Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

NILAI WAKTU UANG DAN LEGITIMASI SYARIAH


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan Syariah

Yang diampu oleh Ardhya Yudistira A. N, S.E., M. Akun.

Oleh:

Kelompok 5

SITTI MARIANI (E20173008)

ELOK MUHIBBATUL FARIDA (E20173033)

FINA ARIANTINA (E20173039)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER

2019

i
1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha Esa yang telah memberikan kita nikmat, baik
itu nikmat Islam maupun nikmat iman. Kedua kalinya tak lupa kita haturkan salawat serta
salam kepada junjungan kita, Nabi besar Muhamamad SAW. yang telah menunjukkan kita
jalan menuju kebenaran, seperti yang kita rasakan pada saat ini.

Penyusun mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan sehat-Nya baik eurpa
fisik maupun akal pikira, sehingga penuyusun dapat menyelesaikan pembuatan makalah mata
kuliah Manajemen Keuangan Syariah yang berjudul “ Nilai Waktu Uang dan Legitimasi
Syariah”.

kami sadar bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman yang bersifat membangun untuk dijadikan
pelajaran ke depannya.

Akhir kata kami sebagai penyusun mengucapkan, Semoga makalah ini bermanfaat
untuk kita semua. Terimakasih.

Jember, 6 Maret 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... 1

DAFTAR ISI................................................................................................... 2

BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................... 3


B. Rumusan Masalah ................................................................................ 4
C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 4
BAB II: PEMBAHASAN

A. Konsep Time Value of Money .............................................................. 5


B. Kritik Atas Konsep Time Value of Money ........................................... 15
C. Konsep Economic Value of Time ........................................................ 17
BAB III: PENUTUP

A. Kesimpulan .......................................................................................... 22
B. Saran .................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 24

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam membicarakan ekonomi pada umumnya, dan ekonomi islam pada khususnya,
rasanya janggal jika tidak memulainya dengan membahas “uang”. Apalagi, jika pembahasan
ekonomi ini terfokus pada masalah atau topik moneter dan fiskal. Dimana uang adalah alat
untuk memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu, uang oleh sebagian penduduk dipandang
sebagai sesuatu yang sangat penting. Sebab uang dapat dijadikan alat pemenuhan kebutuhan
manusia dan alat pemudah aktivitas ekonomi.

Perbedaan sistem ekonomi yang berlaku, akan memiliki pandangan yang berbeda
tentang uang. Sistem ekonomi konvensional memiliki pandangan yang berbeda tentang uang
dibandingkan dengan sistem ekonomi Islam. Keuangan merupakan hal yang penting dalam
kehidupan ekonomi.

Ekonomi adalah suatu aktivitas mengelola uang dan modal dalam rangka untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, masalah keuangan ini perlu mendapatkan
perhatian secara serius. Keberhasilan pengelolaan keuangan sangat ditentukan oleh prinsip
yang digunakan. Islam telah memberikan prinsip-prinsip dasar dalam mengelola uang dan
modal, baik untuk aktivitas bisnis maupun investasi.

Sekarang ini, banyak perkembangan baru yang terkait dalam bidang ekonomi, seperti
masalah mata uang, pola transaksi perdagangan, dan sebagainya.

Uang seribu rupiah sekarang lebih berharga dari pada seribu rupiah setahun lagi.
Pemilik uang dapat melakukan investasi dengan dana yang ada sekarang untuk mendapatkan
hasil lebih banyak di waktu yang akan datang. Dalam bentuknya yang paling sederhana pemilik
uang dapat melakukan penyimpanan di bank untuk membuat uangnya berkembang.

Kebanyakan orang menyadari hal tersebut. Belum lagi jika inflasi masuk hitungan.
Apabila uang didiamkan, maka nilainya akan berkurang dengan adanya inflasi. Kebanyakan

4
negara mengalami inflasi. Keputusan keuangan sangat berhubungan dengan uang dan waktu,
diantaranya adalah keputusan investasi

Investasi dilakukan dengan uang yang sekarang dikeluarkan dengan harapan akan
memperoleh hasil di waktu yang akan datang. Jadi sangat wajar apabila keputusan investasi
yang paling banyak menggunakan konsep waktu dalam menggunakan uang. Nilai waktu uang
(time value of money) menjadi fokus sentral dalam manajemen keuangan.

Teori keuangan konvensional mendasarkan argumennya dengan konsep time value of


money. Dalam kesempatan ini akan memberikan kritik atas konsep time value of money
tersebut dengan mengajukan konsep yang lebih tepat, yang dinamakan konsep economic value
of time. Konsep economic value of time itu artinya nilai waktu uang untuk masa yang akan
datang.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Konsep Time Value of Money?

2. Bagaimana Kritik Atas Konsep Time Value of Money Dalam Islam?

3. Bagaimana Konsep Economic Value of Time?

C. Tujuan Penulisan

1. Agar mahasiswa dan mahasiswi mengetahui tentang konsep time value of money

2. Agar mahasiswa dan mahasiswi mengetahui tentang kritik atas konsep time value of money

3. Agar mahasiswa dan mahasiswi mengetahui tentang konsep economic value of time

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Time Value of Money

Konsep nilai waktu uang (time value of money) atau yang disebut ekonom sebagai
preferensi waktu positif yang dikembangkan oleh Von Bhom-Bawerk dalam Capital and
Interest dan Positive Theory of Capital yang menyebutkan bahwa preferensi waktu positif
merupakan pola ekonomi yang normal, sistematis, dan rasional. Konsep yang didasari nilai
waktu uang adalah nilai uang saat ini selalu lebih berharga daripada nilai uang saat yang akan
datang. Dengan kata lain, nilai uang pada waktu yang berbeda tidaklah sama. Pengaruh waktu
terhadap nilai uang dapat dimaknai secara sederhana adalah hubungan antara rupiah saat ini
dengan rupiah mendatang yang melibatkan unsur waktu.

Faktor atau rate yang menghubungkan nilai uang antar waktu adalah tingkat diskonto.
Diskonto inilah yang dimaksud dalam time value of money. Dalam sistem keuangan
konvensional, tingkat diskonto ini diproksi dengan tingkat bunga selama tingkat bunga tidak
pernah negatif, maka uang saat ini selalu lebih berharga daripada nanti. Semakin tinggi tingkat
bunga yang relevan, semakin besar perbedaan antara nilai sekarang dengan nilai yang akan
diterima di kemudian hari. Adapun tinggi rendahnya tingkat bunga ini dipengaruhi antara lain
oleh risiko investasi. Semakin tinggi risiko investasi, semakin tinggi tingkat bunga yang
dipandang relevan.

Konsep diskonto ini berpengaruh pada banyak keputusan dan teknik keuangan, seperti
penganggaran modal, biaya modal, struktur modal dan penilaian sekuritas dengan teknik net
present value (NPV), analisis cost benefit, internal rate of return (IRR), dividen model dan
lain-lain. Investasi yang dilakukan pada suatu perusahaan atau sebuah proyek akan
memerlukan jumlah dana yang relatif besar dan diharapkan memperoleh keuntungan dalam
jangka waktu relatif lama. Karena menyangkut dana yang besar dan jangka waktu tertentu
maka pemahaman pengaruh waktu terhadap nilai dana berbentuk uang menjadi sangat penting.

6
Paling tidak terdapat dua alasan menurut Najmudin mengapa konsep nilai waktu uang
(time velue of money) dirasakan penting. pertama, adanya aspek resiko (ketidakpastian) apabila
uang yang diterima terjadi pada masa yang akan datang. Peristiwa atau kehidupan manusia di
masa mendatang bersifat tidak pasti atau diragukan akan terjadi, sedangkan uang yang diterima
saat ini sangat jelas dan pasti. Kedua, adanya peluang keuntungan yang mungkin hilang karena
tidak memiliki uang tersebut lebih awal (saat ini) untuk diinvestasikan (opportunity cost).1

Adapun contohnya yaitu uang Rp 1.000.000,00 saat ini tidak sama nilainya dengan Rp
1.000.000,00 setelah satu tahun mendatang. Seorang individu yang rasional akan lebih memilih
uang sejumlah Rp 1.000.000,00 saat ini di bandingkan dengan Rp 1.000.000,00 satu tahun lagi.
Alasan penalarannya adalah apabila seorang menerima Rp 1.000.000,00 hari ini, maka dia
dapat menginvestasikannya (menabung di bank atau pada aktiva lain) dengan tingkat
keuntungan tetap sebesar 10% misalnya, sehingga dia akan mendapatkan uang Rp 100.000,00
sebagai bunga sela setahun. Oleh karena itu, Rp 1.000.000,00 saat ini setara dengan Rp
1.100.000,00 setelah satu tahun kemudian ketika tingkat bunga 10%. Dengan demikian uang
dianggap memiliki nilai waktu.

Pentingnya nilai waktu uang menurut Toto Prihadi ada beberapa alasan melihat seribu
rupiah sekarang lebih berharga dari seribu rupiah setahun lagi, antara lain:

a. Adanya Inflasi.

b. Adanya Rasio.

c. Preferensi atas konsumsi sekarang dibandingkan dengan konsumsi yang akan datang.

Inflasi ditandai dengan adanya kenaikan harga. Inflasi membuat seribu rupiah sekarng
lebih berharga dari seribu rupiah setahun lagi. Dengan adanya inflasi maka pemilik uang usaha
untuk mempertahankan nilainya dengan cara melakukan investasi. Dari investasi yang
dilakukan, pemilik uang akan memperoleh kompensasi dalam bentuk bunga, dividen atau
kenaikan atas nilai aset yang dimilikinya.

1
Najmudin, Manajemen Keuangan dan Aktualisasi Syar’iyyah Modern, (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2011),
hlm.98-100.

7
Kebanyakan orang lebih suka mengkonsumsi sekarang dibandingkan dengan
mengkonsumsi di waktu yang akan datang. Jadi apabila seseorang akan meminjam kepada anda
sebanyak satu juta rupiah, maka peminjam harus meyakini anda bahwa setahun lagi uang anda
akan berkembang. Kalau tidak maka tidak ada alasan untuk melakukan penundaan konsumsi
yang akan anda lakukan sekarang.

Apabila pemilik dana memasukkan unsur risiko atau ketidakpastian terhadap hasil yang
akan diterima, maka pemilik dana akan minta hasil lebih tinggi lagi. Cara memendang bunga
(interest) dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu sebagai berikut:

a. Rate of return

b. Discount rate

c. Opportunity cost

Toto Prihadi dalam bukunya menerangkan bahawa Rate of return (tingkat hasil) adalah
pandangan dari sisi investor atau kreditor. Mereka yang berinvestasi terhadap memperoleh
hasil (return) atas penundaan konsumsi yang dilakukan sekarang. Dengan investasi maka
konsumsi si investor berkurang. Sebagai kompensasinya maka investor mendapatkan timbal
balik.

Pemilik uang Rp 1,0 juta yang akan menabung di bank dengan bunga 10% per tahun
akan memperoleh total dananya menjadi Rp 1,1 juta. Dengan kata lain yang membuat Rp 1,1
juta setahun lagi sama dengan Rp 1,0 juta sekarang adalah diskon sebesra Rp 100 ribu. Tingkat
diskon (Discount rate) dalam perhitungan ini 10% .

Seorang investor selalu dalam posisi untuk memilih investasi yang akan dilakukannya.
Dengan melakukan investasi didsatu tempat, maka investor tersebut kehilangan kesempatan
(opportunity) untuk memporoleh hasil di tempat lain, minimal sama dengan menyimpannya
instrumen bebas risiko. Dengan demikian maka tingkat hasil yang diharapkan dari investasi
dilakukan di satu tempat merupakan opportunity cost.2

Agar lebih mendalami konsep ini maka pada bagian ini di berikan contoh-contoh teknik
perhitungan sederhana :.

2
Toto Prihadi, Praktis Memahami Laporan Keuangan sesuai IFRS & PSAK, (Jakarta: PPM, 2012), hlm.132-133.

8
1. Konsep future value

Bunga berganda (compound interest) atau sering disebut bunga majemuk menunjukkan
bahwa bunga suatu pokok pinjaman (atau simpanan) juga akan dikenakan bunga pada periode
selanjutnya. Jika tingkat bunga tersebut diperlakukan, maka future value (nilai yang akan
datang) adalah Jumlah dari nilai awal (V0) tumbuh setelah t tahun.

Misalkan Anda meminjam uang sebesar Rp 1,000.000 dengan tingkatan bunga 12%
setahun. Sesudah satu tahun Anda harus mengembalikan sebesar:

Rp 1.000.000 + 12% x Rp 1.000.000

= Rp 1.000.000 ( 1 + 12% )

= Rp 1.120.000

Jika uang itu dipinjam selama dua tahun, maka tambahan bunga sebesar Rp 120.000
juga dikenakan bunga, sehingga jumlah yang harus dikembalikan menjadi:

Rp 1.000.000 ( 1 + 12% ) ( 1 + 12% )

= Rp 1.000.000 ( 1+ 12% ) 2

= Rp 1.000.000 x 1,2544

= Rp 1.254.400

2. Konsep present value

Konsep compound value pada bagian sebelumnya bertujuan untuk menghitung jumlah
uang pada akhir periode di waktu mendatang, sedangkan discount value sebaliknya
dimaksudkan untuk menghitung besarnya jumlah uang pada awal periode. Perhitungan dengan
cara pendiskontoan merupakan kebalikan dari cara pemajemukan, yang dirumuskan sebagai
berikut: PV0 = Vt x PVIFt,r

Misalnya Anda akan menerima pada akhir tahun ke-4 yang akan datang uang sejumlah
Rp 1.262.000,00. Berapakah besarnya nilai sekarang uang tersebut bila r = 6%

Dengan rumus di atas maka dapat dihitung nilai sekarang uang tersebut, yaitu sebesar
Rp 1.000.000,00 dengan perhitungan sebagai berikut:

9
PV = V4 X (PVIF4,6)

= 1.262.000 x 0,792

= 1.000.000

3. Konsep future value annuity

Anuitas didefinisikan sebagai suatu pembayaran berkala (atau seri penerimaan) dari
suatu jumlah yang tetap selama waktu tertentu. Pembayaran tersebut dapat dilakukan pada
setiap akhir periode (tahun) dan dapat juga setiap awal periode. Bila dibayar pada awal periode,
maka disebut anuitas due.

Misalkan Anda dijanjikan akan menerima Rp 1.000.000 setiap tahun selama tiga tahun.
Jika suku bunga yang relevan sebesar 10% berapa nilai penerimaan tersebut pada akhir tahun
ke-3. Pembayaran dilakukan srtiap akhir tahun.

Dapat di ketahui formula umum Future Value dari suatu anuitas

Fn = A

Dari contoh di atas dapat diselasaikan atas faktor bunga anuitas untuk i=10%, n=3

Jadi, Fn = Rp 1.000.000

= Rp 1.000.000 x 3,3100

= Rp 3.310.000

4. Konsep present value annuity

Cara menghitung present value annuity (PVA) adalah kebalikan dari cara menghitung
FVA, yang dirumuskan sebagai berikut: PVA = A x PVIFA t,r

Misalkan kepada anda ditawarkan dua alternatif berikut, anuitas 3 tahun sebesar Rp
1.000.000 per tahun atau pembayaran kontan sekarang. Selama 3 tahun mendatang anda tidak
memerlukan uang tersebut, sehingga jika anda menerima anuitas maka anda akan
mendepositokan dana tersebut dan mendapatkan bunga 10%. Berapa pembayaran kontan yang
harus diterima sekarang yang jumlahnya equivalen dengan pembayaran anuitas tersebut.

Rumus PV anuitas adalaah

10
PV = A

PV = Rp 1.000.000

PV = Rp 1.000.000 + 2,4869

PV = Rp 2.486.900 (ada pembulatan)

Bagi para penolak konsep riba tentu tidak nyaman atau tidak setuju dengan contoh
perhitungan diatas karena adanya penggunaan suku bunga dalam persamaannya. Namun,
sebenarnya penggunaan tingkat bunga dalam persamaan tersebut dapat diganti dengan tingkat
keuntungan (rate of return) pada investasi tertentu yang halal dengan kerangka konsep nilai
waktu uang yang tidak memerlukan perubahan lebih lanjut, antara lain rumus, notasi, dan
angka-angka yang digunakan masih dapat sama seperti sebelumnya.

Konsep perhitungan yang diutarakan di atas sekarang disajikan kembali untuk


meluruskan, misalnya dengan cara berikut: Seorang individu yang rasional akan lebih memilih
uang Rp1.000.000,00 saat ini dibandingkan dengan Rp1.000.000,00 satu tahun lagi karena
menerima hari ini, dan memiliki harapan memperoleh tingkat keuntungan yang halal sebesar
10% setahun berikutnya, maka ia akan indiferen antara Rp1.000.000,00 hari ini dan Rp
1.100.000,00 setelah setahun.

Kerangka konseptual tersebut dapat dikembangkan seperti contoh-contoh sebelumnya.


Dengan demikian, sekarang tingkat compounding atau discounting akan bergantung pada
tingkat keuntungan ekspektasi (expected rate of return) oleh pembuat keputusan pada peluang
investasi yang ada. Tingkat nilai (rate) ini dalam keuangan konvensional disebut sebagai
opportunity cost suatu modal. penolakan menggunakan tingkat bunga sudah dihilangkan dan
menggantinya dengan tingkat keuntungan, maka kerangka konsep yang sebelumnya masih
tetap sama.

Menurut para pakar keuangan syariah, preferensi waktu bukanlah satu-satunya dasar
pemikiran terhadap nilai waktu uang. Dasar pemikiran lain yang patut dipertimbangkan dalam
mengulas nilai waktu uang antara lain kondisi permintaan dan penawaran, risiko terkait
panjangnya jangka waktu, dan terdapat pula pemikiran yang memandang uang tidak terkait
waktu.3

3
Ibid.hlm. 113.

11
Terdapat banyak perbedaan antara sistem keuangan syariah dan konvensional.
Perbedaan yang paling mencolok berkaitan dengan bagaimana mereka memandang uang.
Dalam sistem kapitalis uang dianggap komoditas perdagangan yang dapat dibeli, dijual dan
untuk spekulasi secara bebas. Dengan kata lain, uang memiliki nilai waktu dan seseorang yang
menggunakan uang orang lain harus membayarnya dengan tambahan dalam bentuk bunga.
Sebaliknya, syariah mandang uang sebagai sesuatu yang tidak boleh ditimbun dan sekaligus
tidak boleh disia-siakan atau dihamburkan begitu saja.

Dalam ekonomi kapitalis dikenal teori bunga yang didasarkan pada anggapan bahwa
uang adalah komoditas, sedangkan syariah yang memandang bahwa uang dan komoditas
merupakan sesuatu yang berbeda. Karena syariah menganggap uang tidak lebih dari satu media
pertukaran dan tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri, maka seharusnya tidak
diperbolehkan untuk menciptakan uang tambahan (melalui pembayaran bunga yang tetap)
hanya dengan menempatkan di bank atau dipinjamkan kepada orang lain.

Jual beli yang dibolehkan di antaranya meliputi bay' 'arbun, bay' salam, dan penjualan
secara kredit dengan penambahan harga. Bay' 'arbun adalah pembayaran uang muka (down
payment) sebagai tanda jadi yang dapat terjadi dalam penjualan yang sifatnya kondisional.
Pembayaran uang muka, besarnya lebih kecil dari harga jual sehingga jika jual beli jadi
dilakukan, maka pembeli tinggal membayar kekurangannya. Jika tidak jadi dilakukan, maka
uang muka tersebut dipegang oleh penjual. Fatwa DSN NO.13/DSN-MUI/IX/2000 Tentang
Uang Muka dalam Murabahah menunjukkan bahwa para ulama sepakat bahwa meminta uang
muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz).

Penjualan dapat dilakukan dengan kredit, boleh dilangsungkan dengan menggunakan


harga waktu itu, boleh dengan harga ditangguhkan, dan boleh juga sebagian langsung,
kemudian sebagian lagi ditangguhkan. Bila terdapat kesepakatan dari kedua belah pihak
(Achsien, 2000:56). Adanya penambahan harga ini dapat terjadi, baik dalam bay' mu'ajjal
maupun murabahah bi tsaman ajil. Harga (tsaman) dalam jual beli adalah suatu jumlah yang
disepakati oleh kedua belah pihak, baik sama dengan nilai (qimah) benda yang menjadi objek
jual beli, lebih tinggi, maupun lebih rendah (Fatwa DSN No.16/DSN MUI/IX/2000 Tentang
Diskonto dalam Murabahah).

Jika pembayaran ditangguhkan dan ada penambahan harga untuk pihak penjual karena
penangguhan tersebut, maka jual beli termasuk sah, mengingat penangguhan adalah harga
(mendapat hitungan harga) demikian menurut mazhab Hanafi, Syafi'i, Zaid bin Ali, Muayyad

12
Billah, dan jumhur ahli fiqih. Mereka melihat bahwa secara umum dalilnya membolehkan dan
pendapat ini ditarjih oleh Asy-Syaukani. Seorang penjual bebas untuk mengenakan tingkat
harga tertentu, baik pembayaran secara spot ataupun ditangguhkan, dan sah untuk menentukan
laba yang diharapkan. Karena itu terdapat kemungkinan bahwa harga spot dapat lebih rendah
daripada harga tangguhan. Perbedaan harga tersebut jelas karena adanya penundaan (waktu)
dan disebut sebagai nilai waktu uang. Konsep nilai waktu uang (time value of money) seperti
ini dapat diterima dalam paradigma syariah, sedangkan paradigma yang tidak dibolehkan
adalah nilai waktu uang dalam konteks hutang.4

Sejak terjadinya konvergensi pendapat dalam fikih, bahwa bunga diharamkan dalam
Islam karena dianggap salah satu bentuk riba, muncullah pernyataan-pernyataan tentang
penggunaan diskonto dalam evaluasi investasi, dan juga pemakaiannya sebagai cost of capital.
Misalnya, apakah penggunaannya secara mendasar bertentangan dengan prinsip dasar
pelarangan riba tersebut?

Terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini, yang berarti belum terdapat kesepakatan.
Tetapi ada penyingkapan yang cukup sama terhadap teori positive time prefference, yaitu
bahwa teori tersebut tidak bisa diasumsikan begitu saja diterima secara menyeluruh di kalangan
ekonom. Kalau disebutkan bahwa positive time prefference merupakan pola yang wajar dan
normal dengan melihat latar historis, maka yang rasional justru yang memungkinkan terjadinya
positivdan bahkan zero e maupun negative time prefference. Kemungkinan positif maupun
negatif dan bahkan zero time prefference adalah karena ketidakpastian (uncertainty) di masa
depan.

Perbedaan pendapat terjadi pada saat suatu rate tertentu digunakan sebagai faktor
diskonto. Ahli yang satu menganggap dilarang karena Islam tidak membolehkan riba. Di pihak
lain, ditemukan adanya praktik penjualan dalam bentuk bay’ as-salam dan bay’ mu’ajjal yang
ternyata tidak dilarang dalam Islam. Dalam praktik penjualan yang demikian, harga komoditi
boleh berbeda dengan harga spot-nya dengan adanya pelibatan waktu dalam proses pertukaran.
Secara sederhana, terkadang ini dianggap bentuk pengakuan time value of money atau adanya
tingkat diskonto.

Shabir F. Ulgener membolehkan interest rate dipakai sebagai faktor diskonto. Menurut
Ulgener yang diperlukan adalah pembedaan interest sebagai suatu surplus (riba) dengan

4
Ibid.hlm. 114-116.

13
interest sebagai faktor penghitung efesiensi ekonomi. Anas Zarqa sendiri menyebutkan
diskonto didasari opportunity cost untuk efesiensi, karena ekonom pun sepakat bahwa
mengabaikan diskonto akan menyebabkan hilangnya efesiensi, padahal Islam menghendaki
efesiensi melalui pelarangan ishraf (sesuatu yang berlebihan). Hanya saja dalam hal ini Zarqa
tidak mau menggunakan interest rate sebagai faktor diskonto. Sebab, kalau diskonto membuat
interest (bunga) harus pula diterima, sudah semestinya yang demikian itu ditolak.5

Menurut Muhammad, penggunaan sejenis tingkat diskonto dalam menentukan harga


mu’ajjal (bayar tangguh) dapat dibenarkan karena jual-beli dan sewa-menyewa adalah sektor
riil yang menghasilkan economic value added (nilai tambah ekonomis) dan karena tertahannya
hak si penjual menerima uang pembayaran yang telah menyerahkan barang atau jasa sehingga
ia tidak bisa melaksanakan kewajibannyakepada pihak lain. Penguunaan sejenis diskonto juga
dapat dibenarkan dalam bentuk nisbah bagi hasil (bagi untung). Nisbah akan dikalikan dengan
laba aktual, bukan dengan laba yang diharapkan.

Kesimpulannya, pendapat yang membolehkan penggunaan rate interest tentu sebagai


faktor diskonto didasarkan pada alasan bahwa tingkat diskonto (discount rate) dan tingkat
bunga (interest rate) merupakan dua hal yang berbeda dan faktor diskonto ini diperlukan secara
definitif untuk kepentingan efesiensi. Sebaliknya, pendapat yang menentang penggunaan suatu
rate sebagai faktor diskonto karena didasarkan pada penolakan positive time prefference (M.
Akram Khan). Penerimaan diskonto dapat dapat mendorong legitimasi interest (bunga) dan
membunka masuknya kembali riba. Sedangkan argumen tentang efesiensi dijawab dengan
mengajukan faktor-faktor lain sebagai penentu efesiensi, misalnya proses manajerial sehingga
faktor diskonto bukan merupakan penentu efesiensi.6 Lebih lanjut Akram tidak menyebut
opportunity cost yang dikandung oleh faktor diskonto sebagai cost of capital. Oleh karena
itulah Vogel dan Hayes menyimpulkan bahwa sampai saat ini konsep time velue of capital
tidak ditola sepenuhnya dalam hukum Islam (fikih).7

5
Muhammad, Manajemen Keuangan Syariah Analisis Fiqh & Keuangan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2014)
hlm.160.

6
Najmudin, Manajemen Keuangan dan Aktualisasi Syar’iyyah Modern, (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2011),
hlm.126.
7
Muhammad, Manajemen Keuangan Syariah Analisis Fiqh & Keuangan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2014)
hlm.161.

14
B. Kritik Atas Konsep Time Value of Money

Persoalan riba sebenarnya sangat berkaitan erat dengan masalah uang. Sebagai
perbandingan dengan ekonomi konvensional (kapitalisme), Islam membicarakan uang sebagai
sarana penukar dan penyimpan nilai, tetapi uang bukanlah barang dagangan. Sehingga uang
akan berguna hanya jika ditukar dengan benda yang nyata atau jika digunakan untuk membeli
jasa. Berkenaan dengan uang bahwasanya dalam ekonomi konvensional timbul pemikiran nilai
uang menurut waktu (time value of money). Merupakan konsep nilaianya uang bertambah
karena perjalanan waktu, bukan didasarkan pada aktivitas ekonomi apa yang dilakukan. Time
velue of money dilatarbelakangi oleh adanya anggapan hilangnya pemilik modal akan biaya
kesempatan (opportunity cost). Pada saat meminjamkan uang kepada pihak lain. Sehingga
pemilik modal membebankan nilai presentase tertentu sebagai kompensasi.

Dalam Islam sendiri menurut Adiwarman A.Karim tidak dikenal adanya time value of
money, yang dikenal adalah economic value of time. Teori time value of money adalah suatu
kekeliruan besar karena mengambil dari ilmu teori populasi dan tidak ada ilmu finance. Dalam
menghitung pertumbuhan populasi digunakan rumus:

Pb = Po(1+g)t

Dimana :

Pb: Pertumbuhan sel

Po: Sel pada awalnya

g: Pertumbuhan (growth)

t: Waktu

Rumus ini kemudian diadopsi begitu saja dalam ilmu finance sebagai teori bunga majemuk,
menjadi:

FV = PV(1+i)n

Dimana:

FV: Future Value (nilai uang masa yang akan datang)

PV: Present Value (nilai uang masa sekarang)

15
i: Tingkat suku bunga

n: Waktu

Jadi, fature value dari uang dianalogikan dengan jumlah populasi tahun ke-t, present
value dari uang dianalogikan dengan jumalah populasi ke-0, sedangkan tingkat suku bunga
dianalogikan dengan tingkat pertumbuhan populasi. Jelas hal ini keliru besar, karena uang
bukanlah makhluk hidup yang dapat berkembang biak dengan sendirinya.8

Implikasi dari ini semua dalam dunia bisnis selalu dihadapkan pada untung dan rugi.
Keuntungan dan kerugian tidak dapat dipastikan untuk masa yang akan datang. Keuntungan
yang di peroleh dalam bisnis tidak hanya keuntungan di dunia, namun yang dicari adalah
keuntungan akhiratjuga. Teori keuangan konvensional yang mendasarkan argumen bunganya
dengan konsep time value of money. Konsep ini kemudian dtolak oleh para ekonom Islam
dengan alasan economic value of time.9

Di dalam buku yang berjudul Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan karya
Adiwarman A.Karim bependapat bahwa kuatitas waktu sama bagi semua orang, yaitu 24 jam
sehaari, 7 hari sepekan. Namun nilai dari waktu akan berbeda dari satu orang ke orang lainnya.
Misalnya, bagi seorang buruh kasar satu jam kerja bernilai Rp 25.000, bagi seorang manajer
keungan satu jam bernilai Rp 250.000 sedangkan bagi seorang pakar ekonomi syariah satu jam
benilai Rp 2.500.000. Jadi, faktor yang menentukan nilai waktu adalah bagaiman sesorang
memanfaatkan waktu itu. Semakin efektif (tanpa guna) dan efisien (tepat cara), maka akan
semakin tinggi nilai waktunya. Efektif dan efisien akan mandapatkan keuntungan di dunia bagi
siapa saja yang melaksanakannya. Oleh karena itu, siapa pun pelakunya, secara sunnatullah
akan mendapatkan keuntungan di dunia.

Di dalam Islam, keuntungan bukan saja keuntungan di dunia, namun yang dicari adalah
keuntungan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, pemanfaatan waktu itu bukan saja harus
efektif dan efisien, namun harus juga didasari dengan keimanan. Keimanan inilah yang akan
mendatangkan keuntungan di akhirat.10

8
Adiwarman A.Karim, Ekonomi Makro Islami, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hlm.87-88.
9
Muhammad, Manajemen Keuangan Syariah Analisis Fiqh & Keuangan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2014),
hlm.158.
10
Adiwarman A.Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: Rjawali Pres, 2011), hlm.504.

16
Argumen adanya inflasi tidak diterima karena tidak lengkap kondisinya (non exhausted
condition). Dalam setiap perekonomian selalu ada keadaan inflasi dan deflasi. Bila keadaan
inflasi dijadikan alasan time value of money, seharusnya deflasi menjadi alasan adanya negative
time value of money. Dengan demikian, selama ini hanya ada satu kondisi saja (inflasi) yang
diakomodasi oleh teori time value of money, sedangkan kondisi deflasi diabaikan.

Apabila inflasi dijadikan alasan sebagai akibat adanya time value of money dalam
sistem ekonomi dan keuangan. Inflasi yang diartikan naiknya harga barang dalam waktu
tertentu tidak semata diakibatkan oleh bunga (sebagai kompensasi opportunity cost), inflasi
dapatterjadi karena adanya produsen yang mengambil keuntungan semakin meningkat,
disamping itu dapat juga diakibatkan oleh faktor-faktor lain. Penentuan bunga sebagai faktor
inflasi adalah suatu tindakan menyederhanakan masalah atau konsep. Tindakan ini hanya
menguntungkan sebelah pihak, tidak mau merugi. Padahal setiap tindakan (ekonomi maupun
non ekonomi) akan mengandung hasil dan rugi (return and risk). Konsekuensi ini harus
ditanggung bersama oleh pihak-pihak yang bersinggungan (transaksi).11

Alasan mengenai ketidakpastian return dalam usaha. Dalam ekonomi konvensional,


penerapan time value of money tidak senaif yang dibayangkan, misalnya dengan mengabaikan
ketidakpastian return yang akan diterima. Bila unsur ketidakpastian return ini dimasukkan,
ekonomi konvensional menyebut kompensasinya sebagai discount rate, jadi istilah discount
rate lebih umum dibandingkan interest rate. Dalam ekonomi konvensional, ketidakpastian
return dikonversi menjadi suatu kepastian melalui premium for uncertainty. Padahal dalam
setiap investasi selalu ada probabilitas untuk mendapat positive return, negative return, dan no
return. Hal inilah yang tidak dapat diterima.12

C. Konsep Economic Value of Time

Dewasa ini perkembangan teori keuangan Islam telah mengemuka. Namun, analisis
munculnya teori keuangan Islam tersebut mengandung polemik. Polemik tersebut berhubungan
dengan masalah riba. Al-Qur’an mengakui pentingnya mencabut catatan dan didukung lagi
oleh kewajiban membayar zakat sejumlah tertentu yang harus disisihkan untuk delapan asnaf.

11
Muhammad, Manajemen Keuangan Syariah Analisis Fiqh & Keuangan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2014),
hlm.158.

12
Ibid. hlm.162.

17
Al-Qur’an juga mengharamkan bunga uang yang selalu dianggap bahwa dosa riba adalah
akibat teori time value of money? Padahal, kebanyakan apa yang disebut Al-Qur’an tentang
riba tampaknya menyangkut kegiatan yang mengambil keuntungan dari kaum fakir-miskin.
Oleh karena itu, ada hal yang harus dijelaskan tentang teori time value of money dalam
kaitannya dengan permasalahan riba dalam pandangan Islam, dan teori economic value of time
yang dibenarkan menurut pandangan Islam.

Teori tersebut dikembangkan pada abad ke-7 Masehi. Pada saat digunkannya emas dan
perak sebagai alat tukar. Logam ini diterima sebagai alat tukar disebabkan nilai instrinsiknya,
bukan karena mekanisme untuk dikembangkan selama periode itu, sehingga hubungan
debitur/kreditur yang muncul bukan karena akibat transaksi dagang langsumg, namun jelas
merupakan transaksi ”permintaan uang”. Sejak teori keuangan Islami lebih dekat dengan
standar emas hampir pasti bahwa masyarakat muslim lebih mudah ragu apakah masalah
keuangan dunia saat ini disebabkan oleh tidak dipakainya lagi standar emas atau sejenisnya.

Tentu saja, prinsip alat tukar ini sebagaimana sekarang dipahami semua negara Islam
dimana saja, tetapi akhirnya akan condong kepada riba yang diharamkan. Dapat
dipermasalahkan bahwa penolakan terhadap segala bentuk bunga dapat dibenarkan apabila
dapat diperdebatkan apakah teori time value of money benar-benar terjadi. Investasi dalam
obligasi pemerintah yang stabil, adalah bebas dari resiko tidak dibayar, tetapi tidak bebas dari
kerugian penyusutan nilainya yang sudah merupakan kenyataan sejarah diseluruh dunia.

Lagi pula, apapun alasannya uang dengan jumlah yang sama sekarang lebih bernilai
dibandingkan dengan uang saat nanti. Hal ini juga tergantung kepada ketidakpastian hidup ini,
seperti kematian kreditur yang akan menagih piutangnya. Apabila teori time value of money
hanya masalah keuntungan dan resiko, maka Islam akan menolaknya disebabkan masalah
ketidakpastian di dunia ini juga sifat seluruh manusia, dan tidak seorangpun berhak
mengecualikan dirinya dari hal itu dengan sebesar biaya apapun.

Hal ini membuktikan bahawa pengalaman yang biasa menimbulkan kontroversi tantang
bagaimana melaksanakan bisnis yang benar sesuai dengan kekuatan tuhan. Praktik sekarang
mungkin lebih banyak penyesuaian dari pada yang terjadi di permukaan. Pemisahan anatar
spiritual dan sekuler belum membebaskan masyarakat barat dari perasaan berdosa akibat
kegiatan bisnis. Ternyata juga tidak ada pengaruh syari’ah terhadap pedagang arab yang jujur
dan dermawan. Respon masyarakat adalah sama-sama wajar. Di barat kita melihat
perkembangan undang-undang jaminan sosial dari mulai elizabethan poor law sampai

18
sekarang ini. Sebagaimana disebutkan, syari’ah mengandung banyak aturan untuk memerangi
kemiskinan melalui zakat.

Landasan atau keadaan yang digunakan oleh ekonomi konvensional inilah yang ditolak
dalam ekonomi syari’ah, yaitu keadaan alghunmu bi al ghurni (mendapatkan hasil tanpa
memperhatikan suatu resiko) dan al kharaj bi la dhaman (memperoleh hasil tanpa
mengeluarkan suatu biaya). Seharusnya keadaan ini juga di tolak oleh teori keuangan, yaitu
dengan menjelaskan adanya hubungan antara risk dan return, bukan return goes along with
risk?

Dalam pandangan Islam mengenai waktu, waktu bagi semua orang adalah sama
kuantitasnya, yaitu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam sepekan. Nilai waktu antara satu orang
dengan yang lainnya , akan berbeda dari sisi kualitasnya. Jadi faktor yang menentukan nilai
waktu adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu itu. Semakin efektif (tepat guna) dan
efisien (tepat cara), maka akan semakin tinggi nilai waktunya. Efektif dan efisien akan
mendatangkan keuntungan di dunia bagi siapapun pelakunya tanpa memandang suku, agama
dan ras secara sunnatullah, ia akan mendapatkan keuntungan di dunia.

Di dalam Islam, keuntungan bukan saja keuntungan di dunia, namun yang dicari adalah
keuntungan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, pemanfaatan waktu itu bukan saja harus
efektif dan efisien, namun juga harus didasari dengan keimanan. Keimanan inilah yang akan
mendatangkan keuntungan di akhirat. Sebaliknya, keimanan yang tidak mampu mendatangkan
keuntungan di dunia berarti keimanan yang tidak diamalkan.

Jika ditarik dalam konteks ekonomi, maka keuntungan adalah diperoleh setelah
menjalankan aktivitas bisnis. Jadi barang siapa yang melakukan aktivitas bisnis secara efektif
dan efisien, ia akan mendapatkan keuntungan. Namun demikian, ada pertanyaan dasar yang
perlu didiskusikan, yaitu apa ukuran yang dapat digunakan untuk menetapkan besar kentungan
yang diramalkan jika dasar interest rate adalah dilarang dalam ajaran Islam.

Dalam ekonomi syari’ah penggunaan sejenis discount rate dalam menentukan harga
bai’mu’ajjal (membayar tangguh) dapat digunakan. Hal ini dibenarkan karena:

1. Jual beli dan sewa menyewa adalah sektor riil yang menimbulkan economic
value added (nilai tambah ekonomis)

19
2. Tertahannya hak si penjual (uang pembayaran) yang telah melaksanakan
kewajibannya (menyerahkan barang atau jasa), sehingga ia tidak dapat
melaksanakan kewajibannya kepada pihak lain.

Begitu pula penggunaan discount rate dalam menentukan nisbah bagi hasil, dapat
digunakan. Nisbah ini akan dikalikan dengan pendapatan aktual (actual return), bukan dengan
pendapatan yang diharapkan (expected return). Transaksi bagi hasil berbeda dengan transaksi
jual bei atau sewa menyewa, karena dalam transaksi bagi hasil hubungannya bukan antara
penjual dengan pembeli atau penyewa dengan yang menyewakan. Dalam transaksi bagi hasil,
yang ada adalah hubungan antara pemodal dengan yang memproduktifkan modal tersebut. Jadi,
tidak ada pihak yang telah melaksanakan kewajibannya namun masih tertahan haknya.
Shahibul maal telah melaksanakan kewajibannya, yaitu memberikan sejumlah modal, yang
memproduktifkan modal (mudharib) juga telah melaksanakan kewajibannya, yaitu
memproduktifkan modal tersebut. Hak bagi shahibul maal dan mudharib adalah berbagi hasil
atas pendapatan atau keuntungan tersebut, sesuai kesepakatan awal apakah bagi hasil itu akan
dilakukan atas pendapatan atau keuntungan.

Perbedaan antara imterest rate dan discount rate dalam pandangan ekonomi
konvensional dan ekonomi syariah.

Certainty Return Uncertainty Return

Ekonomi Ekonomi Ekonomi Ekonomi


Konvesional
Syari’ah Konvensional Syri’ah

Interest rate Keuntungan dalam Discount rate Discount rate


ditentukan oleh: jual beli/sewa ditentukan oleh: ditentukan atas
menyewa secara dasar harapan
1. Prefency 1. Prefency
bayar tangguh keuntungan
current current
ditentukan ole: (expected return)
consumption consumption
dan digunakan
2. Expected 1. Tingkat 2. Expected
untuk menetukan
inflation keuntungan inflation
nisbah bagi hasil.
setiap kali 3. Premium for
transaksi uncertainty, Bagi hasil yang
dengan kata harus dibayar

20
2. Frekuensi lain, actual adalah nisbah bagi
transaksi return hasil dikalikan
dalam satu dilaksanakan dengan pendapatan
periode harus sama aktualnya (actual
dengan return).
expected
Dengan kata lain,
return-nya
pendapatan aktual
(actual return)
tidak harus sama
dengan pendapatan
yang diharapkan
(expected return).

Ajaran Islam mendorong pemeluknya untuk selalu menginvestasikan tabungannya.


Dismping itu, dalam melakukan investasi tidak menuntut secara pasti akan hasil yang akan
datang. Hasil investasi di masa yang akan datang sangat dipengarruhi banyak faktor, baik faktor
yang dapat diprediksikan maupun tidak. Faktor-faktor yang dapat diprediksikan atau dihitug
sebelumnya adalah: berapa banyaknya modal, berapa nisbah yang disepakati, berapa kali
modal yang diputar. Sementara faktor yang efeknya tidak dapat dihitung secara pasti atau
sesuai dengan kejadian adalah return (perolehan usaha).13

13
Ibid. hlm.162-165.

21
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Konsep nilai waktu uang (time value of money) yang pada dasarnya memberikan
pemahaman bagaimana nilai uang berubah karena faktor waktu. Faktor yang melandasi konsep
ini adalah preferensi waktu yang menyatakan bahwa sejumlah sumber daya yang tersedia saat
ini untuk menikmati lebih disenangi orang dari pada sejumlah sumber daya yang sama tetapi
baru tersedia dalam beberapa tahun yang akan datang (misalkan baru dua tahun yang akan
datang). Pemikirang tersebut secara ekonomi didasarkan atas alasan-alasan, 1) alasan inflasi,
yaitu bahwa dengan adanya tingkat inflasi akan dapat menurunkan nilai uang; 2) Alasan
dikonsumsi, yaitu bahwa dengan yang sama, apabila dikonsumsikan akan memberikan tingkat
kenikmatan yang lebih, dibandingkan dengan jika dikonsumsi di masa yang akan datang; 3)
Alasan risiko penyimpanan, yaitu bahwa adanya risiko yang tidak diketahui di waktu yang

22
akan datang, maka praktis nilai uang di masa yang akan datang memerlukan jumlah yang lebih
besar. Konsep nilai waktu uang (time value of money) meliputi future value, present value,
future value suatu anuitas, present value suatu anuitas.

2. Kritik atas konsep time value of money, Islam tidak mengenal konsep time value of
money, Dasar perhitungan pada kontrak berbasis time value of money adalah bunga.
Sedangkan Islam melarang bunga. Konsep ini dianggap tidak lengkap karena hanya terdapat
inflasi dan mengabaikan deflasi. Mengganti ketidakpastian yang dikonversi menjadi suatu
kepastian melalui premium for uncertainty, dan bila memasukkan ketidakpastian maka akan
timbul baiaya kompensasi (discount rate).

3. Konsep economic value of time menekankan bahwa setiap individu memiliki jatah
waktu yang sama, hanya tinggal bagaimana mereka bisa lebih produktif dengan mengelola
waktu secara efektif dan efisien. Hal itulah yang menjadikan nilai waktu. Lagi pula, apapun
alasannya uang dengan jumlah yang sama sekarang lebih bernilai dibandingkan dengan uang
saat nanti. Economic value of time relatif lebih adil dalam perhitungan kontrak yang bersifat
pembiayaan bagi hasil (profit sharing). Konsep bagi hasi (profit sharing) berdampak pada
tingkat nisbah yang menjadi perjanjian kontrak dua bela pihak.

B. Kritik dan Saran

Makalah yang kami buat ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu
kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan makalah
berikutnya. Semoga makalah ini biasa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

23
DAFTAR PUSTAKA

A.Karim, Adiwarman. 2017. Ekonomi Makro Islami. Jakarta: Rajawali Pers. Edisi Ketiga.

A.Karim, Adiwarman. 2011. Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, Jakarta: Rjawali Pres.

Muhammad. 2014. Manajemen Keuangan Syariah Analisis Fiqh & Keuangan. Yogyakarta:
UPP STIM YKPN.

Najmudin. 2011. Manajemen Keuangan dan Aktuslisasi Syar’iyyah Modern. Yogyakarta: CV


Andi Offset.

Prihadi, Toto. 2012. Praktis Memahami Laporan Keuangan sesuai IFRS & PSAK. Jakarta:
PPM. Cetakan II..

24

Anda mungkin juga menyukai