Anda di halaman 1dari 11

NAMA : NI PUTU AYU CINDY PARAMITHA

NIM : 118211039
JURUSAN : SI AKUNTANSI (Sore)

TEORI AKUNTANSI BAB VIII


PENDAPATAN

1. Pengertian
Berbagai sumber mamaknai pendapatan kurang kebih sama walaupun dengan variasi
yang berbeda. Dalam SFAC No. 6 FASB mendefinisikan pendapatan dan untung sebagai
berikut :
Pendapatan adalah arus masuk atau perangkat tambahan lain aset dari suatu entitas atau
penyelesaian kewajiban (atau kombinasi keduanya) dari pengiriman atau produksi barang, jasa
render, atau kegiatan lainnya yang merupakan operasi yang sedang berlangsung oleh entitas
besar atau pusat (prg. 78)
Pendapatan adalah produk dari perusahaan, diukur dengan jumlah aset baru yang
diterima dari pelanggan, dinyatakan dalam hal aset pendapatan dari perusahaan diwakili,
akhirnya, oleh aliran dana dari pelanggan atau pelanggan dalam pertukaran untuk produk
bisnis, baik komoditas atau jasa (hlm, 47-47)
Sementara itu, APB (1970) mendefinisikan pendapatan dengan memasukkan kriteria
pengakuan sebagai berikut (APB Statement No 4 prg 134) :
Pendapatan - kenaikan bruto dalam aset atau penurunan bruto dalam kewajiban yang
diakui dan diukur sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum yang dihasilkan dari
jenis-jenis laba-kegiatan diarahkan kegiatan perusahaan yang dapat mengubah ekuitas pemilik.

2. KARAKTERISTIK PENDAPATAN
Dari beberapa definisi di atas dapat didaftar karakteristik karakteristik atau kata kata
kunci yang membentuk pengertian pendapatan dan untung. Yang membentuk pengertian
pendapatan dan untung adalah :
1. Aliran masuk atau kenaikan aset
2. Kegiatan yang mempresentasi operasi utama atau sentral yang menerus.
3. Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban.
4. Suatu entitas
5. Produk perusahaan
6. Pertukaran produk
7. Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk.
8. Mengakibatkan kenaikan ekuitas.
Beberapa karakteristik di atas dikatakan merupakan turunan/konsekuensi dsari atau
dikandung secara implisit oleh kata kunci yang lain. Karakteristik (3) sampai (8) sebenarnya
merupakan penjabaran atau konsekuensi dari ketiga karakteristik sebelumnya.Oleh karena itu,
dapat dikatakan bahwa karakteristik (1) dan (2) merupakan karakteristik konsekuensi,
pendukung, atau penjelas.

