Anda di halaman 1dari 15

PERSIAPAN PASIEN PADA BARIUM MEAL DAN BARIUM ENEMA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal
Bedah
yang dibimbing oleh IbuLaily Nur Azizah, S.Kep Ners, M.Kep

Disusun oleh:
Kelompok 1/ 2B

Diah Ayu Eka Permatasari (10)


Dwi Kurnia Erfida (14)
Ika Dewi Apriyanti (21)
Lessy Eka Kurniawati (24)
Muhammad Mukhalisin Nandanus (32)
Ovi Isnaini Nur Fadhilah (37)
Ulul Azmi (43)
Yuni Kristiani (45)

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG


DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN LUMAJANG
Jalan Brigjend Katamso Lumajang 67312, Telepon (0334) 7710380
2015
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berbagai jenis pemeriksaan barium X-ray digunakan untuk


memeriksa bagian yang berbeda dari saluran pencernaan. Ini antara lain Bariu
m swallow,Barium meal, Barium follow through dan Barium enema. Barium
swallow,Barium meal dan Barium follow through secara bersama-sama juga
disebut pemeriksaan saluran cerna atas sedangkan Barium enema disebut pem
eriksaansaluran cerna bawah. Dalam pemeriksaan saluran cerna atas, Barium
sulfatdicampur dengan air dan ditelan, sementara di pemeriksaan saluran
cerna bawah(Barium enema) agen kontras Barium diberikan sebagai enema
melalui tabungkecil yang dimasukkan ke dalam rektum (Dwirosid, 2014).

Barium meal untuk stomach/lambung (RS Husada, 2013).


Tujuan pemeriksaan barium enema sendiri adalah untuk mendapatkan
gambaran anatomis dari kolon sehingga dapat membantu menegakkan
diagnosa suatu penyakit atau kelainan-kelainan pada kolon (Dwirosid, 2014).

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana Persiapan pasien pada barium meal?

1.2.2 Bagaimana Persiapan pasien pada barium enema?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui persiapan pasien pada barium meal

1.3.2 untuk mengetahui persiapan pasien pada barium enema

1.4 Manfaat

Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang teori persiapan pasien pada


barium meal dan barium enema, dan mahasiswa agar bisa mengaplikasikan pada
saat praktek klinik.
BAB II

PEMBAHASAN

2 .1 Persiapan pasien dengan Barium enema

Barium enema adalah pemeriksaan X-ray pada usus besar ( colon ) yang
sebelumnya colon diisi dengan barium sulfate ( a radioopaque contrast medium ).

Sebelum Pemeriksaan.

Tujuan Pemeriksaan : Membantu menegakkan diagnosis dari carcinoma


colon dan penyakit inflamasi colon. Mendeteksi adanya polip, inflamasi dan
perubahan struktural pada colon.

Dimana Pemeriksaan Dilakukan : Departemen Radiologi Pusat, dapat juga


dikerjakan di laboratorium X-ray luar ( swasta ), atau dapat juga di Rumah Sakit
Swasta yang memiliki peralatan X-ray.

Siapa yang Melakukan : Dokter Radiologist dan radiographer.

Resiko dan Tindakan Pencegahan :

 Pemeriksaan ini berbahaya jika dikerjakan pada penderita tachycardia atau


colitis berat.
 Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan hati-hati pada penderita ulcerative
colitis, diverticulitis, berak darah akut atau kecurigaan pneumatosis
cytoides intestinalis.
Persiapan Penderita :

 Mengikuti instruksi untuk membersihkan perut ( colon ) agar gambaran X-


ray optimal.
 Diet rendah residu
 Tidak ada perubahan yang diperlukan akan penggunaan obat.
 Ketika penderita datang, penderita diharapkan untuk berganti pakaian
yang telah disiapkan.
Faktor-faktor Sensory :

