Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Judul Percobaan
Analysa Dimensional

B. Tujuan Percobaan
Untuk menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi volume “Liquid
drop” yang terbentuk di dalam air dan menentukan dimensi persamaan yang
dilakukan berdasarkan pada analisis volume liquid drop yang terbentuk.

C. Latar Belakang

Judul percobaan ini adalah Analisis Dimensional yang bertujuan Untuk


menyelidki faktor-faktor yang mempengaruhi volume “Liquid Drop” yang
terbentuk karena air dan menentukan dimensi persamaan yang dilakukan
berdasarkan pada analisis volume liquid drop yang terbentuk. Analisis
dimensional adalah pengejaan terhadap lambang-lambang saja, terlepas dari
besarnya. Analisis dimensional sangat berguna dalam menyederhanakan usaha
mencocokan data eksperimen terhadap persamaan rancang dalam hal pengolahan
menemanai secera menyeluruh tidak mungkin di laksanakan.Data yang diperoleh
adalah D(cm) 0,2 dan 0,4; n (jumlh drop) 50 dan w(berat) untuk benzene 2,27 gr
dan 15,3 gr. Ethyl acetat 2,23 gr den 3,67 gr dan cyclo hexane 8,2 gr dan 14,3 gr.
Dapat disimpulkan bahwa factor - factor yang mempengaruhi liquid adalah
volume, diameter nozzle, berat jenis, selisih berat jenis dan gravitasi juga
viskositas.
BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Definisi Analisa Dimensional

Analisis dimensional adalah pengejaan terhadap lambang-lambang saja,

terlepas dari besarnya analisis dimensional sangat berguna dalam

menyederhanakan usaha mencocokan data eksperiment terhadap persamaan

rancang dalam hal pengolahan matematik secara menyeluruh tidak mungkin di

laksanakan.

B. Pengembangan serta Penggunaannya Dalam Dunia Industri

Dalam dunia industry, Analisis ini dapat pula dimanfaatkan untuk

memeriksa kekonsistenan satuan dalam suatu persamaan, dalam mengkonversikan

satuan, dan dalam memperbesar skala data yang di dapatkan dari model fisika

untuk meramalkan unjuk kerja peralatan skala penuh. Metode ini didasarkan atas

konsep dimensi dan penggunaan rumus-rumus dimensional.

Besaran Primer Dan Besaran Sekunder

Untuk analisis dimensional, besaran fisika tebagi dalam dua golongan.

Golongan pertama terdiri dari sejumlah kecil besaran yang dipilih. Sedang

golongan ke dua adalah sisanya yang di nyatakan dengan menggunakan besaran

golongan pertama. Pilihan terhadap besaran golongan pertama ini bersifat


sembarang baik mengenai banyaknya maupun mengenai jenisnya dan didasarkan

pada umumnya atas kemudahan saja. Besaran primer yang secara minimum

memadai untuk semua cabang tertujukan ialah panjang, massa, waktu, suhu dan

muatan listrik. Dalam satuan operasi kimia teknik muatan listrik tidak diperlukan.

Besaran primer adalah pilihan yang dibuat untuk suatu analisis dimensional oleh

peneliti yang bersangkutan.

Dimensi besaran primer dinyatakan dengan huruf yang dinamakan dimensi

besaran itu yang melambangkan besaran itu secara umum. Huruf itu seperangkat

satuan yang telah sedang atau dapat digunakan untuk mengukur besaran itu.

Misalnya L adalah dimensi panjang. Dimensi serupa dibuat pola, untuk dimensi

massa m, waktu t, suhuT, gaya F, dan kalor H.

Satuan dalam perangkat yang mendefenisikan besaran primer harus

memenuhi suatu syaratbharus ada suatu faktor konversi yang konstant diantara

setiap dua satuan yang terdapat didalam perangkat itu. Hal ini benar dalam hal

satuan panjang yang di daftarkan dalam defenisi.

Perpindahan massa secara difusi bergantung pada besarnya gradien


konsentrasi. Gradien konsentrasi cenderung menyebabkan terjadinya gerakan
komponen itu ke arah yang menyamakan konsentrasi dan menghapuskan gradien.
Bila gradien itu dipertahankan dengan menambahkan komponen yang terdifusi
secara terus-menerus ke ujung yang berkonsentrasi tinggi padagradien itu, aliran
komponen yang terdifusi akan berlangsung secara kontinyu (sinambung). Gerakan
inilah yang dimanfaatkan dalam operasi perpindahan massa.
Koefisien perpindahan-massa (k’C) didefinisikan sebagai laju
perpindahan massa per satuan luas per satuan beda konsentrasi. Kebanyakan
operasi perpindahan massa memerlukan aliran turbulen untuk meningkatkan laju
perpindahan massa. Perpindahan massa ke antarmuka fluida sering bersifat tak
tunak dengan gradien konsentrasi yang selalu berubah dan demikian pula laju
perpindahan massanya. Dengan mengintegrasikan persamaan 2.1.

didapat persamaan berikut :

Persamaan (2.15) dapat dituliskan secara sederhana dengan menggunakan


suatu koefisien perpindahan massa (k’c)

Pada proses ekstraksi padat-cair laju perpindahan massa zat terlarut ke


pelarut dengan volume V dengan menggunakan suatu koefisien perpindahan
massa yang serupa dengan persamaan (2.3) di mana CA1adalah konsentrasi jenuh
dan CA2adalah konsentrasi pada waktu tertentu dapat ditentukan dengan
persamaan :
Dengan mengalurkan ln pada sumbu y dan t pada sumbu
x, maka Kc sebagai koefisien perpindahan massa zat terlarut ( A ) ke pelarut ( B )
yang diam dapat ditentukan.

Pada persamaan di atas diasumsikan bahwa luas perpindahan massa dari


partikel selama percobaan adalah tetap dan dihitung dengan menggunakan
persamaan :

Penggunaan analisis dimensional memungkinkan untuk memprediksi


berbagai kelompok dimensional dimana sangat menolong dalam menghubungkan
data percobaan perpindahan massa. Seperti yang terjadi dalam perpindahan
momentum dan perpindahan panas, Reynold number, Schmidt number dan
Sherwood number sering dipakai dalam menghubungkan data percobaan
perpindahan massa. Data percobaan koefisien perpindahan massa yang didapat
dengan menggunakan banyak variasi seperti jenis fluida, perbedaan kecepatan,
dan perbedaan geometri dapat dihubungkan dengan menggunakan dimensional
number.
Diperkirakan bahwa koefisien perpindahan massa dipengaruhi oleh
berbagai faktor operasi perpindahan massa.

Persamaan diatas dengan merujuk pada penelitian yang telah dilakukan Richard
R.G., Tetiyadi, Ira I., dan Linda Wdapat dikorelasikan sebagai berikut :

di mana korelasi difusitas di dalam fasa liquid yang dibuktikan oleh Wilke
dan Chang (1955) adalah sebagai berikut:
BAB III

MATERI DAN METODA

A. Materi
1. Alat
a. Seperangkat alat dimensional analisis
b. Beaker glass 250 ml
c. Corong pemisah
d. Corong
e. Timbangan
f. Dongkrak

2. Bahan
a. Aquadest
b. Etyl asetat (CH3COOC2H5)
c. Cyclo Hexane (C6H12)

B. Metoda
1. Digunakan 500 ml aquades pada bejana B dan 150 ml larutan Benzene
(material) pada bejana A
2. Buka cock dan atur aliran dari bejana B untuk menghilangkan udara
dari pipa dan nozzle, kemudian tutup kembali
3. Ujung nozzle dibenamkan ke dalam larutan bejana A
4. Tekanan Re-zero pada elektronik balance sampai menunjukan angka
nol
5. Buka cock kembali dan atur aliran liquid drop dari bejana B kemudian
kemudian dihitung jumlah drop dari nozzle
6. Setelah sampai 20 drop dari liquid B tutup cock dan kemudian cata
beratnya dari elektronik balance.
Berat (w)
Volume satu drop adalah : Qair∗jumlah drop
7. Percobaan diulang kembali dengan menggunakan zat yang berbeda-
beda.

C. Gambar Alat
BAB IV
HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Kerja Praktek

lateral Measured Data Data From Tables

Sampel Diameter Jumlah Berat ρA ρB σ g


(cm) drop (gr) (gr/cm3) (gr/cm3) (gr/det2) (cm/det2)
Cyclo 0,20 20 3,8
Hexane 0,40 20 6 0,77800 0,99564 51,40 980

Etyl 0,20 20 1,4


Asetat 0,40 20 2,6 0,71950 0,99564 6,27 980

B. Pembahasan
1. Menghitung V
a. Cyclo Hexane

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡
𝑉= 𝜌𝑎𝑖𝑟 ×𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑟𝑜𝑝

3,8 𝑔𝑟
=
0,99564 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3 × 20
= 0,1908 𝑐𝑚3

b. Etyl Asetat
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡
𝑉= 𝜌𝑎𝑖𝑟 ×𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑟𝑜𝑝

1,4 𝑔𝑟
=
0,99564 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3 × 20
= 0,0703 𝑐𝑚3

2. Menghitung ∆𝝆
a. Cyclo Hexane
∆𝜌 = 𝜌𝐵 − 𝜌𝐴
= (0,99564 − 0,77800) 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3
= 0,21764 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3

b. Etyl Asetat

∆𝜌 = 𝜌𝐵 − 𝜌𝐴
= (0,99564 − 0,71950) 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3
= 0,27614 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3

∆𝝆⁄
3. Menghitung 𝝆𝑩
a. Cyclo Hexane
∆𝜌 0,21764 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3
=
𝜌𝐵 0,99564 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3

= 0,2186

b. Etyl Asetat
∆𝜌 0,27614 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3
=
𝜌𝐵 0,99564 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3

= 0,2773

𝟑
4. Menghitung 𝑫 ⁄𝑽
a. Cyclo Hexane
𝐷3 (0,20𝑐𝑚)3
=
𝑉 0,1908 𝑐𝑚3
= 0,0419
b. Etyl Asetat
𝐷3 (0,20𝑐𝑚)3
=
𝑉 0,0703 𝑐𝑚3

= 0,1138

5. Menghitung Nilai 𝝈⁄ 𝟐
𝑫 𝝆𝑩 𝒈
a. Cyclo Hexane
51,40 𝑔𝑟⁄𝑠𝑒𝑐 2
=
(0,20𝑐𝑚)2 . 0,99564 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3 . 980 𝑐𝑚⁄𝑠𝑒𝑐 2
= 1,3169
b. Etyl Asetat
6,27 𝑔𝑟⁄𝑠𝑒𝑐 2
=
(0,20𝑐𝑚)2 . 0,99564 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3 . 980 𝑐𝑚⁄𝑠𝑒𝑐 2
= 0,1606

6. Menghitung Nilai VC
a. Cyclo Hexane
𝑉𝑐 = 𝐶. 𝐷𝑎 ∆𝜌𝑏 . 𝜌𝐵 ᶜ𝜎 𝑑 𝑔𝑒
= 19,5(0,20𝑐𝑚)4,16 (0,21764 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3 )5,83 (0,99564 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3 )−5,25 (51,40 𝑔𝑟⁄𝑠𝑒𝑐 2 )−0,58 (980 𝑐𝑚⁄𝑠𝑒𝑐 2 )0,58

= 1,88 × 10−5 𝑐𝑚3


b. Etyl Asetat
𝑉𝑐 = 𝐶. 𝐷𝑎 ∆𝜌𝑏 . 𝜌𝐵 ᶜ𝜎 𝑑 𝑔𝑒
= 19,5(0,20𝑐𝑚)4,16 (0,27614 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3 )5,83 (0,99564 𝑔𝑟⁄𝑐𝑚3 )−5,25 (6,27 𝑔𝑟⁄𝑠𝑒𝑐 2 )−0,58 (980 𝑐𝑚⁄𝑠𝑒𝑐 2 )0,58

= 2,55 × 10−4 𝑐𝑚3


7. Menghitung Nilai 𝑽𝒄⁄𝑽
a. Cyclo Hexane
𝑉𝑐 1,88 × 10−5 𝑐𝑚3
=
𝑉 0,1908 𝑐𝑚3

= 9,85 × 10−5
b. Etyl Asetat

𝑉𝑐 2,55 × 10−4 𝑐𝑚3


=
𝑉 0,0703 𝑐𝑚3

= 3,627 ×

BAB V
KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Semakin besar ukuran nozzle, maka semakin kecil angka volume


dropsnya.
2. ∆𝜌 dari cyclo hexane lebih besar dibandingkan dengan ∆𝜌 etyl asetat.
3. 𝜎cyclo hexane lebih besar dibandingkan dengan 𝜎 etyl asetat.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Diktat Kuliah.2010.”Operasi Teknik Kimia”.Medan : PTKI.

Jono Suhartono, Dkk.2005. PENENTUAN KOEFISIEN PERPINDAHAN

MASSA PADA DEKAFEINASI KOPI DENGAN PELARUT METHYLENE

CHLORIDE. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri, Institut

Teknologi Nasional

Lienda,Handoyo.1998.”Teknologi Kimia. Jilid 2”. Surabaya: Pradnya

Paramitha

www://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_dimensi