Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN RASA NYAMAN NYERI PADA


PASIEN DENGAN LOW BACK PAIN (LBP) DI RUANG ANAK
RUMAH SAKIT BINA SEHAT JEMBER

Oleh
Nuril Aini Febriyanti
NIM. 152310101133

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2019
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN

Laporan Asuhan Keperawatan berikut disusun oleh:

Nama : Nuril Aini Febriyanti


NIM : 152310101133

Telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:

Hari :
Tanggal :

Jember, September 2019

TIM PEMBIMBING

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

..................................................... ........................................................
NIP ............................................ NIP .................................................

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
A. Definisi Nyeri ...................................................................................... 1
B. Klasifikasi Nyeri ................................................................................. 1
C. Etiologi ................................................................................................ 2
D. Tanda dan Gejala ............................................................................... 2
E. Pengkajian Nyeri ................................................................................ 2
F. Patofisiologi dan Clinical Pathway ................................................... 3
G. Penatalaksanaan Medis ..................................................................... 5
H. Penatalaksanaan Keperawatan ........................................................ 7
I. Penatalaksanaan berdasarkan evidence based practice in nursing 18
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 19

iii
A. Definisi Nyeri
Nyeri merupakan suatu kondisi di mana berupa perasaan tidak menyenangkan
yang bersifat subjektif karena rasa nyeri beberda beda pada setiap orang baik
dalam skala atau tingkat nyerinya dan hanya orang tersebut yang hanya dapat
menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dirasakannya (Aziz Alimul,
2006). Perasaan yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yag
muncul disertai dengan kerusakan jaringan secara aktual maupun potensial atau
kerusakan jaringan secara menyeluruh.
Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik yang multidimensional. Fenomena
ini dapat berbeda dalam intensitas (ringan,sedang, berat), kualitas (tumpul, seperti
terbakar, tajam), durasi (transien, intermiten,persisten), dan penyebaran
(superfisial atau dalam, terlokalisir atau difus). Meskipun nyeri adalah suatu
sensasi, nyeri memiliki komponen kognitif dan emosional, yang digambarkan
dalam suatu bentuk penderitaan. Nyeri juga berkaitan dengan reflex menghindar
dan perubahan output otonom (Meliala,2004).

B. Klasifikasi Nyeri
Nyeri diklasifikasikan atas dua bagian, yaitu nyeri akut dan nyeri kronis
(Berger, 1992), yaitu :
1. Nyeri Akut
Nyeri akut biasan mempunyai awitan yang tiba-tiba dan umumnya berkaitan
dengan cedera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau
cedera telah terjadi. Jadi kerusakan tidak lama terjadi dan tidak ada penyakit
sistematik, nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan terjadinya
penyembuhan. Nyeri akut umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan
biasanya kurang dari satu bulan. Cedera atau penyakit yang menyebabkan
nyeri akut dapat sembuh secara spontan atau memerlukan pengobatan
(Smeltzer & Bare, 2001).
2. Nyeri Kronik
Nyeri kronik merupakan nyeri berulang yang menetap dan terus menerus
yang berlangsung selama enam bulan atau lebih. Nyeri kronis dapat tidak

1
mempunyai awitan yang ditetapkan dengan tepat dan sering sulit untuk diobati
karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respons terhadap pengobatan yang
diarahkan pada penyebabnya. Meskipun tidak diketahui mengapa banyak orang
menderita nyeri kronis setelah suatu cedera atau proses penyakit, hal ini diduga
bahwa ujung ujung saraf yang normalnya tidak mentransmisikan nyeri menjadi
mampu untuk memberikan sensasi nyeri, atau ujung-ujung saraf yang normalnya
hanya mentransmisikan stimulus yang sangat nyeri menjadi mampu
mentransmisikan stimulus yang sebelumnya tidak nyeri sebagai stimulus yang
sangat nyeri (Smeltzer & Bare, 2001).
C. Etiologi
Penyebab nyeri dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu penyebab
yang berhubungan dengan fisik dan berhubungan dengan psikis. Secara fisik
misalnya, penyebab nyeri adalah trauma (baik trauma mekanik, termis, kimiawi,
maupun elektrik), neoplasma, peradangan, gangguan sirkulasi darah. Secara
psikis, penyebab nyeri dapat terjadi oleh karena adanya trauma psikologis. Nyeri
yang disebabkan oleh faktor psikis berkaitan dengan terganggunya serabut saraf
reseptor nyeri. serabut saraf resptor nyeri ini terletak dan tersebar pada lapisan
kulit dan pada jaringan-jaringan tertentu yang terletak lebih dalam. Sedangkan
nyeri yang disebabkan faktor psikologis merupakan nyeri yang dirasakan bukan
karena penyebab organik, melainkan akibat trauma psikologis dan pengaruhnya
terhadap fisik (Asmadi, 2008).

D. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala nyeri ada bermacam–macam perilaku yang tercermin dari
pasien. Secara umum orang yang mengalami nyeri akan didapatkan respon
psikologis berupa :
a. Suara: Menangis, merintih, menarik/menghembuskan nafas
b. Ekspresi wajah: Meringiu mulut
c. Menggigit lidah, mengatupkan gigi, dahi berkerut, tertutup rapat/membuka
mata atau mulut, menggigit bibir

2
d. Pergerakan tubuh: Kegelisahan, mondar – mandir, gerakan menggosok atau
berirama, bergerak melindungi bagian tubuh, immobilisasi, otot tegang.
e. Interaksi sosial: Menghindari percakapan dan kontak sosial, berfokus
aktivitas untuk mengurangi nyeri, disorientasi waktu
E. Pengkajian Nyeri
1. Skala Wajah Whaley dan Wong
Skala wajah dapat digunakan untuk anak-anak, karena anak-anak
dapat diminta untuk memilih gambar wajah sesuai rasa nyeri yang
dialaminya. Pilihan ini kemudian diberi skor angka. Skala wajah Whaley
dan Wong menggunakan 6 kartun wajah, yang menggambarkan wajah
tersenyum, wajah sedih, sampai menangis, dan tiap wajah ditandai dengan
angka 0 sampai 5.

2. Skala Numerik Verbal


Skala ini menggunakan angka-angka 0 sampai 10 untuk
menggambarkan tingkat nyeri. Dua ujung ekstrim digunakan pada skala
ini. Skala numerik verbal ini lebih bermanfaat pada periode pascabedah,
karena secara alami verbal/kata-kata tidak terlalu mengandalkan
koordinasi visual dan motorik. Skala verbal menggunakan kata-kata dan
bukan garis atau angka untuk menggambarkan tingkat nyeri. Skala yang
digunakan dapat berupa tidak ada nyeri, sedang, parah. Hilang/redanya
nyeri dapat dinyatakan sebagai sama sekali tidak hilang, sedikit berkurang,
cukup berkurang, baik/nyeri hilang sama sekali. Karena skala ini
membatasi pilihan kata pasien, skala ini tidak dapat membedakan berbagai
tipe nyeri.

3
F. Patofisiologi dan Clinical Pathway
Nyeri dapat muncul karena berbagai faktor yaitu agen cidera biologis
(misalnya infeksi, iskemia, neuplasma), agen cidera fisik (misalnya abses,
amputasi, luka bakar, trauma bedah), agen cidera kimiawi, agen pencedera dan
faktor pencetus lainnya yang dapat menyebabkan perasaan yang tidak
menyenangkan bagi seseorang. Saat rangsangan nyeri diterima oleh reseptor nyeri
maka seseorang akan mempersepsikan nyeri dan nyeri akan menekan saraf dan
dapat dipersepsikan menjadi nyeri akut atau nyeri dengan intensitas tinggi yang
dapat mengganggu pola tidur, juga saat seseorang merasa nyeri akan cenderung
takut bergerak karena nyeri yang dirasakan akan semakin dirasakan yang akan
mengalami gangguan imobilisasi fisik.

4
Pathway

Faktor Predisposisi
(Agen cidera biologis, fisik, kimiwi
dan faktor pencetus lainnya

