Anda di halaman 1dari 30

Betz Cell, Ganglia Basalis, Cerebritis

OLEH :
Desty Aninditya Putri
Gayus Robintang Rajagukguk

ILMU PENYAKIT BEDAH


PERIODE 22 JULI – 28 SEPTEMBER 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
KRISTEN INDONESIA
2019
Ganglia Basalis.

Ganglia basalis adalah bagian sistem motorik. Ganglia basalis memiliki


beberapa nuklei utama yang semuanya terletak di substansia alba subkortikalis
telensefali. Nuklei tersebut berhubungan satu dengan lainnya, dan dengan korteks
motorik, dalam sirkuit regulasi yang kompleks. Nuklei tersebut memberikan efek
inhibitorik dan eksitatorik pada korteks motorik. Struktur ini memiliki peran
penting pada inhibisi dan modulasi pergerakan serta pada kontrol tonus otot. Lesi
pada ganglia basalis dan pada nuklei lain yang memiliki fungsi yang berkaitan
dengan pergerakan yang kurang atau berlebih dan perubahan patologis tonus otot.
Gangguan ganglia basalis tersering pada penyakit Parkinson, yang ditandai
dengan trias klinis berupa rigiditas, akinesia, dan tremor (Duus, 2010).

Istilah ganglion basal merujuk ke beberapa massa zat kelabu subkorteks


yang terletak di bagian dalam hemisfer serebrum. Ganglion basal ini (nukleus
telensefalon) secara fungsional diintegrasikan ke dalam aktivitas motorik.
Ganglia basalis mencakup nukleus kaudatus dan nukleus lentiformis (lentikuler)
dan menurut beberapa ahli, badan amigdaloid (komplek amigdaloid, korpus
amigdaloideum) dan klaustrum. Nukleus kaudatus terdiri dari kepala (dasar
tanduk anterior ventrikel) dan ekor. Ekor itu panjang dan ujungnya mengecil
(mulai setinggi foramen antar bilik), membentuk batas badan dan tanduk
temporal ventrikel lateral. Nukleus lentiformis dibagi menjadi nukleus medial
yang disebut globus palidus (palidum) dan nukleus lateral yang disebut putamen
(Noback, 1991).

Badan amigdaloid terdapat di bagian dalam unkus, rostral terhadap tanduk


temporal di mana badan ini sedikit banyak bersatu dengan ujung ekor nukleus
kaudatus. Klaustrum ialah lempeng tipis dari zat kelabu yang terletak di antara
korteks lobus sentral (insula) dan putamen. Nukleus lentiform (lentikular) dan
nukleus kaudatus bersama-sama dinamakan korpus striatal. Globus palidus
dirujuk sebagai paleostrial, badan amigdaloid sebagai arkistriatum sedangkan
nukleus kaudatus dan putamen sebagai neostriatum atau striatum. Badan

5
amigdaloid merupakan suatu kelompok nukleus yang berhubungan dengan
sistem limbik dan oleh beberapa ahli tidak dianggap sebagai nukleus ganglion
basal (Noback, 1991).

Gambar 2.1 Komponen-komponen basal ganglia (http:// www.docstoc.com/


docs/121977404/Basal-ganglion)

Secara filogenetik, korpus striatum dapat dibagi dalam dua bagian


yaitu : paleo-striatum dan neo-striatum (striatum). Paleostriatum juga
dinamakan globus palidus atau palidum. Neostriatum dibagi menjadi putamen
dan nukleus kaudatus. Pada serabut-serabut sentriatopetal, korpus striatum
menerima serabut-serabut dari korteks serebri yang mengirim serabut-serabut
ke nukleus kaudatus dan ke putamen. Disamping itu ada serabut-serabut
talamo-striatal, seperti serabut-serabut yang menghubungkan centre median
dengan putamen dan nukleus kaudatus. Selain dari itu ada pula serabut-
serabut nigrostriatal dan nigro-palidal, yang mempergunakan dopamin sebagai
neurotransmiter (Ngoerah, 1991).
Korpus striatum merupakan suatu kumpulan substantia grisea, yang
dalam pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya mengalami pemisahan
oleh berkas-berkas kapsula interna, menjadi dua kumpulan sel neuron,
nukleus kaudatus dan nukleus lentiformis. Di sebelah anterior, kaput nukleus
kaudatus masih berhubungan dengan nukleus lentiformis (yaitu dengan
putamen) (Sukardi, 1984).

Korpus stratum terletak di lateral talamus. Korpus ini hampir terbagi


secara lengkap oleh sebuah pita serabut saraf yaitu kapsula interna menjadi
nukleus kaudatus dan lentiformis (Snell, 2006)
Serabut-serabut striatofugal meliputi serabut-serabut dari nukleus
kaudatus dan putamen yang hampir seluruhnya menuju palidum, walaupun
ada pula serabut-serabut yang menuju ke substansia nigra dan talamus.
Serabut-serabut eferen dari striatum yang menuju ke palidum berakhir
sebagian di pars eksterna dan sebagian lagi di pars interna dari globus palidus
(Ngoerah, 1991).

Gambar 2.2 Topografi basal ganglia (Duus,2005)


Gambar 2.3 Tampak lateral basal ganglia dan sistem ventrikel (Duus,2005)

7
2.1 Nukleus Kaudatus

Nukleus kaudatus merupakan sebuah massa substantia grisea yang


besar dan berbentuk huruf C berhubungan erat dengan ventrikel lateralis, dan
terletak di sebelah lateral talamus. Permukaan lateral nukleus menempel
dengan kapsula interna yang memisahkannya dari nukleus lentiformis (Snell,
2006).

Nukleus kaudatus dan putamen yang bersama-sama disebut striatum,


mempunyai susunan histologik yang sama : (1) terutama terdiri atas sel-sel
granular yang kecil dengan akson-akson pendek dan mengandung sel-sel
neuron besar dengan akson-akson yang panjang dan tersebar letaknya; (2)
pada otak yang masih segar, kedua elemen saraf tersebut berwarna abu-abu
gelap dan menunjukkan susunan bergaris-garis oleh karena adanya berkas-
berkas berselubung mielin (oleh karena itu disebut striatum). Nukleus
kaudatus dan putamen hanya dalam bentuk dan hubungan serat-seratnya
(Sukardi, 1984).

Nukleus kaudatus mempunyai bentuk memanjang, melengkung dan


mempunyai hubungan yang erat dengan ventrikel lateralis. Bagian anteriornya
membesar dan dikenal sebagai kaput yang menonjol ke dalam lumen kornu
anterius ventrikuli lateralis. Bagian kaudalnya yang memanjang dan langsing
dikenal sebagai kauda. Pada ujung kauda nuklei kaudatus terdapat korpus
amigdaloideum (Sukardi, 1984).

Nukleus lentiformis adalah massa substansia grisea yang berbentuk


baji dengan bagian dasarnya yang lebar dan cembung mengarah ke lateral,
sedangkan bagian ujung ke medial. Nukleus ini terletak dalam di substansia
alba hemispherium serebri dan disebelah medial berhubungan dengan kapsula
interna, yang memisah dari nukleus kaudatus dan talamus. Pada bagian lateral,
nukleus lentiformis berhubungan dengan selapis tipis substansia alba dan
disebut kapsula eksterna, yang memisahkan nukleus lentiformis dari lapisan
tipis substantia grisea disebut klaustrum. Dengan demikian, klaustrum
memisahkan kapsula eksterna dari substansia alba subkortikalis insula. Di
bagian inferior ujung anteriornya, nukleus lentiformis bersambung dengan
nukleus kaudatus. Singkatnya dapat dikatakan bahwa korpus striatum
menerima serabut-serabut aferen dari berbagai daerah di korteks serebri,
talamus, subtalamus, dan batang otak, kemudian

8
serabut-serabut eferen berjalan kembali menuju daerah susunan saraf yang
sama (Snell, 2006).

Gambar 2.4 Potongan sagital ganglia basalis (Duus,2005)


2.2 Putamen

Putamen terletak di dalam daerah di antara klaustrum, (kapsula


eksterna), dan globus palidus. Batas antara putamen dan globus palidus
berupa suatu lapisan substansia alba yang tipis yang disebut lamina medularis
eksternal. Lamina medularis interna memisahkan globus palidus lateralis dari
globus palidus medialis (Snell, 2006).

Serat-serat fasikulus talamikus berjalan ke arah dorsolateral memasuki


bagian ventral talamikus untuk berakhir di dalam nukleus ventralis anterior
talami (untuk serat-serat dari palidum), nukles ventralis lateralis talami (untuk
serat-serat di globus palidus, dan nukleus dentatus dan nukleus ruber) dan
nukleus centromedianus (untuk serat-serat dari globus palidus). Beberapa dari
serat traktus dentatotalamikus ini juga mencapai nuklei intralaminares talami.
Ada serat-serat eferen globus palidus yang meninggalkan fasikulus dan ansa
lentikularis pada tempat kedua berkas mengabungkan diri menjadi satu, untuk
berjalan ke arah

9
ventromedial melintasi kolumna fornikis untuk mencapai nukleus
hipotalamikus ventromedialis di daerah tuber sinereum (Sukardi, 1984).

Serabut ansa lentikularis Meynert ini berasal di pars interna dari


globus palidus. Serabut-serabut ini tidak menembus kapsula interna, tetapi
membentuk suatu lengkung di bawah kapsula interna kemudian serabut-
serabutnya menjadi satu dengan serabut lentikularis di kampus tegmenti H2
Forel (Ngoerah, 1991).

Berkas ini keluar dari bagian ventral globus palidus medialis dan
merupakan suatu berkas yang jelas pada permukaan ventral globus palidus.
Berkas ini mula-mula berjalan ke arah ventromedial dan dorsal meliputi krus
posterior kapsula interna dan selanjutnya memasuki area Forel H (Sukardi,
1984).

Fibrae palidotegmentales merupakan suatu berkas descendens yang


kecil yang berassal dari globus palidus medialis yang menuju ke bagian
kaudal mesencefalon dan berakhir di dalam nukleus pedunkulopontinus.
Tidak ada fibrae palidofugales yang mencapai medula spinalis. Fibrae
palidosubtalamika (fasikulus subtalamikus) terdiri dari fibrae palidofugales
yang berjalan melintasi kapsula interna untuk mencapai nukleus subtalamikus
yang berasal dari globus palidus lateralis, dan fibrae subtalamopalidae yang
berakhir di dalam globus palidus medial, dan berasal dari nukleus
subtalamikus (Sukardi, 1984).

Nukleus subtalamikus (korpus Luysi) terletak di sebelah ventral


talamus, di sebelah medial kapsula interna, dan disebelah lateral dan posterior
hipotalamus. Medial dan bergabung dengan serat-serat ansa lentikularis.
Sebagian besar serat-serat fasikulus dan ansa lentikularis memasuki daerah
fasikulus talamikus (area forel H1). Fasikulus talamikus merupakan suatu
berkas yang mempunyai susunan yang amat kompleks, terdiri dari fibrae
palidotalamika, dan juga traktus rubrotalamikus dan traktus dentatotalamikus.
Traktus rubrodentatotalamikus ini berjalan ke arah rostral melalui daerah-
daerah prerubral (area forel H) (Sukardi, 1984).

10
Gambar 2.5 Potongan korona ganglia basalis (Duus,2005)

2.2.1 Hubungan-hubungan aferen dan eferen striatum

Serat eferen striatum ini berasal dari dua buah sumber utama, yaitu (a)
korteks serebri (fibrae cortocostriae) dan (b) talamus (fibrae nigrostriae).
Teknik pengecatan dengan impregnasi perak menunjukkan bahwa hampir
semua daerah korteks mengirimkan serat-seratnya ke striatum melalui berkas-
berkas kecil di berbagai jalan (Webster, 1965, Carmen et al, 1963). Daerah-
daerah korteks ini dapat dianggap sebagai kortikal untuk sistem
ekstrapiramidalis (misalnya area 6 merupakan salah satu pusat kortikal untuk
sistem ekstrapiramidalis).

Serat-serat yang berasal dari talamus merupakan serat-serat yang


penting dan berasal dari nukleus centromedianus; serat-serat ini hanya
disebarkan ke putamen (Powell dan Cowan, 1956) dan beberapa serat juga
berasal dari nuklei intralaminares dan nukleus parafasikularis. Fibrae
nigrostriatae berasal dari pars compakta substantia nigra dan disebarkan ke
putamen.

Serat-serat eferen dari striatum disebarkan ke (1) globus palidus dan


(2) substantia nigra. Fibrae striopalidae tersusun secara topografik dalam
urutan-

11
urutan dorsoventral dan anteroposterior (fronto-occipital) dan berjalan secara
radial ke berbagai bagian palidum seperti jari-jari roda sepeda. Fibrae
striopalidae dari nukleus kaudatus berjalan kearah ventral melalui kapsula
interna, sedangkan serat-serat dari putamen berjalan ke arah medial, ke globus
palidus.

Sebagian besar fibrae strionigales berakhir di dalam pars retikularis


substantia nigra, hanya sedikit yang berakhir di dalam pars kompakta. Serat-
serat eferen yang paling nyata dari korpus amigloideum adalah stria
terminalis, yang berjalan melengkung sepanjang tepi medial nukleus kaudatus
dan berakhir di dalam nukleus preoptikus medial, nukleus hipotalami anterior,
dan nukleus supraoptikus diffuses dan beberapa tampaknya juga berakhir di
dalam nukleus hipotalami ventromedialis. Melalui fibrae amigdalofugales,
dapat mencapai sejumlah daerah yaitu substantia innominata (nuklei basales
Meynert yaitu suatu kelompok neuron di sebelah ventral globus palidus dan
ansa lentikularis, di sebelah dorsal traktus optikus), nukleus preoptikus
lateralis dan hipotalamus, area septalis, nukleus pada bandaletta diagonalis
(Broca) dan tuberkulum olfaktorium. Beberapa dari serat-serat ini juga
mencapai nukleus medialis dorsalis talami, girus paraterminalis dan bagian
frontal girus cinguli (Sukardi, 1984).
Gambar 2.6 Sirkuit aferen pada ganglia
basalis(www.unifr.ch/biochem/index.php)

12
2.3 Globus Palidus

Globus palidus memiliki sifat struktural antara lain : (1) berwarna


pucat-kuning, (2) terdiri dari sel-sel neuron yang besar dan berbentu poligonal
dengan akson-akson yang panjang. Sel-sel ini selajutnya ditandai oleh adanya
sejumlah pigmen kuning dan suatu konsentrasi organik besi yang relatif
tinggi. Akson-akson dari sel-sel multipolar inilah yang merupakan serat-serat
eferen terutama dari globus palidus atau korpus striatum. (3) Globus palidus
terdiri atas dua bagian, globus palidus medial dan globus palidus lateral.
Globus palidus terletak di sebelah lateral kapsula interna. Globus palidus juga
dikenal sebagai paleostriatum. Nukleus kaudatus dan putamen, secara
bersama-sama merupakan komponen ganglia basalis terbesar, dan dikenal
juga sebagai neostriatum atau striatum. Secara kolektif, neostriatum dan
paleostriatum membentuk korpus striatum. Nukleus lentiformis terdiri atas
putamen dan globus palidus (Sukardi, 1984).
Gambar 2.7 Potongan korona ganglia basalis 2 (Duus,2005)

13
2.3.1 Hubungan-hubungan aferen dan eferen globus palidus

Serat-serat aferen globus palidus ini berasal dari sejumlah nuklei yang
dianggap memegang peranan penting dalam proses integrasi motorik. Nukleus
ini meliputi :

a. Striatum (putamen dan nukleus kaudatus), yang merupakan sumber utama


serat-serat aferen globus palidus. Serat-serat ini menuju ke globus palidus
medialis dan lateralis. Serat-serat ini, apabila ditinjau dari sudut striatum,
juga disebut fibrae striopalidae.

b. Nuklei subtalamikus (corpus Luysi). Fibrae subtalamopalidae ini berjalan


melalui kapsula interna untuk berakhir di dalam globus palidus medialis.

c. Substantia nigra. Fibrae nigropaliae ini terutama berasal dari kumpulan


sel-sel neuron besar di dalam pars compakta substansia nigra dan berakhir
di dalam globus palidus medialis.

d. Hubungan-hubungan eferen globus palidus (susunan fibrae palidofugales).


Susunan serat-serat ini mempunyai arti yang sangat penting, sebab impuls-
impuls yang berasal dari berbagai nuklei yang mencapai globus palidus
akan dihantarkan keluar dari globus palidus melalui susunan fibrae
palidofugales ini. Serat-serat eferen globus palidus ini dapat dibagi
menjadi empat berkas utama, yaitu :

d.1. Fasikulus
lentikularis d.2. Ansa
lentikularis
d.3. Fibrae
palidotegmentales d.4.
Fibrae palidosubtalamika

Tiga berkas yang pertama berasal dari globus palidus medialis, sedangkan
fibrae palidotegmentales tersusun dalam urutan-urutan rostrokaudal,
dengan ansa lentikularis paling rostral, disusul oleh fasikularis, dan fibrae

palidosubtalamika menduduki posisi paling kaudal.

Fasikulus lentikularis terbentuk oleh akson-akson dari bagian-bagian


dorsal globus palidus medialis, menyilang di kapsula interna langsung
disebelah rostral nukleus subtalamicus dan merupakan suatu berkas yang
relatif besar dan jelas disebelah ventral zona increta. Serat-serat fasikulus
lentikularis ini juga

14
disebut area forel Fasikulus lentikularis ini selanjutnya berjalan ke arah ansa
lentikularis, fibrae palidotegmentales, dan fibrae palidosubtalamika.

Diantara hubungan-hubungan aferen, hanya serat-serat olfaktus saja


yang dapat ditentukan secara anatomik. Impuls-impuls olfaktus dapat
mencapai korpus amigdaloideum melalui dua jalur:

1. Langsung, yaitu melalui serat-serat traktus olfaktorius, kemudian stria


olfaktorius lateralis, yang selain mencapai bagian anterior unkus, juga
mencapai kelopak nuklei pars kortikomedialis.

2. Tidak langsung, melalui suatu penghubung pada unkus dan dari sini baru
mencapai kelompok nuklei pars basolateralis.

2.4 Korpus Amigdaloideum

Badan amigdaloid (arkistriatum), neostriatum, dan klaustrum


merupakan struktur telensefalon, sedangkan globus palidus dan nukleus
subtalamik ialah derivate diensefalon. Selama perkembangan, serabut-serabut
kapsula interna menyusupkan diri sedemikian hingga membagi beberapa
daerah diensefalon dan telensefalon, hasilnya ialah bahwa kapsula interna
memisahkan subtalamus dari globus palidus serta membagi neostriatum
menjadi nukleus kaudatus dan putamen. Globus palidus dan putamen yang
kedua-duanya terletak lateral terhadap kapsula interna, bersama-sama
dinamakan nukleus lentiform (lentikuler). Globus palidus dibagi menjadi
segmen medial dan lateral. Subtalamus dianggap sebagai lanjutan tegmentum
otak tengah ke rostral ke dalam diensefalon. Nukleus merah (nukleus ruber)
ialah nukleus utama pada tegmentum otak tengah. Substansia nigra ialah
nukleus besar yang berpigmen dan terletak dalam otak tengah (Noback,
1991).

Komponen ganglia basalis meliputi semua nukleus yang berkaitan


secara fungsional di dalam substansia alba telensefali yang terletak dalam dan
secara embriologis berasal dari eminensia ganglionika (pars anterior
vesikulae telensefali). Nuklei utama ganglia basalis adalah nukleus kaudatus,
putamen dan globus palidus. Nuklei lain yang dianggap sebagai bagian
ganglia basalis berdasarkan latar belakang embriologis adalah klaustrum
amigdala (Duus, 2010).

15
Korpus amigdaloideum dalam arti filogenetik merupakan bagian yang
tertua dan dikenal sebagai archistriatum. Korpus amigdaloideum ini terletak
di sebelah dalam dari unkus di dalam lobus temporalis. Korpus
amigdaloideum mempunyai hubungan-hubungan olfaktorik dengan
hipotalamus dan struktur-struktur batang otak yang bersangkutan dengan
fungsi-fungsi visceral (Sukardi, 1984).

Korpus amigdaloideum berbentuk bulat dan terletak di sebelah


anterior dari kornu inferior ventrikuli lateralis. Menurut Crosby et al (1962)
korpus amigloideum terdiri atas dua kelompok nuklei : (1) kelompok nuklei
pars kortikomedialis, pada manusia kelompok ini merupakan bagian dorsal
atau dorsomedial korpus amigloideum, dan (2) kelompok nuklei pars
basolateralis. Sebenarnya masing-masing kelompok ini terdiri atas sejumlah
nuklei yang lebih kecil lagi (Sukardi, 1984).
Gambar 2.8 Potongan sagital ganglia basalis 2
(www.unifr.ch/biochem/index.php)

2.5 Klaustrum

Klaustrum merupakan suatu lapisan substansia grisea yang tipis yang


tersisip di antara korteks insula dan permukaan lateral putamen. Beberapa
penulis menganggap sebagai bagian dari striatum, akan tetapi ada cukup data
yang menunjukkan bahwa ia berasal dari lapisan- lapisan sebelah dalam
korteks insula

16
yang memisahkan diri dari lapisan induknya. Fungsi dan hubungan-hubungan
belum jelas (Sukardi, 1984).

Klaustrum dipisahkan dari permukaan lateral nukleus lentiformis


oleh kapsula eksterna. Pada bagian lateral klaustrum terdapat substantia
alba subkortikalis insula (Snell, 2006).
Gambar 2.9 Potongan horisontal ganglia basalis (Putz and Pabst,2000)

2.6 Vaskularisasi Ganglia Basalis

Adapun vaskularisasi dari ganglia basalis meliputi adanya perjalanan


pembuluh darah arteri dan vena diantaranya :

Klaustrum dipisahkan dari permukaan lateral nukleus lentiformis oleh


kapsula eksterna. Pada bagian lateral klaustrum terdapat substantia alba
subkortikalis insula. Disepanjang perjalanannya arteri ini membentuk cabang
ke

17
traktus optikus, unkus, hipokampus, amigdala, sebagian ganglia basalis, dan
sebagian kapsula interna (Duus, 2010).

Arteri serebri media adalah cabang terbesar arteri karotis interna.


Setelah keluar dari artero karotis interna diatas prosesus klinoideus anterior,
pembuluh darah ini berjalan di lateral di fissure sylvii (sulcus lateralis).
Trunkus utama arteri serebri media membentuk banyak cabang arteri
perforans ke ganglia basalis, dan menuju krus anterior dan genu kapsula
interna, serta ke kapsula eksterna dan klaustrum. Arteri serebri media terbagi
menjadi cabang-cabang kortikal utama di dalam sisterna insularis. Cabang-
cabang ini juga memperdarahi area lobus parietalis, frontalis, dan temporalis
yang luas (Duus, 2010).

Cabang-cabang arteri serebri anterior. Segmen proksimal arteri serebri


anterior membentuk banyak cabang perforantes kecil yang memperdarahi
region para septalis, bagian rostral ganglia basalis dan diensefalon, serta krus
anterior kapsula interna. Arteri rekuren Heubner merupakan cabang besar
segmen proksimal arteri serebri anterior yang mendarahi ganglia basalis
(Duus, 2010).

Darah vena dari region otak yang dalam, termasuk ganglia basalis dan
talamus, mengalir ke sepasang vena interna serebri dan sepasang vena basalis
Rosenthlm (Duus, 2010).
Gambar 2.10 Vaskularisasi ganglia basalis (Netter's Atlas of Neuroanatomy
and pyisiology)
Beberapa ahli membagi perubahan patologi abses otak dalam 4 stadium yaitu
:1,2,6,7

1) Stadium serebritis dini (Early Cerebritis) (1-3 hari)


Terjadi reaksi radang lokal dengan infiltrasi polymofonuklear leukosit, limfosit dan
plasma sel dengan pergeseran aliran darah tepi, yang dimulai pada hari pertama dan
meningkat pada hari ke 3. Sel-sel radang terdapat pada tunika adventisia dari pembuluh
darah dan mengelilingi daerah nekrosis infeksi. Peradangan perivaskular ini disebut
cerebritis. Saat ini terjadi edema di sekita otak dan peningkatan efek massa karena
pembesaran abses.

2) Stadium serebritis lanjut (Late Cerebritis) (4-9 hari)


Saat ini terjadi perubahan histologis yang sangat berarti. Daerah pusat nekrosis
membesar oleh karena peningkatan acellular debris dan pembentukan nanah karena
pelepasan enzim-enzim dari sel radang. Di tepi pusat nekrosis didapati daerah sel radang,
makrofag-makrofag besar dan gambaran fibroblas yang terpencar. Fibroblas mulai
menjadi retikulum yang akan membentuk kapsul kolagen. Pada fase ini edema otak
menyebar maksimal sehingga lesi menjadi sangat besar.

3) Stadium pembentukan kapsul dini (Early Capsule Formation) (10-13 hari)


Pusat nekrosis mulai mengecil, makrofag menelan acellular debris dan fibroblast
meningkat dalam pembentukan kapsul. Lapisan fibroblast membentuk anyaman
reticulum mengelilingi pusat nekrosis. Di daerah ventrikel, pembentukan dinding sangat
lambat oleh karena kurangnya vaskularisasi di daerah substansi grisea dibandingkan
substansi alba. Pembentukan kapsul yang terlambat di permukaan tengah memungkinkan
abses membesar ke dalam substansi alba. Bila abses cukup besar, dapat robek ke dalam
ventrikel lateralis. Pada pembentukan kapsul, terlihat daerah anyaman reticulum yang
tersebar membentuk kapsul kolagen, reaksi astrosit di sekitar otak mulai meningkat.

4) Stadium pembentukan kapsul lanjut (Late Capsule Formation) (14 hari seterusnya)
Pada stadium ini, terjadi perkembangan lengkap abses dengan gambaran
histologis sebagai berikut:
 Bentuk pusat nekrosis diisi oleh acellular debris dan sel-sel radang.
 Daerah tepi pusat nekrosis terdiri dari sel radang, makrofag, dan fibroblast.
 Kapsul kolagen yang tebal.
 Lapisan neurovaskular sehubungan dengan serebritis yang berlanjut.
 Reaksi astrosit, gliosis, dan edema otak di luar kapsul.
Glikolisis bertambah dengan cepat pada minggu ke 3 kapsul ini lebih tipis dan lebih tebal
pada arah korteks atau selaput otak. Hal ini merupakan salah satu penyebab mengapa
abses otak mudah pecah didalam ventrikel.