Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Suku Gayo merupakan suku yang berdiam di kabupaten Aceh Tengah. Suku
Gayo terbagi menjadi beberapa kelompok, yakni Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo
Lues, Gayo Belang, Gayo Serbejadi, dan Gayo Kalul. Mulanya, suku ini dikenal
dengan sebutan suku perbukitan, karena letak geografis masyarakat penutur
bahasa Gayo berada di daerah dataran tinggi Aceh Tengah dan Blang Kejeren.
Sebagian lainnya tinggal di kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Timur, terutama
di sekitar Danau Laut Tawar, di antara pegunungan Bukit Barisan, serta di sekitar
Hulu Sungai Peureulak dan Jamboayee.
Pemberian nama suatu suku atau daerah biasanya dikaitkan dengan peristiwa-
peristiwa yang memiliki latar belakang sejarah. Namun dengan adanya
penghubungan peristiwa tersebut, menimbulkan beragam cerita dan arti yang
ada. Seperti halnya dengan suku Gayo. Pertama kata “Gayo” dapat berarti
kepiting dalam bahasa Batak Karo. Konon saat itu ada rombongan pendatang
suku Batak Karo yang melintasi desa Porang. Tidak jauh dari desa tersebut
dijumpai telaga yang dihuni seekor kepiting besar, seketika para pendatang ini
melihat binatang tersebut merekapun berteriak Gayo…Gayo... sejak saat itulah
daerah ini dinamai dengan Gayo. Kedua, kata “Gayo” berasal dari bahasa
sangsekerta yang artinya gunung. Tersirat makna dari suku Gayo yakni suku
yang tinggalnya di daerah pegunungan. Dan ketiga, Mulanya kata “Gayo”
diucapkan kayo, dalam bahasa Aceh, ka artinya sudah dan yo artinya lari/takut.
Bila digabungkan menjadi sudah takut/berlari. Oleh karena konsonan [k] sering
kali menjadi konsonan [g] dalam bahasa Aceh, semisal “kuda” menjadi ‘guda’,
sehingga lambat laun kata kayo terbiasa menjadi Gayo.
B. SEJARAH
Asal-usul penduduk Gayo tidak terlepas kaitannya dengan kedatangan nenek
moyang ke kepulauan Indonesia, yang dimulai kurang lebih 2000 tahun sebelum
masehi. Sisa-sisa penduduk kepulauan Indonesia yang mula-mula sekali ialah
orang Kubu di Sumatera yang serupa dengan orang Semang di semenanjung
Melayu, orang Wedda di Sailan, Negrita di Fhilipina. Kulitnya hitam dan
badannya kecil berambut keriting.
Nenek moyang bangsa Indonesia datang ke-kepulauan ini secara bertahap
dalam 2 (dua) gelombang besar dari India Belakang (Birma, Siam, dan Indo Cina).
Mereka yang datang dalam gelombang pertama dinamakan denagn Proto Melayu,
sedangkan gelombang kedua dinamakan dengan Deutre Melayu.
Nenek moyang gemar berlayar sehingga perjalanan menuju pulau Indonesia
tidaklah sukar, mereka pun sudah pandai bercocok tanam dan memelihara ternak.
Selain itu mereka sangat ahli dalam ilmu bintang yang bertalian dengan pelayaran
dan musim. Kepercayaan mereka adalah menyembah roh-roh yang sudah
meninggal dunia, dan yang paling dihormati adalah roh pembangun suku atau
negeri. Roh-roh tersebut dapat memasuki tubuh atau jasad-jasad dukun dan guru-
guru yang biasanya perempuan. Setelah membakar kemenyan mereka menari
dengan diiringi oleh bunyi-bunyian. Hal ini masih terlihat pada suku-suku yang
dipengaruhi oleh kebudayaan Hindia, Islam, dan Batak. Mereka memilih tempat
tinggal di pinggir-pinggir sungai dan tanah subur di sekeliling/sekitar gunung
berapi.
Keberadaan mereka di kepulauan Indonesia terpisah-pisah dan jarang
berhubungan komunikasi satu dengan lainnya, lama-kelamaan terjadi perbedaan
dalam adat-istiadat dan bahasa, namun tetap tampak persamaan-persamaan yang
mendasar.
Karena terdesak oleh pendatang-pendatang dalam gelombang kedua (Deutre
Melayu) yang lebih cerdas dan tinggi kebudayaannya, suku-suku yang tergolong
Proto Melayu ini seperti orang Batak Karo, Gayo, Toba, Toraja, Dayak, dan lain-
lain masuk ke pedalaman di sepanjang pinggir sungai-sungai.
Sebagai suku bangsa yang digolongkan kepada Proto Melayu, suku Gayo
yang konon berasal dari India Belakang ini mula-mula mendiami pantai timur dan
utara Aceh, di tempat Kerajaan Samudera Pasai dan Peurlak. Dalam usaha mencari
tanah baru sebagai areal pertanian, sebagian pindah ke pedalaman sepanjang
sungai Peusangan, Jambo Aer, Penarun, Simpang Kiri, Simpang Kanan terus ke
daerah yang sekarang bernama Gayo Kalul dan Gayo Lues. Akibat dari terjadinya
peperangan/serangan dari Kerajaan Sriwijaya dalam tahun 1271 atas Kerajaan
Peurlak dan serangan Kerajaan Majapahit dalam tahun 1350 atas Kerajaan
Samudera Pasai. Maka semakin bertambah banyaklah mereka yang mengungsi ke
pedalaman, yang kelak tidak mau kembali lagi kendati musuh telah menyerah.
Orang Gayo yang telah mendiami daerah pedalaman lalu membentuk Kerajaan
Lingga (Linge).
Bila dilihat dari silsilah Kerajaan Linge, maka dapat dikemukakan
Raja Linge yang pertama adalah Tengku Kawe Tepat, yang mempunyai 4 (empat)
orang anak :
1. Anak pertama perempuan bernama Empu Beru yang tinggal sama ayahnya
di Linge.
2. Anak kedua laki-laki bernama Si Bayak Linge. Anak ini setelah dewasa
bersama-sama rekannya berangkat ke daerah Karo dan bermukim dekat
pegunungan Si Bayak.
3. Anak yang ketiga laki-laki bernama Merah Johan, juga setelah dewasa
berangkat ke daerah Aceh yang bermukim di Lamuri.
4. Anak yang bungsu laki-laki bernama Merah Linge. Anak inilah yang
menetap bersama ayahnya, serta sebagai pengganti ayahnya sebagai Raja
Linge kedua.
Penduduk Linge lama kelamaan bertambah banyak, kemudian mereka berpindah-
pindah mencari tempat pemukiman baru, sebagian mereka ada ke dataran tinggi
Gayo, selanjutnya menjadi penduduk asli Gayo.
Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M.
Junus Djamil dalam bukunya "Gajah Putih" yang diterbitkan oleh Lembaga
Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada
abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah
eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M),
Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan
Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini
diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik
Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya
pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.Raja Lingga I, disebutkan
mempunyai 4 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau
Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Djohan Syah)
dan Meurah Lingga(Malamsyah). Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah
Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak.
Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang
bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri
atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas
didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo,
yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke
daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya
merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab. Meurah
Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah
Linge, Aceh Tengah. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh
penduduk. Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat
dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege.
Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.
BAB II

PEMBAHASAN

Etnik Gayo merupakan satu suku tang terdapat didataran tinggi Gayo, yaitu
berada di jantung Provinsi Aceh. Masyarkat Gayo merupakan bagian dari melayu tua,
menelusuri asal usul orang Gayo, tidak banyak sumber atau artefak, yang ada hanya
cerita atau yang dikenal dengan istilah Kekeberen atau cerita turun temurun dari
keturunan Raja Lingga (Reje Lingge). Asal suku Gayo adalah dari negeri ROM
(Romawi). Masyarakat Gayo istilah Romawi sangat sulit disebut jadi disingkat
dengan istilah ROM. Raja permata kerajaan Lingga adalah anak dari raja Romawi
kuno, bertempat dikota Istambul Turki. Begitu juga dengan asal kata Lingge yang
artinya adalah suara. Karena menurut pendapat masyarakat tersebut, Reje Lingge
(Raja Lingga) mendengar suara tetapi tidak ditemukan dari mana arah suara tersebut.
Sehingga raja Lingga (Reje Lingge) memberi nama kerajaannya dengan nama Lingge
(suara). Raja Lingga (Reje Lingge) bernama Adi Genali (Mahmud Ibrahim 2007:14).

Berikut pembahasan 7 unsur kebudayaan Suku Gayo:

1. BAHASA
Dalam berbagai karangan sering dinyatakan bahwa orang Gayodan Alas
merupakan satu kesatuan kebudayaan, misalnya saja Van Vollenhoven
menggolongkan keduanya dalam satu lingkaran hukum adat. Apabila dilihat
dari segi bahasanya, bahasa Gayo dan bahasa Alas pada dasarnya berbeda.
Dalam kenyataan kelompok orang pemakai bahasa Gayo dan kelompok
pemakai bahasa Alas, dalam keadaan biasa, artinya sebelum mempelajari
terlebih dahulu, mereka saling tidak memahami satu dengan yang lain. Namun
demikian tentu saja antara kedua bahasa ini ada unsur-unsur kesamaan tertentu.
Keadaan yang sama tampak juga antara bahasa Gayo dan bahasa Aceh
mesikpun kedua bahasa ini pun hidup bertetangga. Pengaruh bahsa Aceh
mungkin akan lebih banyak dirasakan pada dua kelompok orang Gayo, yakni
kelompok orang Gayo Serbejadi dan Gayo Kalul, karena letaknya yang
dikelilingi oleh lingkungan bahasa Aceh disamping jumlah pendudunya yang
sangat kecil.
Seperti diketahui bahwa orang Gayo itu terbagi atas beberapa kelompok,
yaitu kelompok orang Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo Lues, Sebejadi, dan Kalul.
Masing-masing kelompok ini dipisahkan oleh batas alam dengan prasarana
komunikasi yang buruk sehingga sulitnya terjadi kontak antara satu kelompok
dengan yang lainnya. Kontak yang terbatas antara kelompok-kelompok ini
dalam jangka waktu yang relatif lama, dan berbedanya pengaruh luar yang
diperoleh, adalah menyebabkan terlihatnya variasi dalam bahasa mereka.
Dilihat dari segi bahasa ini kelompok orang Gayo itu telah digolongkan oleh
sementara orang kedalam dua dialek. Pertama dialek Gayo Lut, yang terbagi
pula ke dalam paling sedikit tiga sub-dialek yaitu sub-dialek bukit, cik dan
deret. Dialek Gayo Lues yang terbagi pula ke dalam sub-dialek serbejadi,
tampur, lukup ( tamiang ) ( lihat Hazeu 1907 : vii ; banta, 1977 :1-2 ). Dalam
pembagian dialek diatas kami lebh cenderung membagi dialek Lut terdiri dari
sub-dialek Gayo-Lut dan Deret ; sedangkan bukit dan cik merupakan sub-
subdialek. Demikian pula dengan dialek Gayo Lues terdiri dari su-dialek Gayo
Lues dan serbejadi. Sub-dialek serbejadi sendiri meliputi sub-sub-dialek
serbejadi dan lukup. Sejauh ini kami belum mendapat informasi tentang sub
dialek tampur tersebut diatas.
2. SISTEM PENGETAHUAN
Pendidikan terhadap seseorang dari masa anak-anaknya untuk mengenal
nilai-nilai masyarakat, sering dilakukan dengan melalui pengisahan legenda-
legenda (kekeberen). Hal ini dilakukan oleh orang-orang tua, nenek, atau orang
dewasa lainnya kepada anak-anak menjelang tidur di malam hari. Dalam setiap
kekeberen biasanya tersimpan nilai-nilai yang bisa menjadi pedoman dalam
kehidupan masyarakatnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
pengisahan cerita legenda itu sebagai sarana yang mengandung sifat pendidikan
(Minosar, 1961b: 17; Melalatoa, 1971b: 20).
Jika pengetahuan diartikan segala sesuatu yang diketahui dan dijadikan milik
diri sendiri dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya, maka pengetahuan
orang gayo cukup tinggi, hal ini terlihat dari fungsi Kejurun dalam menentukan
kapan waktu bersawah dimulai, melakukan penyidikan terhadap calon menantu
dengan istilah “ Beramal tidur mimpi jege”, artinya mereka sudah memahami
pengaruh genetik dalam kehidupan manusia. Membuat ceritera terhadap gejala
alam, ceritera tersebut mengandung peringatan agar tidak melanggar hukum
perkawinan adatnya, seperti : Atu Belah, Inen Mayak pukes, Puteri Ijo, Puteri
Bensu, mereka juga mampu melakukan jual beli secara barter dengan daerah
lain ( pesisir Aceh Timur, Utara, Barat ), mereka sudah dapat menangkap ikan
tanpa kail dan umpan, termasuk membuat rumah, keben (tempat menyimpan
beras), cara menumbuk padi ; ada jingki, roda, lesung & alu, mengambil air
dengan bahan dari tanah (gerabah), mengolah kulit kayu untuk jangkat (tali
rami yang dijalin), itu semua membuktikan tingginya pengetahuan orang Gayo.
a) Budi Daya Tanaman Padi
Hampir semua di tanah Gayo orang sudah menanam padi di sawah untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Sawah merupakan dasar pokok dalam
penentuan kesejahteraan penduduk. Menanam padi di seluruh tanah Gayo
sudah sepenuhnya menggunakan irigasi yang bersumber dari mata air atau
sungai. Orang Gayo mempunyai perhitungan sendiri saat bertani.
Perhitungan yang mereka kenal adalah perhitungan bulan Hijriah. Namun
dengan perhitungan ini mereka masih belum mengetahui di bulan berapa
sekarang mereka berada. Untuk menyesuaikan dengan ilmu pertanian
masyarakat suku Gayo belum mengenalnya. Mereka mengetahui setiap
bulan terdiri dari 30 hari. Masyarakatnya pun hanya bekerja dari
pengalaman-pengalaman di tiap tempat dalam menentukan waktu sesudah
panen dan menetapkan waktu turun ke sawah kembali.
Di tanah Gayo ini segala pekerjaan di sawah, pantang dikerjakan pada hari
jumat dan hari rabu nas (rabu nahas), hari rabu yang jatuh pada tiap akhir
dan awal bulan. Orang-orang yang kurang mampu biasanya mengerjakan
sawahnya dengan cangkul. Dengan adanya perkembangan zaman, maka
masyarakat Gayo mulai mengerjakan sawahnya dengan bantuan kerbau,
sapi, dan kuda yang biasa dinamakan mengoro. Mereka menggunakan ternak
tersbut dengan cara menghalaunya berkeliling selama beberapa jam di
sawah. Dalam hal ini mereka terdapat dua cara kombinasi dalam membajak
sawah yakni nengel (dengan bantuan hewan) dan pacul. Pacul hanya dipakai
pada tempat yang tidak bisa dikerjakan dengan nengel. Di suku Gayo pada
lazimnya mengerjakan tanah terbagi menjadi tiga tahap yakni pekerjaan
pertama yang disebut memelah (membongkar tanah), kedua yaitu mendue,
dan ketiga melumet (menghaluskan tanah).
Suatu adat kebiasaan bagi suku Gayo sesudah hasil panen terkumpul. Padi
yang telah terkumpul dibiarkan selama empat hari dalam seladang untuk di
beri minum. Dengan cara satu kendi air yang telah berisi air ditutup dengan
daun kayu (sensung) yang kemudian dibenamkan di tengah timbunan padi
sebatas leher kendi. Kemudian kendi tersebut diasapi dengan kemenyan.
Kegiatan ini disebut nalu semangat ni rom (memanggil semangat padi).
Selama padi diberi minum disebut hari pantangan, artinya sebelum habis
hari-hari itu maka padi belum boleh dibersihkan.
Setelah kegiatan tersebut selesai maka padi di simpan di dalam peberasan.
Makna dari peberasan sendiri adalah setiap benda yang disimpan di
dalamnya akan awet dan bila memakan padi tersebut dipercaya bisa segera
kenyang. Selama hari penyimpanan padi berlangsung, padi sangat pantang
untuk dikeluarkan baik untuk dijual, membayar hutang, dan sebagainya.
Disini terdapat larangan untuk perempuan yang sedang menstruasi untuk
masuk ke keben (lumbung padi). Pemberasan biasanya terbuat dari anyaman.
Terdapat pantangan pula dalam pengambilan padi. Yang mana padi tidak
boleh terus-menerus diambil sampai kosong.
Menurut pengetahuan orang Gayo tanah yang paling subur untuk di
tanami padi berada di daerah Gayo Lues, utamanya di bagian hilir. Sawah di
daerah Deret sama suburnya dengan tanah di Gayo Lues. Sistem jual tanah
disini tersorot dari kesuburan tanah dan letaknya. Semakin baik atau bagus
kesuburan dan letaknya, maka semakin mahal pula harga tanah tersebut.
Dalam hal lain, terdapat pula cara masyarakat suku Gayo dalam
menghadapi hama atau musuh yang melanda sawahnya. Salah satu
contohnya adalah burung pemakan padi. Mereka menghalaunya dengan
