Anda di halaman 1dari 68

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumah sakit merupakan sarana kesehatan dan salah satu bentuk organisasi
pelayanan kesehatan, khususnya terkait dengan upaya kesehatan rujukan. Tujuan
program kesehatan rujukan antara lain adalah: peningkatan mutu, cakupan dan
efisiensi rumah sakit, melalui penerapan dan penyempurnaan standar pelayanan,
tenaga, standard peralatan, profesi dan manajemen rumah sakit (Aditama, 2003).
Dalam rangka menuju era globalisasi, rumah sakit juga dihadapkan pada
berbagai perubahan eksternal, seperti perubahan tata ekonomi dunia, arus
informasi tanpa batas, pola penyakit, pola demografi penduduk, teknologi,
peralatan rumah sakit, yang semua itu akan berdampak pada perubahan tata nilai
dan tuntutan masyarakat yang merupakan sebuah system, salah satunya praktek
keperawatan.
Keperawatan sebagai ilmu pengetahuan terus-menerus berkembang, baik
disebabkan adanya tekanan eksternal maupun karena tekanan internal
keperawatan. Masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat menuntut
dikembangkannya pendekatan dan pelaksanaan asuhan keperawatan yang
berbeda. Hal ini menyebabkan iptek keperawatan sebagai bentuk tekanan
eksternal, harus terus-menerus dikembangkan. Menurut Azrul Azwar (1997).
Permasalahan pokok yang dihadapi perawat Indonesia dalam sistem pelayanan
kesehatan adalah sebagai berikut (Nursalam, 2015).
Peran perawat profesional dalam sistem kesehatan nasional adalah
berupaya mewujudkan sistem kesehatan yang baik, sehingga penyelenggaraan
pelayanan kesehatan (health service) sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan
kesehatan (health needs and demands) masyarakat. Sementara itu di sisi lain,
biaya pelayanan kesehatan sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Akan
tetapi perawat belum melaksanakan peran secara optimal. Di sinilah letak
masalahnya, penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan
keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat tidaklah mudah. Tidak
mengherankan jika pada saat ini banyak ditemukan keluhan masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan/keperawatan di Indonesia (Nursalam, 2015).

1
2

Saat ini keberhasilan rumah sakit sangat ditentukan oleh pengetahuan,


keterampilan, kreativitas dan motivasi staf dan karyawannya. Kebutuhan tenaga-
tenaga terampil di dalam berbagai bidang dalam sebuah rumah sakit sudah
merupakan sebuah tuntutan dunia global yang tidak bisa ditunda. Kehadiran
teknologi dan sumber daya lain hanyalah alat atau bahan pendukung, karena pada
akhirnya SDM-lah yang menentukan (Danim, 2004).
Pengakuan body of knowledge Profesi Keperawatan di Indonesia baru
terjadi pada tahun 1985, yaitu ketika PSIK untuk pertama kali dibuka di Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Di negara-negara maju, pengakuan body of
knowledge tersebut telah lama ditemukan. Misalnya, sejak tahun 1869, yaitu
ketika Florence Nightingale untuk pertama kali memperkenalkan teori
keperawatan yang menekankan pentingnya faktor lingkungan. Oleh karena itu,
tidaklah mengherankan jika dibandingkan profesi kesehatan lain, saat ini
keperawatan masih belum sepenuhnya dianggap suatu ilmu (Nursalam, 2015).
Rumah sakit merupakan industri jasa yang memiliki ciri bentuk produknya
tidak dapat disimpan dan diberikan dalam bentuk individual, serta pemasaran
yang menyatu dengan pemberi pelayanan, sehingga diperlukan sikap dan perilaku
khusus dalam menghadapi konsumen. Tenaga perawat yang merupakan “the
caring profession” mempunyai kedudukan yang penting dalam menghasilkan
kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit, karena pelayanan yang diberikannya
berdasarkan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual. Pelayanan keperawatan
merupakan pelayanan yang unik dilaksanakan selama 24 jam dan
berkesinambungan merupakan kelebihan tersendiri dibanding pelayanan lainnya.
Pelayanan dan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien merupakan
bentuk pelayanan keperawatan profesional, yang bertujuan untuk membantu
pasien dalam pemulihan dan peningkatan kemampuan dirinya, melalui tindakan
pemenuhan kebutuhan pasien secara komprehensif dan berkesinambungan sampai
pasien mampu untuk melakukan kegiatan rutinitasnya tanpa bantuan. Bentuk
pelayanan ini seyogyanya diberikan oleh perawat yang memiliki kemampuan serta
sikap dan kepriabadian yang sesuai dengan tuntutan profesi keperawatan dan
untuk itu tenaga keperawatan ini harus dipersiapkan dan ditingkatkan secara
teratur, terencana dan kontinyu (Darmawan, 2008).
3

Pelayanan keperawatan yang dilakukan di rumah sakit merupakan sistem


pengelolaan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien agar menjadi
berdaya guna dan berhasil guna. Sistem pengelolaan ini akan berhasil apabila
seorang perawat yang memiliki tanggung jawab mengelola mempunyai
pengetahaun tentang manajemen keperawatan dan kemampuan memimpin orang
lain disamping pengetahuan dan keterampilan klinis yang harus dikuasainya pula
(Nurachmah, 2004).
Untuk mewujudkan pelayanan keperawatan yang berkualitas sesuai visi dan
misi Rumah Sakit tidak terlepas dari proses manajemen. Manajemen merupakan
suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan
organisasi. Dalam organisasi keperawatan, pelaksanaan manajemen dikenal
sebagai manajemen keperawatan (Ritonga, 2014).
Teori manajemen modern berasal dari Henry Fayol, yang telah
memperkenalkan fungsi-fungsi atau aktivitas-aktivitas administrator seperti:
planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), coordinating
(pengkoordinasian) dan controlling (pengendalian) (Potter dan Perry, 2005).
Manajemen keperawatan adalah suatu proses kerja yang dilakukan oleh
anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara
professional. Dalam hal ini seorang manajer keperawatan dituntut untuk
melakukan suatu proses yang meliputi lima fungsi utama yaitu perencanaan,
pengorganisasian, pengelolaan, pengarahan, dan kontrol agar dapat memberikan
asuhan keperawatan yang seefektif dan seefisien mungkin bagi pasien dan
keluarganya (Nursalam, 2004). Proses manajemen keperawatan dilaksanakan
melalui tahap-tahap yaitu pengkajian (kajian situasional), perencanaan (strategi
dan operasional), implementasi dan evaluasi.
Penerapan manajemen keperawatan dapat dilakukan diberbagai bidang
keperawatan, salah satunya adalah keperawatan anak. Ruang Melati sebagai salah
satu ruang rawat inap penyakit anak Kelas II dan III, bertujuan untuk memberikan
asuhan keperawatan pada anak usia 1 bulan sampai 12 tahun dengan berbagai
kelainan dan gangguan fisiologis baik aktual maupun potensial yang memerlukan
asuhan keperawatan.
4

Praktek manajemen keperawatan di ruang anak sebagai salah satu proses


pembelajaran klinik diharapkan mampu membentuk calon-calon praktisi
keperawatan yang professional baik dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan maupun manajerial keperawatan. Praktek pembelajaran ini kami
lakukan di unit rawat inap penyakit anak ruang Melati Rumah Sakit Umum
Daerah dr R Koesma Tuban.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah melakukan praktek keperawatan manajemen selama 4
minggu, mahasiswa mampu melakukan pengelolaan unit pelayanan di
ruang rawat inap anak (Melati) sesuai dengan konsep dan langkah-langkah
manajemen keperawatan.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mempelajari profil Rumah Sakit
2. Menganalisis sistuasi manajemen dari Rumah Sakit
3. Mengidentifikasi kebutuhan dan masalah layanan kesehatan yang terkait
dengan manajemen keperawatan berdasarkan analisis situasi nyata di
rumah sakit
4. Menetapkan prioritas kebutuhan dan masalah manajemen keperawatan
bersama pihak rumah sakit
5. Menyusun tujuan dan rencana alternatif pemenuhan kebutuhan dan
penyelesaian masalah yang telah ditetapkan
6. Mengusulkan alternatif pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah
yang bersifat teknik operasional bagi rumah sakit
7. Melaksanakan alternatif pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah
yang disepakati bersama unit terkait di rumah sakit
8. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pada aspek masukan dan proses pada
manajemen keperawatan
9. Merencanakan tindak lanjut dari hasil yang dicapai berupa upaya
mempertahankan dan memperbaiki hasil melalui kerja sama dengan unit
terkait di rumah sakit
5

1.3 Manfaat
1.3.1 Rumah Sakit
Memberikan suatu bentuk modifikasi dari kesenjangan antara teori dan
praktik lapangan, dan menambahi suatu bentuk manajemen keperawatan
yang belum terlaksana. serta memberikan gambaran inovasi supervisi
praktek keperawatan.
1.3.2 Institusi Pendidikan
Membandingkan efektivitas dan efisiensi dari teori yang telah diajarkan
dengan kenyataan yang terjadi di praktik lapangan dan mendapatkan
evaluasi untuk praktik manajemen selanjutnya.
1.3.3 Mahasiswa
Memberikan wawasan untuk memahami antara kesenjangan teori dengan
praktik yang ada di lapangan serta melakukan inovasi dengan study
literatur buku dan jurnal.
6

BAB 2
GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT
2.1 Rumah Sakit
2.1.1 Lokasi
RSUD dr. R. Koesma Tuban terletak di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo no
800 Tuban, merupakan Rumah Sakit tipe B dengan kapasitas 301 tempat tidur dan
merupakan satu-satunya Rumah Sakit milik pemerintah Kabupaten Tuban yang
memberikan pelayanan kepada masyarakat umum dan terbagi menjadi 14 ruangan,
yaitu: Graha Aryo Tedjo, Ruang Anggrek (untuk pasien dengan penyakit saraf),
Ruang Teratai (untuk pasien perempuan dengan penyakit dalam), Ruang Asoka
(untuk pasien laki-laki dengan penyakit dalam), Ruang Bougenfil (untuk pasien
bedah laki-laki), Ruang Dahlia (untuk pasien bedah perempuan), Ruang Mawar
(untuk pasien dengan penyakit paru-paru), Ruang Melati (untuk pasien anak kelas 2
dan 3), Ruang Flamboyan (untuk pasien nifas), Ruang Anyelir (untuk pasien anak
kelas 1), Ruang ICU, Ruang HCU, Ruang Perinatologi dan VK Obgyn.

2.1.2 Visi, Misi dan Motto


1. Visi RSUD dr.R. Koesma Tuban adalah menjadi pusat rujukan dan pelayanan
kesehatan yang profesional dengan mengutamakan kepuasan dan keselamatan
pasien.
2. Misi RSUD dr. R. Koesma Tuban, adalah:
1) Meningkatkan pelayanan yang berorientasi pada mutu dan keselamatan
pasien
2) Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan sumber daya manusia
3) Meningkatkan sarana, prasarana dan peralatan yang canggih dan
berkualitas sesuai dengan standar
4) Menyelenggarakan pengelolaan Rumah Sakit secara transparan,
akuntabel, efisien, dan efektif.
3. Motto RSUD dr. R. Koesma Tuban adalah peduli dan ramah
4. Tujuan RSUD dr. R. Koesma Tuban adalah:
1) Tercapainya kepuasan pelanggan melalui peningkatan mutu pelayanan
yang terakreditasi.
7

2) Terpenuhinya pelayanan sesuai standar melalui tenaga profesional dan


terlatih.
3) Tercapainya RSUD dr.R. Koesma menjadi pusat rujukan daerah sekitar.
4) Terwujudnya tarif layanan yang kompetetif dan terjangkau bagi
masyarakat.

