Anda di halaman 1dari 9

BAB XI

MODEL PEMBELAJARAN INKUIRIDAN DISCOVERY SERTA


IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

A. PENDAHULUAN
1. Deskripsi Singkat
Bab 11 buku ajar ini menjelaskan tentang model pembelajaran inkuiri dan discovery, mulai dari
pengertian model pembelajaran inkuiri dan discovery oleh beberapa ahli. Setelah itu, juga dipaparkan
syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk melaksanakan pembelajaran model inkuiri dan discovery,
prinsip-prinsipnya, serta langkah-langkah yang harus dilakukan. Kekuatan dan kelemahan kedua model
ini juga akan diuraikan dalam bab ini.

Relevansi
Model pembelajaran inkuiri dan discovery merupakan dua dari banyak model pembelajaran yang dapat
diterapkan di kelas terutama dalam kaitanya dengan implementasi Kurikulum 2013. Model pembelajaran
inkuiri dan discovery merupakan model pembelajaran yang cocok untuk dipelajari dalam mata kuliah
Model dan Strategi Pembelajaran Geografi, karena sebagai calon pendidik, mahasiswa diharapkan
mampu memahami model pembelajaran tersebut agar dapat diterapkan saat mengajar di sekolah.

Capaian Pembelajaran Maka Kuliah


Setelah mempelajari Bab 12 ini, mahasiswa diharapkan mampu:
a. Menganalisis hakikat model pembelajaran inkuiri dan discovery.
b. Menganalisis syarat-syarat pelaksanaan pembelajaran inkuiri dan discovery.
c. Menganalisis prinsip-prinsip pelaksanaan pembelajaran inkuiri dan discovery.
d. Menganalisis langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inkuiri dan discovery.
e. Menganalisis kekuatan dan kelemahan model pembelajaran inkuiri dan discovery .

PENYAJIAN MATERI
1. Model Pembelajaran Inkuiri
Menurut Sanjaya (2014) Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran
yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri
jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan. Sedangkan menurut Riyanto (2012) Inkuiri merupakan
bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun materi yang di
ajarkan.
Menurut Harfiah dkk (2009), discovery dan inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan
pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan

1
mebyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan,
sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.

Gambar 17. Model Pembelajaran Inkuiri


Sumber: http://www.informasi-pendidikan.com/2014/03/metode-pembelajaran-inkuiri-untuk-anak.html

Menurut Danim (1995), latihan inkuiri diartikan sebagai proses mempersiapkan kondisi agar subjek
didik siap menjawab teka-teki. Jawaban atas permasalahan atau teka-teki di peroleh melalui usaha subjek
didik tersebut.Oleh sebab sifatnya demikian maka tidak setiap materi pelajaran dapat disajikan dengan
menggunakan pendekatan latihan inkuiri dan dengan demikian latihan semacam ini dapat dipakai dalam
bidang ilmu eksakta ataupun ilmu sosial.
Menurut Wena (2012) Strategi latihan inkuiri, strategi inkuiri di kembangkan oleh Richard
Suchman (1962) untuk mengajar para siswa memahami proses meneliti dan menerangkan suatu kejadian.
Menurut Suchman kesadaran siswa terhadap proses inkuiri dapat ditingkatkan sehingga mereka dapat di
ajarkan prosedur pemecahan masalah secara ilmiah.

Secara umum strategi inkuiri ini adalah :


a. Siswa akan bertanya jika mereka dihadapkan pada masalah yang membingungkan atau kurang
jelas.
b. Siswa dapat menyadari dan belajar menganalisis strategi berfikir mereka.
c. Strategi berfikir baru dapat di ajarkan secara langsung dan ditambahkan pada apa yang telah
mereka miliki.
d. Inkuiri dalam kelompok dapat memperkaya khazanah pikiran dan membantu siswa belajar
mengenai sifat pengetahuan yang sementara dan menghargai pendapat orang lain.

