Anda di halaman 1dari 167

Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................... 1

PEMBAHASAN ................................................................. 4
BAB I PENGANTAR PSIKOLOGI KOMUNIKASI ... 4
A. Pengertian Psikologi Komunikasi ................................... 4
B. Ruang Lingkup Psikologi Komunikasi ........................... 7
C. Pendekatan Psikologi Komunikasi ................................. 7
D. Komunikasi Efektif ........................................................ 10

BAB II KARAKTERISTIK MANUSIA


KOMUNIKAN ................................................... 12
A. Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisis ........................... 12
B. Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme ......................... 13
C. Konsepsi Manusia dalam Psikologi Kognitif .................. 16
D. Konsepsi Manusia dalam Psikologi Humanistik .............. 21

BAB III KARAKTERISTIK MANUSIA


KOMUNIKAN LANJUTAN .............................. 27
A. Faktor-Faktor Personal yang Mempengaruhi
Perilaku Manusia ........................................................... 27
B. Faktor-Faktor Situasional yang Mempengaruhi
Perilaku Manusia ............................................................ 35

BAB IV SISTEM KOMUNIKASI INTRAPERSONAL .. 40


A. Pengertian Komunikasi Intrapersonal ............................. 40
B. Persepsi ......................................................................... 41
C. Memori ......................................................................... 49
D. Nalar ............................................................................. 52
E. Bahasa ........................................................................... 53

BAB V SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL .. 55


A. Persepsi ......................................................................... 55
B. Pegaruh Faktor-Faktor Situasional pada Persepsi
Interpersonal .................................................................. 57
C. Pegaruh Faktor-Faktor Personal pada Persepsi
Interpersonal .................................................................. 60
D. Pengaruh Konsep Diri pada Komunikasi Interpersonal ... 61
E. Faktor-Faktor Daya Tarik Interpersonal .......................... 66

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 1


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB VI SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK .. .......... 73


A. Pengertian Komunikasi ................................................... 73
B. Sistem Komunikasi Kelompok ....................................... 73

BAB VII SISTEM KOMUNIKASI MASSA .. .................. 88


A. Pengertian Komunikasi Massa ....................................... 88
B. Ciri-Ciri Komunikasi Massa ........................................... 93
C. Fungsi Komunikasi Massa ............................................. 94
D. Efek Komunikasi Massa ................................................. 95

BAB VIII PSIKOLOGI KOMUNIKATOR ...................... 100


A. Pengertian Psikologi ...................................................... 100
B. Pengertian Komunikator ................................................ 100
C. Dimensi Ethos ............................................................... 102
D. Pengaruh Komunikasi Psikologi Komunikator ................ 106
E. Syarat Menjadi Komunikator yang Baik ......................... 108
F. Proto Tipe Komunikator yang Baik ................................ 108

BAB IX PSIKOLOGI PESAN .......................................... 110


A. Pengertian Psikologi ...................................................... 110
B. Pengertian Psikologi Pesan ............................................. 111
C. Pesan Linguistik ............................................................ 112
D. Pesan Nonverbal ............................................................ 115
E. Organisasi, Struktur, dan Himbauan Pesan ..................... 120

BAB X PENGARUH ALIRAN KOGNITIF


PADA KOMUNIKASI ....................................... 125
A. Teori-Teori Pembuatan Pesan ......................................... 128
B. Teori Penerimaan dan Pemerosesan Pesan ...................... 130
C. Teori Penilaian Pesan ..................................................... 136

BAB XI PERSUASI DALAM KOMUNIKASI .. ............. 138


A. Pengertian Sikap ............................................................ 138
B. Pengaruh Perilaku terhadap Pembentukan Sikap ............. 141
C. Komunikasi Persuasi dalam Penyampaian dan
Penerimaan Pesan .......................................................... 144

BAB XII MANAJEMEN KONFLIK DALAM


PSIKOLOGI KOMUNIKASI .. ........................ 146
A. Konflik dalam Perspektif Psikologi Komunikasi ............. 146
B. Psikologi Komunikasi dan Manajemen Konflik .............. 148

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 2


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB XIII DIMENSI BUDAYA DALAM KAJIAN


PSIKOLOGI KOMUNIKASI .. ...................... 154
A. Dimensi Budaya dalam Kajian Psikologis ...................... 154
B. Faktor Budaya dalam Proses Interaksi dan
Komunikasi ................................................................... 155
C. Komunikasi Lintas Budaya ............................................ 156
D. Ragam Permasalahan Budaya dalam Kajian
Psikologi Komunikasi .................................................... 158

DAFTAR PUSTAKA .......................................................... 162

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 3


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB I
PENGANTAR PSIKOLOGI KOMUNIKASI

Komunikasi dan psikologi merupakan bagian yang saling


berkaitan dalam melibatkan manusia. Komunikasi adalah kegiatan
bertukar informasi yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah
pendapat atau perilaku manusia lainnya. Komunikasi merupakan
peristiwa sosial yang terjadi ketika seorang manusia berinteraksi
dengan manusia lain.
Secara filosofis, komunikasi merupakan awal adanya
kehidupan karena tanpa adanya komunikasi, tidak ada kehidupan.
Berkmunikasi adalah berhubungan antar individu, antar
kelompok, antar wilayah, dan antar negara. Setiap cara
komunikasi mengandng motivasi atas dasar kebutuhan dan
kepentingan tertentu. Oleh karena itu, secara psikologis,
komunikasi dipelajari atau diamati secara mendalam atau objektif,
sejauh mana tujuan dan minat individu ataupun kelompok
membangun komunikasi.1
1. Pengertian Psikologi Komunikasi
Psikologi berasal dari kata Yunani “Psyche” yang
berarti “Jiwa” dan logos yang berati ilmu atau ilmu
pengetahuan. Secara definitif, psikologi dapat diartikan
sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku dan
proses mental. Artinya, psikologi adalah suatu ilmu yang
berusaha untuk menjelaskan tentang gejala perilaku manusia.2
Psikologi terdiri atas dua kata, yaitu psyche dan logos.
Psyche adalah bahasa yunani yang artinya jiwa, sedangkan
logos artinya ilmu. Jadi psikologi dapat diartikan dengan
“Ilmu jiwa”. Makna ilmu jiwa bukan mempelajari jiwa dalam
dalam pengertian jiwa sebagai soul atau roh, tetapi lebih
kepada mempelajari gejala-gejala yang tampak dari manusia
yang ditafsirkan sebagai latar belakang kejiwaan seseorang
atau spirit dari manusia sebagai makhluk yang berjiwa.
Psikologi juga dapat diartikan sebagai ilmu yang
mempelajari sifat-sifat kejiwaan manusia dengan cara
mengkaji sisi perilaku dan kepribadiannya, dengan pandangan

1 Muhibudin Wijaya Laksana, Psikologi Komunikasi. (Bandung: Pustaka Setia,

2015), Hlm. V.
2 Zulkarnain, Psikologi dan Komunikasi Masa. Tasamuh Volume 13, No. 1,

Desember 2015. Hal. 46.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 4


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

bahwa setiap perilaku manusia berkaitan dengan latar


belakang kejiwaannya.3
Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui
perilaku verbal dan non verbal. Segala perilaku dapat disebut
komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi
terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respon
pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam
bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau
bentuk nonverbal (nonkata-kata), tanpa harus memastikan
terlebih dulu bahwa kedua pihak yang berkomunikasi punya
suatu sistem simbol yang sama. Simbol atau lambang adalah
sesuatu yang mewakili sesuatu lainnya berdasarkan
kesepakatan bersama. Simbol lebih banyak digunakan dalam
komunikasi yang disengaja (terkadang spontan), sedangkan
indeks (dalam bentuk perilaku) lebih banyak muncul dalam
komunikasi yang tidak disengaja misalanya kita menampilkan
wajah riang saat kita mendapatkan keberuntungan, wajah
pucat saat sakit, atau wajah sedih saat kita tertimpa musibah.4
Menurut Jhon B.Hoben komunikasi adalah pertukaran
verbal pikiran atau gagasan. Asumsi dibalik definisi tersebut
adalah bahwa suatu pikiran atau gagasan secara berhasil
dipertukarkan.5
Komunikasi merupakan peristiwa sosial yang terjadi
ketika seorang manusia berinteraksi dengan manusia lain.
Komunikasi adalah penyampaian energi dari alat-alat indra ke
otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi,
pada proses saling pengaruh diantara berbagai sistem dalam
diri organisme dan diantara organisme.
Menurut George A. Miller (1994), psikologi
komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan,
meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan
perilaku dalam komunikasi; psikologi komunikasi adalah ilmu
yang mempelajari komunikasi dari aspek psikologi; psikologi
komunikasi adalah ilmu yang meneliti kesadaran dan
pengalaman manusia.
Beberapa alasan yang menunjukkan bahwa psikologi
penting dipelajari dalam komunikasi, sebagai berikut:

3 Rosleny Marliani, Psikologi Umum. (Bandung: Pustaka Setia, 2010), Hlm.


13.
4 Dedi Mulyana, Komunikasi Efektif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008)
Hlm.3.
5 Inid., Hlm. 61.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 5


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

a. Psikologi adalah ilmu yang memerlukan media


penyampaian komunikasi. Komunikasi berada dalam tiga
perspektif utama psikologi, yaitu:
1) Belajar, ketika belajar manusia dipengaruhi oleh
lingkungan dan pengalamannya. Untuk hidup di
lingkungannya, manusia beradaptasi dengan cara
berkomunikasi dengan orang sekitarnya. Manusia
akan mendapatkan pembelajaran dari pengalaman
sekitar kehidupannya yang ia peroleh dari
berkomunikasi dengan orang-orang di
lingkungannya.
2) Kognitif merupakan pemikiran, ingatan, bahasa,
pemecahan masalah dan persepsi. Manusia dapat
saling memahami maksud diantara mereka apabila
mereka mempunyai konstruksi kata yang sama dalam
pikirannya. Untuk memiliki pemikiran yang sama,
manusia berkomunikasi agar dapat saling mengerti
dan mengetahui.
3) Bahasa, setiap hari manusia selalu menggunakan
bahasa sebagai alat/media berkomunikasi. Pemecahan
masalah, manusia akan berfikir, bertindak, dan
mengkomunikasikan ide-ide dalam benaknya
sehingga dapat diwujudkan dan dapat menyelesaikan
masalah.
b. Komunikasi juga memiliki andil yang besar dalam
pertumbuhan kepribadian seseorang dan bangsa.
Kurangnya komunikasi akan menghambat kepriabdian
seseorang. Melalui ilmu psikologi, kita dapat mengetahui
pola hidup/kebiasaan/karakateristik orang yang kita ajak
berbicara sehingga kita dapat mengetahui pola komunikasi
yang sesuai dengsn orang yang kita ajak berbicara.
c. Kemungkinan untuk mengalami kegsgslsn dslsm
berkomunikasi dapat dikurangi karena hambatan-hambatan
yang muncul dari dalam diri seseorang, seperti perilaku,
emosi, serta keadaan lingkungan dapat diprediksi dengsn
ilmu psikologi sehingga cara/metode komunikasi yang
tepat dapat diketahui.
Untuk itu, pentingnya mempelajari psikologi dalam
berkomunikasi adalah mengurangi dan menghindari
hambatan-hambatan yang mungkin terjadi saat
berkomunikasi yang berasal dari masalah psikologi.6

6 Op.Cit. Muhibudin Wijaya Laksana. Hal. 26.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 6


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

2. Ruang Lingkup Psikologi Komunikasi


a. Sistem komunikasi intrapersonal
Sistem komunikasi intrapersonal, antara lain membahas
karakteristik manusia komunikan, faktor internal dan
eksternal yang memengaruhi perilaku komunikasinya,
sistem memori dan berpikir, dan sifat-sifat psikologi
komunikator.
b. Sistem komunikasi interpersonal
Sistem komunikasi interpersonal, antara lain membahas
proespersepsi interpersonal, faktor-faktor personal dan
situasioanal yang memengaruhi persepsi interpersonal,
konsep diri, atraksi interpersonal, dan hubungan
interpersonal.
c. Sistem komunikasi kelompok
Sistem komunikasi kelompok membahas jenis-jenis
kelompok dan pengaruhnya pada perilaku komunikasi,
faktor-faktor yang memengaruhi keefektipan kelompok,
dan bentuk-bentuk komunikasi kelompok.
d. Sistem komunikasi massa
Komunikasi massa, antara lain membahas motivasi atau
faktor yang memengaruhi reaksi individu terhadap media
massa, efek komunikasi massa, dan karakteristik isi pesan
media massa.7

3. Pendekatan Psikologi Komunikasi


Psikologi mengarahkan perhatiannya pada perilaku
manusia dan mencoba menyimpulkan proses kesadaran yang
menyebabkan terjadinya perilaku tersebut.
Bila sosiologi melihat komunikasi pada interaksi sosial,
filsafat pada hubungan manusia dengan realitas alam semesta,
maka psikologi melihat pada perilaku individu komunikan.
Menurut Fisher (1978), ada 4 ciri pendekatan psikologi
pada komunikasi, yaitu:
a. Penerimaan stimuli secara indrawi
Psikologi mengatakan bahwa komunikasi bermula
atau berawal ketika panca indra kita diterpa stimulasi.
Stimuli bisa berbentuk orang, pesan, suara, warna, dan
sebagainya; pokoknya segala hal yang mempengaruhi kita.
b. Proses yang mengantarai stimuli dan respons
Stimuli kemudian diolah dalam jiwa kita, yaitu
dalam “Kotak hitam” yang tidak pernah kita ketahui. Kita

7 Ibid. Muhibudin Wijaya Laksana. Hal. 45.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 7


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

hanya mengambil kesimpulan tentang proses yang terjadi


pada “Kotak hitam” dari respons yang tampak. Misalnya
kita mengetahui bahwa bila ia tersenyum, tepuk tangan,
dan meloncat-loncat, pasti ia dalam keadaan gembira.
c. Prediksi respons
Psikologi komunikasi juga melihat bagaimana
respons yang terjadi pada masa lalu dapat meramalkan
respons yang akan datang. Kita harus mengetahui sejarah
respons sebelum meramalkan respons individu masa
sekarang.
d. Peneguhan respons.
Peneguhan adalah respons lingkungan (atau orang
lain pada respons organisme yang asli). Ahli lain
menyebutnya feedback atau umpan balik.
Belum ada kesepakatan tentang cakupan psikologi. Ada
yang beranggapan psikologi hanya tertarik perilaku yang
tampak saja, sedangkan yang lain tidak dapat mengabaikan
peristiwa-peristiwa mental. Sebagian peikolog hanya ingin
memeriksa apa yang dilakukan orang, sebagian lagi ingin
meramalkan apa yang akan dilakukan orang.
Menurut George A. Miller (1974), psikologi
komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan,
meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan
perilaku komunikasi individu. Peristiwa mental adalah proses
yang mengantarai stimuli dan respons (internal mediation of
stimuli) yang berlangsung sebagai akibat belangsungnya
komunikasi. Peristiwa perilaku/behavioral adalah apa yang
nampak ketika orang berkomunikasi.
Komunikasi adalah peristiwa sosial. Psikologi
komunikasi dapat diposisikan sebagai bagian dari psikologi
sosial. Karena itu, psikologi sosial adalah juga pendekatan
psikologi komunikasi.
Bila individu-individu berinteraksi dan saling
mempengaruhi, maka terjadilah:
a. Proses belajar yang meliputi aspek koginitif dan aspek
afektif
b. Proses penyampaian dan penerimaan lambang-lambang
(komuniksi)

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 8


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

c. Mekanisme penyesuaian diri seperti sosialisasi,


identifikasi, permainan peran,proyeksi, agresi, dan
sebagainya.8
Pendekatan psikologi sosial menurut Miller (1994),
adalah pendekatan psikologi komunikasi, dipertegas dengan
gambar di bawah:

Komuninikasi terjadi pada dua orang

Ketika terjadi proses komunikasi, informasi Tidak


sepenuhnya dapat diterima. Informasi Diterima sebagai sebuah
irisan, bukan hal yang utuh.

Ketika informasi diterima utuh, apa yang disampaikan


komunikator, diterima 100 persen oleh komunikator.
Pendekatan psikologi komunikasi lain adalah sebagai
berikut:
a. Menyingkirkan semua sikap memihak dan semua usaha
menilai secara normatif (mana yang benar, mana yang
salah)
b. Ketika merumuskan prinsip-prinsip umum psikologi
komunikasi harus menguraikan kejadian menjadi satuan-
satuan kecil untuk dianalisis
c. Psikologi komunikasi berusaha memahami peristiwa
komunikasi dengan memahami keadaan internal.9

8 Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

2007), Hlm. 8.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 9


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

4. Komunikasi efektif
Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss,
komunikasi efektif harus memenuhi lima hal berikut.
a. Pengertian
Pengertian artinya penerimaan yang cermat dari isi
pesan seperti yang dimaksud oleh komunikatir. Kegagalan
meneirma isi pesan secara cermat disebut kegagalan
komunikasi primer (primary breakdown in
communication). Untuk itu, diperlukan pemehaman
mengenai psikologi pesan dan psikolgi komunikator untuk
menghindari hal tersebut
b. Kesenangan
Komunikasi yang dimaksudkan untuk menimbulkan
kesenangan disebut komunikasi fatis. Komunikasi ini dapat
memunculkan kehangatan keakraban, dan kesenangan.
Akan tetappi, tidak semua komunikasi ditujukan untuk
menyampaikan informasi dan membentuk pengertian.
c. Memengaruhi sikap
Komunikasi yang bertujuan memengaruhi sikap
disebut komunikasi persuasif. Persuasif didefinisikan
sebagai proses memengaruhi pendapat, sikap, dan
tindakan orang dengan manipulasi psiokologis sehingga
orang tersebut seperti atas kehendaknya sendiri.
Komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang
faktor pada diri komunikan.
Dapat dikatakan bahwa komunikasi bertujuan saling
memengaruhi satu sama lain. Komunikasi ini memerlukan
pemahaman tentang faktor pada diri komunikator, dan
pesan yang menimbulkan efek pada komunikan.
d. hubungan sosial yang baik
Willam schultz memerinci kehidupan sosial dalam
tiga hal yaitu inclution, control, dan affection. Kebutuhan
sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan
mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan
orang lain dalam hal interkasi dan asosiasi (inclussion),
pengendalian kekuasaan (control), dan cinta serta kasih
sayang (affection),
Secara singkat apabila seseorang ingin bergabung
dan berhubungan dengan orang lain, pada hakikatnya ia
ingin menegndalikan dan dikendalikan, serta ingin

9 Op.Cit. Muhibudin Wijaya Laksana. Hal. 29.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 10


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

memcintai dan dicintai. Kebutuhan sosial ini dapat


dipenuhi dengan komunikasi interpresonal efektif.

e. Tindakan
Tindakan adalah hasil komulatif seluruh proses
komunikasi. Tindakan ini tidak hanya memerlukan
pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang
terlibat dalam proses komunikasi, tetapi juga faktor-faktor
yang memengaruhi perilaku manusia.
Komunikasi untuk menimbulkan pengertian
memang sukar, tetapi lebih sukar lagi memengaruhi sikap.
Efektivitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan
nyata yang dilakukan komunikator.
Menimbulkan tindakan nyata merupakan indikator
efektivitas yang paling penting. Untuk menimbulkan
tindakan,kita harus mampu menanamkan pengertian,
membentuk dan mengubah sikap, atau menumbuhkan
hubungan yang baik.10

10 Ibid.,. Hal. 30.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 11


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB II
KARAKTERISTIK MANUSIA KOMUNIKAN

Pemeran utama dalam proses komunikasi adalah


manusia. Sebagai psikolog, kita memandang komunikasi justru
pada perilaku manusia komunikan. Psikolog mulai masuk ketika
membicarakan bagaimana manusia memproses pesan yang
diterimanya, bagaimana cara berfikir dan cara melihat manusia
dipengaruhi oleh lambang-lambang yang memiliki fokus
psikologi komunikasi adalah manusia komunikan.
A. Konsepsi Psikologi tentang Manusia
Banyak teori dalam ilmu komunikan dilatar belakangi
konsepsi-konsepsi psikologi tentang manusia. Ada empat
pendekatan psikologi yang paling dominan tentang konsepsi
manusia adalah psikoanalisis, behaviorisme, psikologi
kognitif, dan psikologi Humanistik. Setiap pendekatan ini
memandang manusia itu dengan berlainan. Kita tidak akan
mengulas mana teori yang paling kuat. 11
1. Konsepsi Manusia dalam Psikoanalisis
Sigmund Freud dilahirkan di moravia pada 6 Mei
1856 dan meninggal di london pada 23 september 193.
Freud adalah tokoh aliran psikologi dalam(depth
psychology) atau tokoh psikoanalisis yang
menggambarkan jiwa seperti gunung es. 12
Kita mulai dengan psikoanalisasi, karena dari
seluruh aliran psikologi psikoanalisis secara tegas
memperhatikan struktur jiwa manusia. Sigmund Freud,
pendiri psikoanalisasi, adalah orang yang pertama berusaha
merumuskan psikoogi manusia. Ia memfokuskan
perhatiannya kepada totalitas kepribadian manusia, bukan
pada bagian-bagianya yang terpisah.
Menurut sigmund Freud, perilaku manusia
merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam
kepribadian manusia, yaitu id, ego, dan super ego.
a. Id, yaitu bagian kepribadian yang menyimpan
dorongan biologis dan pusat insting manusia. Dalam
diri manusia terdapat dua insting yang dominan:

11 Jalaludin Rahmat, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya,

Bandung, 2007, hlm17-18.


12 Sumanto, Psikologi Umum, Caps ( Cente:of academic publishing

service), Yogyakarta, 2014, hlm 244.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 12


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

1) Libido insting rep-roduktif yang menyediakan


energi dasar untuk kegiatan yang konstruktif.
Libido disebut sebagai insting kehidupan.
2) Thanatos insting destruktif yang agresif. Thanatos
disebut sebagai instig kematian. Semua motif
manusia adalah gabungan dari libido dan thanatos.
Id bergerak beradasarkan prinsip kesenangan yaitu
ingin segera memenuhi kebutuhannya. Dengan kata
lain, id adalah tabiat hewani manusia.
Walaupun Id mampu melahirkan keinginan, ia
tidak mampu memuaskan keiginannya. Subsistem yang
kedua ego berfungsi menjembatani tuntunan Id dengan
realitas di dunia luar. 13
b. Ego, yaitu mediator antara hasrat hewani dan tuntutan
rasional dan realistik. Ego menyebabkan manusia
mampu menundukan hasrat hewaninya dan hidup
sebagai wujud yang rasional (pada pribadi yang
normal). Ego bergerak berdasarkan prinsip realitas.
c. Superego, adalah hati nurani (conscience) yang
merupakan internelisasi dari norma-nirma sosial dan
kultural masyarakatnya. Superego memaksa ego untuk
menekan hasrat-hasrat yang tidak berlainan ke alam
bawah sadar.
Id dan superego berada dalam bawah sadar
manusia. Ego berada ditengah, antara memenuhi desakan
id dan peraturan superego. Secara singkat, dalam
psikoanalisasi, perilaku manusia merupakan interaksi
antara komponen biologis(id), komponen psikologis (ego),
dan komponen sosial (superego), atau unsur animal,
rasiomal,dan moral(hewani, akali,dan nilai).

2. Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme


Behaviorisme adalah menganalisis perilaku
manusia yang tampak dapat diukur,dilukiskan,dan
diramalkan. Teori behaviorisme juga dikenal dengan nama
teori belajar. Belajar, artinya perubhana perilaku manusia
disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Dari sana timbul
konsep “manusia mesin”(HomoMechanicus).
Menurut Kurt Koffka lahir di berlin 18 maret
1886, meninggal di Northampton, Massachusetts, Amerika
serikat pada 22 November 1941. Teori koffka tentang

13 Ibid. hlm 19-20.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 13


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

belajar didasarkan pada anggapan bahwa belajar,sebagai


mana perilaku lainnya pula dapat diterangkan dengan
prinsip-prinsip organisasi dan psikologi beberapa teori
koffa tentang belajar:
a. Salah satu faktor yang penting dalam belajar adalah
jejak-jejak ingatan (memory traces), yaitu pengalaman-
pengalaman yang membekas pada tempat-tempat
tertentu di otak. Jejak-jejak ingatan ini diorganisasikan
secara sistematis mengikuti prinsip-prinsip yang akan
dimunculkan kembali kalau kita mempeersepsikan
sesuatu yang berupa dengan jejak-jejak ingatan tadi.
b. Perubahan yang terjadi pada ingatan bersamaan dengan
jalannya waktu tidak melemahkan jejak-jejak ingatan
itu (dengan perkataan lain tidak menyebabkan lupa),
melainkan menyebabkan perubahan jejak, karena jejak
ingatan itu cenderung diperhalus dan disempurnakan
untuk mendapat gestalt yang lebih baik dalam ingatan.
c. Latihan-latihan akan memperkuat jejak ingatan .14
Kaum behavioris berpendirian:manusia dilahirkan
tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil
pengalaman dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh
kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan
mengurangi penderitaan.
Watson dan Rosalie Rayner melalui sebuah
eksperimen telah membuktikan betapa mudahnya
membentuk atau mengendalikan manusia dan melahirkan
metode pelaziman klasik (classical conditioning).
Pelaziman klasik adalah memasangkan stimuli yang netral
atau stimuli kondisi dengan stimuli tertentu (yang
terkondisikan/ unconditional stimulus) yang melahirkan
perilaku tertentu (unconditional response). Jenis pelaziman
lain yang ditemukan oleh skinner,yaitu operant
conditioning, bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh
proses peneguhan. Proses memperteguh respons yang baru
dengan mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali-
kali disebut peneguhan (reinforcement).
Menurut Bandura, tidak semua perilaku dapat
dijelaskan dengan pelaziman. Ia menambahkan konsep
belajar sosial (social learning). Menurutnya, belajar terjadi
karena proses peniruan. Dengan kata lain, melakukan

14 Ibid sumanto hlm 232.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 14


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

sesuatu perilaku ditentukan oleh peneguhan, sedangkan


kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh
peniruan.15
Aristoteles juga berpendapat bahwa pada waktu
lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa,sebuah meja
lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman. Dari
Aristoteles, John Locke (1632-1704), tokoh empirisme
Inggris, meminjam konsep ini.Menurut kaum empiris, pada
waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”.
Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah
satu-satunya jalan kepemilikan pegetahuan. Secara
psikologis, ini berarti seluruh perilaku,kepribadian,dan
temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi . pikiran
dan perasaan,bukan penyebab perilaku tetapi disebabkan
oleh prilaku masa lalu.
Salah satu kesulitan emperisme dalam menjelaskan
gejala psikologis timbul ketika orang membicarakan apa
yang mendorong manusia berperilaku tertentu. Hedonisme,
salah satu faham filsafat etika, memandang manusia
sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi
kepentingan dirinya,mencari kesenangan dan menghindari
penderitaan. Dalam untilitarianisme, seluruh perilaku
manusia tunduk pada prinsip ganjaran dan hukuman. Bila
emperisme digabung dengan untilitarianisme dan
hedonisme,kita menemukan apa yang disebut sebagai
behaviorisme (Goldstein,1879:1).
Sejak Thorndike dan watson sampai sekarang,
kaum Behavioris berpendirian organisme dilahirkan tanpa
sifat-sifat sosial ataupun psikologis,perilaku adalah hasil
pengalaman dan perilaku digerakan untuk dimotivasi oleh
kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan
mengurangi penderitaan. Asumsi bahwa pengalaman
adalah paling berpengaruh dalam membentuk perilaku,
menyiratkan betapa plastisnya manusia. Ia mudah dibentuk
menjadi apapun dengan menciptakan lingkungan yang
relevan.Behaviorisme memang agak sukar menjelaskan
motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang
kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa
eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik
mereka.

15 Muhibbin Wijaya Laksana, Psikologi Komunikasi,Membangun Komunikasi

yang Efektif Dalam Interaksi Manusia, Pustaka Setia, 2015,hlm 41.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 15


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada


spikologi”mentalistik” dari Wilhelm Wundt Seratus tahun
setelah wundt membuka laboratorium psikologi
eksperimental yang pertama paradigma baru menyerang
psikologi”behavioristik”, dan menarik psikologi kembali
pada proses kejiwaan internal. Paradigma baru ini
kemudian terkenal sebagai psikologi kognitif. 16

3. Konsepsi Manusia dalam Psikologi Kognitif


Ketika asumsi-asumsi Behaviorisme diserang habis-
habisan pada akhir tahun 70-an, psikologi sosial bergerak
ke arah paradigma baru. Manusia tidak lagi dipandang
sebagai makhluk bereaksi secara pasif pada lingkunganya.
Dalam psikologi kognitif, manusia dipandang
sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami
lingkunganya dan makhluk yang selalu berfikir (Homo
Sapiens). Pikiran yang dimaksudkan behaviorisme
sekarang didudukan lagi diatas tahta. Fegree (1977:38).
Menulis:
“pengaruh seseorang pada yang lain kebanyakan
ditimbulkan oleh pikiran kita mengomunikasikan pikiran.
Bagaimana hal ini terjadi? Kita timbulkan perubahan di
dunia luar yang sama. Perubahan-perubahan ini, setelah
dipersepsi orang lain, akan mendorong kita memahami
sesuatu pikiran dan menerimanya sebagai hal yang benar.
Mungkinkah terjadi peristiwa besar dalam sejarah tanpa
komunikasi pikiran? Anehnya kita cenderung menganggap
pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi
peristiwa sementara berpikir, memutuskan, menyatakan,
memhami dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.
Mana yang lebih nyata, sebuah palu atau pikiran?
Alangkah bedanya proses penyerahan palu dengan
komunikasi pikiran.”
Frege menulis hal di atas dalam sebuah buku
filsafat berpikir (philosophicl logic), mengisyaratkan
kelebihan rasionalisme dan empirisme psikologikognitif
memang dapat diasali pada rasionalisme Imanuel Kant
(1724-1804), Rene Descartes (1596-1650), bahkan sampai
ke Plato.

16 Ibid. Hlm. 21-25.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 16


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Kaum rasionalis mempertanyakan apakah betul


penginderaan kita, melalui pengalaman langsung, sanggup
memberikan kebenaran. SKemampuan alat penginderan
kita dipertanyakan karena sering kali gagal menyajikan
informasi yang akurat. Bukankah mata Anda mengatakan
bahwa kedua rel kereta api yang sejajar itu bertemu di
ujung sana; bukankah teling Anda baru mendengar detak
jam dinding pada saat memperhatikanya, padahal jam itu
tetap berdetak ketika Anda membisikan kata cinta pada
telinga kekasih Anda?
Descartes dan Kant menyimpulkan bahwa jiwa
(mind) menjadi alat utama pengetahuan, bukan alat indra.
Jiwa menafsirkan pengalaman secara indrawi secara aktif:
mencipta, mengorganisasikan, menafsirkan, mendistorsi,
dan mencari makna. Manusia memberikan respons
terhadap stimuli secara otomatis. Manusialah yang
menetukan makna stimuli itu, bukan stimuli itu
sendiri.menurut Lewin, prilaku manusia harus dilihat
dalam konteksnya. Dari Lewin terkenal rumus: B= f(p 5.E),
artinya behavior (prilaku) adalah hasil interaksi antara
person (diri orang tersebut) dan environment (lingkungan
psikologisnya). Lewin juga menciptakan konsep dinamika
kelompok, yaitu dalam kelompok, individu menjadi bagian
yang saling berkaitan dengan anggota kelompok lainya,
kelompok. Sejak pertengahan tahun 1950-an, berkembang
tentang penelitian tentang perubahan sikap dengan
kerangka teoritis manusia sebagai pencari konsistensi
kognitif. Manusia dipandang sebagai makhluk yang selalu
berusaha menjaga keajegan dalam sistem kepercayaanya
dan diantara sistem kepercayaanya dengan prilaku.
Contoh, teori disonansi kognitif.
Disonansi, artinya ketidakcocokan antara dua
kognisi (pengetahuan). Teori disonansi menyatakan bahwa
seseorang akan mencari informasi yang mengurangi
disonansi dan menghindarkan informasi yang menambah
disonansi. Pada awal tahun 1970-an teori disonansi dikritik
dan muncul konsepsi manusia sebagai pengolah informasi.
Dalam konsepsi ini manusia bergeser dari orang
yang suka mencari justifikasi atau membela diri menjadi
orang yang secara sadar memecahkan persoalan. Prilaku
manusia dipandang sebagai produk strategi pengolahan
informasi yang rasional. Contoh perspektif ini adalah teori
atribusi. Teor ini menganggap manusia sebagai ilmuan

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 17


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

yang naif, yang memahami manusia dengan metode ilmiah


yang elementer. Pada kenyataannya, manusia tidak begitu
rasional dalam memandang sesuatu.

1. Psikologi kognitif
Kognitivisme merupakan pendekatan teoritis untuk
memahami perilaku manusia melalui pemahaman
aktivitas-aktivitas pikiran dengan menggunakan metode
kuantitatif dan posivistik. Psikologi adalah salah satu
cabang dari psikologi yang menggunakan pendekatan
kognitif untuk memahami prilaku manusia pemahaman
aktivitas-aktivitas pikiran untuk memahami prilaku
tersebut mencakup menerima, mempersepsi, mengingat,
memikirkan, mengeluarkan dan menggunakan dalam
menyelesaikan persoalan. Aliran ini menggunakan asumsi
bahwa manusia adalah makhluk yang menggunakan logika
dalam membuat pilihan keputusan. Psikologi kognitif
mengumpamakan proses mental pada manusia dengan
pemrosesan informasi pada komputer sehingga psikologi
kognitif juga disebut juga psikologi pemrosesan informasi.
Di antara tokoh-tokoh psikologi kognitif yang
paling dikenal adalah Jean Piaget, F, Heider, Leon
Festinger, dan sebagainya.
a. Teori kognitif Jean Piaget
Jean Piaget merupakan tokoh teori kognitif yang
pertama sebagai ahli psikologi, ia telah membuat soal
tes standar tes kecerdasan siswa. Jawaban salah atau
benar yang diberikan siswa telah menjadi suatu yang
menarik mengapa anak-anak pada usia yang sama
melakukan kesalahan yang sama. Hal ini
mendorongnya untuk menyiapkan tahapan
perkembangan yang dapat menjelaskan perkembangan
intelektual.
Piaget percaya bahwa ada faktor biologis yang
tidak dapat dihindarkan dalam perkembangan anak. Ia
melakukan penelitian pada individu anak (terutama
pada anak nya sendiri). Dengan metode ini, ia
menetapkan prinsip teorinya itu. Teori ini menjelaskan
tentang cara seseorang dapat memperoleh pengetahuan
dan mengolahnyadalam proses berpikir sehingga proses
perkembangan yang lain juga akan berkembang secara
baik. Teori kognitif memandang bahwa proses belajar
bukan sekedar stimulus dan respon yang bersifat

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 18


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

mekanistik, tetapi lebih dari itu, yakni melibatkan


kegiatan mental yang ada di dalam diri individu yang
sedang belajar. Oleh sebab itu, menurut teori kognitif
belajar adalah proses mental yang aktif untuk
menerima, mencapai, mengingat, dan menggunakan
pengetahuan.17
Istilah cognitif berasal dari kata cognition yang
sepadan dengan knowing, yang berarti mengetahui.
Dalam arti yang lebih luas, cognition (kognisi) adalah
prose perolehan, penataan, dan penggunaan
pengetahuan.18 Paul Henry menjelaskan bahwa kognisi
adalah kegiatan mental dalam memperoleh, mengolah,
mengorgnisasi, dan menggunakan pengetahuan,
sedangkan proses yang paling utama dalam kognisi
meliputi mendeteksi, menginterprestasi,
mengklasifikasi, dan mengingat informasi,
mengevaluasi gagasan, menyaring prinsip dan
mengambil kesimpulan segala macam pengalaman
yang di dapat dalam kehidupanya.19 Dalam
perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi
salah satu domain atau wilayah psikologi manusia yang
meliputi setiap prilaku mental yang berkaitan dengan
pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi,
pemecahan masalah, kesengajaan dan kejiwaan. Aspek
kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan
dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan).20
Dengan demikian kognisi ini sangat penting
sebab kognisi ini merupakan tempat proses diawali
perolehan pengetahuan yang masuk dalam diri sesorang
yang melalui berbagai proses. Proses perkembangan
kognitif sangat mempengaruhi perkembangan aspek
yang lain, seperti afeksi.
Adapun teori yang mngkaji dan meneliti
mengenai proses kognitif disebut teori kognitif. Teori
kognitif adalah teori yang berfokus pada pembentukan
konsep berfikir, membangun pengetahuan (konsep

17 Baharuddin, dkk, Teori Belajar dan Pembelajaran. (Yogyakarta: Arruz

Media, 2007), hlm. 87.


18 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada 2007),

hlm. 22.
19 Paul Henry, dkk, Perkembangan dan Keperibadian Anak, jilid II, Terjemah

Med Meitasari Tjandrasa (Jakarta:Erlangga, 1994), hlm.194.


20 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, hlm. 22.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 19


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

mental) atau proses-proses sentral, seperti ide-ide,


sikap,dan harapan. Orientasi kognitif berbeda dari
orientasi psikoanalitik dan behavioristik.
Orientasi kognitif adalah mempelajari proses
mental.21 Teori yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teori perkembangan kognitif yang
dikembangkan oleh Jean Piaget. Teori ini merupakan
teori yang menjelaskan cara anak beradaptasi dan
menginterprestasikan objek dan kejadia-kejadian yang
ada di sekitarnya. Misalnya, cara anak mengelompokan
objek-objek untuk mengetahui persamaan dan
perbedanya, dan untuk memahami penyebab terjadinya
perubahan objek dan suatu peristiwa, serta untuk
membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa
tersebut.22
Menurut Piaget, seorang anak mempunyai cara
berfikir dan pendekatan yang berbeda dengan orang
dewasa dalam melihat dan mempelajari realitas.
Teori perkembngan kognitif Piaget adalah salah
satu teori yang menjelaskan cara anak beradaptasi
dengan dan dan menginterprestasikan objek dan
kejadian sekitarnya; mempelajari cirri-ciri dan fungsi
objek seperti mainan, perabot, dan makanan serta objek
sosial, seperti diri, orang tua dan teman, bagaimana
cara anak mengelompokan objek untuk mengetahui
persamaan dan perbedaanya, untuk mengetahu
penyebab terjadinya perubahan dalam objek dan
peristiwa serta membentukperkiraan tentang objek dan
peristiwa tersebut. Piaget memandang bahwa anak
memainkan peran aktif didalam menyusun
pengetahuanya mengenai realitas. Anak tidak pasif
menerima informasi. Walaupun proses berpikir dalam
konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh
pengalaman dunia sekitarnya, anak juga berperan akatif
dalam menginterpresetasikan informasi yang ia peroleh
melalui pengalaman, serta dalam mengadaptasikanya
pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang
telah ia punya.

21 Indoskripsi, “Sumarry Orientasi Kognitif”. Indoskripsi. Com, dalam www.

Google com. 2008.


22 Desmita, Psikologi Perkembangan. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),

hlm 45.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 20


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Piaget percaya bahwa pemikiran anak


berkembang menurt tahap atau periode yangterus
bertambah kompleks. Menurut teori tahapan Piaget,
setiap individu akan melewati serangkaian perubahan
kualitatif yang bersifat invarian, selalu tetap, tidak
melompat atau mundur. Perubahan kualitatif ini terjadi
karena tkanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan serta dengan adanya pengorganisasian
struktur berpikir.
Untuk menunjukkan struktur kognitif yang
mendasar pola-pola tingkah laku yang terorganisasi,
Piaget menggunakan istilah skema dan adaptasi.
Dengan kedua komponen ini, kognisi merupakan
sistem yang selalu di organisasi dan diadaptasi
sehingga memungkinkan individu beradaptasi dengan
lingku nganya.
Menurut Piaget, ada tiga dalil pokok dalam
perkembangan mental manusia, yaitu:23
1) Perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-
tahap bruntun yang selalu terjadi dengan urutan
yang sama .
2) Tahap-tahap itu didefinisikan sebagai kluster dari
operasi-operasi mental yang menunjukan adanya
tingkah laku intelektual.
3) Gerak melalui tahap-tahap itu dilengkapi oleh
adanya keseimbanga (ekulibration) proses
pegembangan yang menguraikan interaksi antara
pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang
timbul (akomodasi).
4. Konsepsi Manusia dalam Psikologi Humanistik
Kata humanisme artinya kemanusiaan, sedangkan
istilah humanisme berarti suatu paham mengenai
kemanusiaan yang hakiki. Jelasnya, humanisme adalah
suatu gerakan atau aliran yang bertujuan untuk
menempatkan manusia pada posisi kemanusiaan yang
sebenarnya. Dalam dunia pendidikan, para pendidik harus
membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu
membantu masing-masing individu untuk mengenal diri
mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan

23 Rusefendi, E.T,. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan

Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA.


(Bandung:Tarsito, 2006), hlm. 133.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 21


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang


ada pada diri mereka. Penyusunan dan penyajian materi
pelajaran harus sesuai dengan minat, perasaan dan
perhatian siswa.

Perhatian psikologi humanistic yang utama tertuju


pada masalah bagaimana tiap-tiap individu di pengaruhi
dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka
hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka
sendiri.24
Psikologi humanistic dianggap sebagai revolusi
ketiga dalam psikologi. Revolusi pertama adalah
psikologianalisis dan revolusi kedua adalah behaviorisme.
Psikologi humanistic menjelaskan aspek eksistensi
manusia yang positif dan menentukan, seperti cinta,
kreatifitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi.
Psikologi humanistik mengambil dari
penomenologi dan eksistensialisme. Penomenologi
memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang
dipersepsi dan diinterpretasi secara subjektif. Adapun
eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban
individu pada sesama manusia. Carl Rogers (1982)
menyebutkan bahwa:
a. Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang
bersifta pribadi di mana dia –sang aku, ku, atau diriku-
menjadi pusat.
b. Manusia berprilaku untuk mempertahankan,
meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.
c. Individu bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi
tentang dirinya dan dunianya.
d. Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti
oleh pertahanan diri
e. Kecendrungan batiniah manusia adalah menuju
kesehatan dan keutuhan diri.25
Psikologi humanistic dianggap sebagai revolusi
ketiga dalam psikologi revolusi pertama dan kedua adalah
psikoanalisis dan behaviorisme. Pada behaviorisme
manusia hanyalah mesin yang dibentuk lingkungan, pada
psikoanalisis manusia melulu di pengaruhi oleh naluri
primitifnya. Dalam pandangan behaviorisme manusia

24 Sumanto, hal. 253


25 Muhibuddin Wijaya Laksana, Psikologi Komunikasi. hal. 44-45

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 22


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

menjadi robot tanpa jiewa, tanpa nilai dalam psikonalisis,


seperti kata freud sendiri, “we see a man as a savage
beast” (1930:86). Keduanya tidak menghormati manusia
sebagai manusia keduanya tidak dapat menjelaskan aspek
ekssistensi manusia yang positif dan menentukan, seperti
cinta, kreatifitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi.
Inilah yang diisi psikologi humani humanistic psychology
is not just the-study of “human being”; it is a commitment
human becoming, tulis Floyd W. Matson (1973) yang agak
sukar diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Psikologi
humanistic mengambil banyak dari psikoanalisis New
Freudian (sebenarnya antiRfeaudian) seperti Adler, Jung,
Rank, Sleke, Erencz; tetapi lebih banyak lagi mengambil
dari penomenologi dan sistemsialisme. Penomenologi
memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang
dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap yang
mengalami dunia dengan caranya sendiri. Alam
pengalaman setiap yang berada dari alam pengalaman
orang lain. “Brouwer, (1983) penomenologi banyak
mempengaruhi tulisan-tulisan Carl rogers, yang oleh
disebut sebagai bapak psikologi humanistic”.
Menurut Alfred Schutz, tokoh sosiologi
penomenologis, pengalaman objektif ini dikomonikasikan
oleh factor social dalam proses intersubektifitas. Psikologi
humanistic menjeluntuk memahami makna suyektif anda,
aku harus menggambarkan arus kesadaran anda mengalir
berdampingan dengan arus kesadaran ku. Dalam gambaran
inilah, aku harus menafsirkan dan membentuk tindakan
intenssional anda ketika anda memiliki kata-kata anda.
“Alfred Schutz, (1970) intersubjektifitas diungkapkan pada
eksistensialisme dalam tema dialog, pertemuan, hubungan
diri dengan orang lain, atau yang disebut dengan Martin
Buber “I-thou Relationship”. Istilah yang disebut terakhir
ini menunjukkan hubungan pribadi dengan pribadi, bukan
pribadi dengan benda, subjek dengan subjek, bukan subjek
dengan objek. Manusia, dalam pandangan ini, hanya
tumbuh dengan baik dalam “I-thou Relationship”, dan
bukan “I-it Relationship”. Disinilah factor orang lain
menjadi penting, bagaimana reaksi mereka membentuk
bukan hanya konsep dirikita, tetapi juga pemuasan- apa
yang disebut dengan Abraham Maslow-“Goth needs”.
Eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban
individu pada sesame manusia. Yang paling penting bukan

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 23


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

apa yang didapat dari kehidupan, tetapi apa yang dapat kita
berikan untuk kehidupan. Jadi, hidupkita baru bermakna
hanya apabila melibatkan nilai-nilai dan pilihan yang
konstruksif secara sosial.
Perhatian pada makna kehidupan adalah juga hal
yang membedakan psikologi humanistic dari mazhab yang
lain. Manusia bukan saja pelakon dalam panggung
masyarakat, bukan saja pencari identitas, tetapi juga
pencari makna. Preud pernah mengirim surat pada Pricess
Bona Parte dan menulis bahwa pada saat manusia bertanya
apa makna dan nilai kehidupan, pada saat itu ia sakit.
Salah, kata Pictor e. Frankl, manusia justru menjadi
manusia ketika mempertanyakan apakah hidupnya
bermakna.
Khotbah Prankl menyimpulkan asumsi-asumsi
psikologi humanistic keunikan manusia, pentingnya nilai
dan makna, serta kemampuan manusia untuk
mengembangkan dirinya. Sebagai penjelasan, kita akan
menyajikan penjabaran asumsi-asumsi ini dalam
pandangan Carl Rogers.
Carl Rogers menggaris besarkan pandangan
humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit
perubahan dari Coleman dan Hanmen, 1974:33).
1. Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang
bersifat pribadi dimana dia sang aku, ku, atau diriku
menjadi pusat. Prilaku manusia berpusat pada konsep
diri, yang berubah-ubah, yang muncul dari suatu medan
fenomenal. Medan keseluruhan pengalaman subjektif
seorang manusia yang terdiri dari pengalaman-
pengalaman aku dan kamu dan pengalaman yang
“bukan aku”.
2. Manusia berprilaku untuk mempertahankan,
meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.
3. Individu beriaksi pada situasi sesuai dengan persepsi
tentang dirinya dan dunianya. Ia bereaksi pada
“realitas” yang dipersepsikan oalehnya dan dengan cara
yang sesuai dengan konsep dirinya.
4. Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti
oleh pertahanan diri berupa penyempitan dan
pengakuan (rigidifications) persepsikan dan prilaku
penyesuaian serta penggunaan mekanisme pertahanan
ego seperti rasionalisasi.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 24


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

5. Kecendrungan batiniah manusia ialah menuju


kesehatan dan keutuhan diri. Dalam kondidsi yang
normal ia berprilaku rasional dan konstruktif, serta
memilih jalan menuju pengembangan aktualisai diri.26
jelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan
menentukan, seperti cinta, kreatifitas, nilai, makna, dan
pertumbuhan pribadi.
Psikologi humanistic dianggap sebagai
revolusi ketiga dalam psikologi revolusi pertama adalah
psikoanalisis dan revolusi kedua adalah behaviorisme.
Aspek eksistensi manusia yang positif dan menentukan
seperti cinta, kreatifitas, nilai, makna dan pertumbuhan
pribadi. Psikologi humanistic menjelaskan Pada
behaviorisme manusia hanya lah mesin yang dibentuk
lingkuntan, pada psikoanalisis manusia melalui
dipengaruhi oleh naluri primitifnya.
Tokoh-tokoh Humanisme yang terkenal antara
lain adalah Arthur combs, Abraham Maslow, Carl
Rogers, dan sebagainya.
1. Arthur Combs (1912-1999)
Tokoh-tokoh humanistic mencurahkan
banyak perhatian pada dunia pendidikan dengan
menekankan konsep meaning makna). Proses
belajar terjadi bila ada kegiatan yang mempunyai
arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan
materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan atau kebutuhan mereka anak tidak
pandai pada suatu mata pelajaran bukan karena
bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa
dan merasa tidak ada alasan penting untuk
mempelajarinya. Ketidak pandaian orang dalam
suatu mata pelajaran adalah ketidak mampuan
seseotrang mengetahui manfaat dengan belajar mata
pelajaran tersebut.
2. Abraham Maslow
Menurut Maslow, prilaku manusia adalah
upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat
hirarkis. Diri masing-masing individu mempunyai
berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk
berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil
kesempatan, takut kehilangan apa yang sudah ia

26 Jalaluddin rakhmat 30-32

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 25


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

miliki dan sebagainya. Disisi lain seseorang juga


memiliki dorongan untuk lebih maju kearah
pemenuhan kebutuhan, kearah keunikan diri, kearah
berfungsinya semua kemampuan, kearah
kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada
saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri
(selfacceptance).
Menurut Maslow manusia termotifasi untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hierarki
adapun tingakatan kebutuhan tersebut adalah
a. Kebutuhan Psiologis atau dasar
b. Kebutuhan akan masa aman dan tentram
c. Kebutuhan dicintai dan disayangi
d. Kebutuhan untuk dihargai
e. Kebutuhan untuk aktualisasi diri

3. Carl Ransom Rogers (1902-1987)


Carl Ransom Rogers adalah seorang ahli
psikologi humanistic yang menekankan perlunya
sikap saling menghargai dan tanpa prasangka
(antara klien dan terapis) dalam membantu individu
mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers
meyakini bhawa klein memiliki jawaban atas
permasalahan yang dihadapinya dan tugas trapis
hanya membimbing klien menemukan jawaban
yang benar. Menurut Rogers, tehnik-tehnik
asessment dan pendapat para terapis bukanlah hal
yang penting dalam melakukan treatment kepada
klien.27

27 Sumanto, hlm. 253-257

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 26


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB III
KARAKTERISTIK MANUSIA KOMUNIKAN
LANJUTAN

A. Faktor-Faktor Personal Yang Mempengaruhi Perilaku


Manusia
Analisis perilaku adalah cabang psikologi yang berusaha
memahami, menjelaskan, dan mempredeksi perilaku manusia
dan hewan. tidak seperti kebanyakan cabang psikologi, analisis
perilaku kurang peduli dengan konsep-konsep seperti pikiran
atau kepribadian seseorang. Daripada melihat perilaku sebagai
topik yang dipelajari sendiri dengan benar. Tujuan utama
analisisperilaku adalah mengkaji faktor-faktor biologis dan
lingkungan dalam rangka menemukan mengapa perubahan
perilaku terjadi dari waktu kewaktu.28
Dewasa ini ada dua macam psikologisosial, yaitu:
1. Psikologisosial (dengan huruf P besar)
2. Psikologisosial (dengan huruf S besar)
Ini menunjukkan dua pendekatan dalam psikologi sosial
ada yang menekankan faktor-faktor psikologis dan ada yang
menekankan faktor-faktor social atau dengan istilah lain, faktor-
faktor yang timbul dari dalam diri individu (faktor personal),
dan faktor-faktor berpengaruh yang datang dari luar diri
individu (faktor environmental).
Ini tercermin, secara menarik, pada dua buah buku yang
pertama kalinya mencantumkan istilah psikologi social dalam
judulnya. Keduanya terbit bersamaan pada tahun 1908. Buku
pertama, berjudul Introduction to Social Psychology, terbit di
London, ditulisoleh William McDougall, seorang psikolog.
Buku yang lain adalah Social Psyhology, terbit di New York,
ditulisoleh Edward Ross, seorang sosiolog. Mc Dougall
menekankan pentingnya faktor-faktor personal dalam
menentukan interaksi social danm asyarakat. Ross menegaskan
utamanya factor situasional dan social dalam membentuk
perilaku individu. Menurut McDougall, faktor-faktor
personallah – ia menjabarkannya dalam puluhan instink – yang
menentukan perilaku manusia. Mengapa manusia berperang?
Karena ia memiliki instink berkelahi. Mengapa orang
berkelompok dan membentuk organisasi? Karena iamemiliki

28 Sudarwan Danim, Psikologi Pendidikan, (Bandung: CV Alfabeta. 2010),


hlm.29.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 27


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

instink berkelompok (gregarious propensity). Lalu, mengapa


manusia sanggup membangun bangunan megah bahkan
peradaban? Karena ia memiliki instink membangun
(constructive propensity).
Manakah di antara dua pendapat ini yang benar dengan
menggunakan istilah Edward E. Sampson, 1976 antara
perspektif yang berpusat pada personal (person-centered
perspective) dengan perspektif yang berpusat pada situasi
(situation-centered perspective). Seperti juga konsepsi tentang
manusia, yang benar tampaknya interaksi di antara keduanya.
Karena itu, kita akan membahasnya satu per satu, dimulai
dengan perspektif yang berpusat pada persona.
Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan
faktor-faktor internal apakah, baik berupa sikap, instink, motif,
kepribadian, system kognitif yang menjelaskan perilaku
manusia. Secara garis besar ada dua faktor, yaitu:
1. Faktor Biologis
Manusia adalah makhluk biologis yang tidak berbeda
dengan hewan yang lain. Ia lapar kalau tidak makan selama
dua puluh jam, kucing pun demikian. Ia memerlukan lawan
jenis untuk kegiatan reproduktifnya, begitu pula kerbau. Ia
melarikan diri kalau melihat musuh yang menakutkan,
begitu pula monyet.
Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan
manusia, bahkan terpadu dengan factor factor
sosiopsikologis. Bahwa warisan biologis manusia
menentukan perilakunya, dapat diawali sampai struktur
DNA yang menyimpan seluruh memori warisan yang
diterima dari kedua orang tuanya.29
Ada dua Kategori ciri atau sifat yang dimiliki oleh
individu, yaitu ciri dan sifat –sifat yang menetap ( permanent
state) dan ciri atau sifat-sifat yang bisa berubah (temprare
state). Ciri-ciri dan sifat-sifat yang menetap dpandang
sebagai pembawaan atau keturunan, seperti warna kulit,
rambut, bentuk hidung, mata, telinga, dll. Sifat periang,
penyedih , penakut, dll, beberapa ahli meragukan bahwa hal
itu merupakan faktor pembawaan sebab kemungkinan besar
masih bisa diubah oleh lingkungan.
Kemampuan yang sering dipandang sebagai faktor
pembawaan, dengan demikian bersifat menetap adalah

29 Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

2007), hlm. 32-33.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 28


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kecerdasan atau intelegensi dan bakat. Intelegensi


merupakan kemampuan yang bersifat umum, sedangkan
bakat merupakan kemampuan yang bersifat khusus seperti
bakat dalam bidang musik, olahraga, ekonomi, pertanian,
matematik, bahsa, teknik dll. Ciri atau sifat-sifat yang bisa
berubah dikategorikan sebagai faktor lingkungan atau faktor
pembawaan yang dipengaruhi lingkungan. Ciri atau sifat
tersebut umpama nya besar badan, sikap tubuh, kebiasaan,
minat, ketekunan dan lain-lain.30

2. Faktor Sosiopsikologis
Manusia adalah makhluk sosial, ia selalu berada
bersama mausia lain, membutuhkan orang lain dan
perilakunya juga selalu menunjukkan hubungan dengan
orang lain. Ia akan merasa kesunyian, bila tinggal sendirian,
ia juga akan merasa rindu bila putus hubungannya dengan
orang lain yang disayanginya. Lingkungan sosial selalu
menyangkut hubungan antara seorang manusia dengan
manusia lainnya,bhubungan tersebut dapat berbentuk
hubungan antara individu dengan individu, individu dengan
kelompok ataupun kelompok dengan kelompok. Hubungan
juga dapat berlangsung dalam berbagai situasi dan tempat,
dalam situasi kekeluargaan dirumah, situasi dinas disekolah
atau kantor, situasi dinas diberbagai sasaran dan peran,
seperti dalam peranan sebagai siswa dalam belajar, sebagai
pendidik dalam mencerdaskan generasi muda, sebagai
pemimpin dalam pembangunan desa dan lain-lain).
Karena sebenarnya manusia adalah makhluk sosial
dari proses ia memperoleh beberapa karakteistik yang
mempengaruhi perilakunya.kita dapat
mengklasifikasikannya kedalam tiga komponen yaitu
komponen afektif, komponen kognitif, komponen konatif.
Komponen pertama merupakan aspek emosional dari haktor
sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan
pembicaraan sebelumnya. Komponen afektif yang terdiri
dari motif sosiogenis, sikap dan emosi.
Komponen kognitif merupakan aspek intelektual,
yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
Komponen konatif adalah aspek volisional, yang
berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

30 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan,

(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.46.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 29


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

a. Komponen afektif
1) Motif sosiogenis, sering juga disebut motif sekunder
sebagai lawan motif primer (motif biologis),
sebetulnya bukan motif “anak bawang”. Peranannya
dalam membentuk perilaku sosial bahkan sangat
menentukan. Secara singkat motif-motif sosigenesis
diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Motif ingin tahu
Mengerti, menata, dan menduga
(predictibility) setiap orang berusaha memahami
dan memperoleh arti dari dunianya ketika
memerlukan kerangka rujukan (frame of
reference) untuk mengevaluasi situasi baru dan
mengarahkan tindakan yang sesuai.
b) Motif kompetensi
Setiap orang ingin membuktikan bahwa ia
mampu mengatasi persoalan kehidupan apa
pun.perasaan mampu amat bergantung pada
perkembangan intelektual, sosial, dan emosional
motif kompetensi erat hubungannya dengan
kebutuhan akan rasa aman.
c) Motif cinta
Sanggup mencintai dan dan dicintai adalah
hal esensial bagi pertumbuhan kepribadian. Orang
ingin diterima didalam kelompoknya sebagai
anggota sukarela dan bukan yang sukar rela
kehangatan persahabatan, ketulusan kasih sayang,
penerimaan orang lain yang hangat amat
dibutuhkan manusia.
d) Motif harga diri dan kebutuhan untuk mencari
identitas
Erat kaitannya dengan kebutuhan untuk
memperlihatkan kemampuan dan memperoleh
kasih sayang, ialah kebutuhan menunjukan
eksistensi didunia. Kita ingin kehadiran kita
bukan saja bilangan, tetapi juga diperhitungkan
karena itu, bersamaan dengan harga diri orang
akan mencari identitas dirinya.
e) Kebutuhan akan nilai, kedambaan dan makna
kehidupan
Dalam menghadpi gejolak kehidupan,
manusia membutuhkan nilai-nilai untuk
menuntunnya dalam mengambil keputusan atau

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 30


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

memberikan makna pada kehidupannya.


Termasuk kedalam motif ini ialah motif
keagamaan.
f) Kebutuhan akan pemenuhan diri
Kebutuhan akan pemenuhan diri dilakukan
melalui berbagai bentuk: mengembangkan dan
menggunakan potensi kita dengan cara yang
kreatif konstruktif,misalnya dengan
seni,musik,sains, atau hala-hal yang mendorong
ungkapan diri yang kreatif. Memperkaya kualitas
kehidupan dengan dengan memperluas
rentangandan kualitas pengalaman serta
pemuasan, misalnya dengan jalan darmawisata.
Membentuk hubungan yang hangat dan berarti
dengan orang-orang lain disekitar kita.
Berusaha”memanusia”, menjadi persona yang kita
dambakan.

2) Sikap
Sikap adalah konsep yang paling penting
dalam psikologi sosial dan yang paling banyak
didefinisikan. Dari berbagai definisi kita dapat
menyimpulkan beberapa hal.
Pertama, sikap adalah kecenderungan
bertindak, berpersepsi, dan merasa dalam
menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Sikap bukan
perilaku tetap merupakan kecenderungan untuk
berperilaku dengan cara-cara tertentu gagasan atau
situasi, atau kelompok. Jadi, pada kenyataan tidak ada
istilah sikap yang berdiri sendiri.
Kedua, sikap mempunyai daya pendorong atau
motivasi. Sikap bukan sekedar rekaman masa lalu,
tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau
kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang
disukai, diharapkan, dan diinginkan,
mengesampingkan apa yang tidak diinginkan, apa
yang harus dihindari (Sherif dan Sherif, 1956:489).
Bila sikap saya positif terhadap ilmu, berharap agar
orang menghargai ilmu, dan menghindari orang-
orang yang meremehkan ilmu.
Ketiga, sikap relatif lebih menetap. Berbagai
studi menunjukan bahwa sikap politik kelompok

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 31


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

cenderung dipertahankan dan jarang mengalami


perubahan.
Keempat, sikap mengandung aspek evaluatif:
artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak
menyenangkan, sehingga Bem memberikan definisi
sederhana “Attitudes are likes and dislikes” (1970).
Kelima, sikap timbul dari pengalaman (tidak
dibawa sejak lahir, tetapi merupkan hasil belajar),
karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah.
Beberapa orang sarjana menganggap sikap
terdiri dari komponen kognitif, afektif, dan
behavioral. Dalam buku ini sikap hanya dipandang
pada komponen afektifnya saja., karena komponen
kognitif akan kita masukkan pada konsep
kepercayaan, dan komponen behavioral kita
masukkan pada faktor sosiopsikologis konatif yang
teridiri dari kebiasaan dan kemauan.

3) Emosi
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari
disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, yaitu
perasaan senang atau tidak senang yang selalu
menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut warna
efektif. Warna efektif ini kadang-kadang kuat,
kadang-kadang lemah atau samar-samar saja. Dalam
hal warna efektif yang kuat, maka perasaan-perasaan
menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih
terarah. Perasaan-perasaan seperti ini disebut emosi.
Beberapa macam emosi antara lain, gembira, bahagia,
teekejut, jemu, benci, was-was, dan sebagainya.
Ada dua macam pendapat tentang terjadinya
emosi. Pendapat tentang terjadinya emosi pendapat
yang nativistik mengatakan bahwa emosi pada
dasarnya merupakan bawaan sejak lahir.
Sedangkan pendapat yang empiristik
mengatakan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman
dan proses belajar.
Salah satu penganut faham navistik adalah
Rene Descartes (1590-1650). Ia mrengatakan bahwa
sejak lahir telah mempunyai enam emosi dasar, yaitu:
cinta, kegembiraan, keinginan, bemci, sedih, dan,
kagum.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 32


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Dipihak kaum empiristik dapat kita catat


nama-nama william James (1842-1910, Amerika
Serikat) dan Carl Lange (Denmark). Kedua orang ini
menyusun suatu teori tentang emosi James-Lange.
Menurut teori ini, emosi adalah hasil persepsi
seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi
pada tubuh sebagai respons terhadap rangsang-
rangsang yang datang dari luar. Jadi, kalau seseorang
misalnya melihat seekor harimau, maka reaksinya
adalah peredaran darah makin cepat karena denyut
jantung makin cepat, paru-paru, lebih cepat
memompa udara, dan sebagainya. Respon-respon
tubuh ini kemudian dipersepsikan dan timbullah rasa
takut. Jadi orang itu bukan berdebar-debar karena
takut setelah melihat harima, melainkan karena ia
berdebar-debar maka timbul rasa takut. Mengapa rasa
takut yang timbul, ini disebabkan oleh hasil
pengalaman dan proses belajar. Orang yang
bersangkutan dari pengalamannya telah mengetahui
bahwa harimau adalah makhluk yang berbahaya
karena itu debaran jantung dipersepsikan sebagai
takut.31
Emosi berbeda-beda dalam hal intensitas dan
lamanya. Ada emosi yang ringan, berat, dan
desintegratif. Emosi ringan meningkatkan perhatian
kita kepada situasi yang dihadapi, disertai dengan
perasaan tegang sedkit. Disini anda masih mampu
mengendalikannya dan menghindirinya kapan anda
mau. Ini kita alami ketika mendengar pembicaraan
yang memikat atau tontonan yang menarik hati.
Emosi kuat disertai rangsangan fisiologis yang
kuat. Detak jantung, tekanan darah, pernafasan,
produksi adrenalin, semuanya meningkat. Pipa kpiler
dalam otak dan otot-otot membesar untuk
memperlancar sirkulasi darah . dalam fisiologi, gejala
ini lazim disebut sebagai GAS-general adaptation
syndromes. Emosi yang desintegratif tentu saja
terjadi dalam intensitas emosi yang memuncak.
Tentara yang menghadapi pertempuran maut, orang

31 Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2004),


hlm.54-55.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 33


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

yang telah lama menumpuk penderitaan, pasti


mengalami emosi desintegratif.
Dari segi lamanya, emosi yang berlangsung
singkat dan ada yang berlangsung lama. Mood adalah
emosi yang menetap selama berjam-jam atau
beberapa hari. Mood mempengaruhi persepsi kita
atau penafsiran kita pada stimuli yang merangsang
alat indera kita.

b. Komponen kognitif
1) Kepercayaan
Kepercayaan adalah komponen kognitif dari
faktor sosiopsikologis kepercayaan disini tidak ada
hubungannya dengan hal-hal yang gaib, tetapi
hanyalah keyakinan bahwa sesuatu itu ‘Benar’ atau
‘Salah’ atas dasar bukti, sugesti otoritas,
pengalaman, atau intuisi” (Hohler, et., 1978). Jadi
kepercayaan dapat bersifat rasional atau irasional.
Anda percaya bahwa bumi itu bulat, bahwa
rokok itu penyebab kanker, atau bahwa kemiskinan
itu karena kemalasan. Kepercayaan memberikan
perspektif pada manusia dalam mepersepsi
kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan
keputusan dan menentukan sikap terhadap objek
sikap. Bila orang percaya bahwa cacar disebabkan
oleh makhluk halus, sikapnya terhadap vaksinasi
akan negatif, ia cenderung menolak pengobatan
medis. Bila orang percaya bahwa anak mendatangkan
rezeki, kampanye KB tidak akan apapun sebelum
orang itu memperoleh kepercayaan yang baru.
c. Komponen konatif
1) Kebiasaan
Komponen konatif dari faktor
sosiopsikologis, seperti telah disebutkan diatas terdiri
dari kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan adalah aspek
perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara
otomatis tidak direncanakan. Kebiasaan mungkin
merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada
waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang
diulangi seseorang berkali-kali. Setiap orang
mempunyai kebiasaan yang berlainan dalam
menanggapi stimulus tertentu. Kebiasaan inilah yang
memberikan pola perilaku yang dapat diramalkan.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 34


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

2) Kemauan
Kemauan jarang dibicarakan seacara khusus
dalam buku-buku pengantar psikologi, walaupun orang
sering menggunakan istilah”Kuat Kemauan” atau
“Kurang Kemauan”. Den Menschen macth seinee Wille
gross undklein” ujar Heinrich Heine. Kemauanlah
yang membuat orang besar atau kecil kemauan erat
kaitannya dengan tindakan, bahkan ada yang
mendefinisikan kemauan sebagai tindakan yang
merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan.
Menurut Richard Dewey dan W.J. Humber,
kemauan meruapakan (1) hasil keinginan untuk
mencapai tujuan tertentu nilai yang lain, yang tidak
sesuai dengan pencapaian tujuan; (2) berdasarkan
pengetahuan tentang, cara-cara yang diperlukan untuk
mencapai tujuan; (3) dipengaruhi oleh kecerdasan dan
energi yang diperlukan untuk mencapai tujuan; plus (4)
pengeluaran energi yang sebenarnya dengan satu cara
yang tepat untuk mencapai tujuan.32
Adapun yang termasuk faktor dalam atau faktor
pembawaan, ialah segala sesuatu yang telah dibawa
oleh anak sejak lahir, baik yang bersifat kejiwaan
maupun yang bersifat ketubuhan. Kejiwaan yang
berwujud, fikiran, perasaan, kemauan, fantasi, ingatan,
dsb. Yang dibawa sejak lahir, ikut menentukan pribadi
seseorang. Keadaan jasmani pun demikian pula.33

B. Faktor-Faktor Situasional yang Mempengaruhi Perilaku


Manusia
Delgado pernah melakukan beberapa eksperimen untuk
mengubah kera-kera Gibbon yang tenang menjadi agresif
dengan merangsang salah satu bagian otaknya. Ketika
dirangsang, seekor monyet menyerang monyet asing yang
tinggal satu kandang, tetapi dengan rangsangan yang sama ia
tidak menunjuakan sikap bermusuhan terhadap kawan
betinanya. Reaksi agresif diungkapkan berlainan pada sesuatu
yang berlainan sehingga delgado menyimpulkan bahwa respons
otak sangat dipengaruhi oleh “setting” atau suasana yang
melingkupi organisme.

32 Jalaludin Rakhma, Op. Cit, hlm.37-43.


33 Sujianto Agus, dkk., Psikologi Kepribadian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001),
hlm.5.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 35


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

1. Faktor Ekologis
Kaum determinasi lingkungan sering menyatakan
bahwa kedaan alam mempengaruhi gaya hidup perilaku.
Banyak orang menghubungkan kemalasan bangsa indonesia
pada mata pencaharian bertanin dan matahari yang selalu
bersinar setiap hari. Sebgaina efek pandangan mereka telah
diuji dalam berbagai penelitian, seperti efek temperatur pada
tindakan kekerasan, perilaku interpersonal, dan suasana
emosional. Yang belum diteliti, antara pengaruh temperatur
ruangan pada efektivitas komuniakasi.

2. Faktor Rancangan dan Arsitektural


Dewasa ini telah tumbuh perhatian dikalangan para
arsitek pada pengaruh lingkungan yang dibuat manusia
terhadap perilaku penghuninya. Satu rancangan arsitektur
dapat mempengaruhi pola komunikasi diantara orang-orang
yang hidup dalam naungan arsitektural tertentu, Osmond
(1957) dan Sommer (1969) membedakan antara desain
bangunan yang mendorong orang untuk berinteraksi
(sociopetal) dan rancangan bangunan yang menyebabkan
orang menghindari interaksi (sociofugsl) . pengaturan
ruangan juga telah terbukti mempengaruhi pola-pola
perilaku yang terjadi ditempat tertentu.

3. Faktor Temporal
Telah banyak diteliti pengaruh waktu terhadap
bioritma manusia. Misalnya dari tengah malam sampai pukul
4 fungsi tubuh manusia berada pada tahap yang paling
rendah, tetapi pendengaran sangat tajam; pada pukul 10 bika
anda orang introvet, konsentrasi dan daya ingat mencapai
puncaknya; pada pukul 3 sore orang -orang ekstrovet
mencapai puncaknya dalam kemampuan analisis dan
kreativitas (Panati,1981). Tanpa mengetahui bioritma
sekalipun banyak kegiatan kita diatur berdasarkan waktu;
makan, pergi sekolah, bekerja, beristirahat, berlibur,
beribadat, dan sebagainya. Satu pesan komunikasi yang
disampaikan pada tengah malam. Jadi yang mempengaruhi
manusia bukan saja dimana mereka berada tetapi juga
bilamana mereka berada.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 36


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

4. Suasana Perilaku (Behavior Setting)


Selama bertahun-tahun, roger barker dan rekan-
rekannya efek lingkungan terhadap individu. Lingkungan
dibaginhya kedalam beberapa satuan yang terpisah, yang
disebut suasan perilaku. Pesta, ruagan kelas, toko, rumah
adat, pemandian, bioskop adalah contoh-contoh suasan
perilaku. Pada setiap suasana terdapat pola-pola hubungan
yang mengatur perilaku orang-orang didalamnya. Dimasjid
orang tidak akan berteriak keras, seperti dalam pesta orang
tidak akan melakukan upacara ibadat. Dalam suatu
kampanye dilapangan terbuka, komunikator akan menyusun
dan menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda dari
pada ketika ia berbicara dihadapan kelompok kecil
diruangan rapat partainya.

5. Teknologi
Pengaruh teknologi terhadap perilaku manusia sudah
sering dibicarakan orang, revolusi teknologi sering disusul
dengan revolusi dalam perilaku sosial. Alvin Tofler
melukiskan tiga gelombang peradaban manusia yang terjadi
sebagai akibat perubahan teknologi. Lingkungan teknologis
(technoshpere) yang meliputi sistem energi, sistem produksi,
dan sistem distribusi, membentuk serangkaian perilaku
sosial yang sesuai dengannya (sosiospher). Bersamaan
dengan itu timbullah pola-pola penyebaran formasi
(infosphere) yang mempengaruhi suasan kejiwaan
(psychosphere).
Setiap anggota masyarakat. Dalam ilmu komunikasi,
Marshall Mc Luham (1964) menunujukan bahwa bentuk
teknologi komunikasi lebih penting daripada isi media
komunikasi. Misalnya, kelahiran mesin cetak mengubah
masyarakatr tribal menjadi masyarakat yang berfikir logis
dan imdividual sedangkan kelahiran televisi membawa
manusia kembali pada kehidupan neo-tribal.

6. Faktor- faktor Sosial


Sistem peran yang ditetapkan dalam suatu
masyarakat, struktur kelompok dan organisasi, krakteristik
populasi, adalah faktor-faktor sosial yang menata perilaku
manusia. Dalam organisasi, hubungan antara anggota dengan
ketua diatur oleh sistem peranan dan norma-norma
kelompok. Besar kecilnya organisasi akan
mempengaruhijaringan komunikasi dan sisten pengambilan

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 37


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

keputusa. Karakteristik populasi seperti usia, kecerdasan,


karakteristik biologis, mempengaruhi pola-pola perilaku
anggota-anggota populasi itu. Kelompok orang tua
melahirkan pola perilaku yang berbeda dengan kelompok
anak-anak muda. Dari segi komunukasi, teoru penyebaran
inovasi (Rogers & Shoemaker,1971) dan teori kritik (
Habermas, 1979) memperlihatkan bagaimana sistem
komunikasi sangat dipengaruhi oleh struktur sosial.

7. Lingkungan psikososial
Manusia adalah makhluk sosial, ia selalu berada
bersama manusia lain, membutuhkan orang lain dan
perilakunya juga selalu menunjukan hubungan dengan orang
lain. Ia akan merasa kesunyian, bila tinggal sendirian, ia juga
akan merasa rindu bila putus hubungannya dengan orang
yang disayanginya. Faktor-faktor yang menyangkut
hubungan seorang manusia dengan manusia lainnya ini
disebut lingkungan sosial.34
Lingkungan dalam persepsi kita lazim disebut sebagai
iklim (climat) dalam organisasi, iklim psikososial
menunjuakan persepsi orang tentang kebeasan individual,
keketatan pengawasan, kemungkinan kemajuan dan tingkat
keakraban. Studi tentang komunikasi organsasional
menunjukan bagiamana iklim organisasi mempengaruhi
hubungan komunikasi antara tasan dan bawahan, atau diantara
orang-orang yang menduduki posisi yang sama. Para
antropolog telah memperluas istilah iklim ini kedalam
masyarakat secara keseluruhan.
Pola-pola kebudayaan yang dominan atau ethos,
ideologi dan nilai dalam persepsi anggota masyarakat,
mempengaruhi seluruh perilaku sosial. Ruth Benedict (1970)
misalnya, membedakan antara masyarakat yang mempunyai
sinergi tinggi dan masyarakat yang bersynergi rendah. Pada
masyrakat yang terpaut erat dengan ganjaran kolektif. Cita-
cita perorangan dicapai melalui usaha bersama. Pada
masyarakat ini seperti orang cenderung untuk mengurangi
kepentingan dirinya, bersifat kompromistis. Perilaku sosial
yang sebaliknya terjadi pada masyarakat yang bersynergi
rendah. Margareth Mead (1928), walupun belakangan
dikritik orang, mewakili aliran determinisme budaya, yang

34 Nana Syaodih Sukmadinata, Op Cit, hlm.47.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 38


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

menunjukan bagaiamana nilai-nilai yang diserap anak pada


waktu kecil mempengaruhi perilakunya dikemudian hari.

8. Stimuli yang Mendorong dan Memperteguh perilaku


Beberapa peneliti psikologi sosial, seperti Fredericsen
Price, dan Bouf Fard (1972), meneliti kendala situasi yang
mempengaruhi kelayakan melakukan perilaku tertentu. Ada
situasi yang memberikan rntangan kelayakan perilaku
(behavioral aappopriatness) , seperti situasi dataman, dan
situasi yang banyak memberikan kendala pada perilaku,
seperti gereja. Situasi yang permisif memungkinakan orang
melakukan banyak hal tanpa harus meras malu. Sebaliknya,
situasi restriktif menghambat orang untuk berperilaku
sekehendak hatinya.
Faktor-faktor situasional yang diuraikan diatas
tidaklah mengesampingkan faktor-faktor personal yang
disebut sebelumnya. Kita mengakui besarnya pengaruh
situasi dalam menetukan perilaku manusia. Tetapi manusia
memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap situasi yang
dihadapinya, sesuai dengan karakteristik personal yang
dimilikinya. Perilaku manusia memang merupakan hasil
interaksi yang menarik antar keunikan individual dengan
keumuman situasional.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 39


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB IV
SISTEM KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

A. Pengertian Komunikasi Intrapersonal


Gail E. Myers & Michelle Tolela Myers dalam buku
The Dynamics of Human Communication a Laboratory
Approach, tahun 1992 mengatakan bahwa, apa yang terjadi
dalam diri manusia, seperti apa yang mereka pikirkan,
rasakan, nilai-nilai yang dianut, reaksi, khayalan, mimpi, dan
lain-lain merupakan dimensi dari intrapersonal. Kajian dari
psikologi dan studi kognitif ini mencoba menjelaskan
bagaimana tanggapan manusia terhadap simbol dan
bagaimana mereka membuat keputusan, menyimpan, dan
mengolah data dalam pikiran.35
Sementara itu dalam buku Trans–Per Understanding
Human Communication, 1975, disebutkan bahwa komunikasi
intrapersonal adalah proses di mana individu menciptakan
pengertian. Di lain pihak Ronald L. Applbaum dalam buku
Fundamental Concept in Human Communication
mendefinisikan komunikasi intrapersonal sebagai:
Komunikasi yang berlangsung dalam diri kita, ia meliputi
kegiatan berbicara kepada diri sendiri dan kegiatan- kegiatan
mengamati dan memberikan makna (intelektual dan
emosional) kepada lingkungan kita).36
Komunikasi intrapersonal (Intrapersonal
communication) adalah komunikasi yang terjadi didalam diri
seseorang berupa proses pengolahan informasi melalui panca
indra dan sistem saraf manusia.37
Dari berbagai definisi diatas, kita dapat menyimpulkan
bahwa komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang
berlangsung dalam diri seseorang. Orang itu berperan baik
sebagai komunikator maupun sebagai komunikan, dia
berbicara pada dirinya sendiri, dia berdialog dengan dirinya
sendiri, dia bertanya kepada dirinya sendiri, dan dijawab oleh
dirinya sendiri.

35 Mazdalifah “Komunikasi Intrapersonal Ditinjau Dari Sudut Pandang

Psikologi Komunikasi”. Jurnal Pemberdayaan Komunitas, Vol. 13, No. 3, 2015, hlm.
123.
36 Ibid, hlm. 124
37 Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Sosial (Bandung: Pustaka Setia, 2015)

hlm. 209.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 40


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

1. Tujuan Komunikasi Intrapersonal


Adapun tujun dari komunikasi intrapersonal adalah
sebagai berikut.38
a. Mengenal diri sendiri dan orang lain.
b. Mengenal dunia luar.
c. Menciptakan dan memelihara hubungan menjadi
bermakna.
d. Mengubah sikap dan perilaku.
e. Bermain dan mencari hiburan
f. Membantu orang lain.
2. Proses Komunikasi Intrapersonal
Stanley B. Cunningham dalam tulisannya,
“Intrapersonal Communication, a Review and Critique”,
menyebut proses komunikasi intrapesonal yang terjadi
pada diri seseorang akan berlangsung sebagai berikut.
a. Berbicara pada diri sendiri, terjadinya komunikasi
dalam diri sendiri atau terjadi percakapan dengan diri
sendiri.
b. Terjadi dialog, dialog merupakan suatu proses
pertukaran pesan dan pemrosesan makna dalam diri
manusia antara I and Me. I mewakili bagian diri
pribadi manusia sendiri, sedangkan Me mewakili
produk sosial.
c. Jalannya proses tersebut berdasarkan perundingan
manusia dengan lingkungannya atau terjadi adaptasi
dengan lingkungan. Disini terjadi proses menggunakan
stimuli diri dan dalam diri kita.
d. Persepsi, individu menerima, menyimpan, dan
menggambarkan simbol secara ringkas.
e. Proses saling mempengaruhi antara “raw data”
persepsi dan diberi pengertian
f. Prosess data.
g. Feedback.39

B. Persepsi
Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa Inggris
perception berasal dari bahasa latin perceptio; dari percipere,
yang artinya menerima atau mengambil. Persepsi dalam arti
sempit adalah penglihatan, cara seseorang melihat sesuatu,

38 Muhibudin Wijaya Laksana, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Pustaka

Setia, 2015), hlm. 49


39 Ibid, hlm. 64-65

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 41


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

sedangkan dalam arti luas adalah pandangan atau pengertian,


yaitu cara seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.
Menurut DeVito, persepsi adalah proses ketika kita
menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang memengaruhi
indra kita. Gulo mendefinisikan persepsi sebagai proses
seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam
lingkungannya melalui indra-indra yang dimilikinya. Rakhmat
menyatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan
menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Bagi Atkinson, persepsi adalah proses saat kita
mengorganisasikan dan menafsirkan pola stimulus dalam
lingkungan. Menurut Verbeek, persepsi dapat dirumuskan
sebagai suatu fungsi yang secara langsung manusia dapat
mengenal dunia riil yang fisik. Brouwer menyatakan bahwa
persepsi adalah suatu replika dari benda di luar manusia yang
intrapsikis, dibentuk berdasarkan rangsangan-rangsangan dari
objek.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, persepsi dapat
dikatakan sebagai inti komunikasi, sedangkan penafsiran
(interpretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan
penyandian-balik (decoding) dalam proses komunikasi. Hal ini
tampak jelas pada definisi John R. Wenburg dan William W.
Wilmout: “persepsi dapat didefinisikan sebagai cara
organismw memberi makna”, atau definisi Rudolph F.
Verderber: “persepsi adalah proses menafsirkan informasi
indrawi”.
Persepsi disebut inti komunikasi karena jika persepsi
kita tidak akurat, kita tidak mungkin berkomunikasi dengan
efektif. Persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan
dan mengabaikan pesan yang lain. Semakin tinggi derajat
kesamaan persepsi antarindividu, semakin mudah dan semakin
sering sering mereka berkomunikasi, dan sebagai
konsekuensinya, semakin cenderung membentuk kelompok
budaya atau kelompok identitas.40
Desiderato mengungkapkan bahwa persepsi
merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan
informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan

40 Alex Sobur, “Psikologi Umum”, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm. 385-
386.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 42


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli).41 Hubungan


sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian
dari persepsi demikian juga dengan asosiasi yang turut
memberikan kontribusi dalam proses persepsi. Walaupun
begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya
melibatkan sensasi, tetapi juga ada atensi (perhatian)
ekspektasi (pengharapan), motivasi, dan memori.42.
1. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Persepsi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
yaitu perhatian (attention), faktor fungsional dan faktor
struktural. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut.
a. Faktor Perhatian
Perhatian adalah proses mental ketika stimuli
atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam
kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah Apa yang
kita perhatikan ditentukan oleh faktor-faktor situasional
dan personal. 43
1) Faktor Eksternal Penarik Perhatian
a) Gerakan
Manusia secara visual lebih tertarik pada objek-
objek yang bergerak.
b) Intensitas stimuli
Kita akan memperhatikan stimuli yang lebih
menonjol daripada stimuli yang lainnya.
c) Kebaruan (Novelty)
Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang
berbeda, akan menarik perhatian.
d)Perulangan
Hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai
dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian.
2) Faktor-faktor internal yang mempengaruhi
perhatian seseorang terhadap sebuah sebuah
stimuli antara lain:44
a) Faktor-faktor biologis
b) Faktor-faktor sosiopsikologis
c) Motif sosiogenis, sikap, kebiasaan, dan
kemauan

41 Muhibudin, Op.Cit, hlm. 57.


42 Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2007) hlm, 51.
43 Ibid, hlm. 52.
44 Ibid, hlm. 53.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 43


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

b. Faktor fungsional
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan,
pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk apa
yang kita sebut sebagai faktor personal. Yang
menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk
stimuli, tetapi karakteristik yang memberikan
respons pada stimuli itu. Dari sini, Krech dan
Crutchfield merumuskan dalil persepsi yang
pertama: persepsi bersifat selektif secara fungsional.
Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat
tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek
yang memenuhi tujuan individu yang melakukan
persepsi. Secara hipnotis, diciptakan tiga macam
suasana emosional: suasana bahagia, suasana kritis,
dan suasana gelisah.45
Faktor-faktor fungsional yang
mempengaruhi persepsi lazim disebut sebagai
kerangka rujukan. Wever dan Zener menunjukkan
bahwa penilaian terhadap objek dalam hal beratnya
bergantung pada rangkaian objek yang dinilainya.
Kerangka rujukan mempengaruhi bagaimana orang
memberi makna pada pesan yang diterimanya.
Menurut McDavid dan Harari para psikolog
menganggap konsep kerangka rujukan amat
berguna untuk menganalisa interpretasi perseptual
dari peristiwa yang dialami.46
c. Faktor Struktural
Faktor-faktor struktural berasal semata-mara
dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang
ditimbulkannyapada system saraf individu. Para
psikolog Gestalat, seperti Kohler, Wartheimer, dan
Koffka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang
bersifat structural. Prinsip-prinsip ini kemundian
terkenal dengan nama teori Gestalt. Menurut teori
Gestalt, mempersepsi sesuatu, kita
mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan.
Dengan kata lain, kita tidak melihat bagian-
bagiannya. Jika kia ingin memahami suatu
peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang

45 Ibid, hlm. 56.


46 Ibid, hlm. 58.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 44


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

terpisah; kita harus memandangnya dalam


hubungan keseluruhan.47
Dari prinsip ini, Krech dan Crutchfield
melahirkan dalil persepsi yang kedua: medan
perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan
diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan
melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita
terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya
dengan interpretasi yang konsisten dengan
rangkaian stimuli yang kita persepsi. Dalam
hubungannya dengan konteks, Krech dan
Crutchfield menyebutkan dalil persepsi yang ketiga:
sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur
ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur
secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu
dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat
individu yang berkaitan dengan sifat kelompok
akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya,
dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras.48

2. Ciri-ciri Persepsi
Adapun ciri-ciri persepsi sebagai berikut:
a. Proses pengorganisasian berbagai pengalaman
b. Proses menghubung-hubungkan antara pengalaman
masa lalu dengan yang baru
c. Proses pemilihan informasi
d. Proses teorisasi dan rasionalisasi
e. Proses penafsiran atau pemaknaan pesan verbal dan
nonverbal
f. Proses interaksi dan komunikasi berbagai pengalaman
internal dan ekternal
g. Melakukan penyimpulan atau keputusan-keputusan,
pengertian-pengertian dan yang membentuk wujud
persepsi individu.
Dengan pentingnya keberadaan persepsi, semua
individu hendaknya tidak boleh salah persepsi. Sebab,
kesalahan persepsi dapar diakibatkan oleh banyak faktor,
misalnya kepribadian yang pencemburu, pemarah, apatis,
skeptic, dan lainnya yang dapat berakibat salah persepsi.

47 Ibid.
48 Ibid, hlm. 59.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 45


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Pembentukan persepsi adalah pemaknaan yang


diawali oleh adanya stimulus, lalu berinteraksi denga
interpretasi. Setiap interpretasi yang muncul didasarkan
pada hasil seleksi dan relasi dengan berbagai pandangan
dari pengalaman yang telah dirasakan sebelumnya.
Menurut Feigi, proses seleksi terjadi pada saat seseorang
memperoleh informasi. Proses penyeleksian pesan adalah
bagian penting dari lahirnya persepsi. Lalu terjadi proses
closure ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi
satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan
interpretasi berlangsung ketika yang bersngkutan member
tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara
menyeluruh.49

3. Proses Persepsi
Salah satu pandangan yang dianut secara luas
menyatakan bahwa psikologi, sebagai telaah ilmiah,
berhubungan dengan unsur dan proses yang merupakan
perantara rangsangan di luar organism dengan tanggapan
fisik organism yang dapat diamati terhadap rangsangan.
Menurut rumusan ini, yang dikenal dengan teori
rangsangan-tanggapan (stimulus-respons/SR), persepsi
merupakan bagian dari keseluruhan proses yang
menghasilkan tanggapan setelah rangsangan diterapkan
kepada manusia. Subproses psikologis lainnya yang
mungkin adalah pengenalan, perasaan, dan penalaran.
Persepsi, pengenalan, penalaran, dan perasaan
kadang-kadang disebut variabel psikologis yang muncul di
antara rangsangan dan tanggapan. Sudah tentu, ada pula
cara lain untuk mengonsepsikan lapangan psikologi.
Dari segi psikologis dikatakan bahwa tingkah laku
seseorang merupakan fungsi dari cara ia memandang. Oleh
karena itu, untuk mengubah tingkah laku seseorang, harus
dimulai dari mengubah persepsinya. Dalam proses
persepsi, terdapat tiga komponen utama berikut:
a. Seleksi adalah proses penyaringan oleh indra terhadap
rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat
banyak atau sedikit.
b. Interpretasi, yaitu proses mengorganisasikan informasi
sehingga mempunyai arti bagai seseorang. Interpretasi

49 Rosleny Marliani, “Psikologi Umum”, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm.


192-194.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 46


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman


masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi,
kepribadian, dan kecerdasan. Interpretasi juga
bergantung pada kemampuan seseorang untuk
mengadakan pangategorian informasi yang
diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang
kompleks menjadi sederhana
c. Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan
dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi. Jadi, proses
persepsi adalah melakukan seleksi, interpretasi, dan
pembulatan terhadap informasi yang sampai.
Cara persepsi bekerja dapat dijelaskan melalui tiga
langkah yang terlibat dalam proses ini:
a. Terjadinya Stimulasi Alat Indra (sensory stimulation)
Pada tahap pertama, alat-alat indra distimulasi
(dirangsang) baik itu berupa ketika melihat seseorang,
mendengar musik, dsb.
b. Stimulasi terhadap Alat Indra Diatur
Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur
menurut berbagai prinsip diantaranya prinsip kemiripan
(proximity) dan prinsip kelengkapan (closure).
c. Stimulasi Alat Indra Ditafsirkan-Dievaluasi
Langkah ketiga ini merupakan proses subjektif yang
melibatkan evaluasi pada pihak pertama. Penafsiran-
penafsiran tidak hanya didasarkan pada rangsangan
luar, tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman masa
lalu, kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keinginan
tentang yang seharusnya, kesadaran fisik dan emosi
pada saat itu, dsb.50

4. Perkembangan Perseptual
Penelitian masalah perkembangan perseptual
dilakukan oleh para filsuf dari abad ke-17 dan 18. Salah
satu kelompoknya, nativist (termasuk Descartes dan Kant),
berpendapat bahwa kita lahir dengan kemampuan persepsi
seperti yang sekarang kita miliki. Sebaliknya, kelompok
empiricist (termasuk Berkele dan Locke), menyatakan
bahwa kita mempelajari cara persepsi kita melalui
pengalaman dengan objek-objek di dunia. Ahli psikologi
kontemporer memercayai pada integrasi kelompok
empiricist dan nativist. Saat ini tampaknya tidak ada yang

50 Alex Sobur, Op.Cit, hlm. 386-390.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 47


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

ragu bahwa faktor genetika dan pengalaman memengaruhi


persepsi, namun tujuannya adalah menjelaskan kontribusi
masing-masing dan menjelaskan interaksi mereka.51

5. Fungsi dan Sifat-sifat Dunia Persepsi


a. Fungsi Persepsi
Penelitian tentang persepsi mencakup dua fungsi
utama sistem persepsi, yaitu lokalisasi atau menentukan
letak suatu objek, dan pengenalan, menentukan jenis
objek tersebut. Menurut Atkinson dkk, untuk
melokalisasi objek, kita terlebih dahulu harus
menyegregasikan objek kemudian mengorganisasikan
objek menjadi kelompok.
Pengenalan suatu benda mengharuskan
penggolongannya dalam kategori dan pendasarannya,
terutama pada bentuk benda. Dalam stadium awal
pengenalan, sistem visual menggunakan informasi di
retina untuk mendeskripsikan objek dalam pengertian
ciri, seperti garis dan sudut, sel yang mendeteksi ciri
tersebut telah ditemukan di korteks visual. Dalam
stadium lanjut pengenalan, sistem mencocokkan
deskripsi bentuk yang disimpan di memori untuk
menemukan yang paling cocok.
b. Sifat-sifat Dunia Persepsi
1) Sifat-sifat Umum Dunia Persepsi
a) Dunia persepsi mempunyai sifat-sifat ruang.
Objek-objek yang dipersepsi itu “meruang”,
berdimensi ruang. Kita mengenal relasi-relasi
serta penentuan-pennetuan yang berhubungan
dengan atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang,
dekat-jauh.
b) Dunia persepsi mempunyai dimensi waktu.
Dalam hal ini terdapat kestabilan yang luas.
Objek-objek persepsi kurang lebih bersifat tetap.
Namun, kita juga harus memersepsi adanya
perubahan yang terjadi dalam waktu. Kita
mengamati lama dan kecepatan. Persepsi juga
membutuhkan waktu.
c) Dunia persepsi itu berstruktur menurut berbagai
objek persepsi. Disana, berbagai keseluruhan
yang kurang lebih berdiri sendiri menampakkan

51 Ibid, hlm. 403.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 48


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

diri. Persepsi Gestalt merupakan suatu


pembahasan yang penting dalam psikologi
persepsi.
d) Dunia persepsi adalah suatu dunia yang penuh
dengan arti. Persepsi bukan suatu fungsi yang
terisolasi, melainkan berhubungan erat dengan
fungsi manusia. Yang mempersepsi bukan
hanya suatu indra yang terisolasi, melainkan
seluruh pribadi. Oleh karena itu, apa yang kita
persepsi sangat bergantung pada pengetahuan
serta pengalaman, dari perasaan, keinginan, dan
dugaan-dugaan kita.
2) Sifat-sifat yang Khusus bagi Masing-masing Indra
Tersendiri
Di antara sifat-sifat terdapat berbagai
kelompok yang khusus bagi indra-indra. Merah dan
kuning termasuk kelompok yang berbeda dengan
asam dan asin. Suatu keseluruhan sifat sensoris
yang khas bagi suatu indra tertentu disebut dengan
modalitas.
Anggapan klasik membedakan lama macam
indra; penglihatan, pendengaran, pembau,
pengecap, dan peraba. Namun, apa yang disebut
indra kelima ini, tidak mencakup keseluruhan yang
homogeny dari kualitas-kualitas sensoris.
Penghayatan “keras” dan “dingin” misalnya, biasa
dimasukkan dalam wilayah indra peraba, tetapi
secara pikologis, keduanya sangat berbeda. Namun,
sukar sekali untuk mengobjektivasi, mengisolasi,
dan mengatur berbagai modalitas dari apa yang
disebut indra kelima.52

C. Memori
Memori adalah sistem yang sangat berstruktur yang
menyebabkan orgasme sanggup merekam fakta tentang dunia
dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing
perilakunya. Setiap stimuli datang, stimuli itu direkam baik
sadar ataupun tidak. 53
Mussen dan Rosenzewig mengungkapkan bahwa
memori itu terjadi melalui tiga proses, yaitu perekaman

52 Ibid hlm. 405-407.


53 Rakhmat, Op.Cit, hlm.62.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 49


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(encoding), penyimpanan (storage) dan pemanggilan


(retrieval). Perekaman adalah pencatatan informasi melalui
reseptor indera dan sirkit saraf internal. Penyimpanan adalah
menentukan berapa lama, dalam bentuk apa dan di mana
informasi itu bersama kita. Pemanggilan adalah mengingat
lagi, menggunakan informasi yang disimpan. Pemanggilan ini
dapat diketahui dengan empat cara, yaitu. pengingatan,
pengenalan, belajar lagi dan redintegrasi.54
Ingatan atau memori adalah sebuah fungsi dari kognisi
yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Ingatan
banyak dipelajari dalam psikologi kognitif dan ilmu saraf
sebagai bentuk terjadinya hubungan timbal balik antara
potensi memorialnya dan pengalaman eksternal yang
diserapnya. Dengan kata lain, ingatan merupakan tempat
menampung hasil-hasil visualitas manusia, misalnya setelah
mempelajari sesuatu kemudian menyimpannya di dalam
ingatan.
1. Ciri-ciri memori
a. Penyimpanan informasi dalam pikiran
b. Recognisi atau mengeluarkan informasi yang sudah
tersimpan
c. Recall, membangkitkan pengalaman masa lalu yang
sudah cukup lama terlupakan
d. Reproduksi, yaitu menghasilkan kembali beberapa
informasi yang dipelukan setelah lama menghilang dan
secara tidak sadar dilupakan, tetapi pada suatu waktu
sangat diperlukan.
e. Menampilkan kembali karakteristik keaslian dari
kepribadian yang sesungguhnya.
2. Pengklasifikasian Memori
Apabila diklasifikasikan, berdasarkan durasi, alam,
dan pengambilan sesuatu yang diinginkan, ada dua
kategori memori atau ingatan, yaitu memori eksplisit dan
memori implisit.
a. Memori/ingatan Eksplisit
Ingatan eksplisit meliputi pengindraan,
semnatik, episodik, naratif, dan ingatan otobiografi.
Kegunaan dari ingatan eksplisit adalah untuk informasi
sosial dan identitas, penggambaran otobiografi, aturan
sosial, norma, harapan. Beberapa ciri dari ingatan
eksplisit adalah.

54 Ibid hlm, 63-64.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 50


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

1) Berkembang belakangan/bias kortikal


2) Bias hemisfer kiri
3) Hippocampal/dorsal lateral
4) Memiliki konteks atau sumber ingatan yang jelas.
b. Memori/ingatan Implisit
Ingatan implisit meliputi pengindraan, emosi,
ingatan procedural, pengondisian rangsang-respons.
Kegunaan ingatan implisit adalah tempat skema
kelekatan, transference, dan superego. Beberapa ciri
ingatan implist adalah.
1) Berkembang lebih awal/bias subkortikal
2) Bias hemisfer kanan
3) Berpusat pada amigdal
4) Bebas dari korteks atau tidak memiliki sumber
atribusi atau pelabelan.
3. Tahapan Pembentuk dan Pengambilan Ingatan
Adapun tahapan utama dalam pembentuk dan
pengambilan ingatan adalah sebagai berikut.
a. Encoding, proses dan penggabungan informasi yang
diterima
b. Penyimpanan, penciptaan catatan permanen dari
informasi yang telah di encode.
c. Pengambilan, memanggil kembali informasi yang telah
disimpan untuk digunakan dalam suatu proses atau
aktivitas.
4. Cara-cara Meningkatkan Ingatan/Memori
Adapun cara-cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan ingatan/memori, antara lain.
a. Menciptakan asosiasi segala hal yang harus diingat
b. Berusaha menciptakan gambaran dan peta ingatan
dalam pikiran
c. Mengasosiasikan kata yang ingin diingat dengan kata
lain yang berirama
d. Menggunakan bayangan visual
e. Memahami hal yang harus diingat
f. Memberikan kode-kode terhadap sesuatu yang diingat
secara kontekstual
g. Melibatkan emosi ke dalam sesuatu yang diingat,
misalnya merasa memiliki
h. Melatih memperbanyak ilustrasi yang berhubungan
dengan sesuatu yang harus diingat
i. Mempelajarinya secara berulang-ulang

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 51


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

j. Mendiskusikannya dengan sesama teman dan sering


mengutarakan pandangan tentang sesuatu yang
dimaksudkan
k. Membuat file-file di luar ingatan dengan tanda-tanda
khusus yang mudah diingat, misalnya dengan nama
hobi, tanggal lahir, nama anak pertama, dsb.55
5. Teori yang berkaitan dengan Memori
Ada beberapa teori dalam memori ini, yaitu teori aus,
teori interferensi dan teori pengolahan informasi.
a. Teori Aus
Teori aus menjelaskan, memori hilang atau
memudar karena waktu. Memori akan kuat bila
senantiasa dilatih.
b. Teori Interferensi
Teori interferensi menjelaskan, memori
merupakanmeja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah
lukisan pada kanvas itu.
c. Teori Pengolahan Informasi
Teori pengolahan informasi menjelaskan,
informasi mula-mula disimpan pada
sensori storage (gudang inderawi), short term
memory (memori jangka pendek), lalu dilupakan atau
dikoding masuk ke long term memory.56
Memori seringkali menghadapi
hambatan. Ada beberapa hambatan dalam memori ini.
Interferensi menyebabkan terhapusnya rekaman pertama.
Inhibisi retroaktif menyebabkan pengingatan pertama
berkurang. Inhibisi proaktif menyebabkan lebih sering
diingat, lebih jelek daya ingat kita. Dan yang terakhir
adalah hambatan motivasional, peristiwa yang melukai hati
cenderung kita lupakan.57

D. Nalar
Menurut Sudarminta, bernalar adalah kegiatan pikiran
untuk menarik kesimpulan dari premis-premis yang
sebelumnya sudah diketahui. Bernalar dapat mengambil
bentuk induktif, deduktif, ataupun abduktif. Penalaran induktif
merupakan proses penarikan kesimpulan yang berlaku umum

55 Rosleny Marliani, “Psikologi Umum”, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm.


215-217.
56 Ibid, hlm 65-66.
57 Ibid, hlm.66

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 52


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(universal) dari rangkaian peristiwa yang bersifat khusus


(partikular). Sebaliknya, penalaran deduktif adalah penarikan
kesimpulan khusu berdasarkan hukum atau pernyataan yang
berlaku umum. Adapun penalaran abduktif adalah penalaran
yang terjadi dalam merumuskan suatu hipotesis berdasarkan
kemungkinan adanya korelasi antara dua atau lebih peristiwa
yang sebelumnya sudah diketahui.
Penalaran adalah kegiatan berpikir seturut asas
kelurusan berpikir atau sesuai dengan hukum logika.
Penalaran sebagai kegiatan berpikir logis belum menjamin
bahwa kesimpulan yang ditarik atau pengetahuan yang
dihasilkan pasti benar. Walaupun penalarannya betul atau
sesuai dengan asas-asas logika, kesimpulan yang ditarik bisa
salah jika premis-premis yang mendasari penarikan
kesimpulan itu ada yang salah. Dalam bernalar memang belum
ada benar-salah. Yang ada adalah betul-keliru, sahih atau tidak
sahih. Penalaran yang benar merupakan unsur yang sangat
penting dalam kegiatan berpikir, dan dapat menunjang kegitan
berpikir yang benar.

E. Bahasa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV
dituliskan bahwa:
1. Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer,
yang digunakan oleh anggota satu masyarakat untuk
bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri.
2. Bahasa merupakan percakapan (perkataan) yang baik, sopan
santun.
Menurut Chaer bahasa adalah alat verbal untuk
komunikasi. Sebelumnya,Chaer menegaskan bahwa bahasa
sebagai suatu lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang
digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk
berinteraksi dan mengidentifikasi diri.
Bahasa merupakan suatu ungkapan yang mengandung
maksud untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
Sesuatu yang dimaksudkan oleh pembicara bisa dipahami dan
dimengerti oleh pendengar atau lawan bicara melalui bahasa
yang diungkapkan.58
Secara sederhana bahasa dapat didefinisikan sebagai
penggunaan simbol-simbol bunyi, lambang, atau tulisan secara

58 Rina Devianti “Bahasa Sebagai Cermin Kebudayaan” , Jurnal Tarbiyah,

Vol. 4 No. 4, 2017, hlm.227-228

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 53


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

sistematis dan konvensional dalam kelompok masyarakat


untuk komunikasi dan ungkapan diri.
Dalam proses komunikasi, ada sistem atau lambang
yang disepakati bersama oleh pihak-pihak yang
berkomunikasi. Sistem tanda atau lambang yang disepakati
bersama oleh pihak-pihak yang berkomunikasi. Sistem tanda
atau lambang tersebut mempunyai nilai dan acuan yang sama
bagi yang berperan serta dalam berkomunikasi. Bahasa
sebagai sistem simbol untuk berkomunikasi akan benar-benar
berfungsi apabila pikiran, gagasan, konsep yang diacu atau
diungkapkan lewat kesatuan dan hubungan yang bervariasi
dari sistem simbol itu dimiliki bersama oleh penutur dan
penanggap tutur. Bahasa itu sendiri sebagai sistem yang kita
warisi atau peroleh dari kebudayaan atau masyarakat tempat
kita tumbuh. Jadi, bahasa itu sudah begitu kuat sehingga
individu tidak bisa mengubahnya. Sudah banyak teori yang
mencoba menerangkan hubungan antara bahasa sebagai sistem
simbol dengan fungsi-fungsi mental dan struktur-struktur
kognitif dari pemakainya. Teori-teori ini lazim disebut teori
relativitas bahasa (theory of linguistik relativity). Ada dua
pendapat yang ekstrim dari teori ini, yaitu:
1. Bahwa operasi-operasi mental dijalankan bebas dari
pengaruh bahasa; bahasa hanyalah sistem untuk
mengungkapkan gagasan-gagasan.
2. Bahwa fungsi-fungsi mental sepenuhnya ditentukan oleh
bahasa; bahasa sebagai pembentuk gagasan-gagasan.59
Mead mengungkapkan sebagai suatu sistem simbol,
bahasa terletak di jantung kehidupan sosial Bahkan bahasa
jauh lebih penting dari ini. Barangkali pikiran sendiri bahkan
ditentukan oleh bahasa. Kita cenderung merasa dan berfikir
mengenai dunia ini berkaitan dengan kategorisasi linguistik,
dan berfikir sering melibatkan suatu percakapan internal tanpa
suara dengan diri kita sendiri. Vygotsky percaya bahwa
berbicara dengan diri sendiri (inner speech) merupakan sebuah
media berfikir, dan itu merupakan keadaan saling bergantung
dengan bicara eksternal (media komunikasi sosial). Saling
ketergantungan ini memberi masukan bahwa perbedaan
budaya dalam bahasa dan ujaran direfleksikan dalam
perbedaan budaya dalam berpikir.

59 Ibid.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 54


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB V
SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL

A. Persepsi
1. Pengertian Persepsi
Secara etimologis, persepsi berasal dari bahasa
Inggris yaitu perception yang artinya cara pandang
terhadap sesuatu atau mengutarakan pemahaman hasil
olahan daya pikir, artinya persepsi berkaitan dengan
faktor-faktor eksternal yang direspon melalui pancaindera,
daya ingat, dan daya jiwa.60 Persepsi dalam arti sempit
adalah penglihatan, cara seseorang melihat sesuatu,
sedangkan dalam arti luas adalah pandangan atau
pengertian, yaitu cara seseorang memandang atau
mengartikan sesuatu. Menurut Rakhmat, persepsi adalah
pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-
hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi
dan menafsirkan pesan. Sedangkan menurut Pareek,
persepsi dapat didefinisikan sebagai proses menerima,
menyeleksi, mengorganisasikan, mengartikan, menguji,
dan memberikan reaksi pada rangsangan pancaindera atau
data.61
Dalam perspektif ilmu komunikasi, persepsi dapat
dikatakan sebagai inti komunikasi, sedangkan penafsiran
(interprestasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan
penyandian balik (decoding) dalam proses komunikasi.
Persepsi disebut inti komunisasi karena jika persepsi kita
tidak akurat, kita tidak mungkin berkomunikasi dengan
efektif. Persepsilah yang menentukan kita memilih suatu
pesan dan mengabaikan pesan lain. Semakin tinggi derajat
kesamaan persepsi antar individu, semakin mudah dan
semakin sering mereka berkomunikasi, dan sebagainya,
semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau
kelompok identitas.62

60 Rosleny Marliany, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm.


187.
61 Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm. 385.
62 Ibid., hlm. 386.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 55


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

2. Proses Persepsi
Persepsi merupakan bagian dari keseluruhan proses
menghasilkan tanggapan setelah rangsangan diterapkan
kepada manusia. Dari segi psikologi dikatakan bahwa
tingkah laku seseorang merupakan fungsi dari cara ia
memandang. Oleh karena itu, untuk mengubah tingkah
laku seseorang harus dimulai dari mengubah persepsinya.
Dalam proses persepsi, terdapat tiga komponen utama
sebagai berikut.63
a. Seleksi
Seleksi adalah proses penyaringan oleh indera
terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya
dapat banyak atau sedikit.
b. Interprestasi
Interprestasi adalah proses mengorganisasikan
informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang.
Interprestasi dipengaruhi oleh faktor seperti
pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut,
motivasi, kepribadian, dan kecerdasan. Interprestasi
juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk
mengadakan pengategorian informasi yang
diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang
kompleks menjadi sederhana.
c. Interprestasi dan persepsi kemudian diterjemahkan
dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi. Jadi, proses
persepsi adalah melakukan seleksi, interprestasi, dan
pembulatan terhadap informasi yang sampai.

3. Persepsi Interpersonal
Persepsi interpersonal merupakan persepsi terhadap
orang lain. Dalam artian, persepsi ini melihat pengaruh
konsep diri terhadap perilaku manusia, seperti bagaimana
cara memandang diri sendiri dan bagaimana pandangan
orang lain terhadap diri, sehingga akan mempengaruhi pola
interaksi dengan orang lain.64 Berikut merupakan ciri-ciri
persepsi interpersonal.
a. Stimuli mungkin sampai kepada kita melalui lambang-
lambang verbal atau grafis yang disampaikan pihak

63 Ibid., hlm. 387.


64 Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2007), hlm. 79.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 56


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

ketiga, adanya pihak ketiga yang menjadi mediasi


stimuli mengurangi kecermatan persepsi kita.
b. Kita mencoba memahami apa yang tidak tampak pada
alat indera kita. Kita tidak hanya melihat perilakunya,
kita juga melihat mengapa ia berperilaku seperti itu.
Kita mencoba memahami bukan saja tindakan, tetapi
juga motif tindakan itu. Dengan demikian, stimuli kita
menjadi sangat kompleks.
c. Faktor-faktor personal anda dan karakter orang yang
ditanggapi, serta hubungan dengan orang tersebut
menyebabkan persepsi interpersonal sangat cenderung
untuk keliru.
d. Persepsi terhadap manusia cenderung berubah-ubah
sehingga menjadi mudah salah.

B. Pengaruh Faktor-Faktor Situasional pada Persepsi


Interpersonal
Pengaruh faktor-faktor situasional pada persepsi
interpersonal adalah sebagai berikut.
1. Deskripsi Verbal
Menurut Solomon E. Asch, kata yang disebut
pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya.
Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai
primacy effect.65 Eksperimen Solomon E. Asch tersebut
mengungkapkan tentang bagaimana rangkaian kata sifat
dapat menentukan persepsi terhadap orang lain. Selain itu,
Asch juga melakukan eksperimen lain, yakni
menggunakan kata-kata sebagai central organizing trait.
Menurut teori ini, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan
seluruh penilaian kita tentang orang lain. Walaupun teori
ini menarik untuk melukiskan bagaimana cara orang
menyampaikan berita tentang orang lain mempengaruhi
persepsi kita tentang orang itu, dalam kenyataannya kita
jarang melakukannya. Jarang kita melukiskan orang
dengan menyebut rangkaian kata sifat. Kita biasanya mulai
pada central trait, yaitu menjelaskan sifat itu secara
terperinci, baru melanjutkan pada sifat-sifat yang lain.

2. Petunjuk Proksemik
Proksemik adalah studi tentang penggunaan jarak
dalam menyampaikan pesan. Istilah ini dilahirkan oleh

65 Ibid., hlm. 82.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 57


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

antropolog interkultural yaitu Edward T. Hall.66 Umumya,


dengan mengatur jarak dan ruang, tanpa disengaja kita
mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain. Berikut
merupakan petunjuk prosemik yang dapat mempengaruhi
persepsi terhadap orang lain.
a. Seperti halnya Edward T. Hall, kita juga
menyimpulkan keakraban seseorang dengan orang lain
dari jarak mereka sesuai dengan apa yang kita lihat dan
amati.
b. Kita menanggapi sifat-sifat orang lain dari caranya
orang itu membuat jarak dengan kita.
c. Cara orang dalam mengatur ruang dapat mempengaruhi
persepsi kita tentang orang itu.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan
bahwa kita dapat menganggap orang lain berdasarkan jarak
yang dibuat orang itu dan dengan melihat cara orang itu
mengatur ruang. Oleh sebab itu, penggunaan jarak yang
dilakukan oleh seseorang dapat mempengaruhi persepsi
terhadap orang tersebut sehingga akan mempengaruhi pula
cara berinteraksinya.

3. Petunjuk Kinesik
Petunjuk kinesik diperoleh dari pesan kinesik yang
menggunakan gerakan tubuh yang berarti terdiri dari tiga
komponen utama, yaitu: pesan fasial, pesan gestural, dan
pesan postural. Pesan fasial menggunakan air muka untuk
menyampaikan makna tertentu. Kemudian pesan gestural
menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata
dan tangan untuk mengkomunikasikan berbagai makna.
Sedangkan pesan postural berkenaan dengan keseluruhan
anggota badan.67
Beberapa penelitian telah membuktikan persepsi
yang cermat tentang sifat-sifat orang dari pengamatan
petunjuk kinesik. Suatu eksperimen yang menggunakan
gambar-gambar kerangka (stick figures) dengan berbagai
gerak, diperlihatkan pada subjek eksperimen. Persepsi
mereka tentang perasaan, sifat, dan sikap gambar itu
hampir seragam. Begitu pentingnya petunjuk kinesik,
sehingga apabila petunjuk-petunjuk lain seperti ucapan
bertentangan dengan petunjuk kinesik, maka orang

66 Ibid., hlm. 83.


67 Ibid., hlm. 290.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 58


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

mempercayai petunjuk kinesik. Karena petunjuk kinesik


adalah yang paling sukar untuk dikendalikan secara sadar
oleh orang yang menjadi stimuli atau orang yang menjadi
objek persepsi.
4. Petunjuk Wajah
Petunjuk wajah merupakan petunjuk yang
menimbulkan persepsi yang dapat diandalkan. Petunjuk
wajah disebut pula petunjuk yang paling penting dalam
mengenali perasaan persona stimuli. Seperti yang
dikemukakan ahli komunikasi nonverbal, Dale G. Leathers
dalam Jalaluddin Rakhmat:
“Wajah sudah lama menjadi sumber informasi
dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat yang
sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam
beberapa detik ungkapan wajah dapat
menggerakkan kita ke puncak keputusasaan. Kita
menelaah wajah rekan dan sahabat kita untuk
perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan
mereka. Pada gilirannya, menelaah kita.”68
Walaupun petunjuk wajah dapat mengungkapkan
emosi, tidak semua orang mempersepsi emosi itu dengan
cermat. Ada yang sangat sensitif pada wajah, dan ada yang
tidak. Oleh sebab itu, tergantung orang tersebut dalam
menerjemahkan petunjuk wajah yang kemudian
melahirkan persepsi terhadap orang lain. Namun, saat ini
para ahli psikologi telah menemukan ukuran kecermatan
persepsi wajah itu dengan tes yang disebut FMST (Facial
Meaning Sensitivity Test) yaitu tes kepekaan makna wajah.
Dengan tes ini, kepekaan kita menangkap emosi pada
wajah orang lain dapat dinilai skornya.

5. Petunjuk Paralinguistik
Petunjuk paralinguistik adalah cara bagaimana
orang mengucapkan lambang-lambang verbal. Dengan
kata lain, pesan paralinguistik merupakan pesan nonverbal
yang berhubungan dengan cara mengucapkan pesan verbal.
Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti
yang berbeda apabila diucapkan dengan cara yang berbeda.
Jadi, jika petunjuk verbal menunjukkan apa yang
diucapkan, petunjuk paralinguistik mencerminkan
bagaimana mengucapkannya. Ini meliputi tinggi rendahnya

68 Ibid., hlm. 87.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 59


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

suara, tempo bicara, gaya verbal (dialek), dan interaksi


(perilaku ketika melakukan komunikasi atau obrolan).69
Oleh sebab itu, perilaku komunikasi atau cara berbicara
seseorang dapat memberi petunjuk tentang kepribadian
persona stimuli sehingga dapat mempersepsikan orang
tersebut.

6. Petunjuk Artifaktual
Petunjuk artifaktual meliputi segala macam
penampilan (appearance) dari bentuk tubuh, kosmetik
yang dipakai, baju, tas, pangkat, dan atribut-atribut
lainnya. Menurut Kefgen dan Touchie-Specht, “Pakaian
menyampaikan pesan. Pakaian terlihat sebelum suara
terdengar. Pakaian tertentu berhubungan dengan perilaku
tertentu.”70 Hal itu dimaksudkan bahwa pakaian yang kita
pergunakan dapat menyampaikan identitas kita.
Menyampaikan identitas berarti menunjukkan kepada
orang lain bagaimana perilaku kita dan bagaimana orang
lain sepatutnya memperlakukan kita. Selain itu, pakaian
digunakan untuk menyampaikan perasaan, status, peranan,
dan formalitas.

C. Pengaruh Faktor-Faktor Personal pada Persepsi


Interpersonal
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi
dengan sesamanya, baik itu dari individu dengan individu,
individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.
Komunikasi sosial merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
mencapai suatu keadaan sosial yang padu.71 Persepsi
interpersonal besar pengaruhnya bukan saja pada komunikasi
interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena
itu, kecermatan persepsi interpersonal akan sangat berguna
untuk meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal.
Berikut merupakan pengaruh faktor-faktor personal pada
persepsi interpersonal.
1. Pengalaman
Pengalaman dapat mempengaruhi kecermatan
persepsi. Oleh karrena itu, pengalaman tidak selalu lewat

69 Jalaluddin Rakhmat, Loc. Cit..


70 Ibid., hlm. 292.
71 Djoko Setyabudi, dkk, Komunikasi Sosial, (Tanggerang Selatan: Universitas

Terbuka, 2017), hlm.1.34.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 60


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

proses belajar formal melainkan dapat bertambah juga


melalui rangkaian peristiwa yang kita hadapi.

2. Motivasi
Ada banyak motivasi yang dapat mempengaruhi
persepsi interpersonal, diantaranya perceptual defence
(pembelaan persepsual). Motivasi ini dapat dilihat ketika
kita dihadapkan kepada stimuli yang mengancam, maka
kita akan bereaksi sedemikian rupa sehingga kita tidak
akan menyadari bahwa stimuli itu ada. Dalam hal ini,
berlaku dalil komunikasi, “anda hanya mendengar apa
yang ingin anda dengar dan anda tidak akan mendengar
apa yang tidak ingin anda dengar”. Motif personal lainnya
yang mempengaruhi persepsi interpersonal adalah
kebutuhan untuk mempercayai dunia yang adil (need to
believe in a just world). Menurut Melvin Lerner, kita perlu
mempercayai bahwa dunia ini diatur secara adil, yakni
setiap orang memperoleh apa yang layak diperolehnya. 72

3. Kepribadian
Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai salah
satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah
mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak
sadar. Orang melemparkan rasa bersalahnya pada orang
lain. Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada
orang lain sifat-sifat yang ada pada dirinya, yang tidak
disenanginya. Orang yang banyak melakukan proyeksi
akan tidak cermat menanggapi persona stimuli, bahkan
mengaburkan gambaran sebenarnya. Sebaliknya, orang
yang menerima dirinya apa adanya, orang yang tidak
dibebani perasaan bersalah, cenderung menafsirkan orang
lain lebih cermat. Begitu pula orang yang tenang, mudah
bergaul, dan ramah, cenderung memberikan penilaian
positif pada orang lain. Hal ini disebut leniency effect.73

D. Pengaruh Konsep Diri pada Komunikasi Interpersonal


1. Pengertian Konsep Diri
Konsep diri adalah semua persepsi kita terhadap
aspek diri yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan
aspek psikologi yang didasarkan pada pengalaman dan

72 Jalaluddin Rakhmat, Op. Cit.., hlm. 90.


73 Ibid., hlm. 91.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 61


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

interaksi kita dengan orang lain. Selain itu, konsep diri


merupakan pikiran dan keyakinan seseorang mengenai
dirinya sendiri.74 Menurut Rogers, konsep diri adalah
bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan
disimbolisasikan, yaitu “aku” merupakan pusat referensi
setiap pengalaman. Konsep diri ini merupakan bagian inti
dari pengalaman individu yang secara perlahan-lahan
dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang
diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya” dan
“apa sebenarnya yang harus aku perbuat”. Jadi, konsep diri
adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman
yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari
yang bukan aku.75
Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi
individu dengan orang-orang di sekitarnya. Apa yang
dipersepsi individu lain mengenai diri individu tidak
terlepas dari struktur, peran, dan status sosial yang
disandang seorang individu. Struktur, peran, dan status
sosial merupakan gejala yang dihasilkan dari adanya
interaksi antara individu satu dengan individu lain, antara
individu dan kelompok, atau antara kelompok dengan
kelompok.76

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri


Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
konsep diri, diantaranya sebagai berikut.
a. Orang Lain
Gabriel Marcel, filusuf eksistensialis mencoba
menjawab misteri keberadaan “The Mistery of Being”
menulis tentang peranan orang lain dalam memahami
diri kita, “The fact is that we can understand ourselves
by Starting from the other, or from others, and only by
starting from them.” Artinya, kita mengenal diri kita
dengan mengenal orang lain terlebih dahulu.
Bagaimana anda menilai diri saya, akan membentuk
konsep diri saya.77
Harry Stack Sullivan menjelaskan bahwa jika
kita diterima orang lain, dihormati, dan disenangi

74 Nina M. Armando, Psikologi Komunikasi, (Tanggerang Selatan: Universitas

Terbuka, 2017), hlm. 4.4.


75 Alex Sobur, Op. Cit., hlm. 436.
76 Ibid.., hlm. 440.
77 Ibid.., hlm. 101.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 62


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

karena keadaan diri kita, kita akan cenderung bersikap


menghormati dan menerima diri kita. Sebaliknya,
apabila orang lain selalu meremehkan kita,
menyalahkan, dan menolak kita, maka kita akan
cenderung tidak akan menyenangi diri kita. Kemudian
S. Frank Miyamoto dan Sanford M Dornbusch
mencoba mengkorelasikan penilaian orang lain
terhadap dirinya sendiri dengan skala lima angka dari
paling jelek sampai yang paling baik. Ternyata orang-
orang yang dinilai baik oleh orang lain cenderung
memberikan skor yang tinggi juga dalam menilai
dirinya. Artinya, harga dirinya sesuai dengan penilaian
orang lain terhadap dirinya.78
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan
bahwa orang lain dapat berpengaruh penting dalam
membentuk konsep diri meskipun tidak semua orang
lain mempunyai pengaruh yang sama.

b. Kelompok Rujukan
Dalam pergaulan bermasyarakat, kita tentu saja
tergabung dalam suatu kelompok tertentu. Setiap
kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Ada
kelompok yang secara emosional mengikat kita dan
berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita.
Kelompok ini disebut kelompok rujukan. Dengan
melihat kelompok ini, orang mengarahkan perilakunya
dan menyesuaikan dirinya dengan ciri-ciri
kelompoknya.79

3. Pengaruh Konsep Diri pada Komunikasi Interpersonal


Konsep diri merupakan faktor yang sangat
menentukan dalam komunikasi interpersonal karena setiap
orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan
konsep dirinya.80 Adapun pengaruh konsep diri pada
komunikasi interpersonal adalah sebagai berikut.
a. Nubuat yang dipenuhi Dendiri
Konsep diri merupakan faktor yang sangat
menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena
setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai

78 Jalaluddin Rakhmat, Loc. Cit..


79 Ibid.., hlm. 104.
80 Nina M. Armando, Op. Cit., hlm. 4.11.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 63


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

dengan konsep dirinya. Kecenderungan untuk


bertingkah laku sesuai dengan konsep diri disebut
sebagai nubuat yang dipenuhi sendiri. Anda berusaha
hidup sesuai dengan label yang anda lekatkan pada diri
anda sendiri. Sukses komunikasi interpersonal banyak
bergantung pada kualitas konsep diri anda, baik itu
positif atau negatif. Menurut William D Brooks dan
Philip Emmert ada empat tanda orang yang memiliki
konsep diri negatif yaitu sebagai berikut.
1) Peka terhadap kritik, yaitu orang yang sangat tidak
tahan terhadap kritik yang diterimanya dan mudah
marah atau naik pitam. Bagi orang ini, koreksi
seringkali dipersepsi sebagai usaha untuk
menjatuhkan harga dirinya. Dalam komunikasi,
orang yang memiliki konsep negatif cenderung
menghindari dialog terbuka dan bersikeras
mempertahankan pendapatnya dengan berbagai
justifikasi atau logika yang keliru.
2) Sangat responsif dan antusias sekali terhadap
pujian. Orang seperti ini tidak dapat
menyembunyikan antusiasmenya pada waktu
menerima pujian. Untuk orang-orang seperti ini,
segala macam embel-embel yang menunjang harga
dirinya menjadi pusat perhatian.
3) Hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh,
mencela, atau meremehkan apapun dan siapapun.
4) Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia
merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi
pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak
dapat melahirkan kehangatan dan keakraban
persahabatan.
5) Bersikap pesimis terhadap kompetisi. Ia
menganggap dirinya tidak berdaya melawan
persaingan yang merugikan dirinya.
Sebaliknya, orang yang memiliki konsep positif
ditandai dengan lima hal berikut.81
1) Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah.
2) Ia merasa setara dengan orang lain
3) Ia menerima pujian tanpa rasa malu.

81 Ibid.., hlm. 105.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 64


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

4) Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai


berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang
tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
5) Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup
mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang
tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

b. Membuka Diri
Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan
komunikasi, artinya dengan membuka diri, konsep diri
menjadi diri menjadi lebih dekat pada kenyataan.
Dengan kata lain, semakin luas diri publik kita,
semakin terbuka kita pada orang lain, semakin akrab
pula hubungan kita dengan orang lain. Pengertian yang
sama tentang lambang-lambang, persepsi yang cermat,
interpersonal yang efektif terjadi pada daerah publik.
Semakin baik anda mengetahui seseorang, semakin
akrab hubungan anda dengan dia, semakin lebar pula
keterbukaan.

c. Percaya Diri
Orang yang kurang percaya diri akan cenderung
sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi.
Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal
sebagai communication apprehension. Orang yang
aprehensif dalam komunikasi akan menarik diri dari
pergaulan, berusaha sekecil mungkin berkomunikasi,
dan hanya akan berbicara apabila terdesak saja. Tidak
semua aprehensif komunikasi disebabkan kurangnya
percaya diri, tetapi diantara berbagai faktor, percaya
diri merupakan faktor yang paling menentukan. Dalam
komunikasi, kita dapat menggunakan nasihat tokoh
Psikosibernetik yang populer Maxwell Maltz, “Believe
in yourself and you’ll succeed.” Artinya, untuk
meningkatkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri
yang sehat menjadi perlu.82

d. Selektivitas
Kosnsep diri mempengaruhi perilaku
komunikasi kita, karena konsep diri mempengaruhi
kepada pesan apa anda bersedia membuka diri,

82 Ibid.., hlm. 109.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 65


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

bagaimana kita mempersepsi pesan itu, dan apa yang kita


ingat.83 Dengan kata lai, konsep diri menyebabkan
terpaan selektif, persepsi selektif, dan ingatan selektif.
Apabila konsep diri anda negatif, anda cenderung
mempersepsi hanya reaksi-reaksi yang negatif pada diri
anda, inilah yang disebut persepsi selektif. Tetapi konsep
diri tidak hanya sekedar mempengaruhi persepsi, ia juga
mempengaruhi yang kita ingat berdasarkan konsep diri,
hal ini disebut ingatan selektif.

E. Faktor-Faktor Daya Tarik Interpersonal


1. Pengertian Daya Tarik Interpersonal
Daya tarik (atraksi) interpersonal adalah kesukaan
terhadap orang lain, sikap positif, dan daya tarik
seseorang.84 Daya tarik (atraksi) merupakan hal yang
sangat penting dalam membentuk sebuah komunikasi
interpersonal. Hal itu disebabkan bahwa kebanyakan kita
membentuk pilihan untuk bersama dengan individu dengan
spesifikasi tertentu. Artinya, dalam membentuk hubungan
sosial, daya tarik interpersonal menjadi sebuah hal yang
penting untuk diperhatikan agar interaksi terjalin dengan
baik. Dean C Barlund, seorang ahli komunikasi
interpersonal menulis, “Mengetahui garis-garis atraksi dan
penghindaran dalam sistem sosial artinya mampu
meramalkan darimana pesan akan muncul, kepada siapa
pesan itu akan mengalir, dan lebih-lebih lagi bagaimana
pesan akan diterima.”85 Berdasarkan pernyataan tersebut,
dapat diartikan bahwa semakin tertarik kita kepada
seseorang, semakin besar pula kecenderungan kita
berkomunikasi dengan orang tersebut.

2. Model-Model Daya Tarik


Daya tarik tidak hanya memiliki satu sebab, tetapi
merupakan respon yang timbul dari berbagai alasan dan
stimuli. Adapun model-model daya tarik adalah sebagai
berikut.
a. Model Imbalan Homan
Menurut George Homans, manusia lebih tertarik
pada hal yang menjanjikan dalam hubungannya, yaitu

83 Jalaluddin Rakhmat, Loc. Cit..


84 Nina M. Armando, Op. Cit., hlm. 7.3.
85 Jalaluddin Rakhmat, Op. Cit.., hlm. 110.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 66


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

imbalan atau keuntungan atau lebih besar imbalan


daripada pengorbanan. Selama dalam interaksi tersebut
kita yakin bahwa imbalan yang akan didapat melebihi
pengorbanan maka kita merasa lebih tertarik dengan
orang tersebut.86

b. Model Tahapan Mursteins


Menurut Bernard Murstein, elemen yang
berbeda penting untuk tahapan yang berbeda pula
dalam atraksi interpersonal. Tahapan tersebut adalah
sebagai berikut.87
1) Tahap stimulus, yaitu kontak pertama dengan orang
lain lebih menekankan pada hal-hal yang eksternal
seperti usia, latar belakang sosial, dan tingkat
ketertarikan sebagai hal yang penting.
2) Tahap nilai, yaitu tahap penilaian apakah sikap dan
nilai yang anda miliki sama dengannya, seperti
agama dan gagasan politik.
3) Tahap peran, yaitu hal yang penting dalam tahap ini
apakah anda dan dia dapat membangun peran yang
kompatibel, saling mengisi, yaitu suatu cara untuk
berhubungan satu sama lain.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Daya Tarik


Interpersonal
Dalam mempengaruhi daya tarik interpersonal, ada
dua faktor yang mendominasinya, yaitu faktor personal
dan faktor situasional. Berikut merupakan kedua faktor
tersebut.
a. Faktor Personal
Adapun faktor-faktor personal yang
mempengaruhi daya tarik interpersonal adalah sebagai
berikut.
1) Kesamaan Karakteristik Personal
Kesamaan karakteristik personal ditandai
dengan kesamaan dalam nilai-nilai, sikap,
keyakinan, tingkat/status sosial ekonomi, agama,
dan ideologi. Mereka yang memiliki kesamaan
dalam hal-hal tersebut cenderung menyukai satu
sama lain. Menurut teori Cognitive Consistency dari

86 Nina M. Armando, Op. Cit., hlm. 7.8.


87 Nina M. Armando, Loc. Cit.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 67


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Fritz Heider, manusia selalu berusaha mencapai


konsistensi dalam sikap dan perilakunya. Kita selalu
ingin memiliki sikap yang sama dengan orang yang
kita sukai, supaya seluruh unsur kognitif kita
konsisten.88
Kesamaan sikap orang lain dengan kita
memperteguh kemampuan kita dalam menafsirkan
realitas sosial. Kita cenderung menyukai orang yang
mendukung kita. Kesamaan dengan orang lain
membuat kita lebih percaya diri dan pada gilirannya
meningkatkan self esteem (harga diri) kita.
Meskipun asas kesamaan ini bukan menjadi satu-
satunya determinan atraksi, namun bagi
komunikator lebih tepat memulai komunikasi
dengan kesamaan.

2) Tekanan Emosional
Orang yang berada di bawah tekanan
emosional, cemas, dan stress, akan menginginkan
kehadiran orang lain. Pada kondisi ini,
kecenderungan untuk lebih menyukai orang lain
pada gilirannya akan besar pula.

3) Harga Diri yang Rendah


Sebuah studi menunjukkan, apabila harga
diri seseorang direndahkan maka hasrat afiliasi
(bergabung dengan orang lain) menjadi bertambah.
Dengan kata lain, orang yang misalnya merasa
penampilan fisiknya tidak menarik, kurang cantik,
akan mudah menerima persahabatan dari orang lain.

4) Isolasi Sosial
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
tingkat isolasi sosial sangat besar pengaruhnya
terhadap kesukaan kita pada orang lain. Bagi
mereka yang terisolasi, maka kehadiran orang lain
mendatangkan kebahagiaan. Dalam konteks seperti
ini, yaitu kondisi terasing atau sendiri maka
kecenderungan individu untuk menyenangi orang
lain bertambah.

88 Ibid.., hlm. 7.9.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 68


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

b. Faktor Situasional
Adapun faktor-faktor situasional yang
mempengaruhi daya tarik interpersonal adalah sebagai
berikut.
1) Daya Tarik Fisik (Physical Attractiveness)
Beberapa penelitian telah mengungkapkan
bahwa daya tarik fisik sering menjadi penyebab
utama atraksi personal. Aronson menyimpulkan,
“We are more affected by attractive people than by
physically unattractive people, and unless we are
specifically abused by them, we tend to like them
better”. Artinya, berbahagialah orang-orang yang
cantik, karena mereka akan disenangi orang.89
Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan
bahwa orang-orang cantik atau tampan umumnya
lebih efektif dalam mempengaruhi pendapat orang
dan biasanya diperlakukan lebih sopan.

2) Ganjaran (Reward)
Kita menyenangi orang yang memberikan
ganjaran kepada kita. Ganjaran itu dapat berupa
bantuan, dukungan moral, pujian atau hal-hal yang
meningkatkan harga diri kita.

3) Familiarity
Konsep ini artinya adalah hal-hal yang
sering kita lihat atau sudah kita kenal dengan baik.
Jika kita sering berjumpa dengan seseorang,
biasanya kita akan menyukainya. Familiarity
terbentuk dari seringnya sesuatu terjadi, semakin
sering kita melihat seseorang atau melakukan
sesuatu, kita semakin akrab dengan sesuatu atau
seseorang itu. Para peneliti mengatakan, umumnya
keakraban dapat meningkatkan ketertarikan.90

4) Kedekatan (Proximity)
Hubungan kita dengan orang lain tergantung
pada seberapa dekat orang tersebut dengan kita.
Penelitian menunjukkan bahwa orang cenderung
menyenangi mereka yang tempat tinggalnya

89 Ibid.., hlm. 7.10.


90 Ibid.., hlm. 7.11.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 69


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

berdekatan dan persahabatan lebih mudah tumbuh


diantara tetangga yang berdekatan. Weber
menyebutkan bahwa kedekatan merujuk pada hal-
hal yang terasa dekat, baik jarak ataupun emosional.
Umumnya semakin besar kedekatan antara satu
sama lain, semakin besar pula ketertarikan diantara
mereka. Kedekatan juga bisa berupa kedekatan
fungsional atau kontak dalam hal perilaku.

5) Kemampuan (Competence)
Ada kecenderungan bahwa kita menyukai
orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari
kita atau lebih berhasil dalam kehidupannya. Kita
cenderung lebih menyukai orang yang kompeten
daripada orang yang tidak kompeten. Orang-orang
yang sukses umumnya mendapat simpati banyak
orang.

4. Prinsip-Prinsip Daya Tarik Interpersonal


Adapun prinsip-prinsip daya tarik interpersonal
adalah sebagai berikut.
a. Penguatan
Kita menyukai orang yang satu dengan yang
lain yaitu dengan memberi ganjaran sebagai penguatan
dari tindakan atau sikap kita. Dalam penelitian
dibuktikan bahwa secara signifikan orang akan lebih
menyukai orang yang memberikan respon atau
tanggapan positif daripada orang yang memberikan
respon atau tanggapan negatif.

b. Pertukaran sosial
Pandangan ini menyatakan bahwa rasa suka kita
kepada orang lain didasarkan pada penilaian kita
terhadap kerugian dan keuntungan yang diberikan
seseorang kepada kita. Sesuai dengan teori pertukaran
sosial, kita menyukai seseorang apabila kita
mempersepsi bahwa interaksi kita dengan orang itu
bersifat menguntungkan.91

91 Michael Adryanto dan Savitri Soekrisno, Psikologi Sosial, (Jakarta:

Erlangga, 1985), hlm. 217.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 70


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

c. Asosiasi
Prinsip yang berguna dalam “clasical
conditioning” adalah asosiasi. Kita menjadi suka pada
orang yang diasosiasikan (dihubungkan) dengan
pengalaman yang baik dan bagus dan tidak suka
dengan orang yang diasosiasikan dengan pengalaman
buruk dan jelek.92

5. Pengaruh Daya Tarik Interpersonal pada Komunikasi


Interpersonal
Adapun pengaruh daya tarik interpersonal pada
komunikasi interpersonal adalah sebagai berikut.
a. Penafsiran Pesan dan Penilaian
Pendapat dan penilaian kita tentang orang lain
tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional.
Kita juga makhluk emosional. Oleh karena itu, ketika
kita menyenangi seseorang, kita juga cenderung
melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara
positif. Sebaliknya, jika kita membencinya, kita
cenderung melihat karakteristiknya secara negatif. 93

b. Efektivitas Komunikasi
Wolosin menyatakan bahwa, “Komunikasi akan
lebih efektif apabila para komunikan saling menyukai”.
Kemudian pendapat ini dikuatkan oleh penelitian yang
dilakukan oleh Nelson dan Meadow yang membuktikan
dengan eksperimen bahwa pasangan mahasiswa yang
mempunyai sikap yang sama membuat prestasi yang
baik dalam mengerjakan tugas-tugas mekanis
dibandingkan dengan pasangan yang mempunyai sikap
yang berlainan.94

Persentuhan antara manusia dan komunikasi salah


satunya terjadi saat manusia tidak terpisah dari hakikat dirinya
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk
individu, manusia memang memiliki kecenderungan untuk lebih
memperhatikan dirinya dan memenuhi kebutuhannya sendiri.
Meskipun demikian, kecenderungan itu hampir selalu hanya

92 Ibid.., hlm. 217.


93 Jalaluddin Rakhmat, Op. Cit.., hlm. 117.
94 Ibid.., hlm. 118.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 71


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

dapat terpenuhi dengan bantuan manusia lainnya.95 Oleh karena


itu, dalam sistem komunikasi interpersonal agar komunikasi
terjalin dengan baik, banyak hal-hal yang harus diperhatikan
seperti yang telah dibahas di muka. Kita sebagai komunikan
harus mengetahui dan memahami lingkup sistem komunikasi
interpersonal yang tidak hanya mengenai diri sendiri tetapi juga
harus mampu memahami orang lain dengan berbagai
karakteristiknya, sehingga terciptanya komunikasi yang efektif
dan hubungan interpersonal yang harmonis.

95 Nunung Prajarto, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Tanggerang Selatan:

Universitas Terbuka, 2016), hlm. 1.2.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 72


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB VI
SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK

A. Pengertian komunikasi
Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah
komunikasi berasal dari bahasa latin communication, dan
perkataan ini bersumber pada kata communis. Arti communis
di sini adalah sama, dalam arti lata sama makna, yaitu sama
makna mengenai satu hal.96
Jadi, komunikasi berlangsung apabila antara orang-
orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu
hal yang dikomunikasikan. Jelasnya, jika seseorang mengenai
tentang sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya maka
komunikasi berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan
antara mereka itu bersifat komunikatif. Sebaliknya jika ia
tidak mengerti, komunikasi tidak berlangsung. Dengan lain
perkataan, hubungan antara orang-orang itu tidak
komunikatif.97
Secara terminologis, komunikasi berarti proses
penyampain suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang
lain. Dari pengertian itu jelas komunikasi melibatkan sejumlah
orang, dimana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang
lain. Jadi, yang terlibat dalam komunikaksi itu adalah
manusia.

B. Sistem Komunikasi kelompok


Komunikasi kelompok berlangsung antara beberapa
orang dalam suatu kelompok masyarakat, seperti dalam rapat,
pertemuan, konferensi, dan sebagainya. Komunikasi kelompok
merupakan suatu interaksi cecara bertatap muka antara tiga
orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti
berbagai informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang
anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi
anggota lain scara tepat. Intinya, komunikasi kelompok adalah
komunikasi tatap muka dan memiliki susunan rencana kerja
tertentu untuk mencapai tujuan kelompok. 98

96 Morisson.Teori Komunikasi. (Jakarta: Prenadamedia Group, 2013). Hlm. 3.


97Uchjana Effendy Onong, Dinamika Komunikasi. (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2008).hlm.3

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 73


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Para pendidik memandang komunikasi kelompok


sebagai metode pendidikan yang efektif. Para manajer
menemukan komunikasi kelompok sebagai wadah yang tetap
untuk melahirkan gagasan yang kreatif. Para psikiater
mendapatkan kumunikasi kelompok sebagai wahana untuk
memperbaharui kelompok sebagai sarana untuk untuk
meningkatkan kesadaran politik-ideologis. Minat yang tinggi
ini telah memperkaya pengetahuan tentang berbagai jenis
kelompok dan pengaruh kelompok pada perilaku manusia.
1. Konsep Dasar Sistem komunikasi kelompok
a. Pengertian sistem komunikasi
Kelompok adalah sekumpulan orang yang
mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama
lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenai satu
sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian
dari kelompok tersebut. Kelompok ini, misalnya adalah
keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan
masalah, atau suatu komite yang sedang rapat untuk
mengambil suatu keputusan.
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang
berlangsung antara beberapa orang dalam suatu
kelompok “Kecil” seperti dalam rapat, pertemuan,
konferensi dan sebagainya. Komunikasi kelompok juga
melibatkan komunikasi antar pribadi. Oleh karena itu,
pada umumnya teori komunikasi antar pribadi berlaku
juga bagi komunikasi kelompok.
Kelompok membutuhkan komunikasi untuk
menunjang kekompakan dalam suatu kelompok.
Kenapa komunikasi kelompok penting didalam
kehidupan manusia, hal ini di- karenakan kelompok
merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari
aktivitas sehari- hari kita. Disamping itu Kelompok
memungikinkan kita dapat berbagi informasi, peng-
alaman, pengetahuan kita dengan anggota lainnya.
Kelompok terdiri dari dua kelompok yakni kelompok

98 Wijaya Laksana Muhibudin,Psikologi Komunikasi. (Bandung: Pustaka Setia,

2015),hlm.89-90

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 74


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

primer dan kelompok sekun- der. Kelompok primer


adalah kelompok utama atau kelompok yang langsung
berhubungan dengan individu yang lain. Keluarga
adalah kelompok primer atau utama karena langsung
berhubungan dengan individu-individu dari sejak
pertamakali lahir. Keluarga mengajarkan pertamakali
tentang kelompok, bangaimana berinteraksi, bagaimana
berkomunikasi, bagai- mana menyampaikan pendapat,
bagaimana menolak pendapat, dan belajar tentang
kesepa- katan-kesepakatan lainya dalam kelompok.
Keluarga terdiri dari ayah, ibu dan saudara di- mana
dalam keluarga ini individu-individu dalam kelompok
ini mampu mengaktualisasi- kan diri dengan baik. Hal
ini dikarenakan dalam kelompok primer ini banyaknya
dukungan positif yang diberikan, karena masih adanya
hubungan darah.
Michael Burgoon (Wiryanto, 2005)
mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi
secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan
tujuan yang telah diketahui, seperti brbagai informasi,
menjaga diri, memecahkan masalah, yang anggota-
anggotanya dapat mengingat katakteristik pribadi
anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi
komunikasi kelompok ini mempunyai kesamaan, yaitu
adanya lomunikasi tatap muka, peserta komunikasi
lebih dari dua orang, dan memiliki susunan rencana
kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok.
Menurut A. Maslow Pengertian kelompok agar
lebih jelas, diawali dengan pores pertumbuhan
kelompok itu sendiri. Individu sebagai mahluk hidup
mempunyai kebutuhan (Santosa, 2009), yakni adanya:
1. Kebutuhan fisik, 2. Kebutuhan rasa aman, 3.
Kebutuhan kasih sayang, 4. Kebutuhan prestasi dan
pretise, serta 5. Kebutuhan untuk melaksanakan
sendiri. Dengan kebutuhan tersebut Sehingga
komunikasi kelompok berarti menyamakan makna
dalam satu kelompok. Komunikasi kelompok
menyamakan suatu makna secara ber- samaan, saling
mempengaruhi satu sama yang lain untuk mencapai
tujuan kelompok secara bersamaan.
Jadi komunikasi kelompok adalah sekumpulan
orang yang mempunyai tujuan bersama yang
berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 75


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang


mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.99

b. Jenis dan Bentuk Komunikasi Kelompok


1) Jenis komunikasi kelompok
a) Dilihat dari jumlah komunikasi
(1) kominikasi kelompok kecil
Komunikasi kelompok kecil
merupakan proses komunikasi antara tiga
orang atau lebih yang berlangsung secara tatap
muka. Dalam kelompok tersebut masing-
masing anggota berinteraksi satu sama lain.
Komunikasi ini mempuanyai ciri mudah
diarahkan, seperti manager dengan
sekelompok karyawan.100
Banyak kalangan menilai tipe
komunikasi ini sebagai pengembangan dari
komunikasi antar pribadi. Trenholm dan
jensen mengatakan bahwa komunikasi antara
dua orang yang berlangsung secara tatap muka
biasanya bersifat spontan dan informal.
Anggota satu sama lain menerima umpan balik
secara maksimal. Setelah orang ketiga
bergabung dalam interaksi ntersebut,
berakhirlah komunikasi antar pribadi dan
berubah menjadi komunikasi kelompok kecil.
Untuk ukuran mengenai kelompok
kecil, beberapa ahli memberikan batasan yang
berbeda-beda. De Vito memberikan batasan
bahwa kelompok kecil sebagai sekumpulan
orang kurang lebih 5-12 orang. Anggota
kelompok kecil dapat berkomunikasi dengan
mudah. Sumber dan penerimaan informasi
dihubungkan oleh beberappa tujuan yang
sama. Kelompok tersebut mempunyai alasan
yang sama bagi anggotanya untuk berinteraksi.

99 Puspita Tutiasari Ririn, 2016. JurnalKomunikasi dalam Komunikasi

Kelompok. Vol.4, No.1, April, ISSN-23389176. Hlm.


100 Wijaya Laksana Muhibudin,Psikologi Komunikasi. (Bandung: Pustaka

Setia, 2015),hlm. 91.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 76


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(2) Komunikasi kelompok besar


Komunikasi ini adalah komunikasi
kelompok yang karena jumlahnya yang
banyak hampir tidak terdapat kesempatan
untuk memberikan tanggapan secara verbal.
Dengan kata lain, kemungkinan bagi
komunikator untuk berdialog denagan para
komunikan sangat kecil. Dengan demikian,
dalam komunikasi kelompok besar ini hanya
bersifat nalar dalam segi penerimaannya.

b) Dilihat dari bentuknya


(1) Komunikasi panel
Komunikasi panel, yaitu komunikasi
kelompok untuk memecahkan suatu maslah
sosial yang dilakukan oleh sejumlah orang
yang berbeda keahlian yang sangat erat
dengan maslaha yang dibahas. Contohnya,
pemecahan masalah kemacetan lalulintas yang
melibatkan sosiolog, psikolog, ahli hukum,
dan pejabat kepolisian.101
(2) Forum
Forum, yaitu pertemuan untuk
membahas suatu topik yang menyangkut suatu
kepentingan umum. Forum ini bersifat
Speaker Centered, yang terpusat pada
pembahasan. Dalam arti bahwa pembicaraan
pada forum termasuk orang selain menguasai
topik yang dibahas, juga mempunyai nama
dimasyarakat sehingga pemikirannya beruppa
informasi penjelas yang disertai tanya jawab.
Contohnya, pejabat yang turun kebawah.
(3) Simposium
Simposium, yaitu komunikasi
kelompok yang melibatkan tiga sampai lima
pembicaraan dengan spesialisasi yang berbeda

101 Wijaya Laksana Muhibudin,Psikologi Komunikasi. (Bandung: Pustaka

Setia, 2015),hlm. 92.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 77


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

untuk membahas berbagai aspek dari suatu


topik luas.
(4) Brainstorming
Brainstorming, atau urun rembung,
yaitu bentuk komunikasi kelompok untuk
memperoleh gagasan sebanyak-banyaknya
dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dari
peserta yang dilibatkan.

2) Bentuk komunikasi kelompok


Dalam bukunya, psikologi komunikasi,
Jalaluddin Rakhmat berdasarkan pendapat Jhon F.
Cragan dan David W. Wright ( Wiryanto, 2008)
membagi komunikasi kelompok pada dau kategori
berikut.
a) Komunikasi kelompok deskriptif
Komunikasi kelompok deskriptif
menunjukkan klasifikasi kelompok dalam melihat
proses tahapan perkembangan kelompok.
Kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga
bagian.
(1) Kelompok tugas
Kelompok tugas adalah kelompo yang
bertujuan memecahkan masalah. Aubrey
Fisher (Jalaluddin Rakhmat, 2003)
menyebutkan bahwa kelompok melewati
empat tahap, yaitu Orientasi, Konflik,
pemunculan dan peneguhan. 102
Pada tahap orientasi, setiapp anggota
saling mengenal dan saling memahami satu
sama lain. Tindak komunikasi pada tahap ini
umumnya menunjukkan persetujuan,
mempersoalkan peryataan kadang-kadang
tidak seragam dalam menafsirkan usulan.
Pada tahap permunculan, para anggota
bersifat tidak jelas dan komunikasi yang
terjadi berupa usulan-usulan yang ambigu.
Adapun pada tahap peneguhan, anggota
kelompok mulai menemukan solusi dari

102 Wijaya Laksana Muhibudin,Psikologi Komunikasi. (Bandung: Pustaka

Setia, 2015),hlm. 93.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 78


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

permaslahan dan menyatakan pendapatnya


yang umumnya bersifat ositif.
(2) Kelompok penemuan
Kelompok penemuan adalah kelompok
yang menjadikan diri mereka sebagai acara
pokok. Melalui diskusi, setiap anggota
berisaha belajar lebih banyak tentang dirinya.
(3) Kelompok penyadar
Kelompok penyadar bertujuan
mencitakan identitas sosial politik yang baru.
Kelompok penyadar ini dibentuk atas dasar
kesamaan nasib, golongan dan ras. Sebagai
contoh, yaitu pada tahun 1960-an di Amerika
muncul gerakan emansipasi wanita radikal,
yang membentuk kelompok-kelompok yang
menggunakan kelompok wanita untuk
menentang masyarakat yang didominasi
pria.103

b) Komunikasi kelompok Perspektif.


Dalam kelompok perspektif, kelompok
mengacu kepada langkah-langkah yang harus
ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan
kelompok.104
(1) Diskusi meja bundar
Diskusi meja bundar lebih memberikan
kebebasan kepada anggota kelompok. Susunan
tempat duduk yang bundar menyebabkan arus
komunikasi yang bebas di antara anggota-
anggota kelompok.
Selain itu, susunan meja bundar lebih
memberikan kemudahan partisipasi spontan
yang lebih demokratis sehingga hubungan
sosial secara interpersonal dan semua anggota
merasa diikutsertakan.

103 Mulyana Deddy. Human Communication. (Bandung: Remaja


Rosdakarya,2001).hlm.77.
104 Wijaya Laksana Muhibudin,Psikologi Komunikasi. (Bandung: Pustaka

Setia, 2015),hlm. 94.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 79


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(2) Simposium
Simposium adalah serangkaian pidato
pendek yang menyajikan beberapa aspek dari
sebuah topik atau posisi yang pro dan kontra
terhadap masalah yang kontroversial dalam
format diskusi yang telah di rancang.
(3) Diskusi panel
Diskusi panel adalah format khusus
yang anggota-anggota kelompoknya dapat
berinteraksi, baik berhadap-hadapan maupun
melalui mediator yang membahas masalah
kontroversial.
(4) Forum
Forum adalah waktu tanya jawab yang
terjadi setelah diskuai terbuka, misalnya
simposium. Ada lima macam forum:
(a) Forum ceramah;
(b) Forum debat;
(c) Forum dialog;
(d) Forum panel;
(e) Forum simposium.
(5) Kolokium
Kolokium adalah sejenis format diskusi
yang memberikan kepada khalayak untuk
bebas melontarkan pertanyaan kepada orang
atau beberapa orang ahli. Kolokuim berbentuk
formal dan diatur oleh seorang moderator.
(6) Prosedur parlementer
Prosedur parlementer adalah format
diskusi yang secara ketat mengatur peserta
siskusi yang besar pada priode waktu tertentu
ketika sejumlah keputusan harus dubuat. Tata
tertib parlemen dijalankan dengan ketat
sehingga sidang dapat menentukan siappa
yang dapat berbicara, untuk beberapa lama,
dan beberapa kali.

3) Klasifikasi Kelompok dan karakteristik


Komunikasi
a) Kelompok primer dan sekunder
Kelompok primer adalah kelompok yang
anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal,
dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 80


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Adapun kelompok sekunder adalah kelompok yang


anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak
personal, dan tidak menyentuh hati kita.105
Jalaluddin Rakhmat membedakan
kelompok ini berdasarkan karakteristik
komunikasinya, yaitu sebagai berikut.106
(1) Kualitas komunikasi pada kelompok primer
dalam dan meluas, pada kelompok sekunder
komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
(2) Komunikasi pada kelompok primer bersifat
personal, sedangkan kelompok skunder
nonpersonal.
(3) Komunikasi kelompok primer lebih
menekankan aspek hubungan daripada aspek
isi, sedangkan kelompok sekunder
menekankan sebaliknya.
(4) Komunikasi kelompok primer cendrung
ekspresif, sedangkan kelompok sekunder
cendrung instrumental.
(5) Komunikasi kelompok primer cendrung
informal, sedangkan kelompok sekunder
cendrung formal.

b) Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan


Kelompok keanggotaan adalah kelompok
yang anggota-anggotanya secara administratif dan
fisik menjadi anggota kelompok itu. Adapun
kelompok rujukan adalah kelompok yang
digunakan sebagai alat ukur (standar) untuk menilai
diri sendiri atau membentuk sikap.

4) Pengaruh Kelompok dalam Perilaku Komunikasi


a) Komformitas
Komformitas adalah perubahan prilaku atau
kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai
akibat tekanan kelompok yang real atau
dibayangkan. Apabila sejumlah orang dalam
kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada

105 Wijaya Laksana Muhibudin,Psikologi Komunikasi. (Bandung: Pustaka

Setia, 2015),hlm.105.
106 Jalaluddin Rakhmat, Pskologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya

Offset. 2007), Hlm. 142

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 81


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kecendrungan para anggota untuk mengatakan dan


melakukan hal yang sama.
b) Fasilitas sosial
Fasilitas (dari kata Prancis facile, artinya
mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan
kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok
memengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih
mudah. Robert Zajonz (Wiryanto, 2008)
menjelaskan bahwa kehadiran orang lain dianggap
menimbulkan efek pembangkit energi pada prilaku
individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi
sosial.
Energi yang meningkat akan mempertinggi
kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan.
Respon dominan adalh perilaku yang kita kuasai.
Apabial respon yang dominan itu adalah yang
benar, terjadi peningkatan prestasi. Apabila respon
dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan
prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang
dominan adalah respon yang benar. Oleh karena itu,
peneliti-peneliti melihat kelompok mempertinggi
kualitas kerja individu.
c) Polarisasi
Polarisasi adalah kecendrungan kearah posisi
yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para
anggota mempunyai sikap agak mendukung
tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih
kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila
sebelum diskusi para anggota kelompok agak
menentang tindakan tertentu. Setelah diskusi
mereka akan menentang lebih keras. Jadi polarisasi
adalah proses mengkutub, baik kearah mendukung
maupun kearah menolak dalam suatu masalah yang
diperdebatkan.

c. Teori dan Metode Komunikasi Kelompok


1) Teori dalam komunikasi kelompok
(a) Teori kepribadian kelompok
Teori ini merupakan studi mengenai
interaksi kelompok pada basis dimensi kelompok
dan dinamika kepribadian. Dimensi kelompok
merujuk pada ciri-ciri populasi atau karakteristik
individu (umur, Intelegensi).

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 82


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(b) Teori percakapan kelompok


Teori ini berkaitan dengan produktivitas
kelompok atau upaya untuk mencapainya melalui
pemeriksaan masukkan dari anggota (memberi
input), variabel perantara, dan keluaran dari
kelompok.
(c) Teori pemikiran kelompok
Menurut teori ini, model beerfikir kelompok
orang bersifaat terpadu. Teori ini bisa terjadi
apabila sebuah kelompok mengambil keputusan
yang salah karena adanya tekanan kelompok yang
mengakibatkn turunnya efisiensi mental,
berkurangnya pengujian realita. Teori ini memicu
terjadinya konflik.
(d) Teori perbandingan sosial
Menurut teori ini, tindakan komunikasi
dalam kelompok berlangsung karena adanya
kebutuhan-kebutuhan dari individu untuk
membandingkan sikap, pendapat, dan
kemampuannya dengan individu lain.
(e) Teori pertukaran sosial
Teori ini didasarkan pada pemikiran bahwa
seseorang mencapai satu pengertian mengenai sifat
kompleks dari kelompok dengan mengkaji
hubungan antara dua orang. Teori ini diartikan
bahwa interaksi manusi melibatkan pertukaran
barang dan jasa, biaya, dan imbalan.
(f) Teori sosiometrik
Teori ini merupakan teori konsepsi yang
mengacu pada pendekatan metodologis dan teoritis
terhadap kelompok. Asumsi yang dimunculkan
adalah individu-individu dalam kelompok yang
merasa tertarik satu sama lain akan lebih banyak
melakukan tindakan komunikasi. Sebaliknya
individu-individu yang saling menolak, hany
asedikit atau kurang melaksanakan tindak
komunikasi.

2) Metode dalam komunikasi kelompok


(a) Metode pengambilan keputusan dalam kelompok
kecil
Pengambilan keputusan merupakan salah
satu fungsi penting dalam suatu kelompok, secara

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 83


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

umum keputusan didalam kelompok dapat


dibedakan atas dua jenis, yaitu keputusan yang
terprogram dan keputusan yang tidak terprogram.
Keputusan terprogram adalah keputusan yang
menyangkut aspek-aspek yang rutin sehingga
keputusan tersebut dilakukan berulang-ulang
sepanjang hidup kelompok tersebut.
(b) Metode diskusi mediasi dan negosiasi
Mediasi adalah intervensi negosiasi atau
sebuah perselisihan dengan menggunakan pihak
ketiga yang memiliki keteerbatasan atau tidak
memiliki kekuasaan dalam membuat keputusan,
tetapi memberikan bantuan secara sukarela kepada
pihak-pihak yang bertiakai untuk mencapai
kesepakatan yang menguntungkan atau mencapai
resolusi persoalan.

d. Faktor-faktor yang Memengaruhi Keefektifan


Kelompok
Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk
mencapai dua tujuan, yaitu melaksanakan tugas kelompok
dan memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertma
diukur dari hasil kerja kelomok tersebut. Adapun tujuan
kedua diketahui dari tingkat kepuasan.
Adapun faktor-faktor keefektifan kelompok dapat
dilacak pada karakteristik kelompok berikut.
1) Faktor situasional karakteristik kelompok
a) Ukuran kelompok
Hubungan antara ukuran kelompok dan
prestasi kerja kelompok tergantung pada jenis tugas
yang harus diselesaikan oleh kelompok. Tugas
kelompok dapat dibedakan dua macam yaitu tugas
koaktif dan interaktif. Pada tugas koaktif, tiap-tiap
anggota bekerja sejajar dengan yang lain, tetapi
tidak berinteraksi. Adapun pada tugas interaktif,
anggota-anggota kelompok berinteraksi secara
terorganisasi untuk menghasilkan suatu produk,
keputusan atau penilaian tunggal. Pada kelompok
tugas koaktif jumlah anggota berkorelasi positif
dengan pelaksanaan tugas yaitu, semakin banyak
anggota semakin besar jumlah pekerjaan yang
diselesaikan.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 84


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Faktor lain yang memengaruhi hubungan


antara prestasi dan ukuran kelompok adalah tuuan
kelompok. Apabila tujuan kelompok memerlukan
kegiatan konvergen (mencapai suatu pemecahan
yang benar), hanya diperlukan kelomppok kecil
agar produktif, terutama apabila tugaas yang
dilakukan hanya membutuhkan sumber,
keterampilan dan kemampuan yang terbatas.
Adapun apabila tugas memerlukan kegiatan yang
divergen (seperti menghasilkan gagasan berbagai
gagasan kraatif), diperlukan jumlah anggota
kelompok yang lebih besar.
b) Jaringan komunikasi
Beberapa tipe jaringan komunikasi,
diantaranya roda, rantal, Y, lingkaran, dan bintang.
Dalam hubungan dengan prestasi kelompok, tipe
roda menghasilakan produk kelompok tercepat dan
terorganisasi dengan baik.
c) Kohesi Kelompok
Kohesi kelompok adalah kekuatan yang
mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal
dalam kelompok. Kohesi kelompok berhubungan
erat dengan kepuasan anggota kelompok. Semakin
kohesif kelompok, semakin besar tingkat kepuasan
anggota kelompok. Dalam kelompok yang kohesif,
anggota merasa aman dan terlindungi sehingga
komunikasi menjadi bebas, lebih terbuka, dan lebih
sering.
Bettingaus (1973) menunjukkan beberapa
implikasi komunikasi dalam kelompok yang
kohesif,
(1) Karena pada kelompok kohesif, devian akan di
tentang dengan keras, komunikator akan dengan
mudah berhasil memperoleh dukungan
kelompok jika gagasannya sesuai dengan
mayoritas anggota kelompok. Sebaliknya, ia
akan gagal jika ia menjadi satu-satunya devian
dalam kelompok.
(2) Pada umumnya, kelompok yang lebih kohesif
lebih mungkin dipengaruhi persuasi. Ada
tekanan ke arah uniformitas dalam pendapat,
keyakinan dan tindakan.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 85


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(3) Komunikasi dengan kelompok yang kohesif


harus memperhitungkan distribusi komunikasi
di antara anggota-anggotakelompok. Anggota
biasanya bersedia berdiskusi dengan bebas
sehingga saling pengertian akan mudah
diperoleh. Saling pengertian membantu
tercapainya perubahan sikap.
(4) Dalam situasi pesan tampak merupakan
ancaman kepada kelompok, kelompok yang lebh
kohesif akan lebih cenderung menolak pesan
dibandingkan dengan kelompok yang tingkat
kohesinya rendah.
(5) Dalam hubungannya dengan pernyataan diatas,
komunikatir dapat meningkatkan kohesi kelopok
agar kelompok mampu menolak pesan yang
bertentangan.
d) Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah komunikasi yang
secara positif memengaruhi kelompok untuk
bergerak kearah tujuan kelompok. Kepemimpinan
adalah faktor yang paling menentukan keefektifkan
komunikasi kelompok.
Klasifikasi gaya kepemimpinan ada tiga
gaya kepemimpinan yaitu, kepemimpinan otoriter
ditandai dengan keputusan dan kebijakan yang
seharusnya ditentukan oleh pemimpin.
Kepemimpinan demokratis menampilkan pemimpin
yang mendorong dan membantu anggota kelompok
untuk membicarakan dan memutuskan semua
kebijakan. Adapun kepemimpinan Laissez Faire
memberikan kebebasan penuh bagi kelompok untuk
mengambil keputusan individual dengan partisipasi
pemimin yang minimal.

2) Faktor personal karakteristik kelompok


a) Kebutuhan Interpersonal
(1) Menjadi bagian kelompok;
(2) Mengendalikan orang lain dalam tatanan
hierarkis;
(3) Memperoleh keakraban emosional dari
anggota kelompok yang lain.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 86


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

b) Tindak komunikasi
Pada saat kelompok tertentu, terjadilah
pertukaran informasi. Setiap anggota berusaha
menyampaikan atau menerima informasi (secara
Verbal maupun nonverbal.
c) Peranan
(1) Peranan tugas kelompok, yaitu memecahkan
maslah atau melahirkan gagasan baru. Peranan
tugas berhubungan dengan upaya
memudahkan dan mengoordinasi kegiatan
yang menunjang tercapainya tujuan kelompok.
(2) Peranan pemeliharaan kelompok, berkaitan
dengan usaha-usaha untuk memelihara
emosional anggota-anggota kelompok.
(3) Peranan individual, berkaitan dengan usaha
anggota kelompok unruk memuaskan
kebutuhan individual yang tidak relevan
dengan tugas kelompok.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 87


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB VII
SISTEM KOMUNIKASI MASSA

A. Pengertian komunikasi massa


Menurut Bittner, ‘’massa communication is messages
communicated through mass medium to a large number of
people’’ (komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasi
melalui media massa pada sejumblah orang). Berdasarkan
definisi tersebut dapat diartikan bahwa komunikasi massa
merunjuk pada ‘’pesan’’.107 Meletzke mendefinisikan
komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang
menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media
penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada
publik yang tersebar.
Menurut Gerbner ‘’Mass communication is the
technologically and institutionally based production and
distribution of the most broadly shered continuous flow of
massages in industrial societies’’ (komunikasi massa adalah
produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan
lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas
dimiliki orang dalam masyarakat industry).
Menurut Wiryanto, komunikasi massa merupakaan tipe
komunikasi munusia (human communication) yang lahir
bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik,
yang mampu melipat gandakan pesan-pesan komunikasi.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa komunikasi
massa adalah bentuk komunikasi yang memanfaatkan media
massa untuk menyebarkan pesan kepada khalayak luas pada
saat yang bersamaan.108
Elizabeth Noelle-Neuman, menyebutkan empat tanda
pokok dari komunikasi massa, yaitu sebagai berikut:
1. Bersifat tidak langsung
Artinya melewati media teknis (teknologi media).
Komunikasi massa mengharuskan adanya media massa
dalam prosesnya. Hal ini disebabkan teknologi yang
membuat komunikasi massa dapat terjadi.

107 Muhibudin wijaya laksana, Psikologi Komunikasi, Bandung: Pustaka Setia,

2015, Hlm 114.


108 Ibid, Hlm 115.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 88


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

2. Bersifat tidak satu arah


Satu arah, artinya tidak ada intraksi antar peserta
komunikasi. Dalam istilah komunikasi, reaksi khalayak
yang dijadikan masukan untuk proses komunikasi
berikutnya disebut umpan balik (feedback). Akan tetapi,
dalam sistem komunikasi massa, komunikator sukar
memyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikasi
(khalayak luas).
Dalam komunikasi massa, publik atau khalayak
hanya menjadi penerima informasi. Pada saat komunikasi
massa dilakukan, khalayak tidak dapat langsung
membelikan feedback untuk memengaruhi pemberi
informasi, dalam hal ini untuk aliran komunikasi
sepenuhnya diatur oleh komunikator. Akan tetapi, dalam
komunikasi massa terdapat kemungkinan adanya siaran
ulang, yaitu memutar ulang tayangan yang sama dalam
televise atau radio.
3. Bersifat tidak terbuka
Artinya ditunjukan kepada publik yang tidak
terbatas dan anonim. Komunikasi dengan media massa
memungkinkan komunikator untuk menyampaikan pesan
kepada publik yang tidak terbatas jumlahnya, siapapun dan
berapapun orangnya selama mereka memiliki alat
penerima (media) siaran tersebut.
4. Mempunyai public
Komunikasi massa mempunyai publik yang secara
geografis tersebar. Seperti dikemukakan sebelumnya,
komunikasi massa tidak hanya ditunjukan bagi
sekelompok orang dikawasan tertentu, tetapi lebih kepada
khalayak luas dimana pun mereka berada. Oleh karena itu,
melalui media massa seseorang atau sekeompok orang
dapat melakukan persuasi kepada banyak orang di
berbagai tempat dengan efisien.
Banyak definisi tentang komunikasi massa yang
telah dikemukakan para ahli komunikasi. Banyak ragam
dan titik tekan yang dikemukakannya. Namun, dari sekian
banyak definisi itu ada benang merah kesamaan definisi
satu sama lain. Pada dasarnya komunikasi massa adalah
komunikasi melalui media massa (media cetak dan
elektronik). Sebab, awal perkembangannya saja,
komunikasi massa berasal dari pengembangan kata media
of mass communication (media komunikasi massa). Media
massa (atau saluran) yang dihasilkan oleh teknologi

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 89


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

modern. Hal ini perlu ditekankan sebab ada media yang


bukan media massa yakni media tradisional seperti
kentongan, angklung, gamelan, dan lain-lain. Jadi, di sini
jelas media massa menunjuk pada hasil produk teknologi
modern sebagai saluran dalam komunikasi.
Dalam hal ini kita juga perlu membedakan massa
dalam arti ‘’umum’’ dengan massa dalam arti komunikasi
massa. Misalnya, kita pernah mendengar seorang penyiar
televisi mengatakan, ‘’pemirsa’’massa yang jumblahnya
retusan itu bergerak menuju gedung DPR RI untuk
memprotes kebijakan pemerintah’’. Kata massa dalam hal
ini lebih mendekati arti secara sosiologis. Dengan kata
lain, massa dalam hal itu adalah kumpulan individu yang
berada di suatu lokasi tertentu.
Agar tidak ada keracuan dalam membedakan
persepsi tentang massa, ada baiknya kita membedakan arti
massa dalam komunikasi massa dengan massa dalam arti
umum. Massa dalam arti komunikasi massa lebih
menunjukan pada penerima pesan yang berkaitan dengan
media massa. Dengan kata lain, massa yang dalam sikap
dan prilakunya berkaitan dengan peran media massa. Oleh
karena itu, massa disini menunjuk kepada khalayak,
audience, penonton, pemirsa, atau pembaca.109 Beberapa
istilah ini berkaitan dengan media massa.
Lalu apa media massa dalam komunikasi massa?
Ada banyak versi juga tentang bentuk ini. Namun, dari
sekian banyak definisi bisa dikatakan media massa
bentuknya antara lain media elektronik (televisi, radio),
media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), buku dan film.
Dalam perkembangan komunikasi massa yang sudah
sangat modern dewasa ini, ada satu perkembangan tentang
media massa, yakni ditemukanya internet. Belum ada,
untuk tidak mengatakan tidak ada, bentuk media dari
definisi komunikasi massa yang memasukkan internet
dalam media massa. Pada hal kalau ditinjau dari ciri,
fungsi dan elemennya, internet jelas masuk dalam bentuk
komunikasi massa bisa ditambah dengan internet.
Dalam komunikasi massa kita membutuhkan
gatekeeper (penapis informasi atau palang pintu) yakni
beberapa individu atau kelompok yang bertugas

109 Nurudin. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Grafindo


Persada.2007. Hlm 4

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 90


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

menyampaikan atau mengirimkan informasi dan individu


ke individu yang lain melalui media massa (surat kabar,
majalah, televisi, radio tape, compact disk, buku). Definisi
yang dikemukakan oleh Bittner di atas menekan akan arti
pentingnya gatekeeper dalam proses komunikasi massa.
Inti dari pendapat itu bisa dikatakan begini, dalam proses
komunikasi massa disamping melibatkan unsur-unsur
komunikasi sebagaimana umumnya, ia membutuhkan
pesan media massa sebagai alat untuk menyampaikan atau
menyebarkan informasi. Media massa itu tidak berdiri
sendiri. Di dalam individu ada beberapa individu yang
bertugas melakukan pengelolahan informasi sebelum
informasi itu sampai kepada audiencenya. Mereka yang
bertugas itu sering disebut sebagai gatekeeper. Jadi,
informasi yang diterima audience dalam komunikasi massa
sebenarnya sudah diolah oleh gatekeeper dan disesuaikan
dengan misi, visi media yang bersangkutan, khalayak
sasaran dan orientasi bisnis atau ideal yang menyertainya.
Bahkan sering pula disesuaikan dengan kepentingan
penanaman modal atau aparat pemerintah yang tidak
jarang ikut campur tangan dalam sebuah penerbitan.
Jadi, pidato politis tersebut bisa menjadi proses
komunikasi massa jika disiarkan oleh media massa dan
dinikmati oleh ribuan atau jutaan audience. Ketika anda
berbicara pada politis, itu bentuk komunikasi interpersonal
(antar persona), ketika anda mendengarkan pidatonya di
auditorium, itu komunikasi kelompok, dan ketika anda
menikamati pidato itu dengan perantaraan televisi (yang
bisa juga disaksikan oleh banyak orang diluar gedung), itu
baru namanya komunikasi massa.110
Ada satu definisi komunikasi massa yang
dikemukakan Michael W. Gamble dan Teri Kwal Gamble
akan semakin memperjelas apa itu komunikasi massa.111
Menurut mereka sesuatu bisa didefinisikan sebagai
komunikasi massa jika mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Komunikator dalam komunikasi massa mengandalkan
peralatan modern untuk menyebarkan atau
memancarkan pesan secara cepat kepada khalayak
yang luas dan tersebar. Pesan itu disebarkan melalui

110 Ibid. Hlm 7


111 Ibid. Hlm 8

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 91


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

media modern pula antara lain surat kabar, majalah,


televisi, film, atau gabungan di antara media tersebut.
b. Komunikator dalam komunikasi massa dalam
menyebarkan pesan-pesannya bermaksud mencoba
berbagai pengertian dengan jutaan orang yang tidak
saling kenal atau mengetahui satu sama lain.
Anonimitas audience dalam komunikasi massa inilah
yang membedakan pula dengan jenis komunikasi yang
lain. Bahkan mengirim dan menerima pesan tidak
saling mengenal satu sama lain.
c. Pesan adalah milik publik. Artinya bahwa pesan ini
bisa didapatkan dan diterima oleh banyak orang.
Karena itu, diartikan milik publik.
d. Sebagai sumber, komunikator massa biasanya
organisasi formal seperti jaringan, ikatan, atau
perkumpulan. Dengan kata lain, komunikatornya tidak
berasal dari seseorang, tetapi lembaga. Lembaga ini
pun biasanya berorientasi pada keuntungan, bukan
organisasi suka rela atau nirlaba.
e. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper (penapis
informasi). Artinya pesan-pesan yang disebarkan atau
dipancarkan dikontrol oleh sejumblah individu dalam
lembaga tersebut sebelum disiarkan lewat media
massa. Ini berbeda dengan komunikasi antar pribadi,
kelompok atau publik di mana yang mengontrol bukan
sejumlah individu. Beberapa individu dalam
komunikasi massa itu ikut berperan dalam membatasi,
memperluas pesan yang disiarkan. Contohnya adalah
seorang reporter, editor, flim, penjaga rublik, dan
lembaga sensor lain dalam media itu bisa berfungsi
sebagai gatekeeper.
f. Umpan balik dalam komunikasi massa sifatnya
tertunda. Kalau dalam jenis komunikasi lain, umpan
balik bisa bersifat langsung. Misalnya, dalam
komunikasi antar persona. Dalam komunikasi ini
umpan balik langsung dilakukan tetapi, komunikasi
yang dilakukan lewat surat kabar tidak bisa langsung
dilakukan alias tertunda (delayed).112
Dengan demikian, media massa adalah alat-alat
dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara
serempa, cepat kepada audience yang luas dan heterogen.

112 Ibid, Hlm 9

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 92


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Kelebihan media massa dibanding dengan jenis kominikasi


lain adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu.
Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir
seketika pada waktu yang tak terbatas. Masih menurut
Alexis S.Tan, dalam komunikatornya adalah organisasi
sosial yang mampu memproduksi pesan dan
mengirimkannya secara serempak kesejumlah orang
banyak yang terpisah. Komunikator dalam komunikasi
massa biasanya media massa ( surat kabar, majalah atau
penerbit buku, statsiun atau jaringan TV). Media massa
tersebut diatas adalah “organisasi sosial”, sebab individu
didalamnya mempunyai tanggung jawab yang mudah
dirumuskan seperti dalam sebuah organisasi. Misanya
reporter mencari fakta-fakta dilapangan, sedangkan editor
mengeditnya.

B. Ciri-Ciri Komunikasi Massa


1. Melembaga
Komunikator dalam komunikasi massa bukanlah
satu orang, melainkan kumpulan orang. Artinya, gabungan
antara berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain
dalam sebuah lembaga. Dalam komunikasi massa,
komunikator adalah lembaga media massa itu sendiri.
Artinya, komunikatornya bukan orang per orang.113
2. Anonium dan Heterogen
Komunikan dalam komunikasi massa bersifat
heterogen. Artinya, pengguna media itu beragam dalam hal
pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, tingkat
ekonomi, latar belakang budaya, dan agama. Selain itu,
dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal
komunikasi (anonium) karena komunikasinya
menggunakan media tidak tatap muka.
3. Pesan Bersifat Umum
Pesan dalam komunikasi massa itu tidak
ditunjukkan kepada satu orang atau satu keompok
masyarakat tertentu. Dengan kata lain, pesan ditunjukan
kepada khalayak yang plural. Oleh karena itu, pesan yang
dikemukakan tidak boleh bersifat khusus. Khusus disini
memiliki arti pesan itu tidak disengaja untuk golongan
tertentu. Kita dapat melihat televisi misalnya, karena
televisi itu ditujukan dan untuk dinikmati orang banyak,

113 Ibid. Hlm 19

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 93


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

pesannya harus bersifat umum. Misalnya, dalam pemilihan


kata-katanya sebiasa mungkin menggunakan kata-kata
popular, bukan kata-kata ilmiah hanya ditunjukkan untuk
kelompok tertentu.
4. Komunikasinya Berlangsung Satu Arah
Karena komunikasi massa itu melalui media massa,
komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan
kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan
dan komunikan pun aktif menerima pesan, tetapi diantara
keduanya tidak dapat melakukan diolog sebagaimana
halnya terjadi dalam komunikasi antar pribadi. Dengan
demikian, komunikasi massa bersifat satu arah.
5. Menimbulkan keserempakan
Dalam komunikasi massa ada keserempakan dalam
proses penyebaran pesan-pesannya. Serempak berarti
khalayak dapat menikamati media massa tersebut hampir
bersamaan.
Effendi mengartikan keserempakan media massa
sebagai kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam
jarak yang jauh dari komunikator dan penduduk tersebut
satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah.
6. Mengandalkan Peralatan Teknis
Peralatan teknis sangat dibutuhkan media massa
agar proses pemancaran atau penyebaran pesannya
menjadi lebih cepat dan serentak kepada khalayak yang
tersebar.
7. Dikontrol oleh Gatekeeper
Gatekeeper atau penjaga gawang adalah orang yang
sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui
media massa.114 Gatekeeper berfungsi sebagai orang yang
ikut menambahkan atau mengurangi, menyederhanakan,
mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih
mudah dipahami. Gatekeeper juga berfungsi untuk
menginterpretasikan pesan, menganalisis, menambah, atau
mengurangi pesan-pesannya.

C. Fungsi Komunikasi Massa


Fungsi komunikasi massa ada tiga yaitu:115

114 Mulyana deddy. Human Communication Konteks-konteks Komunikasi.

Bandung: Remaja Rosdakarya. 2001. Hlm 202


115 Effendy. Onang Uchjana. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja

Rosdakarya. 2008. Hlm. 54

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 94


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

1. Menyiarkan informasi (to inform)


2. Mendidik (to educate)
3. Menghibur (to entertain)
Dari ketiga fungsi tersebut, mana yang utama,
bergantung kepada jenis media massa. Fungsi utama dari surat
kabar adalah menyiarkan informasi. Khalayak berlangganan
atau membeli surat kabar karena memerlukan informasi
mengenai berbagai peristiwa atau hal yang terjadi di bumi kita
ini. Pada umumnya informasi ini berbentuk berita yang
mencakup peristiwa yang terjadi, apa yang dilakukan orang,
apa gagasan atau pikiran orang, apa yang dikatakan orang, dan
sebagainnya.
Kalau ada fungsi-fungsi lainnya seperti artikel yang
mengandung pendidikan, atau cerita bersambung dan cerita
gambar yang mengandung hiburan, hanyalah fungsi pelengkap
saja terhadap fungsi utama menyiarkan informasi. Ada
sementara ahli yang menambahkan fungsi lain terhadap fungsi
media massa ini, umpamanya saja fungsi mempengaruhi (to
influence), fungsi membimbing (to guide), fungsi mengeritik
(to criticize) dan lain-lain. Tetapi itu semua hanya merupakan
tambahan saja terhadap tiga fungsi tadi, yaitu menyiarkan
informasi, mendidik, dan menghibur.
Fungsi utama dari flim, radio dan televisi adalah
menghibur. Khalayak pergi kegedung bioskop, membeli
pesawat radio atau televisi, adalah untuk mencari hiburan.
Kalau dalam kisah flim, program radio dan televisi disajikan
segi-segi informasi dan pendidikan, hanyalah sebagai
pelengkap saja terhadap fungsi utama.

D. Efek Komunikasi Massa


Dalam ilmu komunikasi, efek komunikasi diartikan
sebagai pengaruh yang ditimbulkan pesan komunikator
terhadap komunikan. Efek yang ditimbulkan dapat
memengaruhi aspek kognitif, efektif, dan konatif pelaku
komunikasi. Adapun efek komunikasi massa dari sisi
psikologi tidak sebatas karena pesan media, tetapi disebabkan
oleh kehadiran media massa secara fisik. Dengan demikian,
pembahasan mengenai efek komunikasi massa meliputi efek
kehadiran media massa, efek kognitif, efektif, dan behavional
komunikasi massa.116

116 Rahmad Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

2007. Hlm 219

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 95


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

1. Efek Kehadiran Media Massa


Steven H. Chaffe menyebutkan empat efek kehadiran
media massa yaitu:
a. Efek ekonomis
Yaitu, kehadiran media massa menggerakkan lahirnya
berbagai usaha dalam bidang jasa media massa, mulai
produk, distribusi, hingga komsumsi.
b. Efek sosial
Berkaitan dengan perubahan pada struktur atau intraksi
sosial. Sebagai contoh, seorang warga desa yang
memiliki televisi akan naik derajatnya sekaligus dapat
mengembangkan interaksi sosial antar warga jika ia
mampu menghimpun penduduk sekitarnya, misalnya
pada acara nobar piala dunia, dan lain-lain.
c. Penjadwalan ulang kegiatan sehari-har
Hadirnya media massa dapat memengaruhi
penjadwalan kegiatan seseorang. Salah satu contohnya
adalah sebagai berikut. Sebelum ada televisi,
masyarakat tidur malam sekitar pukul delapan dan
bangun pagi sekali untuk segera berangkat bekerja.
Akan tetapi, setelah ada televisi, banyak diantra
mereka yang menonton televisi hingga larut malam.
d. Menghilangkan dan menumbuhkan perasaan tertentu.
Khalayak sering menggunakan media massa untuk
menghilangkan perasaan tidak nyaman, seperti
kesepian, marah, kecewa, dan sebagainya. Media
dipergunakan tanpa mempersoalkan isi pesan yang
disampaikannya. Orang yang sedang patah hati dapat
saja menonton acara televisi, tetapi tidak
memperhatikan jenis siaran yang sedang ditayangkan,
tujuannya hanya untuk menenangkan kembali
perasannya. Kehadiran media massa bukan hanya
untuk menghilangkan perasaan, melainkan juga untuk
menumbuhkan perasaan tertentu. Seseorang memiliki
perasaan positif atau negatif pada media tertentu.
Tumbuhnya perasaan senang atau percaya pada media
massa tertentu berkaitan erat dengan pengalaman
individu bersama media massa tersebut yang mungkin
faktor isi pesan mula-mula sangat berpengaruh tetapi
kemudian jenis media itu yang diperhatikan, tanpa
memandang acara yang ditayangkan.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 96


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

2. Efek Kognitif Komunikasi Massa


Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri
komunikan yang sifatnya informatif bagi dirinya. Dalam
efek kognitif ini dibahas tentang cara media massa dapat
membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang
bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitif.
Informasi yang disajikan media massa berupa
realitas yang tampak sebagai gambaran yang memiliki
makna. Gambaran tersebut lazim disebut citra.
Efek kognitif komunikasi massa dapat dijelaskan
dengan cara menelaah terebih dahulu proses pembentukan
dan perubahan citra, lalu memperkenalkan agenda setting
yang merupakan penguraian dari pembentukan citra. Selain
itu, barulah dipahami efek prososial kognitif media massa.
3. Efek Afektif Komunikasi Massa
Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya efek afektif dari komunikasi massa.117
a. Suasana emosional
Respon kita terhadap sebuah flim, iklan, ataupun
sebuah informasi akan dipengaruhi oleh suasana
emosional kita. Flim sedih sangat mengharukan apabila
kita menontonnya dalam keadaan sedang mengalami
kekecewaan. Demikian pula, adegan-adegan lucu akan
menyebabkan kita tertawa terbahak-bahak apabila
ketika kita menontonnya, kita sedang bahagia.
b. Skema kognitif
Skema kognitif merupakan naska yang ada
dalam pikiran kita yang menjelaskan alur peristiwa.
Kita tahu bahwa dalam sebuah flim action, lakon atau
aktor/aktris yang sering muncul pada akhirnya akan
menang. Oleh karena itu, kita tidak terlalu cemas ketika
sang pahlawan jatuh dari jurang karena kita menduga,
sang tokoh pasti akan tertolong.
c. Situasi terapan
Situasi terapan adalah situasi yang
menyebabkan timbulnya sifat tertentu. Kita akan sangat
ketakutan menonton flim horror, misalnya, apabila kita
menontonnya sendirian dirumah tua, ketika hujan lebat,
dan mendengar suara tiang-tiang rumah berderik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak
lebih ketakutan menonton televisi dalam keadaan

117 Ibid. Hlm 231

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 97


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

sendirian atau di tempat gelap. Demikian pula, reaksi


orang lain pada saat menonton akan mempengaruhi
emosi kita ketika memberikan respons.
d. Faktor predisposisi individual
Faktor ini menunjukan sejauh mana orang
merasa terlibat dengan tokoh yang ditampilkan dalam
media massa. Dengan identifikasi penonton, pembaca,
atau pendengar menempatkan dirinya dalam posisi
tokoh. Ia merasakan apa yang dirasakan tokoh. Oleh
karena itu, ketika tokoh identifikasi (disebut
identifikasi) itu kalah, ia juga kecewa, ketika
identifikasi berhasil, ia gembira.

4. Efek behavioral komunikasi massa


Efek behavioral komunikasi massa menjelaskan
efek komunikasi massa terhadap perilaku khalayaknya yang
terapikasi pada kehidupan sehari-hari. Prilaku yang terjadi
sebagai efek dari komunikasi massa yang akan dibahas
adalah efek prososial behavioral dan perilaku agresif
karena keduanya lebih sering dibicarakan.
a. Efek prososial behavioral
Perilaku prososial adalah memiliki keterampilan
yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Keterampian dapat diperoleh dari tenaga pendidik
keterampilan yang sifatnya personal, seperti guru,
orang tua, dan tenaga pendidik keterampilan lainnya.
Pergeseran dunia kearah mordenitas membuat tugas
mendidik sebagian diambil alih oleh media massa.
Misalnya, majalah tentang fashion hijab style telah
mengajarkan pembacanya untuk berkreasi dalam
menggunakan hijab. Sekalipun demikian, perlu
dipahami bahwa kita mampu memiliki keterampilan
tertentu apabila terdapat jalinan positif antara stimulus
yang kita amati dan karateristik diri kita.
b. Perilaku agresif
Menurut teori belajar sosial dari bandura, orang
cenderung meniru perilaku yang diamatinya, cerita
hingga adegan kekerasan oleh media massa akan
memancing orang-orang yang mendengar, menonton,
dan membaca kekerasan tersebut akan melakukan
kekerasan pula. Dengan kata lain, akan mendorong
orang akan menjadi agresif. Agresif adalah perilaku
yang di arahkan untuk merusak sesuatu yang dapat

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 98


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

mengindari perlakuan seperti itu. Contoh perilaku


agresif, yaitu ketika maraknya kabar seorang siswa
sekolah dasar yang meniru adegan gulat dari acara
smack down sehingga satu orang tewas akibat adegan
gulat tersebut. 118

118 Ibid. Hlm 242

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 99


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB VIII
PSIKOLOGI KOMUNIKATOR

1. Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Inggris Psychologi yang
berakar pada dua kata dari bahasa Yunani, yaitu psyche yang
berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. jadi secara harfiah
psikologi berarti ilmu jiwa. dilihat dari sejarahnya, pada
awalnya psikologi dimaknai sebagai ilmu yang mempelajari
tentang gejala-gejala jiwa. akan tetapi, karena jiwa itu bersifat
abstrak sehingga sulit dipelajari secara objektif dan karena
jiwa termanifistasi dalam bentuk perilaku, maka dalam
perkembangannya kemudian psikologi dimaknai sebagai ilmu
yang mempelajari perilaku.119

2. Pengertian Komunikator
Komunikator adalah pihak yang mengirim pesan
kepada khalayak. Dalam ilmu komunikasi, komunikator dapat
pula bertukar peran sebagai komunikan atau penerima pesan
sehingga komunikator yang baik juga harus berusaha menjadi
komunikan yang baik. Seorang sumber bisa menjadi
komunikator/pembicara. Sebaliknya, komunikator/pembicara
tidak selalu sebagai sumber. Bisa jadi, ia menjadi pelaksana
(eksekutor) dari seorang sumber untuk menyampaikan.
Secara teoritis, komunikasi adalah proses yng memungkinkan
seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya
lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain
(komunikasi).120
Semakin baik penilaian seseorang terhadap
komunikator, semakin mudah orang itu mengubah sikapnya.
Hal ini sesuai dengan model konsitensi kognitif. Bila guru
agama mengatakan bahwa abortus merupakan tindakan amoral
tetapi seorang siswi menganggap tindakan abortus sebagai hak
asasi wanita, maka sistem tersebut menjadi tidak seimbang.
Dia dapat mengurangi ketidakseimbangan itu dengan
mengubah sikapnya terhadap abosrtus dan menyetujui nasehat
gurunya. Sebaliknya, bila seseorang yang tidak disukainya

119 Nyayu Khodijah. Psikologi Pendidikan. (Jakarta: Rajagrafindo Persada.

2016), hlm 1.
120 Muhibudin Wijaya Laksana. Psikologi Kominikasi. (Bandung: Pustaka

Setia. 2015), hlm 136.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 100


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

memiliki sikap yang berbeda dengan dirinya, tidak terjadi


keseimbangan dan tidak ada tekanan untuk melakukan
perubahan. Jadi, semakin baik penilaian seseorang terhadap
sumber komunikasi yang senjang, semakin besar
kemungkinan orang itu akan mengubah sikapnya.121
Pada definisi komunikasi tersebut disebutkan bahwa
“komunikator” adalah orang yeng menyampaikan rangsangan.
Komunikator sering disebut juga sumber (source), pengirim
(sender), penyandi (encoder), pembicara (speaker), atau
originator. Komunikator adalah pihak yang berinisiatif atau
mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh
jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan, atau
negara.
Komunikator bukan saja sebagai information officer,
melainkan lebih dari itu,yakni persuader. Tugas seorang
information officer ialah menyampaikan informasi, baik dalam
bentuk pesan, politik atau bukan, kepada orang lain agar tahu,
tidak lebih dari itu. Sedang persuader berkomunkasi secara
persuasif, yakni melakukan kegiatan psikologis mempengaruhi
sikap (attitude), pendapat (opinion), dan tingkah-laku
(behavior) seseorang atau orang banyak.
Mempengaruhi seseorang atau orang banyak agar
bersikap, berpendapat dan bertingkah laku seperti yang
diharapkan, dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti
penyuapan, pemerasan, boikot, atau teror. Akan tetapi
mempengaruhi sikap, pendapat, tidaklah menggunakan cara
komunikasi, yakni, pernyataan antara manusia secara
psikologis.122
Substansi yang dibahas dalam psikologi komunikator
adalah “who says that” dan “who says”. Apabila seseorang
berkhotbah tentang pentingnya memelihara kebersihan moral
dan menjauhi perbuatan dosa, tetapi ia memakai jeans yang
lusuh, berambut gondrong dan kusut, memakai kalung hitam
dengan gantulan tengkorak keccil, berjaket hitam, dan ia
melantunkan ayat-ayat suci dengan serius, kita akan
menganggapnya sebagai orang gila dan tersesat masuk rumah
ibadah. Contoh tersebut menunjukkan bahwa ketika

121 David O. Sears, Jonathan L. Freedman dan L. Anne Peplau. Psikologi

Sosial. (Jakarta: Erlangga. 1985), hlm 178


122 Onong Uchjana Effendy. Dinamika Komunikasi. (Bandung: PT Remaja

Rosda Karya. 2008), hlm 174

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 101


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

komunikator berkomunikasi, yang berpengaruh bukan saja apa


yang iya katakan, tetapi juga keadaan ia sendiri. Ia tidak dapat
menyuruh pendengar hanya memperhatikan apa yang iya
katakan. Pendengar juga akan memperhatikan siapa yang
mengatakan. Kadang-kadang siapa yang lebih peting dari pada
apa.
Lebih dari 2000 tahun yang lalu Aristoteles menulis,
persuasi tercapai karena karakteristik personal pembicara,
yang ketika ia menyampaikan pembicaraannya, kita
menganggapnya dapat dipercaya. Kita lebih penuh dan lebih
cepat percaya kepada orang-orang baik daripada orang lain.
Aristoteles menyebut karakter komunikator ini sebagai
ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik, akhlak yang baik, dan
maksud yang baik (good sense, goot moral character, good
wil).123 Ethos terdiri dari dua unsur, yaitu Expertise (keahlian)
dan trustworthiness (dapat dipercaya). Ketika komunikator
berkomunikasi, yang berpengaruh terhadap khalayak bukan
hanya apa yang ia katakan (pesan), melainkan penampilan,
keadaan, cara berpakaian, model rambutnya juga berpengaruh
terhadap khalayak, yang semuanya mendapat penilaian dari
khalayak pada saat itu.
Ethos diartikan sebagai sumber kepercayaan (source
credibility) yang ditunjukkan oleh seorang orator
(komunikator) bahwa ia memang pakar dalam bidangnya
sehingga dapat dipercaya. Seorang komunikator yang handal
harus melengkapi dirinya dengan dimensi ethos ini yang
memungkinkan orang lain menjadi percaya.
Secara teoritis, ethos bukanlah variabel tunggal,
melainkan memiliki atau terdiri atas beberapa dimensi, yaitu
kredibilitas, atraksi, dan kekuasaan yang satu sama lain bisa
berdiri sendiri, tetapi pada suatu saat mungkin akan menyatu.
Artinya, seseorang memiliki ethos yang terdeskripsikan pada
kredibilitas, atraksi, dan kekuasaan.

3. Dimensi Ethos
a. Kredibilitas
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikan
tentang sifat-sifat komunikator. Dari definisi ini
terkandung dua hal. Pertama, kredibilitas adalah persepsi
komunikan sehingga tidak inheren dalam diri komunikator.

123 Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi. (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya.2007), hlm 255.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 102


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Kedua, kredibilitas berkaitan dengan sifat-sifat


komunikator. Inti kredibilitas adalah persepsi, yang secra
sederhana dapat diartikan pandangan komunikan terhadap
komunikator. Oleh karena itu, persepsi selalu berubah-
berubah bergantung pada pelaku persepsi (komunikan)
topik yang dibahas, dan situasi.
Persepsi komunikan teradap komunikator tidak
berdiri sendiri, salah satunya dipengaruhi prior ethos, yaitu
persepsi komunikan tentang komunikator sebelum ia
melakukan komunikasi, prior ethos dapat dibangun
melalui hal-hal berikut:
1) Pengalaman langsung (artinya komunikan dan
komunikator pernah bertemu langsung).
2) Pengalaman wakilan (vicarious experiences).
3) Kelompok ujukan (dibangun melalui skema kognitif).
Selain prior ethos, persepsi komunikan terhadap
komunikator dipengaruhi pula oleh instrinsic ethos. Secara
sederhana, instrinsic ethos adalah kepercayaan yang datang
dari dalam diri komunikator secara berproses.
Selain sangat ditentukan oleh persepsi, terdapat dua
komponen yang menentukan kredibilitas, yaitu sebagai
berikut:
1) Keahlian adalah kesan yang dibentuk oleh komunikan
tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya
dengan topik yang dibicarakan. Indikatornya adalah
cerdas, mampu, ahli, tahu banyak, berpengalaman, atau
terlatih. Tentu sebaliknya, komunikator yang dinilai
rendah pada keahlian dianggap tidak berpengalaman,
tidak tahu, atau bodoh.
2) Kepercayaan adalah kesan komunikan tentang
komunikator yang berkaitan dengan wataknya. Apakah
komunikator dinilai jujur, tulus, bermoral, adil, sopan
dan etis atau apakah ia dinilai tidak jujur, suka menipu
tidak adil dan tidak etis. Aristoteles menyebutnya good
moral character.
Beberapa hal yang berkaitan dengan ethos, yaitu
sebagai berikut:
1) Komponen-komponen ethos yang meliputi:
a) Competence (kemampuan/kewenangan);
b) Integrity (integritas/kejujuran);
c) good will (tenggang rasa).
2) Faktor-faktor pendukung ethos:
a) Persiapan

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 103


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

b) Kesungguhan
c) Ketulusan
d) Kepercayaan
e) Ketenangan
f) Keramahan
g) Kesederhanaan

b. Atraksi
Atraksi adalah daya tarik komunikator yang
bersumber dari fisik. Seorang komunikator akan
mempunyai kemampuan unuk melakukan perubahan sikap
melalui mekanisme daya tarik (fisik). Misalnya,
komunikator disnangi atai dikagumi yang memungkinkan
komunikan menerima kepuasan. Daya tarik ini dapat pula
disebabkan oleh adanya faktor kesamaan antara
komunikator dan komunikan sehingga memungkinkan
komunikan tunduk terhadap pesan yang dikomunikasikan
komunikator.
Komunikator yang menarik secara fisik akan
memiliki daya tarik tersendiri yang memungkinkan ia
memiliki pesona persuasif. Daya tarik pun dapat
disebabkan oleh homophily dan heterophily di antara
komunikator dan komunikan. Homophily terjadi ketika
komunikator dan komunikan merasa memiliki kesamaan
dalam: status sosial ekonomi, pendidikan, sikap, dan
kepercayaan.
Oleh karena itu, komunikator yang ingin
memengaruhi orang lain sebaiknya memulai dengan
menegaskan kesamaan antara dirinya dan komunikan.
Heterophily terdapat perbedaan status ekonomi,
pendidikan, sikap, dan kepercayaan antara komunikator
dan komunikan. Akan tetapi, komunikasi akan lebih efektif
pada kondisi yang memiliki homophily. Pada kondisi
homophily komunikator yang dipersepsi memiliki
kesamaan dengan komunikan akan lebih efektif dalam
berkomunikasi disebabkan hal berikut:
1) Kesamaan mempermudah proses penyandibalikan
(decoding), yaitu proses menerjemahkan lambang-
lambang yang diterima menjadi gagasan-gagasan.
2) Kesamaan membantu membangun premis yang sama.
Premis yang sama mempermudah proses deduksi.
3) Kesamaan menyebabkan komunikan tertarik pada
komunikator. Kita cenderung menyukai orang-orang

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 104


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

yang memiliki kesamaan disposisional dengan kita.


