Anda di halaman 1dari 7

FANATISME BUTA PARA PASLON DALAM RUSAKNYA DEMOKRASI

NAMA KELOMPOK :
DIPTA AFRILIA PUTRI
NURUL FADILA
SYABIKA IMANI HUSNIADHY

XI IPA 1

SMAN 1 CITEUREUP
TAHUN AJARAN
2018/2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah

memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Karya

Tulis Ilmiah (KTI) yang disajikan dalam bentuk sederhana ini.

Kami selaku penyusun KTI mengucapkan banyak terimakasih kepada

seluruh pihak yang telah mendukung dalam penyusunan KTI ini. Semoga KTI ini

dapat diterima dengan baik.

Penyusun tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata

sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya.

Untuk itu, penyusun mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk

makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik

lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis

mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Citereup, April 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan sarana penunjang dalam mewujudkan sistem

ketatanegaraan secara demokratis. Pemilu pada hakikatnya merupakan proses ketika rakyat

sebagai pemegang kedaulatan memberikan mandat kepada para calon pemimpin untuk menjadi

pemimpinnya.

Dalam sistem pemerintahan yang demokratis, seorang pemimpin akan langsung dipilih

oleh rakyatnya, sehingga rakyat memiliki kebebasan untuk memilih siapa yang akan menjadi

pemimpinnya. Seperti halnya yang terjadi di Indonesia, Pemilu merupakan ajang pesta

demokrasi rakyat untuk menentukan pilhan politiknya.

Fanatisme adalah paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap

sesuatu secara berlebihan. seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola

pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya

bertentangan.

Maka dari itu penulis menarik sebuah judul penelitian yang berjudul “Fanatisme buta

para paslon dalam rusaknya demokrasi”

1.2. Rumusan Masalah

1. Apakah penyebab fanatisme terhadap paslon di kalangan masyarakat ?

2. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari fanatisme buta yang merusak demokrasi ?

1.3. Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui penyebab fanatisme yang muncul pada saat pesta demokrasi,

serta untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari fanatisme buta.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Pembaca

Sebagai sumber referensi dan informasi supaya mengetahui dan lebih mendalami

bagaimana agar tidak bersifat fanatis terhardap paslon.

2. Penulis

Dapat memahami dan menambah ilmu pengetahuan serta wawasan.

3. Masyarakat

Hasil penelitian dapat diaplikasikan pada masyarakat.


BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Pengertian fanatisme

Fanatisme adalah paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap

sesuatu secara berlebihan. Filsuf George Santayanamendefinisikan fanatisme sebagai,

"melipatgandakan usaha Anda ketika Anda lupa tujuan Anda" dan menurut Winston

Churchill, "Seseorang fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan

mengubah haluannya". Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat

dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang

dianggapnya bertentangan.

2.2 Jenis-jenis fanatisme

 Fanatisme etnis

 Fanatisme nasional

 Fanatisme ideologi

 Fanatisme agama

 Fanatisme olahraga

2.3 Bentuk-bentuk pemicu munculnya fanatisme

1. Kurang Pergaulan

Penyebab pertama adalah kurangnya pergaulan. Pergaulan yang kurang akan


membuat seseorang merasa sensitif terhadap perbedaan. Karena itulah pergaulan yang

luas itu penting. Sebab dengan mengenal orang dari berbagai macam agama, etnik,

dan budaya yang berbeda, maka kita akan lebih terbiasa dengan keberagaman dan

lebih bisa menerimanya. Tanpa pernah mengenal orang yang berbeda agama, etnik,

dan budaya, kita akan berprasangka buruk bahkan berpikiran picik pada mereka yang

memiliki latar belakang berbeda.

2. Kurang wawasan

Penyebab kedua adalah kurangnya wawasan. Wawasan yang luas akan membuat kita

mampu melihat segala sesuatu dari berbagai macam sudut pandang, membuat kita

lebih objektif dalam berpikir, dan paham bagaimana cara menyikapi keberagaman.

Wawasan juga mampu membuka pikiran kita, membuat kita mampu menalar sesuatu

dengan kritis, dan mampu mengasah logika kita. Orang yang wawasannya sempit dan

hanya sibuk mempelajari agamanya saja akan membuatnya terkurung dalam

cangkang kebenarannya sendiri. Membuat pikirannya tertutup pada dunia luar yang

memiliki keberagaman cara pandang dan budaya. Maka dari itu, penting bagi

seseorang untuk memiliki wawasan yang luas. Cara memperluas wawasan antara lain

dengan membaca buku-buku sejarah, filsafat, sains, dan menonton film-film yang

bermuatan sosial dan filosofis.

3. Kurang empati

Penyebab ketiga adalah kurangnya empati yang disebabkan oleh self-righteousness

yang berlebihan. Self-righteousness atau perasaan benar yang berlebihan dapat

membuat orang tidak toleran dan tidak mampu menerima pendapat orang lain yang

berbeda. Self-righteousness yang berlebihan ini membuat seseorang merasa benar

sendiri dan tidak punya rasa empati pada sudut pandang orang lain. Yang beda agama

dianggap salah, yang satu agama tapi beda mazhab dianggap salah, yang satu agama
satu mazhab tapi beda partai dianggap salah, semuanya salah, yang boleh benar hanya

dirinya sendiri saja. Itulah contoh self-righteousness yang berlebihan. Watak seperti

itu pun bisa dikategorikan sebagai delusi atau penyimpangan psikologis.

2.4 Pengertian demokrasi

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak

setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi

mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui

perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.

2.5 Bentuk-bentuk demokrasi

1. Demokrasi langsung

Demokrasi langsung merupakan suatu bentuk demokrasi dimana setiap rakyat

memberikan suara atau pendapat dalam menentukan suatu keputusan. Dalam sistem

ini, setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih suatu kebijakan sehingga

mereka memiliki pengaruh langsung terhadap keadaan politik yang terjadi.

2. Demokrasi perwakilan

Dalam demokrasi perwakilan, seluruh rakyat memilih perwakilan melalui

pemilihan umum untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan bagi

mereka.