Anda di halaman 1dari 3

Nama : Nalensius Situmorang

NIM : 201763022
Prodi : S1 Teknik Pertambangan

Tugas Ilmu Sosial Budaya

1. Jelaskan tujuan mempelajari Ilmu Sosial Budaya?


2. Ketikkan sejarah kehadiran Ilmu Sosial Budaya di perguruan tinggi.

Jawab

1. Adapun tujuan mempelajari ilmu sosial budaya sebagai berikut :


 Mengembangkan kesadaran mahasiswa menguasai pengetahuan tentang
keanekaragaman, kesetaraan, dan kemartabatan manusia sebagai individu
dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
 Menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif dalam memahami keragaman,
kesederajatan, dan kemartabatan manusia dengan landasan nilai estetika,
etika, dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
 Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan
kepada mahasiswa sebagai bekal bagi hidup bermasyarakat, selaku individu
dan mahkluk sosial yang beradabdalam mempraktikkan pengetahuan
akademik dan keahliannya dan mampu memecahkan masalah social budaya
secara arif.
 Memahami dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan sosial dan
masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat.
 Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam
usaha-usahamenanggulanginya.
 Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat
selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mendekatinya mempelajarinya)
secara kritis-interdisipliner.
 Memahami jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan
dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulangan
masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.
 Ilmu-ilmu social bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang
terdapat dalam hubungan antar manusia. Untuk pengkajiannya digunakan
metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah.

2. Berawal dari kritik yang diberikan oleh sejumlah cendekiawan (sarjana-sarjana


pendidikan dan kebudayaan) dalam rapat seluruh rektor-rektor universitas/
institut negeri seluruh Indonesia pada tanggal 11 s/d 13 Oktober tahun 1971 di
Semarang.

Para cendekiawan tersebut menilai bahwa sistem pendidikan di Indonesia


merupakan warisan sistem pendidikan pemerintahan Belanda pada masa
penjajahan. Sistem pendidikan warisan tersebut merupakan kelanjutan dari politik
balas budi (etische politiek) yang dicetuskan oleh Conrad Theodore Van Deventer,
yang bertujuan untuk menghasilkan tenaga terampil dalam bidang administrasi,
perdagangan, teknik, dan keahlian lain demi kelancaran usaha mereka dalam
mengeksploitasi kekayaan negara Indonesia.
Warisan sistem pendidikan pemerintahan Belanda telah menghasilkan
beberapa dampak negatif, di antaranya:
1. Sistem pendidikan yang terkotak-kotak, yang menghasilkan banyak
tenaga ahli yang berpengalaman dalam disiplin ilmu tertentu saja. Padahal,
pendidikan itu seharusnya lebih ditujukan untuk menciptakan kaum cendekiawan
daripada mencetak tenaga yang terampil. Para lulusan perguruan tinggi diharapkan
dapat berperan sebagai sumber utama bagi pembangunan negara secara
menyeluruh. Dari mereka diharapkan adanya sumbangan ide bagi pemecahan
masalah sosial budaya masyarakat yang sangat kompleks dan berkaitan satu dengan
yang lain.
2. Pendidikan terlanjur menjadi barang mewah/ elite dalam
masyarakat, sehingga keakrabannya dalam masyarakat kurang terasa.
3. Perguruan tinggi seolah-olah merupakan “menara gading”sekaligus
pabrik penghasil tenaga terampil.
Adanya beberapa dampak negatif ini, menuntut kita untuk mengubah sistem
pendidikan warisan dari sistem pendidikan pemerintahan Belanda. Sehingga,
perguruan tinggi di Indonesia mampu menghasilkan sarjana-sarjana yang tidak
asing dengan denyut kehidupan masyarakat serta gejolak perkembangan dan
kebutuhannya, sekaligus juga dapat mengenali dimensi lain di luar disiplin
keilmuannya.
Harus diakui, bahwa aspek sosial budaya merupakan unsur penting dalam
proses pembangunan suatu bangsa. Terlebih jika bangsa itu sedang membentuk
watak dan kepribadian yang lebih serasi dengan tantangan zaman. Pembangunan
nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang
merata, materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila. Sedangkan, hakikat
pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya.
Demi mencapai tujuan tersebut, pendekatan dan strategi pembangunan
hendaknya menempatkan manusia sebagai tempat interaksi kegiatan pembangunan
materiil maupun spiritual serta pembangunan yang melibatkan manusia sebagai
makhluk sosial budaya dan sebagai sumber daya dalam pembangunan. Hal ini
berarti bahwa, pembangunan seharusnya:
1. Mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia
2. Menumbuhkan sikap hidup yang seimbang dan berkepribadian utuh yang
memiliki moralitas dan integritas sosial yang tinggi
3. Menciptakan manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa