Anda di halaman 1dari 7

Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) di URESOS "WENING

WARDOYO" UNGRAN
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) TERAPI MUSIK PADA PENERIMA
MANFAAT (PM)
DI BALAI REHABILITASI SOSIAL ”WIRA ADHI KARYA” UNIT REHABILITASI
SOSIAL ”WENING WARDOYO” UNGARAN
DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA TENGAH

DI SUSUN OLEH :
SUKIS
NIP: 19760815 200701 1008
DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA TENGAH
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi keberhasilan pembangunan
bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia sehat, yaitu suatu
keadaan dimana setiap orang hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup
bersih dan sehat, mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan serta memiliki derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya (Dinkes, 2008, dalam Destya 2009).
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan dalam suatu negara adalah semakin
meningkatnya usia harapan hidup penduduknya. Peningkatan usia harapan hidup
menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pembangunan nasional telah menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang semakin
membaik dan usia harapan hidup makin meningkat, sehingga jumlah lansia makin
bertambah.
Penduduk Lanjut usia mengalami peningkatan yang signifikan didunia , pada tahun 1950
sebanyak 130 juta (4% dari total populasi), tahun 2000 sebanyak 16 juta (7,2% dari total
populasi) dan terus bertambah berkisar 8 juta setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun
2025 menjadi 41,5 juta (13,6%) dan pada tahun 2050 sebanyak 79,6 juta (23,7%)
(Henniwati, 2008).
Dari 7 miliar penduduk dunia, 1 miliar diantaranya adalah penduduk lanjut usia (lansia).
Indonesia sendiri memiliki 24 juta jiwa lansia, yang paling banyak tersebar di 5 provinsi.
Seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup, jumlah lansia di Indonesia cenderung
meningkat. Di Indonesia jumlah lansia meningkat menjadi 20.547.541 pada tahun 2009
jumlah ini termasuk terbesar keempat setelah China, India dan Jepang. Badan kesehatan
dunia WHO menyatakan bahwa penduduk lansia pada tahun 2020 mendatang sudah
mencapai angka 11,34% atau tercatat 28,8 juta orang (Sigalingging, 2011).Data Badan
Pusat Statistik menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia di Indonesia pada tahun 2000
sebanyak 14.439.967 jiwa (7,18 persen), selanjutnya pada tahun 2010 meningkat menjadi
23.992.553 jiwa (9,77 persen). Pada tahun 2020 diprediksikan jumlah lanjut usia
mencapai 28.822.879 jiwa (11,34 persen). Adapun provinsi di Indonesia yang paling
banyak penduduk lanjut usia adalah:DI Yogyakarta (12,48 persen), Jawa Timur (9,36
persen), Jawa Tengah (9,26 persen), Bali (8,77), Jawa Barat (7,09).
Pertambahan jumlah lansia di beberapa negara, salah satunya Indonesia, telah mengubah
profil kependudukan baik nasional maupun dunia. Hasil Sensus Penduduk tahun 2010
menunjukkan bahwa jumlah penduduk lansia di Indonesia berjumlah 18,57 juta jiwa,
meningkat sekitar 7,93% dari tahun 2000 yang sebanyak 14,44 juta jiwa. Diperkirakan
jumlah penduduk lansia di Indonesia akan terus bertambah sekitar 450.000 jiwa per
tahun. Dengan demikian, pada tahun 2025 jumlah penduduk lansia di Indonesia akan
sekitar 34,22 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2010).
Peningkatan jumlah lansia tersebut, diakibatkan karena kemajuan dan peningkatan
ekonomi masyarakat, perbaikan lingkungan hidup dan majunya ilmu pengetahuan,
terutama karena kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan, sehingga mampu
meningkatkan usia harapan hidup (life expectancy). BKKBN (2012) menyatakan bahwa
usia harapan hidup penduduk Indonesia pada tahun 1980 hanya 52,2 tahun. Pada tahun
1990, meningkat menjadi 59,8 tahun, tahun 1995 berkisar pada 63,6 tahun, tahun 2000
mencapai 64,5 tahun, tahun 2010 berada pada 67,4 tahun, dan tahun 2020 diperkirakan
mencapai 71,1 tahun.
Meningkatnya jumlah lansia sebenarnya adalah indikator yang menunjukkan semakin
sehatnya penduduk Indonesia karena usia harapan hidupnya meningkat, meskipun disisi
lain produktivitas mereka menurun. Hal inilah yang melahirkan banyaknya jumlah lansia
terlantar. Berdasarkan data depsos, dari populasi lansia yang tercatat sebanyak
16.522.311 jiwa, sekitar 3.092.910 (20 persen) diantaranya adalah lansia terlantar
(Depsos, 2006). Lansia terlantar inilah yang melahirkan anggapan bahwa lansia tidak
produktif. Padahal di usia yang sudah baya tersebut, lansia tentu tidak ingin dianggap
menjadi beban, di sisi lain pasti juga ada harapan dari diri mereka untuk menikmati masa
tuanya dengan bergembira tanpa harus memikirkan beban keluarga.
Di dalam proses kehidupan, lansia terbagi atas lansia potensial dan lansia tidak potensial.
Lansia potensial adalah lansia yang masih produktif dan mampu berperan aktif dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta memiliki kebijakan, kearifan
dan pengalaman berharga yang dapat dijadikan teladan bagi generasi penerus. Namun
karena faktor usianya pula, lansia tersebut akan banyak menghadapi keterbatasan
(berbagai penurunan fisik, psikologis dan sosial), sehingga memerlukan bantuan
peningkatan kesejahteraan sosialnya (Samsudrajat, 2011). Sementara itu, lansia yang
tidak potensial adalah lansia yang tidak berdaya dan selalu bergantung kepada orang lain.
BKKBN (2012) menyatakan bahwa bertambahnya jumlah penduduk dan usia harapan
hidup lansia akan menimbulkan berbagai masalah antara lain masalah kesehatan,
psikologis, dan sosial ekonomi. Sebagian besar permasalahan pada lansia adalah masalah
kesehatan akibat dari proses penuaan, ditambah permasalahan lain seperti masalah
keuangan, kesepian, merasa tak berguna, dan tidak produktif. Tetap sehat di usia tua tentu
menjadi dambaan setiap orang, sehingga usaha-usaha menjaga kesehatan di usia lanjut
dengan memahami berbagai kemungkinan penyakit yang bisa timbul. Seperti menjaga
pola makan yang baik dengan mengkonsumsi makanan sumber energi yang seimbang,
tidak berlebihan atau kurang, makan yang teratur sesuai dengan waktu makan dan jenis
makanan yang sesuai dengan tidak mengabaikan manfaat dan kandungan gizinya.
Darmono (2004) menyatakan bahwa gangguan gizi yang muncul pada lansia dapat
berbentuk gizi kurang dan gizi lebih. Gangguan ini dapat menyebabkan timbulnya
penyakit, seperti malnutrisi, hipertensi, obesitas, diabetes melitus dan stroke.
Beberapa bentuk pelayanan kesehatan khusus untuk lansia yang berkembang saat ini
diantaranya Posyandu Lansia, klinik santun usila dan puskesmas santun usila. Wadah
khusus bagi lansia memberikan nilai tambah diantaranya merupakan wadah
berkomunikasi sesama lansia. Agar pembangunan kesehatan lansia terarah tentunya
diperlukan informasi khususnya mengenai kesehatan lansia (KomNas Lansia, 2010).
Berbicara tentang lanjut usia terlantar, terutama yang tinggal disuatu unit rehabilitasi
social yang notabene terdari latar belakang budaya yang berbeda-beda tentu akan muncul
banyak masalah berhubungan dengan kebutuhan pelayanan konsultatif sosial psikologi,
upaya pelestarian social budaya dan pelayanan rekreatif. Pemberian aktitas yang disukai
akan menimbulkan energi positif dan meningkatkan gairah hidup lansia. Pada saat itu
imunitas mereka akan semakin meningkat, daya tahan terhadap penyakit meningkat dan
tidak mudah menjadi sakit . Salah satunya dengan Terapi Aktifitas Kelompok (TAK)
Rekreasi Terapi Musik.
B. Rumusan Masalah
Perbedaan latar belakang budaya diantara lanjut usia terlantar (penerima manfaat) tentu
akan muncul banyak masalah, khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan layanan
khusus, penyediaan dan pelayanan konsultatif sosial psikologi, pelestarian sosial budaya
dan pelayanan rekreatif.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penerima manfaat dapat terhibur setelah mengikuti terapi aktivitas kelompok : terapi
musik.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus terapi aktivitas kelompok dengan terapi musik adalah:
a. Penerima manfaat mampu mengekspresikan persaannya.
b. Penerima manfaat mampu memberi respon terhadap musik.
c. Penerima manfaat mampu menceritakan alasan kenapa menyukai lagu tersebut.
D. Landasan Teori
Terapi aktivitas kelompok : stimulasi sensori adalah upaya menstimulasi semua panca
indra (sensori) agar member respon yang adekuat. Maksudnya adalah menstimulasi
sensori pada klien yang mengalami kemunduran sensoris. Tujuan meningkatkan
kemampuan sensori, memusatkan perhatian, kesegaran jasmani, dan mengekspresikan
perasaan. Aktivitas stimulasi sensori dapat berupa stimulus terhadap penglihatan,
pendengaran dan lain-lain seperti gambar, video, tarian dan nyanyian.
E. Penerima Manfaat
1. Karakteristik/criteria
Karakteristik penerima manfaat yang akan mengikuti terapi aktivitas
kelompok : terapi musik adalah penerima manfaat dengan usia > 60 th.
2. Proses Seleksi
Penerima Manfaat yang akan mengikuti terapi aktivitas ini adalah penerima manfaat yang
dipilih melalui proses seleksi. Adapun proses seleksinya adalah dari kasus atau masalah
yang juga banyak dihadapi oleh penerima manfaat.
E. Pengorganisasian
1. Waktu
Kegiatan terapi aktivitas kelompok dengan terapi musik akan dilaksanakan
selama 1 hari, yaitu pada:
Hari : Kamis, 24 Mei 2012
Jam : 11.00 WIB - selesai
Terapi aktivitas kelompok dengan terapi musik.
2. Tim Terapis
Adapun tim terapis yang akan terlibat meliputi leader, co-leader, fasilitator, observer.
a. Leader
Tugas:
- Menyusun rencana TAK.
- Mengarahkan kelompok mencapai tujuan.
- Membuka acara dan memperkenalkan diri dan anggota tim terapi.
- Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan.
- Menetapkan dan menjelaskan aturan permainan.
- Memotivasi anggota kelompok untuk mengemukakan pendapat dan memberi umpan
balik.
- Sebagai role model
- Sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasi
b. Co-Leader:
Tugas :
Membantu leader mengatur anggota kelompok
c. Observer:
Tugas :
- Mengobservasi respon penerima manfaat.
- Mengamati dan mencatat semua proses yang terjadi dan semua perubahan perilaku
Penerima manfaat (jumlah anggota yang hadir, yang terlambat, daftar hadir, yang
memberi ide, dan pendapat, topik diskusi, respon verbal dan non verbal).
- Memberi umpan balik pada kelompok.
- Mengidentifikasi strategi yang digunakan leader.
d. Fasilitator:
Tugas :
- Membantu leader memfasilitasi anggota untuk berperan aktif dan memotivasi
- Mempertahankan kehadiran anggota
Semua tim terapis adalah yang memenuhi persyaratan, diantaranya:
- Memiliki pengalaman mengikuti TAK.
- Memiliki pengetahuan tentang masalah penerima manfaat.
- Mengetahui metode yang tepat untuk TAK.
- Terampil berperan sebagai pemimpin.
F. Metode dan media
1. Metode
Adapun metode yang digunakan pada terapi aktivitas ini adalah dinamika
kelompok dan diskusi.
2. Media
Media yang akan digunakan meliputi:
a. Papan nama sejumlah penerima manfaat dan perawat yang ikut TAK.
b. Spidol
c. Laptop
d. Bola
e. Lembar Evaluasi dan dokumentasi
G. Skema Ruang Terapi