Karena menyukai komunikator, kita cenderung akan
menerima gagasan-gagasannya.
4) Kesamaan menumbuhkan rasa hormat dan percaya
kepada komunikator. Alasan keempat ini belum
dibuktikan secara meyakinkan dalam berbagai
penelitiaan. Sejauh ini,peneliti hanya dapat menyatakan
ada hubungan positif antara kesamaan dengan rasa
kepercayaan dan hormat, tetapi hubungan yang lemah.
Dalam tingkat yang ekstrim kita dapat mengatakan
hubungan cukup kuat. Bila sikap, kepercayaan,
pengetahuan, nilai-nilai, kesukaan anda banyak yang
sama dengan seseorang, seseorang akan hormat kepada
anda, seseorang itu akan percaya kepada anda. Secara
psikologis, anda memberikan faliditas pada konsep diri
yang seseorang miliki. Tidak percaya pada anda berarti
tidak percaya pada diri sendiri.

c. Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan
ketundukan. Ketundukan timbul dari interaksi antara
komunikator dan komunikasi. Kekuasaan menyebabkan
seorang komunikator dapat “memaksakan” kehendaknya
kepada orang lain karena ia memiliki sumber daya penting
(critical resources). Ada beberapa jenis kekuasaan, yaitu
sebagai berikut:
1) Kekuasaan koersif (coersive power), menunjukkan
kemampuan komunikator untuk mendatangkan
ganjaran atau mendatangkan hukuman bagi komunikan.
Ganjaran atau hukuman itu dapat bersifat persoal
(misalnya benci dan kasih sayang) atau impersona
(kenaikan pangkat atau pemecatan).
2) Kekuasaan keahlian (expert power), berasal dari
pengetahuan, pengalaman, keterampilan, atau
kemampuan yang dimiliki komunikator. Seorang dosen
memiliki kekuasaan keahlian sehingga ia dapat
menyuruh mahasiswanya menafsirkan suatu teori
sesuai dengan pendapatnya.
3) Kekuasaan informasional (informational power),
berasal dari isi komunikasi tertentu atau pengetahuan
baru yang dimiliki oleh komunikator. Ahli komputer
memiliki kekuasaan informasinal ketik menyarankan

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 105


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kepada seorang pemimpi perusahaan untuk membeli


komputer jenis tertentu.
4) Kekuasaan rujukan (referent power), Disini menjadikan
komunikator sebagai kerangka rujukan untuk menilai
dirinya. Komunikator dikatakan memiliki kekuasaan
rujukan bila ia berhasil menanamkan kekaguman pada
komunikate, sehingga seluruh perilakunya diteladani.
Misalnya, menjadikan komunikator sebagai teladan
karena perilakunya yang baik.
5) Kekuasaan legal (legitimate power), berasal dari
seperangkat aturan atau norma yang menyebabkan
komunikator berwenang untuk melakukan suatu
tindakan. Misalnya, seorang manajer dapat
mengeluarkan pegawainya yang melanggar aturan.
Penelitiaan psikologis tentang penggunaan
kekuasaan menunjukkan bahwa orang memilih jenis
kekuasaan yang dimikinya tidak secara rasional. Orang
menggunakan kekuasaan koersif sering hanya karena ingin
memenuhi kekuasaan diri atau menunjang harga diri.
Tetapi apapun jenis kekuasaan yang dipergunakan,
ketundukan adalah pengaruh yang paling lemah dibandin
dengan identifkasi dan internaliasasi. Dengan begitu
kekuasaan sepatutnya digunakan setelah kredibiitas dan
atraksi komunikator. Lagipua komuniksi mungkin masih
belum efektif, bila komunikator tidak memperhatikan
pesan yang ditampikannya.

4. Pengaruh Komunikasi Psikologi Komunikator


Ethos atau faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas
komunikator terdiri dari kredibilitas, atraksi, dan kekuasaan.
Ketiga dimensi ini berhubungan dengan jenis pengaruh sosial
yang ditimbulkannya. Pengaruh komunikasi pada orang lain
berupa tiga hal: internalisasi (internalization), identifikasi
(identification) dan ketundukan (compliance)
a. Internalisasi
Internalisasi terjadi apabila orang menerima
pengaruh karena perilaku yang dianjurkan sesuai dengan
sistem nilai yang dimilikinya. Kita menerima gagasan,
pikiran, atau anjuran orang lain karena gagasan, pikiran,
atau anjuran orang tersebut berguna untuk memecahkan
masalah, penting dalam menunjukkan arah, atau dituntut
oleh sistem nilai kita. Internalisasi terjadi ketika kita
menerima anjuran orang lain atas dasar rasional. Misalnya,

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 106


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kita berhenti merokok karena kita ingin memelihara


kesehatan dan kita tahu bahwa merokok tidak sesuai
dengan nilai-nilai yang kita anut.
Dimensi ethos yang paling relevan dalam hal ini
adalah kredibilitas, yaitu keahlian yang dimiliki oleh
komunikator atau kepercayaan kita pada komunikator.
b. Identifikasi
Identifikasi terjadi apabila individu mengambil
perilaku yang berasal dari orang atau kelompok lain karena
perilaku itu berkaitan dengan hubungan yang
mendefinisikan diri secara memuaskan dengan orang atau
kelompok itu.
Hubungan yang mendefinisikan diri artinya
memperjelas konsep diri. Dalam identifikasi, individu
mendefinisikan perannya sesuai dengan peranan orang
lain. dengan kata lain, ia berusaha seperti atau benar-benar
menjadi orang lain.
Dengan mengatakan hal-hal yang ia katakan,
melakukan hal-hal yang ia lakukan, mempercayai hal-hal
yang ia percayai, individu mendefinisikan dirinya sesuai
dengan orang yang mempengaruhinya. Identifikasi terjadi
ketika anak berperilaku mencontoh ayahnya, murid meniru
tindak-tanduk gurunya, atau penggemar bertingkah dan
berpakaian seperti bintang yang dikaguminya. Dimensi
ethos yang paling relevan dengan identifikasi adalah
atraksi (daya tarik komunikator).
c. Ketundukan
Ketundukan terjadi apabila individu menerima
pengaruh dari orang atau kelompok lain karena ia berharap
memperoleh reaksi yang menyenangkan dari orang atau
kelompok lain tersebut. Ia ingin memperoleh ganjaran atau
menghindari hukuman dari pihak yang mempengaruhinya.
Dalam ketundukan, orang menerima perilaku yang
dianjurkan bukan karena mempercayainya, melainkan
karena perilaku tersebut membantunya untuk
menghasilkan efek sosial yang memuaskan.
Contoh-contoh ketundukan adalah bawahan yang
mengikuti perintah atasannya karena takut dipecat, dan
pegawai negeri yang masuk parpol tertentu karena
khawatir diberhentikan. Dimensi ethos yang berkaitan
dengan ketundukan adalah kekuasaan.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 107


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

5. Syarat Menjadi Komunikator yang Baik


Syarat untuk menjadi komuniaktor yang baik
mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Menyusun dengan baik isi pesan yang akan disampaikan
sehingga pesan tersebut mudah dimengerti oleh pihak
penerima;
b. Mengetahui media yang paling tepat untuk mengirimkan
pesan kepada penerima dan mengetahui cara
mengantisipasi gangguan yang akan muncul pada proses
pengiriman pesan;
c. Bertanggungjawab memberikan tanggapan terhadap
umpan balik (feedback) yang disampaikan oleh pihak
penerima (receiver).

6. Proto Tipe Komunikator yang Baik


Persyaratan tertentu untuk para komunikator,baik dari
segi sosok kepribadian maupun dalam kinerja kerja. Dari
segikepribadian adlah pesan yang disampaikan bisa diterima
oleh khalayak untuk itu, seorang komunikator dituntut untuk
memiliki beberapa hal berikut:
a. Memiliki kedekatan(proximity) dengan khalayak
Jarak seseorang dengan sumber mempengaruhi
perhatiannya pada pesan tertentu. Semakin dekat jarak,
semakin besar pula peluang untuk terpapar pesan itu. Hal
ini terjadi dalam arti jarak secara pisik ataupun secara
sosial
b. Mempunyai kesamaan dan daya tarik sosial dan fisik
Seorang komunikator cenderung mendapat
perhatian jika penampilan fisiknya secara keseluruhan
memiliki daya tarik (attraktivenees)bagi audiens.
c. Kesamaan (similarity)
Kesamaan (similarity)juga mempengaruhi
penerimaan pesan oleh khalayak. Kesamaan meliputi
gender, pendidikan, umur, agama, latarbelakang sosial, ras,
hobi, kemampuan bahasa, serta masalah sikap dan orientasi
terhadap bebagai aspek, seperti buku, musik, pakaian,
pekerjaan, keluarga, dan sebagainya.
1) Dikenal kredibilitasnya dan otoritasnya
Khalayak cendrung memerhatikan dan
mengingat pesan dari sumber yang mereka percaya
sebagai orang yang memiliki pengalaman/pengetahuan
yang luas. Ada dua faktor kredibilitas yang sangat
penting untuk seorang sumber, yaitu dapat dipercayai

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 108


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(trustworhinees) dan keahlian (expertise). fakto-faktor


lainnya adalah tenang/sabar (compusere), dinamis,
dapat bergaul (sosiability), terbuka (extropision) dan
memiliki kesamaan dengan audiens, menunjukkan
motifasi dan niat.
Cara komunikator menyampaikan pesan
berpengaruh terhadap audiens dalam memebrikan
tanggapan terhadap pesan tersebut. Respon khalayak
akan berbeda menanggapi pesan yang ditunjukkan
untuk kepentingan informasi (informative) dari pesan
yang diniatkan untuk meyakinkan (persuasive) mereka.
2) Pandai dalam cara penyampaian pesan
Gaya komunikator dalam menyamapaikan pesan
juga menjadi faktor penting dalam peroses penerimaan
informasi.
3) Dikenal status, kekuasaan dan kewenangannya
Status menunjuk pada rangking, baik dalam
status sosial maupun organisasi. Adapun kekuasaan
(power) dan kemenangan (outhority) mengacu pada
kemampuan seseorang memberikan ganjaran (reward)
dan hukuman (panisment).

d. Menjadi Sumber Kepercayaan Bagi Komunikator (Source


Cedibility)
Dalam proses momunikasi, seorang komunikator
dianggap berhasil apabila ia menunjukkan source
credibility, artinya menjadi sumber kepercayaan bagi
komunikan. Kepercayaan ini ditentukan oleh keahlian
komonikator dalam bidang tugas pekerjaanya dan dapat
tidaknya ia dipercaya. Seorang ahli hukum akan
mendapatkan kepercayaan apabila ia berbicara masalah
hukum. Demikian pula, seorang dokter akan memperoleh
kepercayaan apabila ia membahas kesehatan. Kepercayaan
kepada komunikator mencerminkan bahwa pesan yang
disampaikan kepada komunikan dianggap benar dan sesuai
dengan kenyataan empiris.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 109


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB IX
PSIKOLOGI PESAN

1. Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Inggris Psychology
yang berakar pada dua kata dari bahasa Yunani, yaitu:
Psyche yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Jadi
secara harfiah psikologi berarti ilmu kejiwaan.124
Ilmu jiwa merupakan istilah dalam bahasa Indonesia
sehari-hari dan dipahami setiap orang sehingga kita pun
menggunakannya dalam arti yang luas karena masyarakat
telah memahaminya. Adapun kata psikologi merupakan
istilah ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah sehingga kita
menggunakannya untuk merunjuk pada pengetahuan ilmu
jiwa yang bercorak ilmiah tertentu. Pengertian ilmu jiwa
lebih luas dari pada psikologi. Ilmu jiwa meliputi segala
pemikiran, pengetahuan, tanggapan, khayalan, dan spekulasi
mengenai jiwa. Adapun psikologi meliputi ilmu pengetahuan
mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan
metode ilmiah yang memenuhi syarat sebagaimana
disepakati oleh para sarjana psikologi masa kini. Istilah ilmu
jiwa merujuk pada ilmu jiwa pada umumnya, sedangkan
istilah psikologi merujuk pada ilmu jiwa yang ilmiah
menurut norma ilmiah modern. Dengan demikian, tampak
jelas bahwa ilmu jiwa belum tentu psikologi, tetapi psikologi
tentu merupakan ilmu jiwa.125
Dilihat dari sejarahnya, pada awalnya psikologi
dimaknai sebagai ilmu yang mempelajari tentang gejala-
gejala jiwa. Akan tetapi, karena jiwa itu bersifat abstrak
sehingga sulit dipelajari secara objektif dan karena jiwa
termanifestasi dalam bentuk prilaku, maka dalam
perkembangannya kemudian psikologi dimaknai sebagai
ilmu yang mempelajari perilaku.126
Perilaku sebagai objek kajian psikologi yang telah
dipaparkan sebelumnya bahwa psikologi adalah ilmu yang
mempelajari perilaku. Perilaku adalah segala sesuatu yang

124Nyayu Khodijah. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo

Persada, hlm. 1.
125I Bambang Samsul Arifin. 2015. Psikologi Sosial. Bandung: Pustaka Setia,

hlm. 12
126 Nyayu Khodijah. Op. cit, hlm. 1-2.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 110


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

dilakukan oleh manusia atau hewan yang dapat diamati


dengan cara tetentu. Tidak seperti pikiran atau perasaan,
perilaku dapat diamati, dicatat dan dipelajari. Kita dapat
melihat apa yang dilakukan seseorang dan kita juga dapat
mendengar apa yang diucapkannya. Dari apa yang dilakukan
di dikatakan, para ahli psikologi dapat memperkirakan
perasaan, sikap, pikiran, dan proses-proses lain yang berbeda
dibalik perilaku tersebut. 127

2. Pengertian Psikologi Pesan


Psikologi pesan merupakan salah satu unsur yang
terpenting dalam berkomunikasi, sedangkan tujuan
komunikasi adalah komunikasi menerima pesan dari
komunikator. Secara teoritis, pesan terdiri atas pesan verbal
dan pesan nonverbal. Pesan verbal adalah pesan yang
digunakan dalam komunikasi yang menggunakan bahasa
berbagai media. Pesan verbal ditransmisikan melalui
kombinasi bunyi bahasa dan digunakan untuk menyatakan
pikiran, perasaan, dan maksud. Dengan kata lain, pesan
verbal adalah pesan yang diungkapkan melalui bahasa yang
menggunakan kata-kata sebagai representasi realitas atau
makna.128
Karakteristik makna pesan adalah makna yang
ditentukan oleh komunikator, disampaikan melalui pesan
verbal dan nonverbal, bersifat unik, mencakup makna
denotatif dan konotatif dan didasarkan pada konteks.
Subtansi karakteristik pesan adalah pesan berbentuk paket
dibentuk dengan menggunakan kaidah tertentu, disampaikan
dalam tingkat kelangsungan yang variatif, bervariasi dalam
tingkat kepercayaan dan dapat digunakan dalam
metakomunikasi.
Pesan komunikasi berkaitan dengan proses atau cara
menyapaikan pesan. artinya, adanya keterkaitan pesan atau
muatan komunikasi dengan komponen lain, seperti saluran
dan media komunikasi. Sampai atau tidaknya pesan kepada
khalayak sangat ditentukan oleh penyampai pesan. Dalam
ilmu psikologi, pesan merupakan konsep yang berupa teknik
pengendalian perilaku orang lain yang disebut bahasa.
Dengan bahasa yang merupakan kumpulan kata,

127 Ibid, hlm. 5.


128 Muhibudin Wijaya Laksana. 2015. Psikologi Komunikasi. Bandung:
Pustaka Setia, hlm. 151.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 111


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

komunikator dapat mengatur perilaku komunikasi (orang


lain), berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa. Selanjutnya bahasa adalah pesan dalam bentuk kata-
kata kalimat yang disebut pesan linguistik.129

3. Pesan Linguistik
Pesan linguistik terdapat bahasa. Ada dua cara untuk
mendefinisikan bahasa, yaitu secara fungsional dan formal.
Secara fungsional berarti melihat bahasa dari segi fungsinya.
Bahasa dapat dipahami apabila bahasa kesepaktan antar
anggota kelompok sosial untuk menggunakannya.130
Definisi formal menyatakan bahasa sebagai semua
kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut
peraturan tata bahasa. Setiap bahasa memiliki peraturan
dalam menyusun kata-kata dan dirangkaikan supaya
memberikan arti.131
Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan
cara tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud
tersendiri. Cara ini disebut pesan paralinguistic. Akan tetapi,
manusia dalam menyampaikan pesan bisa menggunakan
cara lain selain dengan bahasa, misalnya dengan isyarat, ini
disebut pesan ekstralinguistik.132
Misalnya ada orang yang berkata, “saya menemukan
buku kuno tentang raja-raja yang dimakan rayap”. Kalimat
ini mempunyai arti ganda. Kalimat ini dapat berarti, “saya
menemukan buku kuno yang dimakan rayap dan isinya
berkenaan dengan raja-raja”, atau ini berarti, “saya
menemukan buku kuno, isinya menceritakan raja-raja yang
dimakan rayap”. Dengan fonologi, sintaksis dan semantik
kita tidak dapat menemukan mana arti yang benar. Tetapi
kita dapat segera mengetahui arti yang benar. Tidak
mungkin raja-raja dimakan rayap. Dari mana kita tahu? Dari
susunan kata? Bukan. Dari arti kata-kata? Juga bukan. Kita
mengetahuinya dari pengetahuan konseptualyang kita miliki.
Walaupun kamus hanya menjelaskan raja sebagai penguasa
kerajaan dan rayap sejenis serangga, kita dapat pasti
menyimpulkan raja tidak mungkin dimakan rayap. Dalam
pemikiran kita ada kerangka konseptual yang menolak

129 Ibid, hlm. 152.


130 Ibid.
131Jalaluddin Rakhmat. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja

Rosdakarya, hlm. 269.


132 Muhibudin Wijaya Laksana. Op. cit, hlm. 153.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 112


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kejadian itu. Dalam dunia yang pernah kita ketahuai tidak


ada cerita tentang raja yang dimakan rayap. Raja makan
rayap, masih mungkin.
Mungkin saja, kata teman anda. Ia meyakinkan anda
bahwa ada raja-raja yang mati dimakan rayap. Anda
mungkin menilai ucapan sahabat anda anda dengan merujuk
pada sistem kepercayaan anda. Anda berteriak, ”Aku tidak
percaya” Jadi, kerangka konseptual dan sistem kepercayaan
menemukan komunikasi linguistik.133
a. Bentuk Pesan
Pesan merupakan salah satu unsur yang penting
dalam berkomunikasi sehingga makna dari pesan itu
sendiri memperlancar interaksi sosial antar manusia.
Tujuan dari komunikasi akan tercapai apabila makna
pesan yang disampaikan komunikator sama dengan
makna yang diterima komunikan. Untuk mencapai tujuan
itu, pesan yang di sampaikan diungkapkan melalui
perpaduan antara pesan verbal dan nonverbal.
1) Pesan verbal
Pesan perbal atau pesan linguistik adalah
pesan yang digunakan dalam komunikasi yang
menggunakan bahasa sebagai media. Pesan verbal
diteransmisikan melalui kombinasi bunyi bahasa dan
digunakan untuk menyatakan pikiran perasaan, dan
maksud. Dengan kata lain, pesan verbal adalah pesan
yang diungkapkan melalui bahasa yag menggunakan
kata-kata sebagai representasi realitas atau makna.
Pesan dalam komunikasi verbal disampaikan
melalui dua jenis sinyal, yaitu tanda dan simbol.
Tanda adalah sinyal yang memiliki hubungan sebab
(causal) dengan pesan yang diungkapkan. Contohnya,
kita mengatakan bahwa seseorang yang meringis
berarti ia sedang merasa kesakitan karena rasa sakit
merupakan penyebab orang meringis.
Adapun simbol merupakan produk konvensi
sosial. Oleh karena itu maknanya didasarkan pada
kesepakatan yang dibuat oleh para pengguna atau
penutur. Contohnya, bagi orang Indonesia, kumpulan
bunyi yang menghasilkan kata ”rumah” bermakna
bangunan yang digunakan manusia sebagai tempat
tinggal karena memang disepakati demikian. Tidak

133 Jalaluddin Rakhmat. Op. cit, hlm. 270.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 113


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

ada alasan instinsik mengapa konsep “bangunan yang


digunakan manusia sebagai tempat tinggal” tidak
diungkapkan dengan kata lain dan mengapa konsep
tersebut diungkapkan dengan sekumpulan bunyi
bahasa yang berbeda.
Kelebihan dari pesan verbal adalah media
paling efektif yang digunakan manusia sebagai sarana
berkomunikasi. Efektifitas tersebut disebabkan oleh
tiga aspek bahasa, yaitu sebagai berikut.134
a) Aspek semanticity, merujuk pada hakikat kata-
kata (unsur pertama bahasa) sebagai simbol yang
merepresentasikan objek atau realitas tertentu.
Dengan kata-kata kita dapat menamai atau
memberi label pada tindakan, pemikiran,
perasaan, atau orang sehingga kita dapat
mengidentifikasi atau merujuknya tanpa harus
menghadirkan langsung.
b) Aspek generativity (kadang-kadang disebut
productivity) meujuk pada kemampuan bahasa
untuk menghasilkan pesan-pesan bermakna dalam
jumlah tidak terbatas melalui kombinasi sejumlah
simbol linguistik yang sangat terbatas. Contohnya
kita bisa membentuk kata “air”, ”ira”, ”ria”, dan
“ari” yang semua kata ini memiliki makna.
c) Aspek displacement merujuk pada kemampuan
bahasa untuk digunakan sebagai sarana untuk
membicarakan sesuatu yang “ jauh” dalam
konteks ruang dan waktu atau sesuatu yang ada
hanya dalam imajinasi.
Pesan verbal memiliki beberapa keterbatasan
dalam menyampaikan maksud, yaitu sebgai berikut.
a) Jumlah kata yang tersedia dalam setiap bahasa
sangat terbatas sehingga tidak semua objek dalam
realita dapat diwakili oleh kata-kata.
b) Kata-kata memilik makna yang ambigu (makna
ganda) dan kontekstual. Kata-kata bersipat
ambigu karena berhubungan antara kata-kata dan
objek yang diwakilinya arbitrer (semena-mena)
kata yang diucapkan tidak merujuk pada objek
tetapi pada persepsi dan interpestasi orang sebagai
wakil dari objek tersebut. Adapun makna kata-

134 Muhibudin Wijaya Laksana. Op. cit, hlm. 153-154.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 114


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kata bersipat bias karena dipengaruhi oleh latar


belakang kebudayaan.
c) Esensi bahasa dalam aktifitas berfikir terungkap
dengan jelas melalui kenyataan bahwa
ketidakmampuan suku-suku primitif memikirkan
hal-hal yang “canggih” bukan karena mereka
tidak dapat berfikir, melinkan karena bahasa
mereka tidak dapat mempasilitasi mereka untuk
melakukannya.
d) Orang cenderung mencampur adukkan fakta
penafsiran dan penilaian karena kekeliruan
peesepsi suwaktu menggunakan bahasa.135

4. Pesan Nonverbal
Definisi harfiah komunikasi nonverbal yaitu
komunikasi tanpa kata merupakan suatu penyederhanaan
berlebihan karena kata yang berbentuk tulisan dianggap
“verbal” meskipun tidak memiliki unsur suara. Komunikasi
nonverbal benar-benar seluruh proses komunikasinya harus
dipandang sebagai suatu keseluruhan yang lebih besar dari
pada jumlah bagian-bagiannya. Di luar laboratorium kita
tidak tergantung kepada isyarat-isyarat yang berdiri sendiri
atau petunjuk-petunjuk. Dalam komunikasi tatap muka
semua isyarat, verbal dan nonverbal tersedia bagi kita.136
Dengan demikian, pesan nonverbal mencakup seluruh
perilaku yang tidak berbentuk verbal yang disengaja atau
tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi
secara keseluruhan. Berdiam diri juga merupakan pesan
nonverbal jika hal itu memberikan makna bagi pengirim atau
penerima.
a. Klasifikasi Pesan Nonverbal
Duncan menyebutkan enam jenis pesan
nonverbal, yaitu:
1) Kinesik atau gerak tubuh
2) Paralinguistik atau suara
3) Prosemik atau kegunaan ruangan personal dan sosial
4) Olfakasi atau penciuman
5) Sensitivikasi kulit
6) Faktor artifaktual seperti pakaian dan kosmetik

135 Muhibudin Wijaya Laksana. Op. cit, hlm. 154-155.


136 Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. 2005. Human Communication Prinsip-
Prinsip Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya , hlm. 112-113.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 115


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Pesan nonverbal dibagi dalam tiga kelompok


sebagai berikut:
1) Pesan Kinesik
Pesan kinesik yang menggunakan gerakan
tubuh yang berarti atas tiga komponen utama, yaitu
pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.
a) Pesan fasial menggunakan air muka untuk
menyampaikan makna tertentu. Wajah pada
dasarnya menyampaikan sepuluh kelompok
makna kebahagiaan, rasa terkejut, ketakutan,
kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman,
minat, ketakjuban, dan tekad. Leathers
menyimpulkan penelitiannya sebagai berikut:137
(1) Memurnisasikan penilaian dengan ekspresi
senang dan tidak senang yang menunjukakan
apakah komunikator memandang baik atau
buruknya objek penelitian.
(2) Mengkomunikasikan berminat atau tidak
berminat keterlibatan dalam lingkungan.
(3) Mengkomunikasikan intensitas keterlibatan
dalam suatu situasi.
(4) Mengkomunikasikan tingkat pengendalian
individu terhadap pernyataan tersendiri.
(5) Mengkomunikasikan adanya atau kurangnya
pengertian.
b) Pesan gestural menunjukan gerakan sebagai
anggota badan seperti mata dan tangan untuk
mengkomunikasikan berbagai makna. Menurut
Galloway, pesan gestural digunakan untuk
mengungkapkan, mendorong atau membatasi,
menyesuaikan, responsif atau tidak responsif,
perasaan positif atau negatif, memperhatika atau
tidak memperhatikan, melancarkan atau tidak
reseftif, menyetujui atau menolak. Pesan gestural
yang bertentangan terjadi apabila pesan gestural
memberikan arti lain dari pesan verbal atau
lainnya, pesan gestural tidak responsif jika
menunjukan gesture yang tidak berkaitan dengan
pesan yang diresponsnya. Pesan gestural negatif
mengungkapkan sikap dingin, merendahkan atau

137 Muhibudin Wijaya Laksana. Op. cit, hlm. 156

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 116


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

menolak. Pesan gestural tidak diresponsif


mengabaikan permintaan untuk bertindak.
c) Pesan postural berkaitan dengan seluruh anggota
badan. Mehrabian menyebutkan tiga makna yang
dapat disampaikan postur, yaitu immediacy,
power dan responsiveness immediacy adalah
ungkapan kesukaan atau ketidaksukaan terhadap
individu lain. Postur yang condong ke arah yang
diajak berbicara menunjukan kesukaan dan
penilaian positif. Power mengungkapkan status
yang tinggi dari komunikator individu
mengkomunikasikan responsiveness apabila ia
berkreasi secara emosional pada lingkungan
secara positif dan negatif.
d) Pesan proksemik disampaikan melalui pegaturan
jarak dan ruang. Pada umumnya dengan mengatur
jarak, kita mengungkapkan keakraban dengan
orang lain. Pesan proksemik dapat
mengungkapkan status sosial ekonomi,
keterbukaan dan keakraban.
e) Pesan atrifaktual diungkapkan melalui
menampilan tubuh, pakaian dan kosmetik.
Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang
sering berperilaku dalam hubungan dengan orang
lain sesuai dengan persepsi tentang tubuhnya. Erat
kaitannya dengan tubuh adalah upaya untuk
membentuk citra tubuh dengan pakian dan
kosmetik. Umumnya, pakaian menyampaikan
identitas, cara berperilakudan cara yang
sepatutnya diperlukan. Pakaian juga dapat
menyampaikan perasaan. Kosmetik dapat
mengungkapkan kesehatan, sikap yang eksresif
dan komunikatif serta kehangatan.

2) Pesan Paralinguistik
Pesan paralinguistic adalah pesan nonverbal
yang berhubungan dengan cara pengucapan pesan
verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat
menyampaikan arti yang berbeda apabila diucapkan
dengan cara yang berbeda.
Pesan paralinguistic terdiri atas nada, kualitas
suara, volume, kecepatan, dan ritme. Nada
menunjukkan jumalh getaran atau gelombang yang

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 117


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

dihasilkan sumber bunyi. Semakin banyak jumlah


getaran, semakin tinggi nada. Nada dapat
mengungkapkan kegairahan, ketakutan, kesedihan,
kesungguhan, atau kasih sayang. Nada dapat
memperteguh dampak kata yang diucapkan. Nada
juga digunakan untuk mengungkapkan identitas diri
dan mempengaruhi orang lain.
Kualitas suara menunjukakn penuh atau
tipisnya suara. Misalnya, setiap individu mempunyai
kualitas secara tersendiri sehingga kualitas suara
mengungkapkan identitas kepribadiannya.
Volume menunjukkan tinggi rendahnya suara.
Volume, kecepatan, dan ritme dapat
menggarisbawahi pernyataan dan mengungkapkan
perasaan. Secara keseluruhan, pesan paralinguistic
adalah alat yang paling cermat untuk menyampaikan
perasaan kepada orang lain, tetapi tidak semua orang
memiliki kemampuan untuk mengungkapkan emosi
melalui pesan ini. Sekalipun demikian, sebagimana
kemampuan paralinguistic pun dapat ditingkatkan.

3) Pesan Nonverbal Nonvisual Nonauditif


Pesan sentuhan dan bau-bauan, termasuk
pesan nonverbal, nonvisual dan nonvokal. Alat
penerima sentuhan adalah kulit yang mampu
menerima dan membedakan berbagai emosi yang
disampaikan orang melalui sentuhan. Sejak kecil
manusia telah lazim untuk menerima sentuhan,
biasanya merupakan ungkapan kasih sayang dan
keakraban.
Bau-bauan digunakan manusia untuk
berkomunikasi secara sadar dan tidak sadar. Dr.
Harry Wiener dari New York Mediacal
menyimpulkan bahwa manusia menyampaikan dan
menerima pesan kimiawi eksternal. Pada umumnya
komunikasi melalui bau-bauan berlangsung secara
tidak sadar. Kini orang menggunakan bau-bauan
buatan seperti pesan untuk menyampaikan pesan.138

138 Ibid, hlm. 156-159

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 118


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

b. Fungsi Pesan Nonverbal


Komunikasi interpersonal, secara umum
penyampaian maksud (makna) akan berlangsung efektif
apabila komunikator memadukan kedua bentuk pesan
tersebut. Bahkan dalam rangka mengkomunikasikan
perasaan, pesan nonverbal berperan lebih dominan. Ada
enam fungsi pesan nonverbal dalam komunikasi
interpersonal yaitu:
1) Aksentuasi yang digunakan untuk membuat
penekanan pada bagian tertentu pesan nonverbal,
komunikatir sering menggunakan pesan nonverbal,
seperti meninggikan nada suara atau menggebrak
meja.
2) Komplemen yang digunakan untuk menyampaikan
nuansa tertentu yang dapat diutarakan melalui pesan
verbal, pembicara akan menggunakan pesan
nonverbal.
3) Kontradiksi yang digunakan untuk
mempertentangkan pesan verbal dengan pesan
nonverbal dalam rangka mencapai maksud tertentu.
Misalnya untuk menunjukkan bahwa ia hanya
“berpura-pura”, pembicara dapat mengedipkan mata
ketika mengucapkan pertanyaan tertentu.
4) Regulasi yang digunakan untuk menunjukkan bahwa
komunikator ingin mengatakan sesuatu dengan cara
membuat isyarat tangan atau mencondongkan tubuh
kedepan.
5) Repetisi yang digunakan untuk mengulangi maksud
yang disampaikan melalui pesan verbal, seperti “
kamu menerima lamarannya?’’ dengan kenaikkan alis
mata dan menunjukkan ekspresi wajah tidak percaya.
6) Subsitusi yang digunakan untuk mengganti pesan
verbal tertentu, seperti “saya tidak setuju” dengan
pesan nonverbal berupa gelengan kepala.

c. Alasan Pentingnya Pesan Nonverbal


Menyebutkan enam alasan yang menunjukkan
pentingnya pesan nonverbal yaitu sebagai berikut:
1) Faktor-faktor nonverbal sengat menentukan makna
dalam komunikasi interpersonal. Misalnya ketika
berboncang-bincang dangan tamu, kita sering
menyampaikan gagasan dengan pesan-pesan
nonverbal.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 119


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

2) Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan melalui


pesan nonverbal dari pada pesanverbal.
3) Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud
yang relatif bebas dari manipulasi, distorsi dan
kerancuan.
4) Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif
yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi
yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif
artinya memberikan informasi tambahan yang
memperjelas maksud dan makna pesan.
5) Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang
lebih efektif dibandingkan denga pesan verbal.
6) Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang
paling tepat. Ada situasi komunikasi yang menuntut
kita untuk mengungkapkan gagasan atau emosi secara
langsung. Sugesti dimaksudkan menyarankan sesuatu
kepada orang lain secara implisit. Sugesti paling
efektif disampaikan melalui pesan-pesan
nonverbal.139

5. Organisasi, Struktur, dan Himbauan Pesan


a. Organisasi Pesan
Beberapa penelitian menelaah efek organisasi
pesan pada peningkatan dan perubahan sikap. Tompson
melaporkan bahwa orang yang lebih mudah mengingat
pesan yang tersusun sekalipun organisasi pesan kelihatan
tidak mempengaruhi kadar perubahan sikap. Aristoteles
menjelaskan bahwa retorika mengenal enam macam
organisasi pesan.140
1) Deduktif
Urutan deduktif dimulai dengan menyatakan
terlebuh dahulu gagasan utama, kemudian
memperjelasnya dengan keterangan penunjang,
penyimpulan, dan bukti.
2) Induktif
Dalam urutan induktif, kita mengemukakan
perincian-perincian, kemudian menarik kesimpulan.
3) Kronologis
Dengan urutan kronologis pesan disusun
berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa.

139 Ibid, hlm. 159-161


140 Ibid, hlm. 167

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 120


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

4) Logis
Dengan urutan logis, pesan disusun
berdasarkan sebab keakibat atau akibat kesebab.
5) Spesial
Dengan urutan spesial, pesan disusun
berdasarkan tempat.
6) Topikal
Dengan urutan topikal, pesan disusun
berdasarkan tofik pembicaraan. Klasifikasi, dari yang
penting kepda yang kurang penting, dari yang mudah
kepada yang sukar, dari yang dikenal kepada yang
asing.

b. Struktur Pesan
1) Bila pembicara menyajikan dua sisi persoalan ( pro
dan kontra), tidak ada keuntungan untuk pembicara
yang pertama, karena sebagai kondisi (waktu,
khalayak, tempat, dan sebagainya) akan menentukan
pembicara yang paling berpengaruh.
2) Bila pendengar secara terbuka memihak satu sisi
argumen. Sisi yang lain tidak mungkin mengubah
posisi mereka. Sikap nonkompromistis ini mungkin
timbul karena kebutuhan untuk mempertahankan
harga diri. Mengubah posisi akan membuat orang
kelihatan tidak konsisten mudah dipengaruhi dan
bahkan tidak jujur.
3) Jika pembicara menyajikan dua sisi persoalan, kita
biasanya lebih mudah di pengeruhi oleh sisi yang
disajikan lebih dahulu. Jika ada kegiatan diantara
penyajian atau jika kita diperingatkan oleh pembicara
tentang kemungkinan disesatkan orang, maka apa
yang dikatakan terakhir lebih banyak memberikan
efek. Jika pendengar tidak tertarik pada subjek
pembicaraan kecuali setelah menerima informasi
tentang hal itu, mereka akan sukar mengingat dan
menerapkan informasi tersebut. Sabaliknya, jika
mereka sudah tertarik pada suatu persoalan mereka
akan mengingat baik-baik dan menerapkannya.
4) Perubahan sikap lebih sering terjadi jika gagasan
yang dikehendaki atau yang diterima disajikan
sebelum gagasan yang kurang dikehendaki. Jika pada
awal penyajian, komunikator menyampaikan gagasan
yang menyenangkan kita, kita akan cenderung

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 121


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

memperhatikan dan menerima pesan-pesan


berikutnya. Sebaliknya, jika ia memulai dengan hal-
hal yang tidak menyenangkan kita, kita akan menjadi
kritis dan cenderung menolak gagasan berikutnya.
5) Urutan pro-kon lebih efektif dari pada urutan kon-pro
bila digunakan oleh sumber yang memiliki otoritas
yang dihormati oleh khalayak.
6) Argumen yang terakhir didengar akan lebih efektif
bila ada jangka waktu cukup lama diantara dua pesan
dan pengujian segera terjadi setelah pesan kedua.141

c. Imbauan Pesan
Bila pesan-pesan kita dimaksudkan untuk
mempengaruhi orang lain makan kita harus menyentuh
motif yang menggerakan atau mendorong perilaku
komunikate. Dengan perkataan lain, kita secara psikologi
mengimbau khalayak untuk menerima dan melaksanakan
gagasan kita. Para peneliti psikologi komunikasi akan
lebih terpengaruh oleh imbauan emosional atau imbauan
rasional? Apakah komunikate lebih tergerak oleh
imbauan ganjaran dari pada imbauan takut? Motif-motif
apakah yang dapat kita sentuh dalam pesan kita supaya
kita berhasil mengubah sikap dan perilaku komunikate?
Dalam uraian kita yang terakhir ini, kita akan
membicarakan imbauan rasional, imbauan emosional,
imbauan takut, imbauan ganjaran dan imbauan
motivasional.
1) Imbauan rasional
Imbauan rasional didasarkan pada anggapan
bahwa manusia pada dasarnya makhluk rasional yang
baru bereaksi pada himbauan emosional apabila tidak
ada imbauan rasional. Menggunakan imbauan
rasional, artinya menyakinkan orang lain dengan
pendekatan logis atau penyajian bukti-bukti. Imbauan
rasional biasanya menggunakan silogisme, yakni
rangkaian pengambilan kesimpulan melewati premis
maior dan premis minor. Banyak penelitian yang
menggunakan silogisme klasik tidak memperkuat
anggapan bahwa manusia itu rasional. Ternyata sikap
sebelumnya, kredibilitas pembicara dan

141 Jalaluddin Rakhmat. Op. cit, hlm. 297-298

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 122


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kepribadiannya lebih mempengaruhi penilaian kita


kepada pembicara ketimbang silogisme yang
digunakannya.
2) Imbauan emosional
Imbauan emosional yaitu menggunakan
pernyataan- pertanyaan atau bahasa yang menyentuh
emosi komunikasi. Ada beberapa hal untuk
membangkitkan emosi manusia:
a) Menggunakan bahasa yang penuh muatan
emosional untuk melukiskan situasi tertentu.
b) Menghubungkan gagasan yang diajukan dengan
gagasan yang telah populer atau tidak populer.
c) Menghubungkan gagasan dengan unsur-unsur
visual dan nonverbal yang membangkinkan
emosi. Misalnya meminta sumbangan untuk
korban banjir dengan menampilkan foto-foto yang
melukiskan mereka.
d) Menampakkan pada diri konunikator petunjuk
nonverbal yang emosional. Misalnya, suara yang
bergetar, air muka yang melankolis, dan air mata
berlinang.
3) Imbauan takut
Imbauan taku menggunakan pesan yang
mencemaskan mengancam, atau meresahkan.
Penelitian selanjutnya melaporkan bahwa efektifitas
imbawan takut bergantung pada jenis pesan
kredibilitas komunikator, dan jenis kepribadian
penerima. Bila komunikator memiliki kredibilitas
yang tinggi imbauan takut yang rendah lebih berhasil.
Bila komunikasih dihadapkan pada topik yang sangat
penting baginya, imbauan takut yang tinggilah yang
efektif. Makin kurang penting satu topik, makin kecil
keberhasilan. Bila komunikasi mempunyai
keperibadian yang tidak mudah terlibat secara
personal dalam satu pernyataan, ia kurang
terpengaruh oleh imbauan pesan yang tinggi. Begitu
pula komunikasi yang memiliki tingkat kecemasan
yang rendah sangat efektif dipengaruhi oleh imbauan
takut yang tinggi. Tampaknya penggunaan imbauan
takut harus digunakan secara sangat berhati-hati.
4) Imbauan ganjaran
Imbauan ganjaran menggunakan rujukan yang
menjanjikan komunikasi sesuatu yang mereka

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 123


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

perlukan atau mereka inginkan. Bila saya menjanjian


kenaikan pangkat untuk anda kalau anda bekerja baik.
5) Imbauan motivasional
Imbauan motivasioanl menggunakan imbauan
motif yang menyentuh kondisi intern dalam diri
manusia. Dengan menggunakan berbagai mazhab
psikologi, kita dapat mengklasifikasikan motif pada
dua kelompok besar: motif biologis dan motif
psikologis. Manusia bergerak bukan saja didorong
oleh kebutuhan biologis seperti lapar dan dahaga,
tetapi juga karena dorongan psikologis seperti rasa
ingin tahu, kebutuhanakan kasih sayang dan
keinginan untuk memuja.142

142 Ibid, hlm. 298-301.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 124


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB X
PENGARUH ALIRAN KOGNITIF PADA KOMUNIKASI

A. Pengaruh Aliran Kognitif Pada Komunikasi


Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang
sepadan dengan knowing, yang berarti mengetahui. Dalam arti
yang lebih luas cognition (kognisi) adalah proses perolehan,
penataan, dan penggunaan pengetahuan. Paul Hendri
menjelaskan bahwa kognisi adalah kegiatan mental dalam
memperoleh, mengolah, mengorganisasi, dan menggunakan
pengetahuan, sedangkan proses yang paling utama dalam
kognisi meliputi menditeksi, menginterpretasi,
mengklasifikasi, dan mengingat infornasi mengevaluasi
gagasan, menyarin prinsip dan mengambil kesimpulan segala
macam pengalaman yang didapat dalam kehidupannya.143
Koginitif merupakan pemikiran, ingatan,
bahasa,pemecahan masalah dan persepsi. Manusia dapat saling
memahami maksud diantara mereka apabila mereka
mempunyai konstruksi kata yang sama dalam
pikirannya.Untuk memiliki pemikiran yang sama, manusia
berkomunikasi agar dapat saling mengerti dan mengetahui.
Bahasa, setiap hari manusia selalu menggunakan bahasa
sebagai alat/media berkomunikasi. Pemecahan
masalah,manusia akan berfikir, bertindak, dan
mengomunikasikan ide-ide dalam benaknya sehingga dapat
menyelesaikan masalah.144
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif
menjadi salah satu domain atau wilayah psikologis manusia
yang meliputi setiap prilaku mental yang berkaitan dengan
pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan
masalah, kesengajaan dan kejiwaan. Aspek kejiwaan yang
berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi
(kehendak) dan afeksi (perasaan).
Dengan demikian kognisi ini sangat penting sebab
kognisi merupakan tempat proses di awali perolehan
pengetahuan yang masuk dalam diri seseorang yang melalui

143 Ujam jaenudin,Teori-teori kepribadian (Bandung: CV PUSTAKA SETIA ,

2015), Hal 177


144 Muhibudin wijaya laksana, PSIKOLOGI KOMUNIKASI (Bandung: CV

PUSTAKA SETIA, 2015), Hal 27

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 125


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

beberapa proses. Proses perkembangan kognitif sangat


memengaruhi perkembangan aspek yang lain, seperti afeksi.145
Komunikasi adalah proses berbagai makna melalui
proilaku verbal dan nonverbal. Segala prilaku dapat disebut
komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Frase dua
orang atau lebih perlu ditekankan, karena sebagian literatur
menyebut istilah komunikasi intrapersona, yakni komunikasi
dengan diri sendiri.Akan tetapi, saya sendiri kurang setuju
dengan istilah ini. Menurut Burgooon et al., tidak diragukan
bahwa orang berfikir, berbicara dengan dirinya sendiri,
meskipun dalam diam, membaca tulisannya sendiri dan
mendengarkan suar’bya sendiri lewat tape, tetapi itu bukan
dengan sendirinya, meskipun setiap komunikasi dengan orang
lain memang dimulai dengan komunikasi dengan sendiri-
sendiri.146
Secara sederhana,komunikasi dapat didefinisikan
sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada
komunikan melalui/tanpa media yang menimbulkan akibat
tertentu. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas
pertukaran ide atau gagasan secara sederhana. Dengan
demikian, kegiatan komunikasi dapat dipahami sebagai
kegiatan penyampaian ide atau pesan arti dari suatu pihak ke
pihak lain dengan tujuan menghasilkan kesepakatan bersama
terhadap ide atau pesan yang disampaikan tersebut.
Thomas M. Scheihwadel mengemukakan bahwa
komunikasi ditujukan untuk menyatakan dan mendukung
identitas diri, membangun kontak sosial dengan orang
sekitar,dan memengaruhi orang lain untuk merasa, berfikir,
dan berprilaku seperti yang kita inginkan.147
Adapun komunikasi merupakan peristiwa sosial yang
terjadi ketika seorang manusia berinteraksi dengan manusia
lain. Komunikasi adalah ilmu penyampaian energi dari alat-
alat indra ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan
informasi, pada proses saling pengaruh diantara berbagai
sistem dalam diri organisme dan diantara organisme, dalam

145 Ujam jaenudin ,Op.Cit, hal 177


146 Dedy Mulyana, Komunikasi Efektif (Bandung, PT REMAJA
ROSDAKARYA, 2004), hal 3
147 bambang syamsul arifin,Psikologi Sosial. (Bandung:CV PUSTAKA

SETIA, 2015), hal 208

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 126


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kamus psikologi terdapat enam pengertian komunikasi, yaitu


sebagai berikut.148
1. Penyampaian perubahan energi dari satu tempat ke tempat
yang lain seperti dalam sistem saraf atau penyampaian
gelombang-gelombang suara.
2. Penyampaian atau penerimaan sinyal atau pesan oleh
organisme.
3. Pesan yang disampaikan.
4. Proses yang dilakukan satu sistem yang lain melalui
pengaturan sinyal-sinyal yang disampaikan (teori
komunikasi).
5. Pengaruh suatu wilayah persona pada wilayah persona
yang lain sehingga perubahan ddalam satu wilayah
menimbulkan perubahan yang berkaitan pada wilayah lain
(K. Lewin).
6. Pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi.
7. Komunikasi mencoba menganalisis seluruh komponen
yang terlibat dalam proses komunikasi. Menurut George A.
Miller (1994). Psikologi komunikasi adalah ilmu yang
berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan
peristiwa mental dan perilaku dalam komunikasi, psikologi
komunikasi adalah ilmu yang mempelajari komunikasi dari
aspek psikologi; psikologi komunikasi adalah ilmu yang
meneliti kesadaran dan pengalaman manusia.
Beberapa alasan yang menunjukkan bahwa psikologi
penting dipelajari dalam komuunikasi, yaitu sebagai berikut.149
1. Psikologi adalah ilmu yang memerlukan media
penyampaian, komunikasi. Selain itu, dalam lima
perspektif utama psikologi (biologis, belajar,kognitif,
sosiokultural, dan psikodinamika).
2. Komunikasi juga memiliki andil yang besar dalam
pertumbuhan kepribadian seseorang bangsa. Kurangnya
komunukasi akan meghambat kepribadian seseorang.
Melalui ilmu psikologi, kita dapat mengetahui pola
hidup/kebiasaan/karakteristik orang yang kita ajak
berbicara sehingga kita dapat mengetahui pola komunikasi
yang sesuai dengan orang yang kita ajak berbicara.
3. Kemungkinkan untuk mengalami kegagalan dalam
berkomunikasi dapat dikurangi karena hambatan-hambatan

148 Muhibudin wijaya laksana,Psikologi komunikasi. (Bandung: CV


PUSTAKA SETIA, 2015), hal 26
149 Ibid, hal 27

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 127


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

yang muncul dari dalam diri seseorang, seperti prilaku,


emosi, serta keadaan lingkungan dapat diprediksi dengan
ilmu psikologi sehingga cara/metode komunikasi yang
tepat dapat diketahui.
Untuk itu, pentingnya mempelajari psikologi dalam
berkomunikasi adalah mengurangi dan menghindari
hambatan-hambatan yang mungkin terjadi saat berkomunikasi
yang berasal dari masalah psikologi.
Komunikasi sangat esensial untuk pertumbuhan
kepribadian manusia. Kurangnya komunikasi akan
menghambat perkembangan kepribadian. Dalam sejarah
perkembangannya, komunikasi memang dibesarkan oleh para
peneliti psikologi, seperti Wilbur Schramm dan Kurt Lewin.
Wilbur Schramm adalah sarjana psikologi yang dikenal
sebagai bapak ilmu komunikasi. Kurt Lewin adalah ahli
psikologi dinamika kelompok. Komunikasi bukan subdisiplin
dari psikologi. Sebagai ilmu, komunikasi dipelajari bermacam-
macam disiplin ilmu, antara lain sosiologi dan psikologi.150
Komunikasi terjadi jika setidaknya satu sumber
membangkitkan respon pada penerima ada penerima melalui
penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol,baik
bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk nonverbal (non kata-
kata),tanpa harus memastikan terlebih dahulu bahwa kedua
pihak yang berkomunikasi punya suatu sistem simbol yang
sama.151
1. Teori-teori Pembuatan Pesan
a. Teori Sifat
Sejumlah sifat telah dipelajari dalam riset
komunikasi dan mengasilkan teori-teori sifat. Berikut
diuraikan dua sifat yang menonjol.
b. Teori sensitivitas retoris
Bocher & Kelly memaparkan bahwa
komunikasi yang efektif muncul dari sensitivitas dan
peduli dalam menyelesaikan apa yang dikatakan
kepada komunikan. Sensitivitas retoris mewujudkan
kepentingan sendiri, kepentingan orang lain, dan sikap
situasional.
Teori ini didukung oleh sudut pandang
humanistic yang menekankan pada keterbukaan,
empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan

150 Ibid, hal 28


151 Dedy Mulyana, Op.Cit, hal 3

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 128


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

yang menciptakan interaksi bermakna, jujur, dan


memuaskan.
Menurut Joseph Devito (1997), perilaku spesifik
tersebut meliputi:152
1) Keterbukaan
Keterbukaan dapat diartikan dalam 3 aspek,
yaitu: terbuka terhadap orang yang diajak
bicaranya, kesediaan komunikator untuk bereaksi
secara jujur terhadap stimulus yang datang, dan
kepemilikan perasaan dan pikiran.
2) Empati
Empati berarti kemampuan seseorang untuk
mengetahui apa yang dialami pada saat tertentu,
dari sudut pandang orang lain itu, melalui kaca mata
orang lain itu.
3) Sikap mendukung.
Sikap mendukung dapat diperlihat dengan
bersikap: deskriptif dan bukan evaluatif, spontan
dan bukan strategik, provisional dan bukan sangat
yakin.
4) Sikap positif.
Sikap positif disini artinya bagaimana
seseorang membentuk konsep diri yang benar
melalui persepsi diri yang objektif, citradiri yang
proporsional dan harga diri yang rasional. Sikap
positif dapat dikomunikasikan melalui dua cara,
yaitu: dengan menyatakan sikap positif dan secara
positif mendorong orang yang diajak berinteraksi.
5) Kesetaraan.
Kesetaraan disini dapat diartikan sebagai
penerimaan seseorang terhadap pihak lain dan
memberikan penghargaan positif tanpa syarat
kepada orang lain.
6) Katakutan Berkomunikasi
Kecemasan komunikasi dapat dialami oleh
setiap orang. Kecemasan komunikasi didefinisikan
sebagai ketakutan atau kecemasan terkait dengan
komunikasi yang harus dilakukan dengan orang lain

152 Husin, Fourqoniah.Finnah, & Arum Sari. Kezia. (2018) Efektivitas


Komunikasi Dinas Kesejahteraansosial Kota Samarinda Dalam Mensosialisasikan
Bantuan Usaha Ekonomi Produktif (Uep) Di Kota Samarinda. eJournal Ilmu
Komunikasi, Volume 6, Nomor 3, 2018 hal 203

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 129


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(Beebe & Redmond). Kecemasan komunikasi


bukanlah suatu masalah apabila masih berada dalam
taraf normal, namun apabila kecemasan komunikasi
yang dialami berada dalam 5 tingkat yang tinggi,
maka individu akan menghadapi masalah
kepribadian, seperti usaha untuk selalu menghindari
komunikasi dengan orang lain.
Kecemasan komunikasi dapat terjadi pada
berbagai situasi, salah satunya adalah ketika
individu memasuki lingkungan yang baru dan asing
yang sama sekali berbeda dengan lingkungan yang
telah dikenal sebelumnya. Kecemasan komunikasi
dapat terjadi pada seorang calon mahasiswa baru
yang akan menjalani pendidikan di perguruan
tinggi, terutama apabila mahasiswa tersebut berasal
dari luar kota dan harus menghadapi kehidupan
baru yang sama sekali berbeda dari kehidupan
sebelumnya.
Gudykunst (2002) meyakini bahwa
kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar
penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi
antarkelompok. Gudykunst menegaskan pula bahwa
kemampuan untuk mengatur ketidakpastian dan
kecemasan berpengaruh dalam kemampuan
individu untuk dapat berkomunikasi secara efektif
dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
baru.153

2. Teori Penerimaan Dan Pemerosesan Pesan


Setiap saat manusia menerima stimulus atau
informasi dari luar dirinya dan kemudian diperoses, diolah,
disimpan dan pada suatu saat akan digunakan kembali.
Dalam pendahuluan disebutkan bahwa penerimaan
informasi yang paling awal adalah sensasi, kemudian
diikuti proses persepsi hingga proses menyimpan dan
menggunakan kembali informasi tersebut.154

153 Septi Muharomi, Lusty. Hubungan Antara Tingkat Kecemasan


Komunikasi dan Konsep Diri Dengan Kemampuan Beradaptasi Mahasiswa Baru.
(Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang, 2012)
Hal 4-5
154 Nina M. armado, Psikologi Komunikasi, (tengerang selatan: universitas

terbuka,2017) hal 3.3

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 130


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

a. Proses sensasi
Sensasi merupakan tahap awal penerimaan
pesan. Sensasi berasal dari kata sense, berarti alat indra,
yang menghubungkan organisme dengan
lingkungannya. Memelalui alat indralah manusia
memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan
untuk berinteraksi dengan dunianya. Jadi, sensasi
adalah proses mengangkap stimulus melalui alat indra.
Kita mengenal lima alat indra, yaitu penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman dan perasa atau
pengecap. Indra terpenting manusia adalah penglihaan,
kemudian baru pendengaran. Manusia memanipulasi
benda-benda dengan tangan sehingga indra peraba pun
menjadi penting. Indra-indra lainnya tidaklah sepenting
ketiga indra tersebut (Sukadji, 1986).155
Selain kelima indra itu, dunia psikologi juga
mengenal indra kinestesis dan vestibular. Kinestesis
adalah indra yang memberi informasi tentang posisi
tubuh dan anggota badan, misalnya mengarahkan kita
bergerak ke kiri untuk mengambil barang yang berada
disebelah kiri. Sedangkan vestibular adalah indra
keseimbangan. Indra ini menolong menjaga
keseimbangan, misalnya saat seseorang naik sepeda,
naik eskalator. Alat indra ini terletak bagian alat
telinga.
Proses sensasi terjadi saat alat indra mengubah
informasi menjadi impuls-impuls syaraf yang
dimengerti oleh otak melalui proses transduksi. Agar
dapat diterim alat indra, stimuli harus cukup kuat dan
melewati batas minimal intensitas stimuli (sensory
threshold) misalnya, mata munisa hanya dapat
mengangkap stimuli yang mempunyai panjang
gelombang cahaya antara 390-780 nanometer. Telinga
manusia hana dapat mendeteksi frekuensi gelombang
suara yang berkisar antara 20-20.000 Hertz. Ini berarti,
indra penglihatan tidak dapat menangkap stimuli yang
mempunyai panjang gelombang cahaya di bawah 380
nanometer, begitu pula dengan indra pendengaran yang
tidak mampu menangkap gelombang suara
berfrekuensi di atas 20.000 Hertz.

155 Ibid, hal 3.3

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 131


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Sensasi dipengaruhi oleh faktor situasional dan


faktor personal. Faktor situasional mencakup segala hal
atau situasi yang berada di luar, seperti keras
lembutnya suara, tajam dan halusnya bebuan, atau
terang dan buramnya cahaya. Sedangkan faktor
personal adalah hal-hal yang dimiliki seseorang seperti
kapasitas alat indra, pengalaman, dan lingkungan
budaya. Hal-hal tersebut lah yang dapat membedakan
penerimaan sensasi antara seseorang dengan orang
lainnya.

b. Proses persepsi
Alat indra menangkap stimuli, lalu stimuli
tersebut diubah menjadi sinyal yang dapat dimengerti
oleh otak untuk kemudian diolah. Disinilah terjadi apa
yang disebut dengan proses persepsi, yaitu cara kita
menginterpretasi atau mengerti pesan yang telah
diproses oleh sistem indrawi kita. Singkatnya persepsi
adalah proses memberi makna pada sensasi.
Dengan melakukan persepsi, manusia
memperoleh pengetahuan baru. Persepsi mengubah
sensai menjadi informasi. Jika sensasi adalah proses
kerja indra kita maka persepsi adalah cara kita
memproses data indrawi tadi menjadi informasi agar
dapat kita artikan.156
Persepsi dalam pengertian psikologi adalah
proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk
untuk memperoleh informasi tersebut adalah
pengindraan (penglihatan, pendengaran, peraba).
Sedangkan alat untuk memahaminya adalah kesadaran
atau kognisi (sarwono, 1997).157

c. Faktor yang mempengaruhi persepsi


1) Faktor personal
Persepsi bukan hanya ditentukan oleh jenis
atau bentuk stimuli, etapi karakteristik orng yang
memberikan respons pada stimuli tersebut. Ketika
diperlihatkan gambar-gambar yang bentuknya yang
tidak jelas kepada dua kelompok siswa yang lapar
dan kenyang, kelompok pertama lebih sering

156 Ibid, hal, 3.5


157 Ibid, hal 3.7

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 132


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

menanggapi gambar tersebut sebagai makanan,


daripada kelompok lainnya. Persepsi yang berbeda
ini tidak disebabkan stimuli gambar yang disajikan
sama, tetapi karena kondisi biologis siswa yang
berbeda.
Krech dan Cructhfield (Rakhmat, 2003)
merumuskan dalil “persepsi bersifat selektif secara
fungsional”, artinya objek-objek yang mendapat
tekanan dalam persepsi individu biasanya
merupakan objek-objek yang memenuhi tujuan
individu tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh (a)
kebutuhan,(b) suasana mental;(c) suasana
emosional; (d) latar belkang budaya; dan (frame of
reference (kerangka rujukan) seseorang.

2) Faktor structural
Persepsi dipengaruhi oleh hal-hal yang
bersifat dari sifat stimuli fisik dan efek-efek syaraf
yang ditimbulkan pada sistem syaraf individu.
Apabila memersepsi sesuatu, menurut slirsn Gestalt,
kita memersepsinya sebagian suatu keseluruhan
(Rakhmat, 2003).158
Berbagai cara menyusun stimuli dikenal
dengan hukumGestalt (yang dikemukakan oleh
sekelompok psikolog aliran Gestalt). Gestalt,
artinya keselutruhn atau konfigurasi. Ide dasarnya
adalah bahwa stimuli dikelompokkan menjadi pola
yang paling sederhana yang memiliki arti. Tiga
prinsip utamanya adalah (a) prinsip kedekatan
(proksimitas), (b) prinsip kesamaan (similaritas),
dan (c) prinsip kelengkapan (closure).
Berdasarkan prinsip Gestalt ini, untuk
memaknai suatu pesan, kita harus memandangnya
dlam hubungan kesatuan/keseluruhan, bukan
memahami bagian-bagiannya saja secara terpisah.
Demikian pula kalau kita memahami seseorang
seharusnya dengan melihat orang itu dalam
konteksnya, misal keadaan keluarga, lingkungan,
permasalahan yang dihadapi, prinsip hidup.
Dengan demikian, kita akan melihat
konteksnya apabila memersepsi sesuatu. Walaupun

158 Ibid, hal 3.10

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 133


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

stimuli yang kita terima tidak lengkap, namun kita


akan mengorganisasikan melalui interpretasi yang
konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita
persepsi.

d. Perhatian
Proses persepsi sangat dipengaruhi oleh
perhatian (attention).Perhatianadalah proses mental
ketika stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada
saat stimuli lainnya melemah (state of focused mental
activity) suara yang ditangkaptelinga, mendapat
perhatian yang lebih apabila anda memusarkan diri
hanya pada salah satu indra (dalam hal ini
pendengaran) dan mengabaikan masukan melalui
indra-indra lainnya.
Berbagai stimuli yang ada di sekeliling kita
saling bersaing untuk mendapat perhatian. Kita
memilih stimuli atau pesan mana yang ingin kita lihat
atau dengar. Ini menunjukkan adanya perhatian yang
selektif (selective attention) terhadap berbagai stimuli
tersebut. Hal-hal yang menonjol bagi kita, cenderung
mendapat perhatian yang lebih. Ada dua faktor yang
mempengaruhi perhatian, yaitu sebgai berikut.159
1) Faktor situasional
(a) Gerakan
Stimuli yang bergerak akan lebih menarik
perhatian dibanding yang lainnya. Tampilan
visual yang menyajikan benda-benda bergerak
dapat lebih menarik perhatian kita daripada
tampilan yang statis.
(b) Kontras
Kita akan memberi perhatian pada stimuli
yang lebih menonjol di banding stimuli-stimuli
lainnya. Seseorang yang memakai pakaian
merah di tengah kerumunan orang berbaju putih
cenderung tidak luput dari perhtian kita. Kita
akan menaruh perhatian pada orang yang
berbadan besar jika ia berdiri di kerumunan
orang-orang yang bertubuh kecil.

159 Ibid, hal 3.12

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 134


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

(c) Intensitas stimuli


Kita akan menoleh lebih dulu pada
billboard yang paling besar diantara jajaran
billboard di pinggir jalan. Pada saat kita
menonton TV tiba-tiba terdengar suara ledakan
yang keras (bom), kita akan lari keluar mencari
arah suara tersebut.
(d) Novely
Hal-hal baru, yang berbeda, yang luar
biasa, akan lebih menarik perhatian. Buku yang
baru diterbitkan atau film baru yang memuat
efek visual yang berbeda dari film-film lainnya,
bisa menyedot perhatian orang atau penggemar.
(e) Perulangan
Sesuatu yang berulang dapat lebih menarik
perhatian. Iklan yang disajikan berkali-kali di
TV akan lebih menarik perhatian. Lagu yang
sering diputar di radio dan ditayangkan di TV
akan lebih menarik perhatian (dan juga dapat
membuat orang mengingatnya).

2) Faktor internal
(a) Faktor-faktor biologis
Hal-hal yang sifatnya biologis, misalnya
keadaan lapar, haus akan mempengatuhi
perhatian kita. Orang lapar akan menaruh
perhatian yang lebih pada makanan, dibanding
orang yang kenyang. Itulah sebabnya ada ahli
yang menyarankan agar jika berbelanja di
supermarket seseorang seharusnya sudah makan
terlebih dahulu. Jika dalam keadaan lapar ia
berbelanja, ia bisa memborong banyak
makanan, padahal itu tidak diperlukan.
Penyebabnya adalah kondisi biologisnya yang
lapar menyebabkan ia menjadi tertarik pada
makanan.
(b) Faktor sosiopsikologis
Motif sosiogenis, kebiasaan, sikap dan
kemauan, mempengaruhi apayang kita
perhatikan. Disebuah taman, orang yang
menyukai bunga akan lebih memperhatikan
bagaimana jenis, bentuk atau warna bunga-
bunga yang dijumpainya, daripada orang yang

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 135


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

menyukai babatuan. Atau, seorang pecandu


sepak bola akan mencari halaman olahraga jika
membaca koran pagi, sementara orang yang
tidak suka sepak bola akan melewati halaman
oahraga yang banyak berisi berita tentang sepak
bola. Orang yang sedang merencanakan
membeli rumah akan memberi perhatian pada
iklan penjualan rumah disurat kabar. Begitu pula
orang yang punya rencama,membeli sepeda
motor.160

3. Teori Penilaian Pesan


Muzafer Sherif dan Carl Hovland mencetuskan
teori penilaian sosial pada tahun 1961 yang berbicara
tentang cara seseorang membuat penilaian mengenai
pernyataan yang didengarnya. Teori ini khususnya
mempelajari proses psikologis yang mendasari pernyataan
sikap dan perubahan sikap melalui komunikasi. Sherif dan
Hovland menyatakan: “Dalam interaksi dengan orang
lain, kita harus bergantung pada sebuah dasar atau acuan
internal. Dengan kata lain, acuan kita berada di kepala
kita dan didasarkan pada pengalaman sebelumnya” 161
Penilaian pesan diwujudkan dalam tiga rentang
perilaku, yaitu rentang penerimaan (latitude of
acceptance), rentang penolakan (latitude of ignorance), dan
tidak terlibat (latitude of noncommitment). Rentang
penerimaan dan penolakan seseorang dipengaruhi oleh
keterlibatan ego (ego involvement). Ego-involvement
refers to how crucial an issue is in our lives.Terdapat
beragam patokan yang dijadikan sebagai pedoman
perilaku, sehingga menimbulkan efek yang dinamakan
kontras dan asimilasi. “Contrast is a perceptual distortion
that leads to polarizaiton of ideas. Assimilation is the
rubberband effect that draws an idea toward the hearer’s
anchor, so that it seems that he and the speaker share the
same opinion.”

160 Ibid,
hal 3.14
161Farady Martha,Rustono dan Cristanto, Harris. Analisis Penilaian Perilaku
Komunikasi Peserta Didiksekolah Menengah Pada Pelaksanaan Ujian Nasional. 2015,
Hal 83-84

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 136


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Teori ini memperkirakan, jika sebuah pesan berada


dalam rentang penerimaan atau rentang netral, semakin
berbeda pesan dengan pendirian, maka semakin besar pula
perubahan perilaku yang diharapkan.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 137


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB XI
PERSUASI DALAM KOMUNIKASI

A. Pengertian Sikap
Sikap atau yang dalam Bahasa Inggris disebut attitude
adalah suatu cara berinteraksi terhadap suatu perangsang.
Suatu kecerendungan untuk beraksi dengan cara tertentu
terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang dihadapi.
Bagaimana reaksi seseorang jika ia terkena sesuatu
rangsangan baik mengenai dirinya. Sebagai contoh dapat
diperhatikan kalimat-kalimat berikut: Pak Amin bersikap
acuh-tak acuh terhadap persoalan yang menyangkut
keluarganya. Pak Diran selalu marah-marah jikat melihat
halaman rumahnya kotor. Setelah mendapat nasehat dari
bapak guru, Aminah tidak suka melamun lagi di kelas. Dari
contoh-contoh tersebut di atas kita dapat mengatakan bahwa
sikap adalah suatu perbuatan atau tingkah laku sebagai reaksi
atau respons terhadap sesuatu rangsangan atau stimulus, yang
disertai dengan pendirian dana tau perasaan orang itu.
Ellis mengemukakan tentang sikap itu sebagai berikut:
Attitude involve some knowledge of situation. However, the
essential aspect of the attitude is found in the fact that some
characteristic feeling or emotion is experienced, and as we
would accordingly expect, some definite tendency to action is
associated”. Jadi menurut Ellis, yang sangat memegang
peranan penting di dalam sikap ialah faktor perasaan atau
emosi, dan faktor kedua adalah reaksi atau respons, atau
kecenderungan untuk beraksi. Dalam beberapa hal, sikap
merupakan penentu yang penting dalam tingkah laku manusia.
Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua
alternative, yaitu senang atau tidak senang, menurut dan
melaksanankannya atau menjauh atau menghindari sesuatu.
Tiap orang memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap
sesuatu perangsang. Ini disebabkan oleh berbagai faktor yang
ada pada individu masing-masing seperti adanya perbedaan
dalam bakat, minat, pengalaman, pengetahuan, intensitas
perasaan, dan juga situasi lingkungan. Demikian pula sikap
pada diri seseorang terhadap sesuatu atau perangsang yang
sama mungkin juga tidak selalu sama.162

162 Ngalim Purwanto. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT REMAJA

ROSDAKARYA. Hal 140-142.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 138


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Ada pendapat lain yang sangat mendasar mengenai


sikap. Berikut ini adalah garis besar pandangapandangan sikap
yang disusun oleh pengamat Eiser:
1. Sikap merupakan pengalaman subjektif. Asumsi ini
menjadi dasar untuk definisi-definisi pada umumnya,
meskipun beberapa penulis, terutama Ben (1967),
mengganggap bahwa berbagai pernyataan seseorang
mengenai sikapnya merupakan kesimpulan dari
pengamatannya atas perilakunya sendiri.
2. Sikap adalah pengalaman tentang suatu objek atau
persoalan. Rumusan ini belum pernah didukung secara
tegas. Tidak semua pengalaman memenuhi syarat untuk
disebut sebagai sikap. Sikap bukan sekedar “suasana hati”
atau :reaksi afektif” yang disebabkan oleh stimulus dari
luar. Suatu persoalan atau objek kajian dikatakan
merupakan bagian dari pengalaman.
3. Sikap adalah pengalaman tentang suatu masalah atau objek
dari sisi dimensi penilaian. Jika kita memiliki sikap pasa
suatu objek, kita tidak hanya mengalaminua, tetapi
mengalaminya sebagai sebagai sesuatu yang hingga batas
tertentu diinginkan, atau lebih baik, atau lebih buruk.
Walaupun terdapat kesepakatan bahwa ada unsur penilaian
dalam sikap, belum ada kesepakatan tentang apakah sikap
hanya mengandung unsur penilaian. Bahkan, di antara para
peneliti yang mendefinisikan sikap secara lebih sempit,
masih ada yang bersedia mengukur sikap dengan tolak
ukur unsur penilaian dalam suatu kontinum.
4. Sikap melibatkan pertimbangan yang bersifat menilai.
Rumusan ini berasal dari butir ketiga. Namun, kita harur
berhati-hati dengan apa yang dimaksudkan
“pertimbangan:. Seberapa besar sikap seseorang (atau
pertimbangan bermuatan penilaian) pada suatu objek
dalam suatu situasi melibatkan penilaian yang dilakukan
dengan sengaja dan secara sadar, dibandingkan, misalnya
dengan respons yang sudah dipelajari. Hal ini adalah
pertanyaan yang harus dicari jawabannya di lapangan.
5. Sikap bisa diungkapkan melalui Bahasa. Sikap dapat
diungkapkan hingga batas-batas tertentu tanpa kata-kata,
namun konsep sikap akan sangat miskin jika diterapkan
pada spesies yang tidak dapat berbicara. Bahasa sehari-hari
penuh dengan kata-kata yang mengandung unsur penilaian
.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 139


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

6. Ungkapan sikap pada dasarnya dapat dipahami. Inilah


fakta yang paling jelas namun juga dapat dikatakan paling
tidak jelas tentang sikap. Pada saat orang lain
mengungkapkan sikapnya, kita dapat memahami orang itu.
Mungkin kita tidak emmahami alasan ia merasa seperti itu,
tetapi hingga batas-batas tertentu kita tahu apa yang
dirasakannya. Pertanyaan tentang bagaimana bahasa
mengungkapkan pada orang lain mengenai sesuatu yang
sifatnya pengalaman pribadi, adalah pertanyaan filosofis
yang terlalu luas untuk dikupas di sini. Namun, sebagian
jawabannya mungkin bisa diberikan oleh pendapat pada
butir 2 bahwa walaupun pernyataan sikao mengungkapkan
pengalaman subjektif, pengalaman subjektif itu ada
hubungannya dengan dunia luar.
7. Sikap dikomunikasikan kepada orang lain. Sikap tidak
hanya dapat dipahami tetapi juga diungkapkan sedemikian
rupa sehingga dapat ditangkap dan dimengerti oleh orang
lain. Dengan kata lain, mengungkapkan sikap adalah
tindakan sosial yang berlandaskan asumsi bahwa ada
pendengar yang dapat memahami. Bagaimana kehadiran,
jenis, dan jumlah pendengar memengaruhi ungkapan sikap,
merupakan pertanyaan empiris.
8. Sikap setiap orang bisa sama dan bisa tidak sama.
Rumusan ini bergantung pada ide bahwa sikap dapat
diungkapkan dengan bahasa (karena bahasa
memungkinkan orang membuat catatan) dan pada ide
bahwa sikap berkaitan dengan dunia luar.
9. Sejumlah orang yang mempunyai sikap yang berbeda pada
suatu objek akan berbeda pula dalam pendapat masing-
masing mengenai apakah yang benar atau salah mengenai
objek tersebut. Kemungkinan ada persamaan dan
perbedaan dalam sikap berarti bahwa orang akan
menafsirkan pernyataan mengenai sikap sebagai sesuatu
yang mengandung nilai kebenaran yang pada prinsipnya
dapat diukur melalui interaksi dengan objek bersangkutan.
Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa sikap terbentuk
setelah ada penyelidikan terlebih dahulu atas fakta-fakta
terkait. Hubungan antara keyakinan berlandaskan fakta dan
penilaian harus dibuktikan di lapangan.
10. Sikap jelas berhubungan dengan perilaku sosial. Hal ini
adalahasumsi yang paling menarik mengenai sikap dan
mempunyai implikasi-implikasi berikut: (1) jika ucapan
seseorang tentang sikap tidak sesuai dengan perilaku

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 140


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

sosialnya yang lain, akan sulit mengetahui arti ucapan itu;


(2) meskipun orang mungkin terdorong untuk memperoleh,
mendekati, mendukung dan sebagainya, objek yang
mereka nilai positif, hal ini tidak mungkin menjasi satu-
satunya motif perilaku sosial yang relevan, dan penting
tidaknya dalam suatu situasi harus ditentukan di lapangan;
(3) mengatakan bahwa sikap menimbulkan perilaku (atau
sebaliknya) sering menimbulkan pertanyaan tentang
hakikat proses antaranya.
Demikianlah, sikap didefinisikan dalam berbagai versi oleh
para ahli. Berbagai definisi serta pengertian tersebut pada
umumnya dapat dimasukkan ke dalam salah satu di antara tiga
kerangka pemikiran.
Kelompok pemikiran pertama, pemikiran yang diwakili
oleh para ahli psikologi. Menurut mereka, sikap adalah suatu
bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap
suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak ataupun
perasaan tidak mendukung atau tidak memihak pada objek
tersebut.
Kelompok pemikiran kedua oleh para ahli. Menurut
kelompok pemikiran ini, sikap merupakan semacam kesiapan
untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu.
Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan merupakan
kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu
apabila individu dihadapkan dengan cara-cara tertentu.
Kelompok pemikiran ketiga adalah kelompok yang
berorientasi pada skema triadic. Menurut kerangka pemikiran ini,
suatu sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif,
afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami,
merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek. 163

B. Pengaruh Perilaku terhadap Pembentukan Sikap


Sikap timbul karena adanya stimulus. Terbentuknya suatu
sikap banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kebudayaan,
seperti keluarga, norma, golongan agama, dan adat istiadat.
Keluarga memiliki peranan penting dalam membentuk sikap
seseorang. Sikap seseorang tidak selamanya tetap. Akan tetpai,
tidak berarti bahwa orang yang diam saja tidak bersikap. Ia
bersikap juga, hanya bentuknya diam.

163 Alex Sobur. 2016. Psikologi Umum. Bandung: CV PUSTAKA SETIA. Hal
307-310.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 141


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Pembentukan sikap tidak terjadi dengan sendirinya atau


dengan sembarangan. Pembentukannya senantiasa berlangsung
dalam interaksi manusia dan berkaitan dengan objek tertentu.
Interaksi sosial dalam kelompok ataupun di luar kelompok dapat
mengubah sikap atau membentuk sikap baru. Interaksi di luar
kelompok adalah interaksi dengan hasil buah kebudayaan manusia
yang sampai kepadanya melalui media komunikasi.164
Selain itu, perilaku juga berpengaruh dalam pembentukan
suatu sikap. Adanya hubungan yang erat antara sikap dan perilaku
didukung oleh pengertian sikap yang menyatakan bahwa sikap
merupakan kecenderungan untuk bertindak.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Warner dan De
Fleur (1996) didefinisikan tiga postulat hubungan sikap dan
perilaku, yaitu sebagai berikut:
1. Postulat keajekan (consistency)
Sikap verbal merupakan alasan yang masuk akal untuk
menduga hal-hal yang akan dilakukan oleh seseorang apabila
berhadapan dengan objek sikapnya. Dengan kata lain, ada
hubungan langsung antara sikap dan perilaku.
2. Postulat ketidakajekan (inconsistency)
Postulat ini membantah adanya hubungan yang
konsisten antara sikap dan perilaku. Sikap dan perilaku adalah
dimensi individual yang berbeda dan terpisah. Dengan kata
lain, sikap dan perilaku tidak bergantung satu sama lain.
3. Postulat konsistensi kontingen (postulat keajekan yang tidak
tentu)
Postulat ini mengusulkan bahwa hubungan sikap dan
perilaku bergantung pada faktor-faktor situasi tertentu pada
variable antara. Pada situasi tertentu dapat diharapkan adanya
hubungan antara sikap dan perilakun, dan dalam situasi lain,
hubungan tersebut tidak terjadi. Postulat ini dapat
menerangkan hubungan antara sikap dan perilaku.165
Beberapa teori berikut digunakan untuk memberi
gambaran mengenai dampak perilaku terhadap sikap.
1. Role Playingi
Metode yang akhir-akhir ini banyak digunakan dalam
berbagai program pengembangan SDM., sebetulnya
menggunakan prinsip ini juga. Sebagai contoh, program
pelatiham untuk tenaga calon salesman, dimana individu

164 Bambang Samsul Arifin. 2005. Psikologi Sosial. Bandung: CV PUSTAKA

SETIA. Hal 133-134.


165 Ibid. Hal 136-137.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 142


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

dilatih untuk berjalan, berpakaian dan berbicara dengan cara-


cara tertentu. Setelah beberapa waktu melakukan keterampilan
barunya, sikap kerja seorang salesman yang suka akan
kerapihan, berjalan dengan percaya diri, menghargai orang
lain pada saat berbicara akan terbentuk pada diri salesman
tersebut.
Pengalaman individu pada saat memainkan perannya
memberikan tidak hanya pengalaman perilaku tetapi
pengalaman emosi yang menyertai pada saat individu
melakukan peran tersebut.
Teori Role Playing yang secara langsung memberikan
kesempatan pada individu untuk mengalami perilaku ini dapat
digunakan dalam menjelaskan dikap terhadap TIK. Frekuensi
individu menggunakan TIK untuk komunikasi dan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapat reinforcement
positif dalam kaitannya dengan TIK ini daripada individu yang
frekuensi menggunakan TIK lebih rendah. Semakin sering
menggunakan TIK individu akan semakin merasa nyaman
menggunakannya.

2. Cognitive Dissonance
Leon Festinger (1957) mengemukakan bahwa
perubahan sikap dapat juga terjadi karena adanya cognitive
dissonance. Pada saat keterampilan baru telah dikuasai oleh
individu, terjadi proses ketidak selerasan antara perilaku dan
keyakinan dan respon afektif yang sifatnya pribadi. Dengan
kata lain perubahan sikap terjadi karena adanya keinginan
individu untuk menghilangkan keadaan dissonance. Contoh
yang dapat digunakan dalam menejelaskan mengenai
disonansi kognitif ini misalnya individu yang sebelumnya
tidak suka menggunakan media TIK untuk berkomunikasi
karena menganggap TIK menghilangkan unsur “human”
dalam interaksi antar individu. Di dalam pekerjaannya, ia
harus menggunakan TIK untuk melayani pelanggan atau
berkomunikasi dengan atasan yang lokasinya berbeda kota.
Dalam hal ini ada ketidak selarasan antara keyakinan bahwa
TIK tidak “humanis” dengan perilakunya menggunakan TIK.
Untuk menghilangkan ketidakselarasan ini, individu
mengubah sikapnya menjadi positif terhadap TIK.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 143


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

C. Komunikasi Persuasi dalam Penyampaian dan


Penerimaan Pesan
Menurut Deddy Mulyana komunikasi persuasi adalah
suatu proses komunikasi dimana terdapat usaha untuk
meyakinkan orang lain agar publiknnya berbuat dan
bertingkah laku seperti yang diharapkan komunikator dengan
cara membujuk tanpa memaksanya. Sedangkan menurut K.
Anderson, komunikasi persuasi didefinisikan sebagai perilaku
komunikasi yang mempunyai tujuan mengubah keyakinan,
sikap atau perilaku individu atau kelompok lain melalui
transmisi beberapa pesan.
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
komunikasi persuasi adalah komunikasi yang bertujuan untuk
mengubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap dan
perilaku seseorang melalui penggunaan pesan sehingga
bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
komunikator.
Pada dasarnya komunikasi persuasi bertujuan
menguatkan atau mengubah sikap dan perilaku, sehingga
penggunaan fakta, pendapat, dan himbauan motivasional harus
harus bersifat memperkuat tujuan persuasinya. Kita perlu
memahami kemampuan melakukan komunikasi persuasi
dengan membayangkan bagaimana hidup kita tanpa
kekmampuan untuk mempengaruhi atau membujuk orang
lain.166
Jadi, semakin baik penilaian seseorang terhadap
sumber komunikasi, semakin besar kemungkinan orang itu
akan mengubah sikapnya. Tetapi ada beberapa cara dimana
komunikator dapat dinilai baik, dan tidak semuanya
memberikan hasil yang tepat sama.
Penelitian tentang gejala ini dimulai dengan “efek
wibawa”. Ini digambarkan dalam penelitian Lorge mengenai
alih perasaan. Penelitian itu membandingkan efektivitas tokoh
yang dinilai baik, seperti Lenin, secara global tanpa berusaha
memerinci karakteristik tertentu yang menimbulkan
“wibawa”. Penelitian selanjutnya membatasi konsep ini pada
kredibilitas, yang terutama terdiri dari dua faktor yaitu
keahlian dan keterandalan.167

166 Mulyana. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya. Hal 115-116.


167 David O. Sears, dkk. 1985. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga. Hal 178-

179.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 144


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Para peneliti dari Ohio State University menyatakan


bahwa pemikiran seseorang dalam merenpons pesan yang
persuasi juga merupakan hal yang penting. Jika sebuah pesan
jelas namun tidak meyakinkan, maka anda akan dengan
mudah melawan pesan tersebut dan tidak akan terbujuk. Jika
pesan tersebut menawarkan argument yang meyakinkan, maka
pemikiran anda akan lebih memihak dan anda kemungkinan
besar akan terbujuk. Pendekatan “respons kognitif” ini
membantu kita memahami mengapa persuasi lebih mudah
terjadi pada situsi tertentu dibandingkan siatusi lainnya.168
Para psikolog sosial telah menemukan bahwa siapa
yang mengatakan sesuatu akan memiliki pengaruh pada
bagaimana khlayak menerimanya. Hal yang penting bukan
hanya pesannya, namun siapa yang mengatakan pesan itu. Apa
yang membuat seorang komunikator lebih persuasif dari
komunikator lainnya? Yaitu komunikator yang memiliki
kredibilitas dan keterpercayaan yang dipersepsi. Gaya bicara
juga mempengaruhi kepercayaan pembicara.Keterpercayaan
juga lebih tinggi jika khalayak percaya bahwa komunikator
tidak sedang mencoba membujuk mereka.169
Norman Miller dan koleganya (1976) di University of
Southern California menemukan bahwa persepsi akan
keterpercayaan dan kredibilitas juga meningkat ketika orang
berbicara dengan cepat. Orang yang mendengar pesan yang
direkam menilai pembicara cepat sebagai pembicara yang
lebih objektif, cerdas dan berpengetahuan disbanding
pembicara lambat. Mereka juga menemukan bahwa semakin
cepat pembicara berbicara, maka semakin persuasiflah ia.
Jelasnya, komunikator mendapatkan kredibilitas jika
mereka nampak ahli dan terpercaya. Ketika kita mengetahui
perkembangan bahwa sebuah sumber pesan dapat dipercaya,
maka kita berpikir dengan pemikiran yang lebih sependapat
untuk merespon pesan tersebut. Jika kita mempelajari sumber
pesan setelah pesannya menghasilkan oemikiran yang
sependapat, maka kredibilitas yang tinggi tersebut akan
emperkuat kepercayaan kita akan pemikiran kita yang juga
akan memperkuat dampak persuasif dari pesan tersebut. 170

168 David G. Myers. 2014. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Hal
306.
169 Ibid. Hal 310-311
170 Ibid. Hal 312.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 145


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB XII
MANAJEMEN KONFLIK DALAM
PSIKOLOGI KOMUNIKASI

A. Konflik dalam Presfektif Psikologi Komunikasi


Secara etimologis, kata konflik berasal dari kata kerja
latin configere yang berati saling memukul. Secara sosiologis,
konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang
atau lebih yang salah satu pihak berusahaa menyingkirkan
pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri
yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan
tersebut menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan,adat
istiadat, serta kenyakinan.171
1. Jenis konflik
a. Konflik intrapersonal, yaitu konflik yang terjadi pada
diri individu yang diakibatkan adanya pertentangan
antara ego dan realitas.
b. Konflik interpersonal, yaitu konflik yang melibatkan
orang lain, akibat adanya perbedaan dalam memahami
sesuatu.172
Komunikasi adalah sebagai suatu kegiatan dalam
pertukaran pesan sesui dengan pertumbuhan isu, atau
informasi dalam kehidupan bermasyarakat. Jika isu atau
informasi yang dikembangkan orang dalam berinteraksi
tidak berseirama dengan apa yang terjadi maka timbulah
konflik dalam setiap proses pertukaran pesan, baik yang
bhersifat individu, kelompok maupun masyarakat, dalam
kehidupan masyarakat.
a. Kehidupan masyarakat
Perkembangan teknologi mempengaruhi
perubahan sosial budaya masyarakat. Ilmu komunikasi
berkembang atas dasar saham-saham ilmu sosial
lainnya. Pada ilmu ini komunikasi berkembang, salah
satunya teori evolusi.

171Endin Nasrudin.2015.Psikologi Komunikasi.(Bandung: Pustaka


Setia).Hal.214-215
172Harmaini.dkk. 2016. Psikologi Kelompok. ( Jakarta: Raja Grafindo Persada).

Hal.146-147

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 146


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

b. Konflik sebagai suatu akibat komunikasi


Pertumbuhan konflik dalam proses komunikasi,
terjadi akibat pelemparan pesan yang tidak memuaskan
antara keunikan dengan komunikator. Konflik
berkembang atas dasar terjadinya pertentangan
kepentingan antara pekerja dengan yang
memperkerjakan terhadap pemberian upah, akibat
perbedaan pemaknaan dan kepentingan maka konflik
muncul yang disebut dengan konflik industri.
c. Analisis komunikasi dalam konflik
Komunikasi dapat diartikan dan dipahami dalam
arti melaksanakan kekuasaan. Konsed inilah yang dapat
menempatkan posisi tersendiri dalam proses
komunikasi sebagai suatu unsur kontrol sosial, dimana
seseorang sebagai anggota masyarakat mempengaruhi
prilaku, keyakinan sikap dan sebaginya dari suatu
suasana dan tindakan sosial.
Ada beberpa contoh dari konflik komunikasi
diantaranya:sedang terjadi ditengah- tengah masyarakat
Indonesia, timbul perbedaan sesama elite politik bangsa
bisa-bisa menjadi konflik nasional. Mahasiswa berdeda
ide dalam mengadili Soeharto, masyarakat Irian, Riau,
dan Aceh minta pisah dengan Negara Republik
Indonesia hanya karana pemaksaan pesan dalam setiap
proses komunikasi oleh penguasa.173

2. Beberapa pandangan mengenai peran konflik


a. Pandangan tradisional, pandangan ini menyatakan
bahwa konflik merupakan hal yang buruk, sesuatu yang
negatif, merugikan, dan harus dihindari.
b. Pandangan hubungan manusia, pandangan ini
menyatakan bahwa konflik merupakan suatu peristiwa
yang wajar terjadi didalam kelompok atau organisasi.
c. Pandangan interaksionis , pandangan ini cenderung
mendorong terjadinya konflik dalam oraganisasi.174

173 Ridwan Usman. Konflik Dalam Persfektif Komunikasi. Jurnal Mediator. Vol. 2.
No. 1. Hal 31-36.
174 Adang Hambali. 2015. Psikologi Sosial.(Bandung: Pustaka Setia).Hal.243-244

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 147


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

B. Psikologi Komunikasi dan Manajemen Konflik


1. Ruang lingkup psikologi komunikasi
Dance (1997)mengartikan komunikasi dalam
kerangka psikologi behaviorisme sebagai usaha
menimbulkan respon melalui lambang-lambang
verbal,ketika lambang-lambang verbal tersebut bertindak
sebagi stimuli.
Kamus psikologi, Dictionary of Behavioral Science,
menyebutkan enam pengertian kominukasi:
a. Penyampaian perubahan energi dari satu tempat
ketempat yang lain seperti dalam sistem saraf atau
penyampaina gelombang-gelombang suara.
b. Penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh
organisme.
c. Pesan yang disampaikan.
d. (Teori komunikasi).Proses yang dilakukan satu sistem
untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui
pengaturan signal-signal yang disampaikan.
e. Pengaruh suatu wilayah persona pada wilayah persona
yang lain sehingga perunahan dalam suatu wilayah
menimbulkan perubahan yang berkaitan pada wilayah
lain.
f. Pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi.
Daftar pengertian diatas menunjukan rentangan
makna komunikasi sebagaimana digunakan dalam dunia
psikologi.Dalam psikologi,komunikasi mempunyai makna
yang luas, meliputi segala penyampaian energi, glombang
suara,sistem atau oraganisme. Kata kamonukasi sendiri
dipergunakan sebagai peroses, sebagai pesan, sebagai
pengaruh, atau secara khusus sebagai pesan pasien dalan
psikoterapi.
Jadi psikologi menyebut komunikasi pada
penyampaian energi dari alat-alat indra ke otak, pada
peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada
proses saling pengaruh antar berbagai sistem dalam diri
organisme dan diantara organisme.175

2. Manajemen konflik
Organisasi sebagai suatu sistem terdiri atas
komponen-komponen (subsistem) yanga saling berkaitan

175 Jalaluddin Rahmat. 2007. Psikologi Komunikasi.(Bandung:Remaja


Rosdakarya). Hal. 3-4

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 148


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

atau saling bergantung satu sama lain dan dalam proses


kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Subsistem yang
saling bergantung itu adalah tujuan dan nialai-nilai,
teknikal, manajerial, psikososial, dan subsisten sruktur.
Dalam prose interksi anatar suatu subsistem dan subsistem
lainya, tidak ada jaminan selalu terjadi kesesuain atau
kecocokan antara individu pelaksanaannya. Setiap saat
ketegangan dapat muncul, baik antar individu maupun
antyar kelompok dalam organisasi, banyak faktor yang
melatar belakangi munculnya ketidak cocokkan atau
ketegangan, anatara lain sifat-sifat pribadi yang berbeda,
perbrdaan kepentingan, komunikasi yang buruk, perbedaan
nilai, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan inilah yang
akhirnya membawa organisasi kedalam suasana konflik.
Agar organisasi dapat tampil efektif, individu dan
kelompok yang saling bergantung itu harus asaling
menciptakan hububngan kerja yang saling mendukung satu
sama lain, menuju pencapaian tujuan oraganisasi.
Konflik dapat menjadi ,masalah yang serius dalam
setiap organisasi, konflil tersebut mungkin tidak dapat
memebawa kematian, tetapi pasti dapat menurunkan
kinerja organisasi yang bersangkutan jika konflil tersebut
dibiarkan kerlarut-larut tanpa penyesalan.
Munculnya konflik dilatarbelakangi oleh adanya
ketidak cocokan atau perbedaan dalam hal nilai, tujuan,
status, dan budaya. Beberpa teori mengartikan konflik
sebagai berikut:
a. Pertentangan
b. Perilaku
c. Hubungan
d. Situasi

3. Pandangan tentang konflik


Ada yang berpadangan bahwa konflik suadah
menjadi hukuam alam. Oleh karna itu, tidak dapat
dihilangkan karna manusia diciptakan dalam keadaan
berbeda-beda kepentingan. Sebaiknya, konflik ndikelola
sehingga membawa keuntungan bagi kelompok dan
organisasi.
a. Pandangan tradisional
Pandangan ini menyatakan bahwa semua
konflik itu burur. Konflik dilihat sebagai sesuatu yang
negatif, merugikan, dan harus dihindari.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 149


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

b. Pandangan hubungan manusia


Pandanagn ini menyatakan bahwa konfklik
merupakan peristiwa yang wajar terjadi dalam semua
kelompok dan organisasi.konflik merupakan sesuatu
yang tidak dapat dihindari karna itu keberadaan konflik
yang harus diterima dan di rasionalisasikan sedemikian
rupa sehingga bermanfaant bagi peningkatan kinerja
organisasi.

c. Pandangan interaksionis
Pandangan ini cenderung mendorong terjadinya
konflik, atas asumsi bahwa kelompok yang koperatif,
tenang, dan serasi, cenderung menjadi statis, apatis,
tidak aspiratif, serta tidak inovatif.

d. Jenis-jenis konflik
1) Konflik dilihat dari fungsinya
(a) Konflik fungsional adalah konflik yang
mendukung pencapaian tujuan kelompok, dan
memperbaiki kinerja kelompok.
(b) Konflik disfungsional yaitu konflik yang
merintangi pencapain tujuan kelompok.
Menurut Robbins, konflik mungkin fungsional
bagi suatu kelompok, tetapi tidak fungsional
bagi kelompok lain. Begitu pula konflik dapat
fungsional pada waktu tertentu, tetapi tidak
fungsional pada waktu yang lain. Kriteria yang
membvedakan konfli fungsional atau
disfungsional adalah dampak konflik tersebut
terhadap kinerja kelompok, bukan pada kinerja
individu.

2) konflik dilihat dari pihak yang terlibat


(a) konflik dalam diri individu. Konflik ini terjadi
jika seseorang harus memilih tujuan yang saling
bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang
melebihi batas kemampuannya.
(b) konflik antar individu. Terjadi karena perbedaan
kepribadian antara individu yang satu dan
individu yang lain.
(c) konflik antara individu dan kelompok. Konflik
ini terjadi jika individu gagal menyesuaikan diri

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 150


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

dengan norma-norma kelompok tempat ia


bekerja.
(d) konflik antar kelompok dalam organisasi yang
sama. Konflik ini terjadi karena masing-masing
kelompok memiliki tyujuan yang berbeda dan
masing-masing berupaya untuk mencapainya.
(e) konflik antar organisasi. Konflik ini terjadi jika
tindakan yang dilakukan oleh organisasi
menimbulkan dampak negatif bagi organisasi
lainnya.
(f) konflik antar individu dalam organisasi yang
berbeda. Konflik ini terjadi sebagai akibat sikap
atau perilaku dari anggota suatu organisasi yang
berdampak negatif bagi anggota organisasi yang
lain.

3) Konflik dilihat dari posisi seseorang dalam struktur


organisasi
(a) konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi antar
karyawan yang memiliki kedudukan yang tidak
sama dalam organisasi.misalnya, antara atasan
dan bawahan.
(b) konflik horizontal, yaitu konflik yang terjadi
antara mereka yang memiliki kedudukan yang
sama atau setingkat dalam organisasi.
(c) konflik garis staf, yaitu konflik yang terjadi
antara karyawan lini yang memegang posisi
komando, Dengan pejabat staf yang berfungsi
sebagai penasihat dalam organisasi.
(d) Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena
seseorang mengemban lebih dari satu peran
yang saling bertentangan.

e. Sumber-sumber Konflik
1) Komunikasi
Komunikasi yang menimbulkan
kesalahpahaman antara pihak-pihak yang terlibat,
dapat menjadi sumber konflik. Misalnya,
komunikasi antara kepala atau pimpinan sekolah
dengan ketua yayasan pendidikan yang buruk dan
saling berprasangka, dapat mengakibatkan konflik.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 151


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

2) Struktur
Istilah struktur dalam konteks ini digunakan
dalam artian yang mencakup ukuran (kelompok),
derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota
kelompok, kejelasan yurisdiksi (wilayah kerja),
kecocokan antara tujuan anggota dan tujuan
kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan,
dan derajat ketergantungan antara kelompok.
Ukuran kelompok dan derajat spesialisasi
merupakan variabel yang mendorong terjadinya
konflik.
3) Variabel pribadi
Variabel pribadi diantaranya sistem nilai
yang dimiliki tiap-tiap individu, karakteristik
kepribadian yang menyebabkan individu memiliki
keunikan dan berbeda dengan individu yang lain.

f. Sisi positif dan Negatif Konflik


Konflik tidak selamanya berdampak negatif.
Konflik juga memiliki sisi positif. Konflik memiliki
nilai positif, misalnya apabila konflik terjadi karena
adanya sisitem pelayanan yang kurang memuaskan dari
pimpinan lembaga kepada para pegawainya, solusinya
adalah pimpinan lembaga menyadari keteledorannya
dan meningkatkan pelayananya.
Dengan demikian, bagaimana mengusahakan
agar konflik berada pada situasi optimal, sehingga
konflik tersebut dapat mencegah kemacetan,
merangsang kreativitas, menghilangkan ketegangan,
dan memprakarsai beni-beni untuk perubahan. Robbins
menjelaskan bahwa konflik itu baik bagi organisasi
jika:
1) Konflik merupakan alat untuk menimbulkan
perubahan.
2) Konflik mempermudah terjadinya keterpaduan
kelompok.
3) Konflik dapat memperbaiki efektivitas kelompok
dan organisasi.
4) Konflik menimbulkan tingkat ketegangan yang
sedikit lebih tinggi dan lebih konstruktif.
Tingkat konflik yang tidak memadai (terlalu
rendah) atau terlalu berlebihan (konflik tinggi) dapat
merintangi efektivitas organisasi untuk mencapai

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 152


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

kualitas pelayanan publik yang tinggi. Untuk itu


diperlukan keahlian mengelola konflik dari setiap
pimpinan organisasi publik. Penggunaan berbagai
teknik pemecahan dan motivasi untuk mencapai tingkat
konflik yang diinginkan disebut manajemen konflik.
Sisi negatif konflik adalah jika tidak diketahui
latar belakang munculnya konflik atau sengaja tidak
diinvestigasi, konflik semakin membesar dan
menimbulkan dampak yang merugikan semua pihak.

g. Teknik Manajemen Konflik


Upaya penanganan konflik sangat penting
dilakukan karena setiap jenlam organisasi cenderung
mendatangkan konflik. Konflik yang tidak ditangani
dengan baik dan tuntas akan mengganggu
keseimbangan sumber daya, dan menegangkan
hubungan antara orang-orang yang terlibat. Menurut
Gibson (1997), kegagalan dalam menangani konflik
dapat mengarah pada akibat yang mencelakakan.
Salah satu contoh dari manajemen konflik yait:
perubahan nilai, contohnya saja dalam suatu pesan
terdapat kelompok masyarakat dimana industrialisasi
memunculkan sebuah konflik dan nilai-nilai tradisional
masyarakat banyak nilai-nilai yang berubah seperti
kegotongroyongan menjadi kontrak kerja dengan
banyaran yang disesuikan jenis pekerjaannya,
kekerabatan berubah jadi hubungan struktural menjadi
formal perusahaan, nilai kebersamaan menjadi sebuah
individualisis, pemanfaatan waktu yang cenderung
tidak ketat begeser menjadi jadwal kerja dan istirahat
dalam industri.176

176 Boedi Abdullah. 2013. Manajemen Pendidikan Islam.(Bandung: Puataka

Setia). Hal. 293-303

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 153


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

BAB XIII
DIMENSI BUDAYA DALAM KAJIAN
PSIKOLOGI KOMUNIKASI

A. Dimensi Budaya dalam Kajian Psikologis


1. Pengertian psikologi komunikasi dan dimensi budaya
Psikologi terdiri dari atas dua kata, yaitu psyche dan
logos. Psyche adalah bahasa yunani yang artinya jiwa,
sedangkan logos artinya ilmu. Jadi psikologi dapat
diartikan dengan “ilmu jiwa”. Makna ilmu jiwa bukan
mempelajari jiwa dalam pengertian jiwa sebagai soul atau
roh, tetapi lebih kepada mempelajari gejala-gejala yang
nampak dari manusia yang ditafsirkan sebagai
latarbelakang kejiwaan seseorang atau spirit dari manusia
sebagai makhluk yang berjiwa. Psikologi juga dapat
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari sifat-sifat
kejiwaan manusia dengan cara mengkaji sisi perilaku dan
kepribadiannya, dengan pandangan bahwa setiap perilaku
manusia berkaitan dengan latarbelakang kejiwaannya.177
Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui
perilaku verbal dan nonverbal. Segala perilaku dapat
disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih.
Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber
membangkitkan respon pada penerima melalui
penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau symbol,
baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk nonverbal
(nonkata-kata), tanpa harus memastikan terlebih dulu
bahwa kedua pihak yang berkomunikasi punya suatu
sistem symbol yang sama.178 Komunikasi dapat juga
diartikan sebagai apa yang terjadi bila makna yang
diberikan kepada suatu perilaku. Bila seseorang
memperhatikan perilaku kita dan memberinya makna,
komunikasi telah terjadi terlepas dari apakah kita
menyadari perilaku kita atau tidak. Bila kita memikirkan
hal ini, kita harus menyadari bahwa tidak mungkin bagi
kita untuk berperilaku. Setiap perilaku memiliki potensi
komunikasi. Maka tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak

177Rosleny Marliani. Psikologi Umum. Bandung. Pustaka Setia.2010. Hal.13


178 Dedy Mulyana. Psikologi Efektif. Bandung. Remaja Rosdakarya. 2008. Hal.
3

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 154


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

berkomunikasi, dengan kata lain kita tidak dapat


berkomunikasi.179
Adapun dimensi budaya menurut Hofstede adalah
perbandingan budaya mengandaikan bahwa ada sesuatu
yang harus dibandingkan, setiap budaya tidak begitu unik,
setiap budaya yang parallel dengan kebudayaan lain tidak
memiliki makna yang berarti.
Maka budaya adalah suatu konsep yang
membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan
sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan,
nilai, sikap, makna hirarki, agama, waktu, peranan,
hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi
dan milik yang diperoleh sekolompok besar orang dari
generasi kegenerasi melalui usaha individu dan
kelompok.180
Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan
karena budaya tidak hanya menentukan siapa yang bicara
dengan siapa, tentang apa dan bagaimana orang menyandi
pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-
kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan
menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh perbendaharaan
perilaku kita sangat tergantung pada budaya tempat kita
dibesarkan. Konsekuensinya, budaya merupakan landasan
komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka
ragam pula praktik-praktik komunikasi. Komunikasi antar
budaya adalah komunikasi antara orang-orang yang
berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-
perbedaan sosio ekonomi). Seperti yang ditunjukan definisi
tersebut, penggolongan kelompok-kelompok budaya tidak
bersifat mutlak, kita boleh memilih satu atau lebih ciri
untuk menandai sebuah kelompok yang memiliki budaya
yang sama.181

B. Faktor Budaya dalam Proses Interaksi dan Komunikasi


Komunikasi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari
konteks sosial budaya masyrakat penuturnya karena selain
merupakan fenomena sosial, komunikasi juga merupakan
fenomena budaya. Sebagai fenomena sosial bahasa merupakan

179Dedy Mulyana, dan Jalaluddin Rahmat. Komunikasi antarbudaya. Bandung.

Remaja Rosdakarya. 2005. Hal. 13


180 Ibid Hal. 18
181 Dedy Mulyana, dan Jalaluddin Rahmat. Human Communication. Bandung.

Remaja Rosdakarya. 2005. Hal. 237

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 155


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

satu bentuk prilaku sosial yang dilakukan sebagai sarana


komunikasi dengan melibatkan sekurang-kurangnya dua orang
peserta. Oleh karena itu, berbagai faktor sosial yang berlaku
dalam komunikasi seperti hubungan peran diantara peserta
komunikasi, tempat komunikasi berlangsung, tujuan
komunikasi, situasi komunikasi, status sosial, pendidikan,
usia, dan jenis kelamin peserta komunikasi, juga berpengaruh
dalam penggunaan bahasa.
Sementara itu, sebagai fenomena budaya,komunikasi
selain merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai
budaya masyrakat penuturnya. Atas dasar itu, pemahaman
terhadap unsur-unsur budaya suatu masyarakat disamping
terhadap berbagai unsur sosial yang telah disebutkan di atas
merupakan hal yang sangat penting dalam mempelajari suatu
komunikasi. Hal yang sama berlaku pula bagi komunikasin di
Indonesia. Oleh karena itu, mempelajari bahasa Indonesia
lebih-lebih lagi bagi para penutur asing berarti pula
mempelajari dan menghayati perilaku dan data nilai sosial
budaya yang berlaku dimasyarakat Indonesia.

C. Komunikasi Lintas Budaya


Setiap orang mempunyai suatu sistem pengetahuan dari
budayanya berupa realitas yang tak pernah dipersoalkan lagi.
Realitas ini menyediakan skema-skema interpretative bagi
seseorang untuk menafsirkan tindakannya dan tindakan orang
lain. Sistem makna kultural antara lain, merupakan aturan
budaya dan tema nilai.
Aturan dan nilai adalah inspensi-inspensi budaya insani
yang timbul dari suatu masyarakat tertentu, yang secara
ekologi sesuai, tapi aturan dan nilai bukan tidak pernah
berubah. Aturan dibuat, dilanggarr, dinegosiasikan, diabaikan,
dan diubah.
Aturan dan nilai juga dipengaruhi oleh budaya. Budaya
yang berbeda menetapkan aturan berbeda untuk mencapai hal
yang sama. Harapan akan tindakan juga berlaianan. Begitu
juga makna dari peristiwa yang sama. Konsekuensinya,
tindakan yang sama dinilai secara berlainan pula. Ada konflik
antara struktur makan suatu budaya dengan struktur budaya
lainnya. Derajat dan bentuk konflik tersebut adalah fungsi
derajat dan tipe perbedaan antara aturan dan nilai yang berlaku
dalam kedua budaya tersebut.
Komunikasi lintas budaya yang mana terjadi dibawah
suatu kondisi kebudayaan yang berbeda bahasa, norma-norma,

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 156


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

adat istiadat dan kebiasaan. Contohnya seperti kerumitan


dalam menggunakan etika bahasa verbal karena perbedaan-
perbedaan budaya antara suatu masyarakat dengan masyarkat
yang lainnya jelas memperumit penilaian atas etika
komunikasi. Tradisi orang jepang untuk memelihara
keselarasan kelompok, membuat orang jepang enggan
menyakiti orang lain atau menolak sesuatu secara langsung.
Dalam bahasa jepang secara gramatika adalah benar untuk
berkata, “Ya, saya tak setuju dengan anda” untuk pertanyaan,
“anda tak setuju dengan saya, bukan?”. Sering problem
komunikasi diperparah dengan penggunaan kata hai’ yang
berarti ya. Orang jepang sering berkata hai wakarimashita
atau “ya, saya mengerti” tetapi tidak berarti “saya setuju
dengan anda”. sering mereka mengatakan ya yang maksudnya
tidak.182
Selain itu, etika berbicara bervariasi misalnya dalam
kontek bisnis seperti umumnya orang jerman dan orang
swedia adalah pendengar yang baik. Namun tidak demikian
halnya orang italia dan orang spanyol mereka sering
memotong pembiacaraan dengan bahsa tubuh dan isyarat
tangan yang hidup terkesan berlebihan. Di jepang dan
finlandia, diam adalah suatu bagian integral dalam percakapan
jeda dianggap sebagai istirahat, ramah, dan pantas. Karena itu
orang jepang tidak menyukai orang amerika yang
argumentative, sementara orang amerika sulit memahami
orang jepang yang pendiam.
Riset menunjukkan, orang amerika menganggap orang
yang gemar berbicara sebagai orang yang menarik, sedangkan
orang korea menganggap orang yang kurang berbicara sebagai
atraktif. kesulitan tersebut muncul saat kita pertama kali
bertemu dengan calon mitra bisnis, bagaimana kita harus
menyapanya, menggunakan gelarnya untuk menghormatinya
atau memanggil nama pertama supaya cepat akrab. Di
Amerika atau di Australia,anda bisa langsung memanggil
nama pertamanya kepada mitra bisnis anda yang baru, tetapi
jangan melakukan itu di jerman dan italia. Di kedua negara itu,
mereka yang punya gelar khususnya biasanya dipanggil “Tuan
Profesor” dan sebagainya.183

182Deddy Mulyana, Komunikasi Lintas Budaya, Bandung, Remaja


Rosdakrya,2015, hal 4.
183 Ibid. hal 5.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 157


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

D. Ragam Permasalahan Budaya dalam Kajian Psikologi


Komunikasi
Meskipun sarana transportasi dan komunikasi modern
telah memungkinkan kita berhubungan dengan hampir semua
orang di seluruh dunia, kapasitas teknis untuk mengirim dan
menerima pesan tidak dengan sendirinya membuat orang-
orang yang berbeda budaya dapat berkomunikasi dengan
efektif. Perkembangan-perkembangan teknologi komunikasi
yang dramatic telah melampaui kemampuan kita untuk
berkomunikasi efektif dengan orang-orang yang punya bahasa
berbeda, kepercayaan dan nilai berbeda, dan pengharapan
berbeda akan hubungan manusia. Interaksi antara orang-orang
berbeda budaya telah menimbulkan lebih banyak salah
pengertian daripada pengertian.184
Adapun masalah-masalah atau kendala-kendala budaya
dalam psikologi komunikasi antara lain sebagai berikut:
1. Pesan verbal
Pada tingkat pribadi, mempelajari suatu bahasa
asing secara tidak layak, meskipun hanya beberapa kata,
dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan yang segera.
Perbedaan bahasa dapat menukik lebih jauh lagi daripada
kekacauan-kekacauan penerjemahan. Bahasa-bahasa
berbeda lebih dari sekedar yang ditunjukkan terjemahan
kita demi kata karena orang-orang yang berbicara bahasa
itu mempunyai kebutuhan yang berlainan.
Kata krasnyi mempunyai citra yang berbeda
misalnya, bagi seorang Rusia
Krasnyi = indah/cantic
Pryekrasnyi = sangat elok
Krasnaya ryiba = ikan yang baik (misalnya salmon
Krasnoye zoloto = emas murni (emas” murni”)
Krasna devitza = gadis yang cantic
Terjemahan simbolik yang jauh lebih baik kata ini
adalah seperti emas (keemasan) dalam bahas inggris
golden, seperti dalam kata zaman keemasaan, kesempatan
emas, dan sebagainya. Tidak diragukan, seorang Rusia
mungkin menerjemahkan kembali kata ini ke dalam bahasa
Rusia yang berarti “warna uang”.
Bila dua budaya sangat berbeda dalam persepsi tentang
bagaimana bahasa berfungsi dalam komunikasi, seperti

184 Dedy Mulyana. human communication konteks-konteks komunikasi.

Bandung. Remaja Rosdakarya. 2005. Hal. 240

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 158


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

antara komunikasi keonteks-tinggi dan komunikasi


konteks-rendah, mungkin ada juga perbedaan tentang
bagaimana “tindakan bertanya” dinilai. Misalnya, orang
yang menanyakan suatu pertanyaan mungkin menganggap
bertanya sebagai perlu dan tidak berbahaya; orang yang
ditanya mungkin tersinggung dan bahkan tidak mau
mengatakan kebenaran. Dalam transaksi bisnis di jepang.185

2. Pesan nonverbal
Sistem komunikasi nonverbal berbeda dari satu
budaya ke budaya lain seperti juga sistem verbal. Banyak
orang Amerika di luar negeri merasa malu ketika mereka
menemukan bahwa isyarat dua-jari yang mereka maksud
“beri saya dua” bermakna jorok di banyak negara lain.
Mereka juga keliru dengan selalu mengartikan anggukan
kepada sebagai ya. Di beberapa negara, suatu anggukan
kepala berarti “tidak”; di sebagian negara lainnya,
anggukan kepala sekedar menunnjukan bahwa orang
mengerti pertanyaan yang diajukan. Di Amerika isyarat
untuk “oke” (bagus) adalah suatu lingkaran yang dibentuk
oleh ibu jari dan telunjuk dengan ketiga jari yang lainnya
berdiri. Namun, di Paris isyarat ini berarti “kamu tidak
berharga”, dan di Yunani itu berarti ajakan seksual yang
tidak sopan.186

3. Hubungan norma dan peran


Budaya-budaya juga bervariasi dalam konteks
dimana sitem-sistem verbal dan nonverbal digunakan.
Ketika kita akan bersahabat dengan seorang mahasiswa
asing atau bekerja dengan orang-orang di luar negri dalam
bisnis, penting diingat bahwa hubungan pribadi dan
hubungan kerja tidak sama dan tidak berkembang dengan
cara yang sama dalam setiap budaya. Orang-orang dalam
budaya yang berbeda mengharapkan perilaku-perilaku
yang berbeda dari satu sama lainnya dalam suatu
hubungan.
a. Norma
Norma adalah atuaran-aturan mapan tentang
perilaku yang diterima dan layak. Meskipun kita sering
menggunakan aturan-aturan ini seolah-olah aturan-

185 Ibid. hal 243-244


186 Ibid. hal 245-246

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 159


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

aturan tersebut mutlak atau standar naluriah, aturan-


aturan tersebut sebenarnya secara kultural
dikembangkan dan diwariskan. Bila anda dibesarkan di
amerika serikat, misalnya, anda munngkin dididik
unntuk berbicara jelas dan melihat orang lain berbicara
kepada anda, dan bahwa berkomat-kamit dan melongos
ketika orang berbicara kepada anda tidaklah sopan.
Suatu alasan mengapa kita tidak dapat
menerapkan norma-norma umum amerika ke
kelompok-kelompok lain adalah bahwa sedemikian
banyak budaya yang kurang menekankan
penyingkapan diri. Membicarakan perasaan dan
bersikap terbuka mengenai ketidakpuasaan seseorang
bahkan dengan seorang anggota keluarga.187

b. Peranan
Peranan adalah perangkat-perangkat norma yang
berlaku bagi kelompok-kelompok orang yang spesifik
dalam suatu masyarakat. Peranan juga sangat
bervariasi dalam berbagai budaya. Perbedaan-
perbedaan peranan pria dan wanita mungkin
merupakan perbedaan-perbedaan paling nyata dalam
hubungan manusia.
Para peneliti dari beberapa disiplin mengakui
bahwa dari perkawinan dua orang dari budaya-budaya
yang berlainan, berbeda dari perkawinan dua orang
dari budaya yang sama. Ketika seorang suami atau istri
gagal mengkomunikasikan keperintangan atau
menganggap pasangannya tidak terikat oleh
budayanya, masalah mungkin akan timbul. Dalam
pandangan ini, suatu kesadaran akan perbedaan-
perbedaan budaya harus mendahului perkembangan
penghargaan dan kepekaan; “perbedaan budayalah
yang membuat pernikahan lebih bervariasi, menarik,
dan lebih kaya”.188

4. Kepercayaan dan nilai


Sulit memahami dan menerima nilai-nilai budaya
lain bila nilai-nilai itu berbeda dari nilai-nilai budaya kita.
Nilai-nilai kita itu tampak universal dan mutlak. Nilai-nilai

187 Ibid. hal 248


188 Ibid. hal 250

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 160


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

menentukan apa yang kita anggap benar, baik, penting,


indah, kita sulit menerima bahwa apa yang benar atau baik
itu bergantung pada budaya. Mungkin sulit bagi orang
barat untuk menyantap makanan timur tengah atau
makanan asia yang tidak dikenalnya. Lebih sulit lagi
menerima bahwa dalam beberapa budaya orang-orang
bahkan memakan tanaman dan binatang yang kita anggap
sebagai makanan, dan juga sulit memahami mengapa,
meskipun ada kelaparan masal di india, sapi-sapi
berkeliaran dijalan, tidak boleh disembelih karena alasan
agama.
Penelitian linta budaya lebih baru menunjukkan
bahwa kadang-kadang sistem kepercayaan dan nilai kita
dapat memperbaiki kemampuan kita untuk menyesuaikan
diri ketika tinggal di sebuah negri lain. Suatu penelitian
atas para pengungsi di Tibet yang menetapk di india
memperlihatkan kepada mareka telah berhasil
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka dan
mendapatkan banyak perolehan ekonomi dan sosial.189

189 Ibid. hal 251-252

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 161


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

DAFTAR PUSTAKA

Adang Hambali. 2015. Psikologi Sosial. Bandung: Pustaka Setia.

Alex Sobur. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

_________. 2016. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Bambang Samsul Arifin. 2015. Psikologi Sosial. Bandung:


Pustaka Setia.

Boedi Abdullah. 2013. Manajemen Pendidikan Islam. Bandung:


Pustaka Setia.

Davic G. Myers. 2014. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba


Humanika

David O. Sears, dkk. 1985. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

David O. Sears, Jonathan L. Freedman dan L. Anne Peplau.


1985. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Deddy Mulyana. 2001. Human Communication. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

______________. 2007. Ilmu Komunikasi. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

______________. 2008. Komunikasi Efektif Suatu Pendekatan


Lintasbudaya. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Dedy Mulyana dan Jalaluddin Rahmat. 2005. Komunikasi


Antarbudaya. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Djoko Setyabudi, dkk. 2017. Komunikasi Sosial. Tanggerang


Selatan: Universitas Terbuka.

Endin Nasrudin. 2015. Psikologi Komunikasi. Bandung: Pustaka


Setia.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 162


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Harmaini, dkk. 2016. Psikologi Kelompok. Jakarta: Raja


Grafindo Persada.

Husin,Fourqoniah.Finnah, & Arum Sari. Kezia. (2018)


Efektivitas Komunikasi Dinas Kesejahteraansosial
Kota Samarinda Dalam Mensosialisasikan Bantuan
Usaha Ekonomi Produktif (Uep) Di Kota
Samarinda. eJournal Ilmu Komunikasi, Volume 6,
Nomor 3, 2018 :199-211 ISSN 2502-5961.

Jalaluddin Rakhmat. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Laksana Muhibudin Wijaya. 2015. Psikologi Komunikasi.


Bandung: Pustaka Setia.
Mazdalifah. 2015. Komunikasi Intrapersonal Ditinjau Dari
Sudut Pandang Psikologi Komunikasi. Jurnal
Pemberdayaan Komunitas, 13(3): 123-127.

Michael Adryanto dan Savitri Soekrisno. 1985. Psikologi


Sosial. Jakarta: Erlangga.

Morisson. 2013. Teori Komunikasi. Jakarta: Prenadamedia


Group.

Muhibbudin Wijaya Laksamana. 2015. Psikologi Komunikasi,


Membangun Komunikasi yang Efektif Dalam
Interaksi Manusi. Bandung: Pustaka Setia.

Muhibudin Wijaya Laksana. 2015. Psikologi Kominikasi.


Bandung: Pustaka Setia.

Mulyana. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung:


PT Remaja Rosdakarya.

Ngalim Purwanto. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung:


Remaja Rosda.

Nina M. Armando. 2017. Psikologi Komunikasi. Tanggerang


Selatan: Universitas Terbuka.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 163


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Nunung Prajarto. 2016. Pengantar Ilmu Komunikai.


Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka.
Nyayu Khodijah. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.

Onong Uchjana Effendy. 2008. Dinamika Komunikasi.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

Puspita Tutiasari Ririn. 2016. Jurnal Komunikasi dalam


Komunikasi Kelompok. Vol.4, No.1, April, ISSN-
23389176.

Ridwan Usman. Konflik Dalam Persfektif Komunikasi. Jurnal


Mediator. Vol. 2. No. 1. 2001.
Rina Devianti. 2017. Bahasa Sebagai Cermin Kebudayaan.
Jurnal Tarbiyah. 4(4): 226-245

Rosleny Marliany. 2010. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka


Setia.

Septi Muharomi Lusty. 2012. Hubungan Antara Tingkat


Kecemasan Komunikasi dan Konsep Diri Dengan
Kemampuan Beradaptasi Mahasiswa Baru. Skripsi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Diponegoro Semarang.

Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. 2005. Human


Communication Prinsip-Prinsip Dasar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

Sumanto. 2014. Psikologi Umum. Yogyakarta: CAPS (Center Of


Academic Publising Service).

Syamsu Yusuf. 2007. Teori Kepribadian. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Uchjana Effendy Onong. 2008. Dinamika Komunikasi.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ujam Jaenudin. 2015. Teori-Teori Kepribadian. Bandung:


Pustaka Setia.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 164


Psikologi Komunikasi PAI/VI/ABCD

Wijaya Laksana Muhibudin. 2015. Psikologi Komunikasi.


Bandung: Pustaka Setia.

Zulkarnain. Psikologi dan Komunikasi Masa. Tasamuh Volume


13, No. 1, Desember 2015.

STAI Auliaurrasyidin Tembilahan 165


Nama-Nama Kelompok
Matakuliah Psikologi Komunikasi
PAI/VI/ABCD
STAI Auliaurrasyidin Tembilahan

Kelompok I Kelompok II Kelompok III

1. Abdul Halim 1. Abdul Rasyid 1. Desi Ariska


2. Sri Hamidah 2. Eka Rahmawati 2. Linda Yulita
3. Zaimah 3. Riska Nurjannah 3. Wahyu Faisal

Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI

1. Ahmad Khumaidi 1. Ismi Raudah 1. Junaidi


2. Mona Gusnia 2. Nurdiana 2. Neni
3. Vivi Wulandari 3. Supriadi 3. Raudatul Jannah

Kelompok VII Kelompok VIII Kelompok IX

1. Ermayani 1. Dely Rahman 1. Desi


2. Khamarullah 2. Rahmi Yanti 2. Lisa Arianti
3. Yusri Nur Yuda Yanti 3. Yuni Yolanda 3. M. Ridwan

Kelompok X Kelompok XI Kelompok XII

1. Febriari 1. Elma Warizqa 1. Effendi


2. Jumiyati 2. M. Khairullah 2. Peronika Putri
3. Siti Qurotul Mw 3. Zuliani 3. Vera Sri Wahyuni

Kelompok XIII

1. Fauzan Hakiki
2. Lia Diana
3. Rika Rahayu

Anda mungkin juga menyukai