Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator


yang dapat digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin
dalam kondisi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi. Pada bagian ini,
derajat kesehatan masyarakat digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB),
Angka Kematian Ibu (AKI), angka morbiditas beberapa penyakit dan status gizi.

Masalah kesehatan adalah merupakan masalah yang sangat kompleks, oleh


karena itu perlu diupayakan secara menyeluruh dan bersama-sama dengan
masyarakat untuk mengatasinya. Dalam pelaksanaanya, pelayanan kesehatan
diupayakan dekat dengan masyarakat, sehingga strategi pelayanan kesehatan yang
utama merupakan pendekatan yang juga menjadi acuan pelayanan kesehatan yang
akan diberikan. Artinya, upaya pelayanan atau asuhan yang diberikan tersebut
merupakan upaya essensial atau sangat dibutuhkan oleh masyarakat/ komunitas,
dan secara universal upaya tersebut mudah dijangkau (Karwati, 2011).

Salah satu upaya mewujudkan peran serta masyarakat dan pemangku


kepentingan dalam pembangunan kesehatan yaitu meningkatkan kepedulian
masyarakat akan informasi kesehatan sehingga memberikan nilai positif bagi
pembangunan kesehatan itu sendiri.

Dalam hal ini penulis mengambil kasus pada keluarga Tn. G RT. 03 RW
02 Desa Bacem Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar sebagai bukti pelaksanaan
praktek kebidanan komunitas dan melaksanakan implementasi sesuai dengan
prioritas masalah.

1.1 Tujuan
1.1.1 Tujuan Umum
Mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kesehatan
perempuan diwilayah kerja bidan.
1.1.2 Tujuan khusus
1. Meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan komunitas sesuai tanggung
jawab bidan
2. Meningkatkan pelayanan mutu ibu hamil, pertolongan persalinan,
perawatan nifas, dan perinatal secara terpadu
3. Menurunkan jumlah kasus-kasus yang berkaitan dengan resiko
kehamilan, persalinan, nifas, dan perinatal
4. Mendukung program-program pemerintah lainnya untuk menurunkan
angka kematian ibu dan anak
5. Membangun jejaring kerja dengan fasilitas rujukan dan tokoh masyarakat
setempat atau terkait.

1.2 Metode Pengumpulan Data


a. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang dikunakan untuk mengumpulkan
data, dimana peneliti mendapatkan keterangan dan pendirian secara lisan
dari seorang sasaran penelitian (responden) atau bercakap-cakap
berhadapan muka dengan orang tersebut (Notoatmodjo, 2010).
b. Observasi
Adalah suatu hasil penelitian aktif dan penuh perhatian menyadari adanya
rangsangan (Notoatmodjo, 2010).
c. Survey
Survey adalah suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap
sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu
tertentu (Notoatmodjo, 2010).
d. Pemeriksaan Fisik
Yaitu pengumpulan data dengan cara melakukan pemeriksaan fisik pada
klien secara langsung meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi
untuk mendapatkan data yang objektif
e. Studi Kepustakaan
Yaitu pengumpulan data dengan jalan mengambil literatur dengan buku-
buku serta makalah

1.3 Sistematika Penulisan


Halaman Judul
Lembar Pengesahan
Format Laporan Pendahuluan
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan
1.3 Metode Pengumpulan Data
1.4 Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
a. Konsep Teori
2.1.1 Konsep Dasar Keluarga
2.1.1.1 Definisi
2.1.1.2 Struktur Keluarga
2.1.1.3 Ciri-ciri Keluarga
2.1.1.4 Bentuk-bentuk Keluarga
2.1.1.5 Fungsi Keluarga
2.1.2 Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas
2.1.3 Metode Prioritas Masalah
2.1.4 Putting Lecet
2.1.4.1 Definisi
2.1.4.2 Etiologi
2.1.4.3 Penatalaksanaan
2.1.5 Obesitas
2.1.5.1 Definisi
2.1.5.2 Etiologi
2.1.5.3 Patofisiologi
2.1.5.4 Maniferstasi Klien
2.1.5.5 Komplikasi
2.1.5.6 Pemeriksaan Penunjang
2.1.5.7 Penatalaksanaan
2.1.6 Disminorhe
2.1.6.1 Definisi
2.1.6.2 Tanda dan gejala disminorhea
2.1.6.3
BAB III TINJAUAN KASUS
BAB IV PEMBAHASAN
Berisi analisis tentang kesenjangan antara teori dan praktik
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Teori


