Anda di halaman 1dari 38

PANDUAN

KAMAR ISOLASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFE

DAFTARISI

KATA PENGANTAR
11
DAFTAR 181....................................................................................................................... 111
BABI DEFINISI 1
BAB II RUANG LINGKUP 3
BAB III TATA LAKSANA 4
BABIV DOKUMENTASI ···················································································· 18
BAB V PENUTUP ···················································································· 19
BAB I
DEFINIS

Kamar isolasi adalah ruangan khusus yang terdapat di Rumah


Sakit untuk merawat pasien dengan kondisi medis tertentu yaitu penyakit infeksi
yang ditularkan melalui udara, dan penyakit-penyakit yang menyebabkan
penurunan daya tahan tubuh secara ekstrim. Pasien ditempatkan secara terpisah
dari pasien lain dengan tujuan mencegah penyebaran penyakit atau infeksi kepada
pasien lain dan pemberi layanan kesehatan, serta untuk melindungi pasien dengan
imunosupresi dari risiko tertular penyakit infeksi dari pasien lain, petugas dan
lingkungan.
Penyakit infeksi yang ditularkan melalui udara adalah penyakit yang
disebarkan oleh mikroorganisme yang mempunyai partikel krang dari 5 mikron
dan melayang dapat bertahan lama di udara hingga 24 jam. Penyakit-penyakit
tersebut adalah penyakit TB Paru yang disebabkan oleh
Mycobacteriumtuberculosis, Flu Burung yang disebabkan oleh virus H5Nl,
H7N9, MERC (Middle East Respiratory Corona Virus), penyakit cacar air
yang disebabkan oleh virus Varicella-Zoster, dan Campak yang disebabjkan
virus measles (Rubella) yang sering kali di picu karena system udara di fasilitas
pelayanan kesehatan yang tidak baik.
Pasien imunosupresi adalah apsien-pasien yang mempunyai defisiensi
mekanisme imun yang disebabkan gangguan imunologi (antara lain Infeksi
Human lmmunodefisiensi Virus [HIV], Sindrom defisiensi imun kongeital,
penyakit- penyakit kronik [diabetes mellitus, kanker, emfiesema, gagal jantung] )
atau terapi imunosupresi (antara lain radiasi, kemoterapi sitotoksik, medikasi
dan injeksi, pengobatan steroid) pasien imunosupresi yang dimasukkan sebagai
pasien risiko tinggi harus mempunyai risiko infeksi paling tinggi untuk mendapat
infeksi yang ditularkan mikroorganisme melalui udara atau air.).
BAB II
RUANG LINGKUP

Ruang lingkup kamar Isolasi terdiri dari:

1. Standar Ruang isolasi penularan melalui udara


2. Pencegahan kontaminasi siang
3. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di ruang isolasi
4. Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksaan linen
5. Pembersihan lingkungan ruang isolasi selama ditempati dan sesudah
pasien pindah atau pulang
6. Edukasi bagi pengunjung dan pasien ruang isolasi
7. Penanganan pasien dengan penularan melalui udara bila tidak memiliki
ruangan tekanan negative
8. Edukasi stafftentang penanganan pasien infeksi
9. Penempatan pasien berdasarkan penularan melalui udara dan melalui
droplet
10. Bersama pasien lain yang terinfeksi aktif dengan mikroorganisme yang
sama (Kohort)
11. Penanganan pasien menular sementara ruang isolasi belum tersedia
12. Pemindahan pasien dari ruang isolasi
13. Penanganan specimen
14. Kesehatan profesi

3
BAB III
TATALAKSANA

Pasien-pasien dengan infeksi penularan melalui udara harus dirawat diruangan


khusus atau secara kohort pada ruang isolasi penularan melalui udara (airborne),
karena pasien tersebut merupakan sumber penyakit yang dapat menyebabkan
mikroba ke lingkungan sekitar dan bertahan lama di udara. Sementara pasien yang
mempunyai penyakit yang menyebabkan imunitas yang rendah atau dengan
keadaan imunitas rendah atau imunosupresi harus di tempatkan di ruang isolasi
dengan tekanan positif karena pasien tersebut sangat berisiko tertular infeksi dari
pasien lain, petugas, pengunjung, maupun lingkungan dengan berbagai macam
jalur transmisi.

Skrinning dilakukan mulai pasien datang ke Instalasi Rawat Jalan (IRJ) Poliklinik,
Instalasi Gawat Darurat (IGD). Semua pasien dengan gejala-gejala batuk atau
gamgguan saluran pemapasan atas (ISPA) langsung diberikan masker bedah.

A. StandarRuangIsolasi

1. Ruangisolasi penularanmelalui udara

a. Desain ruang isolasi penularan melalui udara dilengkapi dengan ruang


antara(anteroom)

b. Kamar isolasi penularan melalui udara bertekanan negative,


menggunakan ventilasi alamiah dengan cara jendela dibuka ke arah luar
gedung, dipasang kipas angin dinding, angin diarahkan ke jendela.

c. Kamar isolasi dilengkapi HEPAfilter

d. Tekanan udara di monitor menggunakan magnehelic, suhu dan


kelembaban udara kamar di monitor menggunakan hygrometer
thermometer dan di dokumentasikan.

4
5

e. Standar pintu kamar isolasi harus kedap terhadap pertukaran udara dan
pintu ke arah dalam (dua buah) di ruang antara harus selalu tertutup dan di
pasang door closer.

f. Harns dilakukan evaluasi tekanan udara secara berkala dalam ruang isolasi
dengan tes asap.

g. Pasien dengan penyakit yang sama ditempatkan dalam satu kamar


(kohorting), pasien dewasa di Ruang Isolasi Arofah sedangkan pasien
anak- anak ditempatkan di ruang Isolasi lbnu Sina.

2. Isolasi pasien imunosupresi

a. Desain ruang isolasi imunosupresi harus dilengkapi dengan ruang antara


(ante room)

b. Kamar isolasi pasien imunosupresi bertekanan positif menggunakan air


conditioner sehingga udara dalam kamar isolasi lebih dingin dibandingkan
udara luar kamar.

c. Tekanan udara dimonitor menggunakan magnehelic, suhu dan kelembaban


udara kamar dimonitor menggunakan hygrometer thermometer dan
didokumentasikan. Standar pintu kamar isolasi harus memenuhi standar
pintu kamar isolasi yaitu kedap terhadap pertukaran udara, dan pintu ke a
rah dalam (dua buah) di ruang antara harus selalu tertutup dan di pasang
door closer.

d. Harns dilakukan evaluasi tekanan udara secara berkala dalam ruang isolasi
dengan tes asap.

e. Ruang perawatan pasien imunosupresi anak di ruang Isolasi Anak Ibnu


Sina lantai 2.
6

3. Kriteria pasien masuk dan keluar kamar operasi

a. Kriteria masuk kamar isolasi

1) Pasien masuk kamar isolasi penularan melalui udara:

a) Pasien yang masuk ke ruang rawat isolasi penyakit menular melalui


udara yaitu: Penyakit TB paru yang disebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosis, penyakit cacar air, yang disebabkan oleh virus
varicella zoster. Campak yang disebabkan virus measles (rubella)
dan Flu Burung yang H5Nl, H7N9 dan MERC (Middle East
Respiratory Corona Virus). Diagnose tersebut ditegakkan di IGD/
Poliklinik oleh dokter yang bertugas dan telah dikonfirmasikan ke
dokter konsulen penanggungjawab pasien dan berkolaborasi dengan
tim TB divisi infeksi dan penyakit tropic SMF Ilmu Kesehatan Anak
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

b) Pasien dengan TB paru masuk kamar isolasi tekanan negative apabila


hasil BTA positif dan negative, suspek TB Paru dan Tb yang klinis
dan radiologis mengarah adanya TB yang infeksius.

c) Khusus untuk kasus tersangka Flu burung dan MERC pasien


ditempatkan di ruang isolasi khusus yang sifatnya sementara (lama 6
jam) yang selanjutnya dirujuk ke rumah sakit rujukan khusus infeksi
nasional yaitu RSUP dr. Sarjito. Selama berada di ruang isolasi
sementara pasien dilakukan pemeriksaan darah rutin dan PCR HSN1,
H7N9 dan MERC yang diambil oleh petugas laboratorium dan
dikirim ke Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kementrian
Kesehatan.
7

2) Pasien yang masuk ke kamar isolasi imunosupresi

Pasien yang masuk ke kamar isolasi imunosupresi adalah pasien dengan


gangguan imunologi (antara lain lnfeksi Human Immunodefisiensi
Virus [HIV], Sindrom defisiensi imun congenital, penyakit-penyakit
kronik [diabetes mellitus, kanker, emfisema, gagal jantung]) atau
terapi imunosupresi (antara lain radiasi, kemoterapi sitotoksik,
medikasi anti rejeksi, pengobatan steroid) dengan basil laboratorium
neutrophil :S 500 sel/microliter.

3) Kriteria pasien keluar kamar isolasi penularan melalui udara

Pasien dengan TB paru boleh di pindahkan dari ruang isolasi ke ruang


perawatan atau pulang bila telah mendapat terapi obat anti tuberculosis
(OAT) intensif selama 2 minggu dan pasien yang awalnya BTA positif
terdapat konversi BTA negative.

Kasus cacar air dan campak dapat keluar dari kamar isolasi setelah satu
minggu perawatan dan atau krusta sudah bersih.

b. Petugas yang berwenang

Petugas yang berwenang menentukan pasien dirawat di kamar isolasi atau


keluar kamar isolasi adalah dokter penanggungjawab pasien (DPJP)

c. Tata Laksana Kamar Isolasi

1) Pencegahan kontaminasi silang

a) Lakukan kebersihan tangan sebelum kontak dengan pasien, sebelum


melakukan tindakan aseptic, sesudah kontak dengan pasien, sesudah
terkena cairan tubuh pasien, sesudah meninggalkan lingkungan
pasien, segera setelah melepas Alat Pelindung Diri (APD).
8

b) Tanda peringatan kewaspadaan standar berdasarkan transmisi harus


terpasang di pintu masuk ruang isolasi.

2) Penggunaan APD di ruang isolasi

a) APD yang digunakan adalah sesuai dengan APD untuk mencegah


penularan infeksi melalui udara, terdiri dari:

• Petugas dan pengunjung menggunakan masker N 95.

• Bila pasien keluar kamar isolasi menggunakan masker


bedah

4. Penggunaan APD di ruang Isolasi

a. APD yang digunakan adalah sesuai dengan APD untuk mencegah


penularan infeksi melalui udara, terdiri dari:

1) Petugas dan pengunjung menggunakan masker N 95

2) Bila pasien keluar kamar isolasi menggunakan masker

b. APD yang lain digunakan sesuai dengan risiko pajanan

c. Perlengkapan APD diletakkan di ruang antara (anteroom) isolasi.

d. APD harus digunakan dalam konteks strategi dan rekomendasi pencegahan


dan pengendalian infeksi berdasarkan kewaspadaan standar, kontak droplet
dan udara.

e. Penggunaan kembali perlengkapan APD sekali pakai harus dihindari

f. Pemilihan APD harus sesuai dengan perkiraan risiko terjadi pajanan.


