Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POST PARTUM

DENGAN KELAHIRAN SEKSIO CAESAREA

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Post partum adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta
dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil,
masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, 2002)
Post partum adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya
kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983)
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan
janin dari dalam rahim.
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding uterus (Sarwono, 2005).
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan
pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut juga histerotomia
untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Mochtar, 1998).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan
diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi &
Wiknjosastro, 2006)

2. Tujuan
Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya
perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim.
Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya jika
perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta previa, sectio
caesarea juga dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio caesarea dilakukan
pada placenta previa walaupun anak sudah mati.

3. Penyebab
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan risiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang
perlu tindakan SC seperti proses persalinan normal lama/kegagalan proses persalinan
normal (Dystasia).
a. Indikasi Ibu
1) His lemah/melemah
2) Plasenta previa
3) Disproporsi cevalo-pelvik (ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan
panggul) Rupture uteri mengancam
4) Primi muda atau tua
5) Partus dengan komplikasi
6) Panggul sempit
b. Indikasi Janin
1) Fetal distress
2) Problema plasenta Janin dalam posisi sungsang atau melintang
3) Bayi besar (BBL ≥ 4,2 kg)
4) Gawat janin
5) Kelainan letak
a) Letak lintang
b) Letak belakang
6) Hydrocephalus

4. Jenis-Jenis Operasi Sectio Caesarea


a. Abdomen (Sectio Caesarea Abdominalis)
1) Sectio Caesarea Transperitonealis
a) Sectio Caesarea Klasik atau Corporal
Dilakukan dengan insisi memanjang pada corpus uteri kira-kira 10
cm. mempunyai kelebihan mengeluarkan janin lebih cepat, tidak
mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik, dan sayatan bisa
diperpanjang proksimal atau distal. Sedangkan kekurangan dari cara ini
adalah infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada
reperitonealisasi yang baik danuntuk persalinan berikutnya lebih sering
terjadi ruptura uteri spontan.
b) Sectio Caesarea Ismika atau Profundal
Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada
segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm.
mempunyai kelebihan penjahitan luka lebih mudah, penutupan luka
dengan reperitonealisasi yang baik, perdarahan kurang, tumpang tindih
dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke
rongga peritoneum dan kemungkinan rupture uteri spontan kurang/lebih
kecil. Dan memiliki kekurangan luka dapat melebar kekiri, bawah, dan
kanan sehingga mengakibatkan uteri uterine pecah sehingga
mengakibatkan pendarahan yang banyak serta keluhan pada kandung
kemih.
2) Sectio Caesarea Ektra Peritonealis
Yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak
membuka cavum abdominal
b. Vagina (Section Caesarea Vaginalis)
1) Sayatan memanjang (longitudinal)
2) Sayatan melintang (transversal)
3) Sayatan huruf T (T insicion)

5. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya plasenta previa
sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri
mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan
malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan
pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan
pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi
aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan
pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri
sehingga timbul masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain itu,
dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen
sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan
saraf-saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan
prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses
pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang
bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah resiko infeksi.

6. Komplikasi
Menurut Wikjosastro (2007) komplikasi yang terjadi pada SC adalah:
a. Komplikasi pada Ibu
1) Infeksi puerperal
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama
beberapa hari dalam masa nifas; bersifat sedang, suhu meningkat lebih tinggi
disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung; atau bersifat berat,
seperti peritonitis, sepsis dan sebagainya. Hal ini sering kita jumpai pada
partus terlantar dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartum karena
ketuban yang telah pecah terlalu lama.
Infeksi postoperatif terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada
gejala-gejala yang merupakan presdisposisi terhadap kelainan itu (partus lama
khususnya setelah ketuban pecah , tindakan vaginal sebelumnya).
2) Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-
cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri
3) Komplikasi-komplikasi lain
Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme
paru-paru dan sebagainya sangat jarang terjadi.
Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya
parut pada dinding uterus sehingga pada kehamilan berikutnya bisa teradi
ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah SC
klasik.
b. Komplikasi pada Bayi
Nasib anak yang dilahirkan dengan SC banyak tergantung dari keadaan
yang menjadi alasan untuk melakukan SC.

7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan secara medis
1) Analgesik diberikan setiap 3 – 4 jam atau bila diperlukan seperti Asam
Mefenamat, Ketorolak, Tramadol.
2) Pemberian transfusi darah bila terjadi perdarahan partum yang hebat.
3) Pemberian antibiotik seperti Cefotaxim, Ceftriaxon dan lain-lain. Walaupun
pemberian antibiotika sesudah Sectio Caesaria keefektifannya masih
dipersoalkan, namun pada umumnya pemberiannya dianjurkan.
4) Pemberian cairan parenteral seperti Ringer Laktat dan NaCl.
5) Kateterisasi
6) Pengaturan Diit. Makanan dan minuman diberikan setelah klien Flatus,
dilakukan secara bertahap dari minum air putih sedikit tapi sering. Makanan
yang diberikan berupa bubur saring, selanjutnya bubur, nasi tim dan makanan
biasa
b. Penatalaksanaan secara keperawatan
1) Periksa dan catat tanda – tanda vital setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan
30 menit pada 4 jam kemudian.
2) Perdarahan dan urin harus dipantau secara ketat
3) Mobilisasi
4) Pada hari pertama setelah operasi penderita harus turun dari tempat
5) tidur dengan dibantu paling sedikit 2 kali. Pada hari kedua
penderita
6) sudah dapat berjalan ke kamar mandi dengan bantuan.
7) Pembalutan luka (Wound Dressing / wound care)
8) Pemulangan. Jika tidak terdapat komplikasi penderita dapat dipulangkan pada
hari kelima setelah operasi
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Fokus
a. Sirkulasi
Perhatikan riwayat masalah jantung, udema pulmonal, penyakit vaskuler
perifer atau stasis vaskuler (peningkatan risiko pembentukan thrombus)
b. Integritas Ego
Perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya faktor-faktor stress
multiple seperti financial, hubungan, gaya hidup. Dengan tanda-tanda tidak dapat
beristirahat, peningkatan ketegangan, stimulasi simpatis
c. Makanan/Cairan
Malnutrisi, membrane mukosa yang kering. Pembatasan puasa pra operasi
insufisiensi Pancreas/DM, predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis
d. Pernafasan
Adanya infeksi, kondisi yang kronik/batuk, merokok
e. Keamanan
1) Adanya alergi atau sensitif terhadap obat, makanan, plester dan larutan
2) Adanya defisiensi imun
3) Munculnya kanker/adanya terapi kanker
4) Riwayat keluarga, tentang hipertermia malignan/reaksi anestesi
5) Riwayat penyakit hepatic
6) Riwayat transfusi darah
7) Tanda munculnya proses infeksi

2. Pemeriksaan dan Observasi


a. Temperatur
Periksa 1 kali pada 1 jam pertama sesuai dengan peraturan rumah sakit,
suhu tubuh akan meningkat bila terjadi dehidrasi atau keletihan.
b. Nadi
Periksa setiap 15 menit selama 1 jam pertama atau sampai stabil,
kemudian setiap 30 menit pada jam-jam berikutnya. Nadi kembali normal pada 1
jam berikutnya, mungkin sedikit terjadi bradikardi.
c. Pernapasan
Periksa setiap 15 menit dan biasanya akan kembali normal setelah 1 jam
postpartum.
d. Tekanan Darah
Periksa setiap 15 menit selama 1 jam atau sampai stabil, kemudian setiap
30 menit untuk setiap jam berikutnya. Tekanan darah ibu mungkin sedikit
meningkat karena upaya persalinan dan keletihan, hal ini akan normal kembali
setelah 1 jam.
e. Kandung Kemih
Kandung kemih ibu cepat terisi karena diuresis postpartum dan cairan
intravena.
f. Fundus Uteri
Periksa stiap 15 menit selama 1 jam pertama kemudian setiap 30 menit,
fundus harus berada dalam midline, keras, dan 2 cm di bawah atau pada
umbilikus. Bila uterus lunak, lakukan masase hingga keras dan pijatan hingga
berkontraksi ke pertengahan.
g. Sistem Gastrointestinal
Pada minggu pertama postpartum fungsi usus besar kembali normal.
h. Kehilangan Berat Badan
Pada masa postpartum ibu biasanya akan kehilangan beras badan lebih
kurang 5-6 kg yang disebabkan oleh keluarnya plasenta dengan berat lebih kurang
750 gram, darah dan cairan amnion lebih kurang 1.000 gram, sisanya berat badan
bayi
i. Lokea
Periksa setiap 15 menit, alirannya harus sedang. Bila darah mengalir
dengan cepat, curigai terjadinya robekan serviks.
j. Perineum
Perhatikan luka episiotomi jika ada dan perineum harus bersih, tidak
berwarna, tidak edema, dan jahitan harus utuh.
k. Sistem Muskuloskeletal
Selama kehamilan otot-otot abdomen secara bertahap melebar dan terjadi
penurunan tonus otot. Pada periode postpartum penurunan tonus otot jelas terlihat.
Abdomen menjadi lunak, lembut dan lemah, serta muskulus rektus abdominis
memisah.

3. Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul


a. Nyeri akut berhubungan dengan insisi, flatus dan mobilitas
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tindakan anestesi, kelemahan,
penurunan sirkulasi
c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan
d. Ansietas berhubungan dengan pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat
diperkirakan
e. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan destruksi pertahanan terhadap bakteri

4. Rencana Asuhan
a. Nyeri akut berhubungan dengan insisi, flatus dan mobilitas
Tujuan: nyeri dapat berkurang dengan kriteria
 Pasien tidak mengeluh nyeri/ mengatakan bahwa nyeri sudah berkurang
 Pasien tampak rileks, dapat berisitirahat, dan beraktivitas sesuai kemampuan
 Wajah tidak tampak meringis
 TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR :18-
20x/menit, Nadi : 80-100 x/menit
Intervensi Rasional
1) Kaji tanda-tanda vital 1) Tanda-tanda vital merupakan
acuan untuk mengetahui keadaan
umum pasien
2) Lakukan pengkajian secara 2) Setiap skala nyeri memiliki
komprehensif tentang nyeri meliputi manajemen yang berbeda
lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
dan faktor presipitasi.
3) Lakukan manajemen nyeri 3) Antisipasi nyeri akibat luka post
operasi
4) Observasi respon nonverbal dari 4) Reaksi terhadap nyeri biasanya
ketidaknyamanan (misalnya wajah ditunjukkan dengan reaksi non
meringis) terutama verbal tanpa disengaja
ketidakmampuan untuk
berkomunikasi secara efektif.
5) Kaji faktor yang dapat menurunkan 5) Mengidentifikasi jalan keluar yang
toleransi terhadap nyeri harus dilakukan
6) Kurangi dan hilangkan faktor yang 6) Tidak menambah nyeri pasien
meningkatkan nyeri
7) Monitoring keadaan insisi luka post 7) Memastikan kondisi luka
operasi
8) Ajarkan mobilitas yang 8) Mobilitas dapat merangsang
memungkinkan tiap jam sekali peristaltik usus sehingga
mempercepat flatus
9) Kolaborasi pemberian analgesik 9) Analgesik bekerja pada pusat otak,
sesuai kebutuhan yaitu dengan menghambat
prostaglandin yang merangsang
timbulnya nyeri

b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tindakan anestesi, kelemahan,


penurunan sirkulasi
Tujuan: pasien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi dengan
kriteria:
 Pasien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
Intervensi Rasional
1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk 1) Mengetahui tingkat kemampuan
beraktivitas klien untuk beraktivitas
2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap 2) Mengetahui pengaruh aktivitas
kondisi luka dan kondisi tubuh terhadap kondisi luka dan kondisi
umum tubuh umum
3) Bantu klien untuk memenuhi 3) Melatih kekuatan dan irama
kebutuhan aktivitas sehari-hari. jantung selama aktivitas
4) Bantu klien untuk melakukan 4) Aktivitas yang terlalu berat dan
tindakan sesuai dengan kemampuan tidak sesuai dengan kondisi klien
/kondisi klien dapat memperburuk toleransi
teradap aktivitas
5) Evaluasi perkembangan kemampuan 5) Mengetahui perkembangan
klien melakukan aktivitas kemampuan aktivitas klien

c. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan


Tujuan : diharapkan integritas kulit dan proteksi jaringan membaik dengan
kriteria:
 Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
Intervensi Rasional
1) Berikan perhatian dan perawatan 1) Mecegah teradinya kerusakan dan
pada kulit infeksi pada kulit
2) Inspeksi kulit terhadap adanya iritasi 2) Mencegah terjadinya kerusakan
kulit yang lebih luas
3) Lakukan latihan gerak secara pasif 3) Mempertahankan kekuatan atau
mobilitas otot yang sakit atau
memudahkan resolusi inflamasi
pada jaringan yang cedera
4) Observasi keadaan luka terhadap 4) Mengetahui adanya tanda-tanda
pembentukan bulla, krepitasi dan bau infeksi gas gangren
drainase yang tidak enak
5) Lindungi kulit yang sehat dari 5) Mencegah terjadinya kerusakan
kemungkinan maserasi kulit pada area yang sehat
6) Jaga kelembaban kulit 6) Kelembaban kulit yang randa
menyebabkan kulit kehilangan
banyak air

d. Ansietas berhubungan dengan pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat


diperkirakan
Tujuan: ansietas berkurang setelah diberikan perawatan dengan kriteria:
 Tidak menunjukkan traumatik pada saat membicarakan pembedahan
 Tidak tampak gelisah
 Tidak merasa takut untuk dilakukan pembedahan yang sama
Intervensi Rasional
1) Lakukan pendekatan diri pada pasien 1) Rasa nyaman akan membuahkan
supaya pasien merasa nyaman rasa tenang, tidak cemas serta
kepercayaan pada perawat
2) Yakinkan bahwa pembedahan 2) Perasaan yakin dapat
merupakan jalan terbaik yang harus meningkatkan motivasi serta
ditempuh untuk menyelamatkan bayi mengurangi kecemasan
dan ibu
3) Kaji respon psikologis terhadap 3) Mengetahui manajemen coping
kejadian dan ketersediaan sistem klien
pendukung.
4) Observasi respon nonverbal pasien 4) Mengetahui tingkat kecemasan
(misalnya: gelisah) berkaitan dengan
ansietas yang dirasakan
5) Berikan informasi yang benar 5) Informasi dapat mengurangi
mengenai prosedur pembedahan, ansietas berkenaan rasa takut
penyembuhan, dan perawatan post tentang ketidaktahuan
operasi.

e. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan destruksi pertahanan terhadap bakteri


Tujuan: infeksi tidak terjadi setelah perawatan selama 24 jam pertama dengan
kriteria hasil:
 Menunjukkan kondisi luka yang jauh dari kategori infeksi
 Albumin dalam keadaan normal (3,4 - 5,4 dalam darah dan 0 – 8 mg dalam
urine)
 Suhu tubuh pasien dalam keadaan normal, tidak demam
Intervensi Rasional
1) Berikan nutrisi yang adekuat 1) Nutrisi yang adekuat akan
menghasilkan daya tubuh yang
optimal
2) Pantau suhu, nadi dan sel darah 2) Peningkatan suhu atau nadi > 100
putih. dpm dapat menandakan infeksi.
3) Kaji adanya tanda infeksi (kalor, 3) Untuk mendeteksi adanya infeksi
rubor, dolor, tumor, fungsio laesa) lebih awal
4) Lakukan perawatan luka dengan 4) Mencegah kontaminasi silang
teknik aseptik terhadap infeksi
5) Berikan penkes untuk menjaga daya 5) Dengan adanya partisipasi dari
tahan tubuh, kebersihan luka, serta pasien, maka kesembuhan luka
tanda-tanda infeksi dini pada luka dapat lebih mudah terwujud
6) Kolaborasi pemeriksaan kadar 6) Mengetahui kadar albumin dalam
albumin dalam darah atau urine darah atau urine
7) Kolaborasi pemberian antibiotik 7) Digunakan dengan kewaspadaan
sesuai indikasi karena pemakaian antibiotic dapat
merangsang pertumbuhan yang
berlebih dari organisme resisten
DAFTAR PUSTAKA

Bag. Obstetri & Ginekologi Fak. Kedokteran. 1987. Obstetri Operatif. Bandung: Universitas
Padjajaran.

Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.

Oxorn, Harry, dan William R. Forte. 1990. Ilmu Kebidanan: Patologi & Fisiologi
Persalinan. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica.

Padila. 2015. Asuhan Keperawatan Maternitas II. Yogyakarta: Nuha Medika