2.1.1 Konsep Dasar Keluarga
2.1.1.1 Definisi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu
tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan
(Karwati, 2011).
2.1.1.2 Struktur Keluarga
Menurut Karwati (2011), struktur keluarga terdiri dari bermacam-
macam, diantaranya adalah:
a. Patrilineal
Keluarga sederhana yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun
melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal
Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak
saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan
itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal
Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama
kelaurga sedarah istri
d. Patrilokal
Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama
keluarga sedarah suami.
e. Keluarga kawinan
Keluaarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai
dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara
yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan
dengan suami atau istri.
2.1.1.3. Ciri-ciri Keluarga
Menurut Karwati (2011), ciri-ciri keluarga antara lain yaitu:
a. Diikat dalam suatu tali perkawinan
b. Ada hubungan darah
c. Ada ikatan batin
d. Ada tanggung jawab masing-masing anggotanya
e. Ada pengambil keputusan
f. Kerjasama diantara anggota keluarga
g. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
h. Tinggal dalam satu rumah/atap
Menurut Karwati (2011), ciri-ciri keluarga Indonesia antara lain yaitu:
a. Suami sebagai pengambil keputusan
b. Merupakan suatu kesatuan yang utuh
c. Berbentuk monogram
d. Bertanggung jawab
e. Pengambil keputusan
f. Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
g. Ikatan keluarga sangat erat
h. Mempunyai semangat gotong royong
2.1.1.4. Bentuk-bentuk keluarga
Menurut Karwati (2011), bentuk keluarga antara lain:
a. Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-
anak
b. Keluarga besar (exstended family)
Keluarga besar adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara,
misalnya: nenek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan
sebagainya.
c. Keluarga berantai (serial family)
Keluarga berantai adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria
yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga duda/ janda (single family)
Keluarga duda/janda adalah keluaga yang terjadi karena perceraian
atau kematian.
2.1.1.5. Fungsi-fungsi keluarga
Menurut Suprajitno (2004), fungsi keluarga antara lain:
a. Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan
segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan
dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan
individu dan psikososial anggota keluarga.
b. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi adalah fungsi
mengembangkan dan tempat melatih anak berkehidupan sosial
sebelum meninggalkan rumah untuk berhubunngan dengan orang lain
di luar rumah.
c. Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan
menjaga kelangsungan keluarga.
d. Fungsi ekonomi yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan
keuarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan
kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga.
e. Fungsi perawatan/ pemeliharaan kesehatan yaitu fungsi untuk
mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap
memiliki produktivitas tinggi.

2.1.2 Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas


Definisi Asuhan Kebidanan Komunitas dalam Kontek Keluarga
Konsep adalah kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu.
Kebidanan berasal dari kata “Bidan”. Kebidanan adalah mencankup pengetahuan
yang dimilikai dan kegiatan pelayanan untuk menyelamtkan ibu dan bayi,
kebidanan merupakan profesi tertua didunia sejak adanya peradaban umat manusia
(Karwati,dkk. 2011).
Bidan adalah seorang yang telah mengikuti program pendidikan kebidanan yang
diakui oleh negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi
kualifikasi untuk didaftar (registrasi) atau memiliki ijin yang sah (lisensi) untuk
melakukan praktik kebidanan (Pudiastuti, 2011)
Komunitas adalah kelompok orang yang berada disuatu lokasi atau daerah atau
area tertentu. Bidan komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan
masyarakat diwilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah konsep dasar bidan
dalam melayani keluarga dan masyarakat.
Pelayanan kebidanan komunitas adalah upaya yang dilakukan bidan untuk
pemecahan terhadap masalah kesehatan ibu dan anak balita didalam keluarga dan
masyarakat (Ambarwati, 2009).
2.1.3 Metode Prioritas Masalah
Masalah yang telah diidentifikasi perlu ditentukan menurut urutan atau prioritas
masalah, untuk itu digunakan beberapa metode. Metode yang dapat digunakan
dalam menetapkan urutan prioritas masalah, pada umumnya dibagi atas, Teknik
Skoring dan Teknik Non Skoring, sebagai berikut : Teknik scoring dapat digunakan
apabila tersedia data kuantitatif atau data yang dapat terukur dan dapat dinyatakan
dalam angka, yang cukup dan lengkap. Yang termasuk teknik scoring dalam
penetuan prioritas masalah, yakni:
a. .Metode USG (Urgency, Seriousness, and Growth)
b. Metode MCUA (Multi Criteria Utility Assesment)
c. Metode CARL (Capability, Accesability, Readiness & Leverage)
d. Metode Hanlon (nama penemu metode Hanlon)

2.1.4 Putting Lecet


2.1.4.1 Definisi Putting Lecet
Umumnya ibu akan merasa nyeri pada waktu awal menyusui. Perasaan
sakit ini akan berkurang setelah ASI keluar. Bila posisi mulut bayi dan putting susu
ibu benar, perasaan nyeri akan segera hilang. Putting susu terasa nyeri bila tidak
ditangani dengan benar dan akan menjadi lecet. Umumnya menyusui akan
menyakitkan dan kadang-kadang mengeluarkan darah.
2.1.4.2 Etiologi

Putting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi
dapat pula disebabkan oleh thrush (candidates) atau dermatitis.
(Sulistiawati, 2009; h. 32)
Putting susu lecet dapat disebabkan oleh trauma saat menyusui. Selain itu, dapat
pula terjadi retak dan pembentukan celah-celah. beberapa penyebab puting susu lecet
adalah :
a. Teknik menyusui yang tidak benar
b. Puting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol, ataupun zat iritan lain saat
ibu membersihkan puting susu
c. Moniliasis pada mulut bayi yang menular pada puting susu ibu
d. Bayi dengan tali lidah pendek (frenulum lingue)
e. Cara menghentikan menyusui yang kurang tepat