tetakut. Tetakut terbuat dari tikar atau kain bekas yang dikaitkan dengan tali
serta digantungkan pada rotan.
Masyarakat suku Gayo sangat anti dengan istilah menjual sawah. Karena
menurut kepercayaannnya hal tersebut merupakan perbuatan tercela. Namun
kalau gadai-menggadai boleh berlaku disini. Pengambil gadai lebih
diutamakan kepada saudere terlebih dahulu. Yang mana tidak akan terjadi
gadai-menggadai bila saudere tidak mengizinkan. Demikian pula dengan
perubahan status hak milik. Bila saudere tidak mampu baru boleh
menawarkan ke pihak lain.
Di tanah Gayo tidak ada tanaman yang di tanam sesudah panen. Namun
hanya sedikit di Laut dan daerah Deret orang menanam kacang, itu pun
mereka tanam di atas pematang sawah. Setelah panen sawah dibiarkan
kosong sampai menunggu datangnya musim tanam berikutnya. Dengan
adanya pola seperti ini tidak membuat masyarakat suku Gayo kelaparan.
Mereka menanam sayuran, buah-buahan, dan sebagainya untuk lauk pauk, di
kebun-kebun kecil yang terdapat di halaman depan atau bisa juga di ladang-
ladang yang tempatnya tidak jauh dari rumah. Ada juga yang menanam daun
sirih (belo)di semak belukar.
Memang jarang orang Gayo menanami ladangnya dengan tanaman lain,
kecuali dengan tembakau (bako). Hal ini dilakukan karena dapat digunakan
untuk kebutuhan sehari-hari dan dapat dijual. Setelah satu sampai dua kali
ditanami tembakau, maka yang ketiga tembakau tidak akan tumbuh. Dan
sebagai gantinya, lahan tersebut di tanami dengan tanaman tebu. Hal ini
dikarenakan tanaman tebu dapat bertahan kira-kira sepuluh tahun. Setelah
panen, orang Gayo membuat penggilingan dari kayu yang disebut wing.
Penggilingan ini berfungsi menggilas tebu. Yang mana air hasil perasan
tersebut dijadikan manisan dan berakhir pada pembuatan gula merah.
b) Budi Daya Gambir
Budi daya gambir hanya di terapkan di daerah serbejadi saja. Hal ini
disebabkan pengaruh angin yang berhembus sangat kencang di daerah
tersebut. Cara penanamannya pun mudah. Bibit ditanam di ladang, dan
selanjutnya tidak perlu dipindah-pindahkan kembali. Hal ini dikarenakan
tanaman ini tidak menjadikan tanah kurus. Setelah tumbuh, sang pemilik
tinggal menata atau memberi jarak antara satu dengan lainnya. Daun gambir
dapat dijadikan obat sehingga masyarakat suku Gayo menyimpannya.
c) Kopi di Gayo
Di tanah gayo sampai saat ini belum ada yang mengetahui sebab dari
menjamurnya pohon kopi di daerah tersebut. Mereka menganggap pohon
kopi tersebut merupakan pohon liar. Sehingga mereka hanya memanfaatkan
batang atau cabangnya untuk membuat pagar kebun. Dan buah kopi yang
telah matang hanya dibiarkan saja di makan oleh burung. Ada pendapat yang
menyebutkan bahwa burung itulah yang menyebarkan kopi di tanah Gayo.
Orang Gayo pun tidak mengerti bahwa tanaman yang dianggapnya liar
tersebut dapat dijadikan minuman segar. Namun ada pula yang mereka tahu
dari tanaman tersebut yakni menjadikan tanaman tersebut sebagai teh dengan
cara membakar daunnya. Namun pada akhirnya mereka mengetahuibahwa
buah kopi yang telah dikupas dan dikeringkan dapat menghasilkan uang.
d) Peternakan
Pengetahuan orang Gayo dalam hal peternakan tidaklah tinggi. Meski
mereka memanfaatkan hewan ini sebagai pembantu utama dalam
mengerjakan tanah pertanian, dan dagingnya dijadikan barang dagangan
yang membawa keuntungan besar untuk mereka. Ternak yang biasa
dipelihara masyarakat suku Gayo adalah kerbau (koro). Dalam
pemeliharaannya, pada malam hari kerbau harus dinyalakan api. Hal ini
merupakan cara untuk mengumpulkan kerbau-kerbau dan dengan sendirinya
kerbau tersebut tidur mengelilingi api yang telah dinyalakan. Namun tidak
hanya dengan cara tersebut, ada pula ternak-ternak yang dimasukkan ke
dalam kandang. Selama musim sawah, ternak-ternak d jaga jangan sampai
memasuki area persawahan. Dan barulah setelah selesai panen, ternak
tersebut dibiarkan merumput. Masyarakat Gayo mengharapkan dengan
merumputnya kerbau tersebut memberikan sisi lain yang menguntungkan
dari kotorannya. Kotoran dari kerbau tersebut dapat dijadikan sebagai
pupuk.
Dari masyarakat Gayo sendiri, tidak ada usaha sama sekali untuk
mengembangbiakkan ternaknya dan upaya perbaikan mutu keturunan.
Pengebirian hanya dilakukan pada kambing agar menjadi gemuk. Di tanah
Gayo ini sapi tidak banyak diternakkan sebab sapi tidak begitu suka makan
rumput di daerah pegunungan. Selain itu susunya pun jarang diperah dan
dagingnya pun kurang diminati masyarakat Gayo.
Selain kerbau, kuda juga merupakan salah satu hewan yang di ternakkan
oleh masyarakat suku Gayo. Kuda tersebut banyak digunakan untuk
mengunjungi tempat-tempat yang jauh, digunakan untuk membawa padi dari
sawah bila sawah tersebut letaknya jauh dari rumah, dan kebanyakan dari
mereka bertenak kuda hanya untuk di jual.
e) Berburu
Berburu masih tetap berlaku di tanah Gayo. Hewan buruannya meliputi
rusa, kijang, kambing hitam, babi. Ada hal yang berbeda dalam sistem
berburu orang gayo. Orang Gayo setiap melakukan berburu pasti membawa
pawang, seorang ahli berburu. Pawang ini memiliki banyak anjing pemburu
yang bla berburu ia bawa untuk mengendus hewan buruan. Dalam perburuan
ini pun ada aturannya. Uuntuk seeorang yang pertama menancapkan
senjatanya pada hewan buruan maka ia mendapat bagian belakang dari
buruannya. Sedang pawang mendapatkan bagian tulang punggung dan
daging yang melekat. Selebihnya daging itu dibagikan kepada anggota
perburuan. Selain itu, masyarakat Gayo juga berburu burung. Mereka
menggunakan alat sumpitan (letep) dengan perekat (getah), jaring,
memasang penjara (pejere tama). Menangkap burung dengan jaring , puket,
dan ontang, yaitu jenis alat yang sifatnya lentur. Biasanya alat ini terbuat
dari ranting bambu yang ditancapkan di tanah, dan ujungnya dilengkungkan
menggunakan sepotong tali sampai ke tanah. Jika terinjak burung maka
dengan tepat burung terjerat lalu melentur ke atas.
f) Pengobatan
Dalam pengobatan penyakit gondok, orang Gayo biasa minum air
renggayung yang dicampur dengan air terong peret, sebangsa terong yang
bila terkena bijinya akan mengalami gatal-gatal. Selain diminum, campuran
kedua air tersebut dioleskan atau digosokkan pada permukaan yang terkena
gondok. Air renggayung merupakan air saringan yang telah di masak
terlebih dahulu. Yang mana air tersebut bersumber dari sumur yang
mengandung garam. Menurut pengalaman orang Gayo, seseorang yang
terkena gondok akan sembuh, bila ikut bekerja selama beberapa bulan dalam
memasak garam lane. Penyakit gondok ini berjangkit karena mereka suka
minum air yang ditampung dalam satu jenis tanaman hutan.
3. SISTEM KEMASYARAKATAN ATAU ORGANISASI SOSIAL
Sistem yang ada didataran tinggi Gayo dahulu dikenal dengan sistem
kerajaan, yang dikenal dengan dinasti Lingga. Sistem pemerintahan kerajaan /
tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat (empat unsur
dalam satu ikatan terpadu), terdiri dari: raja (Reje),Orang yang dituakan
(Petue), Imam (Imem), dan rakyat (Rayat). Mahmud Ibrahim, (2007:63)
menyatakan adapun sarak opat tersebut adalah:
1) Raja (Reje:kepala pemerintahan), musuket sifet (berfungsi memelihara
keadilan di kalangan rakyatnya).
2) Ulama (Imem), muperlu sunet (berkewajiban membimbing dan
melaksanakan ajaran Agama Islam terutama yang fardhu dan sunat yang
baik).
3) Petue (orang yang dituakan dan dipandang berilmu), musidik sasat
(meneliti dan mengevaluasi keadaan rakyat / masyarakat).
4) rakyat (Rakyat), genap mufakat (bermusyawarah dan mufakat bagi
kepentingan negeri atau seluruh masyarakat).