Perkirakan risiko terpajan cairan tubuh atau area terkontaminasi sebelum
melakukan kegiatan perawatan kesehatan.
9

g. Kenakan APD sebelum kontak dengan pasien, yaitu

sebelum memasuki ruangan. Gunakan dengan hati-hati, jangan

menyebarkan kontaminasi.

h. Tangan hams selalu dibersihkan meskipun menggunakan APD

i. Lepas dan ganti bila perlu segala perlengkapan APD yang dapat
digunakan kembali yang sudah rusak atau sobek segera setelah Anda
mengetahui APO tersebut tidak berfungsi optimal.

j. Lepaskan semua APD sesegera mungkin setelah selesai


memberikan pelayanan dan hindari kontaminasi

k. Buang semua perlengkapan APD dengan hati-hati dan segera lakukan


hand hygiene.

l. Penggunaan sarung tangan:

Pencegahan kontaminasi tangan personil kesehatan ketika:

I) Mengantisipasi kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh,


selaput lendir.

2) Lepas sarung tangan dengan benar untuk mencegah kontaminasi


tangan.

3) Lakukan kebersihan tangan segera setelah melepaskan sarong

tangan. m. Penggunaan Masker

I) Masker efisiensi tinggi (N 95) direkomendasikan bila penyaringan


udara dianggap penting (misalnya kasus flu burung atau SARS) dan
TB paru.

2) Lakukan fit test setiap saat sebelum memakai masker efisiensi tinggi.

3) Masker bedah hams terpasang erat di wajah menutupi hidung dan


mulut pemakai dan harus segera dibuang setelah dipakai.
10

4) Bila masker basah atau kotor terkena secret harus segera diganti.

n. Gaun Pelindung

1) Penggunaan gaun pelindung harus diutamakan untuk pelaksanaan


prosedur yang menimbulkan aerosol yang berkaitan dengan risiko
penularan pathogen dan untuk kegiatan yang beredekatan dengan
pasien atau bila ada kemungkinan seringnya kontak langsung dengan
pasien.

2) Bila gaun pelindung tidak mencukupi, gaun pelindung petugas


kesehatan bias dipakai untuk pelayanan lebih dari satu pasien di ruang
rawat gabungan saja dan bila gaun pelindung tidak bersentuhan
langsung dengan pasien

o. Pelindung Mata

1) Kacamata biasa tidak dirancang untuk perlindungan percikan terhadap


mukosa mata dan tidak boleh digunakan sebagai pelindung mata

2) Alat pelindung mata yang dapat dipakai ulang bias digunakan (goggle,
faceshield), dan harus dibersihkan dan didekontaminasi dengan benar
setelah digunakan sesuai dengan petunjuk.

3) Pembesihan harus dilakukan sebelum disinfeksi.

5. Pemrosesan peralatanpasien dan penatalaksanaanlinen

a. Bila peralatan digunakan kembali, ikuti prosedur disinfeksi dan sterilisasi


sesuai denganjenis penggunaannya (kritikal, semi kritikal, dan non kritikal).

b. Peralatan makan dan minum pasien cukup dicuci dengan menggunakan air
panas dan detergent
11

c. Perlengkapan sekali pakai harus dibuang sebagai limbah.

d. Semua linen bekas pakai dari ruang isolasi yang tidak terpapar cairan tubuh
pasien di kelola sebagai linen non infeksius dan linen yang terpapar cairan
tubuh dikelola sebagai linen infeksius.

e. Jangan memilah linen di tempat perawatn pasien, manipulasi minimal dan


jangan mengibas-ibaskan untuk menghindari kontaminasi udara dan orang.

f. Semua petugas yang menangani peralatan yang sudah digunakan dan linen
kotor hams menerapkan kewaspadaan standard an membersihkan tangan
setelah memakai APD.

6. Pembersihan lingkungan kamar isolasi selama ditempati dan sesudah


pasien pindah atau pulang.

a. Pembersihan noda (ekskresi, sekresi pasien, kotoran, noda,dll) hams


dilakukan sebelum dilakukan disinfeksi menggunakan deterjen dan air.

b. Setelah dibersihkan dengan deterjen dan air dilap dengan larutan sodium
hipochlort 0,05% - 0,5% ; NaDCC atau alcohol 95%.

c. Permukaan horizontal diruang isolasi, terutama tempat tidur dan barang


yang sering disentuh oleh pasien hams.

d. Hindari pembersihan aerosolisasi pathogen, hams dilakukan


pembersihan lembab, jangan menggunakan pembersihan kering atau
menyapu.

e. Peralatan yang digunakan untuk pembersihan dan disinfeksi harus


dibersihkan dan dikeringkan setelah digunakan.

f. Untuk mempermudah pembersihan setiap hari, singkirkan persediaan


dan peralatan yang tidak perlu dari lokasi di sekitar pasien.
12

g. Petugas yang membersihkan kamar isolasi pasien menular melalui udara


harus menggunakan sarong tangan rumah tangga dan masker N95

7. Edukasi bagi pengunjung dan pasien ruang isolasi

a. Pengunjung harus menggunakan APD sesuai standar di fasilitas


pelayanan dan harus diberi petunjuk mengenai cara penggunaannya
serta mengenai praktek kebersihan tangan sebelum memasuki ruang
isolasi.

b. Pemberian informasi tentang kewaspadaan standar kebersihan tangan,


etika batuk dan strategi pencegahan infeksi rutin lainnya pada saat
pasien masuk RS.

c. Penyediaan informasi dalam bentuk pamflet, dan materi cetakan lainnya


yang mencakup informasi tentang dasar pemikiran pencegahan infeksi.

d. Pendidikan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) terhadap pengunjung dan


pasien ruang isolasi secara rutin dan terjadwal.

8. Penanganan pasien dengan penularan airborne bila tidaktersedia ruangan


tekanan negative

a. Tempatkan pasien di ruang terpisah yang berventilasi baik

b. Kamar harus terletak di tempat yang jelas terpisah dari tempat perawatan
pasien lainnya.

c. Prosedur yang menimbulkan aerosol yang berkaitan dengan penularan


pathogen harus dilakukan menggunakan APD yang sesuai pencegahan
pathogen yang ditularkan melalui udara.
13

9. Edukasi staff tentang penanganan pasien infeksi

a. Pelatihan tentang penanganan infeksi diberikan kepada semua petugas


yang memiliki kesempatan untuk kotak dengan pasien ataupun
peralatan medis.

b. Petugas harus mendapatkan pelatihan yang sesuai mengenai


penggunaan
APD.

c. Edukasi dalam tugas (in service training) dapat berupa aspek klinis
maupun aspek manajemen program.

d. Pelatihan dasar

1) Pelatihan penuh, seluruh materi diberikan.

2) Pelatihan ulangan (retraining), pelatihan formal yang


dilakukan terhadap peserta yang tela megikuti pelatihan
sebelumya tetapi masih ditemukan banyak masalah dalam
kinerjanya, dan tidak cukup hanya dilakukan melalui supervise.
Materi yang diberikan disesuaikan dengan inkompetensi yang
ditemukan, tidak seluruh materi diberikan seperti pada pelatihan
penuh.

3) Pelatihan penyegaran, pelatihan formal yang dilakukan


terhadap peserta yang telah mengikuti pelatihan sebelumnya
minimal 5 tahun atau ada up-date materi.

4) Pelatihan di tempat tu gas/refresher (On the job training),


diberikan terhadap petugas yang telah mengikuti pelatihan
sebelumnya, tetapi masih ditemukan masalah dalam kinerjanya
pada waktu supervise.

5) Pelatihan lanjutan (continued training/advanced training)


pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan
program yang lebih tinggi.
14

10. Materi pelatihan dao metode pembelajaran

Materi yang akan dipelajari dalam pelatihan hams disesuaikan dengan


kebutuhan program dan tugas peserta latih. Metode pembelajaran harus
mampu melibatkan partisipasi aktif peserta dan mampu membangkitkan
motivasi peserta.

11. Evaluasi pelatihan

Evaluasi hams dilakukan secara sistematis dalam setiap pelatihan dengan


tujuan untuk:

a. Mengetahui apakah tujuan pelatihan telah tercapai atau tidak.

b. Mengetahui mutu pelatihan yang dilaksanakan dan Meningkatkan mutu


pelatihan yang akan datang.

Evaluasi Paska Pelatihan

Kegiatan yang sistematis untuk meningkatkan kinerja petugas dan mengetahui


tingkat pengetahuan, ketrampilan, sikap dan motivasi petugas dalam bekerja.

12. Penempatan Pasien

Air borne precautions:

Tempatkan pasien dikamar tersendiri yang memiliki syarat sebagai berikut:

a. Bertekanan udara negative disbanding dengan ruangan sekitamya.

b. Kali pergantian udara perjam

c. Memiliki saluran pengeluaran udara kelingkungan yang memadai.

d. Pintu kearah dalam hams selalu tertutup


15

e. Bila tidak tersedia, tempatkan pasien bersama pasien lain yang terinfeksi
aktif dengan mikroorganisme yang sama (Kohort)

Droplet precautions:

a. Tempatkan pasien dikamar tersendiri

b. Bila tidak tersedia kamar tersendiri, tempatkan pasien dalan kamar


bersama dengan pasien yang terinfeksi aktif dengan mokroorganisme
yang sama tetapi tidak boleh dengan infeksi yang berbeda.

c. Bila tidak tersedia kamar tersendiri dan tidak ingin menggabungkan


dengan pasien lain, maka pisahkan dengan jarak sedikitnya 1 meter
dengan pasien lainnya.

d. Tidak dibutuhkan penanganan udara dan ventilasi khusus dan pintu


boleh tetap terbuka.

Kontak precautions:

a. Tempatkan pasien di kamar tersendiri

b. Bila tidak tersedia kamar tersendiri, tempatkan pasien dalam kamar


bersama dengan pasien yang terinfeksi aktif dengan mikroorganisme
yang sama tetapi tidak boleh dengan pasien dengan infeksi yang
berbeda.

c. Bila tidak tersedia kamar tersendiri dan penggabungan dengan pasien


lain tidak diinginkan pertimbangan sifat epidemiologi mikroorganisme
dan populasi pasien saat menempatkanpasien.
16

13. Penanganan pasien menular sementara ruang isolasi belum tersedia

a. Tempatkan pasien diruang untuk satu pasien dengan ventilasi yang


memadai

b. Bila memungkinkan, tempatkan pasien dengan jarak terpisah minimal I


meter dari pasien lainnya.

c. Gabungkan (Cohorting) pasien-pasien yang didiagnosis penyebab


penyakitnya sama.

d. Lakukan pengendalian sumber infeksi pada pasien saat batuk dan


pembersihan tangan setelah kontak dengan sekresi pemafasan.

14. Pemindahan pasien

Petugas yang memindahkan pasien dengan penyakit menular melalui udara


harus menggunakan masker N95, sedangkan pasiennya menggunakan masker
bedah. Sedangkan APD yang digunakan untuk memindahkan pasien dengan
penyakit menular melalui droplet baik pasien maupun petugas menggunakan
masker bedah. Tempat penerimaan harus diberitahu sesegera mungkin
sebelum kedatangan pasien mengenai diagnosis pasien tersebut serta
kewaspadaan yang diperlukan.

a. Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar khusus yang tersedia
hanya untuk hal yang sangat penting saja.

b. Bila dibutuhkan pemindahan dan transportasi, perkecil penyebaran droplet


dengan memakai masker bedah pada pasien.

c. Gunakan jalur transport yang mengurangi pajanan staf, pasien lain, dan
pengunjung.
17

d. Bila dibutuhkan pemindahan dan transportasi, pastikan kewaspadaan tetap


terjaga.

15. Penanganan Spesimen

a. Petugas kesehatan yang mengambil specimen dari pasien hams


mengenakan APD sesuai kewaspadaan standar.

b. Spesimen yang akan dibawa harus dimasukkan kantong specimen anti


bocor (kantong plastik specimen biohazard)

c. Spesimen hams dibawa dengan tangan bila memungkinkan, system tabung


pneumonik tidak boleh digunakan untuk membawa specimen.

d. Formulir permintaan harus menyatakan dengan jelas "Suspek ISPA yang


dapat menimbulkan kekhawatiran" dan laboratorium harus diinformasikan
bahwa specimen tersebut "sedang dalam perjalanan".

16. Kesehatan Profesi

a. Petugas kesehatan yang berisiko tinggi mengalami komplikasi (wanita


hamil, daya tahan tubuh rendah, dan orang yang mengalami penyakit
jantung, paru, atau pemafasan) sebaiknya diberikan informasi medis dan
dibebas tugaskan dalam merawat pasien yang menular melalui udara.

b. Pemantauan kesehatan petugas khususnya yang memberikan pelayanan


kepada pasien ISPA yang menimbulkan kekhawatiran dengan pelaporan
diri oleh petugas kesehatan yang memperlihatkan gejala.

c. Berikan akses segera untuk mendapatkan diagnosis, konsultasi, dan


perawatan.
BAB IV
DOKUMENTA
SI

Pemantauan di kamar isolasi meliputi kepatuhan hand hygiene, kepatuhan


menggunakan APD rasional, kepatuhan membuang sampah dengan benanr,
kepatuhan penanganan instrumen, kepatuhan penampatanpasien sesuai
kewaspadaan transmisi (kontak alangsung, droplet ataupun airborne) yang
dilakukan oleh komite PPI dilakukan seminggu sekali dan pelaporan setiap tiga
bulan sekali (tri wulan).

18
BABV
PENUT UP

Panduan Kamar Isolasi ini dibuat agar dapat dipatuhi oleh semua karyawan dan
pengunjung di Rumah Sakit PKU Muhammadiyan Yogyakarta sehingga upaya
pencegahan dan pengendalian infeksi terhadap kewaspadaa transmisi kontak
langsung, droplet dan airborne dapat diminimalkan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerjasama dengan PERDALIN


RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta (2011), Pedoman Manajerial
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Lainnya
PENERAPAN
KEW ASP ADAAN
ISOLASI
RSPKU (ISOLATION
MUHAMMADIY PRECAUTION)
Halaman
AH
:
YOGYAKARTA 1/5
NoDokumen: No Revisi:
01

Ditetapkan
STANDA TanggalTer
R PROSED bit ~~
UR
OPERASION
AL dr. H. JokoMurdiyanto, Sp. An.,
MPH.
PENG ER TIAN NBM:
867.919
Kewaspadaan Isolasi (Isolation precaution) adalah
gabungan kewaspadaan berdasarkan transmisi infeksi
dan kewaspadaan berdasarkan standar.

Kewaspadaan berdasarkan transmisi infeksi diterapkan


terhadap pasien yang diketahui maupun diduga terinfeksi
atau terkolonisasi pathogen yang dapat ditransmisikan lewat
kontak, droplet atau udara.

Kewaspadaan Standar dirancang untuk mengurangi risiko


terinfeksi penyakit menular pada petugas kesehatan baik dari
sumber infeksi yang diketahui maupun yang tidak diketahui.
TUnJAN 1. Tersedianya acuan langkah - langkah penerapan
kewaspadaan isolasi
(isolation precaution)
2. Terlindunginya pasien, petugas dan pengunjung rumah
sakit dari infeksi.
KEBIJAK I. Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
AN
dilaksanakan sesuai Kewaspadaan Standar dan
Kewaspadaan berdasarkan Transmisi yang mengacu
pada Pedoman yang ditetapkan oleh Centre for
Disease Control and Prevention (CDC), World
Health Organization (WHO), Buku Pedoman
Man Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di
PENERAPAN
ajeri Rumah Sakit
al dan Fasi/itas Kesehatan lainnya, Kementrian Kesehatan
RI 2011.
PP!
dan

2. Pengawasan program pencegahan dan pengendalian


infeksi di rumah sakit dilaksanakan oleh
Infectionl'revention and Control Nurse ( IPCN) yang
tersertifikasi.
SK Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta No.
PENERAPAN
KEW ASP ADAAN ISOLASI
(ISOLATION PRECAUTION)
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA NoDokumen: NoRevisi: Halaman:
01 215

0453/SK.3.2/11/2015 tentang Kebijakan Pelayanan Pencegahan


dan
Pengendalian Infeksi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

PROSEDUR 1. Kewaspadaan berdasarkan


Standar a. Pelaksanaan Hand
Hygiene
Bila tangan terlihat kotor atau terkontaminasi oleh kotoran,
darah dan cairan tubuh, tangan harus dicuci dengan sabun dan
air mengalir. Selanjutnya tangan dikeringkan dengan handuk
satu kali pakai kemudian dilanjutkan dengan melakukan hand
hygiene dengan cairan handrub berbasis alkohol.
b. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Alat yang digunakan untuk melindungi kulit dan selaput
Jendir petugas dari risiko pajanan darah, semua jenis cairan
tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir
pasien.
Tujuan pemakaian APD untuk melindungi pasien
dari mikroorganisme yang ada pada petugas kesehatan dan
sebaliknya. Penggunaan APD sesuai jenis risiko pajanan.
c. Pemrosesan Peralatan Pasien dan penatalaksanaanLinen
Suatu proses untuk menghilangkan/ memusnahkan
mikroorganisme dan kotoran yang melekat pada peralatan
medis /obyek, sehingga aman untuk penggunaan selanjutnya.
Tujuan memutus mata rantai penularan infeksi dan peralatan
medis kepada pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan
lingkungan rumah sakit.
d. Pengelolaan Limbah
Semua limbah yang tidak terkontaminasi dengan cairan tubuh
pasien seperti kardus, kertas, botol plastik dan sisa makanan
dapat dibuang ke tempat sampah domestik (plastik hitam).
PENERAPAN
KEW ASP ADAAN ISOLASI
(ISOLATION PRECAUTION)
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA NoDokumen: NoRevisi:
Sedangkan limbah infeksius yang terkontaminasiHalaman:
dengan cairan
tubuh pasien seperti darah,urine,
PENERAPAN
KEW ASP ADAAN ISOLASI
(ISOLATION PRECAUTION)
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA NoDokumen: NoRevisi: Halaman:
01 315

nanah, tinia, jaringan tubuh lainnnya dan bahan lain bukan


dari tubuh seperti bekas pembalut, kasa, kapas dan lain-lain
dimusnahkan dengan diinsenerasi.
e. Pengendalian Lingkungan RS
Semua permukaan horizontal di tempat pelayanan yang
disediakan untuk pasien harus dibersihkan setiap hari dan
bila terlihat kotor. Bila permukaan terse but
bersentuhan langsung dengan
pasien,harusdidisinfeksi dengan larutan chlorin 0, 05%
atau dengan NaDCC atau Alkohol 95%, sedangkan untuk
lingkungan yang terkontaminasi dengan cairan tubuh
pasien, harus didisinfeksi dengan
larutan chlorin 0,
5%.
f. Perlindungan Petugas Kesehatan
Perlindungan yang minimal bagi petugas adalah imunisasi
Hepatitis B. Imunisasi diulang setiap 5 tahun paska
imunisasi disertai dengan program manajemen paska
pajanan tusukan benda tajam dan percikan bagi petugas.
g. Penempatan Pasien
1) Kamar terpisah bila dimungkinkan kontaminasi
luas terhadap lingkungan.
2) Kamar terpisah dengan pintu tertutup diwaspadai
transmisi melalui udara ke kontak.
3) Kamar terpisah atau kohort dengan ventilasi
dibuang keluar
dengan exhaust ke area tidak ada orang lalu lalang.
4) Kamar terpisah dengan udara terkunci bila
diwaspadai transmisi
airborne
luas.
PENERAPAN
KEW ASP ADAAN ISOLASI
(ISOLATION PRECAUTION)
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA NoDokumen: NoRevisi: Halaman:
5) Kamar terpisah bila pasien kurang mampu menjaga
kebersihan. h. Pelaksanaan Hygiene Respirasi!Etika Batuk
Semua pasien, pengunjung dan petugas kesehatan harus
dianjurkan
untuk selalu mematuhi etika batuk dan kebersihan
pernafasan untuk
PENERAPAN
KEW ASP ADAAN ISOLASI
(ISOLATION PRECAUTION)
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA NoDokumen: NoRevisi: Halaman:
01 415

mencegah sekresi
pemapasan.
0. Pelaksanaan menyuntik yang
aman.
Penyuntikan menggunakan jarum steril sekali pakai pada
tiap suntikan untuk mencegah kontaminasi pada peralatan
injeksi dan terapi.
p. Pelaksanaan Lurnbal
punksi
Pemakaian masker bedah pada insersi kateter atau injeksi
suatu obat ke dalarn area spinal I epidural melalui prosedur
lurnbal pungsi.
2. Kewaspadaan berdasarkan
Transmisi a. Kewaspadaan
Transmisi Kontak
Ditujukan untuk menurunkan risiko transmisi mikroba yang
secara epidemiologi ditransmisikan melalui kontak langsung
maupun tidak langsung.
b. Kewaspadaan Transmisi Droplet
Diterapkan sebagai tambahan kewaspadaan standar
terhadap pasien dengan infeksi diketahui atau suspek
mengidap mikroba yang dapat ditransmisikan melalui droplet
( > 5µm).
c. Kewaspadaan Transmisi Airborne(melalui udara)
Diterapkan sebagai tambahan kewaspadaan standar
terhadap pasien yang diduga atau telah diketahui terinfeksi
mikroba yang secara epidemiologi penting dan
ditransmisikan melalui udara,
UNIT TERKAIT l. Instalasi Gawat Darurat
2. Instalasi Bedah
Sentral
PENERAPAN
KEW ASP ADAAN ISOLASI
(ISOLATION PRECAUTION)
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA 3. Intensive Care NoRevisi:
NoDokumen: Unit Halaman:
(ICU)
4. Intermediate Care
(IMC)
5. Unit
Hemodialisa
6. Unit Rawat
Jalan
7. Unit Rawat
Inap
8. Unit
Laborat
9. Unit Bank
Darah
PENERAPAN
KEWASP ADAAN ISOLASI
(ISOLATION PRECAUTION)
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA NoDokumen: No Revisi: Halaman:
01
5/5

10. Unit
Radiologi
11. Unit Rehabilitasi Medik/ Fisioterapi
12. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
13. Komite
Keperawatan
14. Bidang Pelayanan
Medis
15. Bidang
Keperawatan
PENGGUNAAN APD DI RUANG ISOLASI
PENULARAN MELALUI UDARA
RSPKU
MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA NoDokumen: No Revisi: Halaman:
01 1/3
Ditetapkan
STANDAR
TanggalTerbi
PROSED UR ~~
t
OPERASIONA
dr. H. JokoMurdiyanto, Sp. An.,
L
MPH.
NBM:
867.919
PEN GER Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan
TIAN untuk melindungi kulit dan selaput lender petugas dari risiko
pajanan darah, semua jenis cairan tubuh, secret, eksreta, kulit
yang tidak utuh dan selaput lendir pasien.
APD untuk petugas di area pelayanan pasien digunakan sesuai
dengan jenis risiko pajanan.
Ruang isolasi adalah ruangan khusus yang terdapat di Rumah
Sakit yang merawat pasien dengan kondisi medis tertentu
terpisah dari pasien lain ketika mereka mendapat perawatan medis
dengan tujuan mencegah penyebaran penyakit atau infeksi
kepada pasien dan mengurangi risiko terhadap pemberi layanan
kesehatan.
APD terdiri dari : Sarung tangan, Masker, pelindung wajah/kaca
mata, penutup kepala, gaun pelindung, apron, sepatu boot.
Ruang lingkup prosedur ini adalah mulai penyiapan APD sampai
penggunaan masker bedah oleh pasien.
TU JUAN 1. Tersedianya acuan penerapan langkah-langkah penggunaan alat
pelindung diri di ruang isolasi penularan melalui udara.
2. Terhindamya penyebaran penyakit infeksi.
KEBIJAKAN 1. Penggunaan Alat Pelindung Diri wajib digunakan bagi staf terkait
berisiko infeksi sesuai standar kewaspadaan isolasi ( gabungan
kewaspadaan standard an kewaspadaan berdasarkan transmisi)
dalam upaya pencegahan infeksi dan PatientSafety.
2. Untuk melindungi pasien, pengunjung dan staf dari penyakit
menular, pasien yang diketahui atau dicurigai mengidap penyakit
menular diisolasi sesuai dengan penularan berdasarkan transmisi.
3. Pasien dengan penyakit menular melalui udara dirawat diruang
terpisah menggunakan system kohort di dalam ruangan dengan
ventilasi alami bertekanan negative.
4. Penempatan pasien imunosupresi dengan basil pemeriksaan
laboratorium neutrophil :S 500 micro per liter, dilakukan
secara kohort untuk melindungi dari risiko infeksi.
5. Pasien dengan dugaan emerging infectious disease
harus ditempatkan di ruangan terpisah dengan pasien lain.
PENGGUNAAN APD DI RUANG ISOLASI
PENULARAN MELALUI UDARA
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA NoDokumen: No Revisi: Halaman:
01 213

6. Pasien dengan Avian Influenza ditempatkan di ruang isolasi


bertekanan negative, sebelum dirujuk ke rumah sakit yang
mempunyai fasilitas perawatan yang memadai.
7. Pasien suspect TB Paru dan pasien TB Paru BTA Positif dirawat
dengan system kohort secara terpisah menggunakan ventilasi
alami dan HEPA filter sampai 2 minggu terapi Obat Anti TB
(OAT) efektif.
8. Jika pasien infeksi yang membutuhkan ruang isolasi melebihi
kapasitas rumah sakit, maka pasien hams dirujuk ke rumah sakit
rujukan sesuar dengan fasilitas yang dibutuhkan. Sementara
menunggu di rujuk ke rumah sakit lain, pasien diperlakukan
sebagai pasien yang menular melalui udara.

SK Direktur Utarna RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta


No.
0453/SK.3.2/II/2015 tentang Kebijakan Pelayanan Pencegahan
dan
Pengendalian Infeksi RS PKU MuharnmadiyahYogyakarta
PROSED 1. Persiapan APD di ruang isolasi oleh petugas satuan kerja
UR meliputi: tutup kepala, masker bedah, masker N-95, kaca mata
pelindung, gaun.
2. Penggunaan APD oleh petugas atau pengunjung dilakukan di luar
kamar atau di anteroom dengan menerapkan prinsip penggunaan
APD yaitu menilai fungsi APD dan risiko pajanan, dengan urutan
sebagai berikut:
a. Pelaksanaan handrub
b. Penggunaan tutup kepala
c. Penggunaan masker bedah
d. Penggunaan baju pelindung
e. Penggunaan kaca mata pelindung
f. Pelaksanaan handrub
3. Pelaksanaan melepas APD oleh petugas/pengunjung segera
PENGGUNAAN APD DI RUANG ISOLASI
PENULARAN MELALUI UDARA
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA NoDokumen: No Revisi: Halaman:
01 313

setelah meninggalkan pasien di anteroom dengan urutan


sebagai berikut:
a. Lepaskan baju pelindung, masukkan ke container linen
kotor
b. Lepaskan kacamata pelindung, simpan pada tempat yang
telah disediakan
c. Lepas masker N-95, buang ke tempat sampah
infeksius d. Lepas tutup kepala, buang ke tempat
sampah infeksius e. Pelaksanaan handrub
4. Penggunaan masker bedah pada pasien penyakit menular
melalui
udara, bila keluar
ruangan/ditransfer.

UNIT TERKAIT 1. Instalasi Gawat Darurat


2. Instalasi Rawat Jalan
3. Instalasi Rawat Inap
4. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
5. Komite Keperawatan
6. Bidang Pelayanan Medis
7. Bidang Pelayanan Keperawatan
PEMBERSIHAN KAMAR I RUANG ISOLASI
SELAMA DITEMPATI DAN SESUDAH PASIEN
PINDAR RUANG ATAU PULANG
RSPKU
MUHAMMADIY
AH
YOGYAKAR NoDokumen: No Halama
Revisi: n:
TA 01 115
Ditetapka
STANDAR n
TanggalTer DirekturUta
PROSED UR bit ma
OPERASION
AL
dr. H. JokoMurdiyanto, Sp. An.,
MPH.
NBM:
867.919
PENG ER Ruang lsolasi adalah ruangan khusus yang terdapat di rumah
TIAN
sakit yang merawat pasien dengan kondisi medis tertentu,
terpisah dari pasien lain ketika mereka mendapat perawatan
medis dengan tujuan mencegah penyebaran penyakit atau
infeksi kepada pasien dan mengurangi risiko terhadap pemberi
layanan kesehatan.

Pembersiban Lingkungan adalah tindakan untuk menyingkirkan


sumber - sumber kontaminasi yang ada di lingkungan ruang
rawat pasien yang dapat mencegah penyebaran penyakit atau
infeksi kepada pasien dan petugas kesehatan.

Untuk mempermudah pembersihan setiap hari, singkirkan


TUWAN persediaan dan peralatan yang tidak perlu dari lokasi sekitar
pasien.

1. Tersedianya acuan penerapan langkah - langkah


pembersihan ruang isolasi selama ditempati dan sesudah
pasien pindah atau pulang.
2. Terhindarnya dari penularan penyakit infeksi.

KEBIJAKAN 1. Untuk melindungi pasien, pengunjung dan staff dari


penyakit menular, pasien yang diketahui atau dicurigai
mengidap penyakit menular diisolasi sesuai dengan
penularan berbasis transmisi.
2. Pasien dengan penyakit menular melalui udara dirawat
di ruang terpisah menggunakan sistem kohort di dalam
ruangan dengan ventilasi alami bertekanan negatif.
PEMBERSIHAN KAMAR I RUANG ISOLASI
SELAMA DITEMPATI DAN SESUDAH PASIEN
PINDAH RUANG ATAU PULANG
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA No Dokurnen : No Revisi: Halaman:
01 215

3. Penempatan pasien imunosupresi dengan hasil pemeriksaan


laboratorium neutrophil ~ 500 micro per liter, dilakukan secara
kohort untuk melindungi dari risiko penyakit.
4. Pasien dengan dugaan emerging infectious disease harus
ditempatkan di ruangan terpisah dari pasien lain.
5. Pasien dengan Avian Influenza ditempatkan di ruang isolasi
bertekanan negatif, sebelum dirujukke rumah sakit yang
mempunyai fasilitas perawatan yang memadai. Pasien suspek
TB Paru dan pasien TB Paru BTA positif dirawat dengan sistem
kohort secara terpisah menggunakan ventilasi alami dan HEPA
filter sampai 2 minggu terapi Obat Anti TB(OAT) efektif.
6. Jika pasien infeksi yang membutuhkan ruang isolasi melebihi
kapasitas rumah sakit, maka pasien harus dirujuk ke rumah sakit
rujukan sesuai dengan fasilitas yang dibutuhkan. Sementara
menunggu dirujuk ke rumah sakit lain, pasien diberlakukan
sebagai pasien yang menular melalui udara.
SK Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
No.
0453/SK.3.2/II/2015 tentang Kebijakan Pelayanan Pencegahan
dan
Pengendalian Infeksi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

PROSEDUR 1. Pembersihan ruang isolasi dilakukan oleh petugas


kebersihan I
cleaning service dengan metode pembersihan lembab,
hindari
pembersihan aerosolisasi jangan
pathogen, menggunakan
pembersihan kering atau menyapu.
a. Pembersihan dilakukan 2 kali perhari, pagi dan sore hari
atau bila tampak kotor.
b. Pembersihan lingkungan meliputi permukaan yang sering
disentuh, seperti : pegangan pintu, sakJar lampu,
pegangan di kamar mandi, didnding di sekitar toilet di
PEMBERSIHAN KAMAR
kamar mandi I RUANG ISOLASI
pasien.
SELAMA DITEMPATI DAN SESUDAH PASIEN
PINDAH RUANG ATAU PULANG
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA No Dokurnen : No Revisi: Halaman:
01 215
PEMBERSIHAN KAMAR I RU ANG ISOLASI
SELAMA DITEMPA TI DAN SESUDAH PASIEN
PINDAH RUANG ATAU PULANG
RSPKU
MUHAMMADIY AH
YOGYAKARTA No Dokurnen : No Revisi: Halaman:
01 315

c. Pembersihan tirai pasien harus dilepas dan dicuci waktu


pasien pulang.
d. Pembersihan permukaan dengan menggunakan larutan
chlorin
0, 05% atau dengan NaDCC atau Alkohol 95%,
sedangkan permukaan yang terkontaminasi dengan cairan
tubuh dibersihkan dengan menggunakan larutan
chlorhexidin 0,5%.
2. Peralatan yang digunakan untuk pembersihan dan disinfeksi
harus dibersihkan dan dikeringkan setelah digunakan oleh
petugas kebersihan.
3. Pemantauan menggunakan daftar tilik/ eek list untuk
monitoring Pembersihan ruang isolasi dilaksanakan oleh Komite
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.

UNIT TERKAIT 1. lnstalasi Gawat Darurat


2. Intensive Care Unit (ICU)
3. Intermediate Care (IMC)
4. Unit Hemodialisa
5. Unit Rawat Jalan
6. Unit Rawat Inap
7. Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
8. Komite Keperawatan
9. Bidang Pelayanan Medis
10. Bidang Keperawatan

PEMBERSIHAN KAMAR I RUANG ISOLASI


SELAMA DITEMPATI DAN SESUDAH PASIEN
PINDAH RUANG ATAU PULANG
RSPKU
MUHAMMADIY
AH
YOGYAKAR NoDokumen: No Halaman
Revisi: :
TA 01 415

LAMPIRAN ALUR PEMBERSIHAN RUANG ISOLASI


SELAMA DITEMPATI DAN SESUDAH PASIEN
PINDAH

MULA
I

Petugas
Kebersihan

Pembersihan ruang
Isolasi

PETUGAS KEBERSIHAN

Pembersihan peralatan yang

digunakan
untuk pembersihan dan
disinfeksi

KPPI

Pemantauan Pembersihan Ruang


Isolasi

SELESAI
( ]