H e
x a g o n :O b s

O v a l:K O v a l:K O v a l:K

J. Orientasi
1. Salam terapeutik
Salam dan terapis pada penerima manfaat.
2. Evaluasi/ validasi
Menanyakan perasaan penerima manfaat saat ini.
3. Kontrak
Terapis menjelaskan tujuan kegiatan yaitu terapi musik.
4. Terapis menjelaskan aturan main berikut.
- Jika ada penerima manfaat yang ingin meninggalkan kelompok harus minta izin kepada
terapis
- Lama kegiatan 30 menit
- Setiap penerima manfaat mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
K. Tahap kerja
1. Terapis mengajak penerima manfaat untuk saling memperkenalkan diri dimulai dari
terapis secara berurutan.
2. Setiap kali seorang pen rima manfaat selesai memperkenalkan diri terapis mengajak
semua klien untuk bertepuk tangan
3. Terapis dan penerima manfaat memakai papan nama.
4. Terapis menjelaskan bahwa akan diputar lagu dan memutarkan bola searah dengan
jarum jam, penerima manfaat boleh tepuk tangan atau berjoget sesuai irama lagu. Setelah
lagu selesai dan bola berhenti penerima manfaat akan diminta untuk menyanyikan lagu
kesukaan dan menceritakan alasan kenapa menyukai lagu tersebut.
5. Terapis memutar lagu, penerima manfaat mendengar, boleh berjoget atau tepuk tangan.
Musik yang diputar boleh diulang beberapa kali. Terapis mengobservasi respon klien
terhadap musik.
6. Secara bergiliran klien diminta menyanyikan lagu dan menceritakan alasan kenapa
menyukai lagu tersebut.
7. Terapis memberikan pujian, setiap kali selesai menceritakan perasaannya dan
mengajak penerima manfaat lain bertepuk tangan.
8. Penerima manfaat yang ingin kekamar mandi harus izin kepada terapis.
L. Tahap terminasi
1. Evaluasi
Terapis menanyakan perasaan penerima manfaat setelah mengikuti TAK.
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
3. Tindak lanjut
Terapis menganjurkan penerima manfaat untuk menyanyikan musik yang disukai dan
bermakna dalam kehidupannya.
M. Evaluasi dan Dokumentasi
1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan disaat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek
yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK
stimulasi sensoris mendengar musik, kemampuan klien diharapkan adalah mengikuti
kegiatan, respon terhadap musik, memberi pendapat tentang musik yang didengar, dan
perasaan saat mendengar musik. Adapun TAK dikatakan berhasil jika mampu melakukan
3 dari 4 indikator atau 75%-100% dan tidak berhasil jika 0%-50%. Formulir evaluasi
adalah sebagai berikut.
TAK
STIMULASI SENSORIS MENDENGAR MUSIK

ASPEK YANG NAMA PENERIMA MANFAAT (PM)


DINILAI
Ibu A Ibu B Ibu C Ibu D Ibu E Bapak F

Mengikuti
kegiatan dari awal
sampai akhir

Memberi respon
(ikut bernyanyi/
menari/ joget/
menggerakkan
tangan-kaki-dagu
sesuai irama)

Memberi pendapat
tentang musik
yang didengar

Menjelaskan
perasaan setelah
mendengar lagu

DAFTAR PUSTAKA
Keliat, BA. 2004. Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC