Anda di halaman 1dari 18

BAB XV

MUSYARAKAH

A. Pengertian Musyarakah

1. Secara Etimologi (Bahasa)


Musyarakah atau sering disebut syarikah atau syirkah

berasal dari fi’il madhi (‫شركا–وشركة‬-‫يشرك‬-‫ )شرك‬yang

mempunyai arti: sekutu atau teman peseroan, perkumpulan,

perserikatan.1 Syirkah dari segi etimologi berarti ‫اإلختالط‬ yang

mempunyai arti; campur atau percampuran. Maksud dari


percampuran disini adalah seseorang mencampurkan hartanya
dengan harta orang lain sehingga antara bagian yang satu dengan
bagian yang lainnya sulit untuk dibedakan lagi.2

2. Secara Terminologi (Istilah)


Menurut madzhab Hanafi, syirkah adalah ungkapan
tentang adanya transaksi atau akad antara dua orang yang
bersekutu pada pokok harta (modal) dan keuntungan. Menurut
mazhab Maliki, syirkah adalah suatu izin ber-tasharruf bagi
masing-masing pihak yang bersertifikat. Menurut mazhab

1
Ahmad Warson Munawwir. Al-Munawwir, Kamus Arab-Indonesia.
(Yogyakarta: Al-Munawwir,1984), hal. 765
2
Abdurrahman Al- Jaziri, Kitab Al-Fiqh’ala Mazhab al-Arba’ah. (Lebanon:
Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah,1990), jus III hal. 60
Hambali, syirkah adalah persekutuan dalam hal hak dan tasharruf.
Sedangkan menurut madzhab Syafi’i, syirkah adalah berlakunya
hak atas sesuatu bagi dua pihak atau lebih dengan tujuan
persekutuan.3

Menurut M. Ali Hasan, syirkah adalah suatu perkumpulan


atau organisasi yang beranggotakan orang-orang atau badan
hukum yang bekerja sama dengan penuh kesadaran untuk
meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar sukarela secara
kekeluargaan. 4 Menurut Muhammad Syafi’i Antonio, Al-
musyarakah adalah akad kerja sama antara dua belah pihak atau
lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak
memberikan konstribusi dana dengan keuntungan dibagi
berdasarkan kesepakatan dan kerugiannya ditanggung sesuai
kontribusi modal yang diberikan.5
Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) pada
bab 2 tentang akad, pasal 20 dijelaskan bahwa syirkah adalah
“Kerja sama antara dua orang atau lebih dalam hal permodalan,
keterampilan, atau kepercayaan dalam usaha tertentu dengan
pembagian keuntungan berdasarkan nisbahyang disepakati oleh
pihak-pihak yang berserikat.”6 Setelah diketahui berbagai definisi
syirkah diatas, dapat dipahami bahwa syirkah adalah kerja sama
usaha dalam upaya mengelola modal yang keuntungan atau

3
Mas’adi A. Ghufron, Fiqh Muamalah Kontekstual, ( Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2002), 192
4
M. Ali Hasan. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2003), 161
5
Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta:
Gema Insani Press, 2001), 90.
6
Mahkamah Agung RI, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah. Cetakan pertama.
Jakarta, 2003, 10
kerugiannya ditanggung kedua belah pihak yang melakukan kerja
sama sehingga dalam syirkah terdapat pihak-pihak yang
melakukan akad, modal atau harta yang digabungkan,
kesepakatan bagi hasil atau margin dari pengelolaannya.

B. Landasan Hukum Musyarakah

1. Al-Qur’an
Dalam Al-Quran surat Shaad ayat 24, Allah SWT
berfirman:

‫ظ َل َمكََ لَقَدَ ََل قَا‬ ُ ‫اجهَٖ ا ِٰلى نَع َجتِكََ ِب‬


َ ‫سؤَا َِل‬ ِ َ‫ن َكثِي ًرا نَ َواَِ َٖ نِع‬ ََ ‫ِم‬
ُ ‫ن اِّلَ بَعضَ ع َٰلى بَع‬
َ ‫ض ُهمَ لَيَب ِغيَ ال ُخلَـ‬
‫طا َِٓء‬ ََ ‫َوع َِملُوا ٰا َمنُوا الذِي‬
ِ ‫ص ِل ٰح‬
َ‫ت‬ َ ‫َربهَٖ فَاستَغفَ ََر فَتَنّٰ َهُ اَن َما دَاوَٖ َُد َو‬
ّٰ ‫ظنَ َٖ ُهمَ ما َوقَ ِليلَ ال‬
‫ب واَنَا ِكعًا َرا َو َخ َر‬
ََ
"Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan
meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya.
Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat
itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang
lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud
mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun
kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat”. (QS.
Sad 38: Ayat 24)
T.M. Hasbi Ash Shidieqy menafsirkan bahwa kebanyakan
orang yang bekerjasama itu selalu ingin merugikan mitra
usahanya, kecuali mereka yang beriman dan melakukan amalan
yang sholeh karena merekalah yang tidak mau mendhalimi orang
lain. Tetapi alangkah sedikitnya jumlah orang-orang seperti itu.7
Dan juga dalam surat An-Nisa’ ayat 12, Allah SWT berfirman:

َٖ ‫ث فِى ش َُر َكَا ٓ َُء فَ ُهمَ ٰذ ِلكََ ِمنَ اَكث َ ََر نُ ْۤوا كَا نَ فََِا‬
َِ ُ‫َو ِصيةَ بَع َِد ِمنَ الثُّل‬
‫صى‬ ٰ ‫غي ََر َٖ ينَ ََد اَوَ ِب َهَْۤا يُّو‬ َ ‫ن َو ِصيَ َةً َٖ رَ ُم‬
َ ٓ ‫ضَا‬ ََ ‫ّللاِ ِم‬
َّٰ َٖ ‫ّللُ َوا‬
َّٰ
َ‫ع ِليم‬
َ َ‫َح ِليم‬

artinya: “Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari


seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu,
sesudah dipenuhi wasiat yang di buat olehnya atau sesudah
dibayar utangnya dengan tidak memberi madhorot (Allah
menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-
benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui Lagi Maha
Penyantun”. (QS. An-Nisa' 4: Ayat 12)

M. Quraish Shihab menerangkan bahwa bagian waris


yang diberikan kepada saudara seibu baik laki-laki maupun
perempuan yang lebih dari seorang, maka bagiannya adalah
sepertiga dari harta warisan, dan dibagi rata sesudah wasiat dari
almarhum ditunaikan tanpa memberi madhorot kepada ahli
waris.8 Dari kedua ayat diatas menunjukkan bahwa Allah SWT
mengakui adanya perserikatan dalam kepemilikan harta. Hanya
saja surat Shaad ayat 24 menyebutkan perkongsian terjadi atas

7
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shidieqy, Tafsir Al Quranul Majid
An-Nuur. (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000) 3035
8
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-
Quran. (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 366
dasar akad (ikhtiyari). Sedangkan surat An-Nisa menyebutkan
bahwa perkongsian terjadi secara otomatis (Jabr) karena
waris.9

2. Hadits
Dalam hadis dinyatakan sebagai berikut: “Dari Abu
Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT
berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang sedang
berserikat selama salah satu dari keduanya tidak khianat
terhadap saudaranya (temannya). Apabila diantara mereka ada
yang berkhianat, maka Aku akan keluar dari mereka”10(H.R Abu
Dawud),

Hadis ini menerangkan bahwa jika dua orang bekerja


sama dalam satu usaha, maka Allah ikut menemani dan
memberikan berkah-Nya, selama tidak ada teman yang
mengkhianatinya. Koperasi akan jatuh nilainya jika terjadi
penyelewengan oleh pengurusnya. Inilah yang diperingatkan
Allah SWT, bahwa dalam berkoperasi masih banyak jalan dan
cara yang memungkinkan untuk berkhianat terhadap sesama
anggotanya. Itulah koperasi yang dijauhi atau diangkat berkahnya
oleh Allah SWT, maka kejujuran harus diterapkan kembali.

9
Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah: Suatu Pengenalan Umum.
(Jakarta: Tazkia Institute, 1999), 30
10
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shidieqy, Koleksi Hadits-Hadits Hukum.
(Semarang: PT. Petrajaya Mitrajaya, 2001), 175
Dengan melihat hadis tersebut diketahui bahwa masalah serikat
(koperasi) sudah dikenal sejak sebelum Islam datang, dan dimuat
dalam buku-buku ilmu fiqh Islam. Dimana koperasi termasuk
usaha ekonomi yang diperbolehkan dan termasuk salah satu
cabang usaha.

3. Ijma
Menurut Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni yang
dikutip Muhammad Syafi’i Antonio dalam bukunya Bank
Syari’ah dari Teori ke Praktik, telah berkata: “Kaum muslimin
telah berkonsesus terhadap legitimasi musyarakah secara global
walaupun terdapat perbedaan dalam beberapa elemen darinya.11

4. FATWA DSN MUI


Fatwa DSN-MUI adalah fatwa yang dikeluarkan oleh
Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui lembaga Dewan Syariah
Nasional (DSN) yang berisi tentang ketentuan-ketentuan dan
aturan terhadap sesuatu guna memberikan masukan bagi pihak-
pihak regulator, lembaga-lembaga bisnis syariah, termasuk
Lembaga Keuangan Syariah. FATWA DSN MUI tentang
pembiayaan musyarakah ditetapkan pada tanggal 1 April tahun
2000 yang ditandatangani oleh KH Ali Yafie (ketua) dan Nazri
Adlani (sekertaris) dengan nomor 08/DSN-MUI/IV/2000.12

11
Muhammad Syafi‟i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta:
Gema Insani Press, 2001), 91
12
Maulana Hasanudin Dan Jaih Mubarok, Perkembangan Akad Musyarakah,
(Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2012), 82
Fatwa tentang pembiayaan musyarakah No:
08/DSNMUI/IV/2000 mempunyai beberapa ketentuan yaitu:13

a. Pernyataan ijab qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk


menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak
(akad), dengan memperhatikan hal-hal berikut:
(1) Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit
menunjukkan tujuan kontrak (akad).
2) Penerimaan dari penawaran pada dasar kotrak.
3) Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi,
atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi
modern.
b. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum dan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Kompetensi dalam memberikan atau diberikan
kekuasaan perwakilan.
2) Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan
setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil.
3) Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset
musyarakah dalam proses bisnis normal.
4) Setiap mitra memberikan wewenang kepada mitra yang
lain untuk mengelola aset dan masing-masing di anggap
telah diberi wewenang untuk melakukan aktivitas
musyarakah dengan memperhatikan kepentingan

13
Fatwa DSN-MUI Nomor 8 Tahun 2000 tentang Musyarakah
mitranya, tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang
disengaja.
5) Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau
menginvestasikan dana untuk kepentingan sendiri.
c. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan, dan kerugian)
1) Modal
a) Modal yang diberikan harus uang tunai, emas,
pera, atau yang dinilai sama. Modal dapat terdiri
dari aset perdagangan, seperti barang-barang
properti, dan sebagainya. Jika modal berbentuk
aset, harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan
disepakati oleh para mitra.
b) Para pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan,
menyumbang atau menghadiahkan modal
musyarakah kepada pihak lain, kecuali atas dasar
kesepakatan.
c) Pada prinsipnya dalam pembiayaan musyarakah
tidak ada jaminan, namun untuk menghindari
penyimpangan LKS dapat meminta jaminan.
2) Kerja
a) Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan
dasar pelaksanaan musyarakah, akan tetapi
kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat.
Seorang mitra boleh melaksanakan kerja, dan
dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan
tambahan bagi dirinya.
b) Setiap mitra melaksanakan kerja dalam
musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari
mitranya. Kedudukan masing-masing dalam
organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak.
3) Keuntungan
a) Keuntungan harus dikualifikasikan dengan jelas
untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa
pada waktu alokasi keuntungan atau penghentian
musyarakah.
b) Setiap keuntungan harus dibagikan secara
proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan
tidak ada jumlah yang ditentukan diawal yang
ditetapkan bagi seorang mitra.
c) Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika
keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan
atas presentasi itu diberikan kepadanya.
4) Kerugian

Kerugian harus dibagi antara para mitra secara


proporsional menurut saham masing-masing dalam modal.

5) Biaya operasional
a) Biaya operasional dibebankan pada modal
bersama.
b) Jika salah satu pihak tidak menunaikan
kewajibannya atau jika terjadi perselisihan
diantara para pihak, maka penyelesaiannya
dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah
tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

C. Rukun dan Syarat Musyarakah

1. Rukun Musyarakah
Para ulama memperselisihkan mengenai rukun syirkah,
menurut ulama Hanafiyah rukun syirkah ada dua yaitu ijab dan
qabul. Sebab ijab qabul (akad) yang menentukan adanya syirkah.
Adapun mengenai dua orang yang berakad dan harta berada di
luar pembahasan akad seperti dalam akad jual beli.14 Dan Jumhur
ulama menyepakati bahwa akad merupakan salah satu hal yang
harus dilakukan dalam syirkah. Adapun rukun syirkah menurut
para ulama meliputi;

a. Sighat (Ijab dan Qabul).

Adapun syarat sah dan tidaknya akad syirkah tergantung


pada sesuatu yang di transaksikan dan juga kalimat akad
hendaklah mengandung arti izin buat membelanjakan barang
syirkah dari peseronya.

14
Abdurrahman Al- Jaziri, Kitab Al-Fiqh’ala Mazhab al-Arba’ah.
(Lebanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah,1990), jus III, 71
b. Al-‘Aqidain (subjek perikatan).

Syarat menjadi anggota perserikatan yaitu: a) orang yang berakal,


b) baligh, c) merdeka atau tidak dalam paksaan. Disyaratkan pula
bahwa seorang mitra diharuskan berkompeten dalam memberikan
atau memberikan kekuasaan perwakilan, dikarenakan dalam
musyarakah mitra kerja juga berarti mewakilkan harta untuk
diusahakan.

c. Mahallul Aqd (objek perikatan).

Objek perikatan bisa dilihat meliputi modal maupun kerjanya.


Mengenai modal yang disertakan dalam suatu perserikatan
hendaklah berupa:

1) modal yang diberikan harus uang tunai, emas, perak, atau


yang nilainya sama,
2) modal yang dapat terdiri dari aset perdagangan,
3) modal yang disertakan oleh masing-masing pesero
dijadikan satu, yaitu menjadi harta perseroan, dan tidak
dipersoalkan lagi dari mana asal-usul modal itu.

2. Syarat Musyarakah
Adapun mengenai syarat-syarat syirkah menurut Idris
Ahmad adalah:15

15
Idris Ahmad . Fiqh Menurut Madzhab Syafi’i.(Jakarta: Wijaya. 1969) 66.
a. Mengeluarkan kata-kata yang menunjukkan izin masing-
masing anggota serikat kepada pihak yang akan
mengendalikan harta serikat,
b. Anggota serikat itu saling mempercayai, sebab masing-
masing mereka adalah wakil dari yang lain,
c. Mencampurkan harta sehingga tidak dapat dibedakan hak
masing-masing, baik berupa mata uang maupun bentuk
yang lain.

D. Macam-Macam Musyarakah
Jenis syirkah dapat dihimpun menjadi dua kategori,
kategori pertama merupakan kategori dari pembagian segi materi
syirkah yaitu syirkah al-amwal, a’mal, abdan danwujuh,
sedangkan kategori kedua adalah kategori dari segi pembagian
posisi dan komposisi saham. Yaitu syirkah al-’inan, syirkah al-
mufawadhah dan syirkah al-Mudharabah.

Dari berbagai jenis syirkah di atas maka akan lebih jelas


bila dijelaskan dari masing-masing jenis syirkah tersebut:

1. Syirkah Inan atau syirkah harta

Syirkah inan atau syirkah harta artinya akad dari dua


orang atau lebih untuk berserikat harta yang ditentukan oleh
keduanya dengan maksud mendapat keuntungan (tambahan), dan
keuntungan itu untuk mereka yang berserikat itu. Akad ini terjadi
dua orang atau lebih dalam permodalan bagi suatu bisnis atas
dasar membagi untung dan rugi sesuai dengan jumlah modalnya
masing-masing.16

