Anda di halaman 1dari 30

RESUME PEMERIKSAAN AKUNTANSI 1

LAPORAN AUDIT

DOSEN PENGAJAR : Rika Puspitasari, SE, MA, CPA

NAMA KELOMPOK :

1. Dewi Masruroh (17013010003)


2. Tiara Anggarista F.S. (17013010127)
3. Olivia Nisa Suhara (17013010131)
4. Wydan Tegar Wardhana (17013010136)
5. Annahari Nur Aini (17013010137)
6. Lanang Gumelar Dada (17013010141)
7. Arifa Anatasya (17013010152)
8. Audy Nur Afifah (17013010156)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

2019
LAPORAN AUDIT

Laporan Audit yang Tepat Waktu, Tetapi dengan Pengeluaran Biaya


Seberapa Besar?

Laporan merupakan hal yang esensial dalam penugasan audit dan assurance
karena laporan berfungsi mengkomunikasikan temuan-temuan auditor. Para
pengguna laporan keuangan menyandarkan diri pada laporan auditor untuk
memperoleh keandalan dari laporan keuangan perusahaan. Sebagaimana auditor
diminta untuk bertanggung jawab bila terlanjur menerbitkan suatu laporan audit
yang tidak tepat.

Laporan audit adalah tahap akhir dari keseluruhan laporan audit. Hal
tersebut dipelajari untuk memperkenalkan berbagai jenis laporan audit sebelum
mempelajari pengumpulan bukti audit. Konsep-konsep audit akan lebih berarti
setelah memahami bentuk dan isi dari produk akhir audit.

Laporan Audit Standar Tanpa Pengecualian

Standar pelaporan keempat mengharuskan mengharuskan laporan audit


berisi suatu petunjuk yang jelas tentang sifat pekerjaan auditor serta tingkat
tanggung jawab yang diembannya atas laporan keuangan. Agar para pengguna
laporan dapat memahami laporan audit, maka profesi telah menyediakan standar
kalimat yang digunakan dalam laporan audit.

Masing-masing auditor diperbolehkan mengubah sedikit penyajian atau


kalimat laporan tersebut, tetapi arti laporan harus sama tetap sama. Tujuh unsur
laporan audit:

1. Judul Laporan
Standar auditing mewajibkan setiap laporan diberi judul laporan, dan
dalam judul tersebut tercantum pula kata independen.
2. Alamat Laporan Audit
Laporan ini umumnya ditujukan kepada perusahaan, para pemegang
saham atau dewan direksi perusahaan.

3. Paragraf Pendahuluan
Paragraf pertama laporan menunjukkan tiga hal. Pertama, membuat
suatu pernyataan sederhana bahwa kantor akuntan publik telah
melaksanakan audit. Kedua, paragraf ini menyatakan laporan keuangan
yang telah diaudit, termasuk pencantuman tanggal neraca serta periode
akuntansi dari laporan laba rugi dan laporan arus kas. Ketiga, paragraf
pendahuluan menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung
jawab manajemen dan tanggung jawab auditor terletak pada pernyataan
pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pelaksanaan audit.

4. Paragraf Scope
Paragraf scope berisi pernyataan faktual tentang apa yang dilakukan
selama proses audit. Paragraf scope menyatakan bahwa audir dirancang
untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan
bebas dari salah saji yang material. Berikutnya paragraf scope membahas
tentang pengumpulan bukti audit serta menyatakan bahwa auditor yakin
bahwa bukti audit yang dikumpulkan telah memberikan dasar yang
memadai bagi pernyataan pendapat.

5. Paragraf Pendapat
Paragraf terakhir dalam laporan audit bentuk baku menyajikan
kesimpulan auditor berdasarkan hasil dari proses audit yang telah
dilakukan. Bagian ini merupakan bagian terpenting dari keseluruhan
laporan audit, sehingga seringkali seluruh laporan audit dinyatakan secara
sederhana sebagai pendapat auditor. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa
kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan profesional.
6. Nama KAP
Nama tersebut akan mengidentifikasi kantor akuntan publik atau
praktisi mana yang telah melaksanakan proses audit.

7. Tanggal Laporan Audit


Tanggal yang tepat untuk dicantumkan dalam laporan audit adalah
tanggal pada saat auditor menyelesaikan prosedur audit terpenting di
lokasi pemeriksaan.

Laporan audit bentuk baku (laporan audit stndar tanpa syarat) diterbitkan bila
kondisi-kondisi berikut terpenuhi:

1. Seluruh laporan keuangan – neraca, laporan laba rugi, laporan laba


ditahan, dan laporan arus kas – sudah termasuk dalam laporan keuangan.
2. Ketiga standar umum telah dipatuhi dalam semua hal yang berkaitan
dengan penugasan audit.
3. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul, dan sang auditor telah
melaksanakan penugasan audit ini dengan sedemikian rupa sehingga
membuatnya mampu menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan
lapangan telah dipenuhi.
4. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Hal tersebut berarti pula bahwa pengungkapan informasi
yang cukup telah tercantum dalam catatan atas laporan keuangan serta
bagian-bagian lainnya dari laporan keuangan.
5. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk
menambahkan sebuah paragraf penjelasan atau memodifikasi kalimat
dalam laporan audit.

Empat kategori laporan audit:

1. Wajar Tanpa Syarat


Kelima kondisi diatas terpenuhi.
2. Wajar Tanpa Syarat dengan Paragraf Penjelasan Atau dengan Modifikasi
Kalimat
Suatu proses audit telah dilaksanakan dengan hasil yang
memuaskan serta laporan keuangan telah disajikan dengan wajar, tetapi
auditor merasa perlu memberikan informasi tambahan.
3. Wajar dengan Pengecualian
Auditor menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan keuangan
memang telah disajikan dengan wajar, tetapi lingkup audit telah dibatasi
secara material atau terjadi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang
berlaku umum pada saat penyiapan laporan keuangan.
4. Tidak Wajar Atau Menolak Memberikan Pendapat
Auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan tidak disajikan
secara wajar, auditor tidak dapat memberikan opininya mengenai apakah
laporan keuangan telah disajikan secara wajar, atau auditor berada dalam
posisi yang independen.

Laporan audit standar tanpa pengecualian kadang-kadang disebut sebagai


pendapat yang bersih (clean opininon) karena tidak ada keadaan yang
memerlukan pengecualian (kualifikasi) atau modofikasi atas pendapat auditor.
Laporan audit standar tanpa pengecualian adalah laporan audit yang paling umum.
Jika salah satu dari keliam persyaratan laporan audit standar tanpa pengecualian
tidak dapat dipenuhi, maka laoran audit tersebut tidak dapat diterbitkan. Para
pengguna laporan keuangan umumnya akan lebih memperhatikan pernyataan
tidak memberikan pendapat atau suatu pendapat tidak wajar daripada
memperhatikan suatu laporan audit wajar tanpa syarat dengan sebuah paragraf
penjelasan.

Laporan Gabungan Tentang Laporan Keuangan Dan Pengendalian Atas


Laporan Keuangan

○ Paragraf pendahuluan, ruang lingkup, dan pendapat dimodifikasi untuk


menyertakan referensi pada laporan keuangan dan ruang lingkup pekerjaan
auditor serta pendapat tentang pengendalian internal Atas Laporan
Keuangan.

○ Paragraf pendahuluan dan pendapat juga mengacu pada kerangka kerja


yang digunakan untuk mengevaluasi pengendalian internal.

○ Laporan menyertakan paragraph sesudah paragraph ruang lingkup yang


menetapkan pengendalian internal atas laporan keuangan.

○ Laporan menyatakan Paragraf tambahan sebelum paragraph pendapat yang


menyatakan keterbatasan yang melekat dari pengendalian internal.
○ Pendapat audit atas laporan keuangan mencakup banyak periode, namun
Asersi manajemen tentang efektivitas pengendalian internal yaitu untuk
akhir tahun fiscal yang terbaru.

Laporan Audit Wajar Tanpa Syarat Dengan Paragraf Penjelasan Atau


Modifikasi

Pada beberapa situasi, suatu laporan audit wajar tanpa syarat diterbitkan,
tetapi dengan kalimat yang sedikit menyimpang dari laporan audit bentuk baku.
Laporan audit wajar tanpa syarat dengan paragraf penjelasan atau modifikasi
kalimat sesuai dengan kriteria suatu audit yang lengkap dengan hasil audit yang
memuaskan serta laporan keuangan telah disajikan dengan wajar, tetapi auditor
merasa wajib untuk memberikan informasi tambahan.

Berikut ini adalah penyebab-penyebab utama ditambahkannya suatu paragraf


penjelasan atau modifikasi kalimat pada laporan audit bentuk baku:

 Tidak adanya konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku


umum.
 Ketidakpastian atas kelangsungan hidup perusahaan.
 Auditor menyetujui terjadinya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang
berlaku umum.
 Penekanan pada suatu masalah.
 Laporan yang melibatkan auditor lainnya.

Untuk keempat penyebab pertama dibutuhkan suatu paragraf penjelasan. Pada


masing-masing kasus, tiga paragraf standar tetap disertakan tanpa di bubuhi
modifikasi apapun kemudian ditambahkan sebuah paragraf penjelasan dan baru
dengan diikuti paragraf pendapat.
Standar pelaporan kedua mewajibkan auditor untuk menaruh perhatian pada
kondisi-kondisi yang membuat prinsip akuntansi tidak diberlakukan secara
konsisten antara prinsip akuntansi yang digunakanpada tahun berjalan dengan
prinsip akuntansi yang digunakan pada tahun sebelumnya. GAAP/PSAK
menghendaki agar perubahan dalam prinsip atau metode akuntansi yang
digunakan serta sifat dan pengaruh perubahan tersebut diungkapkan secukupnya.

Konsistensi Vs Komparabilitas

Konsistensi Vs Komparabilitas auditor juga harus menentukan perbedaan


antara perubahan yang dapat mempengaruhi konsistensi pelaporan pada
perubahan yang dapat memengaruhi komparabilitas tetapi tidak memengaruhi
konsistensi pelaporan. Berikut ini adalah contoh-contoh perubahan yang dapat
memengaruhi konsistensi pelaporan dan memerlukan suatu paragraf penjelasan
saat perubahan tersebut bersifat material:

1. Perubahan prinsip akuntansi, seperti perubahan metode penilaian


persediaan dari FIFO menjadi LIFO.
2. Perubahan dalam entitas pelaporan, seperti penambahan suatu perusahaan
baru dalam laporan keuangan gabungan.
3. Perbaikan kesalahan yang melibatkan prinsip-prinsip akuntansi, yaitu
dengan melakukan perubahan dari prinsip akuntansi yang tidak diterima
secara umum pada prinsip akuntansi yang diterima secara umum, termasuk
didalamnya perbaikan atas akibat dari kesalahan penggunaan prinsip
akuntansi tersebut.
Termasuk dalam perubahan yang memengaruhi komparabilitas tetapi tidak
memengaruhi konsistensi pelaporan sehingga tidak perlu dicantumkan dalam
laporan audit adalah sebagai berikut:

1. Perubahan estimasi, seperti penurunan umur ekonomis suatu aktiva untuk


tujuan perhitungan depresiasi.
2. Perbaikan kesalahan yang tidak melibatkan prinsip akuntansi, misalnya
kesalahan perhitungan matematis dalam laporan keuangan terdahulu.
3. Variasi format dan penyajian informasi keuangan.
4. Perubahan yang terjadi akibat transaksi atau peristiwa yang sangat
berbeda, seperti suatu proyek penelitian dan pengembangan yang baru atau
penjualan sebuah anak perusahaan.

Pos-pos yang secara material mempengaruhi komparabilitas laporan keuangan


umumnya memerlukan suatu pengungkapan dalam catatan kaki. Lapooran audit
wajar dengan pengecualian menyangkut pengungkapan yang tidak memadai
mungkin diperlukan bila klien menolak mengungkapkan secara layak pos
tersebut.

Keraguan yang Besar Tentang Going Concern

Walaupun mengevaluasi kesehatan keuangan perusahaan bukan tujuan


dari suatu proses audit, tetapi auditor memiliki tanggungjawab untuk
mengevaluasi.

Contoh keberadaan satu atau lebih dari faktor-faktor berikut ini dapat
menimbulkan ketidakpastian atas kemampuan perusahaan untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya :

1. Terjadinya kerugian operasional atau kekurangan modal kerja yang


signifikan
2. Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jatuh temonya
3. Kehilangan pelanggan-pelanggan utama, terjadi bencana yang tak dijadimn
oleh asuransi seperti gempa bumi atau banjir, atau suatu masalah
ketenagakerjaan yang tidak umum.
4. Pengadilan, perundang-undangan, atau hal-hal lainnya yang serupa dapat
mengancam kemampuan operasional perusahaan

Pertimbangan auditor atas situasi-situasi tersebut adalah timbulnya suatu


pertimbangan bahwa klien mungkin tidak dapat meneruskan kegiatan usahanya
atau memenuhi kewajibannya dalam suatu periode tertentu

Ketika auditor menyimpulkan bahwa terdapat ketidakpastian akan


kelangsungan hidup perusahaan, maka suatu laporan audit wajar tanpa syarat
dengan suatu paragraph penjelasan harus ditebitkan, tanpa memperhatikan
pengungkapan dalam laoran keuangan.

SAS 59 mengijinkan tetapi tidak mewajibkan suatu penolakan pemberian


pendapat ketika terdapat suatu ketidakastian akan kelangsungan hidup
perusahaan. Suatu contoh tentang penolakan pemberian pendapat terjadi ketika
suatu lembaga engatur, seperti Badan Perlindungan Lingkungan, telah
memutuskan untuk membebankan sejumlah denda yang sangat besar kepada
sebuah perusahaan, dan jika hal tersebut mengakibatkan suatu hasil akhir yang
kurang menyenangkan, maka peerusahaan mungkin terpaksa dilikuidasi.
Aturan 203 dari Kode Etik Profesional AICPA menyatakan bahwa dalam
situasi-situasi yang tidak umum, suatu penyimangan dari prinsip akuntansi
yang telah disusun oleh sebuah lembaga untuk digunakan AICPA sebagai
panduan prinsip akuntansi, barangkali tidak memerlukan suatu pendapat wajar
dengn pengecualian atau pendapat tidak wajar. Berikut ini adalah contoh-
contoh kasus yang menyebabkan seorang auditor berpikir bahwa ia harus
menjelaskan permasalahan yang terjadi : terdapat transaksi dengan ihak yang
terkait yang bernilai sangat besar, peristiwa penting yang terjadi setelah tanggal
neraca, penjelasan masalah akuntansi yang mempengaruhi komparabilitas
laporan keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun sebelumnya,
serta ketidakpastian material yang diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan. Ketika auditor menyandarkan dirinya pada sebuah kantor akuntan
public lain untuk melaksanakan sebagian proses audit, yang biasa terjadi bila
klien memiliki sejumlah cabang atau subdivisi yang tersebar letaknya, maka
kantor akuntan public utama memiliki tiga alternative pilihan. Hanya
alternative kedua yang memberikan ilihan akan suatu laporan audit wajar tanpa
syarat dengan modifikasi kalimat.

1. Tidak memberikan referensi dalam laporan audit Ketika tak ada


referensi yang dibuat untuk auditor lainnya, maka suatu pendapat wajar
tanpa syarat diberikan kecuali terdapat kondisi lain yang mengharuskan
dikeluarkannya pendapat lain diluar pendapat wajar tanpa syarat.
Pendekatan ini dilakukan pada saat auditor lain mengaudit laporan
keuangan dengan proporsi yang tidak material, auditor lain sangat
dikenal atau disuervisi secara ketat oleh auditor utama, atau auditor
utama telah melakukan review yang mendalam pada pekerjaan yang
dilakukan oleh auditor lain. Auditor lainnya tersebut tetap bertanggung
jawab atas laporan auditnya sendiri dan turut bekerja saat terjadi suatu
gugfatan pengadilan atau tindakan dari SEC.
2. Memberikan referensi dalam laporan (modifikasi kalimat)
Jenis laporan ini disebut pula sebagai suatu laporan atau pendapat
bersama. Suatu laporan bersama wajar tanpa syarat merupakan laporan
yang tepat untuk diterbitkan bila merupakan hal yang tidak praktis
untuk merevisi kembali ekerjaan auditor lain atau ketika proporsi
laporan keuangan yang diaudit oleh auditor lain material terhadap
keseluruhan laporan keuangan.

3. Mengeluarkan pendapat wajar dengan pengecualian Auditor utama


dapat menyimpulkan bahwa perlu diterbitkan suatu pendapat wajar
dengan pengecualian. Suatu pendapat wajar tanpa syarat atau tidak
memberikan pendapat (disclaimer), tergantung pada materialitasnya
diperlukan jika auditor utama tidak menginginkan untuk mengambil
tanggung jawab apapun atas pekerjaan auditor lainnya. Auditor utama
pun dapat memutuskan bahwa suatu pendapat wajar dengan
pengecualian diperlukan bagi keseluruhan laoran keuangan jika auditor
lainnya memberikan pendapat wajar dengan pengecualian untuk
sebagian dari laporan keuangan yang telah diauditnya tersebut.
PENYIMPANGAN DARI LAPORAN AUDIT STANDAR TANPA
PENGECUALIAN

Dalam studi laporan audit yang menyimpang dari laporan audit bentuk
baku, terdapat tiga toik yang saling terkait satu sama lain : kondisi-kondisi
yang menyebabkan penyimpangan dari laporan audit bentuk baku, jenis
laporan/pendapat audit lainnya selain laporan audit bentuk baku, serta
materialitas.

Pertama, ikhtisar dari ketiga kondisi yang menyebabkan penyimpangan


dari laporan audit bentuk baku.

1. Ruang lingkup audit dibatasi Ketika auditor tidak dapat


mengumpulkan bukti audit yang memadai untuk menyimpulakn
apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP/PSAK,
maka terdapat suatu pembatasan atas lingkup audit. Terdapat dua
penyebab utama atas pembatasan lingkup audit ini : pembatasan oleh
klien dan pembatasan yang idsebabkan oelh kondisi-kondisi di luar
kendali klien atau auditor. Suatu contoh dari pembatasan oleh klien
adalah penolakan manajemen untuk memberikan ijin kepada auditor
mengkonfirmasikan piutang-piutang yang material atau penguji fisik
persediaan. Suatu contoh pembatasan yang disebabkan oleh kondisi-
kondisi di luar kendali adalah saat tidak adanya kesepakatan penugasan
audit hingga setelah akhir periode keuangan klien.

2. Penyajian laporan keuangan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip


akuntansi yang berlaku umum (penyimpangan dari GAAP/PSAK)
Sebagai contoh, jika seorang klien bersikeras untuk menggunakn harga
penggantian bagi aktiva tetapnya atau menilai persediaannya
berdasarkan harga jual daripada berdasarkan harga historis, maka perlu
diberikan pendapat diluar pendapat wajar tanpa syarat. Ketika prinsip
akuntansi yang berlaku umum diterapkan menurut konteks ini, maka
pertimbangan auditor atas kecukupan seluruh pengungkapan
informatif, termasuk catatan atas laporan keuangan, memiliki peran
sangat penting.

3. Auditor tidak independen Independensi umumnya ditentukan


berdasarkan aturan 101 dari Aturan Kode Etik Profesional.

Ketika salah satu dari ketiga kondisi diatas menunjukkan gejala bahwa
suatu penyimpangan dari laporan bentuk baku hadir dan bernilai material,
maka suatu laporan selain laporan bentuk baku/laporan wajar tanpa syarat
harus diterbitkan. Tiga jenis laporan audit yang data diterbitkan dibawah
ketiga kondisi ini adalah laoran wajar dengan pengecualian, tidak wajar, serta
menolak memberikan pendapat.
Laporan wajar dengan pengecualian dapat diterbitkan akibat dari
pembatasan lingkup audit atau kegagalan dalam mematuhi prinsip akuntansi
yang berlaku umum. Laporan wajar dengan pengecualian hanya dapat
diterbitkan pada saat auditor menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan
keuangan disajikan secar wajar. Laporan tidak wajar atau tidak memberikan
pendapat harus diterbitkan jika auditor merasa yakin bahwa kondisi-kondisi
yang dilaporkannya tersebut bersifat material. Oleh karena itu, pendapat
wajar dengan pengecualian dianggap sebagai jenis laporan audit yang paling
baik artinya setelah laporan audit wajar tanpa syarat.

Laporan wajar dengan pengecualian dapat berbentuk pengecualian baik


atas lingkup maupun pendapat audit maupun pengecualian atas pendapat saja.
Suatu pengecualian atas lingkup dan pendapat audit dinyatakan hanya pada
saat auditor merasa tidak mampu mengumpulakn semua bukti audit yang
diwajibkan dalam standar professional akuntan public. Selanjutnya, jenis
pengecualian ini digunakan pada saat lingkup audit sang auditor dibatasi baik
oleh klien maupun oleh kondisi-kondisi yang ada, yang mencegah auditor
untuk melaksanakan proses audit secara lengkap. Penggunaan suatu
pengecualian atas pendapat saja terbatas pada situasi-situasi dimana laporan
keuangan disajikan tidak sesuai dengan GAAP/PSAK.

