Anda di halaman 1dari 1

menyebarkan informasi bencana.

Penggunaan media online dan situs web media sosial


seperti dua arah dapat lebih bernilai selama tanggap darurat dibandingkan dengan
media massa tradisional (televisi, radio, surat kabar, dan majalah), yang merupakan
satu arah.
Media sosial (online) untuk keadaan darurat dan bencana pada tingkat organisasi
dapat dianggap sebagai dua kategori. Pertama, media sosial dapat digunakan untuk
menyebarkan informasi dan menerima umpan balik dari pengguna melalui pesan yang
masuk, posting dan jajak pendapat.
Pendekatan kedua melibatkan penggunaan media sosial sebagai alat manajemen darurat
yang sistematis, seperti: menggunakan media untuk berkomunikasi darurat dan
mengeluarkan peringatan; menggunakan media sosial untuk menerima permintaan korban
untuk mendapatkan bantuan; mengawasi aktivitas pengguna dan posting untuk membangun
kesadaran situasional; dan unggah gambar ke perkiraan kerusakan.
Media sosial (online) untuk keadaan darurat dan bencana pada tingkat organisasi
dapat disusun
dari dua kategori. Pertama, media sosial dapat digunakan untuk menyebarkan
informasi dan menerima umpan balik dari pengguna melalui pesan yang masuk, posting
dan jajak pendapat. Pendekatan kedua melibatkan penggunaan media sosial sebagai
alat manajemen darurat yang sistematis, seperti: menggunakan media untuk
berkomunikasi darurat dan mengeluarkan peringatan; menggunakan media sosial untuk
menerima permintaan korban untuk mendapatkan bantuan; mengawasi aktivitas pengguna
dan posting untuk membangun kesadaran situasional; dan unggah gambar ke perkiraan
kerusakan
Dalam penelitian ini, fokus media adalah media online. Berdasarkan hasil pengolahan
data, diketahui bahwa sebagian besar responden jarang menggunakan media online
untuk mencari informasi tentang bencana (68,57%). Hasil yang tinggi menjadi
pertanyaan karena sebagaimana diketahui bahwa rata-rata responden mengakses media
online setiap hari adalah 4 jam dan sebagian besar responden menyatakan bahwa media
online adalah media yang penting bagi mereka. Menurut hasil pengolahan data, ini
bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya minat dan ketidaktahuan
responden terhadap informasi bencana