2. Syirkah Abdan atau syirkah kerja

Syirkah Abdan atau syirkah kerja adalah perserikatan


antara dua orang atau lebih untuk melakukan suatau
usaha/pekerjaan yang hasilnya dibagi antara mereka menurut
perjanjian. Serikat ini terjadi apabila dua orang tenaga ahli atau
lebih bermufakat atas suatu pekerjaan supaya keduanya sama-
sama mengerjakan pekerjaan itu. Penghasilan (upah-nya) untuk
mereka bersama menurut perjanjian antara mereka. Konstribusi
kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti pekerjaan arsitek atau
penulis) ataupun kerja fisik (seperti pekerjaan tukang kayu,
tukang batu, sopir, pemburu, nelayan, dan sebagainya).17

3. Syirkah Mufawadhah

aSyirkah Mufawadhah adalah bergabungnya dua orang atau lebih


untuk melakukan kerja sama dalam suatu urusan. Syirkah
mufâwadhah dalam pengertian ini, menurut An-Nabhani adalah

16
Sri Dewi Anggdini, “Analisis Implementasi Syirkah pada Koperasi ”, Jurnal
Riset Akuntansi, Volume VI, No. 1 (APRIL 2014): 101
17
Sri Dewi Anggdini, “Analisis Implementasi Syirkah pada Koperasi ”, Jurnal
Riset Akuntansi, Volume VI, No. 1 (APRIL 2014) 102-103
boleh. Sebab, setiap jenis syirkah yang sah ketika berdiri sendiri,
maka sah pula ketika digabungkan dengan jenis syirkah lainnya.18

4. Syirkah Wujuh

Syirkah Wujuh adalah bahwa dua orang atau lebih membeli


sesuatu tanpa permodalan yang ada hanyalah berpegang kepada
nama baik mereka dan kepercayaan para pedagang terhadap
mereka dengan catatan bahwa keuntungan untuk mereka. Syirkah
ini adalah syirkah tanggung jawab tanpa kerja atau modal.
Syirkah wujûh disebut juga syirkah ‘ala adz-dzimam.19

5. Syirkah Mudharabah

Syirkah Mudharabah adalah syirkah antara dua pihak atau


lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja
(‘amal), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal
(mâl). Istilah mudhârabah dipakai oleh ulama Irak, sedangkan
ulama Hijaz menyebutnya qirâdh.20

E. Aplikasi Musyarakah pada Koperasi


Syirkah Inpoktan (Induk Kelompok Tani) yang akan
dibangun lebih dekat dengan syirkah mudhorobah. Syirkah ini

18
Sri Dewi Anggdini, “Analisis Implementasi Syirkah pada Koperasi ”, Jurnal
Riset Akuntansi, Volume VI, No. 1 (APRIL 2014): 103

19
Sri Dewi Anggdini, “Analisis Implementasi Syirkah pada Koperasi ”, Jurnal
Riset Akuntansi, Volume VI, No. 1 (APRIL 2014): 103-104
20
Sri Dewi Anggdini, “Analisis Implementasi Syirkah pada Koperasi ”, Jurnal
Riset Akuntansi, Volume VI, No. 1 (APRIL 2014): 105
mensyaratkan pihak yang bersyirkah terdiri dari pihak pemodal
dan pengelola yang berakad untuk berusaha bersama guna
memperoleh keuntungan.
Pemodal adalah pihak yang hanya berkontribusi finansial
terhadap usaha sedangkan pengelola adalah pihak yang
berkontribusi tenaga/kerja (manajemen dan keahlian) juga dapat
berkontribusi finansial.Jika ada keuntungan, dibagi sesuai
kesepakatan, sedangkan kerugian hanya ditanggung oleh
pemodal.Namun demikian, pengelola turut menganggung rugi
jika kerugian itu karena kesengajaan atau karena melanggar
syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.Selanjutnya setelah
dibentuk, syirkah ini dapat didaftarkan badan hukum sebagai
koperasi syariah.21
Guna Kelengkapan organisasi, informasi mengenai
syirkah dapat dituangkan dalam bentuk Anggaran
Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) lembaga.AD/ART
menjelaskan tentang organisasi/syirkah, anggota-anggotanya,
bentuknya dan lain-lain.AD/ART menjadi syarat yang mengikat
dalam akad selama syarat-syarat tersebut tidak melanggar hukum
syari’. AD/ART Koperasi biasanya sudah ditetapkan dari Dinas
Koperasi dan UMKM.Bilamana demikian,, maka poin yang tidak
bertentangan syariat diambil selebihnya tidak digunakan.
1. Memastikan Hak dan Kewajiban

21
Sri Dewi Anggdini, “Analisis Implementasi Syirkah pada Koperasi ”, Jurnal
Riset Akuntansi, Volume VI, No. 1 (APRIL 2014): 106
Hak dan kewajiban pengelola secara umum telah jelas,
guna memberikan pedoman diantara kedua belah pihak maka
dibuatlah rincian hak dan kewajiban.Hak dan kewajiban itu
dituangkan dalam dokumen akad syirkah inpoktan yang mengikat
kedua belah pihak.Oleh karena itu menjadi penting untuk
membedah akad syirkah sebelum disepakati.
2. Menentukan Para Pemodal
Para pemodal dalam syirkah inpoktan adalah para anggota
inpoktan.
3. Memilih Pengelola Koperasi
Pengelola memiliki tanggung jawab untuk mengelola
modal dalam suatu usaha produktif sehingga mampu
menghasilkan keuntungan yang diharapkan. Oleh karena itu
pengelola haruslah seorang yang memiliki beberapa criteria dasar
antara lain amanah dan mampu. Amanah artinya seseorang
tersebut dapat dipercaya/tidak khianat sedangkan mampu artinya
dapat melaksanakan tugas/kerja sebagai pengelola.Ada pula
criteria afdholiyah lainnya misalnya berpengalaman sukses dalam
mengelola usaha syirkah, memiliki jaringan yang luas dan
sebagainya.
Pengelola minimal 3 orang yang terdiri dari ketua,
sekretaris dan bendahara (syarat bagi badan hukum koperasi).
Secara praktis kandidat pertama adalah para pengurus inti
inpoktan. Para perwakilan dalam forum pendirian koperasi dapat
memberikan penilaian terhadap para pengurus inti.Bila diantara
mereka ada yang tidak sanggup maka dapat digantikan dengan
yang lainnya. Setelah perencanaan usaha itu telah ada maka
selanjutnya adalah pengumpulan sumberdaya dan saatnya untuk
mengikatkan diri pada akad syari berupa syirkah
mudhorobah.Agar semakin mantap syirkah yang dibangun
didaftarkan sebagai lembaga ekonomi rakyat berbadan hukum
koperasi. Membuat akta notaris pendirian koperasi kepada
pejabat notaris kemudian dilanjutkan dengan pengajuan badan
hukum kepada dinas koperasi dan umkm.22

F. Kesimpulan

G. Daftar Pustaka

A.Mas’adi, Gufron. 2002. Fiqh Muamalah Kontekstual. Jakarta:


PT Raja Grafindo Persada.

Anggdini, Sri Dewi. 2014. “Analisis Implementasi Syirkah pada


Koperasi ”, Jurnal Riset Akuntansi, Volume VI, No. 1.

Antonio, Muhammad Syafi’i. 1999. Bank Syariah: Suatu


Pengenalan Umum. Jakarta: Tazkia Institute.

22
Sri Dewi Anggdini, “Analisis Implementasi Syirkah pada Koperasi ”, Jurnal
Riset Akuntansi, Volume VI, No. 1 (APRIL 2014): 106
--------------------------------------. 2001. Bank Syari’ah dari Teori
ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press.

Ash Shidieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2001. Koleksi Hadits-


Hadits Hukum. Semarang: PT. Petrajaya Mitrajaya.

-------------------------------------. 2000. Tafsir Al Quranul Majid


An-Nuur. Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Jaziri, Abdurrahman, Al-. 1990. Kitab Al-Fiqh’ala Mazhab al-


Arba’ah. Juz III, Lebanon: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Munawwir, Ahmad Warson. 1984. Al-Munawwir, Kamus Arab-


Indonesia. Yogyakarta: Al-Munawwir.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan


Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati