 2005). Kehilangan
adalah situasi actual dan potensial ketika sesuatu (orang atau objek) yang dihargai
telah berubah, tidak lagi ada atau menghilang. Seseorang dapat kehilangan citra
tubuh, orang terdekat, perasaan sejahtera, pekerjaan, barang milik pribadi, keyakinan
atau sense of self- baik sebagian maupun keseluruhan. Peristiwa kehilangan dapat
terjadi secara tiba-tiba atau bertahap sebagai sebuah pengalaman traumatic.
Kehilangan sendiri dianggap sebagai kondisi kritis, baik kritis situasional ataupun
kritis perkembangan. Dalam hal ini persepsi individu, tahap perkembangan,
mekanisme koping dan sistem pendukungnya sangatlah berpengaruh terhadap respon
individu dalam mengahdapi proses kehilangan tersebut. Apabila proses kehilangan
tidak dibarengi dengan koping yang positif atau penanganan yang baik, pada akhirnya
akan berpengaruh pada perkembangan individu atau port of beingmaturnya.
Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan.
Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu
tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara
bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasan atau traumatic, diantisiapsi atau tidak
diharapkan atau diduga, sebagian atau total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali.
Menurut Lambert dan Lambert (1985) Kehilangan adalah suatu individu yang
berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik
terjadi sebagian atau keseluruhan. Kehilangan dapat bersifat actual atau dirasakan.
Kehilangan yang bersifat actual dapat dengan mudah didentifikasi, misalnya seorang
anak yang teman supermainannya pindah rumah atau seorang dewasa yang
kehilangan pasangan akibat bercerai. Kehilangan yang dirasakan kurang nyata dan
dapat disalah artikan, seperti kehilangan kepercayaan diri atau prestise. Makin dalam
makna kata yang hilang, maka makin besar rasa kehilangan tersebut.

F. Konsep Kematian
Secara etimologi yaitu keadaan mati atau kematian. Sementara secara
definitive. Kematian adalah terhentinya fungsi jantung dan paru-paru secara menetap,
atau terhentinya kerja otak secara permanen. Kematian merupakan peristiwa alamiah
yang dihadapi oleh manusia. Pemahaman akan kematian memengaruhi sikap dan
tingkah laku seorang terhadap kematian.
Beberapa konsep tentang kematian sebagai berikut :
a. Mati sebagai terhentinya darah yang mengalir. Konsep ini bertolak dari
criteria mati berupa terhentinya jantung. Dalam PP Nomor 18 tahun
1981 dinyatakan bahwa mati adalah berhentinya fungsi jantung dan
paru-paru. Namun criteria ini sudah ketinggalan zaman. Dalam
pengalaman kedokteran, tekhnologi resusitasi telah memungkinkan
jantung dan paru-paru yang semula terhenti dapat dipulihkan kembali.
b. Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh. Konsep ini
menimbulkan keraguan karena, misalnya pada tindakan resusitasi yang
berhasil, keadaan demikian menimbulkan kesan seakan-akan dapat
ditarik kembali.
c. Hilangnya kemampuan tubuh secara permanen. Konsep inipun
dipertanyakan karena organ-organ berfungsi sendiri-sendiri tanpa
terkendali karena otak telah mati. Untuk kepentingan transplantasi,
konsep ini menguntungkan. Namun, secara moral tidak dapat diterima
karena kenyataannya organ-organ masih berfungsi meskipun tidak
terpadu lagi.
d. Hilangnya manusia secara permanen untuk kembali sadar dan
melakukan interaksi sosial. Bila dibandingkan dengan manusia sebagai
makhluk sosial, yaitu individu yang mempunyai kepribadian,
menyadari kehidupannya, kemampuan mengingat, mengambil
keputusan dan sebagainya, maka penggerak dari otak, baik secara fisik
maupun sosial, makin banyak dipergunakan. Pusat pengendali ini
terletak dalam bidang otak. Oleh karena itu, jika batang otak telah
mati, dapat diyakini bahwa manusia itu secara fisik dan sosial telah
mati. Dalam keadaan sperti ini, kalangan medis sering menempuh
pilihan tidak meneruskan resusitasi, DNR (do not resusciation).
Dying dan death (menjelang ajal dan mati), dua istilah yang sulit untuk
dipisahkan satu dan yang lain, serta merupakan suatu fenomena tersendiri. Dying
lebih kearah suatu proses. Sedangkan death merupakan akhir dari hidup.Terdapat
kontroversi kecil tentang arti dari death. Kebanyakan orang lebih menerima bahwa
berhentinya pernapasan dan denyut jantung serta ketidak mampuan reflex corneal
merupakan data/tanda yang cukup bagi death. Tetapi tidak selamanya
demikian.Sekarang lebih mungkin untuk memperhatikan respirasi dan sirkulasi
seseorang dengan menggunakan obat-obatan, mesin, organ tiruan, dan transplantasi.

G. Konsep Berduka
Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang
dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan
lain-lain. Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan.
NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan
berduka disfungsional.
a. Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman
individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang
dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan
fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas
normal.
b. Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan
pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu
kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan, objek dan
ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke
tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.
BAB III

PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, Iqbal Wahit dkk. 2015. Ilmu Dasar Keperawatan. Salemba Medika, Jakarta
Selatan

Putri, Rosiana. 2013. Asuhan Keperawatan Berduka Situasional. Jakarta, UI

Yosep, Iyus, S.Kep, M.Si. revisi april 2009,2010. Keperawatan Jiwa , Bandung: PT Refika
Aditama