2.1.3 Jenis Pelayanan Kesehatan


Jenis pelayanan kesehatan yang terdapat di RSUD dr. R. Koesma Tuban,
adalah:
1. Instalasi Rawat Jalan
Instalasi rawat jalan terdiri dari Poli Gigi dan Mulut, Poli Umum, Poli
Penyakit Dalam, Poli Paru, Poli Mata, Poli Bedah Umum, Poli Orthopedi,
Poli THT, Poli Kulit dan Kelamin, Poli Obstetri dan Ginekologi/ PKBRS,
Poli Anak, Poli Bedah Saraf, Poli Saraf, Poli Gizi, Poli VCT, Poli Jantung,
dan Poli Jiwa.
2. Instalasi Rawat Inap
Instalasi rawat inap terdiri dari Graha Aryo Tedjo, Ruang Anggrek (untuk
pasien dengan penyakit saraf), Ruang Teratai (untuk pasien perempuan
dengan penyakit dalam), Ruang Asoka (untuk pasien laki-laki dengan
penyakit dalam), Ruang Bougenfil (untuk pasien bedah laki-laki), Ruang
Dahlia (untuk pasien bedah perempuan), Ruang Mawar (untuk pasien dengan
penyakit paru-paru), Ruang Melati (untuk pasien anak kelas 2 dan 3), Ruang
Flamboyan (untuk pasien nifas), Ruang Anyelir (untuk pasien anak kelas 1),
Ruang ICU, Ruang HCU, Ruang Perinatologi dan VK Obgin.
3. Instalasi Bedah Sentral
4. Instalasi Gawat Darurat (Trauma Center)
5. Penunjang Medis
Sarana penunjang medis terdiri dari Laboratorium, Radiologi (USG, X-ray,
CT-scan), EKG dan Echo, General Check-up, Hemodialisa, dan perawatan
jenazah.
6. Penunjang Rumah Sakit
8

Sarana penunjang Rumah Sakit terdiri dari pelayanan Farmasi, pelayanan


Apotek, pelayanan Gizi, pelayanan Visum, pelayanan Ambulan dan
pelayanan BPJS.
7. Sarana Penunjang Lain
Sarana penunjang lain terdiri dari Kantin, Koperasi, Tempat Parkir dan
Masjid

2.1.4 Ketenagaan
Pelayanan kesehatan di ruang rawat inap RSUD dr. R. Koesma Tuban
didukung oleh tenaga medis sebanyak 373 orang, tenaga keperawatan sebanyak 258
orang, bidan 27 orang, anastesi 5 orang, tenaga kefarmasian sebanyak 18 orang,
tenaga kesehatan masyarakat sebanyak 6 orang, tenaga gizi sebanyak 9 orang, tenaga
keterapian fisik sebanyak 4 orang, tenaga keteknisan fisik sebanyak 28 orang dan
tenaga non medis sebanyak 191 orang.
2.1.5 Kebijakan Mutu Rumah Sakit
RSUD dr. Koesma Kabupaten Tuban menyatakan komitmennya bahwa:
1. Setiap pegawai mulai dari direktur s/d pelaksana harus terlibat dan
berkontribusi dalam program peningkatan mutu serta harus memahami
kebutuhan dan keinginan pelanggan sesuai dengan tugas masing-masing,
memastikan bahwa setiap pegawai memenuhi tuntutan / kebutuhan pelanggan
sejak awal, setiap saat dengan tetap berpegang teguh dengan visi, misi, dan
tujuan RSUD dr. Koesma kabupaten Tuban.
2. Semua pelayanan tanpa terkecuali hatus memenuhi standar pelayanan yang di
tetapkan secara rasional maupun internasional. Yang dikemas sesuai dengan
kebutuhan pelanggan demi terwujudnya pelayanan yang bermutu di RSUD
dr. Koesma Kabupaten Tuban.
3. Semua pegawai melaksanakan pekerjaan masing-masing dengan benar dan
tepat sejak awal.
4. Pelayanan yang di berikan kepada pelanggan harus efisien namun tanpa cacat
ataupun kegagalan serta memenuhi kebutuhan serta keinginan pelanggan.
9

2.2 Ruangan
2.2.1 Struktur Organisasi Ruangan

Gambar 2.1 Struktur Karyawan Perawatan di Ruang Melati RSUD


Dr. R Koesma Tuban

2.2.2 Komposisi Ruangan


1. Ruangan
1) Kelas 2 terdiri dari 2 ruangan:
(1) Kelas 2a terdapat 4 bed pasien digunakan bagi pasien balita (usia
dibawah 5 tahun)
(2) Kelas 2b terdapat 4 bed pasien digunakan bagi pasien di atas usia
balita sampai 14 tahun.
2) Kelas 3 teridir dari 2 ruangan:
(1) Kelas 3a terdapat 8 bed pasien digunakan bagi pasien usia 1-5 tahun
(2) Kelas 3b terdapat 8 bed pasien digunakan bagi pasien usia 5-14 tahun
3) Ruang isolasi terdapat 2 bed pasien digunakan bagi pasien terdiagnosa
penyakit menular.
4) Ruang tindakan terdapat 2 bed pasien
5) Ruang pantry
6) Ruang linen
10

7) Ruang dokter
8) Ruang perawat
9) Ruang obat
10) Nurse station
11

BAB 3
HASIL PENGKAJIAN DAN ANALISIS SERTA SINTESIS
PERMASALAHAN MANAJEMEN KEPERAWATAN

3.1 Hasil Pengkajian


3.1.1 5M (Man, Material and Machine, Method, Money, Marketing)
1. M1 (Man)
1) Struktur Organisasi Ruang Melati
Ruangan Melati Rumah Sakit Umum Daerah dr. R Koesma Tuban
dipimpin oleh kepala ruangan dan dibantu oleh 1 ketua tim, 5 perawat
penanggung jawab, 6 perawat pelaksana, 1 pembantu orang sakit (POS)
atau yang difungsikan sebagai pembantu perawat, serta 1 orang yang
bertugas sebagai cleaning service (CS). Adapun struktur organisasinya
adalah:

Gambar 3.1 Struktur Karyawan Perawatan di Ruang Melati RSUD


Dr. R Koesma Tuban

2) Jumlah Tenaga di Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban


a) Keperawatan

Tabel 3.1 Tenaga Perawat di ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban

No Kualifikasi Jumlah Masa Kerja Jenis


1 S1 keperawatan 6 28 Tahun : 1 orang PNS
10 Tahun : 2 orang PNS
1Tahun : 2 orang Non PNS
6 Bulan : 1 orang Non PNS
12

2. D3 Keperawatan 7 5 Tahun : 1 orang PNS


13 Tahun: 1 orang Non PNS
11 Tahun: 1 orang Non PNS
9 Tahun: 1 orang Non PNS
2 Tahun: 1 orang Non PNS
1 Tahun: 1 orang Non PNS
3 Bulan: 1 orang Non PNS
Total 13

b) Tenaga Non-Keperawatan

Tabel 3.2 Tenaga Non Ruang Perawat di Ruang Melati RSUD dr R


Koesma Tuban

No Kualifikasi Jumlah Jenis


1 Pembantu Perawat 1 Orang PNS
2 Cleaning Service 1 Orang Honorer
Total 2 Orang

c) Tenaga Medis

Tabel 3.3 Tenaga Non Ruang Perawat di Ruang Melati RSUD dr R


Koesma Tuban

NO Kualifikasi Jumlah
1 Dokter Spesialis Anak 3
Total 3

3) Persentase 10 Kasus Terbanyak di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma


Tuban dalam 3 bulan terakhir (Juni-Juli-Agustus) 2017
Persentase 10 kasus terbanyak yang terdapat di Ruang Melati RSUD dr.
R. Koesma Tuban akan dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 3.4 Persentase 10 Kasus Terbanyak di Ruang Melati RSUD dr.


R. Koesma Tuban dalam 3 bulan terakhir (Juni-Juli-Agustus)
2017

NO Kasus Persentase
1 Infeksi Saluran Kemih 24,6%
2 Bronkopneumonia 16,3%
3 Febris Konvulsif 14,8%
4 Gastroenteritis 13,7%
13

5 ISPA 9,3%
6 Status Epilepticus 5,5%
7 Thalasemia 3.8%
8 Bronkitis 3,8%
9 DHF 3,8%
10 Measles 3,8%

4) Tingkat Kepuasan Tenaga Kerja di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma


Tuban
Berikut adalah hasil tingkat kepuasan perawat terhadap hasil kinerja
selama menjadi perawat di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban.
Seluruh perawat yang berjumlah 13 orang (100%) menjadi responden
menyatakan kepuasan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepuasan
perawat terhadap hasil kinerja di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma
Tuban adalah puas.
5) Tingkat Ketergantungan Klien di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma
Tuban
Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban berkapasitas tempat tidur 26
tempat tidur, jumlah rata-rata pasien yang dirawat 9 orang per hari.
Kriteria pasien yang dirawat tersebut rata-rata menggunakan perawatan
parsial.
6) Kebutuhan Tenaga Perawat di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma
Tuban
Penghitungan kebutuhan tenaga keperawatan diterapkan menggunakan
Metode Rasio, Metode Douglas, dan Metode Gillies. Ruang Melati
RSUD dr R Koesma Tuban berkapasitas tempat tidur 26 tempat tidur,
jumlah rata-rata pasien yang dirawat 9 orang per hari. Kriteria pasien
yang dirawat tersebut rata-rata menggunakan perawatan parsial. Tingkat
pendidikan perawat yaitu S-1 keperawatan berjumlah 6 orang dan DIII
Keperawatan berjumlah 7 orang. Hari kerja efektif adalah 6 hari
perminggu. Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dihitung jumlah
kebutuhan tenaga perawat di ruang tersebut adalah sebagai berikut.
14

Metode Rasio
Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban (Tipe B) dengan jumlah
tempat tidur 26 buah, maka seorang pimpinan tenaga keperawatan akan
memperhitungkan jumlah tenaga keperawatan adalah:
1/1 x 26 = 26
Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan untuk Ruang Melati RSUD dr.
R. Koesma Tuban adalah 26 orang

Metode DEPKES
Kebutuhan tenaga keperawatan harus memperhatikan unit kerja yang
ada di rumah sakit. secara garis besar terdapat pengelompokkan unit
kerja di rumah sakit salah satunya adalah ruang rawat inap. Cara
penghitungan kebutuhan tenaga keperawatan menurut DEPKES (2011)
berdasarkan: tingkat ketergantungan pasien, jumlah perawatan yang
diperlukan/hari/pasien, jam perawatan yang diperlukan/ ruangan/ hari,
dan jam kerja efektif tiap perawat 7 jam/hari.
a. Penghitungan tenaga ruang Melati
Berdasarkan data pada hari selasa 12 September 2017 pada ruang
melati dengan jumlah pasien 6 orang.
Jumlah jam perawatan pasien:
a) Perawatan langsung
1. minimal care = 0 x 2 jam = 0 jam
2. Partial care = 6 x 3 jam = 33 jam
3. total care = 0 x 6 jam = 0 jam
b) Perawatan tidak langsung 6 x 30 menit = 180 menit = 3 jam
c) Pendidikan kesehatan 15 menit = 6 x 0,25 jam = 1,5 jam
1. Total jam perawatan yang dibutuhkan
Total = 1 + 2+ 3 = 33 + 3 + 1,5 = 37,5 jam
2. Jumlah tenaga yang dibutuhkan :
Jumlah jam perawatan = 37,5/ 7 = 5,35 = 6
Jam kerja efektif
15

3. Loss day = jumlah hari minggu dalam 1 tahun + cuti + hari besar x
jumlah perawat : jumlah hari efektif
(55+12+14) x 5,35 = 1,5 = 2 orang
286
Faktor koreksi
jumlah tenaga keperawatan yang mengerjakan tugas non keperawatan
diperkirakan 25% dari jam pelayanan keperawatan;
(Jumlah tenaga keperawatan + loss day) x 25%
(5,35 + 1,5) x 25% = 1,7 = 2
Jadi jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan ruang melati menurut depkes
(2011) adalah 5,35+ 1,5+ 1,7 = 8,55 = 9 orang

Metode Douglas
(1) Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban (Tipe B) dengan
kategori sebagai berikut: 6 pasien dengan perawatan parsial. Maka
kebutuhan tenaga perawtan adalah sebagai berikut.

Tabel 3.5 Kebutuhan Tenaga Perawat Tiap Shift di Ruang Melati


RSUD dr. R. Koesma Tuban

Kualifikasi Pasien Jumlah Kebutuhan Tenaga


Tingkat Jumlah
Pagi Sore Malam
Ketergantungan Pasien
Minimal - - - -
Parsial 6 6  0,27 = 1,62 6  0,15 = 0,9 6  0,10 = 0,6
Total - - - -
Jumlah 6 1,62 0,9 0,6
2 1 1

Total tenaga perawat:


Pagi : 2 orang
Sore : 1 orang
Malam : 1 orang
4 orang
Jumlah tenaga lepas dinas per hari:
(Dibulatkan 1 orang)
16

Jadi, jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas per hari di


Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban menurut rumus Douglas
adalah 4 orang + 1 orang lepas dinas + 1 Kepala ruang + 1 wakil
kepala ruang = 7 orang

Metode Gillies
(1) Menentukan terlebih dahulu jam keperawatan yang dibutuhkan
pasien per hari, yaitu:
a. Keperawatan langsung:
Partial care 6 orang pasien 6 x 3 jam = 18 jam
b. Keperawatan tidak langung: 6 orang pasien x 1 jam = 6 jam
c. Penyuluhan Kesehatan: 6 orang pasien x 0,25 jam = 1,5 jam
d. Total jam secara keseluruhan adalah 18 + 6 + 1,5 = 25,5 jam
(2) Menentukan jumlah total jam keperawatan yang dibutuhkan per
pasien per hari adalah 25,5 jam  6 pasien = 4,25 (4) jam
(3) Menentukan jumlah Menentukan jumlah kebutuhan tenaga
keperawatan pada ruangan tersebut adalah langsung dengan
menggunakan rumus Gillies di atas, sehingga didapatkan hasil
sebagai berikut.
4 jam/ pasien/ hari x 6 pasien/ hari x 265 hari 6360
= = 3,14 (3) orang
(365 hari – 76) x 7 jam 2023
20% x 26 = 5,2 (5) orang
Jadi, jumlah tenaga yang dibutuhkan secara keseluruhan 3 + 5 = 8
orang per hari
(4) Menentukan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan yang
dibutuhkan per hari, yaitu:
= 4 orang
(5) Menentukan jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan per shift,
yaitu dengan ketentuan menurut Eastler (Swansburg, 1990)
a. Shift pagi 47 % = 1,88 (2) orang
b. Shift siang 36% = 1,44 (1) orang
c. Shift malam 17% = 0,68 (1) orang
17

