Anda di halaman 1dari 4

TATA CARA PERSIDANGAN

1. Perkenalan para presidium dan tugas masing-masing presidium (presidium 1:


“perkenalkan nama saya .... saya sebagai presidium 1, tugas saya memimpin jalannya
sidang. Presidium 2: perkenalkan nama saya .... saya sebagai presidium 2, tugas saya
sebagai sekretaris. Presidium 3: perkenalkan nama saya .... saya sebagai presidium 3,
tugas saya memantau dan mengamankan jalannya persidangan. Presidium 1: “Palu
sidang saya terima” (ketuk palu 1x)
2. Pembukaan
Presidium 1: “dengan mengucapkan basmallah bersama-sama
“bismillahirrahmanirrahim” mubes MB GSB MANHIBA saya buka” (ketuk palu 3x).
Sidang Pleno 1
“sidang pleno 1 membahas tentang ..... Apakah akan dibacakan point per point, bab
perbab, atau yang terdefinisinya saja ?”
Peserta sidang: “point perpoint/bab perbab/ yang terdefinisinya saja”
Presidium 1: “baik pleno 1 tentang .... akan dibacakan point perpoint/bab
perbab/terdifinisinya saja, disetujui” (ketuk palu 1x). S/d Selesai. Dst.
Presidium1: “Palu sidang saya serahkan kepada Sidang Pleno 2” (ketuk Palu 1x).
3. Sidang Pleno 2: kembali lagi ke point 1 dan 2 tanpa pembukaan
4. Sidang Pleno 3: kembali lagi ke point 1 dan 2 tanpa pembukaan
5. Penutupan
Presidium 1: “dengan mengucapkan hamdalah bersama-sama
“alhamdulillahirabbil’alamin” sidang ini saya tutup” (ketuk palu 3x)

Keterangan:
Penjelasan diatas hanya secara garis besarnya saja, masih ada kemungkinan lain seperti
interupsi, skorsing, lobying, dll. Akan dipaparkan dimateri persidangan. Selebihnya
improvisasi dan pemahaman Anda lebih diperlukan. Terimakasih.

MATERI PERSIDANGAN

A. Definisi Persidangan
Sidang atau musyawarah merupakan forum formal suatu organisasi yang
membahas suatu masalah untuk menghasilkan keputusan. Keputusan dari persidangan
ini harus ditaati seluruh bagian organisasi. Setiap organisasi, mempunyai aturan sendiri
dalam melaksanakan persidangan baik dari segi quorum, maupun dari segi teknis
pelaksanaannya.
B. Peserta Sidang
Peserta sidang meliputi:
 Presidium 1 (pemimpin jalannya persidangan)
 Presidium 2 (sekretaris sidang atau notulen sidang)
 Presidium 3 (eksekutor atau pemantau peserta sidang)
 Utusan (pihak yang terkait langsung dengan organisasi; anggota, tasykil, dll)
 Peninjau (pihak yang tidak terkait secara langsung; penasihat, penanggung
jawab, dll)
C. Hak Peserta Sidang
Hak peserta sidang setiap orang yang mengikuti persidangan, serta unsur
didalamnya. Setiap orang yang mengikuti persidangan haruslah pihak yang berhak dan
terlibat dalam suatu organisasi.
 Utusan
 Hak bicara, adalah untuk bertanya, mengeluarkan pendapat dan
mengajukan usulan kepada pimpinan baik secara lisan maupun tertulis.
 Hak suara, adalah hak untuk ikut ambil bagian dalam pengambilan
keputusan
 Hak memilih, adalah hak untuk menentukan pilihan dalam proses
pemilihan
 Hak dipilih, adalah hak untuk dipilih dalam proses pemilihan.
 Peninjau
 Hanya memiliki hak bicara saja.
D. Syarat dan Ketentuan Presidium
 Pelajari tentang presidium sidang, dan siapa yang berhak menjadi presidium
 Presidium sidang dipilih dari peserta yang dipadu oleh panitia pengarah
 Presidium sidang bertugas untuk memimpin dan mengatur jalannya persidangan
 Presidium sidang berkuasa untuk menjalankan tata tertib persidangan
Syarat-syarat presidium sidang:
 Memiliki pengetahuan yang cukup tentang persidangan
 Peka terhadap situasi dan cepat mengambil inisiatif dalam situasi kritis
 Mampu mengontrol emosi sehingga tidak terpengaruh kondisi persidangan
E. Simulasi Ketuk Palu

1. Simulasi Ketuk palu 1x ketukan: mengesahkan keputusan/kesepakatan peserta


sidang poin per poin (“apakah keputusan .... dapat disetujui ? SAH!”), menerima
dan menyerahkan pimpinan sidang (“palu sidang saya serahkan pada presidium 2”,
“palu sidang saya terima”), memberi peringatan kepada peserta sidang agar tidak
gaduh (“mohon peserta sidang untuk tidak gaduh!”), skorsing (“sidang saya
skorsing 1x10 menit”), mencabut kembali/membatalkan ketukan terdahulu yang
dianggap keliru (“skorsing 1x10 menit saya cabut”.
2. Simulasi ketuk palu 2x ketukan: untuk menskorsing atau mencabut skorsing dalam
waktu yang cukup lama (biasanya 1x30 menit), misalnya istirahat, lobying, sholat,
makan. (“sidang saya skorsing 1x30 menit untuk sholat”, “kami beri waktu untuk
melakukan lobi 1x30 menit”)
3. Simulasi ketuk palu 3x ketukan: membuka sidang atau acara resmi (“dengan
mengucapkan “basmallah” sidang .... kami buka”), menutup sidang atau acara
resmi (“dengan mengucapkan “hamdalah” sidang .... kami tutup”), mengesahkan
keputusan final/akhir hasil sidang (“.... memutuskan .... resmi disahkan”)
Istilah-istilah dan simulasi dalam persidangan
1. Skorsing: penundaan persidangan dengan waktu yang tidak lama. Maksimal 10
menit (“sidang saya skorsing 1x10 menit”)
2. Dead-lock: keadaan musyawarah yang terlalu banyak perbedaan, sehingga sulit
mencapai sepakat. Solusinya lakukan proses lobbying untuk menemukan
perbedaan tanpa proses persidangan (skorsing). (“untuk menemukan kesatuan
pendapat, sidang kami skorsing 1x30 menit”)
3. Lobying: bentuk kompromi (diskusi) untuk menyelesaikan perbedaan pendapat
yang telalu banyak. (“untuk menemukan kesatuan pendapat, sidang kami skorsing
1x30 menit”)
4. Voting: pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak, diutamakan
melakukan musyawarah terlebih dahulu. (“apakah pasal... bab... tentang ...
disetujui untuk dihapuskan?”, “hasil voting memutuskan untuk menghapus pasal....
bab.... tentang.... SAH!”)
5. Peninjauan kembali: mengkaji keputusan yang telah disepakati sebelumnya, untuk
diadakan pembatalan atau perubahan. (“bapak presidium terhormat, kami
memohon untuk meninjau kembali bab... pasal... ayat... tentang... karena kami
menemukan informasi baru terkait hal tersebut”, “apa yang bisa anda sampaikan?”,
“begini.....”, “dengan ini, kami memberikan kesempatan untuk meninjau kembali
pasal tersebut, dan mencabut keputusannya”). Dalam memohon peninjauan,
peserta sidang harus memberikan statemen yang bisa dipertanggungjawabkan
sebelum presidium mengizinkan untuk peninjauan kembali hal yang sudah
disepakati sebelumnya.
6. Walk-out: peserta yang keluar persidangan atas kehendak sendiri atau kelompok
dengan alasan tidak setuju atas suatu keputusan. (“.... memutuskan .... resmi
disahkan”, “bapak presidium terhormat, keputusan anda terlalu terburu-buru, kami
tidak sepakat”).
7. Quorum: adalah peserta minimal dalam sebuah persidangan, sebuah keputusan sah
bila tercapai qourum. Quorum dihadiri oleh sekurang-kurangnya 1/2+1 dari peserta
yang terdaftar. Setiap keputusan didasarkan atas musyawarah untuk mufakat, jika
tidak berhasil dilakukan lobi, apabila lobi tidak berhasil diambil melalui suara
terbanyak. Bila dalam pengambilan keputusan melalui suara terbanyak terjadi
suara seimbang, maka dilakukan lobi kembali sebelum dilakukan pemungutan
suara ulang.
Total utusan 40 orang, yang hadir (minimal) harus 21
½ (n)+1
½ (40)+1
=20+1
=21
8. Interupsi: adalah suatu bentuk selaan atau memotong pembicaraan dalam sidang
karena adanya masukan yang perlu diperhatikan untuk pelaksanaan sidang
tersebut.
Macam-Macam Interupsi:
 Privilege: disampaikan bila pertanyaan yang disampaikan oleh peserta lain
sudah diluar pokok masalah dan cenderung menyerang secara pribadi.
 Clarification: berfungsi untuk meminta klarifikasi (perbaikan) tentang
pernyataan peserta sidang lainnya.
 Information: berfungsi sebagai informasi diluar persidangan yang perlu
diperhatikan oleh seluruh peserta sidang termasuk pimpinan sidang.
 Order: berfungsi untuk meminta penjelasan atau memberikan masukan
yang berkaitan dengan materi persidangan.
 Out of order: berfungsi untuk meminta izin melakukan sesuatu yang tidak
berhubungan secara langsung dengan persidangan, seperti izin ke belakang,
izin sholat, dll.

Catatan: presidium sidang menunjuk peserta yang melakukan interupsi harus sesuai
dengan hirarki diatas, semakin atas jenis interupsinya maka semakin didahulukan

F. Sanksi
 Peserta yang tidak memenuhi persyaratan dan kewajiban yang ditentukan dalam
tata tertib persidangan akan dikenakan sanksi dengan mempertimbangkan saran,
dan usulan peserta sidang.
 Dalam pemberian sanksi didahulukan oleh peringatan kepada peserta (biasanya
sampai 3 kali), kemudian dengan kesepakatan bersama, presidium sidang boleh
mengeluarkan peserta tersebut dari forum, atau mengambil kebijakan lain
dengan atau tanpa kesepakatan peserta sidang yang lain.
 Diskusi pemberian sanksi dilakukan dengan presidium sidang lain.
 Jenis sanksi disepakati bersama dan tidak ada ketentuan terhadapnya