Reje (raja) dan Imem (ulama) memiliki fungsi dan berperan sangat penting
dalam pemerintahan, karena raja (Reje) melaksanakan prinsip : edet mu nukum
bersifet wujud (adat menjatuhkan hukuman karena ada bukti yang jelas). Imem
(ulama) melaksanakan prinsip : ukum mu nukum bersifet kalam (hukum Islam
menetapkan hukum berdasarkan firman Allah dan Sunnah Rasulullah).

Keduanya harus serasi dan terpadu dalam rangka mewujudkan : Agama


iberet empus, edet ibarat peger (Agama seperti kebun / tanaman, edet seperti
pagar tanaman. Menurut Melalatoa dalam Zainal Abidin, (2002:27) masyarakat
Gayo sebagai mana masyarakat Aceh lainnya adalah masyarakat yang
tergolong taat menjalankan ajaran Agama Islam. Hal ini karena adanya
pemahaman ditengah-tengah masyarakat bahwa sistem budaya mereka berasal
dari dua sumber, Pertama sumber leluhur yang bermuatan pengetahuan,
keyakinan nilai, norma-norma yang kesemuanya dinyatakan edet (adat) serta
kebiasaan yang tidak mengikat yang disebut resam, Kedua sumber Agama
Islam berupa Akidah, sistem keyakinan, nilai-nilai dan kiadah-kaidah agama
disebut dengan hukum.

Di samping itu suku Gayo juga mengenal prinsip-prinsip adat yang mereka
anut. Hal ini untuk meluruskan prinsip-prinsip adat yang ada, Zainal Abidin
(2002:28) menyatakan bahwa prinsip-prinsip adat tersebut meliputi empat hal
yaitu:

1) Dunie terpancang adalah harga diri yang menyangkut hak atas wilayah
2) Nahma teraku adalah harga diri yang menyangkut kedudukan yang sah
3) Bela mutan adalah harga diri yang terusik karena ada anggota
kelompoknya yang disakiti atau di ganggu
4) Malu tertawan adalah harga diri yang terusik karena kaum wanita atau
kelompoknya diganggu atau difitnah orang lain.

Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap
kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut
kemukiman, yang dipimpin oleh mukim.

Pada masa sekarang sistem pemerintahan mengikuti sistem pemerintahan


nasional. Yang membedakan dengan daerah lain yang ada di Indonesia yaitu
terdapat beberapa buah mukim. mukim merupakan bagian dari kecamatan,
dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan
cerdik pandai yang mewakili rakyat. Pada pemerintahan yang ada di dataran
tinggi Gayo tidak mengenal dengan sistem RT / RW yang ada hanya satu
bagian yang disebut sebagai Dusun, dipimpin kepala Dusun dan perangkatnya.

4. SISTEM PERALATAN DAN TEKNOLOGI


a) Perumahan penduduk
Letak rumah Gayo biasanya membujur dari timur ke barat, dan letak
tangga yang menuju pintu masuk juga biasanya dari arah timur atau utara.
Rumah yang dianggap normal letaknya, dibangun timur-barat disebut bujur,
dan bila letaknya utara-selatan disebut lintang. Jika tidak sama sekali
mengikuti arah mata angin maka rumah seperti ini disebut sirung gunting.
Semua perkayuan yang dipakai seperti pada balok penyangga dari tiang ke
tiang disusun pangkal sesama pangkal, di pasang di arah pintu masuk arah ke
lepo dan anyung sebelah timur, sedangkan bagian ujung kayu di letakkan ke
arah barat. Inilah sebabnya rumah di tanah Gayo terdapat sebutan bagian
ralik (pangkal), ujung (ujung), dan lah (tengah).
 Rumah Adat Tujuh Ruang
Rumah Adat Tujuh Ruang (Umah Edet Pitu Ruang) bahasa Gayo,
adalah peninggalan raje Baluntara yang nama aslinya Jalaluddin sudah
berdiri sejak pra-kemerdekaan. Rumah adat itu adalah bukti sejarah
orang Gayo yang masih ada, tapi sayang tampaknya tidak ada yang
peduli dengan peninggalan sejarah tersebut. Rumah tua Umah Edet Pitu
Ruang (Rumah Adat Tujuh Ruang) bukti sejarah orang Gayo tersebut
letaknya di sebuah kampung pinggiran Danau Lut Tawar tepatnya di
Kampung Toweren, Kecamatan Laut Tawar Aceh Tengah siapa saja
boleh melihatnya, tetapi rumah tesebut warnanya mulai pudar bahkan
nyaris hilang dimakan waktu seakan akan tidak ada yang perduli,
padahal rumah itu adalah bukti sejarah yang masih ada di Dataran Tinggi
Gayo yang benar-benar asli peninggalan tidak seperti rumah adat di
Linge dan Mess Pitu Ruang di Kampung Kemili Takengon yang hanya
copyan dari bentuk aslinya.
Beberapa bagian lantai rumah adat tersebut sudah mulai lapuk. Begitu
juga dengan 27 tiang penyangga dari kayu pilihan dan diukir dengan
pahatan kerawang Gayo sudah mulai bergeser dan tidak lagi tegak lurus.
Beberapa batu gunung dipakai sebagai alas tiang utama agar posisi
rumah tetap stabil. Beberapa warga (Petua Kampung) Toeren tersebut
mengatakan saat kami wawancarai, Rumah adat Umah Pitu Ruang
Toweren memang dibuat dari kayu pilihan. Diameter tiang
penyangganya pun seukuran dekapan dewasa. Tidak diketahui tahun
berapa rumah itu dibangun, tetapi menurut cerita, bangunannya sudah
berdiri sebelum kolonial Belanda masuk ke Dataran Tinggi Gayo.
Umah Edet Pitu Ruang Gayo tersebut tidak mengunakan paku, tetapi
dipasak dengan kayu dan bermacam-macam ukiran di setiap kayu.
Ukiran tersebut bentuk nya berbeda-beda, ada yang berbentuk hewan dan
ada yang berbetuk seni kerawang Gayo yang di pahat khusus. Walaupun
tidak mengunakan paku tapi kekuatan rumah adat pitu ruang tersebut
sangatlah kuat apalagi bahan kayu yang sangat bermutu pada zaman
duhulu, tetapi bagaimana pun kuatnya tanpa adanya perawatan bangunan
tersebut akan roboh dengan sendirinya di makan zaman. Luas Umah
Edet Pitu Ruang itu, panjangnya 9 meter dengan lebar 12 meter.
Berbentuk rumah panggung dengan lima anak tangga, menghadap utara.
Sementara di dalamnya terdapat empat buah kamar. Selain empat kamar,
ada dua lepo atau ruang bebas di arah timur dan barat.
Semua sambungan memakai ciri khas tersendiri menggunakan pasak
kayu. Hampir semua bagian sisi dipakai ukiran kerawang yang dipahat,
dengan berbagai motif, seperti puter tali dan sebagainya. Di tengah
ukiran kerawang terdapat ukiran berbentuk ayam dan ikan yang
melambangkan kemuliaan dan kesejahteraan. Sementara ukiran naga
merupakan lambang kekuatan, kekuasaan dan kharisma. Peninggalan
Raja Baluntara, bukan hanya bangunan tua yang bertengger usang di
Kampung Toweren Uken, tetapi aset bersejarah lain masih tersimpan
rapi oleh pihak keluarga seperti Bawar. Bawar adalah sebuah tanda
kerajaan yang diberikan oleh Sultan Aceh kepada Raja Baluntara.
Selain Bawar yang masih disimpan oleh keluarga keturunan raja itu,
ada piring, pedang, cerka dan sejumlah barang peninggalan yang sangat
bersejarah. Di belakang rumah adat tersebut dahulunya ada rumah dapur
di bagian Selatan yang ukurannya sama dengan ruang utama yang
berukuran 9 x 12. Ruangan dimaksud telah hancur. Selain itu, juga ada
mersah, kolam dan roda, alat penumbuk padi dengan kekuatan air yang
semuanya juga sudah musnah. Sekeliling rumah pitu ruang tersebut pada
tahun 1990 dubuat pagar kawat oleh Suaka Sejarah dan Peninggalan
Purbakala Banda Aceh tahun, kini rumah itu tidak lagi di tempati oleh
keluarga reje baluntara.
b) Pakaian
Pakaian perempuan sehari-hari di tanah Gayo adalah Upuh pawak, yaitu
kan pinggang yang dililiti lagi dengan sepotong kain stagen yang khusus
ditenun bernama ketawak, sepotong baju yang hampir seluruhnya berwarna
hitam (upuh item) sama dengan yang dipakai di aceh, kadang-kadang ada
hiasan bunga-bunga dan bis-bis dari benang putih, ditambah dengan
kombinasi kain selendang atau kain lepas bernama upuh ules. Berlainan
dengan di Aceh, perempuan gayo tidak memakai celana. Penenun disini
hanya membuat upuh pawak, ketawak, dan upuh ules. Untuk kain yang jenis
terakhir ini perempuan Gayo yang lebih suka mrah demilih kain yang
berwarna dasarnya hitam. Kalo berada di gayo lues, pada kesempatan
tertentu, sering meneun sendiri upuh kio,dan upuh umut sebagai kain
selendang.
Pakaian lelaki tidak ada yang ditenun, hanya celana atau upuh pinggang
saja. Baik di danau atau deret, pakaian mereka hampir tidak teredakan
dengan pakaian lelaki aceh. Di Gayo Lues ada bentuk seragam, tetapi kalau
celana (seruel) upuh pinggang, baju, biaasanya baju kurung, yang hanya
pada lehernya terbuka, atau baju belah dede yang terbuka pada bagian dada,
seperti bentuk baju jas yang dikenakan orang-orang barat ( baju kut)
dilengkapi tutup kepala (bulang), terbuat dari tenunan luar negeri. Semua
kain putih dan hitam serta kain cetakan lainnya banyak dimasukkan dari luar
daerah. Pada hari-hari pesta, orang-orang Gayo memakai celana dan kain
model aceh.
Satu-satunya perangkat pakaian khas lelaki Gayo adalah baju warna
hitam yang dibordir berbunga-bunga dengan benang putih, ikat kepala
(kriol) yang dipinggirnya di beri bis dengan kasap, dilengkapi dengan senjata
(terutama amarsemu dan luju ulang). Senjata ini bila di daerah gayo lues
masih termasuk dalam perlengkapan utama. Penduduk daerah ini sangat
gemar perang disaat genting mereka memakai pakaian jenis kimono hitam
dengan senjata tanpa sarung. Baju jenis ini disebut (baju gus).
 Pakaian pernikahan suku Gayo
Busana adat perkawinan Gayo, Aceh Tenggara, mengetengahkan
kekayaan teknik sulaman benang warna putih, merah, kuning dan hijau.
Pakaian pria dikenal dengan sebutan baju Aman mayak, pakaian wanita
disebut Ineun mayak. Unsur-unsur pakaian pengantin wanita adalah baju,
kain sarung pawak, dan ikat pinggang ketawak. Unsur-unsur perhiasan
adalah mahkota sunting, sanggul sempol gampang, cemara, lelayang
yang menggantung di bawah sanggul, ilung-ilung, anting-anting subang
gener clan subang ilang, yang semuanya itu ada di seputar kepala. Di
bagian leher tergantung kalung tangang terbuat dari perak atau uang
perak tangang ringit dan tangang birah-mani; clan belgong yang
merupakan untaian manik-manik.
Kedua lengan sampai ujung jari dihiasi dengan bermacam-macam
gelang seperti ikel, gelang iok, gelang puntu, gelang berapit, gelang
bulet, gelang beramur, topong, dan beberapa macam cincin sensim belah
keramil, sensim genta, sensim patah paku, sensim belilit, sensim keselan,
sensim ku I. Bagian pinggang selain ikat pinggang dari kain ketawak,
masih ada tali pinggang berupa rantai genit rante; clan di bagian
pergelangan kaki ada gelang kaki. Unsur busana lain yang sangat penting
adalah upuh ulen-ulen selendang dengan ukuran relatif lebar.
Pengantin pria mengenakan bulang pengkah, yang sekaligus berfungsi
tempat menancapkan sunting. Unsur lain adalah baju putih, tangang,
untaian gelang pada lengan, cincin, kain sarung, genit rante, celana,
ponok yakni semacam keris yang diselipkan di pinggang.
c) Masakan khas suku Gayo
 Masam Jaeng
 Gutel
 Lepat
 Pulut Bekuah
 Cecah
 Pengat
d) Kerajinan tangan
 Anyaman
Kerajinan menganyam biasanya dibuat oleh para wanita Gaoy.
Kerajinan anyamannya lebih diutamakan pada berbagai tempat duduk
tikar dan anyaman yang digunakan untuk tempat menyimpan beras,
perkakas sirih, dan bermacam barang lainnya. Bahan baku dari anyaman
ini bervariasi tergantung pada halus atau kasarnya pemesanan. Bahan
dasar anyaman biasa terbuat dari daun pandan. Pekerjaan menganyam
bagi perempuan Gayo hanyalah sebagai pengisi waktu.
 Keramik
Kerajinan tanah liat dinamakan nepa yang artinya meratakan tanah liat
dengan kayu tipis dengan menggunakan landasan batu (atu giling). Tidak
banyak wanita gayo yang mampu membuat keramik sehalus yang
dikehendakinya. Benda yang biasa dibuat dalam kerajinan ini adalah:
kuren, belanga, capah dan keni, cerek, buyung. Setelah bentuk keramik
telah selesai, maka keramik siap untuk dibakar.
e) Pekerjaan pertukangan
Pekerjaan pertukangan ini hanya dilakukan oleh laki-laki saja. Pekerjaan
pertukangan di tanah Gayo terbagi menjadi tukang besi dan tukang mas dan
perak. Tukang besi memiliki perkakas seperti martil, tang, landasan. Tukang
besi membuat alat-alat yang diperlukan para petani untuk mengolah tanah.
Selain itu tukang besi memiliki kemampuan juga dalam pembuatan senjata
kasar seperti mata ni nengel (mata luku), jelbang (cangkul), peti (skop),
paranga dan sebagainya. Tukang emas dan perak dapat membuat alat
perkakasnya sendiri. Perkakasnya terdiri dari tukul, senepit, pat-pat kecil,
dan lenesen.

