Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PSIKOSOSIAL

“DETEKSI DINI STRES”

Disusun Oleh :
Kelompok 2
1. Annisa Abidin (1814901011)
2. Alma Veronica (1814901028)
3. Putri Kurnia Sari (1814901005)
4. Indah Wulandari Berutu (1814901007)
5. Siti Marifatun Khasanah (1814901019)
6. Vera Cahyati Rusandi (1814901032)
7. Gariel Farhan Wicaksana (1814901024)
8. Zidane Rizal (1814901039)

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG


JURUSAN D4 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,taufiq dan hidayah-
Nya kepada kita semua, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan judul “Deteksi
Dini Stres”. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyelesaian
tugas ini. Semoga dengan terselesaikannya tugas ini kami berharap ini dapat membantu dan
menambah wawasan bagi para pembaca.

Kami menyadari bahwa tugas ini kurang sempurna. Oleh karena itu, dengan senang hati
kami senantiasa menerima kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.

Bandar Lampung,Agustus 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

Judul ……………………………………………………………………………………………………………………………………

Kata pengantar ……………………………………………………………………………………………………………………

Daftar isi ……………………………………………………………………………………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN

A. KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………….
B. TUJUAN………………………………………………………………………………………………………………….

BAB II PEMBAHASAN

A. DETEKSI DINI STRES………………………………………………………………………………………………..


B. CARA PENGUKURAN KECEMASAN………………………………………………………………………….

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Stress merupakan reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi


ancaman,tekanan atau suatu perubahan. Stress juga dapat terjadi karena situasi atau
pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa,gugup,marah atau bersemangat.
Gejala yang muncul saat seseorang mengalami stress berbeda-beda,tergantung
penyebab dan cara menyikapinya. Bila seseorang tidak dapat mengatasi stress dengan
baik dan stress menjadi berkepanjangan,dianjurkan untuk berkonsultasi dengan
psikiater. Melalui sesi konseling,psikiater akan mencari tahu pemicunya, agar dapat
ditentukan penangannya.

B. Tujuan

Mahasiswa mampu mengerti dan mengulang kembali materi yang telah disampaikan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Deteksi Dini Stres

1. Pengertian Stres

Stress merupakan reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi


ancaman,tekanan atau suatu perubahan. Stress juga dapat terjadi karena situasi
atau pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa,gugup,marah atau
bersemangat. Situasi tersebut akan memicu respon tubuh baik secara fisik
maupun mental. Respon tubuh terhadap stress dapat berupa napas dan detak
jantung menjadi cepat,otot menjadi kaku dan tekanan darah meningkat. Stress
sering kali dipicu oleh masalah dalam keluarga,hubungan social atau masalah
keuangan. Selain itu, stress juga bisa dipicu oleh penyakit yang diderita.

2. Gejala Stres

Gejala yang muncul saat seseorang mengalami stress berbeda-beda,tergantung


penyebab dan cara menyikapinya. gejala atau tanda stress dapat dibedakan
menjadi :
a. Gejala emosi , misalnya mudah gusar,frustasi,suasana hati yang mudah
berubah atau moody,sulit untuk menenangkan pikiran,rendah diri serta
merasa kesepian,tidak berguna,bingung dan hilang kendali dan depresi.
b. Gejala fisik, seperti lemas,pusing,migraine ,gangguan pencernaan(mual,diare
atau sembelit), nyeri otot,jantung berdebar,hasrat seksual menurun,tubuh
gemetar,telinga berdengung,mulut kering dan sulit menelan.
c. Gejala kognitif contohnya sering lupa ,sulit memusatkan
perhatian,pesimis,memiliki pandangan yang negatif dan membuat keputusan
yang tidak baik.
d. Gejala perilaku ,misalnya tidak mau makan,menghindari tanggung jawab
serta menunjukan sikap gugup seperti mengigit kuku atau berjalan bolak-
balik,merokok hingga mengkonsumsi alcohol secara berlebihan.

3. Diagnosis dan Penanganan Stres

Bila seseorang tidak dapat mengatasi stress dengan baik dan stress menjadi
berkepanjangan,dianjurkan untuk berkonsultasi dengan psikiater. Melalui sesi
konseling,psikiater akan mencari tahu pemicunya, agar dapat ditentukan
penangannya. Bila stres sudah mempengaruhi kerja organ dalam, psikiater akan
merekomendasikan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium
atau rekam jantung. Setelah mengevaluasi masalah ,kondisi mental dan kondisi
fisik pasien. Psikiater akan menentukan tindakan penanganan yang sesuai. Focus
dari penanganan stress adalah untuk mengubah cara pandangdan respon
penderita terhadap situasi yang menjadi penyebab stres.

B. Cara pengukuran Kecemasan

1. HARS

Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut alat


ukur kecemasan yang disebut HARS(Hamilton Anxiety Rating Scale). Skala HARS
merupakan pengukuran kecemasan didasarkan pada munculnya symptom pada
individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14 syptoms
yang Nampak pada individu yang mengalami kecemasan.setiap item 0(nol
present) sampai dengan 4(severe). Skala HARS pertama kali digunakan pada
tahun 1959 yang diperkenalkan oleh max hamilton dan sekarang telah menjadi
standar dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic. Skala
HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitasi cukup tinggi untuk
melakukan pengukuran kecemasan pada penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan
0,97. Kondisi ini menunjukan bahwa pengukuran kecemasan dengan
menggunakan skala HARS akan diperoleh hasil yang valid dan reliable.
Skala HARS menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) penilaian
kecemasan terdiri dari 14 item, meliputi :
1. Perasaan cemas firasat buruk,takut akan pikiran sendiri, mudah tersinggung.
2. Ketegangan merasa tegang,gelisah,gemetar,mudah terganggu dan lesu.
3. Ketakutan : takut terhadap gelap,terhadap orang asing,bila tinggal sendiri
dan takut pada binatang besar.
4. Gangguan tidur sukar memulai tidur ,terbangun pada malam hari,tidur tidak
pulas dan mimpi buruk.
5. Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat,mudah luoa dan sulit
konsentrasi.
6. Perasaan depresi : hilangnya minat,berkurangnya kesenangan pada
hoby,sedih ,perasaaan tidak menyenangkan sepanjang hari.
7. Gejala somatic : nyeri pada otot-otot dan kaku, gertakan gigi,suara tidak
stabil dan kedutan otot.
8. Gejala sensorik : perasaaan ditusuk-tusuk, pengelihatan kabur muka merah
dan pucat serta merasa lemah.
9. Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada,denyut nadi mengeras dan
detak jantung hilang sekejap.
10. Gejala pernapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik sering menarik
nafas panjang dan merasa napas pendek.
11. Gejala gastrointestinal : sulit menelan,obstipasi,berat badan menurun ,mual
dan muntah,nyeri lambung sebelum dan sesudah makan,perasaan panas di
perut.
12. Gejala urogenital : sering kencing,tidak dapat menahan
kencing,aminorea,ereksi lemah atau impotensi.
13. Gejala vegetative : mulut kering,mudah berkeringat ,muka merah ,bulu roma
berdiri,pusing atau sakit kepala.
14. Perilaku sewaktu wawancara : gelisah,jari-jari gemetar,mengerutkan dahi
atau kening ,muka tegang,tonus otot meningkat dan napas pendek dan
cepat.

Cara penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori

0= tidak ada gejala sama sekali

1=satu dari gejala yang ada

2=sedang/separuh dari gejala yang ada

3=berat/lebih dari 1/2 gejala yang ada

4= sangat berat semua gejala ada

Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14
dengan hasil :

1. Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan


2. Skor 7-14 =kecemasan ringan
3. Skor 15-27 = kecemasan sedang
4. Skor lebih dari 27 = kecemasam berat
No Pertanyaan 0 1 2 3 4
1 Perasaan ansietas
 Cemas
 Firasat buruk
 Takut akan
pikiran sendiri
 Mudah
tersinggung
2 Ketegangan
 Merasa tegang
 Lesu
 Tak bisa
istrirahat tenang
 Mudah terkejut
 Mudah menangis
 Gemetar
 Gelisah
3 Ketakutan
 Pada gelap
 Pada orang asing
 Ditinggal sendiri
 Pada binatang
besar
 Pada keramaian
lalu lintas
 Pada kerumunan
orang banyak
4 Gangguan tidur
 Sukar masuk
tidur
 Terbangun
malam hari
 Tidak nyenyak
 Bangun dengan
lesu
 Banyak mimpi
 Mimpi-mimpi
buruk
 Mimpi
menakutkan
5 Gangguan kecerdasan
 Sukar
konsentrasi
 Daya ingat buruk
6 Perasaaan depresi
 Hilangnya minat
 Berkurangnya
kesenangan pada
hobi
 Sedih
 Bangun dini hari
 Perasaan
berubah-ubah
sepanjang hari
7 Gejala somatik (otot)
 Sakit dan nyeri di
otot-otot
 Kaku
 Kedutan otot
 Gigi gemerutuk
 Suara tidak stabil
8 Gejala somatik(sensorik)
 Tinnitus
 Pengelihatan
kabur
 Muka merah
atau pucat
 Merasa lemah
 Perasaan
ditusuk-tusuk
9 Gejala kardiovaskuler
 Takhikardia
 Berdebar
 Nyeri di dada
 Denyut nadi
mengeras
 Perasaan
lesu/lemas
seperti mau
pingsan
 Detak jantung
menghilang(berh
enti sekejap
10 Gejala respiratori
 Rasa tertekan
atau sempit di
daa
 Perasaan
tercekik
 Sering menarik
napas
 Napas
pendek/sesak
11 Gejala gastrointestinal
 Sulit menelan
 Perut melilit
 Gangguan
pencernaan
 Nyeri sebeloum
dan sesudah
makan
 Perasaan
terbakar di perut
 Rasa penuh atau
kembung
 Mual
 Muntah
 Buang air besar
lembek
 Kehilangan berat
badan
 Sukar buang air
besar(konstipasi)
12 Gejala urogenital
 Sering buang air
kecil
 Tidak dapat
menahan air seni
 Amennorhoe
 Mennorhagia
 Menjadi
dingin(frigid)
 Ejakulasi
praecoccks-
ereksi hilang
 Impotensi
13 Gejala otonom
 Mulut kering
 Muka merah
 Mudah
berkeringat
 Pusing,sakit
kepala
 Bulu-bulu berdiri
14 Tingkah laku pada
wawancara
 Gelisah
 Tidak tenang
 Jari gemetar
 Kerut kening
 Muka tegang
 Tonus otot
meningkat
 Napas pendek
atau cepat
 Muka merah
2. DASS

Depression Anxiety Stres Scal 42 (DASS 42) atau lebih diringkaskan sebagai
depression axiety stress scale 21 (DASS 21) oleh lovibond&lovibond(1995).
Psychometric of the depression anxiety stress scale 42(DASS)terdiri dari 42 item
dan depression anxiety stress scale 21 terdiri dari 21 item/. DASS adalah
seperangkat skala subjektif yang dibentuk untuk mengukur status emosional
negatif dari depresi,kecemasan dan stress. DASS 42 dibentuk tidak hanya untuk
mengukur secara konvensional mengenai status emosional,tetapi untuk proses
yang lebih lanjut untuk pemahaman,pengertian dan pengukuran yang berlaku di
manapun dari status emosional,secara signifikan biasannya digambarkan sebagai
stress. DASS dapat digunakan baik itu oleh kelompok atau individu untuk tujuan
penelitian. DASS kuesioner 42-item yang mencakupp tiga laporan diri skala
dirancang untuk mengukur keadaan emosional negatif dari depresi,kecemasan
dan stress. Masing-masing tiga skala berisi 14 item,dibagi menjadi sub skala 2-5
item dengan penilaian setara konten. Skala depresi menilai dyshoria,putus
asa,devaluasi hidup,sikap meremehkan diri,kurangnya
minat/keterlibatan,anhedonia dan inersia. Skala kecemasan menilai gairah
otonom,efek otot rangka,keceasan situsional dan subjektif pengalaman
mempengaruhi cemas. Skala stress (item)yang sensitive terhadap tingkat kronis
non spesifik gairah. Ini menilai kesulitan santai,gairah saraf dan yang mudah
marah atau gelisah,mudah tersinggung atau over—reaktif dan tidsk sabar.
Responden yang diminta untuk menggunakan 4-point keparahan / skala
frekuensi untuk menilai sejauh mana mereka memiliki setiap negara selama
seminggu terakhir.
Skor untuk masing-masing responden masing-masing sub-skala,kemudia di
evaluasi dengan keparahan rating indeks di bawah :
1. Normal : 0-14
2. Stress ringan : 15-18
3. Stress sedang : 19-25
4. Stress berat : 26-33
5. Stress sangat berat : >34
No Pertanyaan 0 1 2 3
1 Saya merasa bahwa
diri saya menjadi
marah karena hal
sepele
2 Saya merasa bibir
saya sering kering
3 Saya sama sekali
tidak dapat
merasakan perasaan
positif
4 Saya mengalami
kesulitan
bernafas(misalnya :
seringkali terengah-
engah atau tidak
dapat bernapas
padahal tidak
melakukan aktivitas
fisik sebelumnya)
5 Saya sepertinya tidak
kuat lagi utnuk
melakukan suatu
kegiatan
6 Saya cenderung
bereaksi berlebihan
terhadap suatu
situasi
7 Saya merasa
goyah(misalnya, kaki
terasa mau copot)
8 Saya merasa sulit
untuk bersantai
9 Saya menemukan
diri saya berada
dalam situasi
yangmembuat saya
merasa sangat
cemas dan saya akan
merasa sangat lega
jika semua ini
berakhir
10 Saya merasa tidak
ada hal yang dapat
diharapkan di masa
depan
11 Saya menemukan
diri saya mudah
merasa kesal
12 Saya merasa telah
menghabiskan
banyak energy untuk
merasa cemas
13 Saya merasa sedih
dan tertekan
14 Saya menemukan
diri saya menjadi
tidak sabar ketika
mengalami
penundaan(misalnya
: kemacetan lalu
lintas,menunggu
sesuatu)
15 Saya merasa lemas
seperti mau pingsan
16 Saya merasa saya
kehilangan minat
akan segala hal
17 Saya merasa bahwa
saya tidak berharga
sebagai seorang
manusia
18 Saya merasa bahwa
saya mudah
tersinggung
19 Saya berkeringat
secara berlebihan
(misalnya : tangan
berkeringat) padahal
temperature tidak
panas atau tidak
melakukan aktifitas
fisik sebelumnya
20 Saya merasa takut
tanpa alasan yang
jelas
21 Saya merasa bahwa
hidup tidak
bermanfaat
22 Saya merasa sulit
untuk beristirahat
23 Saya mengalami
kesulitan dalam
menelan
24 Saya tidak dapat
merasakaan
kenikmatan dari
berbagai hal yang
saya lakukan
25 Saya menyadari
kegiatan jantung,
walaupun saya tidak
sehabis melakukan
aktivitas fisik
(misalnya : merasa
detak jantung
meningkat atau
melemah)
26 Saya merasa putus
asa dan sedih
27 Saya merasa bahwa
saya sangat mudah
marah
28 Saya merasa saya
hampir panic
29 Saya merasa sulit
tenang setelah
sesuatu membuat
saya kesal
30 Saya takut bahwa
saya akan
“terhambat” oleh
tugas-tugas sepele
yang tidak biasa saya
lakukan
31 Saya tidak merasa
antusias dalam hal
apapun
32 Saya sulit untuk
sabar dalam
menghadapi
gangguan terhadap
hal yang sedang saya
lakukan
33 Saya sedang merasa
gelisah
34 Saya merasa bahwa
saya tidak berharga
35 Saya tidak dapat
memaklumi hal
apapun yang
menghalangi saya
untuk menyelesaikan
hal yang sedang saya
lakukan
36 Saya merasa sangat
ketakutam
37 Saya melihat tidak
ada harapan untuk
masa depan
38 Saya merasa bahwa
hidup tidak berarti
39 Saya menemukan
diri saya mudah
gelisaj
40 Saya merasa
khawatir dengan
situasi dimana saya
mungkin menjadi
panic dan
mempermalukan diri
sendiri
41 Saya merasa
gemetar (misalnya :
pada tangan)
42 Saya merasa sulit
untuk meningkatkan
insiatif dalam
melakukan sesuatu
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Stress merupakan reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi


ancaman,tekanan atau suatu perubahan. Stress juga dapat terjadi karena situasi atau
pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa,gugup,marah atau bersemangat.
Gejala yang muncul saat seseorang mengalami stress berbeda-beda,tergantung
penyebab dan cara menyikapinya. Bila seseorang tidak dapat mengatasi stress dengan
baik dan stress menjadi berkepanjangan,dianjurkan untuk berkonsultasi dengan
psikiater. Melalui sesi konseling,psikiater akan mencari tahu pemicunya, agar dapat
ditentukan penangannya.Stress dapat diukur dengan alat uji kecemasan berupa HARS
dan DASS
DAFTAR PUSTAKA

Pengukuran Hars Dan Dass(18 agutus 2019)


https://is.scribd.com/document/334065153/pengukuran-hars -dan-dass