1. Kenaikan Aset
Paton dan Litleton (1970:47) menyebutkan bahwa aset dapat bertambah karena
berbagai transaksi, kejadian, atau keadaan sebagai berikut:
 Transaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor.
 Laba yang berasal dari kegiatan investasi, misalnya penjualan aset tetap, surat
berharga, segmen bisnis, dan anak perusahaan.
 Hadiah, donasi atau temuan
 Revaluasi aset yang telah ada.
 Penyediaan dan/atau penyerahan produk (barang dan jasa)
Untuk disebut sebagai pendapatan, aliran aset masuk adalah jumlah rupiah kotor.FASB
mengisyaratkan jumlah kotor dengan menyatakan bahwa pendapatan adalah jumlah rupiah
yang datang dari penyerahan produk atau pelaksanaan jasa.(IASC) menunjuk jumlah kotor
dengan menyebutkan bahwa jumlah rupiah pendapatan dapat berupa penjualan, imbalan jasa,
bunga, dividen, royalitas, dan sewa.
2. Operasi Utama Berlanjut
Tidak semua kenaikan aset di atas membentuk pendapatan. Kegiatan utama atau sentral
yang menerus atau berlanjut merupakan karakteristik yang membatasi kenaikan yang dapat
disebut pendapatan. Kenaikan aset harus berasal dari kegiatan operasi dan bukan kegiatan
investasi dan pendanaan. Kegiatan operasi ini diwujudkan dalam bentuk memproduksi dan
mengirimkan berbagai barang kepada pelanggan atau menyerahkan atau melaksanakan
berbagai jasa.
3. Penurunan Kewajiban
Hal ini terjadi bila suatu entitas telah mengalami kenaikan aset sebelumnya misalnya
menerima pembayarn di muka dari pelanggan penerimaan ini bukan merupakan pendapatan
karena perusahaan belum melakukan prestasi yang menimbulkan hak penuh atas aset yang
diterima.Oleh karena itu, jumlah rupiah yang diterima biasanya diperlukan sebagai pendapatan
tekterhak atau pendapatan tangguhan yang statusnya adalah kewajiban sampaiada prestasi dari
perusahaan berupa pengirimkan barang atau pelaksanaan jasa. Pengiriman barang atau
pelaksanaan jasa akan mengurangi kewajiban yang menimbulkan pendapatan. Kejadian itu
mengubah kewajiban menjadi pendapatan.
4. Suatu Entitas
Dimasukkan kata entitas atau perusahaan dalam definisi mengisyaratkan bahwa konsep
kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian. Pendapatan didefinisikan sebagai kenaikan aset
bukannya kenaikan ekuitas bersih.Jadi, aset yang masuk itulah yang disebut pendapatan.Aset
tersebut dikuasai oleh perusahaan. Akan tetapi, karena hubungan perusahaan dengan pemilik
merupakan hubungan utang-piutang, pada saat aset naik sebagai pendapatan utang perusahaan
kepada pemilik juga naik dengan jumlah yang sama. Hal ini mengisyaratkan bahwa konsep
kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian. Karena pendapatan didefinisikan sebagai kenaikan
aset bukan kenaikan ekuitas.
5. Produk Perusahaan
Paton dan Littleton menyatakan bahwa pendapatan adalah produk perusahaan. Di sini
pendapatan didefinisikan secara fisis bukan moneter.Definisi ini juga netral terhadap saat
pengakuan.Aliran aset dari pelanggan berfungsi hanya sebagai pengukur tetapi bukan
pendapatan itu sendiri.
Ada dua aliran yang berkaitan dengan pendapatan yaitu aliran fisis dan moneter.
a. Aliran fisis berupa :
• Kejadian memproduksi dan menjual produk
• Objek, yaitu produk fisis itu sendiri.
b. Aliran moneter berupa :
• Kejadian menaiknya nilai aset perusahaan karena produksi atau penjualan produk ke
konsumer.
• Objek, yaitu jumlah rupiah aset atau produk yang dihasilkan atau dijual.
6. Pertukaran
Ini dikarenakan pendapatan akhirnya harus dinyatakan dalam satuan moneter untuk
dicatat dalam sistem pembukuan.Satuan moneter yang paling objektif adalah kalau jumlah
rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau pertukaran antara pihak independen.
7. Berbagai bentuk dan Nama
Pendapatan adalah konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua pos dengan
berbagai bentuk dan nama apapun. Pendapatan untuk perusahaan perdagangan misalnya disebut
dengan penjualan.
FASB membedakan antara untung dan pendapatan karena adanya karakteristik sumber
yang dapat dibedakan dengan operasi utama. Karakteristik sumber dari untung itu sendiri
adalah :
 Periferal dan insidental: misalnya penjualan investasi dalam surat-surat berharga,
penjualan aset tetap, pelunasan utang obligasi sebelum jatuh tempo.
 Transfer nontimbal-balik (nonreciprocal transfer) dengan pihak lain : misalnya hadiah
dan donasi (bagi organisasi nonprofit) dan penerimaan ganti rugi pemenangan tuntutan
perkara hukum.
 Penahanan aset (holding asset) : misalnya kenaikan harga sekuritas investasi, kenaikan
nilai tukar valuta asing, dan kenaikan karena penahanan sediaan (holding gains)
 Faktor lingkungan : misalnya ganti rugi asuransii musibah alam yang melebihi kos aset
yang rusak.