(6) Kombinasi menurut Abdellah dan Levinne adalah:


a. 55% = 4,4 (4) orang tenaga profesional
b. 45% = 3,6 (4) orang tenaga nonprofesional

2) Total Beban Kerja di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban


Pengukuran beban kerja objektif dilakukan untuk mengetahui
penggunaan waktu tenaga keperawatan dalam melaksanakan aktivitas
baik untuk tugas pokok, tugas penunjang, kepentingan pribadi dan lain-
lain. Adapun pembagian kerja secara normatif pada setiap shift kerja
yaitu shift pagi, sore dan malam. Adapun pembagian jam kerja secara
normatif pada setiap shift di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
sebagai berikut.
(1) Shift pagi dimulai pukul 07.00 – 14.00 WIB (7 jam)
(2) Shift sore dimulai pukul 14.00 – 21.00 WIB (7 jam)
(3) Shift malam dimulai pukul 21.00 – 07.00 WIB (10 jam)

Tabel 3.6 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Langsung pada Shift


Pagi di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban Tanggal
12 September – 15 September 2017

Waktu Rerata
No Tindakan Keperawatan Langsung Frekuensi
(Jam) waktu (Jam)

1 Memberikan obat kepada pasien secara 3,984 48 0,083


oral maupun injeksi
2 Memasang gelang identifikasi 0,099 3 0,033
3 Memasang infus 0,75 3 0,25
4 Mengganti cairan infus 0,166 2 0,083
5 Memenuhi kebutuhan oksigen 0,498 6 0,083
6 Menyiapkan spesimen lab 0,8 5 0,16
7 Memenuhi kebutuhan rasa nyaman dan 0,249 3 0,083
aman
8 Mengukur TTV 1,66 20 0,083
9 Menerima pasien baru 0,48 3 0,16
10 Pendidikan kesehatan 0,48 3 0,16
dan seterusnya
Total 9,166 96
18

Tabel 3.7 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Tidak Langsung pada


Shift Pagi di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
Tanggal 12 September– 15 September 2017

Tindakan Keperawatan Tidak Waktu Rerata


No Frekuensi
Langsung (Jam) waktu (Jam)

1 Pendokumentasian catatan medik 7,68 48 0,16


2 Telekomunikasi dengan ruang lain 0,498 6 0,083
3 Membereskan administrasi pasien pulang 1,162 14 0,083
4 Menulis resep 1,584 48 0.033
5 Timbang terima pasien 2,88 18 0,16
6 Visit dokter 7,68 48 0,16
7 Menyiapkan obat oral dan injeksi 0,768 48 0,016
8 Berkomunikasi dengan dokter 0 0 0
Total 22,252 296

Tabel 3.8 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Nonproduktif pada Shift


Pagi di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban Tanggal
12 September – 15 September 2017

Waktu Rerata
No Tindakan Keperawatan Non Produktif Frekuensi
(Jam) waktu (Jam)

1 Makan dan minum 5,76 36 0,16


2 Pergi keperluan pribadi 0,99 3 0,33
3 Ibadah 5,76 36 0,16
4 Toilet 2,988 36 0,083
5 Duduk di Nurse Station 9 36 0,25
6 Tidur/ istirahat 0 0 0
7 Datang terlambat 0 0 0
8 Pulang lebih awal 0 0 0
Total 24,498 147

Tabel 3.9 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Langsung pada Shift


Siang di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban Tanggal
12 September – 15 September 2017

Waktu Rerata
No Tindakan Keperawatan Langsung Frekuensi
(Jam) waktu (Jam)

1 Memberikan obat kepada pasien secara 3,569 43 0,083


oral maupun injeksi
2 Memasang gelang identifikasi 0 0 0
3 Memasang infus 0,25 1 0,25
4 Mengganti cairan infus 0,83 10 0,083
5 Memenuhi kebutuhan oksigen 0 0 0
6 Menyiapkan spesimen lab 0,32 2 0,16
19

7 Memenuhi kebutuhan rasa nyaman dan 0,249 3 0,083


aman
8 Mengukur TTV 1,66 20 0,083
9 Menerima pasien baru 0,48 3 0,16
10 Pendidikan kesehatan 0,48 3 0,16
dan seterusnya
Total 7,838 85

Tabel 3.10 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Tidak Langsung pada


Shift Siang di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
Tanggal 12 September – 15 September 2017

Tindakan Keperawatan Tidak Waktu Rerata


No Frekuensi
Langsung (Jam) waktu (Jam)

1 Pendokumentasian catatan medik 3,569 43 0,083


2 Telekomunikasi dengan ruang lain 0,332 4 0,083
3 Membereskan administrasi pasien pulang 0,415 5 0,083
4 Menulis resep 0,561 17 0.033
5 Timbang terima pasien 0,96 6 0,16
6 Visit dokter 0 0 0
7 Menyiapkan obat oral dan injeksi 0,688 43 0,016
8 Berkomunikasi dengan dokter 0 0 0
Total 6,525 123

Tabel 3.11 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Nonproduktif pada Shift


Siang di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban Tanggal
12 September – 15 September 2017

Waktu Rerata
No Tindakan Keperawatan Non Produktif Frekuensi
(Jam) waktu (Jam)

1 Makan dan minum 3,96 12 0,33


2 Pergi keperluan pribadi 0,99 3 0,33
3 Ibadah 1,92 12 0,16
4 Toilet 0,996 12 0,083
5 Duduk di Nurse Station 6 12 0,5
6 Tidur/ istirahat 9 12 0,75
7 Datang terlambat 0 0 0
8 Pulang lebih awal 0 0 0
Total 21,876 63
20

Tabel 3.12 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Langsung pada Shift


Malam di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
Tanggal 12 September – 15 September 2017

Waktu Rerata
No Tindakan Keperawatan Langsung Frekuensi
(Jam) waktu (Jam)

1 Memberikan obat kepada pasien secara 3,818 46 0,083


oral maupun injeksi
2 Memasang gelang identifikasi 0 0 0
3 Memasang infus 0,75 3 0,25
4 Mengganti cairan infus 2,573 31 0,083
5 Memenuhi kebutuhan oksigen 0,083 1 0,083
6 Menyiapkan spesimen lab 0,48 3 0,16
7 Memenuhi kebutuhan rasa nyaman dan 0,249 3 0,083
aman
8 Mengukur TTV 1,66 20 0,083
9 Menerima pasien baru 0,48 3 0,16
10 Pendidikan kesehatan 0 0 0
dan seterusnya
Total 10,093 110

Tabel 3.13 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Tidak Langsung pada


Shift Malam di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
Tanggal 12 September – 15 September 2017

Tindakan Keperawatan Tidak Waktu Rerata


No Frekuensi
Langsung (Jam) waktu (Jam)

1 Pendokumentasian catatan medik 3,818 46 0,083


2 Telekomunikasi dengan ruang lain 0,249 3 0,083
3 Membereskan administrasi pasien pulang 0 0 0
4 Menulis resep 0,033 1 0.033
5 Timbang terima pasien 0,96 6 0,16
6 Visit dokter 0 0 0
7 Menyiapkan obat oral dan injeksi 0,736 46 0,016
8 Berkomunikasi dengan dokter 0,32 2 0,16
Total 6,116 104

Tabel 3.14 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Nonproduktif pada Shift


Malam di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
Tanggal 12 September – 15 September 2017

Waktu Rerata
No Tindakan Keperawatan Non Produktif Frekuensi
(Jam) waktu (Jam)

1 Makan dan minum 3,96 12 0,33


2 Pergi keperluan pribadi 0,99 3 0,33
21

3 Ibadah 3,96 12 0,33


4 Toilet 0,966 12 0,083
5 Duduk di Nurse Station 9 12 0,75
6 Tidur/ istirahat 9 12 0,75
7 Datang terlambat 0 0 0
8 Pulang lebih awal 0 0 0
Total 27,876 63

Tabel 3.15 Rekapitulasi Pelaksanaan Perawatan di Ruang Melati RSUD


dr. R. Koesma Tuban Tanggal 12 September – 15 September
2017

Jenis Kegiatan Keperawatan Pagi (Jam) Sore (Jam) Malam (Jam)


Kegiatan Produktif:
a. Langsung 9,166 7,838 10,093
b. Tidak langsung 22,252 6,525 6,116
Kegiatan Nonproduktif 24,498 21,876 27,876
TOTAL 55,916 36,239 44,085

Tabel 3.16 Beban Kerja Objektif di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma
Tuban Tanggal 12 September – 15 September 2017

Beban Kerja Objektif


Shift
Persentase Kategori
Pagi 56,19% Rendah
Sore 39,63% Rendah
Malam 36,77% Rendah

Tabel tersebut menunjukkan bahwa beban kerja di Ruang Melati RSUD


dr. R. Koesma Tuban termasuk kategori beban kerja rendah (kurang dari
80%)

3) Bed Occupacy Rate (BOR) di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma


Tuban.
Perhitungan Bed Occupacy Rate (BOR), Jumlah kapasitas tempat tidur di
Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban sebanyak 26 dengan
perincian kelas 2 sebanyak 8 tempat tidur, kelas 3 sebanyak 16 tempat
tidur dan kelas isolasi sebanyak 2 tempat tidur.
(1) BOR pasien di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
22

Tabel 3.17 BOR Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban tanggal 12


September 2017

NO Shift Jumlah Bed BOR


1 Pagi 26 bed 6/26 x 100% = 23%
(20 kosong)
2 Sore 26 bed 9/26 x 100% = 23%
(20 kosong)
3 Malam 26 bed 8/26 x 100% = 31%
(18 kosong)

Tabel 3.18 BOR Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban tanggal 13


September 2017

NO Shift Jumlah Bed BOR


1 Pagi 26 bed 15/26 x 100% = 24%
(21 kosong)
2 Sore 26 bed 18/26 x 100% = 24%
(21 kosong)
3 Malam 26 bed 18/26 x 100% = 24%
(21 kosong)

Tabel 3.19 BOR Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban tanggal 14


September 2017

NO Shift Jumlah Bed BOR


1 Pagi 26 bed 4/26 x 100% =15%
(22 kosong)
2 Sore 26 bed 4/26 x 100% = 15%
(22 kosong)
3 Malam 26 bed 4/26 x 100% =15%
(22 kosong)

Tabel 3.20 BOR Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban tanggal 15


September 2017

NO Shift Jumlah Bed BOR


1 Pagi 26 bed 4/26 x 100% = 15%
(22 kosong)
2 Sore 26 bed 4/26 x 100% = 15%
(22 kosong)
3 Malam 26 bed 4/26 x 100% = 15%
(22 kosong)
23

Rumus BOR dalam satu periode di Ruang Melati RSUD dr. R.


Koesma Tuban.

Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60 – 85 % (Depkes


RI, 2005)

Tabel 3.23 BOR Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban 3 Bulan


Terakhir

NO Bulan Jumlah Hari Perawatan Jumlah Bed BOR


1 Juni 225 26 29%
2 Juli 156 26 20%
3 Agustus 204 26 26%

ANGKET KETENAGAAN
Berdasarkan survey yang dilakukan di Ruang Melati, sebanyak 13 perawat
Ruang Melati yang diberikan pertanyaan melalui metode wawancara. di
dapatkan hasil sbb:
Tabel 3.24 Angket Ketenagaan (Man)

Pertanyaan Sangat Cukup/ Baik Sangat


kurang/ kadang / baik/
tidak kadang seri selalu
pernah ng

Bagaimana struktur organisasi yang telah 0 0 0 100 %


berjalan di ruangan, apakah anda merasa puas
dan sesuai dengan kemampuan perawat di
bidangnya

Bagaimana pembagian tugas di ruangan apakah 0 0 39% 61%


sesuai dengan struktur organisasi yang telah ada

Bagaimana kinerja ketua tim/PP apakah 0 0 0 100%


kompeten dengan tugas-tugasnya

Apakah anda merasa membutuhkan kesempatan 0 35 % 65% 0


untuk meningkatkan kemampuan kerja melalui
pelatihan/ pendidikan tambahan
24

Bagaimana kebijakan rs mengenai pemberian 15% 70% 15% 0


beasiswa atau pelatihan pendidikan keperawatan,
apa anda merasa puas

Bagaimana jumlah pendapatan yang diterima, 0 0 100 0


plus insentif yang diterima saudara sudah sesuai %
dengan latar belakang pendidikan anda, apakah
anda merasa puas

Apakah ada kesempatan untuk mengambil cuti 0 0 100 0


dalam 1 minggu %

Dengan tingkat ketergantungan pasien yang ada 0 0 100 0


diruangan bagaimana beban kerja diruangan %
menurut anda

Apakah jumlah perawat dan pasien sudah sesuai 100% 0 0 0


menurut anda

4. M2 (Material)
Penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan pada ruang melati di
RSUD dr R koesma Tuban Pengkajian data awal dilakukan pada tanggal 12
September 2017 Adapun data yang didapat sebagai berikut:
1) Lokasi dan Denah di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
Penataan gedung/ Lokasi dan denah ruangan lokasi penerapan proses
manejerial keperawatan ini dilakukan pada ruang melati RSUD dr R
koesma Tuban Dengan uraian denah sebagai berikut:
Ruang melati terletak di lantai dua di atas Ruang Anyelir, sebelah utara
berbatasan dengan Ruang Dahlia, sebelah selatan merupakan pintu keluar
samping, sebelah timur merupakan arah belakang ruangan, sebelah barat
merupakan arah pintu masuk ke dalam ruangan.
25

Keterangan:
1. Nurse Station 11. Ruang Obat
2. Kelas 3B 12. Lorong 1
3. Kelas 3A 13. Lorong 2 U
4. Kelas 2B 14. Kamar Mandi
5. Kelas 2A
6. Ruang Isolasi B T
7. Ruang Tindakan
8. Ruang Perawat
9. Ruang Dokter S
10. Dapur
11. Ruang Linen
12. Spoelhock
13. Tangga

Gambar 3.2 Denah di Ruang Melati RSUD Dr. R Koesma Tuban

2) Data Tempat Tidur Pasien di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban.
Tabel 3.24 Data Tempat Tidur Pasien di Ruang Melati RSUD dr R
Koesma Tuban
NO Ruangan Jumlah
1 Kelas 2A 4 bed
2 Kelas 2B 4 bed
3 Kelas 3A 8 bed
4 Kelas 3B 8 bed
5 Isolasi 2 bed
TOTAL 26 bed
26

3) Peralatan dan Fasilitas di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban

Tabel 3.25 Alat Kesehatan di Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban

Meubelair / Linen / Alat RT / Alkes Kondisi


NO
Nama Alat / Barang Jumlah Baik Rusak
ALAT KESEHATAN
1. Stetoskop Anak 3 √
2. Gunting 6 √
3. Bak Instrumen 5 √
4. Tensi Meter 3 √
5. Bengkok 9 √
6. Senter 3 √
7. Manset Anak 2 √
8. Manset Dewasa 1 √
9. Termometer Rectal 1 √
10. Termometer Digital Axilia 4 √
11. Termometer Digital Doroty 2 √
12. Blood Glucouse Meter (GDR) 1 √
13. Suction Pump 1 √
14. Tromol Kecil 2 √
15. Tromol Besar 2 √
16. Tabung Oksigen Transport 1 √
17. Manometer 1 √
18. Oksigen Sentral 21 √
19. Nebuliser 3 √
20. Tong Spatel 3 √
21. Lampu Penghangat 1 √
22. Hammer Reflex 1 √
23. Standar Infus 18 √
24. Kursi Roda 2 √
25. Timbangan Bayi 1 √
26. Syiring Pump 1 √
27. Ambubag Sungkup Kecil 2 √
28. Ambubag Sungkup Besar 2 √
29. Klem Lurus 4 √
30. Klem Lengkup 2 √
31. Klem Cirurgis 2 √
32. Pinset Anatomi 3 √
33. Pinset Chirurgis 2 √
34. Cucing 3 √
35. Com + Tutup 1 √
36. Korentang 3 √
37. Gunting AJ 1 √
38. Gunting Lancip 1 √
39. Lampu Viewer (lampu untuk membaca 1 √
hasil rontgen)
40. Termometer Almari Es 1 √
41. Termometer Raksa 1 √
42. Timbangan Dewasa 1 √
43. Timbangan Dewasa dan Tinggi Badan 1 √
44. Infus Pump 1 √
45. EKG 1 √
46. Pen Light 1 √
27

47. Branchart 1 √

Tabel 3.26 Fasilitas Pasien di Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban

Kondisi
NO Nama Alat (Fasilitas Pasien) Jumlah
Baik Rusak
1 Bed 26 √ -
2 Meja pasien 26 √ -
3 Kipas angina 13 √ -
4 Wastafel 5 √ -
5 Telepon 4 √ -
6 Handrub 26 √ -

Tabel 3.27 Meubelair di Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban

Meubelair/Linen/Alat RT/Alkes Kondisi


NO
Nama Alat/ Barang Jumlah Baik rusak
MEUBELIER
1 Tempat Tidur 26 24 2
2 Almari Kecil Plastik 27 26 1
3 Almari obat besi 1 √ -
4 Almari obat emergency 1 √ -
5 Almari obat kaca 2 √ -
6 Almari kayu besar 1 √ -
7 Almari kayu kecil 1 √ -
8 Almari buku kaca besi 1 √ -
9 Rak buku 1 √ -
10 Meja Komputer 1 √ -
10 Mej komputer 1 √ -
11 Kursi busa besi 11 √ -
12 Kursi dokter 1 √ -
13 Meja tulis 6 √ -
14 Kursi bundar plastik 40 37 3
15 Kursi bundar tinggi kayu besi 5 √ -
16 Loker 2 √ -
17 Kursi kayu panjang 8 √ -
18 Meja untuk infus 1 √ -
19 Rak obat kayu kaca 1 √ -

Tabel 3.28 Alat Rumah Tangga dan Fasilitas untuk Perawat serta Pasien
di Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban

Meubelair/Linen/Alat RT/Alkes Kondisi


NO
Nama Alat/ Barang Jumlah Baik rusak
Alat Rumah Tangga
1 Almari es 2 √ -
2 Komputer set Lenovo 1 √ -
3 Kipas angin 16 13 3
28

4 AC 2 √ -
5 Lampu emergency 12 11 1
6 Troly 3 √ -
7 Troly Laundry 1 √ -
8 Jemuran 8 √ -
9 Rak sepatu 6 4 2
10 Panci stenlis 1 √ -
11 Ceret 1 √ -
12 Baskom 20 √ -
13 Kompor gas quantum 1 √ -
14 TV 1 √ -

4) Indeks Perbandingan Jumlah Tempat Tidur, Toilet, dan Jumlah Kamar


Mandi di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban

Tabel 3.29 Indeks Perbandingan Jumlah Tempat Tidur, Toilet, dan


Jumlah Kamar Mandi di Ruang Melati RSUD dr R Koesma
Tuban

Jumlah Jumlah kamar


No. Ruang Jumlah toilet Perbandingan
tempat tidur mandi
1. Kelas 2A 4 1 1 4:1:1
2. Kelas 2B 4 1 1 4:1:1
3. Kelas 3A 8 1 1 8:1:1
4. Kelas 3B 8 1 1 8:1:1
5. Isolasi 2 1 1 2:1:1
Jumlah 26 5 5 26 : 5 : 5

5) Indeks Perbandingan Jumlah Karyawan dengan Jumlah Toilet dan


Jumlah Kamar Mandi di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban

Tabel 3.30 Indeks Perbandingan Jumlah Tempat Tidur, Toilet, dan


Jumlah Kamar Mandi di Ruang Melati RSUD dr R Koesma
Tuban

Jumlah Jumlah kamar Jumlah


No. Perbandingan
Karyawan mandi toilet
1. 13 1 1 13 : 1 : 1
29

6) Jumlah Tempat Tidur di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban


Tabel 3.31 Jumlah Tempat Tidur di Ruang Melati RSUD dr R Koesma
Tuban
NO Ruangan Jumlah
1 Kelas 2A 4 bed
2 Kelas 2B 4 bed
3 Kelas 3A 8 bed
4 Kelas 3B 8 bed
5 Isolasi 2 bed
6 Ruang Tindakan 2 bed
TOTAL 28 bed

7) Penghawaan (Ventalisasi dan Pengaturan Udara) di Ruang Melati RSUD


dr. R. Koesma Tuban
Tabel 3.32 Penghawaan (Ventilisasi dan Pengaturan Udara) di Ruang
Melati RSUD dr R Koesma Tuban

Jumlah ventilasi
No. Ruang Jumlah ventilasi jendela
pintu
1. Kelas 2A 2 8
2. Kelas 2B 2 8
3. Kelas 3A 2 16
4. Kelas 3B 2 16
5. Isolasi 2 -

8) Alur pengadaan Alat Kesehatan di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma


Tuban
Pada akhir tahun ruangan mencatat kondisi (baik/ rusak) keseluruhan
inventaris (obat, alat maupun barang) yang ada di ruangan dalam form
yang telah disediakan oleh Kasi. Renbang Pelayanan Keperawatan secara
lengkap kemudian form yang telah diisi lengkap diserahkan kembali
kepada Kasi. Renbang Pelayanan Keperawatan untuk selanjutnya
ditindaklanjuti dengan realisasi pengadaan inventasi baru atau tidak.
Ruangan akan mendapatkan pemberitahuan secara langsung apabila
terdapat pengadaan inventaris baru. Alur pengadaan inventaris ruangan
merupakan wewenang Kasi. Renbang Pelayanan Keperawatan dan tidak
ada alur khusus untuk pengadaan barang di setiap ruangan.
30

9) Kalibrasi dan Maintenance Alat Kesehatan di Ruang Melati RSUD dr. R.


Koesma Tuban
Jadwal untuk kalibrasi dan maintenance alat-alat kesehatan dilakukan
setiap tiga bulan sekali, dan dilakukan oleh IPS RSUD dr R Koesma
Tuban
10) Administrasi Penunjang di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban.
RSUD dr R Koesma Tuban menyediakan komputer di setiap nurse
station untuk memasukkan data rekam medis pasien, tindakan medis
maupun keperawatan dan terhubung dengan sistem informasi rumah sakit
(SIM RS). Ruang Melati juga terdapat SOP setiap tindakan, SAK, buku
diet, buku dokumentasi, dan buku/ data inventaris.
11) Pengolahan Sampah di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
Pengolahan sampah diruang melati terdiri dari sampah medis (Kuning),
sampah benda tajam (safety box), dan sampah non medis (hijau) yang
setiap pagi jam 5 di ambil dan diolah oleh petugas IPL (Instalasi
Pengolahan Limbah).

5. M3 (Method)
1) Penerapan Pemberian Model Praktik Keperawatan Profesional (MAKP)
MAKP yang digunakan di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang adalah Metode tim.
Beberapa perawat mengatakan memahami tentang model tersebut, model
tersebut dianggap cukup efektif dan efisien. Pelaksanaan MAKP sesuai
dengan standar yang ada dan pembagian tugas di Ruang Melati RSUD
dr. R. Koesma Tuban terasa jelas.
2) Timbang Terima/ Hand Over
Timbang terima yang dilakukan di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma
Tuban sebanyak sekali setiap shift atau 3 kali per hari, timbang terima
dilakukan pada pukul 14.00, 21.00, 07.00 WIB perawat wajib hadir 15
menit sebelum timbang terima dilakukan. Timbang terima dipimpin oleh
Karu atau Katim dan dicatat di buku Laporan harian. Waktu yang
31

dibutuhkan untuk mengunjungi masing-masing pasien adalah ≤ 1 menit.


SOP timbang terima ada.
3) Ronde Keperawatan
Seluruh perawat di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
memahami tentang ronde keperawatan, menurut hasil pengkajian ronde
keperawatan tidak dilaksanakan.
4) Supervisi Keperawatan
Sebagian besar perawat di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
memahami tentang supervisi, menurut hasil pengkajian sebagian besar
perawat menilai tidak adanya pelaksanaan supervisi.
5) Discharge Planning
Seluruh perawat di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
memahami tentang discharge planning. Pemberian edukasi selama
discharge planning sudah dilakukan pada saat pasien masuk Rumah
Sakit (MRS) sampai pasien keluar Rumah Sakit (KRS). Discharge
planning dilaksanakan dengan lisan dan tertulis dengan munggunakan
bahasa Indonesia dan bahasa Daerah (Jawa) serta menggunakan brosur/
leaflet.
6) Pengelolaan Sentralisasi Obat dan logistik
Seluruh perawat di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban
memahami tentang pengelolaan sentralisasi obat dan sudah dilaksanakan
dengan optimal, pemberian obat memperhatikan 6 tepat (pasien, obat,
dosis, cara, waktu, dokumentasi). Namun, sentralisasi obat dirasa kurang
efektif dan efisien. Cara penyimpanan dan penyiapan obat sesuai dengan
prosedur dan terdapat format serta tempat yang digunakan. tidak ada
pemisahan antara obat penggunaan luar dan penggunaan oral. SOP
sentralisasi obat ada
7) Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi adalah catatan otentik yang dapat dibuktikan atau dijadikan
bukti dalam persoalan hukum. Komponen dari dokumentasi mencakup
aspek komunikasi, proses keperawatan, standart keperawatan.
Berdasarkan hasil pengumpulan data melalui observasi dan wawancara,
32

Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban menggunakan lembar


dokumentasi yang disebut PPT (pencatatan perencanaan terintegrasi)
dengan sistem SOAP.
8) Penerimaan Pasien Baru
Perawat melaksanakan penerimaan pasien baru dengan melakukan
orientasi ruangan dan menjelaskan prosedur yang ada secara lisan dan
tertulis serta dicatat pada lembar dokumentasi.

6. M4 (Money)
Pengelolaan keuangan RSUD dr R Koesma Tuban sudah dikelola sendiri
dibantu oleh pemerintah provinsi Jawa Timur. Pengadaan dana bagi ruangan
dan operasional ruangan Melati didapatkan dari RSUD dr R Koesma Tuban,
kerjasama dengan asuransi (BPJS, SPM, dan Jamkesda).
Tabel 3.33 Pengelolaan Keuangan di Ruang Melati RSUD dr R Koesma
Tuban

Kelas Tarif Ruangan fdHR Dokter HR Perawat


II Rp. 60.000,- Ditentukan oleh …….. ........
III Rp. 40.000,-

7. M5 (Marketing)
1) Jumlah Pasien MRS dalam 3 Bulan Terakhir
Tabel 3.34 Jumlah Pasien MRS dalam 3 Bulan Terakhir di Ruang Melati
RSUD dr R Koesma Tuban

NO PERIODE JUMLAH
1 Juni 2017 75 pasien
2 Juli 2017 59 pasien
3 Agustus 2017 62 pasien
TOTAL 196 pasien

2) Jumlah Kasus Terbanyak dalam 3 Bulan Terakhir


Tabel 3.35 Jumlah Pasien MRS dalam 3 Bulan Terakhir di Ruang Melati
RSUD dr R Koesma Tuban
NO Kasus Persentase
1 Infeksi Saluran Kemih 24,6%
2 Bronkopneumonia 16,3%
33

3 Febris Konvulsif 14,8%


4 Gastroenteritis 13,7%
5 ISPA 9,3%
6 Status Epilepticus 5,5%
7 Thalasemia 3.8%
8 Bronkitis 3,8%
9 DHF 3,8%
10 Measles 3,8%

3) Keperawatan di Ruangan
a) Ketepatan Identifikasi Pasien
a. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak
boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.
b. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau
produk darah.
c. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan
spesimen lain untuk pemeriksaan klinis (lihat juga).
d. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan
tindakan/prosedur.
e. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik identifikasi yang
konsisten pada semua situasi dan lokasi.
b) Peningkatan Komunikasi yang Efektif
a. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil
pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima
perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.
b. Perintah lisan dan melalui telepon atau hasil pemeriksaan
secara lengkap dibacakan kembali oleh penerima perintah
atau hasil pemeriksaan tersebut.
34

c. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu


yang memberi perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.
d. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik yang konsisten
dalam melakukan verifikasi terhadap akurasi dari komunikasi
lisan melalui telepon.
c) Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai
a. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengatur
identifikasi, lokasi, pemberian label, dan penyimpanan obat-
obat yang perlu diwaspadai.
b. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan.
c. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien
kecuali jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil
untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja di area
tersebut, bila diperkenankan kebijakan.
d. Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien
diberi label yang jelas dan disimpan dengan cara yang
membatasi akses (restrict access).
d) Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Pasien, dan Tepat Prosedur
a. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang segera dikenali
untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien dalam
proses penandaan/pemberian tanda.
b. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain
untuk melakukan verifikasi praoperasi tepat-lokasi, tepat-
prosedur, dan tepat-pasien dan semua dokumen serta
peralatan yang diperlukan tersedia, tepat/benar, dan
fungsional.
c. Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat/
mendokumentasikan prosedur sign in (sebelum
induksi);“sebelum insisi/time-out” tepat sebelum dimulainya
suatu prosedur/tindakan pembedahan dan sign out (sebelum
meninggalkan kamar operasi).
35

d. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung


keseragaman proses guna memastikan tepat lokasi, tepat
prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur medis dan
tindakan pengobatan gigi/dental yang dilaksanakan di luar
kamar operasi.
e) Pengurangan Risiko Infeksi Terkait dengan Pelayanan Kesehatan
a. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand
hygiene terbaru yang baru-baru ini diterbitkan dan sudah
diterima secara umum (antara lain dari WHO Patient Safety).
b. Rumah sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif.
c. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mendukung
pengurangan secara berkelanjutan risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan.
f) Pengurangan Risiko Jatuh
a. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal risiko pasien
jatuh dan melakukan pengkajian ulang terhadap pasien bila
diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan.
b. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh
bagi mereka yang pada hasil asesmen dianggap berisiko.
c. Langkah-langkah dimonitor hasilnya, baik tentang
keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh maupun
dampak yang berkaitan secara tidak disengaja.
d. Kebijakan dan/atau prosedur mendukung pengurangan
berkelanjutan dari risiko cedera pasien akibat jatuh di rumah
sakit.
4) Patient safety
a) Angka kejadian jatuh pada tanggal 12 – 15 September 2017

Formula = 0 x 100 %

10
36

b) Kesalahan pengobatan (medication error) pada tanggal 12-15 September


2017

Formula = Jumlah pasien medication error x 100 %

Jumlah pasien beresiko

Formula = 0 x 100 %

10

c) Angka kejadian flebitis pada tanggal 12 – 15 Agustus 2017

Formula = Jumlah pasien flebitis x 100 %

Jumlah pasien beresiko

Formula = 0 x 100 %

10

d) Angka kejadian decubitus pada tanggal 12– 15 September 2017

Formula = Jumlah pasien decubitus x 100 %

Jumlah pasien beresiko

Formula = 0 x 100 %

10

e) Lain-lain (Upaya pengurangan infeksi nososkomial/ INOS) pada


tanggal 12 – 15 September 2017
a. ILO: tidak terjadi
b. ISK: tidak ada pasien yang menggunakan kateter.
37

5) Kepuasan
a) Tingkat kepuasan pasien pada tanggal 12-15 September 2017

Pre

Post

b) Perawatan diri

c) Kenyamanan

d) Kecemasan

e) Pengetahuan
38

6) Average Length of Stay (ALOS)

a) ALOS secara umum


Lama rawat inap pasien di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma
Tuban mulai bulan Juni sampai Agustus 2017 rata-rata 4 hari.
b) ALOS secara khusus
a. Menular
Lama rawat inap pasien di Ruang Melati RSUD dr. R.
Koesma Tuban mulai bulan Juni sampai Agustus 2017 pada
penyakit menular rata-rata 4 hari
b. Tidak menular
Lama rawat inap pasien di Ruang Melati RSUD dr. R.
Koesma Tuban mulai bulan Juni sampai Agustus 2017 pada
penyakit tidak menular rata-rata 4 hari
39

3.2 Analisis SWOT


Tabel 3.36 Analisis SWOT di Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban
No Analisis SWOT Bobot Rating Bobot x Rating
1 M1 (MAN)
1) IFAS
Strength:
(1)Sebanyak 100% perawat menyatakan bahwa struktur organisasi yang 0,2 3 0,6
ada sesuai dengan kemampuan perawat.
(2)Sebanyak 100% perawat menyatakan pembagian tugas sesuai dengan 0,2 3 0,6
struktur organsasi yang ada.
(3)Sebanyak 100% perawat menyatakan kepala ruangan sudah optimal 0,1 3 0,3
dalam melaksanakan tugas-tugasnya. S-W:
(4)Jenis ketenagaan diruangan: 0,3 3 0,9 3 – 2,25 = 0,75
 S1 Keperawatan = 6 orang
 D3 = 7 orang
(5)Adanya perawat yang mengikuti seminar dan workshop. 0,1 3 0,3
(6) Pembagian tugas sudah jelas. 0,1 3 0,3
Total: 1 3
Weakness:
(1) 54 % perawat masih berlatar pendidikan D3. 0,25 3 0,75
(2) Jumlah tenaga keperawatan belum sesuai dengan jumlah total pasien. 0,75 2 1,5
Total: 1 2,25

2) EFAS
Opportunity:
(1) Sebanyak 80% perawat mempunyai kemauan untuk melanjutkan 0,25 2 0,5
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
(2) Rumah sakit memberi kebijakan untuk memberi beasiswa dan 0,25 3 0,75
pelatihan bagi perawat ruangan.
40

(3) Adanya kebijakan pemerintah tentang profesionalisme perawat. 0,5 4 2 O-T:


Total : 1 3,25 3,25 – 2,5 = 0,75
Threatened:
(1) Adanya tuntutan tinggi dari masyarakat untuk pelayanan yang lebih 0,25 4 1
profesional.
(2) Makin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. 0,25 3 0,75
(3) Persaiangan antar RS semakin kuat 0,25 2 0,5
(4) Terbatasnya kuota tenaga keperawatan yang ada. 0,25 1 0,25
Total: 1 2,5
M2 (MATERIAL)
1) IFAS
Strength:
(1) Mempunyai sarana dan prasarana untuk Pasien dan Tenaga Kesehatan. 0,1 3 0,3
(2) Mempunyai peralatan oksigenasi dan semua Perawat ruangan mampu 0,1 3 0,3
mengunakannya.
(3) Terdapat administrasi penunjang. 0,1 2 0,2 S-W:
(4) Tersedianya nurse station. 0,2 3 0,6 2,9 – 2 = 0,9
(5) Sarana dan prasarana sudah terpakai secara optimal. 0,2 3 0,6
(6) Jumlah alat sudah sebanding dengan rasio pasien. 0,3 3 0,9
Total: 1 2,9
Weakness:
(1) Persediaan consumable tidak selalu tersedia sesuai yang dibutuhkan 1 2 2
pasien.
Total: 1 2

2) EFAS O-T:
Opportunity: 2,75 – 2 = 0,75
(1) Adanya kesempatan untuk penggantian alat-alat yang tidak layak 0,75 3 2,25
pakai.
41

(2) Terdapat banyak alat yang baru dan belum dipakai 0,25 2 0,5
Total: 1 2,75
Threatened:
(1) Adanya tuntutan yang tinggi dari masyarakat untuk melengkapi sarana 1 2 2
dan prasarana.
Total : 1 2
M3 (METHOD)
1. Penerapan Model
1) IFAS
Strength:
(1) Sudah ada model asuhan keperawatan yang digunakan yaitu metode 0,3 2 0,6
case nursing.
(2) Model yang digunakan sesuai dengan visi dan misi ruangan. 0,2 4 0,8
(3) Sebagian besar perawat mampu dalam pelaksanaan model yang telah 0,1 3 0,3
ada dan menyatakan cocok dengan model yang ada. S-W:
(4) Model yang digunakan cukup efisien. 0,1 3 0,3 2,6 – 2,5 = 0,1
(5) Memiliki standar asuhan keperawatan. 0,1 3 0,3
(6) Terlaksananya komunikasi yang cukup baik antar profesi. 0,1 3 0,3
Total : 1 2,6
Weakness:
(1) Sebagian perawat belum mengerti/memahami model yang digunakan. 0,75 3
(2) Sebagian perawat belum mengetahui kebutuhan perawatan secara 0,25 1 2,25
komperehensif.
Total: 1 0,25

2) EFAS 2,5
Opportunity:
(1) Kepercayaan pasien dari masyarakat cukup baik. 0,5 3
(2) Adanya kerjasama dengan institusi klinik -klinik independen. 0,25 2
(3) Ada kebijakan dari pemerintah tentang profesionalsime. 0,25 2 1.5
42

Total: 1 0,5 O-T:


Threatened: 0,5 2,5 – 2,25 = 0,25
(1) Persaingan dengan RS lain. 0,25 1 2,5
(2) Tuntutan masyarakat akan pelayanan yang maksimal. 0,5 3
(3) Kebebasan pers mengakibatkan mudahnya penyebaran informasi di 0,25 2 0,25
dalam ruangan ke masyarakat. 1,5
Total: 1 0,5

2. Dokumentasi Keperawatan 2.25


1) IFAS
Strength:
(1) Tersedianya sarana dan prasarana (adminitrasi penunjang). 0,2 2
(2) Sudah ada sistem komputerisasi dalam pendokumentasian pasien 0,2 2
(3) Dokumentasi keperawatan yang dilakukan meliputi pengkajian 0,2 2 0,4
menggunakan sistem B1-B6 dan ROS serta diagnosis keperawatan 0,4
sampai dengan evaluasi dengan menggunakan SOAP. 0,4
(4) Format pengkajian sudah ada dan dapat memudahkan perawat dalam 0,2 3 S-W:
pengkajian dan pengisiannya. 2,4 – 2 = 0,4
(5) Perawat mengatakan mengerti cara pengisian format dokumentasi 0,1 3 0,6
yang digunakan dengan benar dan tepat.
(6) Perawat mengatakan format yang digunakan sangat membantu dalam 0,1 3 0,3
melakukan pengkajian pada pasien.
Total: 1 0,3
Weakness:
(1) Evaluasi pasien menggunakan SOAP dalam pendokumentasian 1 2 2,4
Total: 1
2
2) EFAS 2
Opportunity:
(1) Adanya mahasiswa praktik profesi manajemen keperawatan. 0,25 3
43

(2) Adanya program pelatihan tentang pendokumentasian keperawatan. 0,25 2


(3) Peluang perawat untuk meningkatakan pendidikan (pengembangan 0,25 3 0,75
SDM). 0,5
(4) Adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa dan perawat ruangan. 0,25 3 0,75
Total: 1 O-T:
Threatened: 0,75 2,75 – 2 = 0,75
(1) Adanya kesadaran pasien dan keluarga akan tanggung jawab dan 0,25 2 2,75
tanggung gugat.
(2) Akreditasi rumah sakit tentang sistem dokumentasi. 0,75 2 0,5
Total: 1
1,5
3.Ronde keperawatan 2
1) IFAS
Strength:
(1) Ruang Melati mendukung adanya ronde keperawatan. 0,5 2
(2) Apabila ada masalah langsung diselesaikan 0,5 2
Total: 1 1 S-W:
Weakness: 1 2 – 3 = -1
(1) Belum adanya pelaksanaan Ronde Keperawatan di ruang Melati 1 3 2
Total: 1
2) EFAS 3
Opportunity: 3
(1) Adanya kemauan perawat untuk berubah. 0,5 4
(2) Adanya pelatihan dan seminar tentang menejemen keperawatan. 0,5 3
Total: 1 2 O-T:
Threatened: 1,5 3,5 – 3 = 0,5
(1) Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari masyarakat untuk 1 3 3,5
mendapatkan pelayanan yang profesional.
Total: 1 3
44

4. Sentralisasi Obat 3
1) IFAS
Strength:
(1) Ruangan terdapat farmasi klinis 0 1
(2) Resep obat langsung dibawa ke farmasi klinis dan yang membagikan 0,5 2
farmasi klinis 0
(3) Persetujuan Sentralisasi obat sudah sesuai dan Format yang ada sudah 0,25 2 1
mencakup obat oral, injeksi dll.
(4) Sebagian besar perawat pernah berwenang mengurusi sentralisasi obat 0,25 3 0,5
Total: 1
Weakness: 0,75
(1) Perawat belum menjelaskan kepada keluarga tentang pemberian obat, 0,5 2 2,25 S-W:
kegunaan obat, jumlah obat dan efek samping 2,25 – 2 = 0,25
(2) Selama ini perawat belum menginformasikan jumlah kepemilikan obat 0,5 2 1
yang telah digunakan
Total: 1 1

2
2) EFAS
Opportunity:
(1) Kerja sama yang baik antara perawat dan mahasiswa. 0,5 3
(2) Adanya mahasiswa praktik profesi manajemen keperawatan. 0,5 3
Total : 1 1,5 O-T:
Threatened: 1,5 3 – 2,75 = 0,25
(1) Adanya tuntutan akan pelayanan yang profesional. 0,75 3 3
(2) Kurangnya kepercayaan pasien terhadap sentralisasi obat. 0,25 2
Total: 1 2,25
0,5
5. Supervisi 2,75
1) IFAS
45

Strength:
(1) RSUD DR.R Koesma Tuban merupakan RS pendidikan tipe B yang 0,25 3
menjadi RS rujukan bagi wilayah setempat.
(2) Sudah ada format yang baku dalam pelaksanaan supervisi. 0,25 3 0,75
(3) Adanya kemauan perawat untuk berubah. 0,25 3
(4) Kepala ruangan Melati mendukung kegiatan supervisi demi 0,25 3 0,75
meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. 0,75
Total: 1 0,75 S-W:
Weakness: 3 – 4 = -1
(1) Belum ada uraian yang jelas tentang supervisi. 0,5 4 3
(2) Kurangnya program pelatihan dan sosialisasi tentang supervise. 0,5 4
Total: 1 2
2
2) EFAS 4
Opportunity:
(1) Adanya mahasiswa praktik profesi menejemen keperawatan. 0,5 3
(2) Adanya jadwal supervisi keperawatan oleh pengawas perawat setiap 0,25 2
bulan. 1,5
(3) Terbuka kesempatan untuk melanjutkan pendidikan atau magang. 0,25 3 0,5 O-T:
Total: 1 2,75 – 2 = 0,75
Threatened: 0,75
(1) Tuntutan pasien sebagai konsumen untuk mendapatkan pelayanan yang 1 2 2,5
professional dan bermutu sesuai dengan peningkatan biaya perawatan.
Total: 1 2

2
6. Timbang Terima
1) IFAS
Strength:
(1) Operan merupakan kegiatan rutin yaitu dilaksanakan tiga kali dalam 0,2 3 0,6
46

sehari saat pergantian shift


(2) Ada klarifikasi, tanya jawab, dan validasi terhadap semua yang 0,2 2 0,4
dioperkan.
(3) Semua perawat tau hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam operan. 0,2 3 0,6 S-W:
(4) Ada buku khusus untuk pelaporan operan. 0,2 4 0,8 2,8 – 2 = 0,8
(5) Setelah dilaporkan, laporan ditandatangani oleh yang bersangkutan. 0,2 2 0,4
Total: 1 2,8
Weakness:
(1) Tidak keseluruhan perawat mengikuti timbang terima 0,25 2 0,5
(2) Timbang terima hanya pada tahap Pra, jarang dilakukan interaksi 0,25 3 0,75
dengan pasien selama operan.
(3) Kadang-kadang Operan tidak dipimpin oleh kepala ruangan. 0,25 3 0,75
(4) Tata cara penulisan timbang terima tidak sesuai dengan spo 0,25 1 0,25
Total: 1 2

2) EFAS
Opportunity:
(1) Adanya mahasiswa praktik profesi di ruangan. 0,5 3 1,5 O-T:
(2) Adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa praktik profesi 0,25 3 0,75 3 – 2,5 = 0.5
dengan perawat ruangan.
(3) Sarana dan prasarana penunjang cukup tersedia. 0,25 3 0,75
Total: 1 3
Threatened:
(1) Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari masyarakat untuk mendapatkan 0,5 2 1
pelayanan keperawatan yang profesional.
(2) Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang tanggung jawab dan 0,5 3 1,5
tanggung gugat perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan.
Total: 1 2,5
47

7. Discharge Planning
1) IFAS
Strength:
(1) Adanya kemauan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada 0,2 3 0,6
pasien dan keluarga pasien.
(2) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga saat 0,2 3 0,6
masuk dan pada saat akan pulang.
(3) Perawat menggunakan bahasa Indonesia saat melakukan perencanaan 0,1 4 0,4
pulang.
(4) Adanya pemahaman tentang perencanaan pulang oleh perawat. 0,2 4 0,8 S-W:
(5) Sudah optimal pendokumentasian perencanaan pulang. 0,2 4 0,8 3,6 – 3,5 = 0,1
(6) Pelaksanaan perencanaan pulang sudah optimal. 0,1 4 0,4
Total: 1 3,6

Weakness:
(1) Brosur/leaflet untuk pasien saat melakukan perencanaan pulang belum 0,75 3 2,25
lengkap.
(2) Pemberian pendidikan kesehatan dilakukan secara lisan pada setiap 0,25 1 0,25
pasien/keluarga.
Total: 1 3,5

2) EFAS
Opportunity:
(1) Adanya mahasiswa praktik profesi manajemen di ruangan. 0,5 4 2
(2) Adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa dengan perawat 0,25 4 1
klinik.
(3) Kemauan pasien atau keluarga terhadap anjuran perawat. 0,25 4 1 O-T:
Total: 1 4 4–3=1
Threatened:
(1) Adanya tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan 0,5 3 1,5
48

keperawatan yang profesional.


(2) Makin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnnya kesehatan. 0,5 3 1,5
(3) Persaingan antar – ruang yang semakin ketat. 0 1 0
Total: 1 3

8. Penerimaan Pasien Baru


1) IFAS
Strength:
(1) Perawat melakukan penerimaan pasien baru dengan ramah. 0,25 2 1
(2) Perawat bersedia melakukan penerimaan pasien baru. 0,25 3 0,75
(3) Perawat mendokumentasikan setiap melakukan penerimaan pasien 0,25 4 1 S-W:
baru. 3,75 – 2,75 = 1
(4) Teknik penerimaan pasien baru dilakukan dengan lisan dan tulisan. 0,25 4 1
Total: 1 3,75
Weakness:
(1) Belum ada pembagian brosur/leaflet saat melakukan peneriamaan 0,75 3 2,25
pasien baru.
(2) Pembagian tugas tentang penerimaan pasien baru belum jelas. 0,25 2 0,5
Total: 1 2,75

2) EFAS
Opportunity:
(1) Adanya mahasiswa praktik profesi manajemen di ruangan. 0,75 3 2,25 O-T:
(2) Kerja sama yang baik antara mahasiswa dan perawat. 0,25 2 0,5 2,25 – 2 = 0.25
Total: 1 2,25
Threatened:
(1) Adanya tuntutan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pelayanan. 1 2 2
Total: 1 2
49

4 M4 (MONEY)
1) IFAS
Strength:
(1) Ada pendapatan tambahan yaitu dari koperasi ruangan. 0 1 0
(2) Ada pendapatan dari jasa medik, untuk pasien dengan biaya BPJS, 0,5 4 2
SPM, Jaminan untuk pasien yang dapat diklaim setelah perawatan. S – W:
(3) Ada pendapatan dari jasa pelayanan rumah sakit. 0,25 2 0,5 2,5 – 2 = 0,5
Total: 1 2,5
Weakness:
(1) Jasa intensif untuk pelayanan dan jasa medik yang diberikan sama 1 2 2
untuk semua perawat.
Total: 1 2
2) EFAS
Opportunity:
(1) Pengeluaran sebagian besar dibiayai institusi. 0,5 3 1,5
(2) Ada kesempatan untuk menggunakan instrumen medis dengan re-use 0,25 4 1
sehingga menghemat pengeluaran.
(3) Ada kesempatan untuk menambah penghasilan ruangan dari usaha 0,25 1 0,25
koperasi.
Total: 1 2,75
Threatened: O-T:
(1) Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari masyarakat untuk mendapatkan 1 2 2 2,75 – 2 = 0,75
pelayanan kesehatan yang lebih profesional sehingga membutuhkan
pendanaan yang lebih besar untuk mendanai sarana dan prasarana.
Total: 1 2
50

5 M5 (MUTU)
1) IFAS
Strength
(1)Kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit. 0,25 2 0,5
(2)Rata – rata BOR cukup baik. 0,25 2 0,5 S-W:
(3)Adanya variasi karakteristik dari pasien (BPJS, Umum, SPM, 0,25 3 0,75 2,5 – 2 = 0,5
Jamkesda).
(4)Sebagai tempat praktik mahasiswa keperawatan D-3 maupun S-1. 0,25 3 0,75
Total: 1 2,5
Weakness
(1) LOS yang memanjang karena perawatan yang lama (±5-7 hari). 1 2 2
Total: 1 2
2) EFAS
Opportunity.
(1)Mahasiswa S-1 keperawatan praktik manejemen. 0,5 3 1,5
(2)Kerja sama yang baik antara perawat dan mahasiswa. 0,5 3 1,5
Total: 1 3 O-T:
Threatened 3 – 2,5 = 0,5
(1)Adanya peningkatan standar masyarakat yang harus dipenuhi. 0,75 3 2,25
(2)Persaingan rumah sakit dalam memberikan pelayanan dalam 0,25 1 0,25
keperawatan.
Total: 1 2,5
51

O DP
0,1:1,0
1,0

SV 0,9 DK M4 M1 M2
-1,0:0,75 0,4:0,75 0,5:0,75 0,75:0,75
0,8 0,9:0,75
0,7
RK M5 TT
-1,0:0,5 0,6 0,5:0,5 0,8:0,5
0,5
MAKP 0,4 SO PB
0,1:0,25 0,25:0,25
0,3 1,0:0,25
0,2

0,1

S
-1,0 -0,9 -0,8 -0,7 -0,6 -0,5 -0,4 -0,3 -0,2 -0,1 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0
W -0,1

-0,2
-0,3

-0,4
-0,5
Keterangan :
-0,6
M1 : Man
-0,7
M2 : Material
-0,8
M3 : Method
-0,9
1. MAKP
-1,0
2. DK : Dokumentasi Keperawatan
3. RK : Ronde Keperawatan
T 4. PB : Penerimaan Pasien Baru
5. SO : Sentralisasi Obat
6. SV : Supervisi
7. TT : Timbang Terima
8. DP : Discharge Planning
M4 : Money
M5 : Mutu
: Prioritas

Gambar 3.3 Diagram Layang Analisis SWOT di Ruang Melati RSUD


Dr. R Koesma Tuban
BAB 4
PRIORITAS MASALAH, ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH &
POA PENYELESAIAN MASALAH MANAJEMEN KEPERAWATAN DI
RUANGAN MELATI RSUD dr. R. KOESMA TUBAN

4.1 Penentuan Prioritas Masalah


4.1.1 Identifikasi Masalah
Setelah dilakukan analisis dengan situasi dengan menggunakan
pendekatan SWOT, maka kelompok dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Identifikasi Masalah di Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban


NO Masalah Penyebab
1 M1 (Man) Tidak ada masalah 1) Jumlah perawat sebanding dengan jumlah pasien
2) 54% perawat masih berlatar pendidikan D3
2 M2 Tidak ada masalah 1) Mempunyai sarana dan prasarana untuk
(Material) pasien dan tenaga kesehatan
2) Administrasi penunjang cukup optimal
3 M3 Tidak ada masalah 1) Sebagian perawat mengetahui kebutuhan
(Method) keperawatan secara komprehensif
MAKP 2) Model yang digunakan cukup efisien
4 M3 Tidak ada masalah 1) Perawat mengatakan mengerti cara pengisian
(Method) format dokumentasi yang digunakan dengan
Dokumentasi benar dan tepat
Keperawatan 2) Perawat mengatakan format yang digunakan
sangat membantu dalam melakukan pengkajian
pada pasien
5 M3 Ronde 1) Ronde keperawatan adalah kegiatan yang belum
(Method) keperawatan belum dapat dilaksanakan di Ruang Melati
Ronde dapat dilaksanakan 2) Belum ada tim yang dibentuk dalam ronde
Keperawatan di Ruang Melati keperawatan
6 M3 Tidak ada masalah 1) Persetujuan sentralisasi obat sudah sesuai dan
(Method) format yang ada sudah mencakup obat oral,
Sentralisasi injeksi, dan lain-lain
Obat 2) Perawat menjelaskan kepada keluarga tentang
pemberian obat, kegunaan obat, jumlah obat, dan
efek samping
7 M3 Waktu dan alur 1) Waktu supervisi tidak terjadwal
(Method) tidak sesuai dan 2) Alur supervisi tidak sesuai
Supervisi tidak ada format 3) Tidak ada format baku untuk supervisi
baku untuk
supervisi
8 M3 Tidak ada masalah 1) Setelah dilaporkan, laporan ditandatangani oleh
(Method) yang bersangkutan
Timbang 2) Operan dipimpin oleh Kepala Ruangan atau
Terima Katim/ PJ Shift
9 M3 Tidak ada masalah 1) Pelaksanaan perencanaan pulang cukup optimal
(Method) 2) Brosur/ leaflet untuk pasien saat melakukan
Discharge perencanaan pulang cukup lengkap.
Planning

52
53

10 M3 Tidak ada masalah 1) Penerimaan pasien baru cukup optimal


(Method) 2) Ada pembagian brosur atau leaflet saat
Penerimaan penerimaan pasien baru
Pasien Baru
11 M4 Tidak ada masalah 1) Tidak ada pemasukan dan pengeluaran pribadi di
ruangan
12 M5 Tidak ada masalah 1) Rata-rata BOR cukup ideal
2) Pasien cukup puas dengan pelayanan.

