Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PENILAIAN TRIAGE

(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat & Manajemen
Bencana)

Oleh :

Dyah Ayu Kumalasari S.

080117A020

PROGRAM DIPLOMA TIGA KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat,
hidayah dan karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
“PENILAIAN TRIAGE”.

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Keperawatan Gawat Darurat &
Manajemen Bencana. Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan yang
penulis miliki.

Atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan makalah ini, penulis sangat mengharapkan
masukan, kritik dan saran yang bersifat membangun kearah perbaikan dan penyempurnaan
makalah ini.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan
semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah SWT

Ungaran , 11 September 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Instalasi Gawat Darurat merupakan salah satu unit pelayanan di rumah sakit yang
memberikan pertolongan pertama dan sebagai jalan pertama masuknya pasien dengan
kondisi gawat darurat. Keadaan gawat darurat adalah suatu keadaan klinis dimana pasien
membutuhkan pertolongan medis yang cepat untuk menyelamatkan nyawa dan kecacatan
lebih lanjut (DepKes RI, 2009)
Ketepatan waktu dalam pelayanan kegawatdaruratan menjadi perhatian penting di
negara - negara seluruh dunia. Hasil studi dari National Health Service di Inggris,
Australia, Amerika dan Kanada bahwa pelayanan perawatan mempengaruhi tingkat
kepuasan pasien (LeadingPractices in Emergency Departement , 2010).
Keanekaragaman pasien di IGD yang datang dari berbagai latar belakang dari sisi
sosial ekonomi, kultur, pendidikan dan pengalaman membuat persepsi pasien atau
masyarakat berbeda-beda. Pasien merasa puas dengan pelayanan perawat di IGD apabila
harapan pasien terpenuhi, seperti pelayanan yang cepat, tanggap, sopan, ramah,
pelayanan yang optimal dan interaksi yang baik. Namun pasien atau masyarakat sering
menilai kinerja perawat kurang mandiri dan kurang cepat dalam penanganan pasien di
IGD. Penilaian itu karena beberapa hal, salah satunya diantaranya adalah ketidaktahuan
pasien dan keluarga tentang prosedur penatalaksanaan pasien oleh perawat di ruang IGD
(Igede, 2012).
Kondisi lingkungan IGD yang overcrowded menambah ketidaknyamanan dan
menambah tingkat kecemasan pasien. Stuart & laraia (2005) mengatakan bahwa
perubahan status kesehatan individu mengakibatkan terjadinya kecemasan. Banyaknya
pasien yang datang di IGD membuat perawat harus memilah pasien dengan cepat dan
tepat sesuai prioritas bukan berdasarkan nomor antrian. Tindakan perawat dalam
melakukan perawatan pasien harus bertindak cepat dan memilah pasien sesusai prioritas,
sehingga mengutamakan pasien yang lebih diprioritaskan dan memberikan waktu tunggu
untuk pasien dengan kebutuhan perawatan yang kurang mendesak (Igede ,2012).
Triase adalah pengelompokan pasien berdasarkan berat cideranya yang harus di
prioritaskan ada tidaknya gangguan airway, breathing, dan circulation sesuai dengan
sarana, sumberdaya manusia dan apa yang terjadi pada pasien (Siswo, 2015). Sistem
triase yang sering di gunakan dan mudah dalam mengaplikasikanya adalah mengunakan
START (Simple triage and rapid treatment) yang pemilahanya menggunakan warna .
Warna merah menunjukan prioritas tertinggi yaitu korban yang terancam jiwa jika tidak
segera mendapatkan pertolongan pertama. Warna kuning menunjukan prioritas tinggi
yaitu koban moderete dan emergent. Warna hijau yaitu korban gawat tetapi tidak darurat
meskipun kondisi dalam keaadaan gawat ia tidak memerlukan tindakan segera. Terakhir
adalah warna hitam adalah korban ada tanda-tanda meninggal (Ramsi, IF. dkk ,2014).
Penggunaan istilah triage ini sudah lama berkembang. Konsep awal triase modern
yang berkembang meniru konsep pada jaman Napoleon dimana Baron Dominique Jean
Larrey (1766-1842), seorang dokter bedah yang merawat tentara Napoleon,
mengembangkan dan melaksanakan sebuah system perawatan dalam kondisi yang paling
mendesak pada tentara yang datang tanpa memperhatikan urutan kedatangan mereka.
Sistem tersebut memberikan perawatan awal pada luka ketika berada di medan perang
kemudian tentara diangkut ke rumah sakit/tempat perawatan yang berlokasi di garis
belakang. Sebelum Larrey menuangkan konsepnya, semua orang yang terluka tetap berada
di medan perang hingga perang usai baru kemudian diberikan perawatan.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan triage ?
2. Apa saja tujuan dari triage ?
3. Apa saja prinsip dan tipe triage ?
4. Apa saja klasifikasi dan prioritas triage ?
5. Bagaimana proses triage?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami apa yang dimaksud dengan triage.
2. Untuk mengetahui dan memahami apa saja tujuan dari triage.
3. Untuk mengetahui dan memahami apa saja prinsip dan tipe triage.
4. Untuk mengetahui dan memahami apa saja klasifikasi dari prioritas.
5. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana proses triage.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Triage
Triage adalah suatu konsep pengkajian yang cepat dan terfokus dengan suatu cara
yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan serta fasilitas yang
paling efisien dengan tujuan untuk memilih atau menggolongkan semua pasien yang
memerlukan pertolongan dan menetapkan prioritas penanganannya (Kathleen dkk, 2008).
Triage adalah suatu sistem pembagian/klasifikasi prioritas klien berdasarkan berat
ringannya kondisi klien/kegawatannya yang memerlukan tindakan segera. Dalam triage,
perawat dan dokter mempunyai batasan waktu (respon time) untuk mengkaji keadaan dan
memberikan intervensi secepatnya yaitu ≤ 10 menit.
Triase berasal dari bahasa prancis trier bahasa inggris triage danditurunkan dalam
bahasa Indonesia triase yang berarti sortir. Yaituproses khusus memilah pasien berdasar
beratnya cedera ataupenyakit untuk menentukan jenis perawatan gawat darurat. Kiniistilah
tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan suatu konseppengkajian yang cepat dan
berfokus dengan suatu cara yangmemungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia,
peralatan sertafasilitas yang paling efisien terhadap 100 juta orang yang
memerlukanperawatan di UGD setiap tahunnya (Pusponegoro, 2010).
B. Tujuan Triage
Tujuan utama dari triage adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam
nyawa. Tujuan triage selanjutnya adalah untuk menetapkan tingkat atau drajat kegawatan
yang memerlukan pertolongan kedaruratan (Hawari, 2013).

Dengan triage tenaga kesehatan akan mampu :

1. Menginisiasi atau melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien
2. Menetapkan area yang paling tepat untuk dapat melaksanakan pengobatan lanjutan
3. Memfasilitasi alur pasien melalui unit gawat darurat dalam proses
penanggulangan/pengobatan gawat darurat
C. Prinsip dan Tipe Triage
Triase mengutamakan perawatan pasien berdasarkan gejala. Perawat triase
menggunakan ABCD keperawatan seperti jalan nafas, pernapasan dan sirkulasi, serta
warna kulit, kelembaban, suhu, nadi, respirasi, tingkat kesadaran dan inspeksi visual untuk
luka dalam, deformitas kotor dan memar untuk memprioritaskan perawatan yang diberikan
kepada pasien di ruang gawat darurat. Perawat memberikan prioritas pertama untuk pasien
gangguan jalan nafas, bernafas atau sirkulasi terganggu.Pasien-pasien ini mungkin
memiliki kesulitan bernapas atau nyeri dada karena masalah jantung dan mereka menerima
pengobatan pertama.Pasien yang memiliki masalah yang sangat mengancam kehidupan
diberikan pengobatan langsung bahkan jika mereka diharapkan untuk mati atau
membutuhkan banyak sumber daya medis.
Menurut Brooker, 2008. Dalam prinsip triase diberlakukan system prioritas,
prioritas adalah penentuan/penyeleksian mana yang harus didahulukan mengenai
penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul dengan seleksi pasien
berdasarkan :
a. Ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit.
b. Dapat mati dalam hitungan jam.
c. Trauma ringan.
d. Sudah meninggal

1. Prinsip dalam pelaksanaan triase


Dalam pelaksanaan triage terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain
yaitu:
a. Triase seharusnya dilakukan segera dan tepat waktu
Kemampuan berespon dengan cepat terhadap kemungkinan penyakit yang
mengancam kehidupan atau injuri adalah hal yang terpenting di departemen
kegawatdaruratan.
b. Pengkajian seharusnya adekuat dan akurat
Intinya, ketetilian dan keakuratan adalah elemen yang terpenting dalam proses
interview.
c. Keputusan dibuat berdasarkan pengkajianKeselamatan dan perawatan pasien yang
efektif hanya dapat direncanakan bila terdapat informasi yang adekuat serta data
yang akurat.
d. Melakukan intervensi berdasarkan keakutan dari kondisiTanggung jawab utama
seorang perawat triase adalah mengkaji secara akurat seorang pasien dan
menetapkan prioritas tindakan untuk pasien tersebut. Hal tersebut termasuk
intervensi terapeutik, prosedur diagnostic dan tugas terhadap suatu tempat yang
dapat diterima untuk suatu pengobatan.
e. Tercapainya kepuasan pasien
 Perawat triase seharusnya memenuhi semua yang ada di atas saat menetapkan
hasil secara serempak dengan pasien
 Perawat membantu dalam menghindari keterlambatan penanganan yang dapat
menyebabkan keterpurukan status kesehatan pada seseorang yang sakit dengan
keadaan kritis.
 Perawat memberikan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga atau
temannya.

2. Tipe Triage Di Rumah Sakit


a. Tipe 1 : Traffic Director or Non Nurse
 Hampir sebagian besar berdasarkan system triage
 Dilakukan oleh petugas yang tak berijasah
 Pengkajian minimal terbatas pada keluhan utama dan seberapa sakitnya
 Tidak ada dokumentasi
 Tidak menggunakan protocol
b. Tipe 2 : Cek Triage Cepat
 Pengkajian cepat dengan melihat yang dilakukan perawat beregristrasi atau
dokter
 Termasuk riwayat kesehatan yang berhubungan dengan keluhan utama
 Evaluasi terbatas
 Tujuan untuk meyakinkan bahwa pasien yang lebih serius atau cedera mendapat
perawatan pertama.
c. Tipe 3 : Comprehensive Triage
 Dilakukan oleh perawat dengan pendidikan yang sesuai dan berpengalaman
 4 sampai 5 sistem katagori
 Sesuai protocol
3. Beberapa tipe sistem triage lainnya
a. Traffic Directo
rDalam sistem ini, perawat hanya mengidentifikasi keluhan utama dan memilih
antara status “mendesak” atau “tidak mendesak”.Tidak ada tes diagnostik
permulaan yang diintruksikan dan tidak ada evaluasi yang dilakukan sampai tiba
waktu pemeriksaan
b. Spot Check
Pada sistem ini, perawat mendapatkan keluhan utama bersama dengan data
subjektif dan objektif yang terbatas, dan pasien dikategorikan ke dalam salah satu
dari 3 prioritas pengobatan yaitu “gawat darurat”, “mendesak”, atau “ditunda”.
Dapat dilakukan beberapa tes diagnostik pendahuluan, dan pasien ditempatkan di
area perawatan tertentu atau di ruang tunggu.
1. Comprehensive
Sistem ini merupakan sistem yang paling maju dengan melibatkan dokter dan
perawat dalam menjalankan peran triage.Data dasar yang diperoleh meliputi
pendidikan dan kebutuhan pelayanan kesehatan primer, keluhan utama, serta
informasi subjektif dan objektif. Tes diagnostik pendahuluan dilakukan dan
pasien ditempatkan di ruang perawatan akut atau ruang tunggu, pasien harus
dikaji ulang setiap 15 sampai 60 menit.

D. Klasifikasi dan Penentuan Prioritas


Prioritas adalah penentuan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan dan
pemindahan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul.Beberapa hal yang
mendasari klasifikasi pasien dalam sistem triage adalah kondisi klien meliputi:
a. Gawat, adalah suatu keadaan yang mengancam nyawa dan kecacatan yang
memerlukan penanganan dengan cepat dan tepat
b. Darurat, adalah suatu keadaan yang tidak mengancam nyawa tapi memerlukan
penanganan cepat dan tepat seperti kegawatan
c. Gawat darurat, adalah suatu keadaan yang mengancam jiwa disebabkan oleh
gangguan ABC (Airway / jalan nafas, Breathing / pernafasan, Circulation / sirkulasi),
jika tidak ditolong segera maka dapat meninggal / cacat (Wijaya, 2010).

1. Klasifikasi Triage
a. Gawat Darurat (P1) Keadaan yang mengancam nyawa / adanya gangguan ABC
dan perlu tindakan segera, misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran, trauma
mayor dengan perdarahan hebat
b. Gawat tidak darurat (P2)
Keadaan mengancam nyawa tetapi tidak memerlukan tindakan darurat. Setelah
dilakukan diresusitasi maka ditindaklanjuti oleh dokter spesialis. Misalnya ;
pasien kanker tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan lainnya.
c. Darurat tidak gawat (P3)
Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi memerlukan tindakan darurat.
Pasien sadar, tidak ada gangguan ABC dan dapat langsung diberikan terapi
definitive. Untuk tindak lanjut dapat ke poliklinik, misalnya laserasi, fraktur
minor / tertutup, sistitis, otitis media dan lainnya
d. Tidak gawat tidak darurat (P4)
Keadaan tidak mengancam nyawa dan tidak memerlukan tindakan gawat. Gejala
dan tanda klinis ringan / asimptomatis. Misalnya penyakit kulit, batuk, flu, dan
sebagainya
2. Klasifikasi berdasarkan Tingkat Prioritas (Labeling)
a. Prioritas I (merah)
Mengancam jiwa atau fungsi vital, perlu resusitasi dan tindakan bedah segera,
mempunyai kesempatan hidup yang besar. Penanganan dan pemindahan bersifat
segera yaitu gangguan pada jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Contohnya
sumbatan jalan nafas, tension pneumothorak, syok hemoragik, luka terpotong
pada tangan dan kaki, combutio (luka bakar) tingkat II dan III > 25%.
b. Prioritas II (kuning)
Potensial mengancam nyawa atau fungsi vital bila tidak segera ditangani dalam
jangka waktu singkat. Penanganan dan pemindahan bersifat jangan terlambat.
Contoh: patah tulang besar, combutio (luka bakar) tingkat II dan III < 25 %,
trauma thorak / abdomen, laserasi luas, trauma bola mata. Prioritas III (hijau)
Perlu penanganan seperti pelayanan biasa, tidak perlu segera. Penanganan dan
pemindahan bersifat terakhir. Contoh luka superficial, luka-luka ringan
c. Prioritas 0 (hitam)
Kemungkinan untuk hidup sangat kecil, luka sangat parah. Hanya perlu terapi
suportif. Contoh henti jantung kritis, trauma kepala kritis.
E. Proses Triage
Proses triage dimulai ketika pasien masuk ke pintu UGD. Perawat triage harus mulai
memperkenalkan diri, kemudian menanyakan riwayat singkat dan melakukan pengkajian,
misalnya melihat sekilas kearah pasien yang berada di brankar sebelum mengarahkan ke
ruang perawatan yang tepat.
Pengumpulan data subjektif dan objektif harus dilakukan dengan cepat, tidak lebih dari 5
menit karena pengkajian ini tidak termasuk pengkajian perawat utama. Perawat triage
bertanggung jawab untuk menempatkan pasien di area pengobatan yang tepat; misalnya
bagian trauma dengan peralatan khusus, bagian jantung dengan monitor jantung dan
tekanan darah, dll. Tanpa memikirkan dimana pasien pertama kali ditempatkan setelah
triage, setiap pasien tersebut harus dikaji ulang oleh perawat utama sedikitnya sekali setiap
60 menit.