5. SISTEM MATA PENCAHARIAN HIDUP


Topografi alam yang berlembah lembah, berbukit-bukit dengan hamparan
kopi. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani kopi, peternak,
palawija, home industri, nelayan dan pedagang. Menurut Mahmud Ibrahim
(2007:60) Yang menonjol di dataran tinggi Gayo adalah perkebunan kopi yang
sangat bagus, juga didukung dengan tanah yang subur dan udara yang sejuk.
Dataran tinggi Gayo merupakan penghasil kopi terbesar diprovinsi Aceh, rata-
rata kopi yang dihasilkan diekspor keluar negeri seperti Jepang, Jerman,
singapura, Malaysia, Amerika, dan Belanda.
Dataran tinggi Gayo juga terkenal dengan hasil palawijanya yang mengisi
semua sektor pasar di provinsi Aceh, rata-rata hasil palawija yang dihasilkan
dikirim ke ibukota provinsi untuk menunjang kebutuhan masyarakat perkotaan.
Dataran tinggi Gayo memiliki berbagai potensi yang dikembangkan
masyarakat, ini tergantung pada tempat dan kondisinya, karena tidak semua
lahan yang ada dataran tinggi Gayo dapat ditanam perkebunan kopi, ada
beberapa sektor yang dipakai sebagai tempat untuk berternak, seperti daerah
Isak, Lingge, dan Lumut di kecamatan Isak, mayoritas penduduk disini
mengembala ternak, seperti, kerbau, sapi, domba, biri-biri, dan kambing.

