Anda di halaman 1dari 15

Makalah Hukum Acara Perdata

Disusun Oleh :

Khalwa Rifwanda Arsya Adzima 11000117130367


Dimas Adittya Putra 11000117130372
Anike Rizky Putri 11000117140393
Muhammad Adhar Adhymy 11000117140414
Ishak Malimbongan Rante Allo K. 11000117140525

Fakultas Hukum
Universitas Diponegoro
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1. Pendahuluan

Persidangan merupakan suatu tahapan hukum di mana perkara yang menjadi


sengketa diperiksa, dimohon untuk digugat, diadili, dan diputus oleh hakim. Dalam hal
ini, hakim pada dasarnya mengadili dan memutus suatu perkara dengan menyimpulkan
pembuktian para pihak berdasarkan keyakinannya dan ketentuan-ketentuan sesuai hukum
acara bersangkutan. Berkaitan dengan persidangan perkara perdata, para pihak dalam
menguatkan persangkaan dan pembuktian di persidangan diberi ketentuan oleh Pasal 164
Herzien Inlandsch Reglement (HIR) untuk menghadirkan alat bukti yang sah dan dapat
dipertanggungjawabkan. Salah satu alat bukti yang dimaksud yakni bukti dengan saksi-
saksi.

Eksistensi saksi sejatinya sangat penting dalam agenda pembuktian di


persidangan. Hal demikian dapat dipahami sebab saksi sejatinya memegang peranan
kunci dalam menguatkan pembuktian pihak yang bersengketa. Kehadiran saksi dalam
persidangan justru merupakan kewajiban yang mesti dilaksanakan. Dengan mengetahui
urgensi dari kehadiran saksi, maka hal tersebut wajar jika ketentuan-ketentuan sebagai
seorang saksi diatur sedemikian rupa dalam kitab hukum acara perdata atau HIR.
Ketentuan-ketentuan demikian mengatur mulai dari peran saksi sebagai alat bukti dalam
perkara perdata, kesaksian yang dapat diterangkan oleh saksi, pihak yang dapat didengar
dan mutlak tidak mampu didengar sebagai saksi, kesaksian Testimonium de Auditu, dan
kewajiban sebagai seorang saksi, serta konsekuensi-konsekuensi ketidakhadiran saksi
dalam persidangan.

Melihat urgensi dan peranan kunci yang diemban oleh saksi sebagaimana
diuraikan di atas, penulisan makalah ini pada hakikatnya menekankan arti penting
sebagai seorang saksi dalam agenda pembuktian di persidangan secara utuh dan
komprehensif, dengan tetap mengacu kepada kitab hukum acara perdata atau HIR.
BAB II
PERMASALAHAN

1. Permasalahan
1. Bagaimana saksi dalam pembuktian perkara perdata
2. Apa itu kesaksian testimonium de auditu
3. Apa saja kewajiban sebagai seorang saksi
4. Bagaimana jika saksi tidak hadir dalam persidangan
BAB III

Pembahasan

1. Mengenal Saksi dalam Pembuktian Perkara Perdata


Pembuktian mempunyai arti luas dan arti terbatas. Di dalam arti luas
membuktikan berarti memperkuat kesimpulan hakim dengan syarat-syarat bukti yang
sah. Di dalam arti yang terbatas membuktikan hanya diperlukan apabila yang
dikemukakan oleh penggugat itu dibantah oleh tergugat. Apabila yang tidak dibantah itu
tidak perlu dibuktikan. Kebenaran dari apa yang tidak dibantah tidak perlu dibuktikan.1
Alat bukti menurut pasal 164 HIR alat bukti dalam perkara perdata terdiri atas:
a. Bukti tulisan
b. Bukti dengan saksi saksi
c. Persangkaan-persangkaan
d. Pengakuan
e. Sumpah

Alat bukti saksi diatur dalam pasal 139-152, 168-172 HIR. Pembuktian dengan
saksi dalam praktek lazim disebut kesaksian. Dalam hukum acara perdata pembuktian
dengan saksi sangat penting artinya, terutama untuk perjanjian perjanjian dalam hukum
adat, di mana pada umumnya karena adanya saling percaya mempercayai tidak dibuat
sehelai surat pun. Oleh karena itu bukti berupa surat tidak ada, pihak-pihak akan berusaha
untuk mengajukan saksi yang dapat membenarkan atau menguatkan dalil dalil yang
diajukan di muka persidangan.

Kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada hakim di persidangan tentang


peristiwa yang disengketakan dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh
orang yang bukan salah satu pihak dalam perkara, yang dipanggil di persidangan. 2
Yang dapat diterangkan oleh saksi hanyalah apa yang ia lihat, dengar atau rasakan
sendiri. Yang dimaksud disini adalah dilihat dan dialami artinya harus disertai dengan
alasan-alasan bagaimana diketahuinya hal-hal yang diterangkan itu. Pendapat maupun

1
Supomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri (Bina Aksara:Jakarta, 1983) hlm. 188.
2
Sudikno Mertokusumo,Hukum Acara Perdata di Indonesia (Yogyakarta:Liberty,1988) hlm129
perkiraan yang diperoleh dengan jalan pikiran bukanlah suatu kesaksian.3 Perasaan atau
sangka yang istimewa, yang terjadi karena akal, tidak dipandang sebagai penyaksian
(pasal 171 ayat 2 HIR). Pasal 171 HIR menyebutkan :
Pasal 171
1) Tiap-tiap kesaksian harus berisi segala sebab pengetahuan.
2) Pendapat-pendapat atau persangkaan yang, istimewa, yang disusun
dengan kata akal, bukan kesaksian.

Jadi, Perasaan atau sangka yang istimewa, yang terjadi karena akal, tidak
dipandang sebagai penyaksian.

Perbedaan yang dapat dilihat dari saksi dan ahli adalah apabila saksi dipanggil di
muka sidang untuk memberi tambahan keterangan untuk menjelaskan peristiwanya,
sedang seorang ahli dipanggil untuk membantu hakim dalam menilai peristiwanya.
Keterangan saksi haruslah diberikan secara lisan dan pribadi di persidangan, jadi
harus diberitahukan sendiri dan tidak diwakilkan serta tidak boleh dibuat secara tertulis.
Yang dapat menjadi saksi adalah pihak ketiga dan bukan salah satu pihak yang
berperkara (Pasal 139 ayat 1 HIR).
Seorang saksi dilarang untuk menarik kesimpulan karena hal itu adalah tugas
hakim. Saksi yang akan diperiksa sebelumnya harus disumpah menurut hukum agamanya
atau berjanji, bahwa ia akan menerangkan yang sebenarnya. Setelah disumpah saksi
harus memberikan keterangan yang sebenarnya, apabila ia dengan sengaja memberi
sumpah palsu dapat dituntut dan dihukum untuk sumpah palsu.

Pihak yang dapat di dengar sebagai saksi


Terdapat azas bahwa setiap orang dapat bertindak sebagai saksi serta wajib
memberi kesaksian ada pembatasannya
a. Ada segolongan orang yang dianggap tidak mampu untuk bertindak sebagai
saksi. Mereka ini dibedakan antara mereka yang dianggap tidak mampu secara
mutlak dan mereka yang dianggap tidak mampu dianggap secara nisbi. Pasal
145 menyebutkan:

3
Soebekti,Hukum Acara Perdata(Bandung:Angkasa,1982)hlm 101
Pasal 145
1) Sebagai saksi tidak dapat didengar:
i. keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak
menurut keturunan yang lulus.
ii. istri atau laki dari salah satu pihak, meskipun sudah ada
perceraian;
iii. anak-anak yang tidak diketahui benar apa sudah cukup
umurnya lima belas tahun;
iv. orang, gila, meskipun ia terkadang - kadang mempunyai
ingatan terang.
2) Akan tetapi kaum keluarga sedarah dan .keluarga semenda tidak dapat
ditolak sebagai saksi dalam perkara perselisihan kedua belah. pihak
tentang keadaan menurut hukum perdata atau. tentang sesuatu perjanjian
pekerjaan.
3) Hak mengundurkan diri memberi kesaksian dalam perkara yang tersebut
dalam ayat di atas ini tidak berlaku buat orang-orang yang disebutkan
pada pasal 146 butir 1 dan butir 2.
4) Pengadilan negeri berkuasa memeriksa di luar sumpah anak-anak yang
tersebut di atas tadi atau orang gila yang terkadang-kadang mempunyai
ingatan terang, tetapi keterangan mereka hanya dapat dipandang semata-
mata sebagai penjelasan.
Tidak mampu secara mutlak dijelaskan pada pasal 145 ayat 1 yaitu keturunan
lurus, keluarga sedarah, keluarga semenda, suami istri mengenai penjelasan tersebut
adalah:
a. Keturunan lurus: dapat berupa keturunan lurus keatas atau keturunan lurus
kebawah
b. Keluarga sedarah: hubungan keluarga karena keturunan baik itu keatas atau
kebawah
c. Keluarga semenda : adalah hubungan keluarga karena perkawinan dapat
berupa
- Aanverwant yang ascendent adalah bapak mertua, ibu mertua, kakek
mertua, nenek mertua dan seterusnya keatas
- Aanverwant yang descendent adalah anak menantu, cucu menantu, dan
seterusnya kebawah.
d. Suami/Isteri walau sudah cerai, dilarang menjadi saksi. Sebab hubungan
sedekat itu kurang obyektif dalam memberi keerangan.4
Alasan pembentuk udang undang memberi pembatasan ini kiranya ialah:
1. Bahwa mereka ini pada umumnya dianggap tidak cukup obyektif apabila
didengar sebagai saksi
2. Untuk menjaga hubungan kekeluargaan yang baik, yang mungkin akan
retak apabila mereka ini memberi kesaksian
3. Untuk mencegah timbulnya tekanan batin setelah memberi keterangan5
Terdapat pengecualian sebagaimana tercantum dalam Pasal 145 ayat 2
mereka ini tidak boleh ditolak sebagai saksi apabila perkara yang menyangkut kedudukan
keperdataan dari para pihak atau dalam perkara yang menyangkut perjanjian kerja.
Kemudian tidak mampu secara nisbi relatif yaitu
a. Anak anak yang belum mencapai umur 15 tahun
b. Orang gila, meskipun kadang kadang ingatannya terang atau sehat.

Mereka ini boleh didengar, akan tetapi tidak sebagai saksi melainkan keterangan
mereka ini hanyalah boleh dianggap sebagai penjelasan belaka. Untuk memberi
keterangan tersebut mereka tidak perlu disumpah.6

2. Kesaksian Testimonium de Auditu


Testimonium de Auditu, atau hearsay evidence (Inggris) berasal dari
“tesmonium” yang berarti 1. (getuigenis) kesaksian, penyaksian, keterangan; 2.
(getuigschift) surat keterangan, sedangkan “tesmonium de auditu” adalah keterangan
yang hanya dari mendengar saja, penyaksian menurut kata orang, keterangan tangan
kedua7 atau kesaksian berdasarkan desas-desus.

4
Moch Djais dan RMJ Koosmargono, Membaca dan Mengerti HIR(Semarang: Oetama, 2011), hlm 124
5
Sudikno Mertokusumo,Op.cit hlm 134
6
Ibid hlm 135
7
Marjanne Termorshuizen, Kamus Hukum Belanda Indonesia, hlm. 418
Testimonium de auditu adalah keterangan yang saksi peroleh dari orang lain, ia
tidak mendengarnya atau mengalaminya sendiri, hanya ia dengar dari orang lain tentang
kejadian tersebut atau adanya hal hal tersebut.8 Disini pihak ketiga menceritakan
pengetahuannya kepada saksi. Di persidangan saksi memberikan kesaksian bahwa ia
mendengar dari pihak ketiga tadi bahwa telah terjadi perjanjian hutang pihutang antara
kedua belah pihak yang sedang berperkara. Pada umumnya kesaksian Testimonium de
auditu tidak diperkenankan, karena keterangan itu tidak berhubungan dengan peristiwa
yang dialami sendiri.
Memang sebagai kesaksian, keterangan dari pendengaran tidak mempunyai nilai
pembuktian sama sekali, akan tetapi keterangan keterangan yang demikian itu dapat
dipergunakan untuk menyusun persangkaan atau untuk melengkapi keterangan saksi
saksi yang bisa dipercayai. Kesaksian de auditu dapat dipergunakan sebagai sumber
persangkaan.
Mereka yang menghendaki agar hakim lebih diberi kebebasan, berpendaapt
bahwa keterangan saksi berdasarkan pendengaran dari pihak ketiga dapat dianggap
sebagai bukti langsung tentang kebenaran bahwa pihak ketiga dapat dianggap sebgai
bukti langsung tentang kebenaran bahwa pihak ketiga menyatakan demikian, lepas dari
kebenaran materiil yang dikatakan oleh pihak ketiga tersebut
Undang undang tidak melarang hakim untuk menyimpulkan adanya persangkaan
dari keterangan pihak ketiga yang disampaikan kepada saksi. Agar memperoleh
keterangan yang relevan bagi hukum dalam memeriksa saksi, hakim harus menggunakan
cara yang tepat
Lazimnya hakim membiarkan saksi untuk bercerita dari permulaan sampai akhir
seperti seorang dalang. Cara bercerita bebas ini sering membuang buang waktu. Kecuali
itu tidak jarang persitiwa peristiwa yang tidak relevan bagi hukum diceritakan juga. hal
ini dapat di pahami karena biasanya saksi bukan merupakan ahli hukum sehingga tidak
dapat membedakan peristiwa yang relevan dengan tidak sehingga hakim masih harus
menyaringnya

8
Retnowulan Sutantio dan Iskandar, Hukum Acara Perdata Dalam teori dan Praktek (Bandung: Mandar Maju) hlm
67
Cara yang lain adalah cara yang terpimpin hakim yang dianggap tahu akan
hukumnya dan dapat membedakan peristiwa mana yang relevan dan mana yang tidak,
telah menyusun daftar pertanyaan yang diajukan secara sistematis telah disusun. Cara ini
(leading) akan menghemat waktu dan akan lebih tepat mengaenai sasarannya.
Keterangan seorang saksi saja tanpa alat bukti lainnya tidak dianggap sebagai
pembuktian yang cukup: seorang saksi bukan saksi, unus testis nullus testis. Kekuatan
pembuktian dari kesaksian seorang saksi saja tidak boleh dianggap sebagai sempurna
oelh hakim. Gugatan harus ditolak jika penggugat dalam mempertahankan dalilnya hanya
mengajukan seorang saksi tanpa bukti lain. Keterangan seorang saksi saja, kalau dapat
dipercaya oleh hakim, bersama dengan satu alat bukti alinnya baru daapt merupakan alat
bukti yang sempurna, misalnya dengan persangkaan atau pengakuan tergugat. Hakim
dapat pula membebani sumpah pada salah satu pihak bila pihak itu hanya mengajukan
seorang saksi saja dan tidak ada alat bukti lainnya.
Keterangan saksi saksi yang jika dihubungkan satu sama lain mempunyai arti dan
maksud yang sama dapat menghasilkan bukti yang sah dan sempurna, dengan demikian
penilaian beberapa saksi diserahkan kepada pertimbangan hakim.

3. Kewajiban sebagai seorang Saksi


Ada tiga kewajibannnya bagi seseorang yang dipanggil sebagai saksi, yaitu:
a. Kewajiban untuk menghadap
Kewajiban untuk menghadap di perasidangan pengadilan ini daapt di
simpulkan dari pasal 140-141 HIR, yang menentukan adanya sanksi bagi saksi
yang tidak mau datang setelah dipanggil dengan patut. Apabila saksi yang
dipa dipanggil bertempat tinggal di luar wilayah hukum pengadilan negeri
yang memanggil, maka tidak ada kewajibannya untuk datang. Tetapi
pendengaran saksi ini dilimpahkan kepada Pengadilan Negri yang wilayah
hukumnya meliputi tempat tinggal saksi Berita acara pemeriksaan saksi ini
kemudian harus dibacakan di persidangan.
Saksi yang datang pada hari sidang dipersilahkan memasuki rung sidang
satu persatu. Hakim kemudian menanyakan identas para saksi. Hal ini sesuai
dengan pasal 144 HIR yaitu:
Pasal 144.
1) Saksi-saksi yang datang pada hari yang ditentukan itu
dipanggil ke dalam ruang sidang seorang demi seorang.
2) Ketua akan menanyakan nama, pekerjaan, umur, dan tempat
berdiam atau tempat tinggal masing-masing saksi, ia akan
menanyakan pula, adakah mereka berkeluarga sedarah atau
semenda dengan salah satu atau kedua belah pihak, dan jika benar
demikian, dalam derajat keberapa; selain itu, akan ditanyakannya
pula, adakah mereka menjadi pembantu salah satu pihak.

Jadi yang harus ditanyakan oleh hakim kepada saksi ialah nama,
pekerjaan, umur, dan tempat tinggal serta apakah saksi masih mempunyai
hubungan keluarga, baik sedarah maupun semenda atau apakah ia menerima
upah untuk bekerja pada salah satu pihak.

b. Kewajiban untuk bersumpah


Saksi apabila tidak mengundurkan diri wajib disumpah menurut
hukum agaamanya hal ini sesuai pasal 147 HIR
Pasal 147.
Jika saksi itu tidak mengundurkan diri dari tugas memberi kesaksian,
atau jika pengundurannya dinyatakan tidak beralasan, maka sebelum
memberi keterangan, ia harus disumpah menurut agamanya.
Oleh karena sumpah ini diucapkan sebelum memberi kesaksian dan
berisi janji untuk menerangkan yang sebenarnya, maka sumpah ini disebut
juga sumpah promissoir, lain dengan sumpah sebagai alat bukti yang disebut
sumpah confirmatoir. Sumpah oleh saksi ini harus dihadapan kedua belah
pihak di persidangan.
c. Kewajiban untuk memberi keterangan
Saksi yang telah disumpah harus memberikan keterangan terhadap
pertanyaan yang diajukan kepada hakim. Jadi pertanyaan kepada saksi harus
melalui hakim. Dalam hal ini hakim dapat menolak suatu pertanyaan yang
diajukan oleh para pihak untuk diajukan kepada saksi apabila menurut hakim
pertanyaan yang diajukan tersebut tidak relevant, bahkan hakim harus
menurut kehendaknya bertanya segala perrtanyaan yang sekiranya menuju
kebenaran (Pasal 150 HIR)
Hakim yang karena jabatannya dapat mengajukan saksi saksi yang
tidak diajukan para pihak9. Segala keterangan saksi yang diberikan di
persidangan harus dicatat dalam berita acara pemeriksaan persidangan.
4. Saksi yang tidak mau hadir dalam Persidangan
Saksi yang tidak mau datang untuk memberi keterangan telah diatur dalam pasal
140 HIR
Pasal 140.
1) Jika saksi yang dipanggil dengan cara demikian juga tidak datang pada hari
yang ditentukan, maka ia harus dihukum oleh pengadilan negeri untuk
membayar segala biaya yang telah dikeluarkan dengan sia-sia.
2) Ia harus dipanggil sekali lagi atas biaya sendiri.

Saksi yang tidak mau datang dihukum untuk membayar ongkos yang telah
dikeluarkan, juru sita melakukan pekerjaanya (antar lin memanggil saksi) mendapat uang
jalan. Ini merupakan ongkos panggilan dalam hal ini dibebankan kepada saksi yang
enggan datang. Prinsip dari ini adalah prinsp wajib saksi.10

Kemudian saksi harus dipanggil dan membayar biayanya sendiri menuju


pengadilan. Menjadi saksi merupakan kewajiban setiap penduduk. Kewajiban penduduk
menurut Moh Djais adalah:

1. Wajib saksi
2. Wajib pajak
3. Wajib sekolah
4. Wajib milisi11

Kemudian jika saksi tidak mau datang lagi padahal telah dipanggil secara
patut dan sah maka hal ini diatur dalam Pasal 141 HIR.

9
Sudikno Mertokusumo,Op.cit hlm 138
10
Moch Djais dan RMJ Koosmargono, Op.cit hlm 116
11
Ibid hlm 117
Pasal 141.

1) Jika saksi yang dipanggil sekali lagi itu tidakjuga datang, maka ia
harus dihukum sekali lagi membayar biaya yang dikeluarkan
dengan sia-sia itu, dan mengganti segala kerugian yang diderita
kedua pihak karena ia tidak datang.
2) Tambaban lagi, ketua dapat memerintahkan, supaya saksi yang tidak
datang itu dibawa polisi menghadap pengadilan negeri untuk
memenum kewajibannya.

Jika saksi yang telah dipanggil tidak mau datang lagi hukumannya
diperberat dengan mengganti kerugian, jika pihak yang berperkara
menderita kerugian akibat ketidakhadiran saksi. Jika ternyata saksi
tersebut memang sangat dibutuhkan, maka sidang dapat ditunda lagi dan
ketua dapat memerinthkan supaya saksi dibawa ke hadapan pengadilan
dengan cara dipaksa oleh polisi untuk memenuhi kewajibannya.

Jika ternyata saksi tersebut tidak dapat datang dengan alasan yang
jelas maka saksi dapat dibebaskan dari hukuman yang diajtuhkan
kepadanya hal ini sesuai pada pasal 142 HIR.

Pasal 142.

Jika saksi yang tidak datang itu menerangkan, bahwa ia tidak


dapat memenuhi panggilan itu karena alasan yang sah, maka
sesudah diterangkannya hal itu, pengadilan negeri wajib
meghapuskan hukuman yang ddatuhkan kepadanya.

Menjadi saksi merupakan salah satu kewajiban warga negara oleh


karena itu seseorang yang dipanggil sebagai saksi jika tidak mau memnuhi
kewajibannya maka akan dihukum untuk membayar ongkos panggilan dan
membayar ganti rugi dan selanjutnya melalui polisi saksi dipaksa hadir
untuk memberi kesaksian. Apabila ketidakhadiran saksi pada persidangan
terdahulu disebabkan oleh alasan menurut hukum, maka hakim
membebaskan saksi yang bersangkutan dari sanksi membayar ongkos
panggilan dan ganti rugi.
BAB IV

PENUTUP

Saksi merupakan salah satu alat bukti di dalam hukum acara perdata yang sah dan
termuat di dalam pasal 164 HIR. Walaupun ada beberapa alat bukti lainnya yang dapat
digunakan dalam hukum acara perdata tetapi saksi memiliki peran yang sangat penting
karena banyak hal-hal penting yang terjadi tanpa memiliki bukti berupa surat maupun
akta namun saksi dapat hadir menjadi salah satu orang yang menyaksikan hal-hal penting
tersebut terutama seperti perjanjian-perjanjian dan hutang piutang. Untuk mendapat
menjadi seorang saksi, ia harus benar-benar hadir atau melihat atau mendengar langsung
kejadian yang akan diberikan kesaksian karena jika ia hanya mendengar kejadian tersebut
dari orang lain tanpa menyaksikan secara langsung maka ia tidak dapat dikatakan sebagai
seorang saksi. Seorang saksi diwajibkan untuk hadir di persidangan saat mendapatkan
surat panggilan jika saksi tersebut tidak hadir tanpa alasan maka saksi dapat berikan
sanksi secara administrasi oleh pengadilan.
DAFTAR PUSTAKA

Mertokusumo, Sudikno.1988.Hukum Acara Perdata Indonesia.Yogyakarta:Liberty.

Soebekti. 1982.Hukum Acara Perdata.Bandung:Angkasa.

Djais, Moch dkk.2010.Membaca dan Mengerti HIR edisi revisi.Semarang: Oetama.

Soesilo.1989.RIB/HIR dengan penjelasan.Bogor: Politeia

Winardi.2007.Managemen Konflik Konflik Perubahan dan Pengembangan.Bandung: Mandar Maju.

Rasyid, Laila M dan Herinawati.2015.Pengantar Hukum Acara Perdata.Lhoksumawe:Unimalpress

Sutanto, Retnowulan.1989.Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek.Bandung:Mandar


Maju

Supomo.1983. Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. Jakarta:Bina Aksara

Mokoginta, Hartanto.2013”Penyelesaian Sengketa Perdata di luar pengadilan melalui abritase”. Dalam


Jurnal Lex Privatum Vol 1 no 1

Nurhaini, Elisabeth.2010.”Arti Pentingnya Pembuktian dalam Proses Penemuan Hukum di


Peradilan Perdata. Jurnal Mimbar Hukum Vol 22 no 2

Soeikromo, Deasy.2014.”Proses Pembuktian dan Penggunaan Alat Alat Bukti Pada Perkara
Perdata di Pengadilan.Jurnal Vol 2 no 1