2.1.4.3 Penatalaksanaan

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi puting susu lecet adalah:

a. Cari penyebab putting lecet


b. Selama puting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan
tangan
c. Olesi puting dengan ASI akhir
d. Menyusui lebih sering
e. Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu 1x24 jam
f. Cuci payudara sekali sehari tidak dibenarkan untuk mengunakan sabun
g. Posisi menyusui harus benar
h. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke puting yang lecet dan biarkan kering
i. Pergunakan bra yang menyangga
j. Bila terasa sangat sakit boleh minum obat pengurang rasa sakit
k. Jika penyebab monilia, diberi pengobatan dengan tablet Nystatin

2.1.5 Obesitas
2.1.5.1 Definisi Obesitas
Obesitas merupakan suatu penyakit multifaktorial, yang terjadi akibat
akumulasi jaringan lemak berlebihan, sehingga dapat mengganggu kesehatan.
Obesitas terjadi bila jumlah dan besar sel lemak bertambah pada tubuh
seseorang. Bila seseorang bertambah berat badannya, maka ukuran sel lemak
akan bertambah besar dan kemudian jumlahnya bertambah banyak. Obesitas
merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu makan dan
metabolisme energy yang spesifik.
Faktor genetik diketahui sangat berpengaruh bagi perkembangan penyakit
ini. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan
akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adiposa
sehingga dapat mengganggu kesehatan. Keadaan obesitas ini, terutama
obesitas sentral, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena
keterkaitannya dengan sindrom metabolik atau sindrom resistensi insulin
yang terdiri dari resistensi 10 insulin/hiperinsulinemia, hiperuresemia,
gangguan fibrinolisis, hiperfibrinogenemia dan hipertensi (Sudoyo, 2009).
Obesitas timbul sebagai akibat masukan energi yang melebihi pengeluaran
energi. Bila energi dalam jumlah besar (dalam bentuk makanan) yang masuk
ke dalam tubuh melebihi jumlah yang dikeluarkan, maka berat badan akan
bertambah dan sebagian besar kelebihan energi tersebut akan di simpan
sebagai lemak. Oleh karena itu, kelebihan adipositas (obesitas) disebabkan
masukan energi yang melebihi pengeluaran energi. Untuk setiap kelebihan
energi sebanyak 9,3 kalori yang masuk ke tubuh, kira-kira 1 gram lemak akan
disimpan. Lemak disimpan terutama di aposit pada jaringan subkutan dan
rongga intraperitoneal, walaupun hati dan jaringan tubuh lainnya seringkali
menimbun cukup lemak pada obesitas Perkembangan obesitas pada orang
dewasa juga terjadi akibat penambahan jumlah adiposit dan peningkatan
ukurannya. Seseorang dengan obesitas yang ekstrem dapat memiliki adiposit
sebanyak empat kali normal, dan setiap adiposit memiliki lipid dua kali lebih
banyak dari orang yang kurus (Guyton, 2007).