Alur dalam proses triase:


1. Pasien datang diterima petugas / paramedis UGD.
2. Diruang triase dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat (selintas) untuk
menentukan derajat kegawatannya oleh perawat.
3. Bila jumlah penderita/korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triase dapat dilakukan
di luar ruang triase (di depan gedung IGD).
4. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kode warna:
a. Segera-Immediate (merah). Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang
kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera. Misalnya:Tension
pneumothorax, distress pernafasan (RR< 30x/mnt), perdarahan internal, dsb.
b. Tunda-Delayed (kuning) Pasien memerlukan tindakan defintif tetapi tidak ada
ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi terkontrol, fraktur tertutup
pada ekstrimitas dengan perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan
tubuh, dsb.
c. Minimal (hijau). Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan menolong
diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya : Laserasi minor, memar dan lecet,
luka bakar superfisial.
d. Expextant (hitam) Pasien mengalami cedera mematikan dan akan meninggal meski
mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3 hampir diseluruh tubuh,
kerusakan organ vital, dsb.
e. Penderita/korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna : merah,
kuning, hijau, hitam.
f. Penderita/korban kategori triase merah dapat langsung diberikan pengobatan
diruang tindakan UGD. Tetapi bila memerlukan tindakan medis lebih lanjut,
penderita/korban dapat dipindahkan ke ruang operasi atau dirujuk ke rumah sakit
lain.
g. Penderita dengan kategori triase kuning yang memerlukan tindakan medis lebih
lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu giliran setelah pasien
dengan kategori triase merah selesai ditangani.
h. Penderita dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat jalan, atau bila
sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka penderita/korban dapat
diperbolehkan untuk pulang.
i. Penderita kategori triase hitam dapat langsung dipindahkan ke kamar jenazah.
(Rowles, 2007).
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Triage adalah suatu konsep pengkajian yang cepat dan terfokus dengan suatu cara
yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan serta fasilitas yang
paling efisien dengan tujuan untuk memilih atau menggolongkan semua pasien yang
memerlukan pertolongan dan menetapkan prioritas penanganannya.
Tujuan utama dari triage adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam
nyawa. Tujuan triage selanjutnya adalah untuk menetapkan tingkat atau drajat kegawatan
yang memerlukan pertolongan kedaruratan.

Alur dalam proses triase:


1. Pasien datang diterima petugas / paramedis UGD.
2. Diruang triase dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat (selintas)
untuk menentukan derajat kegawatannya oleh perawat.
3. Bila jumlah penderita/korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triase dapat
dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD).
4. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kode warna

B. Saran
Dengan adanya makalah ini penyusun berharap agar pembaca khususnya tenaga
kesehatan lebih memahami tentang aspek hokum dalam pelayanan kegawatdaruratan.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2009. Sistem Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI.


Igede (2012). Hubungan persepsi pasien tentang perawat IGD RSUD wates kulon Progo
yogyakarta dengan kecemasan pasien di ruang IGD RSUD wates kulon Progo. Program
Studi S1 keperawatan : Universitas Respati Yogyakarta.
Kartikawati, N.D. 2013. Buku Ajar Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta: Salemba
Medika.

Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta: Nuha Medika.

Pusponegoro, D Aryono. et al, (2010) Buku Panduan Basic Trauma and Cardiac Life Support,
Jakarta : Diklat Ambulance AGD 118.

Rosyidi, K. (2013). Manajemen Kepemimpinan Dalam Keperawatan. Jakarta: CV. Trans Info
Media.

Siswo, Nurhasim. (2015). Pengetahuan Perawat Tentang Respon Time Dalam Penanganan
Gawat Darurat di Ruang Triage RSUD Karanganyar.
Wijaya, S. 2010. Konsep Dasar Keperawatan Gawat Darurat. Denpasar : PSIK FK Unud.