4.1.2 Menentukan Prioritas Masalah


Tabel 4.2 Prioritas Masalah dengan Metode CARL di Ruang
Melati RSUD dr R Koesma Tuban
CARL
No Masalah TOTAL Prioritas
C A R L
1 Ronde keperawatan belum
dapat dilaksanakan di Ruang
Melati sebab kurangnya 5 5 7 6 1.050 II
persiapan untuk ronde
keperawatan
2 Waktu dan alur tidak sesuai
dan tidak ada format baku
untuk supervisi sebab
7 6 8 7 2.352 I
beberapa perawat kurang
memahami alur tentang
supervisi
54

4.2 Tujuan dan Alternatif Penyelesaian Masalah


Tabel 4.3 Plan of Action (POA) di Ruang Melati RSUD dr R Koesma Tuban
Indikator/ Target
No Masalah Tujuan Program/ Kegiatan Penanggung Jawab Waktu
Keberhasilan
1 Waktu dan alur tidak Mampu 1. Mengajukan pelaksanaan supervisi 1. Supervisi Deni Lukmanto 18-30
sesuai dan tidak ada menerapkan 2. Melaksanakan supervisi terdokumentasi September
format baku untuk supervisi keperawatan bersama perawat dan dengan baik dan 2017
supervisi sebab keperawatan kepala ruangan benar
beberapa perawat dengan optimal 3. Mendokumentasikan hasil 2. Alur supervisi
kurang memahami alur dan baik pelaksanaan supervisi keperawatan jelas
tentang supervisi 4. Membuat format supervisi 3. waktu supervisi
5. Melakukan inovasi supervisi jelas

2 Ronde keperawatan Ronde 1. Menentukan pasien untuk ronde 1. Ronde Dyah Ully A 18-30
belum dapat keperawatan keperawatan keperawatan September
dilaksanakan di Ruang terlaksana 2. Mempersiapkan ronde terlaksana dengan 2017
Melati sebab dengan optimal keperawatan baik
kurangnya persiapan sesuai prosedur 3. Melaksanakan ronde keperawatan
untuk ronde
keperawatan
BAB 5
LAPORAN KEGIATAN IMPLEMENTASI-EVALUASI DAN TINDAK
LANJUT

5.1 Rencana Kegiatan


5.1.1 Pengorganisasian
Untuk efektivitas pelaksanaan Model Asuhan Keperawatan Profesional
dalam menentukan kebijakan-kebijakan internal yang sifatnya umum, kelompok
menyusun struktur organisasi sebagi berikut.
Ketua : Deni Lukmanto , S.Kep.
Sekretaris : Diah Sri Lestari, S.Kep.
Bendahara : Khudoifah, S.Kep.
Sie perlengkapan : Betty Sutami, S.Kep.
Anton Sujarwo, S.Kep.

Sie konsumsi : Dyah ully A, S.Kep.


Dwi Purwati, S.Kep.
Elda Sudiharti, S.Kep.
Erni Indrayani, S.Kep.
Hadi Utomo, S.Kep.
Himatus Sholohah, S.Kep.
Laili Munafiah, S.Kep.
Sie KSK dokumentasi : Fidi Yantara, S.Kep.
Imam Maliki, S.Kep.
Eva Patria Giri, S.Kep.
Adapun dalam pengelolaan ruang rawat maka diselenggarakan
pengorganisasian dalam pembagian peran sebagai berikut.
1. Kepala Ruangan
2. Katim
3. Perawat Pelaksana

55
56

Pembagian peran ini secara rinci akan dilampirkan, setelah pelaksanaan


Model Asuhan Keperawatan Profesional di Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma
Tuban.
Kelompok menyusun gantt chart dalam merencanakan kegiatan pada
lampiran.

5.2 Implementasi
5.2.1. Supervisi (FGD 1)
1. Pelaksanaan Kegiatan
Topik : Pengenalan dan Sosialisasi Program Inovasi
Hari/Tanggal : Senin / 2 Oktober 2017
Waktu : 12.30 WIB
Tempat : Ruang STIKES NU
Materi : Supervisi Model Compliance Pressure (pengawasan
dengan menggunakan kamera) terhadap kepatuhan perawat dalam Hand
Hygiene
2. Metode
1) Presentasi
2) Diskusi dan Tanya Jawab
3. Instrumen
1) Handout
2) LCD
3) Laptop
4. Struktur Pengorganisasian
1) Presentator : Dyah Ully Ariefiyanti. S.Kep
2) Moderator : Deni Lukmanto, S. Kep.
5. Metode dan Media
1) Metode
(1) Sosialisasi
(2) Diskusi
2) Media
(1) Materi disampaikan secara lisan
57

6. Mekanisme Kegiatan
Tabel 5.1 Mekanisme Kegiatan Focus Group Discussion I tentang
Supervisi
Tahap
Kegiatan Waktu Tempat
kegiatan
Pelaksana Pembukaan : 30 Menit Ruang
1. Moderator mengucapkan salam STIKES NU
2. Moderator membacakan susunan acara
3. Moderator mempersilahkan presentaror
untuk presentasi
4. Presentator menyampaian materi sosialisasi
5. Moderator membuka diskusi
6. Moderator menyimpulkan
7. Moderator menutup

5.2.2. Supervisi (Role Play)


1. Pelaksanaan Kegiatan:
Topik : Role Play Supervisi Keperawatan Model Compliance Pressure
(pengawasan dengan menggunakan kamera) terhadap kepatuhan perawat
dalam Hand Hygiene

Hari/ Tanggal : Selasa/ 3 Oktober 2017


Waktu : 10.00 WIB
Tempat : Ruang Melati
Materi : Hand Hygiene
2. Metode
1) Observasi
2) Diskusi dan Tanya jawab
3. Instrumen
1) SOP cuci tangan
2) Instrumen Penilaian
3) Lembar Laporan Supervisi
4) Alat –alat
5) SOP Cuci Tangan
6) SOP Supervisi Model Complience Pressure
4. Struktur Pengorganisasian
Kepala ruangan : Dyah Ully A , S.Kep
Perawat Primer : Khudoiva, S.Kep
58

Perawat Associate : Fidi Yantara, S. Kep


Pembimbing akademik : Nurhadi, S. Kep., Ns.
Pembimbing klinik : Maya Nurmalasari, S Kep. Ns
Supervisor : Dyah Ully A, S.Kep.

5. Metode dan Media


1) Metode
(1) KARU memimpin jalannya acara
(2) Karu melakukan kegiatan supervisi
(3) Perawat Pelaksana
(4) Perawat Associate
2) Media
Kamera

6. Alur Role Play Supervisi

Kepala per IRNA


Menetapkan kegiatan dan tujuan
PRA serta instrumen / alat ukur
Kepala Ruangan

Kegiatan Keperawatan

PP 1

Menilai kepatuhan perawat secara


langsung
PELAKSANAAN PA

PEMBINAAN (3-F)
Kepatuhan perawat dan
- Penyampaian penilaian (fair)
kualitas pelayanan menurunkan
- Feed back (umpan balik)
angka INOS
- Follow up (tindak lanjut)
- Pemecahan masalah dan
reward

Gambar 5.1 Alur Pelaksanaan Supervisi model Compliance (Sachet,


dalam Niven, 2002)
59

7. Mekanisme Kegiatan Supervisi


Tabel 5.2 Mekanisme Kegiatan Role Play Supervisi Kepatuhan Hand
Hygiene
Tahap kegiatan Kegiatan Waktu Tempat
Pra Pelaksana Supervisor menyiapkan kamera, cek list hand 5 Menit Nurse
hygiene yang meliputi 5 moment, 6 langkah Station
cuci tangan SIX STEP, penggunaan handrub
dan handwash

Pelaksanaan Mengawasi, mengikuti serta 6 Jam Nurse


mendokumentasikan dengan kamera Station
ketidakpatuhan perawat pelaksana maupun
perawat asosiate yang disupervisi Bed pasien

Post 1. Melakukan evaluasi 30 Menit Nurse


Pelaksanan 2. Memberikan reinforcement Station
3. Menyampaikan hasil evaluasi kepada
Perawat Pelaksana dan perawat associate
yang dinilai.

5.3 Evaluasi (Hasil Penyelesaian Masalah)


5.3.1. Supervisi (FGD 1)
1. Struktur:
1) Sosialisasi dilakukan di ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban.
2) Peserta sosialisasi hadir di tempat pelaksanaan sosialisasi
3) Persiapan dilakukan sebelumnya
2. Proses:
1) Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir
2) Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan sosialisasi sesuai peran
yang telah ditentukan.
3. Hasil:
1) Perawat mendapatkan pengetahuan yang baru
2) Sosialisasi berjalan dengan lancar
5.3.2. Supervisi (Role Play)
1. Struktur:
1) Supervisi dilakukan di ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban.
2) Peserta supervisi hadir di tempat pelaksanaan supervisi
3) Persiapan dilakukan sebelumnya
60

2. Proses:
1) Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir
2) Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan supervisi sesuai peran
yang telah ditentukan.
3. Hasil:
1) Perawat mendapatkan pengetahuan yang baru
2) Perawat mampu memberikan dukungan
3) Perawat dapat meningkatkan coping di tempat kerja
4) Perawat dapat meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja
5) Perawat dapat memecahkan masalah
5.3.3. Supervisi (FGD 2)
1. Struktur:
1) Supervisi dilakukan di ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban.
2) Peserta hadir di Nurse Station
3) Persiapan dilakukan sebelumnya
2. Proses:
1) Kegiatan diikuti dari awal hingga akhir.
3. Hasil:
1) Perawat ruangan menerima hasil pembahasan FGD mengenai
instrument program inovasi yang telah disesuaikan dengan ruangan.
5.3.4. Ronde Keperawatan
1. Struktur:
1) Ronde keperawatan dilakukan di Ruang Melati RSUD Dr. R.Koesma
Tuban
2) Peserta ronde keperawatan hadir di tempat pelaksanaan ronde
keperawatan
3) Persiapan dilakukan sebelumnya
2. Proses:
1) Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir
2) Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai peran yang
telah ditentukan
3. Hasil:
61

1) Pasien puas dengan hasil kegiatan


2) Masalah pasien dapat teratasi
3) Perawat dapat:
(1) Menumbuhkan cara berpikir yang kritis
(2) Meningkatkan kemampuan validitas data pasien
(3) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan.
Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah pasien
(4) Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan
keperawatan
(5) Meningkatkan kemampuan justifikasi
(6) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja

5.4 Tindak Lanjut


Hasil dari Role Play Supervisi model Complience Pressure dengan
pengawasan kamera adalah SOP Supervisi model Complence Pressure dengan
pengawasan kamera yang dapat dijadikan materi di Ruang Melati sekaligus juga
dapat disosialisasikan di ruangan lain, sehingga dapat dipraktikkan dan dijadika
acuan. SOP tersebut nantinya akan digunakan sebagai masukan di Ruang Melati
dan juga sebagai tanda telah dilaksanakan program inovasi di Ruang Melati.
Hasil program inovasi tersebut dapat ditindaklanjuti kembali serta
dijadikan salah satu acuan atau referensi dalam melaksanakan supervisi di RSUD
dr. R. Koesma Tuban.
62

BAB 6
PEMBAHASAN

Supervisi keperawatan adalah suatu proses pemberian sumber-sumber


yang dibutuhkan perawat untuk menyelesaikan tugas dalam rangka mencapai
tujuan (Nursalam, 2015).
Supervisi klinis keperawatan bertujuan untuk membantu perawat
pelaksana dalam mengembangkan profesionalisme sehingga penampilan dan
kinerjanya dalam pemberian asuhan keperawatan meningkat. Supervisi dilakukan
secara sistematis melalui pengamatan pelayanan keperawatan yang diberikan oleh
seorang perawat selanjutnya dibandingkan dengan standar keperawatan. Sistem
supervisi sangat berhubungan dengan kepuasan kerja perawat. Perawat yang
merasa mendapat dukungan dari supervisor dan disupervisi dengan baik
dalam melakukan pekerjaannya lebih merasa puas terhadap pekerjaannya
(Robert John Wood Foundation, 2007 dalam Mua, 2011). Kepuasan kerja perawat
lebih banyak tercapai dengan sistem supervisi yang menciptakan hubungan
baik antara supervisor dengan supervisee (Brunero & Parbury, 2005). Proses
supervisi yang baik akan meningkatkan kepuasan kerja dan kinerja (Mua, 2011).
Salah satu model supervisi klinik yang diadaptasi dari teori kepatuhan
menurut Notoatmojo adalah model complience pressure. Model ini diperkenalkan
oleh Sachet dalam Niven (2002) untuk melakukan supervisi dengan umpan balik
atau reinforcement secara langsung. Dilihat dari prosesnya, model ini
merupakan proses formal dari perawat profesional untuk support dan learning
sehingga pengetahuan dan kompetensi perawat dapat dipertanggungjawabkan
sehingga pasien mendapat perlindungan dan merasa aman selama menjalani
perawatan (Mua, 2011).
Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah: kemampuan
memberikan dukungan, peningkatan koping di tempat kerja, membina
hubungan yang baik di antara staf, kenyamanan di tempat kerja, kepuasan
perawat, mengurangi kecemasan, mengurangi konflik, dan mengurangi
ketidakdisplinan kerja (Barkauskas, 2000 dalam Mua, 2011).
63

Kegiatan managerial dilakukan dengan melibatkan perawat dalam


perbaikan dan peningkatan standar, contoh: mengkaji SOP yang ada
kemudian diperbaiki hal-hal yang perlu. Kegiatan managerial dirancang untuk
memberikan kesempatan kepada perawat pelaksana untuk meningkatkan
manajemen perawatan pasien dalam kaitannya dengan menjaga standar
pelayanan, peningkatan patient safety, dan peningkatan mutu.
Penerapan kegiatan managerial dapat dilakukan dengan mengadakan
pertemuan atau rapat untuk membahas standar keperawatan. Hasil yang
diharapkan dari kegiatan ini adalah: perubahan tindakan, pemecahan masalah,
peningkatan praktik, peningkatan isu-isu profesional, kepuasan kerja, dan
patient safety (Barkauskas, 2000 dalam Mua, 2011).
Kegiatan change agent bertujuan agar supervisor membimbing perawat
menjadi agen perubahan, kegiatan tersebut nantinya ditransfer kepada pasien
sehingga pasien memahami masalah kesehatan. Kegiatan counselor dilakukan
supervisor dengan tujuan membina, membimbing dan mengajarkan kepada
perawat tentang hal-hal yang berkaitan dengan tugas rutin perawat (contoh:
supervisor membimbing perawat melakukan pengkajian fisik). Kegiatan teaching
bertujuan mengenalkan dan mempraktikkan praktik keperawatan yang sesuai
dengan tugas perawat (contoh: supervisor di ICU mengajarkan teknik
pengambilan darah arteri, analisa gas darah dan sebagainya).
Model Academic, model ini diperkenalkan oleh Farington di Royal College
of Nursing UK tahun 1995. Farington menyebutkan bahwa supervisi klinik
dilakukan untuk membagi pengalaman supervisor kepada para perawat sehingga
ada proses pengembangan kemampuan professional yang berkelanjutan (CPD;
continuing professional development). Dilihat dari prosesnya, supervisi klinik
merupakan proses formal dari perawat profesional sebagai dukungan dan
pembelajaran sehingga pengetahuan dan kompetensi perawat dapat
dipertanggungjawabkan sehingga pasien mendapatkan perlindungan dan merasa
aman selama menjalani perawatan.
Dalam model academic proses supervisi klinik meliputi tiga kegiatan,
yaitu educative, supportive, dan managerial. Kegiatan educative dilakukan
dengan: (a) mengajarkan keterampilan dan kemampuan (contoh: perawat
64

diajarkan cara membaca hasil EKG); (b) membangun pemahaman tentang reaksi
dan refleksi dari setiap intervensi keperawatan (contoh: supervisor mengajarkan
perawat dan melibatkan pasien DM dalam demontrasi injeksi SC); dan (c)
supervisor melatih perawat untuk menjelajah strategi, teknik-teknik lain dalam
bekerja (contoh: supervisor mengajarkan merawat luka dekubitus dengan obat-
obat jenis baru yang lebih baik). Kegiatan supportive dilakukan dengan cara
melatih perawat menggali emosi ketika bekerja (contoh: meredam konflik antar
perawat, pengayaan pekerjaan agar mengurangi kejenuhan selama bertugas).
Kegiatan managerial dilakukan dengan melibatkan perawat dalam peningkatkan
standar (contoh: SOP yang sudah ada dikaji bersama kemudian diperbaiki hal-hal
yang perlu).
Model Experiential, model ini diperkenalkan oleh Milne dan James di
Newcastle University UK dan Department of Health US tahun 2005 yang
merupakan adopsi penelitian Milne, Aylott dan Fitzpatrick. Dalam model ini
disebutkan bahwa kegiatan supervisi klinik keperawatan meliputi training dan
mentoring. Dalam kegiatan training, supervisor mengajarkan teknik-teknik
keperawatan tertentu yang belum dipahami perawat pelaksana (contoh:
pemasangan infus pada bayi, melakukan vena sectie, teknik advance life support,
dan sebagainya). Training biasanya dilakukan secara berjenjang kepada setiap
perawat, misalnya training pada perawat pemula (beginner) dan perawat pemula-
lanjut (advance). Dalam kegiatan mentoring, supervisor lebih mirip seorang
penasihat di mana ia bertugas memberikan nasihat berkaitan dengan masalah-
masalah rutin sehari-hari (contoh: bagaimana mengurus ASKES pasien, mencari
perawat pengganti yang tidak masuk, menengahi konflik, mengambil keputusan
secara cepat, tepat dan etis, dan sebagainya). Kegiatan ini lebih mirip kegiatan
supportive dalam model academic.
Model 4S, model ini diperkenalkan oleh Page dan Wosket dari hasil
penelitian di Greater Manchester UK dan New York tahun 1995. Model
supervisor ini dikembangkan dengan empat (4) strategi, yaitu structure, skills,
support dan sustainability. Dalam model ini, kegiatan structure dilakukan oleh
perawat profesional dalam melakukan pengkajian dan asuhan pasien dimana
perawat yang dibina sekitar 6 – 8 orang. Tujuan kegiatan ini adalah untuk
65

mengembangkan pengalaman perawat dalam hal konsultasi, fasilitasi dan


pertolongan. Kegiatan skills dilakukan supervisor untuk meningkatkan
ketrampilan praktis (contoh: menjahit luka, interpretasi EKG, pasang CAPD, dan
sebagainya). Kegiatan support dilakukan dengan tujuan untuk menjaga agar tetap
prima dalam bekerja, berbagi dan kebutuhan-kebutuhan pendidikan tertentu yang
bernilai kebaruan (contoh: pelatihan kegawatdaruratan pada keadaan bencana).
Kegiatan sustainability bertujuan untuk tetap mempertahankan pengalaman,
keterampilan dan nilai-nilai yang telah dianut perawat. Kegiatan ini dilakukan
secara kontinu dengan cara mentransfer pengalaman supervisor kepada perawat
pelaksana (contoh: supervisor membuat modul tentang berbagai ketrampilan
teknik yang dibagikan kepada semua perawat pelaksana).
Kelompok 3 Ruang Melati menggunakan pengembangan model supervisi
yaitu Model complience pressure pengawasan langsung menggunakan kamera
yang digunakan sebagai program inovasi. Kemudian dilakukanlah Focus Group
Discussion (FGD) I dan sosialisasi program inovasi yang dilaksanakan pada
tanggal 2 Oktober 2017 di Ruang STIKES NU dihadiri sebagian besar perawat
RSUD dan Pembimbing Klinik. FGD tersebut dipimpin oleh Saudara Deni
Lukmanto sebagai penanggung jawab supervisi.
Setelah kegiatan FGD, role play kegiatan supervisi model complience
pressure pengawasan langsung menggunakan kamera dilaksanakan pada tanggal 3
Oktober 2017 oleh mahasiswa. Kegiatan ini dibimbing oleh Bapak Nurhadi,
S.Kep., Ns.
Hasil role play dikonsulkan dan disajikan kembali pada FGD II untuk
disesuaikan dan disetujui oleh Kepala Ruangan dan Wakil Kepala Ruang di
Ruang Melati RSUD dr. R. Koesma Tuban pada tanggal 6 Oktober 2017. Hasil
program inovasi tersebut ialah materi supervisi model Complience Pressure, SOP
supervisi model Complience Pressure, dan instrumen penilaian.
66

BAB 7
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Kegiatan Supervisi dan Ronde Keperawatan memang cukup jarang
diadakan di RSUD dr. R. Koesma Tuban khususnya di Ruang Melati.
Supervisi menjadi salah satu masalah utama di Ruang Melati, sehingga
dibentuk suatu metode terbaru supervisi model Complience Pressure
pengawasan langsung menggunakan kamera yang diperoleh dari berbagai
literatur secara nasional atau internasional. Metode tersebut diaplikasikan
dalam bentuk role play dan dijadikan SOP untuk menjadi acuan dalam
penggunaan metode tersebut.
7.2 Saran
7.2.1 RSUD dr. R. Koesma Tuban
Rumah Sakit diharapkan dapat dijadikan masukan dan mensosialisasikan
metode supervise model Complience Pressure pengawasan langsung
menggunakan kamera tidak hanya dipraktikkan di Ruang Melati saja,
tetapi juga dapat digunakan di ruangan yang liannya.
7.2.2 Institusi Pendidikan STIKES NU Tuban
Institusi Pendidikan diharapkan dapat mengajarkan tentang berbagai
metode supervisi dan ronde keperawatan kepada mahasiswa, serta
menjadikan praktik untuk melatih mahasiswa.
7.2.3 Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan makalah atau laporan ini
sebagai salah satu referensi untuk model asuhan keperawatan professional
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abiddin, N. Z., 2008. Exploring Clinical Supervision to Facilitate the Creative
Process of Supervision. Uluslararası Sosyal Arastırmalar Dergisi The
Journal of International Social Research, I(3), pp. 13-33.
Aeni, W. N., 2016. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Supervisi
untuk Meningkatkan Kepatuhan Perawat dalam Menerapkan SPO
Pemasangan Infus di RSUD Indramayu. [Online]
Available at: http://eprints.undip.ac.id/49422/1/Proposal.pdf
[Accessed 20 Agustus 2017].
Ahaddyah, R. M., 2012. Analisis Pelaksanaan Supervisi Keperawatan di RSUD
Kota Depok Tahun 2012. [Online]
Available at: http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20320644-S-
Rachma%20Melati%20Ahaddyah.pdf
[Accessed 20 Agustus 2017].
Dehghani, M., Ghanavati, S., Soltani, B. & Aghakhani, N., 2016. Impact of
clinical supervision on field training of nursing students at Urmia University
of Medical Sciences. Journal of Advances in Medical Education &
Professionalism, IV(2), pp. 88-92.
Lestari, N. W., Suprapti, E. & Solechan, A., 2014. Pengaruh Supervisi Metode
Klinis terhadap Kelengkapan Dokumentasi Asuhan Keperawatan di RSUD
H. Soewondo Kendal. [Online]
Available at:
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&
cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj_s-
Gb5_3VAhWIro8KHZDdAvcQFgglMAA&url=http%3A%2F%2Fdownloa
d.portalgaruda.org%2Farticle.php%3Farticle%3D393120%26val%3D6378
%26title%3DPengaruh%2520Supervisi%2520Met
[Accessed 20 Agustus 2017].
Mua, E. L., 2011. Pengaruh Pelatihan Supervisi Klinik Kepala Ruangan
Terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Perawat Pelaksana di Ruang Rawat
Inap Rumah Sakit Woodward Palu. [Online]
Available at: http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20280828-
T%20Estelle%20Lilian%20Mua.pdf
[Accessed 20 Agustus 2017].
Mustikaningsih, D., 2014. Pengaruh Supervisi Klinik Ketua Tim Model 4S
terhadap Kinerja Perawat Pelaksana dalam Metode Asuhan Keperawatan
Tim. Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah (JKA), I(1), pp. 47-55.
Nail, Niven. 2002. Editor Monica Ester. Psikologi Kesehatan: pengantar untuk
perawat dan profesi kesehatan lain. Edisi 3. Jakarta: ECG
Notoatmojo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

67
68

Nursalam, 2015. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan


Profesional. 5th ed. Jakarta: Salemba Medika.
Ponco, S. H. & Faridah, V. N., 2016. Penerapan Supervisi Klinis Kepala Ruang
untuk Meningkatkan Pelaksanaan Cuci Tangan Lima Momen Perawat
Pelaksana. Surya, VIII(3), pp. 9-15.
Supratman & Sudaryanto, A., 2017. Model-Model Supervisi Keperawatan Klinik.
Berita Ilmu Keperawatan, I(4), pp. 193-196.
Wati, I. M., 2014. Pengaruh Supervisi Klinis terhadap Penatalaksanaan Universal
Percaution oleh Perawat (Literature Review). Jurnal Ilmu Keperawatan,
II(2), pp. 138-142.