Anda di halaman 1dari 14

ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

MENGENAL TRADISI MAKEPUNG ASAL JEMBRANA


MELALUI 7 UNSUR KEBUDAYAAN YANG ADA

Dosen Pengampu:
Gede Prapta Cahyana, S.Pd. M.Pd

Oleh :
Kelas IA
Made Harum Astarini 1813011020

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2018
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam
kesempatan ini pula, kami tak lupa mengucapkan terimakasih kepada pihak –
pihak yang telah membantu kami dalam menyusun makalah ini, yaitu
1. Gede Prapta Cahyana, S.Pd. M.Pd, selaku dosen pengampu yang telah
membantu dan membimbing kami dalam menyempurnakan isi makalah
ini.
2. Teman – teman dan pihak lain yang telah membantu kami dalam
menyusun makalah ini
Mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan, kami sadar bahwa
makalah ini jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu kami tak henti – hentinya
memohon kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan makalah ini.
Kami mohon maaf apabila ada kata atau kalimat yang kurang berkenan di
hati pembaca.Akhir kata kami ucapkan terimakasih dan semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca dan kita semua, serta dapat membantu menambah
wawasan pembaca.

Singaraja, 25 Novemberr 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i

KATA PENGANTAR ................................................................................ ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................ 2

1.4 Manfaat Penulisan .......................................................................... 3

BAB IIPEMBAHASAN

2.1 Sejarah Tradisi Makepung .............................................................. 4


2.2 Sistem Bahasa pada Tradisi Makepung ......................................... 5
2.3 Sistem Religi pada Tradisi Makepung ........................................... 6
2.4 Sistem Organisasi Sosial pada Tradisi Makepung ......................... 6
2.5 Sistem Mata Pencaharian pada Tradisi Makepung ........................ 7
2.6 Sistem Seni pada Tradisi Makepung .............................................. 7
2.7 Sistem Teknologi pada Tradisi Makepung ..................................... 8
2.8 Sistem Ilmu Pengetahuan pada Tradisi Makepung ........................ 9

BAB IIIPENUTUP

3.1 Kesimpulan ...................................................................................... 10

3.2 Saran ................................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jembrana adalah salah satu kabupaten yang berada di Bali. Jembrana
terletak di Pulau Bali bagian barat. Kabupaten yang telah berusia 123 tahun ini
memiliki ibu kota yaitu Negara. Dengan memiliki 5 kecamatan yaitu kecamatan
Jembrana, Mendoyo, Negara, Melaya, dan Pekutatan menjadikan Kabupaten yang
dikenal dengan julukan Gumi Makepung ini memiliki berbagai kebudayaan pula.
Di Negara sendiri misalnya, yang mana ada sebuah kampung bernama Loloan
yang sampai saat ini masih menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari –
harinya, walaupun telah tersentuh dengan bahasa daerah Bali sendiri. Bukan
hanya di Negara di Melaya juga ada sebuah kebudayaan yang terbilang sangat
unik, yaitu tradisi ngejot. Tradisi ini semacam saling memberikan makanan ketika
kita sedang ada hari – hari besar keagamaan. Misalnya hari raya Galungan bagi
umat Hindu, maka masyarakat di Melaya akan memberikan makanan yang
mereka gunakan dalam banten (persembahan pada Dewa) mereka kepada umat
lain serta kepada sesama umat Hindu yang baru saja melaksanakan upacara,
seperti pernikahan, potong gigi, nyambutin, dan juga kematian.
Jembrana yang juga dikenal akan Taman Bali Baratnya ini memiliki
sebuah tradisi yang hampir ada di setiap kecamatannya. Tradisi tersebut adalah
Makepung. Oleh karena inilah Kabupaten Jembrana mendapat julukan sebagai
Gumi Makepung. Makepung sendiri adalah sebuah kegiatan pacuan hewan
kerbau. Pacuan hewan ini mirip seperti Karapan Sapi yang digelar di Madura,
ataupun sapi Grumbungan di Kabupaten Buleleng. Namun tradisi Makepung di
Jembrana ini menyajikan berbagai hal menarik seperti penampilan kerbau dan
juga cara unik untuk menentukan para pemenangnya.
Keunikan inilah yang menjadikan penulis ingin mengangkat tradisi
Makepung untuk dikenal oleh khalayak banyak. Terlebih lagi kini tradisi
Makepung sudah mulai sulit untuk disaksikan, bahkan kini di setiap kecamatan di
Jembranapun sudah jarang Makepung ini dapat disaksikan, sebab terkendala oleh

1
banyak hal, salah satunya adalah lahan dan cuaca. Padahal sebenarnya tradisi
Makepung asal Gumi Kauh ini jika dikaji melalui 7 unsur kebudayaan universal
yang ada, maka banyak sekali hal unik dan menarik yang bisa kita dapatkan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan urain latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang
dapat dikaji adalah sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana sejarah tradisi Makepung?
1.2.2 Bagaimana tradisi Makepung jika dikaji dari sitem bahasa?
1.2.3 Bagaimana tradisi Makepung jika dikaji dari sitem religi?
1.2.4 Bagaimana tradisi Makepung jika dikaji dari sitem organisasi sosial?
1.2.5 Bagaimana tradisi Makepung jika dikaji dari sitem mata pencaharian?
1.2.6 Bagaimana tradisi Makepung jika dikaji dari sitem seni?
1.2.7 Bagaimana tradisi Makepung jika dikaji dari sitem teknologi?
1.2.8 Bagaimana tradisi Makepung jika dikaji dari sitem ilmu pengetahuan?

1.3 Tujuan Penulisan


Dari Rumusan masalah diatas, adapun tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1.3.1 Mengetahui lebih banyak mengenai sejarah tradisi Makepung
1.3.2 Mengetahui tradisi Makepung yang dikaji dari sistem bahasa
1.3.3 Mengetahui tradisi Makepung yang dikaji dari sistem religi
1.3.4 Mengetahui tradisi Makepung yang dikaji dari sistem organisasi sosial
1.3.5 Mengetahui tradisi Makepung yang dikaji dari sistem mata
pencaharian
1.3.6 Mengetahui tradisi Makepung yang dikaji dari sistem seni
1.3.7 Mengetahui tradisi Makepung yang dikaji dari sistem teknologi
1.3.8 Mengetahui tradisi Makepung yang dikaji dari sistem ilmu
pengetahuan

2
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1.4.1 Secara teoritik
Makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas tentang
tradisi Makepung di Jembrana, serta mengkajinya berdasarkan 7 unsur
kebudayaan universal yang ada.
1.4.2 Secara praktik
Makalah ini memberikan manfaat untuk gambaran tentang bagaimana
kita sebagai masyarakat Indonesia harus mampu mengenal
kebudayaan daerah kita serta mampu mengupayakan untuk dapat
melestarikannya.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Tradisi Makepung


Jembrana yang juga dikenal akan Taman Bali Baratnya ini memiliki
sebuah tradisi yang hampir ada di setiap kecamatannya. Tradisi tersebut adalah
Makepung. Oleh karena inilah Kabupaten Jembrana mendapat julukan sebagai
Gumi Makepung. Makepung sendiri adalah sebuah kegiatan pacuan hewan
kerbau. Pacuan hewan ini mirip seperti Karapan Sapi yang digelar di Madura,
ataupun sapi Grumbungan di Kabupaten Buleleng. Namun tradisi Makepung di
Jembrana ini menyajikan berbagai hal menarik seperti penampilan kerbau dan
juga cara unik untuk menentukan para pemenangnya.
Sejarah tradisi Makepung yang ada di masyarakat Jembrana berawal dari
mata pencaharian masyarakat disini yang dulunya adalah mayoritas sebagai
petani. Dulunya para petani mengisi waktu di sela-sela waktu senggangnya setelah
selesai membajak sawah garapannya dengan melakukan balapan menggunakan
kerbau. Pacuan kerbau ini berawal dengan menggunakan seekor kerbau, akhirnya
menggunakan sepasang kerbau dan gerobak atau cikar tempat joki mengendalikan
kerbau. Mereka saling adu cepat untuk bisa mengejar lawan tandingnya agar jarak
keduanya menjadi lebih dekat atau lebih jauh. Kerbau-kerbau pacuan juga dipilih
yang terbaik, bahkan oleh tuannya, diperlakukan bak seorang atlet, sangat
dimanjakan.
Kata Makepung dalam Bahasa Indonesia berarti berkejar-kejaran, maka
untuk itulah lomba yang digelar adalah saling berkejaran. Sebuah pacuan adu
kecepatan digelar dengan menggunakan sepasang kerbau ditunggangi oleh
seorang joki. Untuk menentukan pemenangnya tidak dari siapa yang pertama
sampai garis finish, tetapi ditentukan jarak antara diantara peserta, biasanya
ditentukan dengan jarak 10 meter, jika peserta di depan bisa memperlebar jarak
lebih dari 10 meter dengan peserta kedua maka peserta yang di depan tersebut
menjadi pemenangnya, tetapi jika peserta di belakangnya bisa mempersempit
jarak kurang dari 10 meter, maka peserta di belakangnya yang menjadi pemenang,
disinilah uniknya cara penilaian pemenang tradisi Makepung jika dibandingkan
dengan pacuan-pacuan lainnya. Unik memang bentuk tradisi yang satu ini. Namun

4
sayang, seiring pergantian zaman keberadaan tradisi – tradisi lama seperti
Makepung ini sudah mulai langka keberadaanya. Walaupun sudah mulai jarang
terlihat, namun di Desa Delod Berawah, Desa Kaliakah, dan Desa Mertasari
tradisi ini bisa kita lihat setiap tahunnya. Hal ini karena Pemerintah Kabupaten
Jembrana sendiri ingin mempertahankan salah satu kebudayaan unik dan khas
milik Jembrana dengan cara mengadakan perlombaan makepung untuk
memperebutkan piala Bupati Cup dan Jembrana Cup.
Pertandingan Makepung ini dimeriahkan dengan disertai iringan musik
Jegog yang merupakan musik gamelan tradisional khas Jembrana. Suasanya akan
sangat meriah, apalagi kerbau-kerbau pacuan dihiasi mahkota pada bagian
kepalanya begitu juga dengan tanduk dan leher kerbau juga ikut dihiasi, sehingga
terlihat lebih modis, gagah dan indah. Sebuah bendera pada kerbau pacuan tidak
ketinggalan sebagai simbol kebesaran pemiliknya. Pertunjukan makepung ini
biasanya dilaksanakan setelah musim panen, saat sawah kering (sekitar April,
Mei, atau Juni), dimana kegiatan tersebut digelar di jalan-jalan pada areal
persawahan atau di daratan pada areal kering. Makepung yang dilakukan di lahan
basah dikenal dengan Makepung Lampit.
Makepung Lampit adalah atraksi yang juga menggunakan sepasang kerbau
dengan menarik sebuah papan kayu yang disebut lampit pada arena berlumpur,
tradisi ini untuk menjaga budaya agraris yang dimiliki kabupaten Jembrana,
mengingatkan masyarakat untuk selalu hidup bergotong royong terutama saat
menggarap sawah, terutama saat persiapan menanam padi. Karena sebelum
ditanami padi, petak-petak sawah yang sudah dibajak dan digenangi air diratakan
terlebih dahulu, proses perataan tanah atau lumpur ini menggunakan sebuah papan
(lampit) dan ditarik oleh sepasang kerbau, kemudian berkembang menjadi
Makepung Lampit. Makepung Lampit ini biasanya diadakan sekitar bulan Juli
hingga November.

2.2 Sistem Bahasa pada Tradisi Makepung


Bahasa adalah suatu pengucapan yang indah dalam elemen kebudayaan
dan sekaligus menjadi alat perantara yang utama bagi manusia untuk meneruskan
atau mengadaptasikan kebudayaan. Dalam tradisi makepung, bahasa yang

5
digunakan untuk berkomunikasi antar joki adalah Bahasa Bali. Bukan hanya antar
joki, tetapi saat diadakannya perlombaan Makepung ini, pemandu acara dan
commentator perlombaan juga menggunakan bahasa khas Pulau Bali ini. Dalam
Bahasa Bali dikenal adanya 4 tingkatan bahasa berdasarkan rasa bahasanya, yaitu
kata alus, kata mider, kata andap, dan kata kasar. Untuk pemandu acara dan
commentator perlombaan juga masyarakat sekitarnya dalam berkomunikasi
biasanya menggunakan kata andap, sebab jenis kata ini biasanya digunakan dalam
berbicara dengan orang yang telah akrab atau bersifat kekeluargaan. Uniknya lagi
masyarakat di Jembrana memiliki dialek tersendiri dalam berbicara, sehingga ini
juga menjadi salah satu ciri khas dari Kabupaten Jembrana.

2.3 Sistem Religi pada Tradisi Makepung


Sistem religi yang dimaksud disini adalah perpaduan antara keyakinan dan
praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal-hal suci dan tidak terjangkau
oleh akal. Dalam halnya Makepung di Jembrana ini, ada sebuah sistem religi di
dalamnya, yakni sebagai umat beragama penganut Agama Hindu, pada saat
sebelum memulai Makepung di arena yang telah ditentukan, para pemilik kerbau
akan mebanten (mengaturkan sesajen) di tempat – tempat tertentu seperti di garis
start, dan garis finish. Hal ini dilakukan dengan maksud memperlancar
pelaksanaan makepung nantinya, supaya tanpa ada hambatan ataupun kendala
yang dialami, baik dari jokinya juga dari kerbau itu sendiri.

2.4 Sistem Organisasi Sosial pada Tradisi Makepung


Sistem organisasi sosial dimaknai sebagai sekelompok masyarakat yang
anggotanya merasa satu dengan sesamanya. Di Jembrana sendiri, tepatnya di Desa
Kaliakah ada organisasi Makepung yang terkenal, yaitu Ijo Gading Timur dan Ijo
Gading Barat. Pembagian kelompok ini berdasarkan aliran Sungai Ijo Gading
yang membelah ibu kota Kabupaten Jembrana. Pelaksanaan makepung di Desa
Kaliakah dimulai dengan melakukan pertemuan (sangkep) satu malam sebelum
pelaksanaan Makepung yang dihadiri oleh para pemilik kerbau dan para pengurus
oragnisasi, baik dari kelompok Ijo Gading Timur maupun kelompok Ijo Gading
Barat. Pertemuan ini bertujuan untuk memberi nomor pada masing-masing

6
pasangan kerbau serta mencari lawan yang akan ditandingkan pada saat
Makepung nantinya. Kedua organisasi ini memiliki ciri khas ketika pelaksanaan
Makepung, yakni pada hiasan kerbau yang digunakan. Masyarakat akan dengan
mudah mengetahui yang mana kelompok Ijo Gading Timur dan mana kelompok
Ijo Gading Barat hanya melalui warna bendera yang ada pada kerbau mereka.
Kelompok Ijo Gading Timur memiliki warna kebanggaan yaitu warna merah,
sedangkan warna hijau untuk kelompok Ijo Gading Barat.

Gambar 2.1 Perbedaan kelompok Ijo


Gading Barat dan Timur

2.5 Sistem Mata Pencaharian pada Tradisi Makepung


Sistem mata pencaharian ini merupakan segala usaha manusia untuk
mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan. Pada mulanya tradisi Makepung
ada karena para petani yang merasa bosan di waktu senggang mereka sehingga
melakukanlah suatu pacuan kerbau. Begitu pula dengan mata pencaharian
masyarakat di sekitaran Desa Kaliakah dewasa ini yang notabennya adalah
seorang petani, oleh karena itu mereka memiliki kerbau untuk mereka gunakan
dalam makepung. Walaupun banyak juga masyarakat di Desa Kaliakah yang
bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil), pekerjaan sebagai petani masih tetap
mereka laksanakan sebagai pekerjaan sampingan, terutama bagi mereka yang
memiliki lahan persawahan.

2.6 Sistem Seni pada Tradisi Makepung


Kesenian dapat dimaknai sebagai segala hasrat manusia terhadap
keindahan. Bentuk keindahan yang beraneka ragam itu timbul dari imajinasi
kreatif yang dapat memberikan kepuasan batin bagi manusia. Dalam tradisi

7
Makepung, sistem seni yang ada berupa seni musik dan seni rupa. Seni musik
yang dimaksud disini adalah keberadaan dari musik pengiring yang biasaya
dinyalakan untuk memeriahkan tradisi Makepung. Musik tersebut tidak lain
adalah Jegog, musik khas Kabupaten Jembrana. Sedangkan seni rupa yang
dimaksud disini adalah seni rupa 2 dimensi dan 3 dimensi yang digunakan untuk
menghiasi kerbau – kerbau yang akan diikutsertakan dalam tradisi Makepung,
termasuk gerobak tempat joki mengendalikan kerbaunya.

Gambar 2.2 Kerbau yang telah dihias dan siap untuk


mengikuti Makepung

2.7 Sistem Teknologi pada Tradisi Makepung


Teknologi disini dimaknai sebagai jumlah keseluruhan teknik yang
dimiliki oleh para anggota suatu masyarakat, meliputi keseluruhan cara bertindak
dan berbuat dalam hubungannya dengan pengumpulan bahan-bahan mentah,
pemrosesan bahan-bahan itu untuk dibuat menjadi alat kerja, penyimpanan,
pakaian, perumahan, alat transportasi dan kebutuhan lain yang berupa benda
material. Teknologi yang ada pada tradisi Makepung ini adalah lampit atau papan
kayu yang digunakan dalam Makepung Lampit. Lampit umum digunakan oleh
petani untuk membajak sawah mereka sebelum ditanami padi guna meratakan
tanah sawah mereka. Selain lampit ada juga gerobak tempat joki mengendalikan
kerbaunya yang juga sekaligus berguna untuk mengangkut hasil panen dari sawah
yang para petani miliki.

8
2.8 Sistem Ilmu Pengetahuan pada Tradisi Makepung
Unsur ini berkisar pada pengetahuan tentang kondisi alam sekelilingnya
dan sifat-sifat peralatan yang dipakainya. Dalam tradisi Makepung, ilmu
pengetahuan digunakan dalam menentukan waktu pelaksanaan tradisi ini, dimana
Makepung ini dilaksanakan 1 tahun sekali pada musim tanam padi, setelah tumpek
uye/kandang yang bagi umat Hindu di Bali ini adalah hari untuk mewujudkan rasa
cinta kasih kita terhadap binatang dengan cara mebanten di Pura yang mereka
miliki dan mebanten untuk hewan – hewan peliharaan mereka.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Makepung adalah salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh Kabupaten
Jembrana. Makepung sendiri adalah sebuah tradisi balapan kerbau yang berawal
dari kegiatan mengisi waktu luang para petani di Jembrana jaman dulu. Hingga
kini kegiatan itu menjadi salah satu icon dari kabupaten dengan julukan Gumi
Kauh ini. Makepung biasanya dilaksanakan sekitaran bulan Juni hingga
November. Tradisi yang sekaligus dijadikan sebagai ajang perlombaan ini adalah
salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Jembrana untuk melestarikannya. Jika
dikaji melalui 7 unsur kebudayaan universal, tradisi Makepung asal Kabupaten
Jembrana ini memiliki hal – hal unik dan menarik di dalamnya, meliputi sistem
bahasa, religi, organisasi social, mata pencaharian, seni, teknologi, hingga ilmu
pengetahuan.

3.2 Saran
Mengehatui banyak hal mengenai Makepung tentu akan menambah
wawasan kita sekalian. Sebuah tradisi dan kebudayaan jika tidak pernah
dikenalkan kepada generasi muda maka tradisi tersebut perlahan akan hilang
ditelan oleh waktu. Karena hal itulah, alangkah bagusnya jika setelah mengetahui
berbagai hal mengenai salah satu tradisi yang menjadi warisan dari Indonesia ini,
kita juga mampu melestarikannya demi keberadaan tradisi ini. Sebab jika bukan
kita yang melestarikannya siapa lagi?

10
DAFTAR PUSTAKA

Anggariyana, dkk. 2014. Tradisi Makepung Dalam Pemerataan Budaya Lokal di


Kabupaten Jembrana. Jurnal Online No. 1, Vol. 2. 2014

https://belajar.kemdikbud.go.id/PetaBudaya/Repositorys/Makepung/

http://ipanksenidanbudaya.blogspot.com/2013/03/sejarah-makepung.html

http://colekpamor.blogspot.com/2016/02/sejarah-mekepung-balap-kerbau-dari-
jimbaran.html

http://senitradisionalbali.blogspot.com/2012/05/mekepung.html