Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Beton merupakan suatu material yang secara umum menjadi kebutuhan
masyarakat terhadap fasilitas infrastruktur konstruksi yang semakin meningkat
seiring dengan perkembangan zaman, maka dari itu pemilihan beton sebagai bahan
baku utama konstruksi bangunan seperti bangunan gedung, jembatan, jalan, bendung
dan lain-lain sangatlah penting. Harganya yang relatif murah dan kemudahan dalam
pelaksanaannya membuat beton semakin tak tergantikan dalam dunia konstruksi
khususnya di Indonesia. Keuntungan lain dari beton yaitu mudah dibuat, baik di
pabrik (precast) maupun langsung di tempat proyek berlangsung dan kekuatannya
dapat diatur sedemikian rupa, sehingga sesuai yang diinginkan, bahkan bentuk dan
ukurannya dapat diatur sesuai kebutuhan. Beton merupakan bahan yang sangat kuat,
tahan karat dan tahan terhadap api. Selain itu, kelebihan beton yang lebih menonjol
dibandingkan bahan konstruksi yang lain yaitu memiliki kuat tekan yang tinggi.
Namun selain keuntungan yang dimilikinya beton juga memiliki beberapa
kekurangan seperti tegangan tarik yang rendah, daktibilitas rendah, dan keseragaman
mutu yang bervariatif. Karena kekurangan yang dimiliknya maka diperlukan
pengetahuan yang cukup luas antara lain mengenai sifat bahan dasarnya, cara
pembuatannya, cara evaluasi, dan variasi bahan tambahnya agar dapat meningkatkan
fungsi beton itu sendiri menjadi lebih maksimal.
Dalam pembuatannya, keseragaman kualitas beton sangat dipengaruhi oleh
keseragaman bahan dasar dan metode pelaksanaan. Untuk mendapatkan kualitas dan
keseragaman beton sesuai seperti yang disyaratkan maka pelaksanakan pembuatan
beton harus dilakukan dengan baik dan sesuai dengan prosedur. Oleh sebab itu
sebagai mahasiswa teknik sipil/engineer, haruslah mengetahui prinsip-prinsip dasar
dari beton baik itu sifat-sifat beton, kelebihan dan kekurangan beton, kegunaan beton,
hingga standar-standar yang digunakan dalam pembuatan dan penggunaan beton.

1
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini, adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana sejarah dan pengertian beton?
2. Apa saja macam-macam beton?
3. Apa sifat-sifat beton?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan beton ?
5. Apa kegunaan dari beton?
6. Standar-standar apa saja yang dipakai dalam penggunaan beton ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini, adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui sejarah beton dari beton ditemukan hingga sekarang dan mengetahui
pengertian beton.
2. Mengetahui apa saja macam-macam beton.
3. Mengetahui sifat-sifat yang ada pada beton.
4. Mengetahui kelebihan dan kekurangan beton.
5. Mengetahui kegunaan dari beton.
6. Mengetahui standar-standar apa saja yang dipakai dalam penggunaan beton.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perkembangan dan Pengertian Beton


2.1.1 Perkembangan beton
Beton Bertulang pada awalnya tidak begitu diketahui. Sebagian besar hasil
karya awal beton pada waktu itu dilakukan oleh dua orang Perancis, Joseph
Lambotdan Joseph Monier. Sekitar tahun 1850, Lambot membuat sebuah perahu
beton yang ditulangi dengan suatu jaringan yang terdiri dari kawat baja atau tulangan
yang tersusun parallel. Meskipun demikian, penghargaan terbesar biasanya diberikan
kepada Monier, karena ia lah orang yang menemukan beton bertulang. Tahun 1867 ia
meneriama hak paten atas keberhasilannya membuat kolam atau tong dan penampang
air dari beton yang ditulangi dengan suatu anyaman yang terbuat dari kawat besi.
Tujuan yang ingin dicapainnya dengan melakukan pekerjaan ini adalah membuat
konstruksi yang ringan tanpa mengurangi kekuatan beton.
Dari tahun 1867 sampai 1881 Monier mendapatkan hak paten untuk
bermacam-macam konstruksi beton-bertulang, antara lain penopang melintang rel
kereta api yang digunakan untuk mengikat dan menyalurkan tegangan ke bantalan rel,
pelat lantai, bendungan busur, jembatan untuk pejalan kaki, bangunan, dan
sebagainya, baik di Perancis maupun di Jerman.
Orang Perancis lainnya, Franćois Coignet, membuat struktur beton bertulang
sederhana dan mengembangkan metode dasar mengenai pembuatan desain beton-
bertulang. Tahun 1861 ia menerbitkan sebuah buku di mana di dalam buku tersebut
ia menampilkan contoh-contoh aplikasi yang cukup banyak. Ia adalah orang pertama
yang menyadari bahwa penambahan terlalu banyak air ke dalam campuran beton
sangat mengurangi kekuatan beton.
Orang Eropa lain yang termasuk peneliti pertama beton bertulang adalah
William Fairbairn dan William Wilkinson dari Inggris, G.A. Wayss dari Jerman, dan
Francois Hennebique yang juga berasal dari Perancis. William E. Ward membangun

3
bangunan beton bertulang yang pertama di Amerika Serikat di Port chester, N.Y.,
pada tahun 1875. Pada tahun 1883 ia merepresentasikan tulisannya di hadapan
America Society of Mechanical Engineer di mana dalam tulisan tersebut ia
mengklaim bahwa ia mendapatkan ide tentang beton bertulang ketika melihat para
buruh Inggris mencoba memindahkan semen yang telah mengeras dari cetakan-
cetakan besi mereka pada tahun 1867.
Thaddeus Hyatt, orang Amerika, mungkin adalah orang pertama yang
menganalisis dengan benar tegangan-tegangan pada suatu beton bertulang, dan pada
tahun 1877 ia menerbitkan sebuah buku setebal 28 halaman tentang pokok bahasan
ini, berjudul An Account of Some Experiments with Portland Cement Concrete,
Combined with Iron a.” a Building Material. Dalam buku ini ia memuji pengunaan
beton bertulang dan mengatakan “balok baja harus menerima nasibnya.” Hyatt
memberikan penekanan yang besar kepada daya tahan beton yang tinggi terhadap api.
E. L. Ransomedari San Fransisco diduga telah menggunakan beton bertulang
pada awal tahun 1870-an dan merupakan penemu tulangan ulir, di mana atas
penemuannya ini ia menerima hak paten pada tahun 1884. Tulangan-tulangan ini,
yang mempunyai penampang melintang berbentuk bujursangkar, dipuntir dalam
keadaan dingin (cold-twisted) dengan satu putaran penuh dan panjangnya tidak lebih
dari 12 kali diameter tulangan.
Pada tahun 1890 di San Fransisco, Ransome membangun Museum Leland
Stanford Jr. Bangunan yang terbuat dari beton bertulang tersebut memiliki panjang
95,1 meter dan tinggi dua lantai di mana yang digunakan sebagai tulangan tulang
tarik adalah tali baja nekas yang semula digunakan pada kereta gantung. Bangunan
ini mengalami kerusakan kevil pada tahun 1906 akibat gaya gempa bumi dan
kebarakan yang diakibatkan oleh gempa tersebut. Tingkat kerusakan yang kecil pada
bangunan ini dan pada struktur-struktur beton lain yang juga mengalami kebakaran
besasr tahun 1906 tersebut menyebabkan bentuk konstruksi ini dapat di terima secara
luas di pantai barat. Sejak tahun 1900-1910, perkembangan dan penggunaan beton-
bertulang di Amerika Serikat menigkat sangat pesat