Reseptor Nyeri

Presepsi Nyeri

Nyeri

Menekan Saraf Mobilitas fisik


Resptor Nyeri terganggu

Persepsi Nyeri
Gangguan
Mobilitas Fisik

Nyeri Akut RAS aktif

REM menurun

Gangguan Pola
Tidur

5
G. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan nyeri dikelompokkan menjadi dua, yaitu penatalaksanaan
nyeri secara farmakologi dan non farmakologi.
1. Penatalaksanaan nyeri secara farmakologi
Penatalaksanaan nyeri secara farmakologi melibatkan penggunaan opiat
(narkotik), nonopiat/ obat AINS (anti inflamasi nonsteroid), obat-obat adjuvans
atau koanalgesik. Analgesik opiat mencakup derivat opium, seperti morfin dan
kodein. Narkotik meredakan nyeri dan memberikan perasaan euforia. Semua opiat
menimbulkan sedikit rasa kantuk pada awalnya ketika pertama kali diberikan,
tetapi dengan pemberian yang teratur, efek samping ini cenderung menurun. Opiat
juga menimbulkan mual, muntah, konstipasi, dan depresi pernapasan serta harus
digunakan secara hati-hati pada klien yang mengalami gangguan pernapasan
(Berman, et al. 2009).
Nonopiat (analgesik non-narkotik) termasuk obat AINS seperti aspirin dan
ibuprofen. Nonopiat mengurangi nyeri dengan cara bekerja di ujung saraf perifer
pada daerah luka dan menurunkan tingkat mediator inflamasi yang dihasilkan di
daerah luka. (Berman, et al. 2009).
Analgesik adjuvans adalah obat yang dikembangkan untuk tujuan selain
penghilang nyeri tetapi obat ini dapat mengurangi nyeri kronis tipe tertentu selain
melakukan kerja primernya. Sedatif ringan atau obat penenang, sebagai contoh,
dapat membantu mengurangi spasme otot yang menyakitkan, kecemasan, stres,
dan ketegangan sehingga klien dapat tidur nyenyak. Antidepresan digunakan
untuk mengatasi depresi dan gangguan alam perasaan yang mendasarinya, tetapi
dapat juga menguatkan strategi nyeri lainnya (Berman, et al. 2009).
2. Penatalaksanaan nyeri secara non farmakologi
a. Stimulasi dan masase kutaneus.
Masase adalah stimulasi kutaneus tubuh secara umum, sering dipusatkan
pada punggung dan bahu. Masase tidak secara spesifik menstimulasi reseptor
tidak nyeri pada bagian yang sama seperti reseptor nyeri tetapi dapat
mempunyai dampak melalui sistem kontrol desenden. Masase dapat membuat

6
pasien lebih nyaman karena menyebabkan relaksasi otot (Smeltzer dan Bare,
2002).
b. Terapi es dan panas
Terapi es dapat menurunkan prostaglandin, yang memperkuat sensitivitas
reseptor nyeri dan subkutan lain pada tempat cedera dengan menghambat
proses inflamasi. Penggunaan panas mempunyai keuntungan meningkatkan
aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri
dengan mempercepat penyembuhan. Baik terapi es maupun terapi panas
harus digunakan dengan hati-hati dan dipantau dengan cermat untuk
menghindari cedera kulit (Smeltzer dan Bare, 2002).
c. Trancutaneus electric nerve stimulation
Trancutaneus electric nerve stimulation (TENS)menggunakan unit yang
dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang dipasang pada kulit untuk
menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar atau mendengung pada area
nyeri. TENS dapat digunakan baik untuk nyeri akut maupun nyeri
kronis (Smeltzer dan Bare, 2002).
d. Distraksi
Distraksi yang mencakup memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu
selain pada nyeri dapat menjadi strategi yang berhasil dan mungkin
merupakan mekanisme yang bertanggung jawab terhadap teknik kognitif
efektif lainnya. Seseorang yang kurang menyadari adanya nyeri atau
memberikan sedikit perhatian pada nyeri akan sedikit terganggu oleh nyeri
dan lebih toleransi terhadap nyeri. Distraksi diduga dapat menurunkan
persepsi nyeri dengan menstimulasi sistem kontrol desenden, yang
mengakibatkan lebih sedikit stimuli nyeri yang ditransmisikan ke
otak(Smeltzer dan Bare, 2002).
e. Teknik relaksasi
Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri. Hampir semua orang
dengan nyeri kronis mendapatkan manfaat dari metode relaksasi. Periode
relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan

7
ketegangan otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan yang meningkatkan
nyeri (Smeltzer dan Bare, 2002).
f. Imajinasi terbimbing
Imajinasi terbimbing adalah mengggunakan imajinasi seseorang dalam
suatu cara yang dirancang secara khusus untuk mencapai efek positif tertentu.
Sebagai contoh, imajinasi terbimbing untuk relaksasi dan meredakan nyeri
dapat terdiri atas menggabungkan napas berirama lambat dengan suatu
bayangan mental relaksasi dan kenyamanan (Smeltzer dan Bare, 2002).
g. Hipnosis
Hipnosis efektif dalam meredakan nyeri atau menurunkan jumlah
analgesik yang dibutuhkan pada nyeri akut dan kronis. Keefektifan hipnosis
tergantung pada kemudahan hipnotik individu

H. Penatalaksanaan Keperawatan
A. PENGKAJIAN
1. Identitas
a) Identitas pasien
Nama :
Umur :
Alamat :
Pekerjaan :
No. Reg :
Tgl MRS :
Tgl pengkajian :
Dx. Medis :
b) Identitas penanggung jawab
Nama :
Umur :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Hub. dgn pasien :

8
2. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan saat ini
Alasan masuk RS, faktor pencetus, keluhan utama, timbulnya keuhan,
pemahaman penatalaksanaan kesehatan, upaya yang dilakukan untuk
mengatasinya, diagnosa medik
b) Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit yang pernah dialami, pernah dirawat, dioperasi, kebiasaan
obat-obatan, riwayat kesehatan keluarga
3. Pengkajian Kesehatan Fungsional Pola Gordon
Pola fungsi kesehatan
a) Pemeliharaan dan persepsi tentang kesehatan
 Tingkat pengetahuan kesehatan/penyakit
 Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan
 Faktor-faktor risiko sehubungan dengan masalah kesehatan
b) Nutrisi/metabolik
 Berapa kali makan sehari
 Makanan kesukaan
 Berat badan sebelum dan sesudah sakit
 Frekuensi dan kuantitas minum sehari
c) Pola eliminasi
 Frekuensi dan kuantitas BAK dan BAB sehari
 Nyeri
 Kuantitas
d) Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas Harian (Activity Daily Living)
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan / minum
Toileting
Berpakaian
Mobilitas di tempat tidur
Berpindah
Ambulasi / ROM

9
Ket: 0: tergantung total, 1: bantuan petugas dan alat, 2: bantuan petugas, 3:
bantuan alat, 4: mandiri
e) Pola tidur dan istirahat
 Jam berapa biasa mulai tidur dan bangun tidur
 Somnambolisme
 Kualitas dan kuantitas jam tidur
f) Pola kognitif dan perseptual
 Adakah ganguan penglihatan, pendengaran (panca indera)
g) Pola persepsi diri dan konsep diri
 Gambaran diri
 Identitas diri
 Peran diri
 Ideal diri
 Harga diri
h) Pola seksual dan reproduksi
 Adakah gangguan pada alat kelaminnya
i) Pola peran-hubungan
 Hubungan dengan anggota keluarga
 Dukungan keluarga
 Hubungan dengan tetangga dan masyarakat
j) Pola manajemen koping stres
 Cara pemecahan dan penyelesaian masalah
k) Pola keyakinan-nilai
 Persepsi keyakinan
 Tindakan keyakinan
4. Pengkajian Nyeri
Sifat nyeri : (P, Q, R, S, T)
P : provocating ( pemacu ) dan paliative yaitu faktor yang meningkatkan
atau mengurangi nyeri.

10
Apakah ada peristiwa yang menjadi faktor penyebab nyeri, apakah
pengurangan yang terjadi, apakah menambah berat jika beraktivitas.
Q : Quality dan Quantity
• Supervisial : tajam, menusuk, membakar
• Dalam : tajam, tumpul, nyeri terus
• Visceral : tajam, tumpul, nyeri terus, kejang
Seperti apa rasa yang dirasakan atau dipahami klien. Apakah seperti
terbakar, berdenyut, tajam atau menusuk
R : region atau radiation ( area atau daerah ) : penjalaran
Di mana lokasi nyeri harus tepat dengan klien, apakah rasa sakit bisa reda,
apakah rasa sakit menjalar / menyebar, dan di mana rasa sakit terjadi.
S : severty atau keganasan : intensitas nyeri
Tingkat keparahan rasa sakit: dapat menghilangkan rasa sakit yang diterima
klien, bisa mengenai skala rasa sakit dan klien menerangkan rasa sakit yang
berhubungan dengan aktivitas sehari-hari
T : time (waktu serangan, lamanya, kekerapan muncul).
kapan saja diperlukan, kapan saja, kapan saja?
- Lokasi
- Intensitas
- Kualitas dan karakteristik
- Waktu terjadinya dan interval
- Respon nyeri
5. Skala Nyeri
a. Skala numerik (digunakan untuk pasien dewasa)
0 : tidak sakit / tidak nyeri
1-3 : nyeri ringan (beraktivitas)
4-6 : Nyeri sedang (beristirahat, aktivitas)
7-9 : Nyeri berat (tidak dapat beraktivitas)
10 : Nyeri sangat berat
b. Skala Ekspresi Wajah (digunakan untuk anak-anak)

