Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Penyalahgunaan minuman keras saat ini merupakan permasalahan yang cukup


berkembang di dunia remaja dan menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari
tahun ketahun, yang akibatnya dirasakan dalam bentuk kenakalan-kenakalan,
perkelahian, munculnya geng-geng remaja, perbuatan asusila, dan maraknya
premanisme pada kalangan remaja. (http://metro-alkoholisme.co.id, diakses pada
tanggal 6 Januari 2011 jam 20.00 WIB).
Menurut Asisten Sosial Ekonomi Pemerintah Kota Bogor, H. Indra M Rusli
(dalam Apriansyah, 2008), bahwa “Masalah-masalah yang saat ini berkembang di
kalangan remaja diantaranya, penyebaran narkoba, penyebaran penyakit kelamin,
kehamilan dini, serta ancaman HIV-AIDS. Yang juga mencemaskan, 20 % remaja
kita ternyata sudah begitu akrab dengan rokok yang merupakan pintu masuk bagi
narkoba dan MIRAS (minuman keras).”
Data World Health Organization (WHO) mengeluarkan laporan
terbaru tentang jumlah kematian didunia akibat minuman beralkohol.
Sepanjang tahun 2009 kemarin, tercatat 775 ribu nyawa melayang di
dunia akibat minuman keras tersebut. Angka itu sama dengan 5,3 % dari
total jumlah kematian di seluruh dunia. Laporan itu juga menyebutkan
angka 3,19 juta orang yang saat ini dalam kondisi kritis, dalam kasus
yang sama. (http://metro-alkoholisme.co.id, diakses pada tanggal 6 Januari 2011 jam
20.00 WIB).
Kepala Satuan Reskrim Polrestro Jakarta Selatan Kompol Nurdil Sanuaji
mengatakan jumlah korban tewas akibat minuman keras (miras) oplosan di Jagakarsa,
Jakarta Selatan, menjadi 12 orang dalam perjalanan kerumah sakit. Belasan orang itu
tewas dan kritis karena meminum miras oplosan, Sementara itu ditemukan kembali ,
jumlah data korban miras racikan dengan korbannya pemuda dan remaja warga RT 3
RW 6 Dukuh Karangpete Kelurahan Kutowinangun Kecamatan Tingkir,Salatiga,
1
Semarang, Jawa Tengah terus bertambah. Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga
melaporkan korban meninggal sebenyak 22 orang
Adisukarto (dalam Purnomowardani & Koentjoro, 2000) yang mengemukakan
bahwa sebagian besar korban penyalahgunaan minuman keras adalah remaja, yang
terbagi dalam golongan umur 14-16 tahun (47,7%); golongan umur 17-20 tahun
(51,3%); golongan umur 21-24 tahun (31%). Tinjauan dari tingkat pendidikan dan
latar belakang status ekonomi keluarga, berdasarkan hasil survei Dinas Penelitian dan
Pengembangan (Dislitbang) Polri memperlihatkan bahwa pemakai narkotika dan
minuman keras di Indonesia secara nasional terbanyak dari golongan pelajar, baik
SLTP, SLTA, maupun mahasiswa, yang jumlahnya mencapai 70%, sedangkan yang
lulusan SD hanya 30%, dan sebagian besar dari mereka berasal dari golongan
menengah keatas. (http://metro-alkoholisme.co.id, diakses pada tanggal 6 Januari
2011 jam 20.00 WIB).
Hawari (dalam buku M. Ali, 2010) menambahkan beberapa alasan yang
melatarbelakangi perilaku minum minuman keras yaitu, faktor predisposisi atau
kondisi internal seperti kecemasan, ketakutan, depresi dan lainnya. Yang kedua
adalah faktor kontribusi atau eksternal dan yang ketiga adalah faktor pencetus seperti
pengaruh teman sebaya dan juga tersedianya minuman keras secara mudah.
Kemudian Rice (dalam Sarsito, 2003) menambahkan dalam penelitiannya bahwa
salah satu faktor keluarga penyebab penggunaan narkoba atau minuman keras oleh
remaja adalah kurang dekatnya hubungan remaja-orang tua dan kurangnya
kemampuan untuk berkomunikasi antara remaja-orang tua.
Seperti yang telah diungkapkan Joewana (dalam Purnomowardani dan
Koentjoro, 2000) bahwa penyimpangan perilaku biasanya terdapat pada orang yang
mempunyai masalah yang lebih bersifat pribadi seperti keluarga yang tidak harmonis
dan adanya komunikasi yang kurang baik antara keluarga dan anak.
Alasan lain penggunaan minuman keras diungkapkan pula oleh Capuzzi
(dalam Fuhrmann, 2003:23) bahwa penyebab penyalahgunaan obat dan minuman
keras dibagi kedalam dua kelompok besar, yaitu : determinan sosial (termasuk
didalamnya pengaruh keluarga, afiliasi religius, pengaruh teman sebaya dan pengaruh
sekolah) dan determinan personal (termasuk didalamnya rendah diri, rasa ingin
memberontak, dorongan untuk berpetualang, dorongan impulsif, rasa ingin bebas, dan
kepercayan diri yang rendah).
Dryfoos (Santrock, 2002) dalam penelitiannya bahwa 5% sampai 10%
populasi remaja merupakan anak muda yang beresiko sangat tinggi (very high-risk
youth). Salah satu perilaku anak muda yang beresiko adalah perilaku minum minuman
keras. Berikut pernyataan yang lebih lengkap dari Dryfoos: “ Anak muda dengan
perilaku bermasalah ganda meliputi remaja yang ditahan dalam penjara atau yang
terlibat dalam kejahatan-kejahatan serius, putus sekolah atau nilai raportnya di bawah
rata-rata, pengguna obat-obatan keras, selalu minum minuman keras, menghisap
rokok dan mariyuana, aktif dan teratur secara seksual tetapi menggunakan
kontrasepsi“. Hal ini berarti bahwa remaja merupakan sumber daya manusia yang
potensial menjadi tidak dapat berfungsi secara maksimal akibat semakin luasnya
penyalahgunaan narkoba dan minuman keras. Salah satu temuan di atas ialah
perkembangan remaja saat ini dalam menyikapi berbagai masalah, sangat
memungkinkan jumlah yang sebenarnya jauh lebih besar, di mana umumnya
penggunaan narkoba atau minuman keras oleh remaja dilakukan sembunyi-sembunyi.
Pendapat ini mendasarkan pada fenomena gunung es, di mana hanya sedikit fenomena
yang tampak dan dapat diamati di permukaan, namun sesungguhnya terjadi lebih
banyak dari yang tampak. Hal ini berarti bahwa kondisi penyalahgunaan narkoba dan
minuman keras sudah berada pada taraf yang sangat mengkhawatirkan.
Perkembangan masa remaja mempunyai arti yang sangat khusus, namun masa
remaja juga mempunyai tempat yang tidak jelas di dalam rangkaian proses
perkembangan seorang manusia. Pada masa tersebut, remaja belum mampu untuk
mengendalikan fungsi fisik maupun psikologisnya. Perubahan-perubahan yang terjadi
sebagai bentuk perkembangan remaja, baik berupa fisik maupun psikologis seringkali
menimbulkan masalah bagi diri remaja. Remaja dalam proses perkembangannya
biasanya menghadapi masalah sosial dan biologis.
Meningkatnya tekanan kehidupan individu menjadi pemicu individu untuk
melakukan perilaku minum minuman keras sebagai salah satu pelarian. Hanya dengan
cara inilah hidup individu terasa lebih bermakna dan membahagiakan. Era sekarang
banyak tempat-tempat hiburan, sebut saja diskotik. Diskotik didentifikasikan dengan
hal-hal yang negatif, minuman keras dan obat-obatan terlarang. Hal ini dapat dilihat
dari tingkah laku anak-anak ‘gedongan’, artis dan anak-anak tanggung atau remaja
sering datang ke diskotik, para anak muda kalangan menengah keatas dan tidak
sedikit kalangan remaja yang sering pergi ke tempat tersebut. Perubahan ini antara
lain dipicu masuknya nilai baru yang menular dari para pendatang dan gaya hidup
kota besar Penelitian Sa’bah (dalam Prasetyo, 2006).
Berdasarkan data kunjungan pasien NAPZA di Rumah Sakit Ketergantungan
Obat (RSKO) Jakarta pada tahun 2007 total pasien NAPZA yang berkunjung
sebanyak 4088 orang baik rawat jalan maupun rawat inap dengan jenis kelamin laki-
laki sebanyak 3720 orang dan perempuan sebanyak 368 orang, dan berdasarkan usia
12-19 tahun sebanyak 358 orang sedangkan usia 20-32 tahun sebanyak 3378 orang.
Pada bulan Januari-September 2008 terjadi penurunan jumlah pasien NAPZA di
Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, total pasien NAPZA yang
berkunjung sebanyak 1124 orang baik rawat jalan maupun rawat inap dengan jenis
kelamin laki-laki sebanyak 1009 orang dan perempuan sebanyak 115 orang, dan
berdasarkan usia 12-19 tahun sebanyak 26 orang sedangkan usia 20-32 tahun
sebanyak 1038 orang. Berdasarkan data tersebut menujukan bahwa jenis kelamin laki-
laki lebih beresiko tinggi dalam penyalahgunaan NAPZA, sedangkan usia dewasa
awal 20-32 tahun merupakan usia yang dominan dalam penyalahgunanan NAPZA,
tetapi tidak sedikit pula penguna NAPZA di usia remaja.
Berdasarkan uraian data yang diatas peneliti tertarik untuk meneliti
“Hubungan Karakteristik Dan Pengetahuan Remaja Tentang Bahaya Minuman Keras
Dengan Perilaku Mengkonsumsinya Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta.

I.2. Rumusan Masalah

Data World Health Organization (WHO) mengeluarkan laporan


terbaru tentang jumlah kematian didunia akibat minuman beralkohol.
Sepanjang tahun 2009 kemarin, tercatat 775 ribu nyawa melayang di
dunia akibat minuman keras tersebut. Angka itu sama dengan 5,3 % dari
total jumlah kematian di seluruh dunia. Laporan itu juga menyebutkan
angka 3,19 juta orang yang saat ini dalam kondisi kritis, dalam kasus
yang sama. (http://metro-alkoholisme.co.id, diakses pada tanggal 12 Januari 2011 jam
20.00 WIB).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tercatat 91 juta orang
yang terjelas karena penggunaan alkohol pada tahun 2007. Dan pada penelitian yang
dilakukan oleh Adisukarto (dalam Purnomowardani & Koentjoro, 2000)
mengemukakan penyalahgunaan narkotika dan minuman keras adalah remaja, yang
terbagi dalam golongan umur 14-16 tahun (47,7%); golongan umur 17-20 tahun
(51,3%); golongan umur 21-24 tahun (31%). Tingkat pendidikan dan latar belakang
status ekonomi keluarga, berdasarkan hasil survei Dinas Penelitian dan
Pengembangan (Dislitbang) pemakai narkotika dan minuman keras di Indonesia
secara nasional terbanyak dari golongan pelajar SLTP, SLTA, dan mahasiswa, yang
jumlahnya mencapai 70%, sedangkan yang lulusan SD hanya 30%, dan sebagian
besar dari mereka berasal dari golongan menengah keatas. Demikian dengan hasil
penelitian yang sudah dipaparkan pada pemakaian alkohol atau minuman keras maka
akan berdampak tidak baik untuk remaja ataupun seseorang yang meminum-minuman
keras.
Kepala Satuan Reskrim Polrestro Jakarta Selatan Kompol Nurdil Sanuaji
mengatakan jumlah korban tewas akibat minuman keras (miras) oplosan di Jagakarsa,
Jakarta Selatan, menjadi 12 orang dalam perjalanan kerumah sakit. Belasan orang itu
tewas dan kritis karena meminum miras oplosan, Sementara itu ditemukan kembali,
jumlah data korban miras racikan dengan korbannya pemuda dan remaja warga RT 3
RW 6 Dukuh Karangpete Kelurahan Kutowinangun Kecamatan Tingkir,Salatiga,
Semarang, Jawa Tengah terus bertambah. Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga
melaporkan korban meninggal sebenyak 22 orang.
Dari hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan terhadap 10 orang remaja
di Rumah Sakit Ketergantungan Obat yang sering mengkomsumsi minuman keras 30
orang atau sebanyak 50% diantarannya tidak mengetahui bahaya minuman keras.
Berdasarkan uraian diatas maka, peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan
Karakteristik Dan Pengetahuan Remaja Tentang Bahaya Minuman Keras Dengan
Perilaku Mengkonsumsinya di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta”.

1.3. Pertanyaan Penelitian


1. Bagaimana gambaran pengetahuan remaja tentang bahaya minuman keras di
Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta?
2. Bagaimana gambaran perilaku remaja tentang bahaya minuman keras di Rumah
Sakit Ketergantungan Obat Jakarta?
3. Adakah hubungan antara pengetahuan remaja dengan perilaku mengkonsumsi
minuman keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta?
4. Adakah hubungan antara usia remaja dengan perilaku mengkonsumsi minuman
keras di rumah sakit ketergantungan obat Jakarta?
5. Adakah hubungan antara pendidikan remaja dengan perilaku mengkonsumsi
minuman keras di rumah sakit ketergantungan obat Jakarta?
6. Adakah hubungan antara jenis kelamin remaja dengan perilaku mengkomsumsi
minuman keras di Rumah Sakit ketergantungan obat Jakarta?
7. Adakah hubungan antara lingkungan remaja dengan perilaku mengkonsumsi
minuman keras di Rumah Sakit ketergantungan obat Jakarta?
8. Adakah hubungan antara keluarga dengan perilaku mengkonsumsi minuman
keras di Rumah Sakit ketergantungan obat Jakarta?
9. Adakah hubungan antara pengetahuan remaja dengan perilaku mengkonsumsi
minuman keras di Rumah Sakit ketergantungan obat Jakarta?

I.4. Tujuan Penelitian


I.4.1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang “Hubungan
Karakteristik Dan Pengetahuan Remaja Tentang Bahaya Minuman Keras Dengan
Perilaku Mengkonsumsinya Di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO)
Jakarta periode bulan Juni tahun 2011”.
I.4.2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan remaja tentang bahaya minuman
keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta?
b. Mengidentifikasi gambaran perilaku remaja tentang bahaya minuman keras di
Rumah Sakit Ketergantungan Obat?
c. Mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan remaja dengan perilaku
mengkonsumsi minuman keras remaja di Rumah Sakit Ketergantungan Obat
Jakarta?
d. Mengidentifikasi hubungan antara usia remaja dengan perilaku mengkonsumsi
minuman keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat jakarta?
e. Mengidentifikasi hubungan antara pendidikan remaja dengan perilaku
mengkonsumsi minuman keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat jakarta?
f. Mengidentifikasi hubungan antara jenis kelamin remaja dengan perilaku
mengkonsumsi minuman keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta?
g. Mengidentifikasi hubungan antara lingkungan remaja dengan perilaku
mengkonsumsi minuman keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta?
h. Mengidentifikasi hubungan antara keluarga dengan perilaku mengkonsumsi
minuman keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta?
i. Mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan dengan perilaku
mengkonsumsi minuman keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta?
I.5. Manfaat Penelitian
I.5.1. Manfaat Bagi Pelayanan Kesehatan Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat
memberikan masukan bagi istitusi layanan kesehatan khususnya Rumah Sakit
Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta.
I.5.2. Untuk Ilmu Keperawatan
Sebagai masukan atau bahan pertimbangan bagi praktek pelayanan keperawatan
khususnya keperawatan jiwa atau komunitas dan menjadi masukan mahasiswa
melakukan pendidikan kesehatan asuhan keperawatan pada pasien yang
menggunakan minuman keras atau alkohol.
I.5.3. Untuk Masyarakat
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat
untuk mengetahui tentang perilaku mengkonsumsi minuman keras.
I.5.4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi dalam melakukan
pengembangan penelitian dengan tema yang sama khususnya dalam bidang
psikologi sosial yang berkaitan dengan perilaku penggunaan minuman keras di
kalangan remaja.

I.6. Ruang Lingkup Penelitan


Agar lebih fokus dalam menganalisis permasalahan dalam penelitian.
Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta.
Adapun yang akan dijadikan objek penelitian adalah pasien poliklinik napza instalasi
rawat jalan tentang bahaya minuman keras dengan perilaku mengkonsumsi minuman
keras di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta periode bulan Juni tahun
2011.