4
Sedangankan pada beton prategang, penerapan pertama dimulai oleh P.H.
Jacksondari California, Amerika Serikat. Pada tahun 1886 telah dibuat hak paten dari
kontruksi beton prategang yang dipakai untuk pelat dan atap. Pada waktu yang
hampir bersamaan yaitu pada tahun 1888, C.E.W. Doehting dari Jerman memperoleh
hak paten untuk memprategang pelat beton dari kawat baja. Tetapi gaya prategang
yang diterapkan dalam waktu yang singkat menjadi hilang karena rendahnya mutu
dan kekuatan baja.
Untuk mengatasi hal tersebut oleh G.R. Steinerdari Amerika Serikat pada
tahun 1908 mengusulkan dilakukannya penegangan kembali. Sedangkan J. Mandldan
M. Koenen dari Jerman menyelidiki identitas dan besar kehilangan gaya prategang.
Eugen Freyssonet dari Perancis yang pertama-tama menemukan pentingnya
kehilangan gaya prategang dan usaha untuk mengatasinya. Berdasarkan
pengalamannya membangun jembatan pelengkung pada tahun 1907 dan 1927, maka
disarankan untuk memakai baja dengan kekuataan yang sangat tinggi dan
perpanjangan yang besar. Kemudian pada tahun 1940 diperkenalkan sistem prategang
yang pertama dengan bentang 47 meter di Philadelphia (Walnut Lane Bridge).
Setelah Fresyssonnet para sarjana lain juga menemukan metode-metode prategang.
Mereka adalah G.Magnel (Belgia), Y.Guyon (Perancis), P. Abeles (Inggris), F.
Leonhardt (Jerman), V.V. Mikhailov (Rusia), dan T.Y. Lin (Amerika Serikat).
Sekarang telah dikembangkan banyak sistim dan teknik prategang. Dan beton
prategangan sekarang telah diterima dan banyak dipakai, setelah melalui banyak
penyempurnaan hampir pada setiap elemen beton prategang, misalnya pada jembatan,
komponen bangunan seperti balok, pelat dan kolom, pipa dan tiang panjang,
terowongan dan lain sebagainya. Dengan beton prategang dapat dibuat betang yang
besar tetapi langsing.

5
2.1.2 Pengertian beton
Beton merupakan campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang
lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang
membentuk masa padat (SNI 03-2847-2002). Menurut Kardiyono Tjokrodimulyo
(2007) Beton merupakan suatu bahan komposit (campuran) dari beberapa material,
yang bahan utamanya terdiri dari campuran antara semen, agregat halus, agregat
kasar, air dan atau tanpa bahan tambah lain dengan perbandingan tertentu. Karena
beton merupakan komposit, maka kualitas beton sangat tergantung dari kualitas
masing-masing material pembentuk.
Nugraha, Paul (2007), mengungkapkan bahwa pada beton yang baik, setiap
butir agregat seluruhnya terbungkus dengan mortar. Demikian pula halnya dengan
ruang antar agregat, harus terisi oleh mortar. Jadi kualitas pasta atau mortar
menentukan kualitas beton. Semen adalah unsur kunci dalam beton, meskipun
jumlahnya hanya 7-15% dari campuran. Beton dengan jumlah semen yang sedikit
(sampai 7%) disebut beton kurus (lean concrete), sedangkan beton dengan jumlah
semen yang banyak disebut beton gemuk (rich concrete).
Beton masih merupakan pilihan utama sebagai bahan konstruksi pada saat ini.
Hal itu dikarenakan beragam keunggulannya dibandingkan material lain seperti
kemudahan dalam pengerjaannya (workability), kekohesifan (cohesiveness), kekuatan
yang tinggi dalam memikul beban (strenght) dan keawetan yang baik (durability)
(Mulyono, T, 2003).

2.2 Macam-macam Beton


Menurut Mulyono (2006) secara umum beton dibedakan kedalam 2
kelompok, yaitu:
1. Beton berdasarkan kelas dan mutu beton
a. Beton kelas I
Beton kelas I merupakan beton untuk pekerjaan-pekerjaan non struktutral.
Untuk pelaksanaannya tidak diperlukan keahlian khusus. Pengawasan mutu

6
hanya dibatasi pada pengawasan ringan terhadap mutu bahan-bahan,
sedangkan terhadap kekuatan tekan tidak disyaratkan pemeriksaan. Mutu
kelas I dinyatakan dengan B0.
b. Beton kelas II
Beton kelas II adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan struktural secara
umum. Pelaksanaannya memerlukan keahlian yang cukup dan harus
dilakukan di bawah pimpinan tenaga-tenaga ahli. Beton kelas II dibagi 6
dalam mutu-mutu standar B1, K-125, K-175, dan K-225. Pada mutu B1,
pengawasan mutu hanya dibatasi pada pengawasan terhadap mutu bahan-
bahan sedangkan terhadap kekuatan tekan tidak disyaratkan pemeriksaan.
Pada mutu-mutu K-125, K-175, dan K-225 dengan keharusan untuk
memeriksa kekuatan tekan beton secara kontinu dari hasil-hasil pemeriksaan
benda uji.
a. Beton kelas III
Beton kelas III adalah beton untuk pekerjaan-pekerjaan struktural yang lebih
tinggi dari K-225. Pelaksanaannya memerlukan keahlian khusus dan harus
dilakukan di bawah pimpinan tenaga-tenaga ahli. Disyaratkan adanya
laboratorium beton dengan peralatan yang lengkap serta dilayani oleh
tenaga-tenaga ahli yang dapat melakukan pengawasan mutu beton secara
kontinu.
2. Beton berdasarkan jenisnya
a. Beton ringan
Beton ringan merupakan beton yang dibuat dengan bobot yang lebih ringan
dibandingkan dengan bobot beton normal. Agregat yang digunakan untuk
memproduksi beton ringan pun merupakan agregat ringan juga. Agregat
yang digunakan umumnya merupakan hasil dari pembakaran shale,
lempung, slates, residu slag, residu batu bara dan banyak lagi hasil
pembakaran vulkanik. Berat jenis agregat ringan sekitar 1900 kg/m3 atau
berdasarkan kepentingan penggunaan strukturnya berkisar antara 1440 –
1850 kg/m3, dengan kekuatan tekan umur 28 hari lebih besar dari 17,2 Mpa.

7
b. Beton normal
Beton normal adalah beton yang menggunakan agregat pasir sebagai agregat
halus dan batu pecah sebagai agregat kasar sehingga mempunyai berat jenis
beton antara 2200 kg/m3–2400 kg/m3 dengan kuat tekan sekitar 15–40 Mpa.
c. Beton berat
Beton berat adalah beton yang dihasilkan dari agregat yang memiliki berat
isi lebih besar dari beton normal atau lebih dari 2400 kg/m3. Untuk
menghasilkan beton berat digunakan agregat yang mempunyai berat jenis
yang besar.
d. Beton massa (mass concrete)
Dinamakan beton massa karena digunakan untuk pekerjaan beton yang besar
dan masif, misalnya untuk bendungan, kanal, pondasi, dan jembatan.
e. Ferro-Cement
Ferro-Cement adalah suatu bahan gabungan yang diperoleh dengan cara
memberikan suatu tulangan yang berupa anyaman kawat baja sebagai
pemberi kekuatan tarik dan daktil pada mortar semen.
f. Beton serat (fibre concrete)
Beton serat (fibre concrete) adalah bahan komposit yang terdiri dari beton
dan bahan lain berupa serat. Serat dalam beton ini berfungsi mencegah retak-
retak sehingga menjadikan beton lebih daktil daripada beton normal.

2.3 Sifat-sifat Beton


Sifat-sifat beton perlu diketahui untuk mendapatkan mutu beton yang
diharapkan sesuai tuntutan konstruksi dan umur bangunan yang bersangkutan.
Menurut Tri Mulyono (2005), sifat umum yang ada pada beton yaitu:
1. Sifat-sifat yang harus dipenuhi dalam jangka waktu lama oleh beton yang
mengeras, seperti kekuatan (strenght), keawetan (durability), dan kestabilan
volume. Keawetan (Durability) Merupakan kemampuan beton bertahan seperti

8
kondisi yang direncanakan tanpa terjadi korosi dalam jangka waktu yang
direncanakan. Dalam hal ini perlu pembatasan nilai faktor air semen maksimum
maupun pembatasan dosis semen minimum yang digunakan sesuai dengan
kondisi lingkungan. sifat tahan lama pada beton dapat dibedakan dalam beberapa
hal, antara lain sebagai berikut:
a. Tahan Terhadap Pengaruh Cuaca
Pengaruh cuaca yang dimaksud adalah pengaruh yang berupa hujan dan
pembekuan pada musim dingin, serta pengembangan dan penyusutan yang
diakibatkan oleh basah dan kering silih berganti.
b. Tahan Terhadap Pengaruh Zat Kimia
Daya perusak kimiawi oleh bahan-bahan seperti air laut, rawa-rawa dan air
limbah, zat-zat kimia hasil industri dan air limbahnya, buangan air kotor kota
yang berisi kotoran manusia, gemuk, susu, gula, dan sebagainya perlu
diperhatikan terhadap keawetan beton.
c. Tahan Terhadap Erosi
Beton dapat mengalami kikisan yang diakibatkan oleh adanya orang yang
berjalan kaki dan lalu lintas diatasnya, gerakan ombak laut, atau oleh
partikel- partikel yang terbawa oleh angin dan atau air.
d. Kuat Tekan
Kuat tekan beton ditentukan berdasarkan pembebanan uniaksial benda uji
silinder beton diameter 150 mm, tinggi 300 mm dengan satuan Mpa
(N/mm2).
e. Kuat Tarik
Kuat tarik beton jauh lebih kecil dari pada kuat tekannya, yaitu sekitar 10%-
15% dari kuat tekannya. Kuat tarik beton merupakan sifat yang penting
untuk memprediksi retak dan defleksi balok.
f. Modulus Elastisitas
Modulus elastisitas beton adalah perbandingan antara kuat tekan beton
dengan regangan beton biasanya ditentukan pada 25%-50% dari kuat tekan
beton.

9
g. Rangkak (Creep)
Merupakan salah satu sifat dimana beton mengalami deformasi terus
menerus menurut waktu dibawah beban yang dipikul.
h. Susut (Shrinkage)
Merupakan perubahan volume yang tidak berhubungan dengan pembebanan.
2. Sifat-sifat yang harus dipenuhi dalam jangka waktu pendek ketika beton dalam
kondisi plastis (workability) atau kemudahan pengerjaan tanpa adanya
segregation dan bleeding.
a. Workability
Workability adalah kemudahan pengerjaan yang dilihat dari nilai slump yang
identik dengan tingkat keplastisan beton. Semakin plastis beton, semakin
mudah pengerjaannya. Unsur-unsur yang mempengaruhi workability yaitu:
1) Jumlah air pencampur. Semakin banyak air semakin mudah untuk
dikerjakan.
2) Kandungan semen. Semakin banyak semen berarti semakin banyak
kebutuhan air sehingga keplastisannya pun akan lebih tinggi.
3) Gradasi campuran pasir dan kerikil. Jika memenuhi syarat dan sesuai
dengan standar akan lebih mudah untuk dikerjakan.
4) Bentuk butiran agregat kasar. Agregat berbentuk bulat akan lebih mudah
untuk dikerjakan.
5) Butir maksimum
6) Cara pemadatan dan alat pemadat
b. Segregation (pemisahan kerikil)
Segregation adalah kecenderungan butir-butir kasar untuk lepas dari
campuran beton yang akan menyebabkan sarang kerikil yang pada akhirnya
akan menyebabkan keropos pada beton. Segregasi disebabkan oleh beberapa
hal yaitu:
1) Campuran kurus atau kurang semen
2) Terlalu banyak air
3) Besar ukuran agregat maksimum > 40 mm

10
4) Permukaan butir agregat kasar karena semakin kasar permukaan butir
agregat, maka semakin mudah terjadi segregasi.
Segregasi dapat dicegah jika:
1) Tinggi jatuh diperpendek
2) Penggunaan air sesuai dengan syarat
3) Cukup ruangan antara batang tulangan dengan acuan
4) Ukuran agregat sesuai dengan syarat
5) Pemadatan baik
c. Bleeding
Bleeding adalah kecenderungan air untuk naik ke permukaan pada beton
yang baru dipadatkan. Air yang naik ini membawa semen dan butir halus
pasir yang pada saat beton mengeras nantinya akan membentuk selaput
(laitance). Bleeding dipengaruhi oleh:
1) Susunan butir agregat Jika komposisinya sesuai, kemungkinan untuk
terjadinya bleeding kecil.
2) Banyaknya air Semakin banyak air, berarti semakin besar pula
kemungkinan terjdinya bleeding.
3) Kecepatan hidrasi Semakin cepat beton mengeras, semakin kecil
kemungkinan terjadinya bleeding.
4) Proses pemadatan Pemadatan yang berlebihan akan menyebabkan
terjadinya bleeding.
Bleeding dapat dikurangi dengan cara:
1) Memberi lebih banyak semen.
2) Menggunakan air sesedikit mungkin.
3) Menggunakan butir halus lebih banyak

Karakteristik beton meliputi:


1. Karakteristik beton adalah mempunyai tegangan hancur tekan yang tinggi serta
tegangan hancur tarik yang rendah.

11
2. Beton tidak dapat dipergunakan pada elemen konstruksi yang memikul momen
lengkung atau tarikan.
3. Beton sangat lemah dalam menerima gaya tarik, sehingga akan terjadi retak yang
makin lama makin besar.
4. Proses kimia pengikatan semen dengan air menghasilkan panas dan dikenal
dengan proses hidrasi.
5. Air berfungsi juga sebagai pelumas untuk mengurangi gesekan antar butiran
sehingga beton dapat dipadatkan dengan mudah.
6. Kelebihan air dari jumlah yang dibutuhkan akan menyebabkan butiran semen
berjarak semakin jauh sehingga kekuatan beton akan berkurang.
7. Dengan perkiraan komposisi (mix design) dibuat rekayasa untuk memeriksa dan
mengetahui perbandingan campuran agar dihasilkan kekuatan beton yang tinggi.
8. Selama proses pengerasan campuran beton, kelembaban beton harus
dipertahankan untuk mendapatkan hasil yang direncanakan.
9. Untuk menjaga keretakan yang lebih lanjut pada suatu penampang balok, maka
dipasang tulangan baja pada daerah yang tertarik.
10. Pada beton bertulang memanfaatkan sifat beton yang kuat dalam menerima gaya
tekan serta tulangan baja yang kuat menerima gaya tarik.
11. Dari segi biaya, beton menawarkan kemampuan tinggi dan harga yang relatif
rendah.
12. Beton hampir tidak memerlukan perawatan dan masa konstruksinya mencapai 50
tahun serta elemen konstruksinya yang mempunyai kekakuan tinggi serta aman
terhadap bahaya kebakaran.
13. Perubahan volume sebagai fungsi waktu berupa susut dan rangkak.\

2.4 Kelebihan dan kekurangan beton


Kelebihan dan kekurangan dari beton menurut Nugraha. P (2007), adalah
sebagai berikut:
1. Kelebihan

12
a. Dapat dengan mudah mendapatkan material dasarnya (availability). Agregat
dan air pada umumnya bisa didapat dari lokal setempat. Semen pada
umumnya juga dapat dibuat didaerah setempat, bila tersedia. Dengan
demikian, biaya pembuatan relatif murah karena semua bahan bisa didapat di
dalam negeri, bahkan bisa setempat.
b. Kemudahan untuk digunakan (versatility).
c. Kemampuan beradaptasi (adaptability) sehingga beton dapat dicetak dengan
betuk dan ukuran berapapun.
d. Tahan terhadap temperatur tinggi.
e. Biaya pemeliharaan yang kecil karena beton termasuk bahan yang awet.
f. Mampu memikul beban yang berat.
2. Kekurangan
a. Berat sendiri beton yang besar, sekitar 2400 kg/m3.
b. Kekuatan tariknya rendah, meskipun kekuatan tekannya besar.
c. Beton cenderung untuk retak, karena semen nya hidrolis. Baja tulangan bisa
berkarat, meskipun tidak terekspose separah struktur baja.
d. Kualitasnya sangat tergantung cara pelaksanaan di lapangan. Beton yang
baik maupun buruk dapat terbentuk dari rumus dan campuran yang sama.
e. Struktur beton sulit untuk dipindahkan. Pemakaian kembali atau daur ulang
sulit dan tidak ekonomis. Dalam hal ini struktur baja lebih unggul, misalnya
tinggal melepas sambungannya saja.

2.5 Kegunaan Beton


Pada umumnya, kegunaan utama dari beton adalah sebagai bahan baku utama
konstruksi bangunan seperti bangunan gedung, jembatan, jalan, bendung dan lain-
lain.
Hal ini dikarenakan harganya yang relatif murah, kemudahan dalam pelaksanaannya,
mudah dibuat baik di pabrik (precast) maupun langsung di tempat proyek
berlangsung dan kekuatannya dapat diatur sedemikian rupa, sehingga sesuai yang
diinginkan, bahkan bentuk dan ukurannya dapat diatur sesuai kebutuhan. Beton

13
digunakan sebagai bahan yang sangat kuat, tahan karat dan tahan terhadap api. Selain
itu, beton yang lebih menonjol dibandingkan bahan konstruksi yang lain yaitu
memiliki kuat tekan yang tinggi.

2.6 Standar dan Peraturan Beton


Beberapa standar dan peraturan yang menjadi pedoman dalam pembuatan
maupun penggunaan beton untuk menentukan mutu/spesifikasi adalah sebagai
berikut:
1. PBI 1971, Peraturan Beton Bertulang Indonesia
2. Standar Nasional Indonesia (SNI):
 SNI 03-1968-1990, Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus
dan kasar.
 SNI 03-1972-1990, Metode pengujian slump beton.
 SNI 03-1973-1990, Metoda pengujian berat isi beton.
 SNI 03-1974-1990, Metode pengujian kuat tekan beton.
 SNI 03-2491-1991, Metode pengujian kuat tarik belah beton.
 SNI 03-2493-1991, Metode pembuatan dan perawatan benda uji beton di
laboratorium.
 SNI 03-2495-1991, Spesifikasi bahan tambahan untuk beton.
 SNI 03-2816-1992, Metode pengujian kotoran organik dalam pasir untuk
campuran mortar dan beton.
 SNI 03-3418-1994, Metode pengujian kandungan udara pada beton segar.
 SNI 03-3976-1995, Tata cara pengadukan dan pengecoran beton.
 SNI 03-4433-1997, Spesifikasi beton siap pakai.
 SNI 03-4810-1998, Metode pembuatan dan perawatan benda uji beton di
lapangan.

14
 SNI 03-2834-2000, Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal.
 SNI 03-6429-2000, Metode pengujian kuat tekan beton silinder dengan
cetakan silinder di dalam tempat cetakan.
 SNI 15-2049-2004, Semen portland.
 SNI 2847-2002, Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan
Gedung
3. American Society for Testing and Materials (ASTM) :
 ASTM C 403-90, Time of Setting of Concrete Mixtures by Penetration
Resistance
 ASTM C 33-93, Standard Spesification for Concrete Aggregates.
 ASTM C 989-95, Spesification for Ground Granulated Blast Furnace Slag
for use in Concrete and Mortars.
4. American Concrete Institute (ACI) :
 ACI 363R-92, State-of-the-art on High-Strength Concrete
 ACI 305R-99, Hot Weather Concreting

15
BAB III
PENUTUP

c.1 Kesimpulan
Beton merupakan campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang
lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan yang
membentuk masa padat (SNI 03-2847-2002). Sebagai mahasiswa teknik
sipil/engineer, haruslah mengetahui prinsip-prinsip dasar dari beton baik itu sifat-sifat
beton, kelebihan dan kekurangan beton, kegunaan beton, hingga standar-standar yang
digunakan dalam pembuatan dan penggunaan beton agar mengetahui bagaimana
pelaksanakan pembuatan beton yang baik dan sesuai dengan prosedur demi
mendapatkan kualitas dan keseragaman beton seperti yang disyaratkan.

c.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan, adalah sebagai berikut:
1. Perlu di perhatikan ketika menggunakan beton sebagai bahan struktur, pekerjaan
beton harus di perhitungkan dan dilakukan dengan matang, karena jika tidak
kualitas beton akan menurun.

16
2. Seorang perencana struktur hendaklah selalu mengikuti perkembangan peraturan
dan pedoman-pedoman standar dalam perencanaan struktur, sehingga bangunan
yang dihasilkan nantinya selalu memenuh persyaratan terbaru yang ada.
3. Pemilihan metode pelaksanaan maupun penggunaan bahan dan peralatan
berpedoman pada faktor kemudahan dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan,
pengalaman tenaga kerja serta segi ekonomisnya.

17