3. PEMBENTUKAN DAN REALISASI PENDAPATAN


Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem akuntansi
sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan.Pengertian atau definisi
pendapatan harus dipisahkan dengan pengakuan pendapatan bahkan pengertian pendapatan
sebenarnya juga harus dipisahkan dengan pengukuran pendapatan.Dengan demikian, suatu
jumlah yang memenuhi definisi pendapatan tidak dengan sendirinya jumlah tersebut diakui
(dicatat secara resmi) sebagai pendapatan.
Pendapatan sebagai produk perusahaan tidak mengisyaratkan berapa jumlahnya dan
berapa harus dicatat tetapi lebih mengisyaratkan berapa jumlahnya dan kapan harus dicatat
tetapi lebih mengisyaratkan bahwa pendapatan memang ada atau terwujud, definisi tersebut
lebih difokuskan pada eksistensi pendapatan.
Pengakuan pendapatan tidak boleh menyimpang dari landasan konseptual.Oleh karena
itu, secara konseptual pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi kualitas keterukuran
(measurability), dan keterandalan (reliability).Kualitas tersebut harus diopersionalkan dalam
bentuk kriteria pengakuan pendapatan.Sebagai produk perusahaan, kriteria keterukuran
berkaitan dengan masalah berapa jumlah rupiah produk tersebut dan kriteria keterandalan
berkaitan dengan masalah apakah jumlah tersebut objektif serta dapat diuji
kebenarannya.Kedua kriteria harus dipenuhi untuk pengakuan pendaptan. Pendapatan yang
diukur dengan jumlah penghargaan sepakatan produk yang terjual baru akan menjadi
pendapatan yang sepenuhnya setelah produk selesai diproduksi dan penjualan benar-benar.
Untuk menjabarkan kriteria kualitas informasi menjadi kriteria pengakuan pendapatan, perlu
dipahami dua konsep penting yaitu pembentukan pendapatan dan realisasi pendapatan.
a. Pembentukan Pendapatan (Earning Process)
Pembentukan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan masalah kapan
dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul dan menjadi ada. Dengan kata lain, apakah
pendapatan itu timbul dari keadaan produktif atau karena kejadian tertentu. Konsep ini
menyatakan bahwa pendapatan terbentuk , terhimpun atau terhal bersamaan dan dengan
melekat pada seluruh atau totalitas proses berlangsungnya operasi perusahaan dan bukan
sebagai hasil transaksi tertentu. Konsep dasar ini sering disebut pendekatan proses
pembentukan pendapatan atau pendekatan kegiatan.
Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar upaya dan hasil capaian serta kontiuitas
usaha.Biaya merepresentasikan upaya dan pendapatan merepresentasikan capaian.Karena
tujuan perusahaan adalah menciptakan laba, manajemen atau pengusaha mengharapkan
diharapkan bahwa pendapatan selalu lebih besar dari biaya.
Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenesitas kos yaitu bahwa semua tahap
kegiatan atau unsur di dalamnya (direpresentasikan) mempunyai kedudukan atau arti penting
yang sama dalam menghasilkan pendapatan (Paton dan Littleton 1970 : 67 dalam Suwardjono,
2005 : 364).
Implikasi dari konsep ini adalah semua tahap kegiatan memberi sumbangan dalam
penciptaan pendapatan yang secara proporsional sama dengan besarnta kos. Jadi, begitu kos
suatu objek biaya terjadi, pendapatan dapat dianggap terbentuk sehingga laba juga terbentuk.
b. Realisasi Pendapatan
Kosep realisasi pendapatan:
Menurut konsep ini, pendapatan baru dikatakan terjadi atau terbentuk pada saat terjadi
kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen untuk membayar produk baik produk telah
selesai dan diserahkan atau belum dibuat sama sekali. Dengan kata lain, pendapatan terbentuk
pada saat produk selesai dikerjakan dan terjual langsusng atau pada saat terjual atas dasar
kontrak penjualan (barang mungkin belum jadi atau belum diserahkan). Berdasarkan konsep,
pendapatan sebenarnya terjadi akibat transaksi tertentu yaitu transaksi penjualan atau kontrak
sehingga sebelum transaksi atau kontrak tersebut terjadi pendapatan belum terjadi atau
terbentuk.
Konsep realisasi lebih berkaitan dengan masalah pengukuran pemdapatan secara
objektif dan lebih bersifat kriteria pengakuan daripada bersifat makna pendapatan. Konsep
realisasi atau pendekatan transaksi lebih menekankan kejadian yang dapat menandai pengakuan
pendapatan yaitu :
 Kejadian perubahan produk menjadi potensi jasa lain melalui proses penjualan yang sah
atau semacamnya.
 Penguatan atau validassi transaksi penjualana tersebut dengan diperolehnya aset lancar.
Dari kedua kejadian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses realisasi merupakan
koonfirmasi proses penghimpunan dana.

4. PENGAKUAN PENDAPATAN
1. Kriteria Pengakuan Pendapatan
Pendapatan baru dapat diakui setelah suatu produk selesei diproduksi dan penjualan
benar-benar telah terjadi yang ditandai dengan penyerahan barang. Dengan kata lain,
pendapatan belum dapat dikatakan ada dan diakui sebelum ada penjualan yang nyata. Hal ini
didasarkan pada gagasan bahwa pengakuan suatu jumlah rupiah dalam akuntansi harus
didasarkan pada konsep dasar keterukuran dan reliabilitas; jumlah rupiah harus cukup pasti dan
ditentukan secara objektif oleh pihak independen.
a. Terealisasi atau cukup pasti terealisasi
Pendapatan dikatakan terealisasi bilamana produk telah terjual atau ditukarkan
dengan kas atau klai atas kas.Dan dikatakan cukup pasti terealisasi bilamana aset
berkaitan yang diterima atau ditahan mudah dikonversi menjadi kas atau klaim atas kas
yang cukup pasti jumlahnya.
b. Terbentuk atau terhak
Pendapatan dikatakan dapat terbentuk bila mana perusahaan telah melakukan
secara substansial kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat menghaki manfaat atau
nilai yang melekat pada pendapatan.
Pendapatan baru dapat diakui kalau dipenuhi syarat-syarat berikut :
1. Keterukuran nilai asset (measurability of asset value)
2. Adanya suatu transaksi (existence of a transaction)
3. Proses perhimpunan secara substansial telah selesai
2. Saat Pengakuan Pendapatan
Masalah kapan suatu pendapatan dapat diakui berkaitan dengan saat (timing) pengakuan
pendapatan itu sendiri. Ada beberapa gagasan mengenai hal ini :
a. Pada Saat Kontrak Penjualan
Dapat terjadi ketika perusahaan telah menandatangani kontrak perusahaan dan
bahkan sudah menerima kas untuk seluruh nilai kontrak tetapi perusahaan belum mulai
memproduksi barang.Pendapatan sudah terealisasi tetapi belum terbentuk karena hanya
satu kriteria yang terpenuhi dan tidak dapat diakui sebagai pendapatan.Sementara itu,
pembayaran dimuka harus diakui sebagai kewajiban sampai barang atau jasa diserahkan
kepada pembeli, biasanya dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.
b. Selama proses produksi secara bertahap
Dalam industri tertentu, pembuatan produk memerlukan waktu yang cukup lama
.Misalnya dalam industri konstruksi bangunan. Biasanya produk semacam itu
diperlakukan sebagai projek dan dilaksankan atas dasar kontrak sehingga pendapatan
terealisasi untuk seluruh periode kontrak tetapi mungkin belum cukup terbentuk pada
akhir tiap periode akuntansi. Dalam hal ini, pengakuan pendapatan dapat dilakukan
secara bertahap (per periode akuntansi) sejalan dengan kemajuan proses produksi atau
sekaligus pada saat projek selesai dilakukan. Yang pertama disebut metode persentase
penyelesaian, sedangkan yang terakhir disebut metode kontrak selesai.
c. Pada saat produk selesai
Pengakuan semacam ini setara dengan pengakuan pendapatan metode kontrak
selesai.Pengakuan pendapatan atas dasar saat produk selesai diproduksi dapat dianggap
layak untuk industri ekstraktif (pertambangan) termasuk pertanian.Bahan dasar hasil
produksi biasanya memiliki harga yang sudah pasti.Kondisi ini memungkinkan untuk
menaksir dengan cukup tepat nilai jual yang dapat direalisasi suatu sediaan barang jadi
ada pada tanggal tertentu, sehingga kedua kriteria pengakuan dianggap dapat terpenuhi.
d. Pada saat penjualan
Pengakuan ini merupakan dasar yang paling umum karena pada saat penjualan
kriteria penghimpunan dan realisasi telah terpenuhi. Kriteria terealisasi telah terpenuhi
karena telah ada kesepakatan pihak lain untuk membayar jumlah rupiah pendapatan
secara objektif. Dengan demikian, saat penjualan merupakan saat yang kritis dalam
operasi perusahaan. Transaksi penjualan mengakibatkan masuknya aset baru ke dalam
perusahaan (kas atau piutang) untuk:
• Menutup kos (potensi jasa) yang terserap untuk melaksanakan kegiatan produksi
yang berkulminasi dengan penyerahan produk.
• Menyediakan dana sebagai imbalan untuk pembayaran pajak kepada pemerintah,
bunga kepada kreditor, dan dividen kepada pemegang saham.
Kendati saat penjualan menjadi standar umum pengakuan pendapatan, terdapat
beberapa hal yang sering diajukan sebagai keberatan terhadap dasar tersebut. Hal
pertama yaitu berkaitan dengan kepastian pengukuran pendapatan akibat kos purna jual
dan masalah kedua adalah adanya kemungkinan retur barang. Akhirnya kemungkinan
akan ada piutang tak tertagih, sehingga piutang tidak dapat dijadikan bukti
terealisasinya pendapatan.
e. Pada saat kas terkumpul
Pengakuan pendapatan pada saat kas terkumpul sebenarnya merupakan
pengakuan pendapatan berdasarkan asas kas. Penerapan pengakuan berdasarkan kas
paling banyak dijumpai pada perusahaan jasa dan perusahaan yang melakukan
penjualan secara angsuran. Pengakuan dasar kas digunakan untuk transaksi penjualan
yang barang atau jasanya telah diserahkan/dilaksanakn tetapi kasnya baru akan diterima
secara berkala dalam waktu yang cukup panjang.
Alasan digunakannya dasar ini adalah adanya ketidakpastian tentang
kolektabilitas atau ketertagihan piutang

3. Saat Pengakuan Penjualan Jasa


Pengakuan pendapatan dari penjualan jasa secara umum mengikuti pemikiran yang
melandasi pengakuan pendapatan untuk penjualan barang. Masalah teoritis yang dihadapi lebih
banyak menyangkut kriteria realisasi daripada pembentukan pendapatan.Yang sering sulit
ditentukan adalah mengenali kejadian atau kegiatan yang menandai bahwa penyerahan jasa
telah terjadi dan selesai.
Dalam PSAK No. 23, IAI menetapkan bahwa pengakuan pendapatan atas dasar
kemajuan pelaksanaan merupkan ketentuan utama sedangkan kaidah lain merupakan
pengecualian dari kaidah ini
a. Pedoman Umum Pengakuan Pendapatan
FASB meringkas pedomam umum dalam SFAC No. 5 paragraf 84 sebagai berikut:
 Kriteria terbentuk dan terealisasi biasanya dipenuhi pada saat produk diserahkan kepada
konsumen.
 Kalau kontrak penjualan atau penerimaan kas mendahului produksi atau pengiriman
barang, pendapatan dapat diakui pada saat terhak dan pengiriman.
 Kalau produk dikontrak sebelum diproduksi, pendapatan dapat diakui secara bertahap
dengan metode persentase penyelesaian pada saat sudah terbentuk asalkan dapat diukur
secara andal.
 Kalau jasa diberikan atau hak untuk menggunakan aset berlangsung secara terus-
menerus selama suatu periode dengan kontrak harga yang pasti, pendapatan dapat
diakui bersamaan dengan berjalannya waktu.
 Kalau produk atau aset lain dapat segera terealisasi karena dapat dijual dengan harga
yang cukup pasti tanpa biaya tambahan berarti, pendapatan dan untung rugi dapat diakui
pada saat selesainya produksi atau pada saat harga aset tersebut berubah.
 Kalau produk, jasa atau aset lain ditukarkan dengan aset non moneter yang tidak segera
dapat dikonversi menjadi kas, pendapatan atau untung rugi dapat diakui pada saat telah
terhak atau transaksi telah selesai asalkan nilai wajar aset non moneter yang dapat
ditentukan dengan layak.
 Kalau ketertagihan aset yang diterima untuk produk, jasa, atau aset lain meragukan,
pendapatan dapat diakui atas dasar kas yang terkumpul.
b. Prosedur Pengakuan
Kebijakan akuntansi perusahaan harus menetapkan kejadian atau kegiatan
internal apa yang dapat digunkan sebagai pemicu pencatatan ke dalam sistem akuntansi.
Kegiatan Internal Sebagai Pemicu dan Bukti Pengakuan Pendapatan:
 Pada saat kontrak penjualan. Penandatanganan kontrak, penerimaan uang muka.
Pendapatan belum diakui.Surat kontrak dan penerimaan bukti setor bank sebagai dasar
pencatatan uang muka.
 Selama proses produksi secara bertahap. Penggunaan BB, BTKL, dan BOP.Pembayaran
biaya Adm. Penagihan.Penyesuaian akhir tahun. Penyiapan dan pengiriman surat
penagihan. Penyesuaian akhir tahun atas dasar catatan akumulasi kos.
 Pada saat proses produksi selesai. Pemindahan barang jadi dari pabrik ke gudang.
 Pada saat penjualan. Penerimaan order pembelian. Penerimaan uang muka. Pengiriman
barang. Pengiriman faktur penjualan. Penerimaan nota terima barang dari pembeli.
 Pada saat kas terkumpul. Pengiriman surat tagihan angsuran. Penerimaan kas atau alat
pembayaran lain. Penyesuaian akhir tahun.Penerimaan kas didukung nota pembayaran
atau bukti transfer.Penyesuaian akhir tahun atas dasar catatan kas yang terkumpul
sampai akhir periode.
c. Penyajian
Masalah penyajian berkaitan dengan penyajian pendapatan adalah memisahkan antara
pendapatan dan untung dan pemisahan berbagai sifat untung menjadi pos biasa dan luar biasa
dan cara menuangkannya dalam statemen laba rugi.

PERTANYAAN:
1. Mengapa saat penjualan dianggap sebagai standar pengakuanpendapatan,
sementara yang lain dianggap sebagai penyimpangan dari standar tersebut?
2. Apakah realisasi pendapatan harus diikuti dengan transaksi pertukaran? Berikan
alasannya