Anda di halaman 1dari 4

Buletin Dakwah

Front Nahdliyin untuk Keadilan Mengapa kamu tidak berperang


Sumber Daya Alam di jalan Allah dan membela orang yang tertindas...
(QS 4:75)
Edisi 001
13 Muharram 1441
13 September 2019

Corong Keadilan Umat


Bismillahirrahmanirrahim
Hijrah dan Relevansi Maknanya
di Abad Kapitalisme
Ust. Muhammad Nashirulhaq, S.Sos

B eberapa waktu lalu, kita telah


memperingati pergantian tahun
hijriah. Sistem penghitungan
tahun yang dimulai sejak era
kekhalifahan Umar ibn Khattab ini
semisal pemakaian jilbab (atau yang
belakangan lebih populer dengan
sebutan “hijab”), pembatasan
pergaulan muda-mudi khususnya
dalam bentuk pacaran, nikah muda, dll.
mengambil momen hijrah Nabi Tentu saja perkembangan ini patut
Muhammad SAW dan sahabatnya yang disambut gembira, namun agaknya kita
dikenal sebagai kelompok muhajirin juga perlu menelaah lebih dalam,
sebagai tonggak awal. Hal ini benarkah hijrah hanya sebatas
menunjukkan betapa peristiwa hijrah bermakna kesalehan akhlak semacam
memiliki nilai penting dalam ajaran ini?
Islam. Dalam Al-Qur'an, terdapat
Di sisi lain, beberapa tahun setidaknya tujuh ayat yang menyebut
terakhir, kosakata “hijrah” menjadi kata “ÑÜÌǪ” atau turunannya, yang
mengemuka dan populer di kalangan bermakna hijrah. Satu di antaranya
umat Islam Indonesia. Pemicu menjadi predikat yang disematkan pada
utamanya, tak lain adalah kampanye perempuan-perempuan yang halal
massif yang dilakukan oleh sebagian dinikahi Nabi (QS Al-Ahzab: 50). Satu
muslim muda yang berada di wilayah yang lain disebutkan untuk menyebut
urban, bersama dengan tokoh-tokoh kaum Anshor yang menerima dengan
agama (baca: ustadz) yang identik tangan terbuka dan berkorban harta-
dengan kelompok ini. Bagi mereka, benda demi saudara-saudara mereka
hijrah dimaknai sebagai proses yang hijrah dari Makkah (Al-Hasyr: 9).
transformasi diri secara personal Sedangkan lima yang lain,
maupun komunal demi mengikuti menceritakan orang-orang yang
ajaran Islam yang kaffah. Satu ciri berhijrah itu sendiri dan keutamaan
paling mencolok dari kampanye ini serta anugerah Allah yang (akan)
adalah penekanannya pada aspek didapatnya. Kita akan lebih berfokus
simbolik legal-formal (syariat) Islam, pada yang terakhir ini.

Berjuang bersama mustadh'afin untuk keadilan dan keadulatan alam


Halaman 2 Buletin Dakwah Front Nahdliyin untuk Keadilan Sumber Daya Alam
Corong Keadilan Umat

Dari ayat-ayat ini, ada SAW di Madinah, sampai puncaknya


beberapa kesimpulan yang perlu pada peristiwa Fathu Makkah di tahun 8
digarisbawahi. Pertama, hijrah, baik H sesungguhnya perlu dibaca dalam
dalam penyebutan Al-Qur'an maupun konteks ini.
dalam peristiwa empiriknya bukanlah Ketiga, perjuangan yang
sesuatu yang terjadi begitu saja. Alih- dilakukan menyusul peristiwa hijrah
alih, ia adalah peristiwa yang historis, rasanya mustahil dilakukan dan
di mana para muhajirin berhijrah sebab dimenangkan tanpa adanya persatuan
mengalami kezaliman (QS an-Nahl 41, dan persekutuan dangan kelompok lain,
110), terusir dari kampung halamannya, dalam hal ini adalah kalangan Anshor
dan teraniaya karena mempertahankan yang terdiri dari Suku Aus dan Khazraj.
nilai yang diyakininya (QS. Ali 'Imran Dari kesimpulan-kesimpulan
195). ini, pelajaran apa yang bisa kita petik
Kedua, hijrah juga bukan dan kontekstualisasikan dalam
sesuatu yang final. Dalam Al-Qur'an, kehidupan kiwari kita hari ini?
hampir selalu Allah SWT mengaitkan setidaknya ada beberapa hal.
hijrah dengan jihad (QS Al-Baqarah Pertama, hari ini kita hidup di
128), yang di era Nabi Muhammad era ketika kezaliman dilakukan secara
SAW, manifestasinya bisa saja dalam brutal dan vulgar. Ribuan bahkan
bentuk peperangan. mungkin jutaan orang dirampas tanah,
Jika kaum muhajirin terusir rumah, dan lingkungannya atas nama
dari kampung halamannya karena ada pembangunan, penggusuran terjaadi di
hak yang dirampas dan keadilan yang mana-mana, buruh-buruh diperas
dicederai, maka peristiwa hijrah tenaganya dengan upah yang sangat
bukanlah sebentuk pelarian diri atau minim dan tak layak, juga kerusakan
kepasrahan eskapis yang membiarkan alam akibat ulah manusia di berbagai
persoalan tak terselesaikan. belahan dunia. Semua ini bermuara
Sebaliknya, ada perjuangan yang perlu bukan semata-mata pada pemimpin
ditunaikan untuk merebut kembali hak- yang tak becus atau lalim. Karenanya,
hak yang dirampas atau keadilan yang mengganti presiden saja tak akan
tercederai. Dari peristiwa ini, nampak menuntaskan masalah. Semua ini
bahwa Islam mengajarkan bahwa nilai bermuara pada satu sistem yang
yang kita idealkan seperti keadilan, memang dibangun di atas eksploitas
kesetaraan, kesejahteraan, bukanlah dan perampasan. Satu sistem yang tak
sesuatu yang terberi dan datang dalam peduli apapun kecuali akumulasi profit
ruang hampa. Melainkan sesuatu yang semata,: ialah kapitalisme di mana kita
perlu diperjuangkan dalam satu kondisi hidup di dalamnya hari ini. Apabila
sosial tertentu. Peperangan-peperangan hijrah yang dilakukan Nabi
yang terjadi ketika Nabi Muhammad Muhammad SAW dan para sahabatnya

Berjuang bersama mustadh'afin untuk keadilan dan keadulatan alam


Buletin Dakwah Front Nahdliyin untuk Keadilan Sumber Daya Alam Halaman 3
Corong Keadilan Umat

adalah untuk menghindari kezaliman niscaya Fathu Makkah akan banjir


untuk kemudian melawannya, maka darah karena kepala-kepala kaum kafir
pemaknaan hijrah kita hari ini Quraisy yang dipenggal. Tetapi yang
semestinya adalah “penolakan atas dilawan Nabi adalah perbuatan zalim
kapitalisme dan upaya pembangunan dan sistem yang menopang
sistem alternatif atasnya”, alih-alih ketidakadilan itu. Kaum kafir Quraisy
sekadar perbaikan moral personal, dilawan semata-mata karena mereka
seperti yang sering dikampanyekan berusaha melanggengkan eksploitasi
sebagian generasi muda muslim hari yang menguntungkan mereka dan
ini. mempertahankan status-quo.
Kedua, hijrah Nabi Hari ini kita menghadapi
Muhammad SAW dan para sahabatnya lawan berupa sistem yang mengguita
bukan berarti pengakuan kalah dan dan mendunia bernama kapitalisme.
pengibaran bendera putih, tetapi justru Dalam melakukan eksploitasi, ia tak
upaya penggalangan kekuatan untuk pandang suku, agama, atau bangsa
melawan penindasan dengan hantaman manapun. Jika dulu kaum muhajirin
yang lebih dahsyat. Keliru besar kalau pada akhirnya bisa membebaskan
hijrah dimaknai sebagai sebentuk kampung halamannya dan kembali ke
kepasrahan atas kezaliman dan sana berkat persatuan dengan
pengusiran yang mengancam. Apalagi kelompok Anshor, maka dalam
kalau itu dikampanyekan untuk melawan kapitalisme global hari ini,
mempengaruhi rakyat agar mau harusnya kita umat Islam membangun
melepas dan pindah dari kampung perlawanan bersama yang melampaui
halamannya atas nama pembangunan. sekat suku, etnis, agama, bahkan batas
Kampanye ini, dalam istilah Sayyidina teritori negara sekalipun. Bukankah
Ali KW disebut sebagai “kalimatu sebagai pemimpin masyarakat, dulu
haqq yuradu biha bathil”, satu konsep Nabi juga membangun satu komunitas
yang benar, namun ditujukan dan bersama yang dihuni beragam
diperalat untuk kebatilan. golongan, mulai dari kelompok
Ketiga, yang harus kita lawan muhajirin dari Makkah, Suku Aus,
hari ini bukanlah orang atau kelompok Suku Khazraj, bahkan sampai
tertentu, tetapi sistem yang komunitas Yahudi yang berkabilah-
memungkinkan adanya kezaliman. Pun kabilah, seperti yang tertera dalam
begitu pula yang dulu dilakukan oleh Mitsaq Madinah (Perjanjian Madinah).
Nabi Muhammad SAW dan para Bahwa kemudian sebaian dari mereka
sahabatnya. Mereka tidak semata-mata melanggar perjanjian bersama itu
melawan kaum kafir Quraisy sebagai persoalan di kemudian hari. Atau ketika
personal. Jika memang itu yang sebagian sahabat Nabi saat periode
dilawan oleh Nabi dan para sahabatnya, Makkah berhijrah ke Habasyah dan

Berjuang bersama mustadh'afin untuk keadilan dan keadulatan alam


Halaman 4 Buletin Dakwah Front Nahdliyin untuk Keadilan Sumber Daya Alam
Corong Keadilan Umat

mencari suaka pada Raja Najasy yang kehidupan yang penuh kedamaina,
Nasrani, untuk menyelamatkan diri dari keadilan, dan kesejahteraan, tanpa
penindasar kafir Quraisy. Dari situ kita solidaritas bersama lintas kabilah, etnis,
tahu, tentu Nabi mafhum betul, bahwa dan agama []
tidak akan ada kemenangan dan

Buletin Dakwah Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA)
terbit setiap Jumat. Penerbit FNKSDA Komda Jakarta Raya. Alamat Pondok
Pesantren Misykat Al Anwar, Perumahan Pondok Suryakancana, Bubulak, Bogor
Barat-Kota Bogor. Email jaraya.fnksda@gmail.com WA 0819-9847-6186

Berjuang bersama mustadh'afin untuk keadilan dan keadulatan alam