Anda di halaman 1dari 3

A.

Pengertian Stres Akademik

Stres akademik diartikan sebagai tekanan-tekanan yang dihadapi anak berkaitan


dengan sekolah, dipersepsikan secara negatif, dan berdampak kesehatan fisik, psikis, dan
performansi belajarnya (Campbell & Svenson, 1992; Ng Lai Oon, 2004; Farida, 2016: 25).
Alvin (dalam Barseli, 2017:143-144) Stress Akademik adalah tekanan-tekanan yang terjadi di
dalam diri siswa yang disebabkan oleh persaingan maupun tuntutan akademik. Stress
akademik adalah tekanan yang dialami oleh anak di sekolah maupun di luar sekolah.
Sehingga kita dapat menarik kesimpulan bahwa, Stres Akademik adalah tekanan yang
dihadapi oleh pelajar yang diakibatkan adanya persaingan, baik dilingkungan sekolah
maupun luar sekolah.

Stress belajar yang dialami oleh siswa berkaitan dengan, (1) tekanan akademik
(bersumber dari guru, mata pelajaran, metode mengajar, strategi belajar, menghadapi
ulangan/diskusi di kelas), dan (2) tekanan sosial (bersumber dari teman-teman sebaya siswa).

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi Stress akademik

Dalam Barseli (2017 : 144-145) Stress akademik dapat disebabkan oleh dua faktor
yaitu faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal
a. Pola pikir
Individu yang berpikir tidak dapat mengendalikan situasi, cenderung
mengalami stress lebih besar. Semakin besar kendali bahwa ia dapat elakukan
sesuatu, semakin kecil kemungkinan stress yang akan dialami siswa.
b. Kepribadian
Kepribadian seorang siswa dapat menentukan tingkat toleransinya terhadap
stres. Tingkat stres siswa yang optimis biasanya lebih kecil dibandingkan siswa
yang sifatnya pesimis.
c. Keyakinan
Penyebab internal selanjutnya yang turut menentukan tingkat stress siswa
adalah keyakinan atau pemikiran terhadap diri. Keyakinan terhadap diri
memainkan peranan penting dalam menginterpretasikan situasi-situasi disekitar
individu. Penilaian yang diyakini siswa dapat mengubah pola pikirnya terhadap
suatu hal bahkan dalam jangka panjang dapat membawa stress secara psikologis.
2. Faktor Eksternal
a. Pelajaran lebih padat
Seperti yang kita tau sekarang, sistem kurikulum yang ada sekarang
standarnya makin tinggi. Akibatnya persaingan semakin ketat, waktu belajar
bertambah, dan beban siswa semakin meningkat.
b. Tekanan untuk berprestasi tinggi
Para siswa sangat ditekan untuk berprestasi dengan baik dalam ujian-ujian
mereka. Tekanan ini terutama datang dari orang tua, keluarga, guru, tetangga,
teman sebaya, dan diri sendiri.
c. Dorongan status sosial
Pendidikan selalu menjadi simbol status sosial. Orang-orang dengan
kualifikasi akademik tinggi akan dihormati masyarakat dan yang tidak
berpendidikan tinggi akan dipandang rendah. Siswa yang berhasil secara akademik
sangat disukai, dikenal, dan dipuji oleh masyarakat. Sebaliknya, siswa yang tidak
berprestasi di sekolah disebut lambat, malas atau sulit. Mereka dianggap seperti
pembuat masalah, cenderung ditolak oleh guru, dimarahi orangtua, dan diabaikan
teman-teman sebayanya.
d. Orangtua saling berlomba
Pada kalangan orangtua yang lebih terdidik dan kaya informasi, persaingan
untuk menghasilkan anak-anak yang memiliki kemampuan dalam berbagai aspek
juga lebih keras. Seiring dengan perkembangan pusat-pusat pendidikan informal,
berbagai macam program tambahan, kelas seni rupa, musik, balet, dan drama yang
juga menimbulkan persainga siswa terpandao, terpintar dan serba bisa.

C. Jenis - Jenis Stres Akademik

Ada dua jenis stres akademik yang sering dialami oleh siswa dalam menghadapi tugas
sekolah siswa yaitu “eustres atau stres positif dan distres atau stres negative”. Kedua jenis
stres akademik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Distres (Stres Negatif)


Jenis stres ini adalah jenis stres yang buruk (bad stress). Stres ini berasal dari
situasi-situasi yang penuh dengan tekanan yang terjadi (dialami) secara terus
menerus sehingga dapat menyebabkan mundurnya kesehatan fisik seseorang.
Apabila distres terjadi terus menerus maka seseorang akan sakit, baik secara fisik
ataupun mental. Distres merupakan stres yang bersifat tidak menyenangkan. Stres
dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa cemas,
ketakutan, khawatir, atau gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan
psikologis yang negatif, menyakitkan, atau timbul keinginan untuk
menghindarinya.
b. Eustres (Stres Positif)
Ini adalah jenis stres yang biasa disebut sebagai stres baik (good stress).
Disebut stres baik karena stres jenis ini dapat menyediakan tantangan sehingga
seseorang dapat termotivasi untuk mencapai tujuannya dengan bekerja sebaik
mungkin. Eustres ini tidak menyebabkan dampak buruk baik secara fisik ataupun
psikis. Eustres bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman yang
memuaskan. Eustres dapat meningkatkan kewaspadaan, koginisi, dan performansi
individu. Eustres juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan
sesuatu.

3. Strategi mengelola stres akademik


Istilah mengelola stres akademik menurut Cotton merujuk pada identifikasi
dan analisis terhadap permasalahan yang terkait dengan stres dan aplikasi
berbagai alat teraupik untuk mengubah sumber stres atau pengalaman stres
(Farida, 2016: 61)). Berikut adalah strategi mengelola stres akademik(Farida,
2016: 62-65) yaitu :
1. Teknik Penenangan Pikiran (CBM)
Tujuan teknik-teknik penenangan pikiran ialah untuk mengurangi
kegiatan pikiran,yaitu proses berpikir dalam bentuk merencana, meningat,
berkhayal, menalar yang secara bersinambung kita lakukan dalam
keadaan bangun, dalam keadaan sadar. Jika berhasil mengurangi kegiatan
pikiran, rasa cemas dan khawatir akan berkurang, kesigapan umum
(general arousal) untuk beraksi akan berkurang, sehingga pikiran menjadi
tenang, stress berkurang.
2. Teknik Penenangan Melalui Aktivitas Fisik
Tujuan utama penggunaan teknik penenangan melalui aktivitas fisik
ialah untuk menghamburkan atau untuk menggunakan sampai habis hasil-
hasil stres yang diproduksi oleh ketakutan dan ancaman, atau yang
mengubah system hormon dan saraf kita kedalam sikap
mempertahannkan. Kita dapat melakukan aktivitas fisik sebelum dan
sesudah stres.Kita semua merasakan bahwa, dalam menghadapi situasi
yang kita rasakan sebagai penuh stres, timbul satu kesigapan umum untuk
melakukan sesuatu, timbul tambahan tenaga (untuk ‘melarikan diri’ atau
untuk ‘melawan’) yang timbul sebagai akibat perubahan perubahan dalam
sistem hormon dan sistem saraf kita.

DAPUS

Faridah Nurmaliyah. (2014) Menurunkan Stres Akademik Siswa dengan Menggunakan


Teknik Self-Instruction. Journal Pendidikan Humaniora. Vol.02 No.03, Hal.273-282

Aryani,Farida. (2016). Stres Belajar : Suatau Pendekatan dan Intervensi Konseling.Palu:


Edukasi Mitra Grafika

Barseli, Mufadhal dan Ifdi ifdil. (2017). Konsep Stres Akademik Siswa. Jurnal Konseling dan
Pendidikan. Vol. 5 No. 3, Hal143-148