Anda di halaman 1dari 25

Case Report Session

Apendisitis

PRESENTAN

Andi Aflah Afif (1410070100136)

PRESEPTOR

dr. M. Nurhuda Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU BEDAH RSI SITI RAHMAH PADANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


BAITURRAHMAH

2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkat
izin dan ridha-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
“Retensio Plasenta” dan juga shalawat beriring salam semoga selalu
tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Penulisan kasus ini merupakan salah satu tugas dalam menjalankan


kepaniteraan klinik senior pada bagian Bedah RSI Siti Rahmah Padang.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dr. M. Nurhuda Sp.B selaku
pembimbing sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan laporan kasus ini
demi memenuhi tugas kepaniteraan klinik. Penulis juga menyadari bahwa
penulisan laporan kasus ini tidak terwujud tanpa ada bantuan dan bimbingan
serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tidak terhingga kepada pihak
yang telah membantu penulis.

Penulis telah berusaha melakukan yang terbaik dalam penyusunan


kasus ini, namun penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan
maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan pembuatan karya presentasi kasus ini.

Padang, 3 Juli 2019

Penulis

i
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Variasi Letak Apendiks ....................................................... 6

Gambar 2.2 Gambaran USG Apendisitis ................................................ 6

Gambar 2.3 Gambaran CT Scan Apendisitis .......................................... 6

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................... i

DAFTAR GAMBAR ........................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................ 1

BAB I .................................................................................................... 4

1.1. Latar Belakang ................................................................................. 4

1.2 Tujuan Penulisan ............................................................................... 5

BAB II .................................................................................................. 6

2.1. Anatomi Apendiks ........................................................................... 6

2.1. Definisi Apendisitis.......................................................................... 7

2.1. Faktor Resiko Apendisitis ................................................................ 7

2.1. Etiologi Apendisitis.......................................................................... 7

2.1. Gejala Klinis Apendisitis ................................................................. 8

2.1. Patofisiologi Apendisitis .................................................................. 8

2.1. Diagnosis Apendisitis ...................................................................... 9

2.1. Diferrensial Diagnosis Apendisitis ................................................ 12

2.1. Pengobatan Apendisitis .................................................................. 13

1
2.1. Komplikasi Apendisitis .................................................................. 16

BAB III................................................................................................. 13

3.1 IDENTITAS PASIEN ...................... Error! Bookmark not defined.

3.2 ANAMNESIS : ................................ Error! Bookmark not defined.

3.2.1 Keluhan Utama: ........................ Error! Bookmark not defined.

3.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang: ..... Error! Bookmark not defined.

3.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu .......... Error! Bookmark not defined.

3.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga ....... Error! Bookmark not defined.

3.3 PEMERIKSAAN FISIK........................ Error! Bookmark not defined.

3.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG ........... Error! Bookmark not defined.

3.6.1 Laboratorium ............................. Error! Bookmark not defined.

3.7 DIAGNOSA ..................................... Error! Bookmark not defined.

BAB IV ............................................................................................... 22

KESIMPULAN .................................................................................. 22

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 23

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Apendiks diartikan sebagai bagian tambahan, aksesori atau bagian
tersendiri yang melekat ke struktur utama dan sering kali digunakan untuk
merujuk pada apendiks vermiformis. Apendisitis merupakan peradangan pada
apendiks vermiformis, yaitu divertikulum pada caecum yang menyerupai
cacing, panjangnya bervariasi mulai dari 7 sampai 15 cm, dan berdiameter
sekitar 1 cm. Batasan apendisitis akut adalah apendisitis dengan onset akut
yang memerlukan intervensi bedah, ditandai dengan nyeri di abdomen kuadran
bawah dengan nyeri tekan lokal dan nyeri alih, spasme otot yang ada di
atasnya, dan hiperestesia kulit. Sedangkan apendisitis kronis adalah apendisitis
yang ditandai dengan penebalan fibrotik dinding organ tersebut akibat
peradangan akut sebelumnya1 . Apendisitis kronis dapat mengalami
peradangan akut lagi yang disebut eksaserbasi akut2 . Apendisitis merupakan
penyebab tersering operasi kegawatdaruratan dan salah satu penyebab tersering
nyeri abdomen akut3.
Tujuh persen populasi di Amerika Serikat menderita apendisitis dengan
insidensi 1,1 kasus tiap 1000 orang per tahun. Angka kejadian apendisitis akut
mengalami kenaikan dari 7,62 menjadi 9,38 per 10.000 dari tahun 1993 sampai
20084.
Menurut Departemen Kesehatan RI pada tahun 2006, apendisitis
menempati urutan keempat penyakit terbanyak di Indonesia setelah dispepsia,
gastritis dan duodenitis, dan penyakit sistem cerna lain dengan jumlah pasien
rawat inap sebanyak 28.0405.
Penyakit ini dapat dimulai saat lahir, mengalami puncak di usia remaja
akhir dan menurun di usia lanjut3,4 . Apendisitis dapat ditemukan pada semua
umur, jarang pada anak kurang dari satu tahun. Insidensi tertinggi kelompok
usia 20-30 dominasi pria, selain itu sebanding2 . Perbandingan angka kejadian
pada remaja : dewasa muda adalah 3 : 2 dan didominasi pria. Pada orang
dewasa, angka kejadian apendisitis 1,4 kali lebih banyak pada pria dibanding
wanita dan risiko terkena apendisitis sebanyak 8,6% pada pria dan 6,7% pada
wanita3,6.
Terdapat 12 % pria dan 25% wanita yang melakukan operasi apendektomi
dan 7% diantaranya mengalami apendisitis akut. Berdasarkan 10 tahun
penelitian mulai tahun 1987 – 1997 didapatkan penurunan kasus operasi

4
apendektomi yang sesuai dengan penurunan insidensi apendektomi.
Didapatkan pula rata- rata usia pasien yang mengalami apendisitis adalah 31,3
tahun dengan usia tengah 22 7 .
Meningkatnya jumlah sel darah putih antara 11.000/mm3 sampai
17.000/mm3 didapatkan pada 80% penderita, tetapi tidak jelas apakah spesifik
untuk apendisitis atau penyakit lain dengan gejala nyeri abdomen akut6.
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap apendisitis2. Adapun faktor
risiko yang berpotensi menyebabkan apendisitis antara lain, diet rendah serat
dan tinggi gula, riwayat keluarga, infeksi, dan panjang apendiks8,9. Faktor
predisposisi lain yaitu sisa makanan, limfoid hiperplasia (pada anak-anak) dan
tumor karsinoma. Inflamasi akibat virus dan bakteri juga dapat mempengaruhi
apendiks10.

1.2 Tujuan Penulisan


1. Melengkapi syarat tugas Stase Bedah.
2. Melengkapi syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Rumah Sakit
Islam (RSI) Siti Rahmah Padang.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Anatomi Apendik

Gambar 2.1 variasi letak apendiks

Selama proses embryogenesis, apendiks pertama kali muncul pada minggu


ke delapan gestasi sebagai lanjutan dari ujung inferior caecum. Apendiks berotasi ke
posisi terakhirnya pada posteromedial caecum, sekitar 2 cm dibawah katup
iliocaecal, selama masa anak anak usia akhir. Variabilitas dari rotasi ini
menyebabkan multiple kemungkinan posisi akhir dari apendiks. Apendiks terletak
intraperitoneal pada 95% kasus, tetapi letak pastinya bervariasi. 30% kasus ujung
dari apendiks berada pada pelvis, 65% dibalik caecum, dan 5% ekstraperitoneal pada
retrocolic atau rectrocaecal. Pada kasus malrotasi atau situs inversus, apendiks akan
menunjukkan gejala inflamasi pada lokasi yang tidak biasa.

Apendiks rata rata panjangnya 8cm tetapi bisa bervariasi 0.3 – 33 cm.
diameternya bervariasi dari 5 hingga 10 mm. sumber perdarahan didapatkan
dari percabangan arteri ileocolic, yang melintas dibelakang ileum terminal.
Dasar dari apendiks tumbuh dari junction dari tiga taeniae coli, sebuah
penunjuk yang berguna dalam menemukan apendiks yang tersembunyi.
Lapisan epitel kolonik dan sirkuler dan otot longitudinal menyatu dengan
lapisan cecal. Beberapa folikel limfe submukosal muncul saat kelahiran. Lalu
jumlahnya meningkat hingga 200 saat usia 12 tahun lalu berkurang perlahan
setelah usia 30 tahun dan hanya tersisa beberapa pada usia 60 tahun.
Fungsi dari apendiks tidak diketahui. Primata memiliki apendiks tapi
kebanyakan mamalia tidak memilikinya. Anehnya kelinci memiliki apendiks,

6
dan hingga kini dipercaya sebagai bagian penting dari perkembangan
immunologik sel B.
2.2.Definisi Apendisitis
Apendisitis adalah inflamasi dari usus buntu(appendix vermiform),
yang pertama kali dideskripsikan oleh Charles McBurney dengan manifestasi
klinis berupa titik nyeri yang maksimum pada fossa iliac kanan yang sekarang
diabadikan dengan namanya.

2.3.Faktor Resiko Apendisitis

Resiko penderita apendisitis untuk laki laki sebesar 9% dan untuk wanita
sebesar 7%. Sepertiga pasien apendisitis berusia dibawah 18 tahun. Apendisitis lebih
sering terjadi pada orang berkulit putih dan pada musim panas di amerika serikat.
Insidensi tertinggi terdapat pada usia 11 dan 12 tahun.

2.4 Etiologi Apendisitis

Apendisitis diakibatkan obstruksi luminal yang diikuti infeksi. Penelitian


Wangesteen menunjukkan apendiks tetap mensekresi mukus bahkan ketika tekanan
intraluminal melebih 93 mmHg, walaupun jelas bahwa obstruksi luminal
menyebabkan apendisitis, penyebab dari obstruksi masih belum jelas. Pengentalan
dan terkadang kalsifikasi fecal berperan, disebut juga fecalith, sering kali berperan.
Fecalith ditemukan 20% pada anak anak dengan apendisitis akut dan 30% sampai
40% pada anak anak dengan apendisitis perforasi. Keberadaan dari fecalith bisa di
lihat secara radiografis. Hiperplasia folikel limfoid apendiks menyebabkan obstruksi ,
dan insidensi apendisitis berhubungan dengan jumlah jaringan limfoid yang ada.
Penyebab dari reaksi local atau umum dari jaringan limfatik seperti Yersinia, shigella,
dan salmonella,bisa menyebabkan obstruksi luminal apendiks, begitu juga infestasi
entamoeba, strongyloides, enterobius vermicularis, schistosoma, atau spesies
askaris. Infeksi viral enteric atau sistemik seperti measles, chickenpox, dan
cytomegalovirus dapat menyebabkan apendisitis. Pasien dengan fibrosis kistik
memiliki peningkatan insidensi apendisitis, yang diperkirakan disebabkan oleh
perubahan pada kelenjar pensekresi mukus. Tumor karsinoid bisa menyumbat
apendiks, terutama jika letaknya sepertiga proksimal. Benda asing seperti biji sayur
sayuran, biji ceri terlibat sebagai penyebab apendisitis selama lebih dari 200 tahun.
Trauma juga bisa dilaporkan menjadi penyebab sebagaimana stress psikologik dan
herediter berpengaruh.

7
2.3. Gejala Klinis Apendisitis

Awalnya pasien akan mengeluhkan gejala saluran cerna yang ringan


sebelum onset nyeri, seperti penurunan nafsu makan, gangguan saluran cerna,
atau perubahan dalam aktifitas usus. Anoreksia adalah salah satu tanda yang
membantu, khususnya pada anak anak, karna anak yang lapar jarang terkena
apendisitis. Gejala saluran cerna yang berat sebelum onset nyeri perlu
diarahkan ke diagnosis alternative yang lain. Distensi apendiks menyebabkan
aktivasi serabut nyeri visceral. Nyeri visceral tidak spesifik pada regio
paraumbilikal. Nyeri inisial ini terlokalisasi sebagai nyeri yang dalam dan
tumpul pada region T10 dermatome. Kontinuitas distensi dari dinding
apendiks menyebabkan mual dan muntah, yang biasanya mengikuti onset
nyeri untuk beberapa jam. Mual sering terjadi, tapi muntah bukan khas untuk
menentukan keparahannya. Kemunculan gejala ini sebelum onset nyeri
menimbulkan keraguan dalam diagnosis.

Pada anak anak usia dini lebih kompleks karena ketidakmampuannya


dalam menceritakan kronologis secara akurat yang bisa mengarahkan ke
misdiagnosis. Gejala yang paling sering muncul pada anak anak usia dini yaitu
muntah, diikuti oleh demam dan nyeri abdomen. Perforasi hampir selalu
ditemukan saat laparotomi, dan pasien juga memiliki obstruksi saluran cerna
kecil dikarenakan inflamasi yang meluas dari terminal ileum atau caecum.

2.4. Patofisiologi

apendiks yang tersumbat adalah tempat berkembang biak yang


sempurna bagi bakteri yang terkurung. Seiring peningkatan tekanan
intraluminal, aliran limfatik terhambat, sehingga menyebabkan edem dan
bengkak. Lalu, peningkatan tekanan menyebabkan obstruksi vena, yang
berlanjut menjadi iskemik jaringan, infark, dan gangren. Invasi bakteri pada
dinding apendikspun terjadi. Demam, takikardi, dan leukositosis muncul
sebagai akibat dari mediator yang dilepaskan jaringan iskemik, sel darah putih
dan bakteri. Ketika eksudat inflamasi dari dinding apendiks kontak dengan
peritoneum parietal, saraf nyeri somatic tereksitasi dan nyeri terlokalisir di
daerah sekitar apendiks, yang biasanya terletak di titik McBurney. Nyeri
biasanya hanya muncul pada kuadran kanan bawah tanpa nyeri visceral
terlebih dahulu. Pada apendiks dengan letak retrocaecal atau pelvic, onset
nyeri biasanya muncul lebih lama karena eksudat inflamasi baru kontak
dengan dinding peritoneum setelah terjadi rupture dan infeksi menyebar.
Nyeri untuk apendiks dengan letak retrocaecal biasanya pada sisi samping
badan atau di punggung., sedangkan apendiks pelvic karena posisinya di dekat
ureter atau pembuluh testikel bisa menyebabkan gangguan frekuensi buang air
kecil , nyeri testikel atau keduanya. Inflamasi ureter atau kantong kemih oleh
apendiks yang radang juga bisa menyebabkan nyeri saat miksi atau nyeri
seperti distensi kantong kemih karena retensi urin.

8
Lebih jauh lagi pecahnya dinding apendiks menyebabkan perforasi dan
tumpahnya isi apendiks yang infeksius dengan bentukan abses terlokalisir atau
peritonitis generalisata(difus). tanda apendiks yang mengalami perforasi
meliputi suhu lebih dari 38,6 derajat Celcius, hitung leukosit lebih dari
14.000/mm3, dan munculnya tanda peritonitis generalisata. Pasien bisa saja
asimptomatik sebelum terjadi perforasi, dan gejala bisa muncul lebih dari 48
jam tanpa perforasi. Namun, durasi munculnya gejala yang berkepanjangan
dihubungkan dengan peningkatan resiko terjadinya perforasi. Konstipasi
jarang terjadi, namun sensasi penuh pada rectum(tenesmus) sering terjadi.
Diare lebih sering terjadi pada anak anak disbandingkan orang dewasa dan
bisa menyebabkan misdiagnosis dengan gastroenteritis. Diare biasa terjadi
dalam durasi yang tidak lama dan biasanya disebabkan oleh iritasi terminal
ileum atau caecum, namun ini juga bisa menjadi indikasi terjadinya abses
pelvic.

2.5. Diagnosis Apendisitis Akut

2.5.1 Pemeriksaan Fisik

Anak anak dengan apendisitis biasanya terbaring di kasur dengan


gerakan yang minimal. Anak anak dengan apendisitis jarang menunjukkan
prilaku menggeliat dan suka berteriak kesakitan. Pengecualian untuk anak
dengan apendisitis retrocaecal dan diikuti iritasi ureter dengan gambaran nyeri
serupa dengan kolik renal. Anak anak yang lebih tua biasanya meregangkan
perut, sedangkan pada bayi meregangkan perut dengan mengangkat kaki
kanan kearah perut. Mengingat nyeri yang muncul saat terjadi guncangan
dimobil dalam perjalanan ke rumah sakit bisa menjadi sangat membantu.

Setelah menganamnesa, pemeriksaan fisik dimulai dengan meminta


anak menunjuk lokasi nyeri pada perutnya. Dengan posisi kaki ditekuk untuk
merelaksasikan otot perut, palpasi yang lembut pada abdomen harusnya
dimulai dari posisi yang agak jauh dari lokasi nyeri. Melakukan palpasi
abdomen pada area yang jauh dari lokasi nyeri bisa menimbulkan nyeri pada
kuadran kanan bawah abdomen (rovsing’s sign/referred pain), yang
mendindikasikan iritasi peritoneum. Anak anak biasanya lebih kooperatif bila
tangan mereka atau stetoskop digunakan untuk palpasi. Walaupun terkadang
pada pasien tidak terdengar bising usus, hal ini tidak seragam dan hanya
bermakna sedikit.

Nyeri terlokalisir penting untuk diagnosis dan terlihat dalam palpasi


dan perkusi. Nyeri bisa ringan dan bahkan tertutup oleh nyeri yang

9
tergeneralisata, terutama dalam stadium awal. Titik McBurney adalah lokasi
nyeri yang paling sering.

Berlanjutnya ke tahap perforasi , menyebabkan terjadinya peritonitis.


Lagi, jenis nyeri yang muncul tegantung dari lokasi apendiks. Peritonitis
digambarkan sebagai rigiditas otot local yang progresif dari satu bagian kecil
ke rigiditas menyeluruh pada abdomen. Tanda lain termasuk rigiditas
muskulus psoas atau dengan otot obturator, keduanya mengindikasikan iritasi
pada otot dikarenakan retrocaecal apendisitis. Tes lainnya untuk menguji
inflamasi peritoneal, seperti rebound tenderness, jarang dibutuhkan untuk
diagnosis dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada pasien.

2.5.2 Studi Labor

Banyak hal didiskusikan mengenai temuan labor dalam kasus


apendisitis. Total leukosit dan hitung neutrophil telah diteliti secara besar
besaran. Sensitivitas meningkatnya leukosit dari kisaran 52% hingga 96% dan
neutrofil dari 39% hingga 96%. Belakangan ini menjadi teknik diagnostic
yang diandalkan, tapi masih sering terjadi misinterpretasi. Normal leukosit
ditemukan pada 5% pasien dengan apendisitis, sensitivitas yang lebih baik
yaitu dengan menggunakan hitung rasio neutrofil-limfosit lebih dari 3.5.

Nilai positif untuk C-reactive protein dan tingkat sedimentasi eritrosit


dapat berguna, tetapi nilai negatif tidak menyingkirkan kemungkinan
terjadinya apendisitis. Menurut Dueholm hitung leukosit, persentase neutrofil,
C-reactive protein dalam batas normal menyingkirkan 100% kemungkinan
terjadinya apendisitis. Tetapi nilai yang tidak normal belum pasti
meningkatkan akurasi diagnostik untuk apendisitis.

2.5.3 Studi Radiologi

Radiografi polos dapat membantu, fecalith muncul dalam 10% hingga


20% pasien dan menjadi indikasi untuk operasi walaupun gejala nyeri yg
timbul masih ringan. Pemeriksaan barium enema juga bisa menunjukkan tidak
terlihatnya apendiks atau pengisian yang tidak sempurna pada apendiks,
bentuk ireguler pada lumen apendiks, sensitifitas untuk pemeriksaan ini
rendah dan biasanya digunakan untuk nyeri abdomen nonspesifik.

USG menjadi pilihan yang efektif. Studi prospektif menunjukkan


pemeriksaan usg lebih akurat dibandingkan kesan klinis yang didapat dokter
bedah. Kebanyakan studi menunjukkan sensitifitas lebih dari 85% dan
spesifiknya lebih dari 90%. Demonstrasi apendiks nonkompresibel dengan

10
diameter 7mm atau lebih pada bagian anteroposterior adalah kriteria primer
untuk diagnosis. gambaran appendicolith sangat membantu.

Gambar 2.2 Gambaran USG Apendisitis

Beberapa decade ini pemeriksaan CT secara luas dipakai dalam


diagnosis apendisitis. Temuan berupa pembesaran apendiks (>6mm),
penebalan dinding apendiks (>1mm), gambaran lemak dan penebalan dinding
apendiks adalah kriteria diagnostic yang membantu. Sensitifitas pemeriksaan
dengan CT lebih dari 90% dan spesifikasinya lebih dari 80%. CT scan dan
USG hanya digunakan saat diagnosis meragukan.

Gambar 2.3 Gambaran CT Scan Coronal Apendisitis

11
2.5.3 Alvarado Score

Berdasarkan temuan klinis dan pemeriksaan labor dibuat sebuah


system scoring untuk membantu diagnosis, dan yang paling sering digunakan
yaitu Alvarado Score. Akumulasi skor mencapai 7 atau lebih mengindikasikan
kemungkinan besar terjadinya apendisitis. Sedangkan pada pasien dengan skor
5-6 disarankan melakukan pemeriksaan CT scan atau USG untuk pemeriksaan
lebih lanjut.

Tabel 2.1 Alvarado(MANTREL) Score

2.6 Differensial Diagnosis

Diagnosis klinis apendisitis cukup menantang dikarenakan kebanyakan


gejala apendisitis tidak spesifik dan presentasinya bisa bervariasi.
Gastroenteritis akut adalah penyebab paling banyak nyeri abdomen pada anak
anak. Yang biasanya disebabkan oleh infeksi viral. Gejalanya meliputi diare
berair, nyeri kram abdomen, demam, mual dan muntah. Konstipasi adalah
masalah pediatrik lainnya yang memiliki gejala nyeri abdomen, mual dan
muntah. Nyeri biasanya persisten tapi tidak progresif. Infeksi traktus urinarius
juga menyebabkan demam, mual dan muntah. Urinalisa perlu dilakukan jika
ada gejala gangguan traktus urinarius.

Akurasi diagnosis apendisitis rendah pada wanita usia muda


dikarenakan banyaknya kondisi ginekologi yang dapat menyebabkan nyeri
abdomen bawah. Kehamilan ektopik bisa diperhatikan pada wanita usia muda.
Biasanya muncul dengan gambaran darah keluar dari vagina, amenor,
menggigil, mual dan muntah. Ruptur kista ovari dan torio ovari bisa juga
menunjukkan gambaran klinis berupa nyeri perut bagian bawah.

12
Tabel 2.2 Diferensial Diagnosis Apendisitis pada Anak dan Dewasa

Tabel 2.3 Diferensial Diagnosis Apendisitis pada Wanita dan Geriatri

2.7 Pengobatan

2.7.1 Antibiotik

Penggunaan antibiotik untuk terapi apendisitis sudah jelas membantu,


survei baru baru ini pada dokter bedah anak, penggunaan antibiotic berbeda
secara luas. Terapi 10 hari intravena dengan ampicillin, gentamycin, dan
clindamycin atau metronidazole menjadi standar emas untuk terapi apendisitis
komplek, dan efektifitas dan efektifitas terapi antibiotik kombinasi lainnya
biasanya dibandingkan dengan regimen ini. Kombinasi dilakukan karena
tingkat frekuensi keterlibatan bakteri Eschericia Coli, Enterococcus,
Klebsiella, dan bacteroides. Seiring munculnya antibiotic generasi baru,
kombinasi lainnya bisa saja sama efektifnya, termasuk cefotaxime dan
clindamycin, monoterapi cefoxitin, clindamycin dan amikacin, clindamycin
dan aztreonam, cefepime dan metronidazole, ticarcillin dan clavulanate, serta
piperacillin dan tazobactam.

Saat ini durasi penggunaan antibiotik mulai diturunkan. Hanya


antibiotic perioperatif yang digunakan dalam tahap awal apendisitis. Durasi
penggunaan yang disarankan dari dosis tunggal hingga sampai 48 jam. Sebuah
studi menunjukkan cefoxitin dosis tunggal tidak seefektif cefotetan dosis
tunggal. Durasi pengobatan tergantung dari obat yang dipilih.

13
2.7.2 Apendiktomi

terapi yang paling diterima secara umum untuk apendisitis akut adalah
dengan operasi segera. Terdapat temuan bahwa beberapa kasus dapat
terselesaikan secara spontan. Tapi tidak ada studi yang menunjukkan resiko
berkembangnya apendisitis komplek bila tidak dilakukan tindakan operatif.
Tidak ada studi radiografis, nilai labor, atau temuan klinis syang membantu
menentukan apakah apendisitis akut akan sembuh atau berlanjut menjadi
apendisitis komplek, dan pendekatan nonoperatif ini tidak banyak dijadikan
pedoman. Tidak ada peningkatan persentase perforasi atau insidensi
komplikasi pada pasien yang dilakukan apendiktomi 6 jam setelah masuk
rumah sakit dengan pasien yang baru mendapat tindakan operatif antara 8
sampai 16 jam setelah dirawat. Bagaimanapun, kebanyakan pasien dengan
diagnosis apendisitis akan mendapat tindakan operatif segera, dan kebanyakan
dokter bedah akan melakukan apendiktomi dalam waktu 8 jam.

Teknik membuka operatif, dibuat insisi tranversal atau obliq pada


kuadran kanan bawah melalui titik McBurney. Otot dinding abdomen
biasanya dipisahkan, setelah memasuki abdomen, caecum dan apendiks
kemudian dipindahkan dan apendiks dikeluarkan melewati titik insisi. Lalu
mesoapendiks dipisahkan dan dasar dari apendiks di ligasi, dasar apendiks
disisakan sedikit untuk menghindari inflamasi. Untuk apendisitis sederhana
irigasi untuk luka tidak perlu dilakukan, pola makan normal bisa dimulai
setelah operasi, dan pasien bisa pulang 1 sampai 2 hari setelah operasi. Jika
apendiks terlihat normal, cavitas peritoneal perlu diinspeksi untuk melihat
tanda tanda inflammatory bowel disease, mesenteric adenitis, meckel’s
diverticulitis, atau pada wanita berupa kelainan pada ovarium.

Endoskopi apendiktomi pertama dikenalkan pada 1983. Apendiktomi


laparaskopik bisa dilakukan dengan memindahkan apendiks menggunakan
satu atau dua pintu dengan membuka lubang kecil pada dinding abdomen
kemudian dikeluarkan dengan teknik insisi standar. Tiga trokar biasanya
digunakan, satu pada umbilicus untuk teropong, satu pada kuadran kanan atas
abdomen, dan satu pada kuadran kanan bawah untuk retraksi dan diseksi.
Apendiks ditemukan dengan menyusuri caecum, and mesoapendiks digapai di
dekat ujung untuk mengangkat apendiks ke dinding abdomen. Sebuah jendela
dibuat pada mesoapendiks pada dasar apendiks untuk memisahkannya dengan
menggunakan teknik klip, staples, atau harmonic scalpel. Teknik tersimpel
adalah dengan menstepler dasar dari apendiks lalu kemudian apendiks
diangkat melalui lubang trokar umbilical.

14
2.8 Komplikasi

Insidensi komplikasi meningkat sesuai derajat keparahan apendisitis,


tapi beberapa tahun ini angka komplikasi mengalami penurunan yang stabil.
Komplikasi termasuk infeksi luka, abses intra abdomen, obstruksi intestinal
postoperatif, prolonged ileus, dan yang jarang terjadi yaitu fistula
enterocutaneous. Infeksi luka adalah komplikasi yang paling banyak, dan telah
mengalami penurunan dari 50% menjadi kurang dari 5%, bahkan pada
apendisitis komplek.

15
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. S
Umur : 13 tahun
NO.MR : 197356
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Siteba - Padang
Tanggal masuk : 30 Juni 2019
3.2 Anamnesis
a. Keluhan Utama : nyeri abdomen yang meningkat sejak 2 hari SMRS
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
- Nyeri Abdomen meningkat sejak 2 hari SMRS. Nyeri dirasakan
terutama saat batuk dan beraktivitas ringan. Nyeri hilang timbul
dan membaik dengan pemberian analgesik.
- Nafsu makan berkurang sejak 2 hari SMRS.
- Mual (+) Muntah (+)
- Demam disangkal
- BAB dan BAK normal
c. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Hipertensi disangkal.
- Riwayat sakit jantung disangkal.
- Riwayat minum OAT disangkal
- Riwayat asma disangkal
- Riwayat DM disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga


- Riwayat minum OAT disangkal
- Riwayat penyakit yang sama disangkal
- Riwayat Hipertensi disangkal

16
- Riwayat asma disangkal
- Riwayat DM disangkal
- Riwayat sakit jantung disangkal

e. Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan


- Pekerjaan : Pelajar
- Kebiasaan : Merokok (-)
- Narkoba : (-)
- Alkohol : (-)

3.3 Pemeriksaan Fisik


a. Pemeriksaan Fisik Umum
- Keadaan umum : Tampak sakit sedang
- Kesadaran : Compos mentis
- Tekanan Darah : 109/77 mmHg
- Nadi : 91 x/menit
- Nafas : 20 x/menit
- Suhu : 36,7ºC
- Tinggi badan : 110 cm
- Berat badan : 30 kg
b. Kepala dan Leher
- Konjungtiva : anemis (-/-)
- Sklera : ikterik (-/-)
- JVP : 5-2 cmH2O
- KGB : tidak ada pembesaraan KGB

c. Paru
Inspeksi :
- Statis : simetris.
- Dinamis : Pergerakan dinding dada sama kanan dan kiri.
Palpasi : Fremitus taktil sama kanan dan kiri.

17
Perkusi : sonor pada lapang paru kanan dan kiri.
Auskultasi : Ronki (-/-), Wheezing (-/-), ekspirasi
memanjang (-/-)
d. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Jantung dalam batas normal
Auskultasi: BJ I dan II reguler, gallop (-), murmur (-)

e. Abdomen
Inspeksi : Perut tidak membuncit, asites (-), sikatrik (-)
Palpasi : Nyeri tekan (+), nyeri lepas (+), hepar dan lien
tidak teraba, McBurney’s Sign(+)
Perkusi : Tympani
Auskultasi: Bising usus (+) normal

f. Ekstremitas
- Akral hangat (+/+)
- Edema (-/-)

3.4 Pemeriksaan Laboratorium


a. Hb : 12,4 g/dL
b. Leukosit : 21.700 /mm3
c. Trombosit : 332.000 /mm3
d. Hematokrit: 37,1 %

3.5 Diagnosa Kerja


Peritonitis local e.c suspect apendisitis akut + Adhesi intestinal

3.6 Diagnosa Banding

18
- Gastroenteritis
- Adhesi Intestinal
- Intususepsi
- Mesenteric adenitis
- Meckel divertikulum
3.7 Penatalaksanaan
a. Farmakologi
- Drip Dexketoprofen 50 ml dalan RL 500 cc 16 tpm
- Inj Ceftriaxon vial 2 x 1 gr
- Inj Ranitidine amp 2 x 50 mg
- Inj Metronidazole 3 x 500 mg
- Konsul Bedah
- Pro Laparoskopi
b. Non Farmakologi
- Istirahat

FOLLOW UP

19
Senin / 1 Juni 2019

S/ - Nyeri Abdomen (+)

- Demam (-)

- Mual (-) muntah (-)

- Nafsu makan kurang

O/ - Keadaan umum : Tampak sakit sedang

- Kesadaran : Compos mentis

- Tekanan Darah : 100/70 mmHg

- Nadi : 84 x/menit

- Nafas : 20 x/menit

- Suhu : 36,7ºC

A/ Peritonitis Lokal e.c suspect apendisitis akut + adhesi intestinal

P/ - Drip Dexketoprofen 50 ml dalan RL 500 cc 16 tpm

- Inj Ceftriaxon vial 2 x 1 gr

- Inj Ranitidine amp 2 x 50 mg

- Inj Metronidazole 3 x 250 mg

- Rencana laparoskopi apendiktomi + adhesiolisis jam 15.00 sore

Selasa / 2 Juni 2019

20
S/ - Nyeri Post Op (+)

- Demam (-)

- Mual (+) muntah (-)

O/ - Keadaan umum : Tampak sakit sedang

- Kesadaran : Compos mentis

- Tekanan Darah : 100/70 mmHg

- Nadi : 84 x/menit

- Nafas : 20 x/menit

- Suhu : 36,7ºC

A/ Post Apendiktomi laparoskopik + adhesiolisis

P/ - Drip Dexketoprofen 50 ml dalan RL 500 cc 16 tpm

- Inj Ceftriaxon vial 2 x 1 gr

- Inj Ranitidine amp 2 x 50 mg

- Paracetamol Tab 3 x 500 mg

- Pronalgest Supp 2 x 1

KESIMPULAN

21
1. Apendisitis adalah peradangan pada usus buntu dengan klinis berupa nyeri
abdomen pada titik McBurney.

2.
Apendisitis lebih tinggi kejadiannya pada pria dibandingkan wanita.

3. Penyebab terjadinya inflamasi pada apendiks adalah obstruksi sehingga


tekanan didalam apendiks meningkat dan membuat habitat yang baik untuk
bakteri berkembang biak.

4. Diagnosis retensio plasenta apabila plasenta tidak lepas secara spontan setelah
setengah jam setelah bayi lahir dan pada pemeriksaan pervaginam plasenta
menempel di dalam uterus.

5. Dalam menegakkan diagnosis apendisitis, biasanya dengan temuan pada


pemeriksaan fisik berupa nyeri yg terlokalisir di titik McBurney, nyeri tekan,
nyeri lepas, juga pada anamnesa pasien biasa mengeluhkan mual dan muntah,
penurunan nafsu makan, temuan leukositosis pada pemeriksaan labor.

6. Terapi untuk apendisitis yaitu dengan antibiotik dan tindakan operatif berupa
apendiktomi baik dengan teknik konvensional maupun laparoskopik.

7. Komplikasi umum untuk kasus apendisitis yang paling sering yaitu infeksi
luka namun angkanya telah mengalami penurunan dari 50% ke kurang dari
5%.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland, N. W. 2010. Kamus Kedokteran Dorland (31 ed.). (A. Arfan, & A. A.
Mahode, Penyunt.) Jakarta: EGC.Mochtar R. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi 2.
Jakarta: EGC; 1998.

2. Hafid, A., & Syukur, A. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. (R. Sjamsuhidayat, & W. d.
Jong, Penyunt.) Jakarta: Penerbit BUku Kedokteran EGC.

3. Craig, Sandy. 2013. Appendicitis. http://emedicine.medscape.com/arti cle/773895-


overview#a0156 . December 16th,2013.

4. Buckius, M. T., McGrath, B., Monk, J., Bell, T., & Ahuja, V. 2011. Changing
Epidemiology of Acute Appendicitis in The United States: Study Period 1993-2008.
J Surg Res , 185-190.

5. Eylin. 2009. Karakteristik Pasien dan Histologi Diagnosis Pada Kasus Apendisitis
Berdasarkan Data Registrasi di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo
pada tahun 2003-2007. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

6. Feldman, M., Friedman, L. S., & Brandt, L. J. (2010). Sleisenger & Fordtran's
Gastrointestinal and Liver Disease. Philadelphia: Saunders Elsevier.

7. Bunicardi, F. C., Andersen, D. K., Billiar, T. R., Dunn, D. L., Hunter, J. G.,
Matthews, J. B., et al. (2010). Schwartz's Principle of Surgery (9th ed.). United
States of America: The McGraw-Hill Companies, Inc.

8. Cunha, John P. (2014). Appendicitis. http://www.emedicinehealth.com/a


ppendicitis/page9_em.htm. Augustus 7th, 2014. Diunduh tanggal 6 Oktober 2014.

9. Pickhardt, P. J., Suhonen, J., Lawrence, E. M., A. M., & Pooler, B. D. (2013).
Appendiceal length as an independent risk factor for acute appendicitis . European
Radiology , 3311-3317.

10. Shimi, S. M. (2011). Appendicitis and Appendectomy. Appendicitis - A Collection


of Essays from Around the World , 137-154.

11. Love’s, Bailey. 2018. Short Practice of Surgery 27th Edition. CRC Press.

12. Grosfeld, Jay. L. 2006. Pediatric Surgery Sixth Edition. Mosby Elsevier.

23