Menurut Wahab (2009) metode inkuiri merupakan konsep dan generalisasi menuntut guru untuk
membantu siswa menemukan sendiri data, fakta dan informasi tersebut dari berbagai sumber agar dengan
kegiatan itu dapat memberikan pengalaman pada siswa. Pengalaman itu kelak akan berguna dalam
hidupnya di masyarakat yaitu masyarakat yang mengalami perubahan cepat, melalui alur informasi dan
komunikasi yang serba cepat dan dalam jumlah besar. Sedangkan menurut Sagal (2012:196) Pendekatan
2
inkuiri merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara
berfikir ilmiah, pendekatan ini menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan
kekreatifan dalam memecahkan masalah. Siswa betul-betul ditempatkan sebagai subjek yang belajar dan
Peranan guru dalam pendekatan inkuiri adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar.
Hamalik (2008) menjelaskan bahwa pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang
berpusat pada siswa dimana kelompok siswa inkuiri kedalam suatu isu atau mencari jawaban-jawaban
terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur yang di gariskan secara jelas dan structural
kelompok.Lalu, menurut Roestiyah (2008:75) inkuiri adalah suatu teknik atau cara yang di gunakan guru
untuk mengajar didepan kelas.
Pendekatan inkuiri dapat dilaksanakan apabila di penuhi syarat- syarat berikut:
a. Guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk di ajukan pada kelas (persoalan
bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa/problematic) dan sesuai dengan daya nalar
siswa.
b. Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan belajar yang
menyenangkan.
c. Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup.
d. Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, berdiskusi.
e. Partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar.
f. Guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.

Berdasarkan pendapat Sanjaya (2014), Langkah-langkah pelaksanaan Srategi pembelajaran Inkuiri:

Gambar 18. Langkah-Langkah Pembelajaran Inkuiri


Sumber:https://www.slideshare.net/WafiatulAhdi/model-pembelajaran-inkuiri-68109280

a. Orientasi
Merupakan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah:
1) Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
2) Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan
3) Menjelaskan pentingnya topic dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan
motivasi belajar siswa

3
b. Merumuskan masalah
Merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki.Beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah diantaranya:
1) Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa akan memiliki motivasi belajar yang
tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak di kaji.
2) Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
3) Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh
siswa.

c. Mengajukan hipotesis
Merupakan jawaban sementara dari suatu masalah yang sedang dikaji.Sebagai jawaban sementara,
hipotesis perlu dikaji kebenarannya.Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya
sudah dimiliki sejak individu itu lahir.

d. Mengumpulkan data
Merupakan aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang di
ajukan.Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengupulkan data merupakan proses mental yang sangat
penting dalam pengembangan intelektual.

e. Menguji hipotesis
Merupakan proses mentukan jawaban yang di anggap di terima sesuai dengan data atau informasi
yang di peroleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari
tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan.

f. Merumuskan kesimpulan
Merupakan proses mendeskripsikan temuan yang di peroleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana
yang relevan
Menurut Sanjaya (2014) Prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran inkuiri:
a. Berorientasi pada pengembangan intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berfikir. Dengan demikian,
strategi pembelajaran ini selain berorintasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses
belajar.
b. Prinsip interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun
interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan
c. Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan adalah dalam menggunakan model inkuiri adalah guru sebagai
penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk memjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah
merupakan sebagian dari proses berfikir.

4
d. Prinsip belajar untuk berfikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir (learning
how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak
kanan; baik otak reptile, otak limbik maupun otak neokortek.
e. Prinsip keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesusatu mungkinsaja
terjadi.Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan
perkembangan kemampuan logika dan nalarnya.

Selanjutnya, Sanjaya (2014) Keunggulan dan kelemahan Strategi pembelajaran inkuiri:


a. Keunggulan
1) Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada
pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secera seimbang, sehingga pembelajaran
melalaui strategi ini lebih bermakna.
2) Strategi pembelajaran inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan
gaya belajar mereka.
3) Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan
psikologi belajara modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat
adanya pengalaman.
4) Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki
kemampuan di atas rata-rata. Artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan
terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
b. Kelemahan
1) Jika strategi pembelajaran inkuiri digunakan sebagai strategi pembelajaran maka akan sulit
mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa
2) Strategi ini sulit dalam perencanaan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa
dalam belajar
3) Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya memerlukan waktu yang panjang sehingga guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan
4) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran,
maka strategi pembelajaran inkuiri akan sulit di implementasikan oleh setiap guru.

Jika merujuk kepada pendapat Indrawati (1999) dalam Al Tabany (2015) maka dapat diketahui
bahwa dia lebih setuju jika pembelajaran dilakukan dengan model pembelajaran dari rumpun pemrosesan
informasi.Hal ini disebabkan karena model pemrosesan informasi menekankan pada bagaimana seseorang
berfikir dan bagaimana dampaknya terhadap cara-cara mengolah informasi.Berfikir merupakan senjata
untuk memecahkan masalah dan kemampuan berfikir bisa dikatakan sebagai kemampuan memecahkan
masalah.Penerapan model pembelajaran inkuiri telah terbukti berhasil meningkatkan pemahaman sains,
produktif dalam berfikir kreatif dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis
informasi (Joyce & Weil (1992) dalam Al Tabany (2015)).

