Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Saat ini operasi Caesar menjadi trend karena berbagai alasan. Dalam 20 tahun
terakhir angka operasi Caesar meningkat pesat. Semakin modern alat penunjang
kesehatan, semakin baik obat-obat terutama antibiotik dan tingginya tuntutan terhadap
dokter, menunjang meningkatnya angka operasi Caesar di seluruh dunia (Seno Adjie,
2002). Di Indonesia angka persalinan caesar di 12 Rumah Sakit pendidikan antara 2,1 %
– 11,8 %. Angka ini masih di atas angka yang diusul oleh Badan Kesehatan Dunia
(WHO) pada tahun 1985 yaitu 10 % dari seluruh persalinan Caesar nasional
(Rahwan,2004). Di Propinsi Gorontalo, khususnya di RS rujukan angka kejadian SC
pada tahun 2008 terdapat 35 % dan meningkat menjadi 38 % pada tahun 2009. (Profil
Dikes Propinsi, 2009).

Cephalopelvik Disproportion (CPD) atau Disproporsi sefalo-Pervik adalah


ketidak cocokan antara kepala janin dan bagian pervic tertentu yang harus dilaluinya.
Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara
kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina.
Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar ataupun
kombinasi keduanya.

Kondisi ini bisa mengakibatkan kematian pada ibu dan janin l jadi pada
komplikasi ini perlu penanganan segera untuk mengurangi kematian ibu dan janin,
karena kita tahu bahwa angka kematian ibu dan janin di Indonesia masih tinggi
(Sarwono, 2002).

Berdasarkan uraian diatas,maka penyusun tertarik dan termotivasi untuk


menyusun Laporan Kasus Keperawatan Maternitas dengan mengambil kasus yang
berjudul “Asuhan Keperawatan pada Ny.W dengan Sectio Caecarea ex Chepalopelvik
Disproportion Di Ruangan melati Rumah Sakit IMELDA Pekerja Indonesia.

1
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan Maternitas
dengan gangguan reproduksi yaitu post op sectio caesarea a/i CPD diruang
melati RS IPI Medan.

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian Asuhan Keperawatan
Maternitas pada Ny.W dengan gangguan reproduksi post op sectio caesarea
a/i CPD diruang melati RS IPI Medan.
2. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa Asuhan Keperawatan Maternitas
pada Ny.W dengan gangguan reproduksipost op sectio caesarea a/i CPD
diruang melati RS IPI Medan.
3. Mahasiswa mampu merencanakan tindakan dan rasionalisasi Asuhan
Keperawatan Maternitas pada Ny.W dengan gangguan reproduksi post op
sectio caesarea a/i CPD diruang melati RS IPI Medan.
4. Mahasiswa mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan Maternitas pada
Ny.W dengan gangguan reproduksi op post sectio caesarea a/i CPD diruang
melati RS IPI Medan.
5. Mahasiswa mampu mengevaluasi Asuhan Keperawatan Maternitas pada
Ny.W dengan gangguan reproduksi post op sectio caesarea a/i CPD diruang
melati RS IPI Medan.

1.3 Ruang Lingkup Penulisan


Ruang lingkup penulisan hanya di batasi pada satu kasus saja yaitu Asuhan
Keperawatan pada Ny.W dengan gangguan reproduksi post op sectio caesarea a/i CPD
diruang melati RS IPI Medan pada tanggal 21 januari 2019.

2
1.4 Metode Penulisan
1. Studi Kasus
Adalah pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang dan data tersebut
di kumpulkan, disusun dan di analisa. Teknik pendekatan yang digunakan
sebagai alat pengumpulan data yaitu:
- Observasi yaitu mengadakan pengamatan langsung pada klien dengan
objek dalam Asuhan Keperawatan.
- Wawancara adalah mengadakan Tanya jawab secara langsung dengan
klien dan bidan ruangan.
- Dokumentasi yaitu dengan cara melakukan pengambilan data dari
dokumentasi dan catatan administrasi klien (Status Klien).

2. Tinjauan Pustaka
Yaitu dengan cara mempelajari buku-buku di perpustakaan untuk
mendapatkan teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang penulis
bahas.

1.5 Sistematika Penulisan


Adapun sistematika penulisan pada laporan kasus ini adalah;
BAB I : pendahuluan yang tererdiri dari latar belakang,tujuan penulisan,
ruang lingkup penulisan, metode penulisan, sitematika penulisan
BAB II : Tinjauan teoritis, yang terdiri dari Teoritis Medis dan Teoritis
Keperawatan.
BAB III : Tinjauan kasus, yang terdiri dari Pengkajian Keperawatan,
Diagnosa Keperawatan, Perencanaan, Pelaksanaan dan
Evaluasi Keperawatan.
BAB IV : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

3
BAB II

LANDASAN TEORITIS

2.1 TEORITIS MEDIS

2.1.1 Defenisi Sectio Caesarea


SC (Sectio caesarea) adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan
melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan
utuh serta berat janin di atas 500 gram (Prawirohadjo, 2002).
Sectio Caesarea adalah Pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding uterus. (Sarwono, 2005).

2.1.2 Etiologi Sectio Caesarea


Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang
perlu tindakan SC proses persalinan tidak maju/ kegagalan proses persalinan normal.
a. Pada Ibu :
 Perdarahan anterpartum
 Riwayat persalinan
 Post Date (Lambat bulan)
b. Pada Anak :
 Janin besar melebihi 4000 gr
 Gawat janin/ fetal distress
 Letak lintang
 Letak sungsang

2.1.3 Cephalopelvik Disproportion (CPD)

Cephalopelvik Disproportion (CPD) atau Disproporsi sefalo-Pervik adalah


ketidak cocokan antara kepala janin dan bagian pervic tertentu yang harus dilaluinya.
Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara
kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina.

4
Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar ataupun
kombinasi keduanya.
Janin dapat terletak melitang pada panggul ibu yang berukuran terlalu kecil atau
bentuknya abnormal, atau letak presentasi kepala yang diameternya tidak
menguntungkan abnormal besar. Keadaan ini akan diketahui dalam 3 minggu terakhir
kehamilan dengan tidak berhasilnya kepala janin masuk kedalam PAP, baik secara
spontan maupun secara penekanan. Derajat disproporsi dapat dinilai secara akurat
dengan bantuan sinar x (ultra sonografi) dengan derajat yang ringan, kerja uterus dalam
persalinan cukup memadai untuk mengubah bentuk kepala janin hingga dapat melewati
panggul ibu. Perubahan bentuk kepala janin ini sering disertai peningkatan pleksi. Pada
keadaan ini persalinan dapat berlangsung tampa komplikasi pada janin atau ibunya.
Pada disproporsi dengan derajat sedang hingga berat kelahiran bayi harus dilakukan
Seksio Cesaria (SC).

5
2.1.4. Pathofisiologi

6
2.1.5 Anatomi Panggul
Panggul menurut morfologinya dibagi menjadi 4 jenis pokok, yaitu:
a. Ginekoid: Pintu atas panggul yang bundar, atau dengan diameter transversa yang
lebih panjang sedikit dari pada diameter anteroposterior dan dengan panggul
tengah serta pintu bawah panggul yang cukup luas. Paling ideal, panggul
perempuan : 45%.
b. Android: Pintu atas panggul yang berbentuk segitiga berhubungan
dengan penyempitan ke depan, dengan spina iskiadika menonjol ke dalam
danarkus pubis menyempit, panggul pria, diameter transversa dekat dengan
sacrum : 15%.
c. Antropoid: Diameter anteroposterior yang lebih panjang dari pada diameter
transversa, dan arkus pubis menyempit sedikit, agak lonjong seperti telur.
d. Platipeloid: Diameter anteroposterior yang lebih pendek dari pada diameter
transversa pada pintu atas panggul dan arkus pubis yang luas, menyempit arah
muka belakang : 5%.

7
2.1.6 Tanda-tanda menimbulkan prasangka panggul sempit ialah :
1. Pada primigravida kepala belum masuk pintu panggul pada bulan terakhir.
2. Pada multipara jika dalam anamnesa, ternyata persalinan-persalinan yang dulu
sukar (riwayat obstetric yang jelek).
3. Jika terdapat kelainan letak hamil tua.
4. Kalau ukuran-ukuran luar sempit.

Jika ada prasangka panggul sempit baiknya dikonsulkan kepada seorang dokter
ahli. Kita biasanya memeriksa dan mengukur panggul sekali dalam kehamilan ialah
dengan pemeriksaan dalam (VT) karena ukuran-ukuran dalam lah yang menentukan
luasnya jalan lahir.

Peluang calon ibu agar bisa melahirkan normal berdasarkan bobot bayi:
1. Panggul sempit, panggul jenis ini hanya bisa mengeluarkan bayi berbobot 2,5 kg
ke bawah.
2. Panggul sedang, bisa mengeluarkan bayi berbobot 2,5 kg s/d 3,5 kg.
3. Panggul luas, panggul jenis ini bisa mengeluarkan bayi berukuran besar 3,5 kg
s/d 3,9 kg.

2.1.7 Pemeriksaan Panggul


Kalau kepala janin dengan ukuran terbesarnya sudah melewati pintu atas
panggul, maka hanya bagian kecil saja dari kepala yang dapat diraba dari luar di atas
sympisis. Ukuran-ukuran luar tidak dapat dipergunakan untuk penilaian, apakah
persalinan dapat berlangsung secara biasa atau tidak, Walaupun begitu ukuran-ukuran
luar dapat memberi petunjuk pada kita akan kemungkinan panggul sempit. Ukuran-
ukuran luar yang terpenting adalah :

 Distantia Spinarum :
Jarak antara spina iliaca anterior superior kiri dan kanan (23-26 cm)
 Distantia Cristarum :
Jarak yang terjauh antara crista iliaca kanan dan kiri (26-29cm).
 Conjugata Externa (Baudeloque) :
Jarak antara pinggir atas sympisis dan ujung prosessus spinosus ruas tulang
lumbal ke-V (18-20 cm).

8
 Ukuran lingkar panggul
Dari pinggir atas sympisis ke pertengahan antara spina iliaca anterior superior
dan trochanter major sepihak dan kembali melalui tempat-tempat yang sama di
pihak yamg lain (80-90 cm).

2.1.8 Prognosis
Apabila persalinan dengan disproporsisefalo pelvik dibiarkan berlangsung
sendiri tampa-bilamana perlu. Pengambiilan tindakan yang tepat, timbulnya bahaya bagi
ibu dan janin.

Bahaya pada ibu:


a. Partus lama yang sering disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil dapat
menimbulkan dehidrasi serta asidosis dan infeksi intrapartum
b. Dengan his yang kuat, sedang kemajuan janin dalam jalan lahir tertahan dapat timbul
regangan segmen bawah uerus dan pembentukan lingkaranretrasi patologik (Bandl).
Keadaan ini terkenal dengan ruptura uteri mengancam. Apabila tidak segera diambil
tindakan untuk mengurangi regangan, akan timbul ruptur uteri
c. Dengan persalinan tidak maju karena disproporsi sefalo pelvik jalan lahir pada suatu
tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul. Hal
ini meninbulkan gangguan sirkulasi dengan akibat terjadinya Iskemia dan kemudian
nekrosis pada tempat tersebut. Beberapa hari post partum akan terjadi fistula vesiko
servikalis, atau fitula vesiko vaginalis atau fistula rekto vaginalis.

Bahaya pada janin


a. Patuslama dapat meningkatkan kematian Perinatal, apabila jika ditambah dengan
infeksi intrapartum
b. Prolasus Funikuli, apabila terjadi, mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin
dan memerlukan kelahiranya dengan apabila ia masih hidup.
c. Dengan adanya disproporsi sefalopelvik kepala janin dapat melewati rintangan pada
panggul dengan mengadakan moulage dapat dialami oleh kepala janin tampa akibat
yang jelek sampai batas – batas tertentu. Akan tetapi apabila batas – batas tersebut
dilampaui, terjadi sobekan pada tentorium serebelli dan pendarahan intrakrahial

9
d. Selanjutnya tekanan oleh promontorium atau kadang – kadang oleh simfiksi pada
panggul picak menyababkan perlukaan pada jaringan diatas tulang kepala janin,
malahan dapat pula meninbulakan fraktur pada Osparietalis

2.1.9 Komplikasi
Ketika melakukan persalinan pada ibu yang panggul sempit CPD ( Cephalus Pelvix
Disproposional )maka dokter akan melakukan secsio cesarea dan kemungkinan akan
mengalami :
1. Suhu meningkat dalam beberapa hari disertai dengan dehidrasi dan perut
kembung
2. Banyak pembuuh darah yang terputus dan terbuka .
3. Kemungkinan repturu tinggi pada kehamilan selanjutnya .

2.1.10 Penatalaksanaan CPD ( CephalusPelvix Disproposional )

1. Persalinan percobaan
Setelah melakukan penilaian ukuran panggul serta ukuran kepala janin dan
panggul dapat melakukan persalinan dapat berlangsung per vaginan dengan selamat
dapat dilakukan persalinan percobaan . Cara ini merupakan untuk tes terhadap
kekuatan his , daya akomodasi . Persalinan percobaan dapat dilakukan pada letak
belakang kepala tidak bisa pada letak sunsang, maupun letak dahi, letak muka atau
kelainan letak lainya .
Ketentuan lainya adalah kehamilan tidak boleh dari 42 minggu karena kepala janin
bertambah besar .
Persalinan percobaan dapat dihentikan apabila pembukaan tidak atau kurang
sekali kemajuanya . Keadaan ibu dan anak kurang baik, ada lingkaran bandl, setelah
pembukaan lengkap dan ketuban pecah kepala tidak masuk PAP dalam 2 jam meskipun
his baik serta pada forceps yang gagal .Pada keadaan ini dilakukan seksio cesare .
2. Secsio Cesare .
Seksio secarea elektif dilakukan pada kesimpitan panggul berat dengan kehamilan
aterm . seksio juga dapat dilakukan pada panggul ringan apabila ada komplikasi

10
primagravida tua dan kelaina letak janin yang susah untuk diperbaiki . Dan tujuan
dilakukanya seksio sesare adalah untuk mempersingkat lamanya pendarahan dan
mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim .Tindakan seksio sesare
pada plasenta previa selain dapat mengurangi kematian bayi dan juga untuk kepentingan
hidup si ibu .dan seksio sesare juga dilakukan janin yang sudah mati di dalam rahim ibu
.

2.2 Teoritis Keperawatan


2.2.1 Pengkajian Pasien
 Identitas klien dan penanggung
 Keluhan utama klien saat ini
 Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi klien multipara
 Riwayat penyakit keluarga
 Keadaan klien meliputi :

a. Sirkulasi
- Hipertensi dan pendarahan vagina yang mungkin terjadi. Kemungkinan
kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 mL
b. Integritas ego
- Dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda kegagalan
dan refleksi negatif pada kemampuan sebagai wanita. Menunjukkan labilitas
emosional dari kegembiraan, ketakutan, menarik diri, atau kecemasan.
c. Makanan dan cairan
- Abdomen lunak dengan tidak ada distensi (diet ditentukan).
d. Neurosensori
- Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinal epidural.
e. Nyeri / ketidaknyamanan
- Mungkin mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena trauma bedah,
distensi kandung kemih , efek - efek anesthesia, nyeri tekan uterus
mungkin ada.
f. Pernapasan
- Bunyi paru - paru vesikuler dan terdengar jelas.
g. Keamanan

11
- Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh.
h. Seksualitas
- Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus. Aliran lokhea sedang.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin,
prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 2 hari diharapkan nyeri klien
berkurang / terkontrol dengan kriteria hasil :

 Klien melaporkan nyeri berkurang / terkontrol


 Wajah tidak tampak meringis
 Klien tampak rileks, dapat berisitirahat, dan beraktivitas sesuai kemampuan

2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka kering bekas
operasi
3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur
pembedahan, penyembuhan dan perawatan post operasi
4. Defisit perawatan diri b/d kelemahan fisik akibat tindakan anestesi dan
pembedahan
5. Intoleransi aktivitas b/d tindakan anestesi

2.2.3 Rencana Asuhan Keperawatan


1. Nyeri akut berhubungan dengan pelepasan mediator nyeri (histamin,
prostaglandin) akibat trauma jaringan dalam pembedahan (section caesarea)
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan nyeri klien
berkurang / terkontrol dengan kriteria hasil :

 Klien melaporkan nyeri berkurang / terkontrol


 Wajah tidak tampak meringis
 Klien tampak rileks, dapat berisitirahat, dan beraktivitas sesuai kemampuan.

12
1. Lakukan pengkajian secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan faktor
presipitasi.
2. Observasi respon nonverbal dari ketidaknyamanan (misalnya wajah
meringis) terutama ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif.
3. Kaji efek pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup (ex: beraktivitas, tidur,
istirahat, rileks, kognisi, perasaan, dan hubungan sosial)
4. Ajarkan menggunakan teknik nonanalgetik (relaksasi progresif, latihan napas
dalam, imajinasi, sentuhan terapeutik.)
5. Kontrol faktor - faktor lingkungan yang yang dapat mempengaruhi respon
pasien terhadap ketidaknyamanan (ruangan, suhu, cahaya, dan suara)
6. Kolaborasi untuk penggunaan kontrol analgetik, jika perlu.

2. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka bekas
operasi (SC) Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … x 24 jam
diharapkan klien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil :

 Tidak terjadi tanda - tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsio laesea)
 Suhu dan nadi dalam batas normal ( suhu = 36,5 -37,50 C, frekuensi nadi =
60 - 100x/ menit)

1. Tinjau ulang kondisi dasar / faktor risiko yang ada sebelumnya. Catat waktu
pecah ketuban.
2. Kaji adanya tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsio laesa)
3. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptic
4. Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat / rembesan. Lepaskan balutan
sesuai indikasi
5. Anjurkan klien dan keluarga untuk mencuci tangan sebelum / sesudah
menyentuh luka
6. Pantau peningkatan suhu, nadi, dan pemeriksaan laboratorium jumlah WBC
atau sel darah putih
7. Kolaborasi untuk pemeriksaan Hb dan Ht. Catat perkiraan kehilangan darah
selama prosedur pembedahan

13
8. Anjurkan intake nutrisi yang cukup
9. Kolaborasi penggunaan antibiotik sesuai indikasi

3. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan,


penyembuhan, dan perawatan post operasi
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … x 6 jam diharapkan ansietas
klien berkurang dengan kriteria hasil :

 Klien terlihat lebih tenang dan tidak gelisah


 Klien mengungkapkan bahwa ansietasnya berkurang

1. Kaji respon psikologis terhadap kejadian dan ketersediaan sistem pendukung


2. Tetap bersama klien, bersikap tenang dan menunjukkan rasa empati
3. Observasi respon nonverbal klien (misalnya: gelisah) berkaitan dengan
ansietas yang dirasakan
4. Dukung dan arahkan kembali mekanisme koping
5. Berikan informasi yang benar mengenai prosedur pembedahan,
penyembuhan, dan perawatan post operasi
6. Diskusikan pengalaman / harapan kelahiran anak pada masa lalu
7. Evaluasi perubahan ansietas yang dialami klien secara verbal

14
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 RESUME

Ny W,umur 26 tahun, agama islam, pendidikan SMA, ber alamat di Jln


.Tangkul 1 no.3 lk VII sidorejo hilir medan tembung ,datang bersama suami Tn .B umur
30 tahun agama islam, pekerjaan wiraswasta. Datang ke IGD Kebidanan Rumah sakit
IMELDA Pekerja Indonesia pada tanggal 21 januari 2019 pada jam 06:45 WIB. Klien
dengan keluhan mules ingin melahirkan dan sakit di bagian abdomen disertai dengan
keluar lendir bercampur darah dari vagina klien .

Klien mengatakan sakit karena ingin melahirkan anak ke 2, diketahui


sebelumnya klien pernah kuretase pada tahun 2018.

Dari perhitungan ditemukan riwayat kehamilan sekarang G2 ,P0 ,A1 klien


mengatakan mengalami masa menstruasi yang normal . Dari data yang diberitahukan
klien haid terakhir terjadi pada tanggal 30 april 2018 dan dengan perhitungan taksiran
partus pada tanggal 07 februari 2019

Klien mengatakan tidak pernah melakukan atau riwayat penggunaan kontrasepsi.


Klien mengatakan takut akan kelahiran anak yang ke pertama dan sering bertanya
tindakan apa yang akan dilakukan nanti terhadap diri nya.

Dari hasil pemeriksaan fisik yang di lakukan terhadap klien pada tanggal 21
januari 2019 pada jam 07:00 wib ditemukan hasil dengan tanda vital.

Tekanan darah : 120/70 mmhG

Nadi : 82 x/i

Pernafasan : 20 x/i

Temperatur : 36,3 ‘C

Dari hasil pemeriksaan laboratorium yang di keluarkan pada tanggal 21 januari


2019 pada jam 08 : 03 wib ditemukan hasil.

15
Pemeriksaan darah dengan hasil :

Jenis pemeriksaan Hasil Unit Angka normal Metode


satuan
Hematologio
Darah lengkap
Hemoglobin 11.5 g/dI P:13-18 w: 12-16 Cangih
Leukosit 7.800 /mm3 4.000-11.000
Jumlah trombosit 202.000 /mm3 150.000-450.000
Hematokrit 35.9 % P:42-56 w:36-47
Eutrosit 3.57 Juta/mm3 P:4.50-4.60w:4.10-5.10
Faal hati Negatif
HbsAg (Titer) Cat off :0.013
HbsAg Negatif Negatif
IMUNO SEROLOGI
HIV ( methode rapid test )
Oncoprobe HIV ½ Non rectif
Intec anti HIV ½ Non rectif
Vika HIV ½ Non reactif
Sdantar diagnostik (SD) Non Non reactif
relactif
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim dokter ditemukan bahwa, klien
mengalami diagnosa ketidak sesuaian bayi dengan jalan lahir atau CPD dan dilakukan
keputusan untuk dilakukan tindakan secsio terhadap klien, dan operasi berlangsung pada
tanggal 17 juli 2017 . setelah dilakuka tindakan operasi ditemukan hasil kelahiran bayi
yang kedua dengan kondisi.

Berat badan : 3220 gram

Panjang badan : 47 cm

Lingkar kepala : 30 cm

16
Lingkar dada : 32 cm

Apgar score

Appearence 1 1 2
Pulse 2 2 2
Emmol 2 2 2
Activity 1 2 2
Respiratory 2 2 2
Jumlah 8 9 10

Anus positif dan bayi telah dilakuakn IMD

Setelah dilakukan tindakan operasi klien diantar ke ruangan MELATI rumah sakit
IMELDA pekerja imelda dengan nomor ruangan 430, Keluhan yang dirasakan Ny.W
setelah operasi adalah perutnya terasa nyeri dan kaku terutama bila digerakkan, pada
saat mobilisasi bertahap (mika-miki) klien memegangi perutnya dan menahan rasa sakit,
Ny.W tidak tahan terlalu lama dengan posisi sim, skala nyeri 4-7 (sedang), durasi nyeri
30-60 detik setelah bergerak. Keadaan luka masih tertutup kasa/ masih terpasang perban
pada saat dilakukan pengkajian.
Pola eliminasi BAK, Ny.W masih terpasang kateter, kandung kemih kosong,
dengan frekuensi 1000cc/12 jam post op. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan hasil TD:
120/ 70 mmhg, RR:20x/I, HR:80x/I, Tempt: 370 . Kebersihan Vulva hygiene 2x / hari
pagi dan sore. Kesadaran Compos Mentis (15), konjungtiva tidak anemia, sclera tidak
ikterus, pemeriksaan HB: 11,5 g/dl. Keadaan payudara simetris, putting susu menonjol,
tidak tegang, involusio uterus 2 jari dibawah pusat, kandung kemih tidak teraba, lochea
rubra, jumlah 50 cc, bau khas (amis).
Dan terapi yang telah diberiakan terhadap klien pada tanggal 21 januari 2019 di
rungan melati dengan obat:

17
No Tindakan Obat Dosis Efek Obat
Positif Negatif
1. IVFD RL 20 gtt/i Memenuhi kebutuhan Oedem
cairan elektrolit dalam
tubuh
2. Inj. Ranitidine 1 amp/ 12 Obat lambung
jam
3 tramadol 3 x 1 tab/hari Mengurangi nyeri
3. Ciprofloxacin 2 x 1 tab/ Antibiotik Hipersensitif
hari
4. Pronalges 3 x 1 tab/ Mengurangi rasa nyeri Hipersensitif
hari
5. Paracetamol 3 x 2 tab/ Mengurangi rasa nyeri Hipersensitif
hari

Pada hari pertama klien dirawat dilakukan mobilisasi terhadap klien untuk
melakukan miring kanan dan miring kiri serta dianjurkan untuk tidak melakukan
kegiatan yg berat dan dianjurkan untuk istirahat, pada hari kedua klien dirawat dilakuka
mobilisasi untuk berjalan yang dibatu oleh perawat disaat pagi hari dan pada jam 10.00
pagi dilakukan vulva hygine dan dilakukan up kateter pada klien, pada hari ketiga klien
dirawat dilakukan pengatian pada perban bekas luka klien yang dilakukan oleh
perawatan luka dibantu perawat ruangan. Di hari ketiga klien sudah diizinkan dokter
untuk pulang kerumah dan sebelum pulang klien diberitahukan untuk menganti perban
dan konsultasi per 3 hari sekali.

18
3.2 ANALISA DATA

No Data Penunjang Etiologi Masalah


1 Data Subjektif : SC Gangguan
 Klien mengatakan perutnya Rasa Nyaman
terasa nyeri dan kaku, terutama Nyeri
bila digerakkan.
Luka Operasi

Data Objektif :
 Pada saat mobilisasi bertahap
(mika-miki) klien memegangi Terputusnya
perutnya dan menahan rasa kontinuitas
sakit. jaringan
 Klien tidak tahan terlalu lama
dengan posisi sim.
 Skala nyeri : 4-7 (nyeri sedang)
Nyeri
 Durasi nyeri 30-60 detik setelah
bergerak

2 Data Subjektif : Primigravida Kurangnya


muda tingkat
 Klien mengatakan tidak terlalu
pengetahuan
paham saat perawat bertanya
bagaimana cara menyusui bayi
yang benar, pengertian ASI Kurang
ekslusif, cara perawatan informasi
payudara, cara merawat bayi,
dan pengetahuan tentang KB.

Kurangnya
Data Objektif :
tingkat
 Klien tampak bingung, tidak
pengetahuan
mengerti bagaimana cara
menyusui bayinya.

19
3 Data Subjektif : - Dilakukan Resiko tinggi
tindakan operasi infeksi
Data Objektif :
SC
 Terdapat luka post operasi SC
pada perut bagian bawah
kurang lebih 10 cm.
Inkontinuitas
 Luka masih tertutup kasa
jaringan

Luka terpapar
lingkungan

Resiko tinggi
infeksi

3.3 Prioritas Masalah

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi ditandai
dengan klien mengatakan perutnya terasa nyeri dan kaku, terutama bila
digerakkan, Pada saat mobilisasi bertahap (mika-miki) klien memegangi
perutnya dan menahan rasa sakit. Klien tidak tahan terlalu lama dengan posisi
sim, kala nyeri : 4-7(nyeri sedang), Durasi nyeri 30-60 detik setelah bergerak.
2. Kurangnya tingkat pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
ditandai dengan klien mengatakan tidak tahu saat perawat bertanya bagaimana
cara menyusui bayi yang benar, pengertian ASI ekslusif, cara perawatan
payudara, cara merawat bayi, dan pengetahuan tentang KB, klien tampak
bingung tidak mengerti bagaimana cara menyusui bayinya.
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan dilakukan tindakan operasi sc ditandai
dengan terdapat luka post operasi SC pada perut bagian bawah kurang lebih 10
cm, luka masih tertutup kasa.

20
NO NODIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI EVALUASI
1. Gangguan rasa Gangguan rasa
nyaman nyeri nyaman dapat - Mengkaji tingkat S : Klien mengatakan nyeri
berhubungan terpenuhi dengan - Kaji tingkat - Dapat menenukan nyeri mulai berkurang.
dengan adanya luka kriteria hasil : nyeri klien. pilihan intervensi O : - Klien tampak tenang
operasi ditandai - Nyeri selanjutnya. - Mengalihkan - Skala nyeri 4-6
dengan klien berkurang - Alihkan posisi - Posisi yang nyaman perhatian klien - Luka masih tertutup kasa
mengatakan - Luka bekas yang nyaman akan mengurangi dengan mengajak A : Masalah mulai teratasi
perutnya terasa operasi cepat pada klien. nyeri yang dialami klien bekomunikasi dengan kriteria hasil :
nyeri dan kaku, kering. klien. - Memberi - Klien tampak tenang
terutama bila - Ajarkan klien - Teknik relaksasi penjelasan pada - Skala nyeri 4
digerakkan, Pada tehnik relaksasi akan mengurangi klien tentang teknik P : Lanjutkan intervensi
saat mobilisasi rasa nyeri. relaksasi dengan - Kaji tingkat nyeri klien.
bertahap (mika- cara tarik nafas - Alihkan posisi yang
miki) klien dalam, kemudian nyaman pada klien
memegangi tahan selama 2 - Ajarkan klien teknik
perutnya dan detik, lepaskan relaksasi.
menahan rasa sakit. melalui mulut - Kolaborasi dengan
Klien tidak tahan dokter dalam pemberian
terlalu lama dengan - Sesuai kolaborasi therapy.

21
posisi sim, skala - Kolaborasi - Efektif untuk dengan dokter
nyeri : 4-6 (nyeri dengan dokter mengerungi rasa diberikan therapy
sedang), Durasi dalam nyeri. anastan3x1 tab/hari.
nyeri 30-60 detik pemberian
setelah bergerak. therapy.
2. Kurangnya tingkat Setelah dilakukan Senin 21 januari 2019 Senin 21 januari 2019
pengetahuan asuhan - Memberikan
berhubungan keperawatan - Berikan - Agar klien penjelasan pada S : Klien mengatakan bingung
dengan kurangnya pengetahuan klien penjelasan pada mengetahui cara klien tentang cara bagaimana cara menyusui
informasi ditandai bertambah. klien tentang menyusui yang menyusui dan bayi yang benar,
dengan klien Kriteria hasil : cara menyusui benar pengertian ASI pengertian ASI ekslusif,
mengatakan tidak - klien sudah dan pengertian ekslusif dengan dan cara merawat
tahu saat perawat mulai ASI ekslusif cara mengatur payudara.
bertanya memahami posisi duduk, O : Klien belum bisa
bagaimana cara bagaimana cara membersihkan mempraktekan apa yang
menyusui bayi merawat bayi, puting susu telah perawat jelaskan
yang benar, cara menyusui sebelum menyusui A : Masalah belum teratasi
pengertian ASI bayi, dan memberikan P : Lanjutkan intervensi
ekslusif, cara pengertian ASI ASI selama 6 bulan - Berikan penjelasan
perawatan ekslusif, cara tanpa makanan pada klien tentang cara

22
payudara, cara perawatan tali tambahan atau menyusui dan
merawat bayi, dan pusat bayi, MPASI. pengertian ASI ekslusif
pengetahuan perawatan - Memberikan - Berikan penjelasan
tentang KB, klien payudara, dan - Berikan - Agar klien paham pejelasan pada pada klien cara
tampak bingung kegunaan KB. penjelasan pada dan dapat klien tentang perawatan payudara
tidak mengerti klien cara melakukan breast perawatan payudara (breast care)
bagaimana cara perawatan care secara mandiri (breast care) - Berikan penjelasan
menyusui bayinya. payudara (breast dengan melalukan pada klien tentang cara
care) masase payudara merawat bayi
- Memberikan - Berikan penjelasan
- Berikan - Klien mampu penjelasan pada pada klien tentang KB
penjelasan pada merawat bayinya klien cara merawat
klien tentang dengan benar bayi
cara merawat (Memandikan bayi
bayi dan perawatan tali
pusat)
- Memberikan
- Berikan - Agar klien penjelasan tentang
penjelasan pada mengetahui apa KB serta
klien tentang kegunaan KB kegunaannya dan

23
KB tersebut menganjurkan agar
klien menggunakan
KB selama 5 tahun.
3. Resiko tinggi Setelah dilakukan Senin 21 januari Senin 21 januari 2019
infeksi tindakan 2019
berhubungan keperawatan - Observasi - Tanda-tanda - Memperhatikan S : -
dengan dilakukan diharapkan tidak perkembangan perkiraan infeksi keadaan luka O : Luka masih tertutup kasa
tindakan operasi sc terdapat tanda- luka pada luka terhadap adanya A : Masalah belum teratasi
ditandai dengan tanda infeksi. tanda-tanda infeksi P : Intervensi dilanjutkan
terdapat luka post kriteria hasil: pada luka yaitu - Observasi tanda-tanda
operasi SC pada - Tidak terdapat adanya kemerah- infeksi.
perut bagian bawah tanda-tanda merahan, bengkak - Beri perawatan dengan
kurang lebih 10 radang gatal-gatal dan mengganti balutan luka
cm, luka masih - Luka terlihat panas. dengan teknik steril
tertutup kasa. kering - Beri perawatan - Agar tidak terjadi - Mengganti balutan - Anjurkan klien makan
dengan kontaminasi silang luka dengan tinggi protein, buah dan
mengganti dan kemungkinan menggunakan sayur
balutan luka infeksi cairan NaCl dan - Kolaborasi dengan
dengan teknik bethadine dan dokter dalam pemberian
steril mengganti dengan therapy obat-obatan.

24
tehnik steril

- Anjurkan klien - Untuk mempercepat - Menganjurkan klien


makan tinggi pembentukan makan tinggi
protein, buah jaringan baru dan protein, buah dan
dan sayur penyembuhan luka sayur
- Kolaborasi - Efektivitas dalam - Sesuai kolaborasi
dengan dokter proses dengan dokter
dalam penyembuhan dalam diberikan
pemberian Theraphy
therapy obat- Ciprofloxacin 2x1
obatan. tab/hari, anastan
3x1 tab/hari, pct
3x2 tab/hari.

25
CATATAN PERKEMBANGAN

Nama : Ny. W
Ruangan : MELATI

Hari/Tanggal Dx Implementasi Evaluasi


Senin I - Mengkaji tingkat nyeri S : Klien mengatakan nyeri
21 januari 2019 - Mengalihkan perhatian dibagian bekas operasi.
klien dengan mengajak O : - Klien meringis
klien bekomunikasi kesakitan
- Memberi penjelasan pada - Skala nyeri 5-7
klien tentang teknik - Luka tertutup kasa
relaksasi dengan cara tarik A : Masalah belum teratasi
nafas dalam, kemudian dengan kriteria hasil :
tahan selama 2 detik, - Luka masih tertutup
lepaskan melalui mulut kasa.
- Sesuai kolaborasi dengan - klien masih meringis
dokter memberikan kesakitan
therapy anastan3x1 P : Lanjutkan intervensi
tab/hari. - Anjurkan pada klien
agar minum obat
teratur untuk mengatasi
nyeri.
- Beri tahu klien dan
keluarga agar klien
melakukan mobilisasi
miring kanan / kiri.
Senin II - Memberikan penjelasan S : Klien mengatakan sudah
21 januari 2019 pada klien tentang mulai sedikit mengerti
caramenyusui dan bagaimana cara
pengertian ASIekslusif menyusui bayi,
dengancara mengatur O : Klien mulai bisa

26
posisi miring kanan /kiri, mempraktekan apa yang
dan membersihkan puting telah perawat jelaskan
sususebelum menyusui. A : Masalah sebagian teratasi
- Memberikan pejelasan P : Lanjutkan intervensi
pada klien tentang - Beri tahu keluarga
perawatan payudara (breast agar ikut serta dalam
care) dengan melalukan membantu klien
masase payudara. merawat bayinya

Senin III - Memperhatikan keadaan S : -


21 januari 2019 luka terhadap adanya O : masih tertutup kasa.
tanda-tanda infeksi pada A : Masalah belum teratasi
luka yaitu adanya dengan kriteria hasil :
kemerah-merahan, - Luka bekas operasi
bengkak gatal-gatal dan masih tertutup kasa.
panas. P : Intervensi dilanjutkan
- Menganjurkan klien makan - Beri tahu keluarga agar
tinggi protein, buah dan member klien makan
sayur. tinggi protein, buah
- Berkolaborasi dengan dan sayur.
dokter dalam pemeberian - Anjurkan klien agar
Theraphy Ciprofloxacin minum obat secara
2x1 tab/hari, anastan 3x1 teratur.
tab/hari, pct 3x1 tab/hari.

Hari/Tanggal Dx Implementasi Evaluasi


Selasa I - Mengkaji tingkat nyeri S : Klien mengatakan nyeri
22 januari 2019 - Memberi penjelasan dan sudah sedikitberkurang.
mengajarkan kembali pada O : - Klien masih nampak
klien tentang teknik kesakitan
relaksasi dengan cara tarik - Skala nyeri 4-6
nafas dalam, kemudian - luka masih tertutup

27
tahan selama 2 detik, kasa.
lepaskan melalui mulut A : Masalah teratasi sebagian
- Sesuai kolaborasi dengan dengan kriteria hasil :
dokter memberikan - Nyeri berkurang
therapy anastan3x1 -klien sudah mulai
tab/hari. tenang.
P : Lanjutkan intervensi
- Anjurkan pada klien
agar minum obat
teratur untuk mengatasi
nyeri.
- Beri tahu klien dan
keluarga agar
melakukan mobilisasi
duduk dan berjalan.
- kateter sudah bisa
dibuka.
Selasa II - Memberikan penjelasan S : Klien mengatakan sudah
22 januari 2019 kembali kepada pada klien mulai mengerti
tentang cara menyusui dan bagaimana cara
pengertian ASIekslusif menyusui bayi,
dengancara mengatur pengertian ASI ekslusif,
posisi duduk, membersihkan cara merawat payudara,
puting sususebelum cara merawat
menyusui. O : Klien mulai bisa
- Memberikan pejelasan mempraktekan apa yang
kembali pada klien tentang telah perawat jelaskan
perawatan payudara (breast A : Masalah sebagian teratasi
care) dengan melalukan P : Lanjutkan intervensi
masase payudara - Beri tahu keluarga
agar ikut serta dalam
membantu klien

28
merawat bayinya
Selasa III - Memperhatikan keadaan S :
22 januari 2019 luka terhadap adanya O : luka masih tertutup kasa.
tanda-tanda infeksi pada A : Masalah belum teratasi
luka yaitu adanya dengan kriteria hasil :
kemerah-merahan, - luka masih tertutup
bengkak gatal-gatal dan kasa.
panas. - tidak ada tanda-tanda
- Menganjurkan klien makan peradangan pada luka
tinggi protein, buah dan bekas operasi.
sayur. P : Intervensi dilanjutkan
- Berkolaborasi dengan - Beri tahu keluarga agar
dokter dalam pemeberian member klien makan
Theraphy Ciprofloxacin tinggi protein, buah
2x1 tab/hari, anastan 3x1 dan sayur.
tab/hari, pct 3x2 tab/hari. - Anjurkan klien agar
minum obat secara
teratur
.

Hari/Tanggal Dx Implementasi Evaluasi


Rabu I - Mengkaji tingkat nyeri S : Klien mengatakan nyeri
23 januari 2019 - Memberi penjelasan sudah berkurang.
kembali kepada klien O : - Klien tidak meringis
tentang teknik relaksasi kesakitan
dengan cara tarik nafas - Skala nyeri 2-4
dalam, kemudian tahan - Luka sudah mulai
selama 2 detik, lepaskan kering.
melalui mulut A : Masalah teratasi
- Sesuai kolaborasi dengan kriteria hasil :
dokter memberikan - Luka mulai kering
therapy anastan3x1 - Nyeri yang dirasakan

29
tab/hari. klien berkurang
P : intervensi dihentikan
karna klien sudah di
izinkan dokter untuk
pulang.
Rabu II - Memberikan penjelasan S : Klien mengatakan sudah
23 januari 2019 kembali pada klien tentang mengerti bagaimana cara
cara menyusui dan menyusui bayi,
pengertian ASIekslusif pengertian ASI ekslusif,
dengancara mengatur cara merawat payudara,
posisi duduk, membersihkan cara merawat bayi dan
puting susu sebelum kegunaan KB
menyusui dan memberikan O : Klien sudah bisa
ASI selama 6 bulan tanpa mempraktekan apa yang
makanan tambahan atau telah perawat jelaskan
MPASI. A : Masalah teratasi
- Memberikan pejelasan P : intervensi di hentikan
pada klien tentang Karna klien sudah di
perawatan payudara (breast izinkan dokter untuk
care) dengan melalukan pulang.
masase payudara
- Memberikan penjelasan
pada klien cara merawat
bayi
(Memandikan bayi dan
perawatan tali pusat)
- Memberikan penjelasan
tentang KB serta
kegunaannya dan
menganjurkan agar klien
menggunakan KB selama 5
tahun.

30
Rabu III - Memperhatikan keadaan S :
23 januari 2019 luka terhadap adanya O : Luka sudah mulai kering,
tanda-tanda infeksi pada tidak adanya tanda- tanda
luka yaitu adanya peradangan.
kemerah-merahan, A : Masalahteratasi sebagian
bengkak gatal-gatal dan dengan kriteria hasil :
panas. - Luka operasi sudah
- Mengganti balutan luka kering
dengan menggunakan P : Intervensi dihentikan
cairan NaCl dan bethadine karna klien sudah di
dan mengganti dengan izinkan dokter untuk
tehnik steril. pulang.
- Menganjurkan klien makan - Beri tahu keluarga agar
tinggi protein, buah dan member klien makan
sayur. tinggi protein, buah
dan sayur saat dirumah.
- Anjurkan klien agar
minum obat secara
teratur di rumah.
- Beri tahu keluarga agar
mengingatkan klien
untuk ganti perban 3
hari sekali ke RS atau
klinik terdekat.

31
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Ketidak cocokan antara kepala janin dan bagian pelvis tertentu yang harus
dilaluinya. Sebaiknya dilakukan SC supaya ibu dan bayi selamat dan proses persalinan
dapat diatasi dengan cepat, tepat dan singkat.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada
Ny. W dengan gangguan sistem reproduksi post op sectio caesarea a/i CPD di ruang
melati RSU IPI Medan ”. dapat disimpulkan bahwa diagnosa yang muncul adalah
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka operasi, Kurangnya tingkat
pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi, Resiko tinggi infeksi berhubungan
dengan. Pada tahap ini penulis menarik kesimpulan :
 Hal-hal yang harus diperhatikan perawat dalam penatalaksanaan pasien pre, intra,
post operasi yaitu :
 Sebelum operasi dilakukan perawat harus melakukan pengkajian pre operatif awal,
rencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien, perawat
sebisa mungkin melakukan wawancara terhadap keluarga pasien dan pastikan
kelengkapan pemeriksaan pre operatif dan tentukan asuhan keperawatan yang tepat
dan sesuai. Sebelum operasi kasus yang banyak terjadi adalah pasien mengalami
kecemasan untuk itu sebagai perawat harus bisa memberi dukungan emosional
kepada pasien, dan mengkomunikasikan status emosional pasien kepada tim-tim
bedah.
 Setelah dilakukan operasi, efek anestesi dapat mempengaruhi sistem pernafasan
dan sistem motorik pasien. Maka dari itu pemantauan secara terus menerus
diperlukan guna mengurangi resiko akan cidera yang akan dialami pasien karena
efek anestesi.

32
4.2. Saran
Saran yang dapat penulis berikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien pre, intra dan post sectio caesarea di kamar bedah adalah :
1. Bagi petugas kesehatan
 Peningkatan pemahaman, pengetahuan dan ketrampilan tentang teori dan prosedure
asuhan keperawatan penting agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat
dan sesuai dengan yang dibutuhkan klien.
 Diharapkan petugas kesehatan dapat melakukan Asuhan Keperawatan secara
menyeluruh.
 Diharapkan petugas kesehatan dapat memberikan Asuhan Keperawatan sesuai
dengan prosedur dan standar pelayanan.
2. Bagi Pasien atau Keluarga
 Hendaknya pasien atau keluarga mempunyai kesadaran untuk segera datang ke
petugas kesehatan bila ada keluhan.
 Hendaknya pasien selalu waspada dengan gangguan kesehatan yang timbul,
khususnya tentang kesehatan reproduksi untuk mencegah meningkatnya angka
penyakit reproduksi.
 Hendaknya pasien lebih kooperatif dengan tindakan yang dilakukan petugas
kesehatan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC, Edisi 7. Jakarta:EGC

Nurjannah Intansari. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta :


mocaMedia

Mochtar, Rustam. 1998. Synopsis Obstetric dan Ginekologi. EGC. Jakarta


Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis obstetric. Jakarta: EGC.

34