 Penderita mungkin tidak merasa nyaman untuk beberapa waktu


ketika penderita mengambil posisi sesuai permintaan
radiographer/dokter. Ruang X-ray sering tidak merasa nyaman
ketika penderita dilakukan pemeriksaan.
 Penderita akan melihat peralatan yang besar dan berat di dalam
ruang yang kecil, dengan petunjuk radiographer melalui kaca
pemisah terhadap penderita.
 Penderita akan mendengar suara-suara mesin X-ray selama X-ray
film dipergunakan.
 Prosedur ini menyebabkan ketidaknyamanan dan perasan penuh di
perut. Penderita mungkin merasa adanya kegawatan dari gerakkan
ususnya. Penting untuk mempertahankan gerakkan hingga film
diambil. Penderita mungkin merasa takut oleh peralatan yang
besar. Ketidak nyamanan ini tidak terlihat ketika pemeriksaan ini
selesai.
Deskripsi dari pemeriksaan :

1. X-ray diambil pada bagian colon / lower bowel.


2. Memelihara posisi sesuai permintaan radiographer.
Mempertahankan hingga film diexposed.
3. Radiographer akan memberitahu penderita ketika penderita dapat
bergerak dan bernafas lagi.
4. Barium dan atau dengan udara masuk ke dalam colon.
5. Gerakkan dari barium diikuti melalui fruoroscopy, sepanjang
memasuki colon dan masuk caecum dan bagian akhir dari usus
halus.
6. Ketika semua gambar selesai diambil, penderita diharapkan
mengosongkan / mengeluarkan barium di toilet.
7. Penderita diminta menunggu beberapa saat hingga film-film
dicetak.Pemeriksaan
Perawatan Langsung Setelah Pemeriksaan :

 Jika X-ray lebih lanjut tidak dimintakan , maka penderita dapat kembali
makan secara normal.
 Minum banyak cairan karena pemeriksaan dapat menyebabkan dehydrasi.
Aktivitas Setelah Pemeriksaan : Kotoran penderita akan berwarna keputihan
hingga 24 – 72 jam ( 1 – 3 hari ).

Nilai Pemeriksaan : Hasil pemeriksaan ditentukan oleh study dari X-ray dan
gambaran fluoroscopy.

Nilai Normal : Tidak tampak adanya abnormalitas pada X-ray colon.

Nilai Abnormal : Adenocarcinoma, Sarcomas, Carcinoma, Diverticulitis,


Granulomatous colitis, Ulcerative colitis, Broad-based villous polyps,
Gastroenteritis, perubahan struktur intestinal, Irritable colon, saccular
adenomatous polyps, Acute Appendicitis, sigmoid torsion, Kelainan Vaskular
yang disebabkan oleh arterial occlusion.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan :

a. Persiapan bowel yang tidak adekuat, sehingga mengganggu


kualitas dari X-ray film .
b. Pemeriksaan barium swallow / Upper GI / Ba Follow Through
yang dilakukan dalam bebarapa hari sebelum barium enema akan
mengganggu kualitas dari X-ray barium enema.
c. Ketidak mampuan penderita menahan selama pemeriksaan barium
enema sehingga pemeriksaan tidak komplit.
Bagaimana Pemeriksaan ini Dilakukan :

1. Pemeriksaan ini dikerjakan di kantor atau Rumah Sakit Departemen


Radiologi. Penderita berbaring di meja X-ray dan persiapan diambil X-ray.
Penderita berbaring dan dimasukkan tube enema lubrikasi secara gently (
lemah lembut ) ke dalam rectum.
2. Barium radioopaque contrast medium kemudian diikuti untuk mengiisi
colon penderita. Balon kecil dari tube enema mungkin dapat membantu
agar barium tidak keluar. Aliran barium dimonitor oleh radiologist pada
layar fluoroscopy. Udara mungkin dapat dipompakan ke dalam colon
untuk mengembangkan colon, dan didapatkan gambaran yang lebih baik.
3. Penderita diminta untuk bergerak pada posisi yang berbeda dan meja dapat
diatur untuk mendapatkan gambaran yang berbeda. Pada waktu X-ray
diambil, penderita diharapkan untuk menahan napas beberapa detik agar
gambar tidak kabur.
4. Tube enema dikeluarkan setelah gambar-gambar diambil dan penderita
dapat ke toilet . penderita diharapkan mengeluarkan barium. Satu atau dua
foto (X-ray) dapat diambil setelah barium dikeluarkan.
5. Jika double atau pemeriksaan contrast udara dilakukan, melalui tube
enema akan dimasukkan dengan lemah lembut dengan sedikit banyak
udara ke dalam colon, dan kemudian gambar diambil lagi. Hal ini akan
memberikan gambarran yang lebih detail. Tube enema kemudian
dikeluarkan dan penderita dapat mengosongkan colon.
Bagaimana Persiapan Pemeriksaan : Pembersihan dari usus besar ( colon )
adalah perlu untuk mendapatkan gambaran yang akurat. Persiapan pemeriksaan
memasukkan diet cairan pembersih, botol minuman magnesium citrate ( laxative )
dan enemas air hangat untuk membersihkan partikel-partikel kotoran.

Bagaimana Rasa Selama Pemeriksaan : Ada perasan penuh selama prosedure


dikerjakan, rasa kram sedang atau berat, rasa mendesak untuk defekasi, dan rasa
tidak nyaman secara umum.

Mengapa Pemeriksaan Dilakukan : Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi


carcinoma colon . Barium enema juga dipergunakan untuk mendiagnosa dan
mengevaluasi ekstensi dari inflamatory bowel diseases.

Nilai Normal : Barium akan mengisi colon secara rata dan menunjukkan contour,
patency ( bebas terbuka ) dan posisi bowel yang normal.

Hasil Abnormal : Penemuan abnormal memasukkan carcinoma, diverticulitis,


polyps, inflamasi dari inner lining intestine ( ulcerative colitis ) dan irritable
colon, acut appendicitis pada bowel mungkin terlihat.

Kondisi tambahan untuk pemeriksaan yang mungkin dilakukan :

1. Annular pancreas
2. CMV gastroenteritis / colitis
3. Colorectal polyps
4. Crohn’s disease ( regional enteritis )
5. Hirschsprung’s disease
6. Intestinal obstruction
7. Intussusception ( children )
8. Pyloric stenosis
Apa Resiko Pemeriksaan : Adanya radiasi rendah exposure X-ray dimonitor
dan diregulasi untuk mendapatkan jumlah minimum radiasi exposure dibutuhkan
untuk membuat gambar. Paling diharapkan adanya rasa dan resiko yang rendah
bila dibandingkan dengan manfaat / kepentingannya. Wanita hamil dan anak-anak
lebih sesitif terkena radiasi X-ray. Resiko yang lebih serius adalah adanya
perforasi colon, yang sangat jarang.

Pertimbangan Khusus : CT Scan dan Ultrasound saat ini sebagai pemeriksaan


pilihan untuk evaluasi awal massa abdominal

PROSEDUR STANDART PEMERIKSAAN COLON TATA CARA


PEMERIKSAAN BARIUM ENEMA

METODE :

 Double Contras : merupakan standar untuk pemeriksaan colon orang


dewasa, yang akan dievaluasi adalah mukosa colon, polip, massa dan
tanda keradangan.
 Single Contras : merupakan pemeriksaan colon untuk penderita-penderita :
1. reduksi intussusepsi
2. anak-anak
3. kecurigaan obstruksi colon
4. kecurigaan diverticulitis acuta, irritable colon, colitis
5. kecurigaan appendicitis acuta
6. kecurigaan fistulasi acuta
7. kecurigaan fistulasi colon
8. penyakit megacolon
9. penderita-penderita dengan keadaan umum jelek, debil atau persiapan
yang kurang baik
Indikasi : Gangguan pola buang air besar, nyeri daerah colon, kecurigaan massa
daerah colon, melena, kecurigaan obstruksi colon.

Kontra indikasi :absolutetoxic, megacolon , pseudo, membranous colitis, post


biopsy colon (sebaiknya menunggu setelah 7 hari)

Komplikasi : Perforasi usus, , Extraluminasi ke venous, Water intoxication,


Intramural barium, Cardiac arithmia, Transient bactericemia, ES obat-obatan yang
dipergunakan (buscopan, dll)
Persiapan : Kasus darurat (yang memerlukan single kontras) dan bayi tak perlu
persiapan.Untuk wanita subur sebaiknya memperhatikan TEN DAY RULE.

 Penderita dianjurkan diet lunak (low residu) 3 hari sebelumnya.


 Diet cair 1 hari sebelumnya. Pada malam hari diberikan urus-urus (jam
22.00 wib) diikuti dengan minur air putih secara bertahap sebanyak 6-8
gelas.
 Bila ada kecurigaan massa colon atau perdarahan per-rectal dan tidak ada
kontra indikasi, dapat diberikan atropine per-oral.
 Pagi hari diberikan dulcolax supp (jam 04.00 wib). Penderita tidak boleh
makan, minum dan merokok.
 Bila pada hasil anamnesa dicurigai bahwa urus-urus kurang berhasil atau
kebersihan colon diragukan, maka dilakukan lavament (sampai mencapai
colon proximal) memakai air + 1-2 liter (sesuai dengan suhu tubuh). Foto
colon dilakukan paling cepat 1-2 jam setelah lavament.
 Penderita diberi penerangan tentang prosedur pemeriksaan.
Dilakukan BOF bila ada kecurigaan : adanya sisa kontras di saluran
pencernaan karena pemeriksaan sebelumnya. Kemungkinan adanya kontra
indikasi pemeriksaan colon

Kontras media :

1. Double contrast, dipakai larutan lebih pekat (70 W/vol) dengan jumlah ±
300-400cc.
2. Single contrast, dipakai larutan lebih encer (150 watt/vol) dengan jumlah ±
600-800cc.
Tata cara lavement/cleansing enema :

1. Lavement dilakukan oleh orang yang terlatih


2. Pada orang dewasa diperlukan 1 - 1½ liter cairan
3. Air hangat kaku + garam (1 cth/gelas yang sesuai ± 9 gr NaCl/l) dan
dicampur bahan iritan
4. Lavement dilakukan 2 ½ jam sebelum foto colon, agar tonus colon normal
lagi dan cairan residu diserap
5. Untuk px dari ruangan, sebaiknya dilavement juga pada malam sebelum
pemeriksaan
6. Bila perlu, lavement lebih dari. 1 kali. Defekasi px sebaiknya dicek oleh
petugas bahwa beraknya hanya keluar air saja.
Teknik pemeriksaan :

1. DOUBLE CONTRAST
Dilakukan RT untuk menilai tonus sphincter ani dan kemungkinan adanya
massa.

Dilakukan pemasangan kateter rectal, balon kateter digunakan bila dicurigai px


tidak dapat menahan berak. Px Ca rectal dan ulcerative colitis daerah
rectosigmoid, sebaiknya tidak memakai balon kateter yang besar Diberikan
spasmolitik : mis. Buscopan IV/IM.

Cairan Ba SO4 dimasukkan pelan-pelan dan selalu diikuti ujungnya. Diberikan


kesempatan colon untuk adaptasi terhadap perubahan volume (diklem beberapa
detik)

Setelah mencapai flexura hepatica, sebagian kontras dikeluarkan lewat kateter.


Secara bertahap dimasukkan gas. Sebelum mencapai caecum dibuat foto daerah
rectosigmoid dengan posisi optimal (biasanya oblique supine ke kanan).

Kontras diteruskan sampai dengan masuk daerah caecum diusahakan


masuk ileum distal. Bila kontras tidak masuk ileum diusahakan manipulasi
dengan memutar –mutar badan px dan palpasi daerah caecum.

Dibuat foto daerah flexura lienalis (biasanya oblique supine ke kiri) dan flexura
hepatica (oblique supine ke kanan).

Bila perlu dibuat foto tambahan, dengan coating kontras dan posisi
berbeda pada daerah lesi colon, daerah caecum bila kontras tidak masuk ileum (1
– 2 foto).

Dibuat foto seluruh colon (terlentang / AP).

Px jangan diturunkan dulu dari meja x-ray sebelum evaluasi hasil foto (basahnya).

Rekapitulasi penggunaan film :

DAERAH POSISI STANDART TAMBAHAN


1. Rectosigmoid Supine oblique 24/30 Posisi Lat
kanan
2. Flex. Lienalis Supine oblique kiri 24/30
3. Flex. Hepatica Supine oblique 24/30
kanan
4. Caccum Prone oblique kiri
5. Seluruh colon AP/supine 30/40
6. Posisi daerah Posisi sesuai
lesi fluorosc.

2. SINGLE KONTRAS :
Kontras dimasukkan pelan-pelan dan diberi waktu adaptasi pada colon
terhadap tambahan volume. Pemberian spasmolitik tidak mutlak, tgt keperluan
dan ada tidaknya Kontra Indikasi.

Pada waktu mencapai flex. Lienalis, dibuat foto daerah rectosigmoid.


Setelah mencapai caecum dan ileum terminal, dibuat foto daerah flex. Lienalis,
fle. Hepatica dan caecum. Diusahakan kontras masuk ileum distal. Buat foto
seluruh colon. Bila perlu dibuat foto tambahan pada daerah lesi, dan daerah
caecum bila kontras tidak dapat masuk ileum. Dibuat foto post evacuasi, bila
kesukaran berak diberi rangsangan dengan minum air hangat. Rekapitulasi
penggunaan gambar = foto double kontras.

Perawatan setelah pemeriksaan :

 Penerangan pada px bahwa babnya akan berwarna putih selama 1-2 hari.
 Anamnesa dan observasi adanya kemungkinan komplikasi akibat
pemberian kontras dan obat-obatan sebelum px diijinkan pulang /
meninggalkan ruangan.
Hal-hal khusus :

1. PENYAKIT MEGACOLON / HIRSCHPRUNG DISEASE :


Pasang marker opaque pada anus, untuk petunjuk letak anus dan standart
ukuran panjang (sebaiknya 1 cm). Pemeriksaan dihentikan setelah tampak kontras
menyebar dalam colon yang melebar (pada fluoroscopy) Bila meragukan ada
tidaknya megacolon, dibuat foto 24 jam setelah pemeriksaan.

2. ATRESIA ANI :

Pasang marker opaque pada anus untuk petunjuk letak anus dan ukuran
panjang sebaiknya 1 cm.

3. TUMOR COLON :

Pasang marker opaque (kawat/bulat) di daerah yang teraba massa.


4. INVAGINASI :

Lebih dianjurkan untuk diagnostic, ok biasanya sudah > 24 jam. Dilakukan


terapi/reposisi bila < 24 jam, maximum 3 kali dengan ketinggian Ba maximum 1
meter.

5. COLOSTOMI :

Pasang marker opaque pada stomp (dengan kawat). Bila tujuan akan menutup
colostomy, periksa bagian distal (kontras dapat masuk lewat stomp distal atau
peranus tergantung kasusnya).

Penggunaan foto pada anak dan bayi diusahakan seminimal mungkin ( kalau
perlu jumlah film dibawah standart).

Pada anak < 1 tahun ;

Kontras harus dicampur PZ (diusahakan isotonik).

Pemasukan kontras sebaiknya dengan spuit oleh dokter secara perlahan.

Bila terjadi komplikasi segera ditangani kegawatannya.


OBAT EFEK DOSIS SIDE KONTRA TUJUAN
FAMAKOLO EFFECT INDIKASI PADA
GIS FOTO
Artropin Parasimpatoliti Tab 0,25 Muntah, Myastheni Membant
k, menghambat mg dan mulut kering, a gravis, u coating
peristalik dan 0,50 mg midriasis, glaucoma, contras.
sekresi dari 3-4 x 1 flushing, obstruksi Relaksasi
lambung dan Inj tachycardia, GI & UT, colon
usus. 0,25 retensi urine, BPH, (shg
mg/amp palpitasi, asthma br, nyeri-)
IM/IV/SC suhu tubuh hernia, Diberikan
meningkat hepatic & 30’
renal dis. sebelum
foto per
os.
Probantine Parasimpatoliti Tab 15 Mulut kering, BPH, Menimbu
HBr k, menghambat mg 3x1 tachycardia, glaucoma lkan
pengosongan ac. retensi urine, motilitas
lambung inj 30 mata kabur. colon.
mg/amp Diberikan
IM/IV IV sesaat
sebelum
foto.
Buscopan Action pada Tab 10 Hipersensitiv Penyumbat Relaxasi
parasim-patetik mg 3x1. e reaksi, an colon
ganglion pada inj 20 mulut kering, mekanik (nyeri-).
dinding colon mg/amp agranulositosi sal cerna, Dibe-
IM/IV s (lama). mega- rikan IV
colon, sesaat
tachi- atau IM
cardia, 5-10’
hiper- sebelum
sensitif thd foto
derivate
pira-zolon,
pembe-
saran
prostate.
Systabon Parasimpatetik Tab 2 mg Granulositop Glaucoma, Idem
pada otot polos pap & 250 enia BPH, buscopan
mg Pyloric
metampir Stenosis.
on.
3 x 1
/hari.
Inj amp
/5cc
IM/IV
Papaverin Pada otot polos Tab 40 - IV hati- -
& jantung. mg hati pada
Pada otot polos 3x1/hr. glaucoma
usus lemah. Inj 40
mg/amp
IM/IV
Dulcolax Pencahar, Tad 5 mg. Kolik usus, Setelah Pembersi
merang-sang 10 mg. pe-rasaan ter- operasi h colon
mukosa colon. Anak 5-10 bakar pada perut.
Efek setelah 6- mg, Dew penggunaan Anak < 4
12 jam. Supp 10-15mg. rectal. tahun,
15’–1 jam hamil
muda.
Castor oil Pencahar, Anak 5-15 - - Idem
merangsang cc Dew
mukosa saraf 15-60 cc
intramural otot Dosis >
polos pada usus tak
halus. Masa menamba
laten 3 jam. h efek
BaSO4 Meningkatkan Bubuk, Mual, Kelainan Idem
peristaltik usus Dewasa dehidrasi, ginjal
dgn menarik air 30 gr. decomp
kedlm lumen ginjal,
usus (daya hipotensi,
osmotic), shg paralise
feses lembek pernafasan.
(3-6 jam).
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Barium enema adalah pemeriksaan X-Ray pada usus besar (colon) yang
sebelumnya colon diisi dengan barium sulfate ( a radioopaque contrast medium).
Tipe enema dibedakan menjadi 4 kelompok : pembersih , karminatif, retensi dan
enema aliran balik. Tujuan pemeriksaan barium enema adalah membantu
menegakkan diagnosis dari carcinoma colon dan penyakit inflamasi colon.
Mendeteksi adanya polip, inflamasi dan perubahan struktural pada colon.

3.2 Saran

Makalah yang kami buat ini mungkin masih membutuhkan perbaikan yang
lain, sehingga disarankan pembaca lebih aktif lagi untuk membaca literature lain
yang lebih mendukung.
DAFTAR PUSTAKA

Dwirosid. 2014. Referat-Barium Meal.


http://id.scribd.com/doc/245171031/Referat-barium-Meal#scribd. Diakses 15
September 2015, Pukul 15:21 WIB.

RS Husada. 2013. Pemeriksaan Radiologi.


http://www.husada.co.id/index.php/fasilitas/pelayanan-24-jam/pemeriksaan-
radiologi. Diakses tanggal 15 September 2015, Pukul 14:41 WIB.

Purwanita, Hanifa Ayu. 2013. Barium Enema.

http://hanifah-ayu-fk13.web.unair.ac.id/artikel_detail-87437-Kesehatan-
Barium%20Enema.html. Diakses tanggal 15 September 2015, Pukul 16:56 WIB.

Smith-Temple, Jean. 2010. Buku Saku Prosedur Klinis Keperawatan. Jakarta:


EGC