11
6. Pengkajian Fisik
 Keadaan umum pasien
 Kesadaran
 Pemerikasaan TTV

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman
Batasan karakteristik
 Ansietas
 Menangis
 Gangguan pola tidur
 Takut
 Ketidakmampuan untuk rileks
 Iritabilitas
 Merintih
 Melaporkan merasa dingin
 Melaporkan merasa panas
 Melaporkan perasaan tidak nyaman
 Melaporkan gejala distress
 Melaporkan rasa lapar
 Melaporkan rasa gatal
 Melaporkan kurang puas dengan keadaan
 Melaporkan kurang senang dengan situasi tersebut
 Gelisah
 Berkeluh kesah
Faktor yang berhubungan
 Gejala terkait penyakit
2. Hambatan mobilitas fisik
Batasan karakteristik
 Gangguan sikap berjalan

12
 Penurunan keterampilan motorik halus
 Penurunan rentang gerak
 Waktu reaksi memanjang
 Kesulitan membolak-balik posisi
 Ketidaknyamanan
 Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan
 Dispnea setelah beraktivitas
 Tremor akibat bergerak
 Instabilitas postur
 Gerakan lambat
 Gerakan spastik
 Grakan tidak terkoordinasi

Faktor yang berhubungan


 Intoleran aktivitas
 Ansietas
 Indeks massa tubuh di atas persentil ke -75 sesuai usia
 Kepercayaan budaya tentang aktivitas yang tepat
 Penurunan kekuatan otot
 Penurunan kendali otot
 Penurunan massa otot
 Penurunan ketahanan tubuh
 Depresi
 Disuse
 Kurang dukungan lingkungan
 Kurang pengetahuan tentang nilai aktivitas fisik
 Kaku sendi
 Malnutrisi
 Nyeri
 Fisik tidak bugar

13
 Keengganan memulai pergerakan
 Gaya hidup kurang gerak

14
Perencanaan / Nursing Care Plan :

No. Masalah NOC NIC Rasional


Keperawatan
1. Gangguan Rasa Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 Manajemen nyeri 1. Agar mengetahui
Nyaman jam, hambatan mobilitas fisik pasien dapat teratasi 1. Lakukan nyeri yang dialami
dengan kriteria hasil: pengkajian nyeri pasien
1. Mampu mengontrol kecemasan secara 2. supaya
2. Status lingkungan yang nyaman komperhensif menhindara
3. Mengontrol nyeri 2. observasi reaksi perasaan nyeri
4. Kualitas tidur dan istirahat adekuat nonverbal dan pasien semakin
5. Agresi pengendalian diri ketidaknyamana memburuk
6. Respon terhadap pengobatan n 3. agar lebih mudah
7. Control gejala 3. Gunakan teknik dalam melakukan
8. Status kenyamanan meningkat komunikasi pengkajian nyeri
9. Dapat mengontrol ketakutan terapeutik untuk 4. membantu
10. Support Sosial mengetahui mengurangi nyeri
pengalaman pasien
nyeri pasien 5. memudahkan
4. berikan terapi dalam melakukan
farmakologi tindakan intervensi
5. kaji nyeri untuk yang akan
melakukan dilakukan
tindakan 6. saat nyeri muncul
intervensi pasien dapat
6. ajarkan teknik melakukan tekhnik
non farmakologi tanpa bantuan dan

15
seperti tarik dapat mengurangi
nafas dalam nyeri
7. berikan 7. mengurangi nyeri
analgetik untuk 8. menentukan
mengurangi tindakan yang
nyeri akan diambil
8. kolaborasi dalam menangani
dengan dokter nyeri yang
jika tindakan dirasakan klien
tidak berhasil
2. Hambatan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 Terapi latihan: Terapi latihan:
Mobilitas Fisik jam, hambatan mobilitas fisik pasien dapat teratasi ambulasi ambulasi
dengan kriteria hasil: 1. Sediakan 1. Mempermudah
Pergerakan sendi (0206) tempat tidur pasien untuk
Tujuan yang rendah melakukan
No Indikator Awal dan sesuai perpindahan dari
1 2 3 4 5 2. Bantu pasien tempat tidur ke kursi
untuk duduk di roda atau sebaliknya.
1 Pergelangan kaki 3 √ sisi tempat tidur 2. Mempermudah
(kiri) untuk pasien untuk
2. Lutut (kiri) 3 √ memfasilitasi menyesuaikan sikap
penyesuaian tubuh yang
3. Panggul (kiri) 3 √ √ sikap tubuh diinginkan.
3. Bantu pasien 3. Pasien mudah
Keterangan: untuk melakukan
1. Deviasi berat dari kisaran normal perpindahan, perpindahan.
2. Deviasi cukup besar dari kisaran normal sesuai 4. Membantu pasien
3. Deviasi sedang dari kisaran normal kebutuhan dalam melakukan

