Anda di halaman 1dari 4

RESUME

Amal Shalih

A. Pengertian amal shalih


Menurut bahasa “Amal Shaleh”, berarti perbuatan yang baik, bermanfaat, selamat,
atau cocok. Sedang menurut istilah terdapat beberapa definisi, antara lain: Menurut
Zamahsyari’ amal shalih diartikan sebagai semua perbuatan yang sesuai dengan ajaran al-
Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Amal shalih juga disefinisikan sebagi perbuatan baik yang
dilakukan seseorang karena Allah Swt. dengan tujuan untuk mendapatkan rahmat dan ridha-
Nya, baik menjalankan perintah maupun menjalankan perintah maupun menjauhi larangan-
Nya. sesuai dengan aturan-aturan ajaran Islam. Dilihat dari hubungan antara manusia sebagai
makhluk dan Allah Swt. sebagai Khalik, maka amal shalih dapat didefinisikan dengan semua
perbuatan yang dilakukan hamba kepada Allah Swt. sebagai bentuk pengabdiannya yang
didasari dengan iman.
Untuk bisa menilai amal shaleh melalui proses sebagai berikut:
1. Sebelum mengamalkan sesuatu pastikan mempunyai rencana yang matang didasari
iman dan pengetahuan yag cukup tentang apa yang akan dikerjakan sehingga amalnya
dapat diterima.
2. Amalkan niatnya hanya untuk mendapatkan ridha Allah Swt.
3. Menjalankan amal pekerjaan tersebut dengan sikap bersabar sekalipun susah dihadapi.
4. Menerima dengan perasaan ridha terhadap hasil pekerjaan yang diterima sebagai takdir
terbaik yang Allah berikan.

B. Amal shalih sebagai ahlak al-karimah kepada Allah

Manusia diciptakan oleh Allah Swt. tujuannya adalah supaya beribadah hanya
kepada-Nya. Oleh sebab itu semua amal perbuatan manusia yang beriman harus bernilai
ibadah dan menjadi amal shalih. Amal yang hanya dipersembahkan kepada Allah Swt. dan
ridha penilaiannya diserahkan sepenuhnya hanya kepada-Nya. Adapun instrumen penilaian
amal shalih, yakni amal yang dibingkai dengan iman; diawali rencana yang matang dan
tawakkal, niat yang ikhlas, dikerjakan dengan sabar dan atau syukur, serta akhirnya dapat
menerima (ridha) hasilnya sebagai bagian dari takdir Allah Swt.

Adapun sikap yang termasuk amal shalih adalah sebagai berikut:

a. Tawakkal

Menurut bahasa kata tawakkal diambil dari Bahasa Arab ‫ الت ََو ُّكل‬/tawakkul dari akar
ََ ‫ َو َك‬/wakala) yang berarti lemah. Adapun ‫ الت ََو ُّكل‬/tawakkul berarti menyerahkan atau
kata ‫ل‬
mewakilkan. Seperti seseorang mewakilkan urusan kepada orang lain atau menggantikannya.
Artinya, dia menyerahkan suatu perkara atau urusannya dan dia menaruh kepercayaan kepada
orang itu mengenai urusan tadi.
Secara istilah tawakkal telah didefinisikan oleh ulama, antara lain Imam al-Ghazali.
menyebutkan bahwa tawakkal itu adalah hakikat tauhid yang merupakan dasar dari
keimanan, dan seluruh bagian dari keimanan tidak akan terbentuk melainkan dengan ilmu,
keadaan, dan perbuatan. Begitupula dengan sikap tawakkal, ia terdiri dari suatu ilmu yang
merupakan dasar, dan perbuatan yang merupakan buah (hasil), serta keadaan yang
merupakan maksud dari tawakkal. Tawakkal adalah menyerahkan diri kepada Allah tatkala
menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam kesulitan di luar batas
kemampuan manusia.
Berikutnya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dalam kitabnya Madarij as-Salikin
menjelaskan bahwa Tawakkal merupakan amalan dan penghambaan hati dengan
menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah Swt. semata, percaya terhadap-Nya,
berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan
keyakinan bahwa Allah akan memberikan segala ‘kecukupan’ bagi dirinya, dengan tetap
berikhtiar semaksimal mungkin untuk dapat memperolehnya.

Artinya:

Maka sebab rahmat dari Allah, Engkau bersikap lemah lembut kepada mereka. Seandainya
Engkau bersikap kasar lagi keras hati, niscaya mereka akan pergi dari sekelilingmu. Sebab itu
maafkan mereka, mintakan ampunan baginya dan ajaklah bermusyawarah mereka dalam
urusan itu (menentukan strategi perang). Lalu apabila Engkau telah memiliki tekad yang
bulat, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
bertawakkal (QS. Ali Imran/3: 159).

Ayat di atas menempatkan tawakkal pada posisi penyusunan rencana tahap akhir
setelah mempunyai keputusan dan tekad yang bulat. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum
tawakkal manusia harus terlebih dahulu berikhtiar secara zhahir, selanjutnya dengan ikhtiar,
yakni ikhtiar dan do’a. Jadi tawakkal bukan berarti tinggal diam, tanpa kerja dan usaha,
bukan menyerahkan semata-mata kepada keadaan dan nasib dengan tegak berpangku tangan
duduk memekuk lutut, menanti apa-apa yang akan terjadi. Memohon pertolongan dan
Bertawakkal tidaklah berarti meninggalkan upaya, bertawakkal mengharuskan seseorang
meyakini bahwa Allah yang mewujudkan segala sesuatu, sebagaimana ia harus menjadikan
kehendak dan tindakannya sejalan dengan kehendak dan ketentuan Allah Swt. Seorang
muslim dituntut untuk berusaha tetapi di saat yang sama ia dituntut pula berserah diri kepada
Allah Swt, ia dituntut melaksanakan kewajibannya, kemudian menanti hasilnya sebagaimana
kehendak dan ketentuan Allah.hal tersebut mengisyaratkan bahwa tawakkal itu dilakukan
sebelum melakukan aktivitas. Kita harus menyadari sematang apapun rencana yang kita buat
adalah rencana yang dibuat oleh manusia yang serba lemah, dan tidak dapat mengetahui
secara universal tentang hubungan sebab akibat dari semua unsur yang menentukan dan
mempengaruhi keberhasilannya. Manusia hanya bisa berencana setiap keinginan, namun
Allah yang menentukan segala hasil yang ia kehendaki.
b. Ikhlas
Menurut bahasa, ikhlas berarti jujur, tulus dan rela. Menurut istilah, makna ikhlas
diungkapkan oleh para ulama antara lain adalah sebagai berikut:
1). Muhammad Abduh mengatakan ikhlas adalah ikhlas beragama untuk Allah SWT. dengan
selalu manghadap kepada-Nya, dan tidak mengakui kesamaan-Nya dengan makhluk apapun
dan bukan dengan tujuan khusus seperti menghindarkan diri dari malapetaka atau untuk
mendapatkan keuntungan serta tidak mengangkat selain dari-Nya sebagai pelindung.
2). Muhammad al-Ghazali mengatakan ikhlas adalah melakukan amal kebajikan semata-mata
karena Allah SWT.
Dari ungkapan di atas dapat dipahami bahwa ikhlas itu adalah segala sesuatu yang
berkenaan dengan masalah niat sebab niat merupakan titik penentu dalam menentukan amal
seseorang. Ikhlas adalah menyengajakan suatu perbuatan karena Allah Swt. dan
mengharapkan ridha-Nya serta memurnikan dari segala macam kotoran dan godaan seperti
keinginan terhadap populeritas, simpati orang lain, kemewahan, kedudukan, harta, pemuasan
hawa nafsu dan penyakit hati lainnya. Ikhlas merupakan bentuk implementasi iman dalam
beramal, karena itu nyata sama dengan keimanan yang bisa bertambah dan berkurang.
Untuk itu umat Islam harus berhati-hati terhadap sifat-sifat yang dapat merusak
keikhlasannya, di antaranya:

1). Riya’, yakni melakukan amal perbuatan tidak untuk mencari ridha Allah SWT., akan
tetapi untuk dinilai oleh manusia untuk memperoleh pujian atau kemashuran, posisi,
kedudukan di tengah masyarakat, sebagaimana tergambar di dalam firman Allah SWT. Q. S.
al-Ma’un/107: 4-7. Riya’ merupakan salah satu penyakit yang sifatnya abstrak, namun tanda-
tandanya secara empiris dapat dirasakan, terutama bagi orang yang melakukannya.
2). Sum’ah, yakni menceritakan amal yang telah dilakukan kepada orang lain supaya
mendapat penilain dan dihargai misalnya kedudukan di hatinya.
3). Nifak, sifat menyembunyikan kekafiran dengan menyatakan dan mengikrarkan
keimanannya kepada Allah Swt.

c. Sabar
Menurut bahasa sabar berarti tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, putus asa
atau patah hati. Sebenarnya kata sabar berasal dari bahasa arab, yaitu shabara- yashbiru-
shabran yang artinya menahan. Sedangkan menurut istilah sabar didefinisikan oleh para
ulama, antara lain: (1). Shabar adalah sikap tegar dalam menghadapai ketentuan dari Allah.
Orang yang sabar menerima segala musibah dari Allah dengan lapang dada, (2). Sabar adalah
keteguhan hati yang mendorong akal pikiran dan agama dalam menghadapi dorongan-
dorongan nafsu syahwat. (3). Shabar adalah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi
godaan dan rintangan dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan.
Dapat dipahami bahwa sabar itu merupakan kemampuan menahan atau mengatur diri
untuk dapat tetap taat terhadap aturan-aturan yang benar berdasarkan syariat dalam
menjalankan perintah Allah Swt., menjauhi larangan-Nya dan menerima cobaan, pada waktu
tertentu mulai dari awal sampai selesai. Orang yang memiliki sabar harus memerlukan
pengetahuan yang cukup tentang apa yang sedang diamalkan. Mustahil orang yang bodoh
akan dapat sabar, karena kemungkinan besar ia akan melanggar aturan-aturan yang sudah
ditetapkan sebab tidak mengetahuinya.

d. Syukur
Secara bahasa berarti pujian atas kebaikan dan penuhnya sesuatu. Syukur juga berarti
menampakkan sesuatu kepermukaan. Dalam hal ini menampakkan sesuatu kepermukaan,
yakni menampakkan nikmat Allah. Sedangkan menurut istilah syukur adalah pengakuan
terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan kedudukan kepada-Nya dan
mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan dan kehendak-Nya. Sebagaimana
tentang kesabaran dijelaskan dalam QS. Ali Imran/3: 200 sebagai berikut:

M. Quraish Shihab menegaskan bahwa syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur
dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan
mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan
memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

e. Ridha
Menurut bahasa kata ‫ الرضا‬/ridha berasal dari bahasa Arab yang berarti senang, suka,
rela. Ia merupakan lawan dari kata ‫ السخط‬/al-sukht yang berarti kemarahan, kemurkaan, rasa
tidak suka. Orang yang ‫ الرضا‬/ridha berarti orang yang sanggup melepaskan ketidak senangan
dari dalam hati, sehingga yang tinggal di dalam hatinya hanyalah kesenangan. Menurut istilah
para ulama ridha didefinisikan antara lain oleh;

(1). Dzunnun Al-Miṣri, beliau mengatakan bawa ridha ialah kegembiraan hati dalam
menghadapi qadha tuhan,
(2). Ibnu Ujaibah mengatakan bahwa ridha adalah menerima kehancuran dengan wajah
tersenyum, atau bahagianya hati ketika ketetapan terjadi, atau tidak memilih-milih apa yang
telah diatur dan ditetapkan oleh Allah, atau lapang dada dan tidak mengingkari apa-apa yang
datang dari Allah.
(3). Al-Barkawi berpendapat bawa ridha adalah jiwa yang bersih terhadap apa-apa yang
menimpanya dan apa-apa yang hilang, tanpa perubahan. Ibnu Aṭaillah as-Sakandari berkata,
“ridha adalah pandangan hati terhadap pilihan Allah yang kekal untuk hamba-Nya, yaitu,
menjauhkan diri dari kemarahan.
Dari definisi-definisi di atas dapat difahami bahwa ridha itu merupakan kondisi
kejiwaan atau sikap mental yang senantiasa menerima dengan lapang dada atas segala
keputusan Allah Swt. Orang yang jiwanya rela (puas) menerima apapun yang terjadi pada diri
mereka, tidak ada sedikitpun kekecewaan yang melanda dirinya. Orang-orang seperti inilah
yang disebut dengan orang yang ridha . Orang yang ridha sadar bahwa penderitaan yang
menimpanya juga menimpa orang lain, namun dalam bentuk yang berbeda-beda. Sikap
seperti itu muncul karena ia mengimani sepenuhnya rencana dan kebijaksanaan Allah.