6. SISTEM RELIGI
Dasar kepercayaan di seluruh tanah Gayo adalah satu. Yang mana setiap
orang Gayo sudah memeluk agama islam. Kaidah islam sudah tertanam dalam
kehidupan orang Gayo. Orang Gayo pengslamannya tidaklah sama dengan
orang Bedawi yang langsung diislamkan oleh nabi. Selain itu suku bangsa ini
sudah jauh tertinggal di bawah tntutan minimal yang dimaksud oleh islam itu
sendiri akibat kesalahan penganjur agama yang menerapkan ajaran kepercayaan
kepada penduduk. Islam mengutamakan keyakinan para penganutnya yang
terdahulu sehngga pandangan mereka terhadap orang-orang luar hanya
didasarkan pada kacamata keislamannya saja. Pola kepercayaan orang Gayo di
luar agama islam sampai saat ini masih tersisa. Hal ini terlihat dari
masyarakatnya yang masih mempercayai takhyul, dunia roh halus dan
pemujaan suatu tempat.
Kehidupan beragama di tanah Gayo dapat dikatakan berbeda dengan suku
lainnya. Dalam hal ini mereka yang memang suku Gayo memiliki keinginan
untuk menunaikan ibadah haji. Namun anehnya setelah mereka kembali dari
tanah mekah tersebut, tidak ada ilmu yang diterapkan di kampungnya. Sehingga
tidak terlihat perubahan pada diri mereka. Mereka cenderung jarang
menyebarkan atau mengajarkan ilmu yang telah diperoleh kepada orang lain.
Kehidupan kekerabatan suku Gayo sama seperti penduduk yang menganut
ajaran islam lainnya. Sedikit demi sedikit di tarik ke dalam kehidupan alam
islami, namun masih ada saja yang bertahan pada kepercayaan sebelumnya.
Dalam kehidupan beragamanya, suku Gayo tetap menggunakan aturan adat.
a) Hari Raya Di Suku Gayo
Hari raya yang di rayakan di suku Gayo sama dengan hari raya yang
dirayakan oleh penduduk Aceh. Berikut ini adalah hari raya yang dirayakan
oleh suku Gayo:
 Hari Maulud ( Mulut)
Hari peringatan lahir dan wafatnya Nabi Besar Muhammad SAW.
Yang mana masing-masing kesatuan masyarakat di tanah Gayo dapat
memilih salah satu hari di dalam tiga setengah bulan sesudah hari
sebenarnya yang jatuh pada 12 rabiul awal. Kesatuan masyarakat tersebut
berada di bawah pimpinan satu reje. Dalam peringatan ini, mereka
mengundang tamu yang berasal dari kampung sebelah. Tamu
undangannya pun diprioritaskan untuk orang tua ternama dan para juelen.
Peringatan ini diawali dengan berzikir atau biasa disebut Zikir Mulut. Di
pertengahan acara disajikan makanan dan minuman. Di daerah Gayo Lues
peringatan ini masih disertai dengan membakar petasan, membunyikan
canang, dan menggelar tari Guel yang disertai dengan meriah lainnya.
 Kegiatan yang Berkaitan dengan Bulan Puasa
Untuk menentukan awal bulan puasa (pasa) biasanya diserahkan
kepada orang-orang yang pandai pada setiap kampungnya. Dan
penerapan dari perhitungan tersebut pun sering kali berbeda waktu satu
dengan lainnya. Hari terakhir dari bulan sebelumnya (seben atau syakban)
disebut lo megang. Pada hari itu hampir setiap kampung di suku Gayo
memotong kerbau dan mengadakan kenduri.
 Kelam Lamle Malam yang Keramat
Kelam lamle merupakan malam lailatul qadar yang tidak diabaikan
oleh masyarakat Gayo. Pada malam ini akan terlihat obor di halaman
serta pekarangan rumah. Dimalam ini pula para ibu melakukan kegiatan
menumbuk tepung untuk persiapan membuat kue lepat menjelang
datangnya hari raya.
 Hari Raya Satu Syawal
Hari raya ini disebut lo mugelih atau hari memotong. Uniknya
masyarakat Gayo melakukan pemotongan hewan kurban (kerbau)
tersebut satu hari sebelum hari raya ( 1 syawal). Dan pada keesokan
harinya semua orang terkemuka melakukan kunjungan ke tempat Reje
dan Tue dengan membawa sirih selengkapnya. Saat hari raya terdapat
adat yang berlaku, yakni pemandian Reje (pemimpin suku) hal ini
bertujuan untuk mengatkan kedudukannya. Dan keesokan harinya setiap
warga baik itu anak-anak,remaja maupun orang tua membawa obor dan
turun bersama-sama ke kali untuk mandi di hari raya. Suku Gayo juga
memiliki kebiasaan seperti halnya masyarakat sekarang. Pada hari Raya
tersebut suku Gayo juga menggunakan pakaian yang serba baru serta
melakukan kunjungan ke sanak keluarga.
 Fitrah
Imem, merupakan sebutan suku Gayo untuk orang yang bertanggung
jawab atas keagamaan. Cara pembayaran fitrah dalam suku Gayo sama
halnya dengan yang ada sekarang ini. Hanya saja penerimanya bukanlah
orang-orang yang tidak mampu melainkan penguasa yang lebih tinggi
(kejuran atau cik).
 Hari Raya Haji
Hari raya haji merupakan hari raya akbar bagi orang islam yang jatuh
pada hari ke sepuluh, bulan ke duabelas. Dalam suku Gayo, hari raya ini
tidak dianggap berarti (kecil). Sehingga di tanah Gayo hari raya ini hanya
berlalu begitu saja. Dan orang-oang hanya sekedar mengetahui namanya
saja tanpa adanya perlakuan kegiatan seperti yang ada pada hari raya
lainnya.
b) Kepercayaan Suku Gayo
 Ilmu Gaib
Dengan bergabungnya kepercayaan lama dengan ajaran islam
membuat karakteristik yang brbeda pada suku Gayo.Orang Gayo memilii
ilmu gaib yang bertujuan tersembunyi untuk memenuhi kebutuhan pribadi
tertentu. Seperti membuat tubuhnya kebal dari benda-benda tajam,pelaris
barang dagangan, keselamatan dalam perjalanan serta ilmu lainnya. Alat
yang digunakannya pun sama dengan yang ada di seluruh Indonesia.
Dengan menaruh kepercayaan kepada jin-jin (hantu,sane) arwah yang
sudah meninggal dll.
 Pantangan makanan
Pada orang Gayo terdapat pantangan memakan binatang atau rempah-
rempah tertentu. Semua ini berasal dari persumpahan leluhur mereka
dahulu. Seperti contoh kukur dan burung balam yang terkenal dikalangan
masyarakat Gayo Lues menjadi pantangan.Hingga saat ini tidak diketahui
asal-usul pantangan makanan tersebut. Namun masyarakat suku Gayo
tetap mematuhi dan mempercayai fenomena itu. Sebab mereka juga takut
terjadi suatu hal yang fatal dan dapat menimbulkan kerugian yang besar
bila melanggar persumpahan itu.
 Pemujaan manusia dan kekuatan lain
Sebagai orang islam,orang Gayo merupakan pemuja seseorang yang
hanya didasari atas ketakutan pada kesaktian, kekuatan ilmu, dan
kekeramatan seseorang. Pemujaan ini mudah berkembang sebab
daerahnya sendiri tergolong tertutup. Kebanyakan pemujaan tersebut
dilakukan di makam keramat dan tempat persemiangan.
 Sembahyang
Di suku Gayo sangat sedikit seseorang melakukan sembahyang. Hal
ini dikarenakan sedikitnya bangunan mesjid yang berdiri di tanah Gayo.
Kalau pun ada, peruntukan dari mesjid tersebut tidak digunakan dengan
semestinya. Bahkan banyak mesjid yang tidak terawat lagi dan menunggu
runtuh.
 Penganut islam fanatik
Orang-orang Gayo merupakan pemeluk agama islam yang fanatik dan
taat. Dalam pengertiannya identitas suku dan agama tidak dipisahkan.
Kebanyakan dari masyarakatnya hanya mengakui satu agama saja yakni
islam. Hal ini terlihat jelas dari prinsipnya yakni seseorang dapat
dikatakan orang Gayo jikalau dirinya beragama islam. Orang Gayo yang
keluar dari islam tidak dianggap lagi sebagai orang Gayo.
Konsekuensinya mereka tidak diterima lagi di lingkungan masyarakat
Gayo. Pada intinya islam yang diterapkan di Suku Gayo hanya berbeda
pada kesalehan, ilmu pengetahuannya serta kesuciannya. Rata-rata dari
mereka sangat ingin menambah ilmu pengetahuan dalam hal agama.
Karena disana jarang orang yang berkeinginan untuk menambah ilmu-
ilmu lain di luar ilmu agama seperti ilmu dunia, pengetahuan politik dan
lain-lain. Namun terdapat pengecualian yakni jika menambah ilmu lain
maka yang diambil hanya sebatas keislamannya saja.
Upacara tradisioanal yang sering dilaksanakan oleh masyarakat Gayo
selalu berkaitan dengan mata pencaharian hidup masyarakatnya, adat
istiadat dan agama/kepercayaan suku Gayo. Dalam bidang pertanian
upacara biasanya dilakukan selalu dikaitkan dengan kepercayaan-
kepercayaan tertentu. Ketika hendak turun ke sawah, diadakan kenduri
yang disebut dengan ku ulu noih, yaitu upacara yang dilakukan pada
sumber mata air yang dipergunakan untuk pertanian. Upacara tersebut
dipimpin oleh Kejurun Blang.
Biasanya disertai dengan kegiatan membersihkan tali air secara
bergotong royong. Pada waktu itu oleh Kejurun Blang, akan diumumkan
saat mulai akan menyemai bibit. Penanaman bibit padi untuk setiap
musim tanam selalu di mulai pada petak sawah milik Kejurun Blang dan
kemudian baru akan diikuti oleh masyarakat lainnya. Selesai panen baru
akan di mulai lagi dengan kenduri Lues Blang, dan pada saat inilah
biasanya terdapat hiburan tari saman dilakukan di tengah-tengah
masyarakat sebagai hiburan rakyat. Acara tersebut dimaksudkan untuk
menyatakan rasa syukur mereka kepada Tuhan Yanag Maha Esa, atas
karunia yang telah diberikan Allah kepada masyarakat suku
Gayo.Kenduri ini biasanya mereka lakukan bersamaan dengan kenduri
tulak bele, karena menurut anggapan kebanyakan penduduk setelah
panen, biasanya akan banyak berjangkit demam panas pada masyarakat
suku Gayo. Dan pada saat ini kenduri Lues Blang dan tulek bele sudah
jarang dilakukan oleh masyarakat Gayo (Abdullah, 1994 : 32).
Dalam bidang kepercayaan masyrakat etnik Gayo juga mempercayai
adanya kekuatan gaib dan kekuatan sakti. Mengenai wujud dari kekuatan-
kekuatan gaib tersebut dapat dilihat dalam bentuk kegiatan talak bele
(menolak bahaya). Jika ada wabah penyakit yang melanda daerah mereka,
maka masyarakat setempat akan bersama-sama untuk melakukan upacara
tolak bele, agar mereka terhindar dari penyakit tersebut. Upacara ini
dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap angker atau keramat,
misalnya dibawah pohon besar atau di tepi Danau Laut Tawar. Upacara
ini dilakukan dengan cara menyediakan sesaji berupa makanan agar
balum bidi dan telege (sumur) Reje Linge tidak mengambil atau menelan
orang yang mandi di sungai atau di danau Laut Tawar tersebut.Upacara
keagamaan pada hari-hari besar Islam juga dirayakan, seperti upacara
Maulid Nabi sebagai upacara bersejarah bagi umat Islam yang dilakukan
pada setiap tahunnya pada bulan Rabiulawal. Dahulu setiap mersah
melakukan upacara ini dengan mengundang tamu-tamu dari mersah
lainnya. Bagi mereka yang cukup mampu, selalu membawa hidangan
makanan untuk dimakan pada acara tersebut, dan bagi mereka yang
kurang mampu akan melakukan kerjasama dengan rumah-rumah lain
untuk sama-sama membuat sebuah hidangan untuk disajikan pada acara
itu juga. Pelaksanaan upacara selalu dipimpin oleh Imam mersah masing-
masing. Setelah upacara selesai, maka akan disertai dengan zikir sampai
selesai, dan pada akhir acara tersebut, tibalah saatnya untuk makan
bersama-sama. Sekarang proses upacara yang besar seperti ini sudah
sangat jarang sekali dilakukan pada masyarakat suku Gayo. Saat ini,
mereka hanya melakukan upacara Maulid Nabi SAW dengan acara
sederhana tanpa ada acara hiburan rakyat lagi, mereka memperingati
acara tersebut dengan sangat sederhana, Begitu juga dengan upacara-
upacara lainnya. (Rusdi dkk., 1998:91-92).

7. KESENIAN
a) Didong
Sebuah kesenian rakyat Gayo
yang keseniannya memadukan
unsur tari, vokal, dan sastra.
Didong dimulai sejak Pada awalnya
didong digunakan sebagai sarana
bagi penyebaran agama Islam
melalui media syair. zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan
pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh
masyarakat Takengon dan Bener Meriah. Kata “didong” mendekati
pengertian kata “denang” atau “donang” yang artinya “nyanyian sambil
bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-
bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong berasal dari kata
“din” dan “dong”. “Din” berarti Agama dan “dong” berarti Dakwah.
Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan
tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di
dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup
sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai
dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan,
nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh
tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga
bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata,
seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala
aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam.
Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam.
Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari
besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti
perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu
dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih
tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara
perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan
adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai
secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara
demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-
nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan
kesenian didong.
b) Tari Bines
Tari Bines ditarikan
oleh para wanita dengan
cara duduk berjajar sambil
menyanyikan syair yang
berisikan dakwah atau
informasi pembangunan.
Para penari melakukan
gerakan dengn perlahan
kemudian berangsur-angsur menjadi cepat dan akhirnya berhenti seketika
secara serentak. Perkembangan Tari Bines sudah meluas di daerahnya,
dengan perkembangannya yang dulunya Tari Bines ditarikan hanya pada
upacara pemotongan padi sekarang dapat dilakukan pada acara apapun, baik
itu pada acara perkawinan maupun acara besar lainnya. Tetapi seiring
dengan perkembangan zaman Tari Bines ini juga sudah mulai banyak yang
mengkreasikannya, sehingga yang tadinya tarian ini merupakan tarian yang
baku, tetapi sekarang sudah banyak yang mengkreasikan Tari Bines ini.
Dalam peranan Tari Bines pada masyarakat Gayo Lues tersebut, yang
mana Tari Bines disini memiliki suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu
dikalangan masyarakat Gayo, dan hampir tidak pernah mengalami
kemandekan bahkan cenderung berkembang. Selain untuk hiburan dan
rekreasi, Tari Bines juga memiliki peran dalam masyarakat Gayo Lues
sebagai sarana pendidikan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan
keseimbangan dan struktur sosial masyarakat.
Dalam pelestarian Tari Bines, yang mana Tari Bines ini, harus lebih
dilestarikan dengan menjaganya agar tidak hilang begitu saja, dan tetap
selalu berkembang didaerah gayo Lues tersebut. Pada dasarnya Tari Bines
ini dulunya termasuk kedalam tari tradisi tetapi setelah perkembangan sudah
mulai pesat dan dilestarikan oleh masyarakatnya, Tari Bines kini menjadi
tari hiburan yang dapat dinikmati.
c) Tari Guel
Tari Guel adalah salah
satu khasanah budaya
Gayo di NAD. Guel
berarti membunyikan.
Khususnya di daerah
dataran tinggi gayo,
tarian ini memiliki kisah
panjang dan unik. Para
peneliti dan koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari.
Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu
sendiri.
Dalam perkembangannya, tari Guel timbul tenggelam, namun Guel
menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya
apresiasi terhadap wujud alam, lingkkungan kemudian dirangkai begitu rupa
melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif.
Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak
memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat
zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Guel tentu punya
filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya. Maka rentang 90-an tarian ini
menjadi objek penelitian sejumlah surveyor dalam dan luar negeri.
d) Tari Saman
Tari Saman adalah sebuah tarian
suku Gayo (Gayo Lues) yang
biasa ditampilkan untuk
merayakan peristiwa-peristiwa
penting dalam adat. Syair dalam
tarian Saman mempergunakan
bahasa Arab dan bahasa Gayo.
Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran
Nabi Muhammad SAW. Tari saman merupakan salah satu media untuk
pencapaian pesan (dakwah). Tarian ini mencerminkan pendidikan,
keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.
Tari Saman telah diakui sebagai kekayaan budaya Indonesia sejak lama
bahkan dunia internasional melalui UNESCO telah mengakui Tarian Saman
sebagai warisan budaya dunia. Kebanyakan orang hanya tahu bahwa Tari
Saman berasal dari Aceh. Tarian yang memiliki keunikan berupa
kekompakan penari yang luar biasa ini sebenarnya sangat beragam di Aceh.
Jika di hari peringatan kebangkitan nasional beberapa tahun lalu kita melihat
tarian ini banyak ditarikan oleh wanita, maka pada daerah asalnya hal ini
malah dilarang.
UNESCO bukan hanya mengakui bahwa Saman merupakan warisan
budaya dunia, tapi juga mengakui bahwa asal muasal Tarian Saman adalah
dari Kabupaten Gayo Lues. Pengakuan dunia ini tidak lepas dari usaha
banyak pihak yang mempromosikan Tarian Saman Gayo Lues ke seluruh
kota di dunia. Termasuk terlibat di dalamnya seorang pemerhati budaya dan
artis terkenal, Christien Hakim. Beberapa tahun yang lalu, Beliau bersama
rombongan tari Saman Gayo Lues melakukan tour promosi budaya tari
saman. Tanggapan luar biasa ditunjukkan oleh para penonton. Sehingga
pengakuan dunia memang sepantasnya didapatkan oleh rombongan Tari
Saman Gayo Lues ini.
Gayo Lues terpilih sebagai asal daerah kesenian tari saman. Hal ini
berdasarkan tradisi masyarakat untuk mempertahankan keaslian tradisi
dalam menarikan Saman. Saman Gayo Lues berhasil membuktikan bahwa
tarian asli, yang tetap menjaga ketentuan-ketentuan dalam menari lebih
dihargai dibanding tarian saman yang agak dimodern-kan. Tarian Saman di
Gayo Lues hanya ditarikan oleh laki-laki. Berbeda dengan yang kita ketahui,
bahwa penari pada Tarian Saman yang sering kita tonton di TV local adalah
wanita.
Selain itu, Saman gayo Lues tidak menggunakan peralatan seperti rebana.
Lantunan music yang diperdengarkan berasal dari nyanyian para penarinya.
Selain itu, para penari Saman Gayo Lues memiliki rambut yang panjangnya
sebahu. Fungsinya adalah menambah keindahan puncak tarian. Dimana pada
awalnya rambut itu akan dirapikan dengan ikat kepala berkain kerawang
(kain khas Gayo) dan pada pertengahan tarian ikat kepala itu akan dilepas
dan rambut penari terurai sehingga terlihat ikut menari bersama gerakan para
penarinya. Bahasa yang digunakan dalam tarian saman di Gayo Lues juga
bukan bahasa Arab seperti pada saman yang lain, melainkan murni bahasa
daerah Gayo Lues.
Tarian Saman di Gayo Lues bukan hanya sebagai tarian penghibur hati
atau hanya dipentaskan di panggung hiburan saja. Bagi masyarakat Gayo
Lues, tarian saman adalah rutinitas harian yang selalu ditanggapi dengan
antusias. Menjadi penari saman gayo lues merupakan cita-cita yang lumrah
bagi anak laik-laki di Gayo Lues. Uniknya disana jarang sekali terdapat
sanggar tari, sehingga anak-anak belajar menari dengan sendirinya tanpa
dipandu siapa pun dalam beragam kesempatan. Tidak jarang di atas
punggung kerbau yang berderetan mereka mencoba menarikan 2-3 gerakan
Saman.
Saman bukan hanya dilakukan di pentas seni. Setiap kesempatan, ketika
telah duduk berbarengan penari-penari saman, kadang mereka menarikan
saman tanpa diinstruksikan. Bahkan ketika upacara kematian. Lagu yang
dinyanyikan dalam Saman, dapat diadaptasikan dalam kondisi Saman
ditarikan, dapat berupa doa, syukur bahkan keharuan. Ketika Saman
ditarikan saat menyambut pejabat, maka lagu yang dinyanyikan pun
merupakan ucapan selamat datang, terimakasih bahkan pujian terhadap
pejabat tersebut.
Untuk menjaga kelestarian Saman di hati masyarakat, setiap saat diadakan
pentas tarian saman, baik antar kecamatan maupun antar sekolah.
Pemerintah juga ikut ambil peranan dalam penggalakan tradisi ini dengan
pemberian insentif bagi setiap kelompok tarian dalam setiap pentasnya.
Herannya, walaupun sering sekali menonton tarian Saman, masyarakat Gayo
Lues tetap terlihat antusias setiap kali ada pertunjukan Saman. Bahkan ketika
ada video Saman yang diputar, masyarakat menyempatkan diri untuk
berhenti dari aktivitasnya dan menonton.
e) Dabus
Dabus merupakan atraksi
budaya yang memperlihatkan
kekebalan tubuh, seperti halnya
Debus di Banten dan Jawa Barat.
Pelaksanaan Dabus ini
menggunakan beragam benda
tajam yang ditusukkan,
digoreskan, diiriskan bahkan dipukulkan ke seluruh tubuh. Dalam
mempertontonkan Dabus, para pemain harus memiliki keterampilan spiritual
terlebih dahulu.
BAB III

SUMBER

Drs. M. J. Melalatoa, Kebudayaan Gayo

http://ansar-senibudaya.blogspot.co.id/2011/01/tujuh-unsur-kebudayaan-gayo.htm

Hurgronje, C. Snouck.1996.Gayo Masyarakat dan Kebudayaannya awal abad ke-


20.Jakarta:Balai Pustaka

Hidayah,Zulyani.1996.Ensiklopedi Suku bangsa di Indonesia.Jakarta:LP3ES

http://kejaritakengon.blogspot.com

http://www.depdagri.go.id

http://acehpedia.org/Suku_Gayo

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Gayo