Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

ASPEK ETIK DAN HUKUM DALAM PEMBERIAN TERAPI


KOMPLEMENTER AKUPUNTUR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Transcultural Nursing

Dosen: Kusman Ibrahim, PhD

Disusun Oleh:
Agri Azizah Amalia
(002120180056)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
Daftar Isi

BAB I ......................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 3
1.2 Tujuan.......................................................................................................................... 3
BAB II........................................................................................................................................ 4
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 4
2.3 Studi kasus terkait terapi akupuntur ............................................................................ 4
2.2 Regulasi praktik penggunaan terapi komplementer akupuntur ................................... 5
2.3 Implementasi penggunaan terapi akupuntur ............................................................... 6
2.2 Etik dan Hukum pada penggunaan terapi akupuntur ................................................. 7
BAB III ...................................................................................................................................... 9
PENUTUP.................................................................................................................................. 9
3.2 KESIMPULAN ........................................................................................................... 9
3.2 SARAN ....................................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 10

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengobatan komplementer adalah pengobatan nonkonvensional yang ditujukan


untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan upaya promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas,
keamanan dan efektifitas yang tinggi (Kemenkes RI, 2011).

Terapi komplementer juga ada yang menyebutnya dengan pengobatan holistik.


Pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang mempengaruhi individu secara
menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan individu untuk mengintegrasikan pikiran,
badan, dan jiwa dalam kesatuan fungsi (Smith et al., 2004). Hal ini terjadi karena klien
ingin mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan pilihannya, sehingga apabila
keinginan terpenuhi akan berdampak ada kepuasan klien. Hal ini dapat menjadi peluang
bagi perawat untuk berperan memberikan terapi komplementer.

Akupunktur merupakan suatu metode terapi dengan penusukan pada titik-titik


di permukaan tubuh untuk mengobati penyakit maupun kondisi kesehatan lainnya.
Dikenal sejak 4000-5000 tahun yang lalu di Cina sebagai bagian dari TCM (Traditional
Chinese Medicine). Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik mengkaji terapi
pengobatan akupuntur untuk mengetahui bahwa terapi akupuntur dapat mengurangi
rasa sakit.

1.2 Tujuan

a. Menjelaskan studi kasus terkait terapi komplementer akupuntur.


b. Menjelaskan regulasi praktek penggunaan terapi komplementer akupuntur.
c. Menjelaskan implementasi penggunaan terapi komplementer akupuntur.
d. Menjelaskan permasalahan etik dan hukum terkait penggunaan terapi
komplementer akupuntur.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.3 Studi kasus terkait terapi akupuntur

Akupuntur (Bahasa Inggris: Acupuncture; Bahasa Latin: acus, "jarum" (k


benda), dan pungere, "tusuk" (k kerja)) atau dalam Bahasa Mandarin standard, zhēn
jiǔ (針灸 arti harfiah: jarum - moxibustion) adalah teknik memasukkan atau
memanipulasi jarum ke dalam "titik akupunktur" tubuh. Menurut ajaran ilmu
akupunktur, ini akan memulihkan kesehatan dan kebugaran, dan khususnya sangat
baik untuk mengobati rasa sakit. Definisi serta karakterisasi titik-titik ini di-
standardisasi-kan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Akupunktur berasal dari
Tiongkok dan pada umumnya dikaitkan dengan Obat-obatan Tradisional Tiongkok.
Bermacam-macam jenis akupuntur (Jepang, Korea, dan Tiongkok klasik)
dipraktekkan dan diajarkan di seluruh dunia.
Menurut Dharmojono motto akupunktur paling terkenal dengan nama
MAREM (Murah, Aman, Rasional, Efektif, Mudah). Motto MAREM ini sangat
sesuai dengan GBHN Tahun 1988 yang menyatakan bahwa “Pembangunan kesehatan
terutama ditujukan kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah baik di
pedesaan maupun di perkotaan”. Pada dasarnya, jumlah sumber daya akupunkturis di
Indonesia masih sangat sedikit dan masih banyak yang terkonsentrasi di kota-kota
besar (Dharmojono, 2001). Motto harus semakin banyak tertanam didalam pikiran
maupun hati pelanggan sehingga menciptakan suatu merek yang kuat, dan menjadi
kekayaan bagi merek tersebut (Kertajaya, 2004).
Kabupaten Sumedang merupakan salah satu kabupaten yang mempunyai
beberapa tempat praktik akupuntur. Akupuntur ini dilakukan untuk berbagai alasan
kesehatan, misalnya menghilangkan rasa sakit. Akupuntur dilakukan tanpa didasari
oleh pemeriksaan penunjang sebelumnya, seperti pemeriksaan rontgen. Hal ini
menjadi permasalahan bahwa pasien diberikan pengobatan tanpa melakukan
pemeriksaan kesehatan sebelumnya sehingga efek samping dapat terjadi pada tubuh
pasien dan bisa mengakibatkan komplikasi.

4
2.2 Regulasi praktik penggunaan terapi komplementer akupuntur
Jenis pengobatan komplementer berdasarkan Peraturan menteri
kesehatan RI, Nomor: 1109/Menkes/Per/2007 yaitu pijat urut, aromaterapi,
chiropraktik, yoga, mediasi, akupunktur, osteopati, akupresur, shiatsu, terapi herbal,
hipnoterapi, penyembuhan spiritual, do’a, naturopati, homeopati, healing touch, tuina,
jamu, gurah, makro nutrient, mikro nutrient, terapi ozon, hiperbarik,terapi energi
(medan energi) (Kemenkes RI, 2011).

Pendekatan dasar dalam pembinaan pengobatan tradisional mengacu pada


Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 1992 Pasal 47, yaitu pada hakikatnya menuju upaya
mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan pengobatan tradisional sebagai
komplementer dan alternatif yang dapat dipertanggung jawabkan (Saputra, 2007).
Dasar hukum dan perundangan Indonesia yang terkait dengan akupunktur adalah
sebagai berikut :
1. Surat Keputusan Mentri Kesehatan RI.037/BIRHUB/1973
tentang Wajib Daftar Akupunktur
2. Surat Keputusan Mentri Kesehatan RI. 0854/PERMENKES/VIII/1994
tentang sentra Pengembangan danPenerapan Pongobatan Tradisional
3. Peraturan Menteri Kesehatan yang dituangkan dalam Permenkes
No.1186/MENKES/PER/XI/1996 tentang Pemanfaatan Akupunktur di Sarana
Pelayanan Kesehatan.
4. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1076/MENKES/SK/VII/2003 tentang
Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional.
5. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1277/MENKES/SK/VIII/2003 tentang
Tenaga Akupunktur.
6. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1192/MENKES/PER/X/2004 tentang
Pendirian Diploma Bidang Kesehatan.
7. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109
Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer alternatif di
fasilitas pelayanan kesehatan.
8. Keputusan Menkes RI No 1076/Menkes/SK/VII/2003 mengatur tentang
penyelenggaraan Pengobatan Tradisional.
9. Keputusan Menkes RI Nomor 121 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Medik
Herbal. Untuk terapi SPA (Solus Per Aqua) atau dalam bahasa Indonesia sering
diartikan sebagai terapi Sehat Pakai Air, diatur dalam Permenkes RI No. 1205/

5
Menkes/Per/X/2004 tentang pedoman persyaratan kesehatan pelayanan Sehat
Pakai Air (SPA).
10. Undang – Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan 1) Pasal 1 butir 16,
pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan
cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun – temurun
secara empiris yang dapat dipertanggung jawabkan dan diterapkan sesuai dengan
norma yang berlaku di masyarakat; 2) Pasal 48 tentang pelayanan kesehatan
tradisional; 3) Bab III Pasal 59 s/d 61 tentang pelayanan kesehatan tradisonal.
11. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 120/Menkes/SK/II/2008 tentang standar
pelayanan hiperbarik; f. Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No.
HK.03.05/I/199/2010 tentang pedoman kriteria penetepan metode pengobatan
komplementer – alternatif yang dapat diintegrasikan di fasilitas pelayanan
kesehatan.

2.3 Implementasi penggunaan terapi akupuntur


Minat masyarakat Indonesia terhadap terapi komplementer ataupun yang masih
tradisional mulai meningkat (Widyatuti, 2008). Hal ini dapat dilihat dari banyaknya
pengunjung praktik terapi komplementer dan tradisional di berbagai tempat. Selain
itu, sekolah-sekolah khusus ataupun kursuskursus terapi semakin banyak dibuka. Ini
dapat dibandingkan dengan Cina yang telah memasukkan terapi tradisional Cina atau
traditional Chinese Medicine (TCM) ke dalam perguruan tinggi di negara tersebut
(Snyder & Lindquis, 2002; Widyatuti, 2008). Bagi masyarakat, termasuk tentang
standarisasi tenaga pelaksana dan pendidikan yang harus ditempuh sebagai syarat
dalam menyelenggarakan terapi komplementer. Oleh karena itu, perawat sebagai
salah satu tenaga kesehatan di Indonesia harus segera melakukan jemput bola agar
dapat berperan dalam penyelenggaraan terapi ini. Terutama pada institusi pendidikan
keperawatan harus jeli dalam menangkap peluang yang terdapat dalam isu etik terapi
komplementer ini dengan mengakomodir dalam pembelajaran (setelah melalui
standarisasi kurikulum pendidikan keperawatan terpadu) serta sebagai bahan kajian
diskusi ilmiah dan penelitian berkelanjutan dengan didukung pula upaya- upaya
strategis oleh organisasi profesi. Diharapkan, dalam praktik terapi komplementer ini
nantinya perawat tidak masuk lagi dalam zona abuabu (seperti pada praktik klinik
mandiri) namun dapat memberikan warna yang tegas dalam dunia profesi
keperawatan. Diperlukan adanya integrasi antara Permenkes No. 1109 tahun 2007
tentang tentang penyelenggaraan pelayanan kesehatan komplementer alternatif di

6
fasilitas pelayanan kesehatan, dan tenaga pelaksana termasuk tenaga asing dengan
Permenkes Nomor 148 tahun 2110 tentang praktek keperawatan. Selama ini ijin
mereka berdasarkan praktek keperawatan. PPNI masih membahas bagaimana
mengintegrasikan peraturan Permenkes dan peraturan praktik keperawatan (Erry et al,
2014).

2.2 Etik dan Hukum pada penggunaan terapi akupuntur


Etik dalam terapi komplementer harus mendapatkan unsur keamanan, lingkup
praktik, berdasarkan keragaman budaya, dan mengedepankan prinsip keadilan.
Permasalahan yang dihadapi dalam penggunaan pengobatan pijat urut yaitu
minimalnya pembinaan dan pengawasan terhadap praktik pengobatan tradisional,
dimana pemerintah menyediakan tenaga sumber daya manusia yang mempunyai
kemampuan yang tidak hanya didapat secara turun temurun.
Perawat secara holistik harus bisa mengintegrasikan prinsip mindbody-spirit
dan modalitas (cara menyatakan sikap terhadap suatu situasi) dalam dalam kehidupan
sehari-hari dan praktek keperawatannya. Terapi komplementer menjadi salah satu cara
bagi perawat untuk menciptakan lingkungan yang terapeutik dengan menggunakan diri
sendiri sebagai alat atau
media penyembuh dalam rangka menolong orang lain dari masalah kesehatan. Terapi
komplementer digunakan bersama-sama dengan terapi medis conventional.
Pengembangan kebijakan, praktik keperawatan, pendidikan, dan riset. Apabila isu ini
berkembang dan terlaksana terutama oleh perawat yang mempunyai pengetahuan dan
kemampuan tentang terapi komplementer, diharapkan akan dapat meningkatkan
pelayanan kesehatan sehingga kepuasan klien dan perawat secara bersama-sama dapat
meningkat.
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109
Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementeralternatif di fasilitas
pelayanan kesehatan. Menurut aturan itu, pelayanan komplementer-alternatif dapat
dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi, dan mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pengobatan itu harus aman, bermanfaat, bermutu, dan dikaji institusi berwenang sesuai
dengan ketentuan berlaku. Sementara itu, Keputusan Menkes RI No
1076/Menkes/SK/VII/2003 mengatur tentang penyelenggaraan Pengobatan
Tradisional. Di dalam peraturan tersebut diuraikan cara- cara mendapatkan izin praktek
pengobatan tradisional beserta syarat- syaratnya. Khusus untuk obat herbal, pemerintah

7
mengeluarkan Keputusan Menkes RI Nomor 121 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Medik Herbal. Untuk terapi SPA (Solus Per Aqua) atau dalam bahasa
Indonesia sering diartikan sebagai terapi Sehat Pakai Air, diatur dalam Permenkes RI
No.
1205/ Menkes/Per/X/2004 tentang pedoman persyaratan kesehatan pelayanan Sehat
Pakai Air (SPA).

8
BAB III

PENUTUP

3.2 KESIMPULAN
Pengobatan komplementer adalah pengobatan nonkonvensional yang ditujukan
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan upaya promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas,
keamanan dan efektifitas yang tinggi berlan. Perkembangan terapi komplementer atau
alternatif sudah luas, termasuk didalamnya orang yang terlibat dalam memberi
pengobatan karena banyaknya profesional kesehatan dan terapis yang terlibat dalam
terapi komplementer. Hal ini dapat meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan
melalui penelitianpenelitian yang dapat memfasilitasi terapi komplementer agar
menjadi lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Perawat sebagai salah satu profesional kesehatan, dapat turut serta berpartisipasi
dalam terapi komplementer. Peran yang dijalankan sesuai dengan peran-peran yang
ada. Arah perkembangan kebutuhan masyarakat dan keilmuan mendukung untuk
meningkatkan peran perawat dalam terapi komplementer karena pada kenyataannya,
beberapa terapi keperawatan yang berkembang diawali dari alternatif atau tradisional
terapi.

3.2 SARAN
Adapun saran yang dapat dari makalah ini adalah perawat maupun mahasiswa
keperawatan dapat memahami dan mengetahui tentang terapi komplementer sehingga
diharapkan dalam praktek di masa depan mahasiswa bisa mengaplikasikan terapi ini
sebagai pengobatan alternatif dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki
kepada pasiennya.

9
DAFTAR PUSTAKA

Erry, Andy, LS, Raharni & Rini, SH 2014, Kajian Implementasi Kebijakan
Pengobatan Komplementer Alternatif dan Dampaknya Terhadap Perijinan Tenaga
Kesehatan Praktek Pengobatan Komplementer Alternatif Akupuntur, Buletin
Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 17 No. 3 Juli 2014: 275–284

Hamijoyo, L, 2003, Complementary medicine in Reumatology,


<http://medikaholistik.Com>.

Setyaningsih, Y, 2012, ‘Hubungan Antara Persepsi Dengan Sikap Masyarakat


Terhadap Pengobatan Komplementer Di Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo’,
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Smith, SF, Duell, DJ, Martin, BC, 2004. Clinical nursing skills: Basic to advanced
skills. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Snyder, M & Lindquist, R, 2002. Complementary/alternative therapies in nursing. 4th


ed. New York: Springer.

Widyatuti, 2008, Terapi Komplementer dalam Keperawatan, Jurnal Keperawatan


Indonesia, Volume 12, No. 1, Maret 2008; hal 53-57

10