16
4. Deviasi ringan dari kisaran normal 4. Instruksikan perpindahan dan
5. Tidak ada deviasi dari kisaran normal pasien teknik ambulasi yang
mengenai aman.
pemindahan 5. Mengetahui
dan teknik kemampuan pasien
ambulasi yang dalam menggunakan
aman alat bantu.
5. Monitor
penggunaan Terapi latihan:
kruk atau alat pergerakan sendi
bantu berjalan 6. Mencegah
lainnya pergerakan sendi
yang berlebihan
Terapi latihan: 7. Membantu pasien
pergerakan sendi dan keluarga tentang
6. Tentukan manfaat dan tujuan
batasan melakukan latihan
pergerakan gerak sendi
sendi dan 8. Mencegah terjadinya
efeknya kekakuan pada sendi
terhadap sendi; 9. Mengontrol nyeri
7. Jelaskan pada Mempermudah pasien
klien dan agar mampu bergerak
keluarga tanpa hambatan
mengenai
manfaat dan
tujuan
melakukan

17
latihan sendi
8. Instruksikan
klien/keluarga
cara melakukan
latihan ROM
aktif atau pasif.
9. Monitor lokasi
dan
kecenderungan
adanya nyeri.
10. Pakaikan baju
yang tidak
menghambat
pergerakan
pasien

18
I. Penatalaksanaan berdasarkan evidence based practice in nursing
Perencanaan pulang (discharge planning) perlu disusun sejak pasien masuk
ke rumah sakit. Perencanaan pulang (discharge Planning) yang dilakukan dengan
baik bermanfaat antara lain pasien dan keluarga merasa siap untuk kembali ke
rumah, mengurangi stress, meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga dalam
menerima pelayanan perawatan, serta meningkatkan koping pasien (Kozier,
2010). Salah satu terapi komplementer yang dapat digunakan untuk menurunkan
nyeri adalah terapi musik. Musik diketahui memiliki banyak sekali manfaat,
antara lain, untuk relaksasi otot, mengurangi nyeri, memperlambat denyut
jantung, meningkatkan kedalaman pernapasan, serta mengurangi kecemasan dan
depresi (Jasemi, 2013). Kesulitan bernapas juga dialami oleh pasien paru. Teknik
pernapasan yang baik dapat membantu mengatasi nyeri dada pasien. Penggunaan
terapi komplementer dapat dilakukan pada pasien nyeri dada. Deep Breathing
Exercise merupakan latihan mengatur pernapasan agar pernapasan menjadi lebih
baik.Dasar pemilihan intervensi terapi musik adalah musik diketahui memiliki
banyak sekali manfaat,antara lain, untuk relaksasi otot, mengurangi nyeri,
memperlambat denyut jantung, meningkatkan kedalaman pernapasan, serta
mengurangi kecemasan dan depresi serta musik sudah lama dikenal dikalangan
masyarakat umum, mudah di dapatkan dan biayanya murah. Sedangkan Deep
Breathing Exercise merupakan latihan pernapasan yang dapat dilakukan oleh
pasien secara mandiri, tidak memerlukan ruangan yang besar, namun dapat
dilakukan pada saat pasien sedang duduk atau di tempat tidur (Veranita, 2018).

19
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep dan Aplikasi Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika

Berman, A., et al. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier Erb.
Jakarta: EGC

Jasemi, M. A. 2013. Music Therapy Reduces the Intensity of Pain Among Patient
With Cancer

Smeltzer, S. C., Bare, B. G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedag


Brunner & Suddarth. 8th Ed. Jakartas: EGC

Silbernagl dan Lang. 2000.Pain in Color Atlas of Pathophysiology. Thieme New


York. 320-321

Veranita, A. et al. 2018. Efek Terapi Musik dan Deep Breathing Exercise
terhadap Penurunan Nyeri, Frekuensi Nadi, Frekuensi Pernafasan pada
Pasien Kanker Paru [ 3 September 2019]
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://stikesmitr
akeluarga.ac.id/wp-
content/uploads/2018/05/30.pdf&ved=2ahUKEwiEgqCS9bLkAhX64nMBH
ap4AWUQFjABegQIARAB&usg=AOvVaw1Jy0y_uTMIiCo3mdzAQVI5

20