Anda di halaman 1dari 6

Masalah adalah sebuah kesenjangan antara harapan dengan keadaan atau realita yang

sebenarnya terjadi. Sebagai individu yang memiliki akal pikiran, manusia pasti sering atau
pernah mendapat suatu masalah, baik itu masalah antara individu dengan individu yang
lainnya, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok yang lainnya, bahkan antara
individu dengan dirinya sendiri.

Masalah memang menjadi momok bagi sebagian orang yang akan berdampak tidak
baik bagi dirinya, namun tidak menutup kemungkinan bahwa dengan adanya masalah akan
berdampak baik bagi dirinya sendiri. Ketika seorang memiliki sebuah masalah, dan ingin
keluar dari masalah tersebut adalah dengan cara menyelesaikan masalah tersebut dengan
tuntas, ada sebagian orang yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang
lain, tapi ada juga yang untuk mencari jalan keluar dari masalahnya membutuhkan bantuan
orang lain seperti dengan cara menceritakan masalah yang dimiliki kepada orang lain.

Menceritakan masalah kepada orang lain dianggap akan mengurangi beban yang
diterima dari masalah tersebut sehingga seseorang akan merasa bahwa ia tidak menghadapi
masalah ini seorang diri. Saat ini dengan kemajuan teknologi, seorang memiliki sebuah budaya
untuk membagikan masalah yang dimiliki kepada khalayak yang luas, sehingga fenomena ini
sudah dianggap hal biasa bagi khalayak luas. Biasanya tujan dari seseorang membagikan
masalahnya kepada khalyak luas untuk sekedar sharing pengalaman, melampiaskan
masalahnya tersebut, dan sebagai alat untuk pembelaan diri terhadap sesuatu. Sehingga budaya
seperti ini sudah menjadi femona yang biasa terjadi di khalayak luas.

Seseorang biasanya membagikan masalah yang dimiliki melalui media sosial seperti
facebook, instagram,dsb. Namun tidak hanya membagikan masalah melalui jejaring internet
saja, tapi kini orang – orang yang memiliki masalah berani mengungkapkan atau
membicarakan masalah tersebut melalui program televisi.

Saat ini fenomena membicarakan masalah pribadi kepada khalayak luas sudah menjadi
hal biasa bagi masyarakat, bahkan media televisi pun juga digunakan untuk mendapatkan
khalayak yang luas. Pada saat seseorang membicarakan masalahnya di program televisi
bertujuan untuk membagi pengalaman mengenai masalah tersebut, menyelesaikan masalah
tersebut, sebagai alat pembelaan bagi orang tersebut, atau sebagai alat untuk menjelaskan hal
yang sebenarnya mengenai masalah yang dihadapi oleh orang tersebut atau yang biasa disebut
dengan klarifikasi.
Program televisi yang biasanya menjadi wadah bagi seseorang yang ingin
membicarakan masalah pribadinya, biasanya adalah program televisi dengan format talk show.
Talk show atau perbincangan adalah program yang menampilkan satu atau beberapa orang
untuk membahas suatu topik tertentu yang dipandu oleh seorang pembawa acara (Morissan,
2008).

Salah satu program televisi yang berformat talk show dan juga memberi wadah bagi
seseorang yang ingin membicarakan masalahnya atau klarifikasi kepada khalayak luas adalah
program Pagi Pagi Pasti Happy. Program Pagi Pagi Pasti Happy merupakan program
berformat talk show yang tayang di Trans TV, setiap senin sampai jumat, pukul 08.30 – 10.00
WIB. Pagi Pagi Pasti Happy merupakan program yang memberikan wadah bagi seseorang
yang ingin sharing mengenai masalah nya, serta yang ingin klarifikasi terkait masalah yang
dihadapinya. Namun tidak hanya itu, program Pagi Pagi Pasti Happy juga menyajikan konten
tentang fenomena, isu, dan permasalahan yang sedang hangat atau viral di masyarakat
Indonesia, baik itu dari selebriti, tokoh masyarakat, pejabat, dan masyarakat umum.

Pagi Pagi Pasti Happy membahas fenomena, isu, dan permasalahan secara mendalam
dan detail, dengan menghadirkan narasumber yang langsung berkaitan dengan tema
pembahasan. Dipandu dengan host , co-host, dan pakar mikro ekspresi membuat program Pagi
Pagi Pasti Happy menjadi program nomor satu yang dapat menyelesaikan setiap permasalahan
dari narasumber.
LATAR BELAKANG LAMA

Pada zaman globalisasi saat ini, masyarakat lebih modern dengan adanya
perkembangan teknologi secara besar – besaran yang membuat manusia dapat berkomunikasi
tanpa mengenal jarak dan waktu, teknologi yang berkembang meliputi media elektronik dan
media cetak. Internet juga menjadi teknologi yang paling berkembang di masyarakat saat ini,
sehingga membuat manusia lebih mudah dan cepat berkomunikasi kapan saja dan dimana saja.

Salah satu teknologi komunikasi yang banyak digunakan oleh manusia adalah media
massa, yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu media elektronik, media cetak, dan media online.
Media elektronik meliputi televisi dan radio. Televisi merupakan media elektroknik yang
menyajikan informasi secara audio dan visual. Televisi paling digunakan oleh masyarakat
karena penyajiannya yang bisa dinikamati melalui suara dan gambar, sehingga membuat
audience merasakan seperti apa yang disiarkan di televisi. Radio sebagai media informasi yang
memiliki kekuatan dalam penyampaiannya dan dekat dengar pendengar karena karakteristik
dan cara pembawa seolah – olah sudah memiliki ikatan yang lebih mendalam antara penyiar
dan pendengar. Radio menyampaikan informasi hanya melalui audio. Media cetak seperti
koran atau surat kabar, majalah, buletin, brosur, billboard, flyer, poster, tabloid, dan buku
sebagai media informasi yang menyampaikan informasi melalui gambar dan tulisan yang di
cetak pada sebuah medium. Media digital atau yang biasa dikenala media online adalah media
informasi saat ini sedang berkembang dengan pesat karena adanya internet. Penyampaian
informasi media cetak meliputi gambar, suara, dan tulisan.

Televisi sebagai media massa yang paling diminati oleh masyarakat karena dapat
membawa audience kedalam dunia audio visual yang disebut broadcasting atau penyiaran.
Televisi menjadi media informasi paling efisien untuk masyarakat karena adanya gambar dan
suara dalam penyampaian informasinya, sehingga informasi yang diterima oleh audience akan
lebih dimengerti. Masyarakat yang mendapat informasi dari televisi dapat langsung
mengimajinasinya, sehingga timbul rasa emosional terhadapat informasi tersebut. Televisi
menjadi media informasi yang unggul dari media massa radio dan media cetak. Jika di
bandingkan dengan media digital, televisi lebih mudah diakses oleh masyarakat luas hingga
kepedalaman, tidak seperti media digital yang memiliki banyak faktor dalam pengaksesannya.

Televisi menyediakan berbagai aspek kebutuhan masyarakat, seperti kebutuhan


edukasi, entertainment, informasi. Seperti fungsi dari televisi, yaitu to inform, to educate dan
to entertain. Semua dikemas dalam bentuk program televisi. Setiap hari televisi menyediakan
program – program yang berbeda, tergantug jenis atau format programnya. Hal tersebut yang
menjadikan televisi menjadi media informasi yang bervariasi.

Dalam dunia televisi terdapat dua kelompok bagian berdasarkan jenisnya yaitu: 1)
program informasi (berita) dan; 2) program hiburan (entertainment). Program informasi
kemudia dibagi menjadi dua jenis, yaitu berita keras (hard news) yang merupakan berita terkini
yang harus segera disiarkan dan berita lunak (soft news) yang merupakan kombinasi fakta,
gossip, dan opini. Semestara program hiburan terbagi atas tiga kelompok besar, yaitu musik,
drama permainan, dan pertunjukkan (Morrisan, 2013).

Program hiburan (entertainment) memiliki kekuatan tersendiri dalam menarik


audience, program entertainment dikemas dalam format talk show, variety show, drama, religi
, musik, film, infotainment, dan sport.

Talk show merupakan cerminan kekuatan yang menonjol pada medium televisi, yaitu
utuh / asli dan dapat dipercaya. Narasumber yang sangat “vocal” dan memahami permasalahan
adalah sebagai salah satu kunci keberhasilan talk show. Agar Talk show dapat menarik dan
berbobot, pewawancara harus mendalami bidang permasalahan yang sedang dibicarakan di
talk show (Wibowo, 2007 : 67).

Pembawa acara (host) secara umum diartikan sebagai orang yang memegang sebuah
acara tertentu. Keberadaan host biasanya identik dengan acara yang dibawakan. Dengan
demikian, selain jenis acara, figure host yang bersankutan juga memegang peranan penting.
Kehadiran seorang host yang berkarakter akan menjadi daya tarik sebuah acara. Jika host nya
ternyata tidak memiliki karakter maka bisa jadi acara tersebut segera ditinggalkan pemirsa.
Untuk itu setiap produser sebuah acara harus betul – betul selektif memilih para host. Artinya,
pertimbangan pemilighan tidak didasarkan karena kecantikan (paras wajah) dan
popularitasnya, tapi juga integritas dan karakternya (Baskin, 2013).

Pagi Pagi Pasti Happy merupakan program berformat talk show yang tayang di Trans
TV, setiap senin sampai jumat, pukul 08.30 – 10.00 WIB. Program Pagi Pagi Pasti Happy
menyajikan konten tentang membahas fenomena, isu, dan permasalahan yang sedang hangat
atau viral di masyarakat Indonesia, baik itu dari selebriti, tokoh masyarakat, pejabat, dan
masyarakat umum.

Pagi Pagi Pasti Happy membahas fenomena, isu, dan permasalahan secara mendalam
dan detail, dengan menghadirkan narasumber yang langsung berkaitan dengan tema
pembahasan. Dipandu dengan host , co-host, dan pakar mikro ekspresi membuat program Pagi
Pagi Pasti Happy menjadi program nomor satu yang memberikan informasi mendalam bagi
setiap fenomena, isu, dan permasalahan.

Dalam program Pagi Pagi Pasti Happy, permasalahan yang dibahas datang dari
berbagai kalangan, baik pejabat, tokoh masyarakat, selebriti, dan masyarakat umum.
Narasumber yang didatangkan adalah orang yang bekaitan secara langsung maupun tidak
langsung tapi masih ada hubungannya dengan pembahasan. Terkadang ada narasumber yang
hanya membagi informasi yang sifat umum dan ada juga narasumber yang tanpa disengaja
mengeluarkan informasi yang sifatnya mendalam. Kedua hal tersebut membutuhkan peran host
yang perusasif yang dapat menggiring narasumber untuk mengeluarkan informasi yang
sifatnya mendalam.

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, peneliti memutuskan untuk


melakukan penelitian di program Pagi Pagi Pasti Happy, guna mengetahui strategi tim Pagi
Pagi Pasti Happy dalam membuat narasumber membeberkan informasi mendalam suatu
permasalahan. Judul penelitian yang diangkat adalah : “Peran Host Program Pagi Pagi Pasti
Happy Dalam Menggali Informasi Mendalam Dari Narasumber”.

Fenomenologi

Istilah fenomenologi dalam bahasa Yunani disebut dengan phainomenon yang berarti
“apa yang tampak” dan logos yang berarti studi. Sedangkan, istilah fenomenologi dalam bahasa
Latin disebut dengan phenomenologia yang dikenalkan oleh Christoph Friedrich Oetinger
(1736). Kemudian, Johann Heinrich Lambert mengenalkan istilah fenomenologi dalam bahasa
Jerman dengan nama phanomenologia. Pada abad ke-18, fenomenologi dimaksudkan sebagai
teori dasar penampakan untuk mengkaji secara empiris mengenai pengetahuan penampakan
sensori. Fenomenologi secara umum dipahami sebagai bidang disiplin filsafat dan atau sebagai
sebuah pergerakan dalam sejarah filsafat.

Fenomenologi adalah suatu studi yang mempelajari fenomena seperti penampakan,


segala hal yang muncul dalam pengalaman kita, cara mengalami sesuatu dan makna yang kita
miliki dalam pengalaman kita. Namun fokus perhatian fenomenologi lebih luas dari hanya
fenomena, yakni pengalaman sadar dari sudut pandang orang pertama (yang mengalaminya
secara langsung). Menurut Ellys (dalam One Stop, 2013) mengutip dari Ritzer (2008), studi
fenomenologi tidak lain “mengungkapkan suatu fenomena tersembunyi agar menjadi fakta
yang tampak dan mendalami fenomena yang tampak dengan mengungkapkan fakta
tersembunyi.

Metode deskriptif

Metode penelitian deskriptif merupakan jenis penelitian yang cocok untuk digunakan
dalam penelitian ini, menurut Moleong (2014), penelitian deskriptif merupakan pengumpulan
data berupa kata-kata, gambar dan bukan menggunakan angka-angka (Moleong, 2014).
Selanjutnya, Sugiyono (2012) memaparkan bahwa deskriptif adalah metode yang digunakan
untuk menganalisis dan menggambarkan suatu hasil penelitian tetapi tidak membuat
kesimpulan yang luas (Sugiyono, 2012).
Dapat disimpulkan dari kedua penjelasan tersebut bahwa penelitian deskriptif
merupakan penelitian yang menggambarkan hasil penelitian melalui kata – kata, bukan dengan
angka – angka dan penelitan deskriptif menghasilkan kesimpulan yang sempit atau tidak luas.
Tujuan penelitian deskriptif menurut Kriyantono (2012) adalah untuk membuat
deskripsi tentang fakta dan sifat populasi atau obyek tertentu secara sistematis, faktual dan
akurat. Penelitian deskriptif memiliki karakteristik yang membedakan dengan jenis penelitian
lain. Bogdam dan Biklen dalam Sugiyono (2009) mengemukakan bahwa terdapat karakteristik
penelitian kualitatif deskriptif yaitu :
a. Dilakukan pada kondisi yang alamiah dan langsung ke sumber data serta peneliti
sebagai instrument kunci
b. Penelitian kualitatif deskriptif umumnya menghasilkan data berbentuk kata maupun
gambar
c. Penelitian menekankan pada proses produk
d. Penelitian melakukan analisis secara induktif
e. Penelitian lebih menekan pada makna yang diamati