Ketika auditor menerbitkan pendapat wajar dengan pengecualian, ia harus


menggunakan istilah kecuali dalam paragraph pendapat. Sebagai
implikasinya, sang auditor merasa puas bahwa laporan keuangan telah
disajikan dengan benar “kecuali” aspek tertentu laporan keungan saja.

Pendapat Wajar dengan Pengecualian

Laporan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion) dapat


diterbitkan akibat pembatasan ruang lingkup audit atau kelalaian untuk
mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku umum, selain itu, dapat di
terbitkan apabila auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara
keseluruhan telah disajikan secara wajar.
Bentuk laporan wajar dengan pengecualian yaitu kualifikasi atau
pengecualian atas ruang lingkup dan pendapat audit maupun
pengecualian atas pendapat saja. Ini diterbitkan jika auditor tidak mampu
mengumpulkan semua bukti audit yang diisyaratkan oleh standar auditing
yang berlaku umum. Oleh karena itu jenis pengecualian ini digunakan
apabila ruang lingkup auditor dibatasi oleh klien atau apabila ada situasi
yang menghalangi auditor untuk melaksanakan audit secara lengkap.

Apabila auditor menerbit kan pendapat wajar dengan pengecualian, ia


harus menggunakan istilah kecuali untuk (except for) dalam paragraf
pendapat. Sebagai implikasinya, auditor merasa puas bahwa laporan
keuangan secara keseluruhan telah disajikan dengan benar "kecuali untuk"
aspek tertentu dari laporan keuangan.

Pendapat tidak wajar (adverse opinion)

Digunakan apabila auditor yakin bahwa laporan keuangan secara


keseluruhan mengandung salah saji yang material atau menyesatkan sehingga
tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan atau hasil operasi dan arus kas
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Laporan ini
diterbitkan apabila auditor memiliki pengetahuan, setelah melakukan
Investigasi yang dalam, bahwa tidak ada kesesuaian dengan GAAP/PSAK.

Menolak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)

Diterbitkan apabila auditor tidak dapat meyakinkan dirinya sendiri


bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar.
Kebutuhan untuk menolak memberikan pendapat akan timbul apabila
terdapat pembatasan ruang lingkup audit atau terdapat hubungan yang
tidak independen menurut Kode Perilaku Profesional antara auditor
dengan kliennya. Kedua situasi ini mengalami auditor untuk mengeluarkan
pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan.

MATERIALITAS

Materialitas adalah suatu pertimbangan penting dalam menentukan jenis laporan


yang tepat untuk diterbitkan dalam situasi tertentu. Materialitas memberikan suatu
pertimbangan penting dalam menentukan jenis laporan audit mana yang tepat
untuk diterbitkan dalam suatu kondisi tertentu. Sebagai contoh, jika suatu
kesalahan penyajian yang terjadi relatif bersifat tidak material terhadap
keseluruhan laporan keuangan suatu entitas pada periode berjalan, maka
merupakan hal yang tepat untuk menerbitkan suatu pendapat wajar tanpa syarat.
Suatu contoh yang umum adalah pembebanan persediaan kantor langsung sebagai
biaya daripada membukukan sebagian persediaan kantor yang belum digunakan
tersebut ke dalam persediaan karena jumlahnya yang tidak signifikan
Situasi akan berubah secara total ketika nilai persediaan kantor itu cukup
signifikan yang membuat keselunuhan laporan keuangan akan dipengaruhi secara
material. Dalam kondisi tersebut, merupakan suatu kewajiban untuk menerbitkan
suatu pendapat tidak wajar atau menolak memberikan pendapat, di mana
pemberian salah satu dari kedua pendapat itu tergantung dari sifat kesalahan
penyajian tersebut. Pada situasi-situasi yang tingkat materialitasnya lebih rendah,
maka akan lebih tepat jika menerbitkan pendapat wajar dengan pengecualian.

Definisi umum materialitas yang diterapkan dalam bidang akuntansi dan


selanjutnya berlaku pula dalam pelaporan audit adalah sebagai berikut :
Kesalahan penyajan laporan keuangan dapat dianggap material jika kesalahan
penyajian tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh pengguna
laporan.
Dalam penerapan definisi ini, terdapat tiga tingkat materialitas yang
digunakan untuk menentukan jenis pendapat yang akan diterbitkan.

Tingkat Materialitas

Definisi yang diterapkan dalam bidang akuntansi yaitu suatu salah saji dalam
laporan keuangan dapat dianggap material jika pengetahuan akan salah satu saja
tersebut akan mempengaruhi keputusan pada pemakai laporan tersebut. dalam
penerapan definisi ini, tiga tingkat materialitas digunakan untuk menentukan jenis
pendapat yang akan diterbitkan.

1. Jumlahnya tidak Material


Apabila ada salah saji dalam laporan keuangan tetapi cenderung tidak
mempengaruhi keputusan pemakai laporan, hal tersebut dianggap sebagai
tidak material. Karena itu pendapat wajar tanpa pengecualian layak
diterbitkan. Sebagai contoh, diasumsikan bahwa manajemen pada tahun
memutuskan untuk membebankannya sebagai biaya dalam tahun berjalan
untuk mengurangi biaya pemeliharaan catatan keuangan. Dengan
demikian manajemen telah gagal untuk mematuhi GAAP/PSAK, tetapi
jika jumlahnya sedikit, maka Mesalahan penyajian tersebut bersifat tidak
material dan suatu laporan audit bentuk baku layak untuk diterbitkan.

2. Jumlahnya Material tetapi Tidak Memperburuk Laporan Keuangan secara


Keseluruhan
Apabila salah saji dalam laporan keuangan akan mempengaruhi
keputusan para pemakai laporan itu, tetapi laporan keuangan secara
keseluruhan tetap disajikan secara wajar dan karenanya masih berguna.
Sebagai contoh, bila diketahui terdapat kesalahan penyajian dalam aktiva
tetap yang bernilai cukup besar, hal tersebut dapat mempengaruhi
kesediaan dari si pengguna laporan untuk meminjamkan sejumlah uang
kepada perusahaan jika aktiva tetap tersebut akan digunakan sebagai
jaminan pinjamannya. Tidak berarti bila terdapat suat kesalahan penyajian
dalam nilai persediaan, maka kas, plutang dagang, serts elemen-elemen
laporan keuangan lainnya, atau keseluruhan laporan keuangan akan
mengalami kesalahan penyajian yang material pula.
Untuk menentukan tingkat materialitas yang terjadi pada saat
hadirnya suat kondisi tertentu yang mewajibkan auditor menerbitkan
pendapat di luar pendapat wajar tanpa syarat, maka auditor harus
melakukan evaluasi atas semua penganuh yang mungkin timbul dalam
laporan keuangan, Diasumsikan bahwa auditor tidak dapat memuaskan
keingintahuannya tentang apakah nilai persediaan telah disajikan secara
wajar pada saat ia akan memutuskan tentang pendapat apa yang akan
diterbitkannya untuk laporan keuangan tersebut Karena kesalahan
penyajian nilal persediaan berpengaruh pula pada akun-akun lainnya serta
pada nilai tercantum dalam laporan keuangan, maka auditor wajib
mempertimbangkan materialitas dari efek gabungan itu pada persediaan,
total aktiva lancar, total modal kerja, total aktiva, pajak penghasilan, pajak
penghasilan yang terutang, total hutang lancar, harga pokok penjualan,
laba bersih sebelum pajak, serta laba berei setelah pajak
Ketika auditor berkesimpulan bahwa suatu kesalahan penyajian
bersifat mate. rial tetapi tidak mempengaruhi keseluruhan penyajian
laporan keuangan, maka pendapat auditor yang tepat adalah pendapat
wajar dengan pengecualian (menggunakan "kecuali untuk").

3. Jumlahnya Sangat Material atau Begitu Pervasif sehingga Kewajaran


Laporan Keuangan secara Keseluruhan Diragukan
Apabila pemakai mungkin akan membuat keputusan yang tidak benar
jika mereka mengandalkan laporan keuangan secara keseluruhan. Pada
saat menentukan apakah suatu pengecualian sangat material auditor harus
mempertimbangkan seberapa besar pengaruh pengecualian tersebut
terhadap bagian laporan keuangan yang berbeda. Ini disebut sebagai
penyebaran (pervasiveness). Bila salah saji menjadi lebih pervasif,
kemungkinan untuk menerbitkan pendapat tidak wajar alih-alih pendapat
wajar dengan pengecualian akan semakin tinggi. Sebagai contoh, andai
kata auditor memutuskan terdapat suatu kesalahan klasifikasi antara kas
dan piutang dagang dan mengeluarkan pendapat wajar dengan
pengecualian karena kesalahan klasifikasi tersebut dianggap material;
maka kegagalan dalam mencatat suatu penjualan dengan nilai yang sama
dengan nilai kesalahan klasifikasi antara kas dan piutang dagang tersebut,
akan mengakibatkan diterbitkannya suatu pendapat tidak wajar karena
efek pervasive-nya itu.

Tanpa memperhatikan nilainya, suatu penolakan pemberian pendapat


harus dilakukan saat auditor merasa tidak memiliki independensi
sebagaimana independensi yang didefinisikan dalam aturan pada Kode
Etik Profesional. Ketentuan yang sangat keras ini mencerminkan
pentingnya independensi bagi para auditor. Setiap penyimpangan dari
aturan independensi ini akan dianggap sangat material.

Keputusan Materialitas

Pengaruh materialitas terhadap jenis pendapat yang diterbitkan bersifat


langsung. Memutuskan materialitas aktual merupakan pertimbangan yang sulit
dalam situasi tertentu. Tidak ada pedoman yang sederhana dan didefinisikan
dengan jelas yang memungkinkan auditor memutuskan kapan suatu hal dianggap
tidak material, material, atau sangat material.
Keputusan Materialitas-Kondisi Non-GAAP

Apabila klien gagal dalam mengikuti GAAP, maka laporan audit akan berupa
pendapat wajar tanpa pengecualian, pendapat wajar dengan pengecualian, atau
pendapat tidak wajar, tergantung pada materialitas dari penyimpangan yang
terjadi.

Jumlah Dolar Dibandingkan dengan Dasar Tertentu

Masalah utama dalam mengukur materialitas apabila klien gagal mematuhi


GAAP biasanya adalah total dolar salah saji pada akun-akun yang terlibat yang
dibandingkan dengan beberapa dasar pengukuran.

Ketika membandingkan salah saji yang potensial dengan suatu dasar tertentu,
auditor harus mempertimbangkan dengan cermat semua akun yang dipengaruhi
oleh salah saji tersebut.

Dapat Diukur

Jumlah dolar dari beberapa jenis salah saji tidak dapat diukur secara akurat.
Sifat Pos

Berikut ini adalah hal-hal yang dapat mempengaruhi keputusan para pemakai
laporan, dan dengan demikian juga, pendapat auditor, dalam cara yang berbeda
ketimbang pada kebanyakan salah saji.

1. Transaksi yang jelek atau curang.


2. Suatu pos dengan cara material dapat mempengaruhi beberapa periode di
masa depan, walaupun salah saji tersebut tidak material apabila hanya
periode berjalan yang dipertimbangkan.
3. Suatu pos yang mempunyai pengaruh "psikis" (sebagai contoh, pos yang
mengubah kerugian yang kecil menjadi laba yang kecil, mempertahankan
tren laba yang meningkat, atau mengusahakan laba melebihi harapan pada
analis).
4. Suatu pos mungkin penting dalam kaitannya dengan konsekuensi yang
mungkin timbul dari kewajiban kontraktual (sebagai contoh, pengaruh
kegagalan ummati pembatasan utang dapat mengakibatkan penarikan
pinjaman yang material).

Keputusan Materialitas-Kondisi Pembatasan Ruang Lingkup Audit

Apabila terdapat pembatasan ruang lingkup audit laporan audit dapat berupa
pendapat wajar tanpa pengecualian, ruang lingkup dan pendapat wajar dengan
pengecualian, apa menolak memberikan pendapat, tergantung pada materialitas
pembatasan ruang lingkup audit tersebut. Auditor akan mempertimbangkan ketiga
faktor yang sama seperti pada pembahasan sebelumnya tentang keputusan
materialitas untuk kegagalan mengikuti GAAP, tetapi akan dipertimbangkan
secara berbeda. biasanya jauh lebih sulit untuk mengevaluasi materialitas salah
saji yang potensial akibat pembatasan ruang lingkup audit ketimbang kegagalan
mengikuti GAAP.
Tetapi akan dipertimbangkan secara berbeda. biasanya jauh lebih sulit untuk
mengevaluasi materialitas salah saji yang potensial akibat pembatasan ruang
lingkup audit ketimbang kegagalan mengikuti GAAP. Sementara salah satunya
diakibatkan oleh pembatasan ruang lingkup audit biasanya harus diukur secara
subjektif dalam pengertian salah saji yang potensial atau yang memungkinkan.

PEMBAHASAN TENTANG KONDISI YANG


MEMERLUKANPENYIMPANGAN

Kondisi-kondisi memperlukan penyimpangan dari pendapat wajar tanpa


pengecualian yang lebih rinci serta menunjukkan contoh contoh laporan, antara
lain:

Ruang Lingkup Auditor Dibatasi

Ada dua kategori utama pembatasan ruang lingkup audit: pembatasan yang
disebabkan oleh klien dan yang disebabkan oleh kondisi-kondisi yang berada di
luar kendali klient maupun auditor. Kedua jenis pembatasan ruang lingkup
tersebut memiliki pengaruh yang sama terhadap laporan auditor, tapi interpretasi
materialitasnya mungkin berbeda.

Bila ada pembatasan ruang lingkup audit maka respon yang tepat adalah
menerbitkan pendapat wajar tanpa pengecualian, kualifikasi (pengecualian) ruang
lingkup dan pendapat audit, atau menolak memberikan pendapat, tergantung pada
materialitasnya. Untuk pembatasan yang disebabkan oleh klien, auditor harus
mempertimbangkan kemungkinan bahwa manajemen berusaha mencegah
ditemukannya informasi yang salah saji.

Dua jenis pembatasan yang diberlakukan oleh klien pada ruang lingkup
auditor berkaitan dengan observasi fisik persediaan serta konfirmasi atas piutang
usaha, tetapi jenis pembatasan lainnya juga dapat terjadi. Alasan klien untuk
memberlakukan pembatasan ruang lingkup audit berupa keinginan untuk
menghemat fee audit dan, dalam kasus konfirmasi piutang usaha, untuk mencegah
kemungkinan terjadinya konflik antara klien dengan pelanggannya apabila jumlah
yang dikonfirmasikan ternyata berbeda. Pembatasan pada ruang lingkup
pemeriksaan auditor memerlukan paragraf pengecualian yang mendahului
pendapat untuk menjelaskan pembatasannya.

Kasus yang paling umum terjadi di mana kondisi yang berada di luar kendali
klien dan auditor menyebabkan pembatasan ruang lingkup audit adalah penugasan
yang disepakati setelah tanggal neraca klien. Konfirmasi atas piutang usaha
pemeriksaan fisik persediaan cerita prosedur penting lainnya yang mungkin tidak
mungkin dilaksanakan dalam situasi tersebut. Apabila Auditor tidak dapat
melaksanakan prosedur yang menurutnya harus dilakukan tetapi dapat dipenuhi
dengan metode alternatif bahwa informasi yang diuji telah disajikan secara wajar,
maka pendapat wajar tanpa pengecualian dapat diterbitkan. Jika prosedur
alternatif tersebut tidak dapat dilaksanakan maka ruang lingkup dan pendapat
wajar dengan pengecualian atau menolak memberikan pendapat perlu diterbitkan
tergantung pada materialitasnya.

Laporan tidak Sesuai dengan GAAP

Apabila auditor mengetahui bahwa laporan keuangan dapat menyesatkan


karena tidak disiapkan sesuai dengan GAAP, dan klien tidak mampu atau tidak
bersedia mengoreksi salah saji itu, iya harus melanjutkan penduduk wajar dengan
pengecualian atau pendapat tidak wajar, tergantung pada materialitas pos yang
dipertanyakan.
Laporan Peraturan 203

Peraturan 203 dalam Kode Perilaku Profesional memperkenankan


penyimpangan dari prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum apabila auditor
yakin bahwa ketaatan pada benda tersebut akan menghasilkan laporan keuangan
yang menyesatkan. Apabila auditor memutuskan bahwa ketaatan pada GAAP
dapat menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan, maka harus ada

penjelasan lengkap dalam paragraf ketiga.

Tidak adanya Laporan Arus Kas

Keengganan klien untuk memasukkan laporan arus kas secara khusus dalam
SAS 58 (AU 508). Apabila laporan arus kas ditiadakan, harus dibuat paragraf
ketiga yang menyatakan peniadaan laporan itu dan kualifikasi pendapat "kecuali
untuk".

Auditor Tidak Independen

Jika Auditor tidak dapat memenuhi persyaratan independensi yang


dinyatakan dalam Kode Perilaku Profesional, Maka penolakan memberikan
pendapat harus dilakukan walaupun semua prosedur audit yang dianggap perlu
dalam situasi tersebut telah dilaksanakan. Tidak adanya independensi akan
mengesampingkan semua pembatasan ruang lingkup audit lainnya.

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN AUDITOR UNTUK LAPORAN


AUDIT

Menentukan Apakah Ada Kondisi yang Memerlukan Penyimpangan dari


Laporan Wajar Tanpa Pengecualian Standar

Para auditor mengidentifikasi kondisi-kondisi tersebut ketika mereka


melaksanakan audit dan mencantumkan informasi tentang kondisi itu dalam audit
sebagai bahan diskusi guna pelaporan audit. Jika kondisi kondisi tersebut tidak
ada, yang terjadi pada sebagian besar penugasan audit, auditor akan menerbitkan
laporan audit wajar tanpa pengecualian standar.
Memutuskan Materialitas untuk Setiap Kondisi

Apabila ada kondisi yang memerlukan penyimpangan dari pendapat wajar


tanpa pengecualian standar auditor mengevaluasi pengaruh potensial terhadap
laporan keuangan. Memutuskan materialitas merupakan hal yang sulit, yang
membutuhkan pertimbangan yang matang.

Memutuskan Jenis Laporan Audit yang Tepat untuk Kondisi Tertentu


Berdasarkan Tingkat Materialitas

Setelah membuat dua keputusan pertama maka mudah untuk memutuskan


jenis pendapat yang tepat dengan menggunakan alat bantu pembuatan keputusan.

Menulis Laporan Audit


Sebagian besar kantor akuntan publik memiliki template komputer yang
berisi kata-kata yang tepat untuk situasi berbeda guna membantu auditor menulis
laporan audit. Selain itu, salah satu lebih partner dalam kantor akuntan publik
pemerintah dalam menulis laporan audit. Parapat Mini umumnya menulis atau
mereview seluruh laporan audit sebelumnya laporan-laporan itu diterbitkan.

Ada Lebih dari Satu Kondisi yang Membutuhkan Penyimpangan atau


Modifikasi

Situasi-situasi berikut merupakan contoh ketika diperlukan lebih dari satu


modifikasi dalam laporan:

1. Auditor tidak independen serta mengetahui bahwa perusahaan tidak


mengikuti prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.
2. Terdapat pembatasan ruang lingkup audit dan ada keraguan yang
substansial tentang kemampuan perusahaan untuk terus bertahan (going
concern).
3. Terdapat keraguan yang substansial tentang kemampuan perusahaan untuk
terus bertahan (going concern) dan informasi mengenai penyebab
ketidakpastian ini tidak diungkapkan secara memadai pada catatan kaki.
4. Terdapat deviasi (penyimpangan) terhadap GAAP dalam penyusunan
laporan keuangan dan prinsip akuntansi lainnya telah diterapkan atas dasar
yang tidak konsisten dengan tahun sebelumnya.

Jumlah Paragraf dalam Laporan

Laporan audit tiga paragraf umumnya mengindikasikan bahwa tidak ada


pengecualian apapun dalam audit. Akan tetapi laporan audit tiga paragraf juga
diterbitkan apabila penolakan pemberian pendapat diterbitkan akibat pembatasan
ruang lingkup audit atau dikeluarkan laporan wajar tanpa pengecualian yang
melibatkan auditor lain.
DAMPAK E-COMMERCE TERHADAP PELAPORAN AUDIT

Kebanyakan perusahaan publik memberikan akses ke informasi keuangan


melalui Web site-nya. Para pengunjung Web site perusahaan dapat melihat
laporan keuangan tertentu perusahaan yang telah diaudit termasuk laporan auditor.
Menurut standar auditing yang berlaku saat ini, auditor tidak diwajibkan untuk
smembaca informasi yang terkandung dalam situs elektronik seperti Web site
perusahaan, yang juga berisi laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit dan
laporan auditor. Standar auditing menyatakan bahwa situs elektronik adalah
sarana untuk mendistribusikan informasi dan bukan dianggap "dokumen" seperti
istilah yang digunakan dalam standar auditing.