2.1.5.2 Etiologi Obesitas


Penyebab obesitas sangatlah kompleks. Meskipun gen berperan penting
dalam menentukan asupan makanan dan metabolisme energi, gaya hidup dan
faktor lingkungan dapat berperan dominan pada banyak orang dengan obesitas.
Diduga bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh karena interaksi antara
faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain aktifitas, gaya hidup, sosial
ekonomi dan nutrisional (Guyton, 2007 )
a. Genetik
Obesitas jelas menurun dalam keluarga. Namun peran genetik yang
pasti untuk menimbulkan obesitas masih sulit ditentukan, karena anggota
keluarga umumnya memiliki kebiasaan makan dan pola aktivitas fisik
yang sama. Akan tetapi, bukti terkini menunjukkan bahwa 20-25% kasus
obesitas dapat disebabkan faktor genetik. Gen dapat berperan dalam
obesitas dengan menyebabkan kelainan satu atau lebih jaras yang
mengatur pusat makan dan pengeluaran energi serta penyimpanan lemak.
Penyebab monogenik (gen tunggal) dari obesitas adalah mutasi MCR-4,
yaitu penyebab monogenik tersering untuk obesitas yang ditemukan sejauh
ini, defisiensi leptin kongenital, yang diakibatkan mutasi gen, yang sangat
jarang dijumpai dan mutasi reseptor leptin, yang juga jarang ditemui.
Semua bentuk penyebab monogenik tersebut hanya terjadi pada
sejumlah kecil persentase dari seluruh kasus obesitas. Banyak variasi gen
sepertinya berinterakasi dengan faktor lingkungan untuk mempengaruhi
jumlah dan distribusi lemak (Guyton, 2007).
b. Aktivitas fisik
Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama
obesitas. Hal ini didasari oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur
dapat meningkatkan massa otot dan mengurangi massa lemak tubuh,
sedangkan aktivitas fisik yang tidak adekuat dapat menyebabkan
pengurangan massa otot dan peningkatan adipositas. Oleh karena itu pada
orang obesitas, peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan
pengeluaran energi melebihi asupan makanan, yang berimbas penurunan
berat badan (Guyton, 2007).
Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap
pengendalian berat tubuh. Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor:
1) tingkat aktivitas dan olahraga secara umum; 2) angka metabolisme
basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi
minimal tubuh.
Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung
jawab dua pertiga dari pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas
fisik hanya mempengaruhi sepertiga pengeluaran energi seseorang dengan
berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan
aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat berolahraga
kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori
yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem
metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami
penurunn metabolisme basal tubuhnya.
Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang
hebat, obesitas membuat kegiatan olahraga menjadi sangat sulit dan
kurang dapat dinikmati dan kurangnya olahraga secara tidak langsung
akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut.
Jadi olahraga sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja
karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena dapat membantu
mengatur berfungsinya metabolisme normal (Guyton, 2007).
c. Perilaku makan
Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang tidak
baik. Perilaku makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa sebab,
diantaranya adalah karena lingkungan dan sosial. Hal ini terbukti dengan
meningkatnya prevalensi obesitas di negara maju. Sebab lain yang
menyebabkan perilaku makan tidak baik adalah psikologis, dimana
perilaku makan agaknya dijadikan sebagai sarana penyaluran stress.
Perilaku makan yang tidak baik pada masa kanak-kanak sehingga terjadi
kelebihan nutrisi juga memiliki kontribusi dalam obesitas, hal ini
didasarkan karena kecepatan pembentukan sel-sel lemak yang baru
terutama meningkat pada tahun-tahun pertama kehidupan, dan makin besar
kecepatan penyimpanan lemak, makin besar pula jumlah sel lemak. Oleh
karena itu, obesitas pada kanak-kanak cenderung mengakibatkan obesitas
pada dewasanya nanti (Guyton, 2007).
d. Neurogenik
Telah dibuktikan bahwa lesi di nukleus ventromedial hipotalamus
dapat menyebabkan seekor binatang makan secara berlebihan dan menjadi
obesitas. Orang dengan tumor hipofisis yang menginvasi hipotalamus
seringkali mengalami obesitas yang progresif. Hal ini memperlihatkan
bahwa, obesitas pada manusia juga dapat timbul akibat kerusakan pada
hipotalamus. Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan
makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang menggerakkan nafsu makan
(awal atau pusat makan) dan hipotalamus ventromedial (HVM) yang
bertugas menintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat kenyang).
Dan hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur maka
individu menolak untuk makan atau minum, dan akan mati kecuali bila
dipaksa diberi makan dan minum (diberi infus). Sedangkan bila kerusakan
terjadi pada bagian HVM, maka seseorang akan menjadi rakus dan
kegemukan. Dibuktikan bahwa lesi pada hipotalamus bagian ventromedial
dapat menyebabkan seekor binatang makan secara berlebihan dan obesitas,
serta terjadi perubahan yang nyata pada neurotransmiter di hipotalamus
berupa peningkatan oreksigenik seperti NPY dan penurunan pembentukan
zat anoreksigenik seperti leptin dan α-MSH pada hewan obesitas yang
dibatasi makannya (Guyton, 2007) .
e. Hormonal
Dari segi hormonal terdapat leptin, insulin, kortisol, dan peptida
usus. Leptin adalah sitokin yang menyerupai polipeptida yang dihasilkan
oleh adiposit yang bekerja melalui aktivasi reseptor hipotalamus. Injeksi
leptin akan mengakibatkan penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi.
Insulin adalah anabolik hormon, insulin diketahui berhubungan langsung
dalam penyimpanan dan penggunaan energi pada sel adiposa. Kortisol
adalah glukokortikoid yang bekerja dalam mobilisasi asam lemak yang
tersimpan pada trigliserida, hepatic glukoneogenesis, dan proteolisis
(Wilborn et al, 2005).
f. Dampak penyakit lain
Faktor terakhir penyebab obesitas adalah karena dampak/sindroma
dari penyakit lain. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan obesitas
adalah hypogonadism, Cushing syndrome, hypothyroidism, insulinoma,
craniophryngioma dan gangguan lain pada hipotalamus. Beberapa
anggapan menyatakan bahwa berat badan seseorang diregulasi baik oleh
endokrin dan komponenen neural. Berdasarkan anggapan itu maka sedikit
saja kekacauan pada regulasi ini akan mempunyai efek pada berat badan
(Flieretal,2005).

2.1.5.3 Patofisiologi Obesitas

Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan masukan dan keluaran kalori dari


tubuh serta penurunan aktifitas fisik (sedentary life style) yang menyebabkan
penumpukan lemak di sejumlah bagian tubuh (Rosen,2008).
Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa pengontrolan nafsu makan dan
tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme neural dan humoral
(neurohumoral) yang dipengaruhi oleh genetik, nutrisi,lingkungan, dan sinyal
psikologis. Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui
3 proses fisiologis, yaitu pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju
pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon. Proses dalam pengaturan
penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen (yang berpusat di
hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan adiposa,
usus dan jaringan otot).
Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta
menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik(anoreksia,
meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal
pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan waktu
makan, serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida
gastrointestinal, yang diperankan oleh kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator
dalam peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived hormon
leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan energi
(Sherwood, 2012).
Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan adiposa
meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah.
Kemudian, leptin merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar
menurunkan produksi Neuro Peptida Y (NPY) sehingga terjadi penurunan nafsu
makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan
energi, maka jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic
center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada
sebagian besar penderita obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya
kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan (Jeffrey, 2009).

2.1.5.4 Manifestasi Klien

Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi pada anak
biasanya timbul menjelang remaja dan dalam masa remaja terutama anak wanita,
selain berat badan meningkat dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan
lebih cepat (ternyata jika periksa usia tulangnya), sehingga pada akhirnya remaja
yang cepat tumbuh dan matang itu akan mempunyai tinggi badan yang relative
rendah dibandingkan dengan anak yang sebayanya.
Bentuk tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas :
a. Paha tampak besar, terutama pada bagian proximal, tangan relatif kecil
dengan jari – jari yang berbentuk runcing.
b. Kelainan emosi raut muka, hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan
dagu yang berbentuk ganda.
c. Dada dan payudara membesar, bentuk payudara mirip dengan payudara
yang telah tumbuh pada anak pria keadaan demikian menimbulkan
perasaan yang kurang menyenangkan.
d. Abdomen, membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul
lonceng, kadang – kadang terdapat strie putih atau ungu.
e. Lengan atas membesar, pada pembesaran lengan atas ditemukan
biasanya pada biseb dan trisebnya.
Pada penderita sering ditemukan gejala gangguan emosi yang mungkin
merupakan penyebab atau keadaan dari obesitas. Penimbunan lemak yang
berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru -
paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita
hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada
saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur
apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri
punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut
dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang
yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit
dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang
secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan
edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan
pergelangan kaki.

2.1.5.5 Komplikasi

Mortalitas yang berkaitan dengan obesitas, terutama obesitas apple shaped,


sangat erat hubungannya dengan sindrom metabolik. Sindrom metabolik
merupakan satu kelompok kelainan metabolik selain obesitas, meliputi resistensi
insulin, gangguan toleransi glukosa, abnormalitas lipid dan hemostasis, disfungsi
endotel dan hipertensi yang kesemuanya secara sendiri-sendiri atau bersama-sama
merupakan faktor resiko terjadinya aterosklerosis dengan manifestasi penyakit
jantung koroner dan/atau stroke. Mekanisme dasar bagaimana komponen-
komponen sindrom metabolik ini dapat terjadi pada seseorang dengan obesitas
apple shaped dan bagaimana komponen-komponen ini dapat menyebabkan terjadi
gangguan vaskular, hingga saat ini masih dalam penelitian (Soegondo,2007).

2.1.5.6 Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis OA biasanya dilakukan berdasarkan riwayat penyakit dan


pemeriksaan fisik, tetapi evaluasi radiografi juga diperlukan. Radiografi adalah
sensitif dan murah sehingga dapat dijadikan sebagai pemeriksaan rutin untuk OA
(Siddiqui & Laborde, 2009).
Secara umum, antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari
sudut pandan gizi, maka antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai
macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat
umur dan gizi.
Pada pemeriksaan antropometri tujuan yang hendak dicapai adalah:
1) Penapisan status gizi, yang diarahkan untuk orang dengan keperluan
khusus.
2) Survei status gizi, yang ditujukan untuk memperoleh gambaran status
gizi masyarakat pada saat tertentu serta faktor yang berkaitan.
3) Pemantauan status gizi, yang digunakan untuk memberikan gambaran
perubahan status gizi dari waktu ke waktu.
4) Pemeriksaan antropometri dilakukan dengan mengukur ukuran fisik,
seperti tinggi badan, berat badan serta lingkar beberapa bagian tubuh
tertentu.

2.1.5.7 Penatalaksanaan
1) Merubah gaya hidup
Diawali dengan merubah kebiasaan makan. Mengendalikan
kebiasaan ngemil dan makan bukan karena lapar tetapi karena ingin
menikmati makanan dan meningkatkan aktifitas fisik pada kegiatan sehari-
hari. Meluangkan waktu berolahraga secara teratur sehingga pengeluaran
kalori akan meningkat dan jaringan lemak akan dioksidasi
(Sugondo,2008).
2) Terapi Diet
Mengatur asupan makanan agar tidak mengkonsumsi makanan
dengan jumlah kalori yang berlebih, dapat dilakukan dengan diet yang
terprogram secara benar. Diet rendah kalori dapat dilakukan dengan
mengurangi nasi dan makanan berlemak, serta mengkonsumsi makanan
yang cukup memberikan rasa kenyang tetapi tidak menggemukkan karena
jumlah kalori sedikit, misalnya dengan menu yang mengandung serat
tinggi seperti sayur dan buah yang tidak terlalu manis (Sugondo, 2008).
3) Aktifitas Fisik
Peningkatan aktifitas fisik merupakan komponen penting dari
program penurunan berat badan, walaupun aktifitas fisik tidak
menyebabkan penurunan berat badan lebih banyak dalam jangka waktu
enam bulan. Untuk penderita obesitas, terapi harus dimulai secara
perlahan, dan intensitas sebaiknya ditingkatkan secara bertahap. Penderita
obesitas dapat memulai aktifitas fisik dengan berjalan selama 30 menit
dengan jangka waktu 3 kali seminggu dan dapat ditingkatkan intensitasnya
selama 45 menit dengan jangka waktu 3 kali seminggu dan dapat
ditingkatkan intensitasnya selama 45 menit dengan jangka waktu 5 kali
seminggu (Sugondo, 2008).
4) Terapi perilaku
Untuk mencapai penurunan berat badan dan mempertahankannya,
diperlukan suatu strategi untuk mengatasi hambatan yang muncul pada
saat terapi diet dan aktifitas fisik. Strategi yang spesifik meliputi
pengawasan mandiri terhadap kebiasaan makan dan aktifitas fisik,
manajemen stress, stimulus control, pemecahan masalah, contigency
management, cognitive restructuring dan dukungan sosial
(Sugondo,2008).
5) Farmakoterapi
Farmakoterapi merupakan salah satu komponen penting dalam
program manajemen berat badan. Sirbutramine dan orlistat merupakan
obat-obatan penurun berat badan yang telah disetujui untuk penggunaan
jangka panjang. Sirbutramine ditambah diet rendah kalori dan aktifitas
fisik efektif menurunkan berat badan dan mempertahankannya. Orlistat
menghambat absorpsi lemak sebanyak 30 persen. Dengan pemberian
orlistat, dibutuhkan penggantian vitamin larut lemak karena terjadi
malabsorpsi parsial (Sugondo,2008).

2.1.6 Disminorhe
2.1.6.1 Definisi Dismenorrhoe
Disminore adalah rasa sakit yang menyertai menstruasi sehingga dapat
menimbulkan gangguan pekerjaan sehari-hari. Derajat nyerinya bervariasi
mencakup ringan (berlangsung beberapa saat dan masih dapat meneruskan
aktivitas sehari-hari), sedang (karena sakitnya diperlukan obat untuk
menghilangkan rasa sakit, tetapi masih dapat melakukan pekerjaannya),
berat(rasa nyerinya demikian beratnya sehingga memerlukan istirahat dan
pengobatan untuk menghilangkan rasa nyerinya) (Manuaba, 2008).
Disminore adalah rasa sakit yang menyertai menstruasi sehingga dapat
menimbulkan gangguan sehari-hari. Derajat nyerinya bervariasi mencakup
ringan, sedang dan berat (Werdiningsih, 2010).
Disminore (nyeri perut) yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama
menstruasi. Disminore primer terjadi jika tidak ditemukan penyebab yang
mendasarinya (Maulana, 2009). Sementara menurut Maryanti Disminore primer
adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa ada kelainan, terapi yang diberikan dapat
berupa konseling, pereda rasa nyeri dan terapi hormonal (Maryanti 2009).
Dismenorea merupakan menstruasi yang nyeri dan telah menyerang 30 %
perempuan yang tidak ada dasar patologik di usia 20-25 tahun pada dismenorea
primer dan ada penyakit patologik di usia 30-40 tahun pada dismenorea sekunder
(Naylor, 2004).
Dismenore merupakan menstruasi yang menyakitkan khususnya sering terjadi
di awal-awal masa dewasa (Maulana, 2009).
Disminore rasa sakit ketika haid yang biasanya baru timbul 2 atau 3 tahun
sesudah menarche dan umumnya hanya terjadi pada siklus haid yang disertai
pelepasan sel telur dan kadang juga pada siklus haid yang tidak disertai
pengualaran sel telur (anovulatory) terutama bila darah haid membeku didalam
rahim (Jones, 2009).

2.1.6.2 Gejala dan Tanda disminore


Nyeri pada perut bagian bawah, yang biasanya menjalar kepunggung bagian
bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang timbul atau
sebagai nyeri tumpul yang terus menerur ada (Blogdokter, 2007). Gejala dan
tanda disminore ini adalah nyeri pada perut bagian bawah dan tungkai. Nyeri
dirasakan sebagai kramyang hilang dan timbul atau sebagai nyeri tumpul yang
terus menerus ada (Manuaba, 2009).

2.1.6.3 Klasifikasi Dismenorrhoe


Dismenorrhoe dikenal 2 bentuk, yakni:
1. Dismenorrhoe Primer
Disminore primer sering terjadi, kemungkinan lebih dari 15%
diantaranya mengalami nyeri yang hebat (Wednesday, 2009).
Bentuk ini biasanya mulai 2-3 tahun setelah menarche dan mencapai
maksimal antara usia 15 dan 25. Frekuensi menurun sesuai dengan
pertambahan usia dan biasanya berhenti setelah melahirkan. Disminore
spasmodik atau primer dialami oleh 60-75 % wanita muda. Pada tiga
perempat wanita yang mengalaminya, intensitas kram ringan atau
sedang, tetapi pada 25 % nyeri berat dan membuat penderitanya tidak
berdaya (Jones, 2001).
Sekitar lebih dari 50 % wanita yang mengalami menstruasi
mengalami dismenorea. Tingginya angka prevalensi dan morbiditas
dismenorea primer kurang mendapat perhatian dari dunia medis,
dikarenakan banyak wanita yang dianggap mengalami rasa sakit itu
sebagai sesuatu yang normal dan bersifat psikis walaupun hal tersebut
menghambat aktivitas mereka sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup
mereka. Salah satu faktor resiko terjadinya dismenorea primer adalah
stress (SOFI, 2009) Dismenorrhoe primer terjadi jika tidak ditemukan
penyebab yang mendasarinya (Maulana, 2009).
Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-
3 tahun setelah menstruasi pertama (Maulana, 2009). Rasa nyeri timbul
bersama-sama pada permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam
atau beberapa hari (Sarwono, 2005).
2. Dismenorrhoe Sekunder
Disminorea sekunder didapat jarang sekali terjadi sebelum usia 30
tahun. Pada kebanyakan kasus penyebabnya adalaha endometriosis atau
penyakit peradangan pelvik. Nyeri kram yang khas mulai mulai 2 hari
atau lebih sebelum menstruasi, dan nyerinya semakin hebat pada akhir
menstruasi (Jones, 2001).
Dismenorea sekunder pada pemeriksaan terdapat kelainan ginekologi,
misalnya radang kronik saluran sel telur, stenosis/penyempitan leher
rahim, endometriosis dan sebagainya.Dismenore sekunder lebih jarang
ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore.
Penyebab dari dismenore sekunder adalah: endometriosis, fibroid,
adenomiosis, peradangan tuba falopii, perlengketan abnormal antara
organ di dalam perut, dan pemakaian IUD (dr. Fadlina, 2008).
2.1.6.4 Ciri-Ciri Dismenorrhea Primer:

1. Terjadi beberapa waktu atau 6-12 bulan sejak haid pertama


(menarche)
2. Rasa nyeri timbul sebelum haid, atau di awal haid. Berlangsung
beberapa jam, namun adakalanya beberapa hari.
3. Datangnya nyeri: hilang-timbul, menusuk-nusuk. Pada umumnya di
perut bagian bawah, kadang menyebar ke sekitarnya (pinggang, paha
depan)
4. Adakalanya disertai mual, muntah, sakit kepala, diare.

2.1.6.5 Faktor Penyebab Disminorhea Primer


Menurut Naylor etiolologi disminorhea primer memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Meningkatnya PGF2α
2. Peningkatan kontraksi uterus
3. Ujing saraf tersensitisasi
4. Penurunan aliran darah uterus
5. Iskemia uterus relative
(Naylor,2002)
Penyebab pasti disminorhe primer hingga kini belum diketahui secara pasti
(idiopatik) namun beberapa factor ditengarai sebagai pemicu terjadinya nyeri
haid, diantaranya :
a. Factor kejiwaan
Factor kejiwaan yaitu emosi yang labil terlebih pada mereka yang belum
mendapatkan keterangan yang baik mengenai haid. Beberapa penyakit
dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap rasa nyeri misalnya
anamia,penyakit menahun dan sebagainya. Factor psikis gadis dan ibu-
ibu yang emosinya sering tidak stabil lebih mudah mengalami nyeri haid.
b. Factor alergi
Factor alergi yaitu peningkatan kadar prostaglandin dan hormone
progesterone yang berlebihan dapat menyebabkan nyeri haid timbul
karena peningkatan produksi prostaglandin oleh dinding rahim saat
menstruasi.
c. Factor lain
Factor lain yang pernah dikemukakan isaah adanya sumbatan pada
rongga Rahim dan factor endokrin yang berhubungan dengan kontraksi
Rahim yang berlebihan (dr.Fadlina,2008).

2.1.6.6 Faktor Resiko Disminorhea


Beberapa factor dibawah ini dianggap sebagai factor resiko timbulnya nyeri haid
yaitu :
a. Haid pertama (menarche) di usia dini (kurang dari 12 tahun)
b. Wanita yang belum pernah melahirkan anak hidup (nulipara)
c. Darah haid berjumlah banyak atau masa menstruasi yang panjang
d. Merokok
e. Adanya riwayat nyeri haid keluarga
f. Obesitas
(Pradita,2010)

2.1.6.7 Penanganan
Diantara beberapa alternative penanganan, ada beberapa yang bisa kita lakukan
sendiri antara lain: pemanasan, latihan, dan obat-obatan.
a. Pemanasan
Ini merupakan cara klasik yang cukup efektif yang dengan cara sebagai
berikut.
1. Berendam pada bak yang berisi air hangat
2. Menyeka perut bagian bawah dengan botol/bantal pemanas
Perlu berhati-hati disini dalam mengatur suhu pemanas karena pemakaian
yang lama dengan suhu yang tertinggi dapat melukai kulit, bintik-bintik
merah yang tampak samar merupakan salah satu tanda telah berlebihan
melakukannnya.
b. Latihan
Cara lain yang bisa kita upayakan untuk mengatasi nyeri haid adalah
dengan latihan atau olahraga secara teratur. Ada beberapa teknik latihan
khusus yang telah dipraktikkan oleh beberapa penderita disminorhea
Latihan pertama : berdiri kira-kira 50-70 cm disebelah kanan dinding
dengan kaki tegak lurus. Letakkan lengan kiri pada dinding setinggi bahu
sedangkan tangan kanan dilipat ke pinggang. Gerakkan dengan kuat otot-
otot perut secara bersamaan dengan otot-otot pantat, panggul didorong ke
depan. Tahanlah kontaksi otot-otot tersebut kemudian gerakkan panggulke
sisi dinding. Tetaplah pada posisi demikian kira-kira 3-4 detik, kemudian
istirahat sejenak dan ulangi latihan serupa sebanyak 3-4 kali, kemudian
posisi diubah disebelah kiri dinding sehinga gerakan merata pada kedua
sisi tubuh. Perlu dicatat bahwa harus di usahakan tumit tetap di tempat
(tidak bergeser) dan pinggang jangan sampai menyentuh dinding.
Latihan kedua: berdirilah dengan kedua kaki tegak, tangan diangkat tinggi-
tinggi sampai melampaui bahu. Kita putar kedua lengan ke salah satu sisi
dan berusaha menyentuh sisi luar kaki kiri dengan tangan kanan dan
sebaliknya. Gerakan diulangi sebanyak 10 kali disetiap masing-masing
sisi.
c. Obat-obatan
Bila nyeri demikian hebat dan perlu pertolongan segera makak kita bisa
membeli obat-obatan anti nyeri yang dijual bebas tanpa harus dengan
resep dokter. Misalnya feminax, aspirin, paracetamol,dll. Jangan lupa
bacalah dengan teliti aturan pemakaiannya. Apabila telah melakukan
upaya-upaya dirumah baik dengan pemanasan,latihan maupun obat-obatan
selama lebih kurang 3 bulan tetapi belum ada sedikitpun perbaikan
sebaiknya konsultasi dengan ahlinya secara langsung kepada perugas
kesehatan (dr.fadlina,2010)
Sedangakan menurut Prawirohardjo, 2014 penangganan pada disminorhea
1. Nasehati mengenai makan sehat istirahat yang cukup, olaharaga
2. Pemberian obat analgetik
Obat analgetik yang sering diberikan adalah prevarat kombinasi aspirin,
fenaslein,dan kafein.
3. Terapi hormonal
Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam melakukan asuhan kebidanan pada keluarga Tn. “G” yaitu pada
pembahasan adalah membandingkan antara teori kasus yang ada pada pengkajian
baik pada teori maupun pada kasus yang dilakukan mulai dari data subyektif
sampai dengan data obyektif. Pada pengkajian ini yaitu pada teori harus dilakukan
secara keseluruhan dan semua teratasi dengan baik.
Keluarga memiliki prioritas masalah pada anggota keluarganya yaitu
terdapat ibu nifas P2002 dengan putting susu lecet. Sesuai dengan teori yang ada
bahwa Putting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi
dapat pula disebabkan oleh thrush (candidates) atau dermatitis.(Sulistiawati, 2009)
Dalam intervensi antara teori dari kasus tidak terdapat kesenjangan yaitu
pada teori dan kasus. Petugas kesehatan bertanggung jawab memberikan
penatalaksanaan yang sesuai dengan masalah yang ada.
Pada implementasi antara teori dan kasus juga tidak terdapat kesenjangan
yaitu intervensi yang telah dibuat dapat dilaksanakan pada implementasi.
Dari evaluasi juga tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus yaitu
pada sehingga pada evaluasi didapatkan hasil asuhan kebidanan yang telah
diberikan masuk kategori berhasil.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Asuhan kebidanan komunitas memfokoskan pemberian pelayanan pada
setiap keluarga yang berada dalam wilayah kerjanya.Bentuk pemberian pelayanan
yang dilaksanakan adalah menyelesaikan berbagai permasalahan di bidang
kesehatan khususnya kesehatan ibu dan anak.Kegiatan-kegiatan tersebut tentunya
bertujuan akhir untuk menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi. Dari
berbagai penyuluhan yang telah dilakukan diharapkan akan mampu meningkatkan
pengetahuan masyarakat mengenai permasalahan kesehatan mereka sehingga
diharapkan masyarakat akan lebih mandiri dalam menyelesaikan masalah
kesehatan yang ada di lingkungannya. Begitu juga dengan keluarga Tn.G.setelah
dilakukan beberapa tindakan untuk menyelesaikan masalah yang ada, kini
keluarga Tn.G sudah lebih memahami apa dan bagaimana cara mengatasi masalah
kesehatannya.

5.2 Saran
1. Kepada Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan lebih dapat menggali lebih dalam lagi mengenai
kesehatan keluarga dan meningkatkan pengetahuan mengenai asuhan
kebidanan pada keluarga.
2. Kepada Keluarga
Dengan diadakannya penyuluhan ini diharapkan keluarga dapat mengenali
masalah kesehatan serta mampu mencari penyelesaian secara mandiri.
3. Kepada Institusi Pendidikan
Institusi pendidikan diharapkan dapat memberikan bimbingan yang dapat
memberikan semangat bagi para mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA

Sulistyawati. 2009.Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta:


Andi Offset

Hariyanto, D., Madiyono, B., Sjarif, D. R., & Sastroasmoro, S. (2009). Hubungan
Ketebalan Tunika Intima Media Arteri Carotis dengan Obesitas pada
Remaja,11(3).

Suprajitno, 2004, Asuhan Keperawatan Keluarga : Aplikasi dalam praktik, Jakarta


: EGC

Karwati, Pujiati D, Mujiwati S. Asuhan Kebidanan Edisi V. Trans Info Media.


2013

Ayu, R., & Sartika, D. (2011). FAKTOR RISIKO OBESITAS PADA ANAK 5-
15 TAHUN DI INDONESIA, 15(1), 37–43.

Jeffrey, A, et al. 2009. Stronger Relationship Between Central Adiposity And C


Reactive Protein In Older Women Tahn Men’, Source Menopause: 16, 84-89
(Diakses pada: 18 September 2014).

Sherwood, L. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta : EGC.
h. 708-710.