Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

MANAJEMEN TERNAK PERAH

OLEH :

NAMA : A. ANISA FAJRIANA MISMAR

NIM : I011171532

KELAS : B2 MANAJEMEN TERNAK PERAH

DOSEN : Prof. Dr. Ir. SYAMSUDDIN GARANTJANG, M.Sc

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDDIN
MAKASSAR
2019
1. Bagaimana Produksi Jagung, Kacang Kedelai, dan Beras saat ini dan
hubungannya dengan impor dan produksi !
2. Berapa jumlah KK Petani dan Peternak saat ini
Jawab :
1. a) Jagung
Produksi jagung pada tahun 2018 surplus/kelebihan, bahkan telah
melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia. Berdasarkan data Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung dalam 5
tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49% per tahun. Itu artinya, 2018 produksi
jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Hal ini juga
didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06%, dan
produktivitas rata-rata meningkat 1,42% (BPS,2018).
Pada tahun 2019, substitusi kebutuhan jagung dengan gandum untuk
pakan ternak, Indonesia berpotensi mengimpor 2,5 hingga 3 juta ton jagung per
tahun. Namun, dengan adanya substitusi jagung dengan produk lain seperti
gandum atau olahan gandum, maka potensi impor jagung tahun ini tidak akan
sebesar angka tersebut. Tahun ini Indonesia kemungkinan besar akan impor
jagung agar kebutuhan ternak terpenuhi.
b) Kacang kedelai
Berdasarkan data yang dirilis oleh Departemen Pertanian AS (USDA),
dalam periode Oktober 2018—Oktober 2019, produksi kedelai lokal diprediksi
stagnan di kisaran 520.000 ton. Pada saat yang saama, konsumsi diperkirakan
mencapai 3,07 juta ton yang 95% diantaranya untuk kebutuhan sektor pangan.
Adapun, kebutuhan full-fat soybean untuk pakan ternak diperkirakan
mencapai 170.000 ton, naik tipis 10.000 ton dari periode sebelumnya. Dengan
demikian, impor kedelai diperkirakan mencapai 2,75 juta ton. Pada periode
Oktober 2017/2018, impor kedelai mencapai 2,5 juta ton. Data yang dirilis
oleh USDA tersebut menunjukkan bahwa pemerintah harus bekerja ekstra
untuk mendorong produksi kedelai lokal.
Tahun ini target luas pengembangan budidaya kedelai dipatok seluas
350.000 hektare. Ada pula di luar itu melalui pola tumpang sari, jagung-kedelai
350.000 hektare dan kedelai-padi 350.000 hektare. Dengan begitu,
Kementerian Pertanian menargetkan memproduksi 2,8 juta ton.
Padahal dalam empat tahun terakhir luas tanam kedelai hanya berkisar
600.000 hektare-680.000 hektare. Gairah untuk menanam kedelai tidak
kunjung menguat karena kalah saing dengan produk impor yang lebih murah di
pasaran.
c) Beras
Impor beras memang sudah menjadi kegiatan tahunan Indonesia. Dari data
yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), sejak tahun 2000 hingga saat ini,
belum pernah Indonesia absen dari yang namanya impor beras. Padahal,
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil beras terbesar di dunia.

Pada periode 2000-2018, impor beras mencapai puncaknya pada tahun


2011, yaitu mencapai 2,75 juta ton. Namun, sejak 2011, impor beras kembali
mencapai puncaknya pada tahun 2018 yaitu sebesar 2,14 juta ton. Sebabnya,
lahan panen beras tanah air mengalami fluktuasi. Sejak awal tahun 2018 hingga
bulan Maret 2018, memang luas lahan panen padi meningkat, puncaknya
sebesar 1,7 juta hektar. Wajar, karena bulan Maret memang biasa menjadi
bulan panen raya di Indonesia karena awal tahun yang biasanya musim hujan
menjadi waktu tanam yang optimal bagi tanaman padi. Alhasil stok padi
meluap, membuat surplus beras pada bulan Maret 2018 mencapai 2,91 juta ton.
Memang, surplus beras tahun ini jauh lebih kecil dibanding surplus beras
pada 4 tahun ke belakang. Bila kecilnya surplus beras dijadikan alasan untuk
meningkatnya impor, hal tersebut menjadi anomali pada tahun-tahun sebelumnya
dimana surplus mencapai belasan hingga puluhan ton. Bahkan pada tahun 2016,
dimana surplus beras paling tinggi pada periode 2014-2017, Indonesia juga
terbilang mengimpor beras cukup banyak, mencapai 1,28 juta ton.
Tapi mau bagaimanapun juga, surplus tetaplah surplus. Bila kelebihan
pasokan dalam negeri masih diikuti dengan tambahan pasokan dari luar, berarti
ada yang salah dengan rantai pasokan dalam negeri.

2. Tahun 2018 tepatnya bulan November BPS melansir, pekerja di sektor


pertanian tercatat 35,7 juta orang atau 28,79 persen dari jumlah penduduk
bekerja 124,01 juta jiwa. Sementara di tahun lalu yaitu 2017, jumlah pekerja
sektor pertanian di angka 35,9 juta orang atau 29,68 persen dari jumlah
penduduk bekerja 121,02 juta orang. Untuk jumlah KK Peternakan saat
mencari di mesin pencarian, tidak ada yang menyebutkan jumlah spesifik
peternakan, mungkin karena jumlah KK peternakan sudah masuk pada bagian
jumlah KK pertanian.
LAMPIRAN