5
Model Pembelajaran Discovery
Suryosubroto (1993) dalam Al Tabany (2015) menjelaskan bahwa discovery merupakan bagian
dari inkuiri, atau inkuiri merupakan proses perluasan dari proses discovery yang digunakan secara lebih
mendalam. Metode pembelajaran discovery Learning merupakan sebuah teori pembelajaran yang
diartikan sebagai bentuk proses belajar yang terjadi jika siswa tidak disuguhkan dengan pelajaran dalam
bentuk akhirnya, akan tetapi diharapkan untuk mengorganisasi sendiri. Sebagai sebuah strategi belajar,
model pembelajaran discovery learning memiliki prinsip yang mirip dengan model pembelajaran inkuiri
dan model pembelajaran problem solving. Perbedaannya dengan model discovery yaitu bahwa pada
model pembelajaran ini permasalahan yang diberikan kepada peserta didik sebagai suatu masalah yang
sudah direkayasa oleh pendidik, sedangkan pada model pembelajaran inkuiri permasalahan yang dibuat
bukan merupakan hasil rekayasa.Lalu, perbedaannya dengan problem Solving adalah model pembelajaran
problem solving lebih memberikan tekanan terhadap keterampilan dalam memecahkan permasalahan.
Akan tetapi prinsip pembelajaran yang terlihat jelas dalam model discovery Learning adalah bahan
pelajaran atau materi yang hendak diberikan tidak disampaikan seutuhnya, sebagai gantinya siswa akan
didorong untuk menganalisis sendiri apa yang ingin dicari kemudian para siswa mengorganisasi apa yang
telah mereka pahami dalam suatu bentuk final.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, Hamalik dalam Takdir (2012) menyatakan bahwa discovery
adalah proses pembelajaran yang menitikberatkan pada mental intelektual pada anak didik dalam
memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, sehingga menemukan suatu konsep yang dapat
diterapkan di lapangan. Selain itu Mulyasa dalam Takdir (2012) menyatakan bahwa discovery merupakan
strategi pembelajaran yang menekankan pengalaman langsung dilapangan, tanpa harus selalu bergantung
pada teori-teori pembelajaran yang ada dalam pedoman buku pelajaran.
Discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan
menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam
ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berfikir
analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi.
Di dalam pembelajaran, peserta didik didorong untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan
informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan
pengembangan menjadi informasi atau kemampuan yang sesuai denga lingkungan dan zaman, tempat dan
waktu ia hidup.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa discovery merupakan suatu model
pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme. Dimana model ini
menekankan pada pentingnya pemahaman terhadap suatu konsep dalam pembelajaran melalui
keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
Secara sederhana, langkah operasional dari model pembelajaran discovery learning adalah sebagai
berikut:
a. Menentukan tujuan dari pembelajaran
b. Menganalisis/mengidentifikasi karakterisitik para siswa
c. Memilih materi pelajaran.
d. Menentukan topik - topik yang harus dipelajari oleh peserta didik secara induktif (dari contoh
yang bersifat general)
e. Mengembangkan suatu bahan belajar yang berupa ilustrasi, contoh - contoh, atau tugas yang
nantinya dipelajari oleh siswa.
6
f. Mengorganisir topik - topik pembelajaran dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.
g. Melakukan penilaian hasil belajar dan proses.

Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan Discovery Learning di kelas, ada beberapa
prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut:
a. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan), Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu
yang menimbulkan tanda tanya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar
timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM
dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang
mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
b. Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah), Setelah dilakukan stimulasi, langkah
selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak
mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya
dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah), Syah
(2004:244).
c. Data Collection (Pengumpulan Data). Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi
kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis, Syah (2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk
menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian siswa diberi
kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relefan, membaca literatur.
d. Data Processing (Pengolahan Data), Semua informasi hasil bacaan, diolah, diacak,
diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada
tingkat kepercayaan tertentu. Data processing disebut juga dengan pengkodean/kategorisasi yang
berfungsi pada pembentukan konsep dan generalisasi.
e. Verification (Pembuktian), Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif,
dihubungkan dengan data hasil processing, Syah (2004:244). Verification menurut Bruner,
bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui
contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
f. Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi). Tahap generalisasi/menarik kesimpulan
adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk
semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan verifikasi, Syah (2004:244).
Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan
pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang
mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari
pengalaman-pengalaman itu.

Selanjutnya akan dijelaskan kelebihan dan kekurangan model pembelajaran discovery sebagai
tambahan rujukan bagi mahasiswa dalam memahami model-model pembelajaran. Menurut Takdir
(2012:70) mengemukakan beberapa kelebihan belajar mengajar dengan discovery, yaitu:

7
a. Dalam penyampaian bahan discovery, digunakan kegiatan dan pengalaman langsung. Kegiatan dan
pengalaman tersebut akan lebih menarik perhatian anak didik dan memungkinkan pembentukan
konsep-konsep abstrak yang mempunyai makna
b. Discovery strategy lebih realistis dan mempunyai makna. Sebab, para anak didik dapat bekerja
langsung dengan contoh-contoh nyata
c. Discovery strategy merupakan suatu model pemecahan masalah. Para anak didik langsung
menerapkan prinsip dan langkah awal dalam pemecahan masalah. Melalui strategi ini mereka
mempunyai peluang untuk belajar lebih intens dalam memecahkan masalah sehingga dapat berguna
dalam menghadapi kehidupan dikemudian hari
d. Dengan sejumlah transfer secara langsung, maka kegiatan discovery strategy akan lebih mudah
diserap oleh anak didik dalam memahami kondisi tertentu yang berkenaan dengan aktivitas
pembelajaran 5) Discovery strategy banyak memberikan kesempatan bagi para peserta didik untuk
terlibat langsung dalam kegiatan belajar.

Beberapa kelebihan metode penemuan juga diungkapkan oleh Suherman, dkk (2001: 179) sebagai
berikut: 1. Siswa aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk
menemukan hasil akhir; 2. Siswa memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami sendiri proses
menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara ini lebih lama diingat; 3. Menemukan sendiri
menimbulkan rasa puas.Kepuasan batin ini mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat
belajarnya meningkat; 4. Siswa yang memperoleh pengetahuan dengan metode penemuan akan lebih
mampu mentransfer pengetahuannya ke berbagai konteks.
Di sisi lain, juga diuraikan kelemahan model discovery yang dikemukakan Takdir (2012:70),
yaitu: a) Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahpahaman antara guru dengan siswa.
b) Menyita pekerjaan guru. c) Tidak semua siswa mampu melakukan penemuan. d) Tidak berlaku untuk
semua topik. 1. Berkenaan dengan waktu, strategi discovery learning membutuhkan waktu yang lebih
lama daripada ekspositori. 2. Kemampuan berfikir rasional siswa ada yang masih terbatas. 3. Kesukaran
dalam menggunakan faktor subjektivitas, terlalu cepat pada suatu kesimpulan. 4. Faktor kebudayaan atau
kebiasaan yang masih menggunakan pola pembelajaran lama. 5. Tidak semua siswa dapat mengikuti
pelajara dengan cara ini. Di lapangan beberapasiswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model
ceramah. 6. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik yang
berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan model penemuan (edutaka.blogspot.co.id
diakses 18 November 2017).

Rangkuman
Sebagai rangkuman dari bab ini adalah:
a. Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada
proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang di pertanyakan.
b. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran inkuiri: orientasi, merumuskan masalah, mengajukan
hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan merumuskan kesimpulan.
c. Prinsip-prinsip pembelajaran inkuiri: berorientasi pada pengembangan intelektual, prinsip interaksi,
prinsip bertanya, prinsip belajar untuk berfikir dan prinsip keterbukaan.

8
d. Discovery merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan
konstruktivisme. Dimana model ini menekankan pada pentingnya pemahaman terhadap suatu
konsep dalam pembelajaran melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
e. Sintak model pembelajaran discovery adalah; 1) stimulus, 2) problem statement, 3) data collection,
4) data processing, 5) verification dan 6) generalization.

Daftar Rujukan
Al Tabany, Badar, Ibnu, Trianto. 2015. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif dan
Kontekstual. Jakarta. Kencana Prenadamedia
Azis Wahab, Abdul. 2009. Metode dan Model-Model Mengajar. Bandung: Alfabeta

Danim, Sudarman. 1995. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Hamalik, Oemar. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Riyanto, Yatim. 2012. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Roetiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Rineka Cipta

Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafinda Persada

Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Sanjaya, Wina. 2014. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta: Kencana

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Suhana, Cucu & Nanang Hanafiah. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: Refika Aditama

Suherman, dkk. 2001. Keunggulan Metode Discovery (Diakses):


http://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/metode-pembelajaran- discovery-penemuan/
Syah.2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Takdir. 2012. Pembelajaran Discovery Strategy dan Mental Vocational Skill. Jogjakarta: Diva Press

Trianto. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara

Wena, Made. 2012. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara