Anda di halaman 1dari 3

BAB 4

PEMBAHASAN

Keberhasilan atau gagalnya dari pemasangan gigi tiruan tergantung pada beberapa faktor,

antara lain kondisi dari mulut pasien, keadaan periodontal gigi dan prognosa gigi tersebut. Pasien

yang ingin memasang gigi tiruan tidak selalu dapat memenuhi faktor-faktor tersebut sehingga

dibutuhkan suatu tindakan sebelum pemasangan gigi tiruan. Tindakan itu disebut sebagai

perawatan pendahuluan. Pengertian dari perawatan pendahuluan, yaitu tindakan yang dilakukan

terhadap gigi, jaringan lunak maupun jaringan keras dengan tujuan mempersiapkan rongga mulut

untuk menerima gigi tiruan. Tujuan perawatan pendahuluan selain untuk mempersiapkan rongga

mulut, juga untuk menciptakan kondisi oklusi yang normal dan memastikan kesehatan gigi

berserta jaringan penyangganya.

Ada beberapa perawatan pendahuluan yang akan dilakukan sebelum perawatan utama.

Pertama, yaitu perawatan di bidang konservasi. Pada perawatan tersebut akan dilakukan

penumpatan pada gigi-gigi yang berlubang. Kedua, yaitu occlusal grinding. Tujuan dilakukan

occlusal grinding untuk menghindari trauma oklusi. Occlusal grinding dilakukan dengan cara

mengurangi enamel gigi antagonis dari gigi tiruan. Ketiga, yaitu suvey. Tujuan dilakukan survey

untuk menentukan lengkung terbesar pada gigi penyangga dan menentukan arah pemasangan gigi

tiruan. Keempat, yaitu penetapan gigit pendahuluan. Tujuan dilakukan penetapan gigit pedahuluan

untuk memperoleh kondisi yang ideal pada rahang atas dan rahang bawah didalam rongga mulut

kemudian diproyeksikan keluar mulut.

Setelah perawatan pendahuluan selesai dilakukan, rongga mulut pasien siap untuk

dipasangkan gigi tiruan sehingga dapat mulai dilakukan perawatan utama. Perawatan utama yang

akan dilakukan pada kasus ini adalah gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL). Konstruksi gigi tiruan
sebagian lepasan (GTSL) untuk rahang atas mengindikasikan klasifikasi Kennedy Klas 3

Modifikasi 2 dengan kehilangan gigi 14,16 dan 26. Klasifikasi Kennedy Klas 3 ini menandakan

bahwa GTSL bersifat tooth borne. Untuk desain yang dipilih pada rahang atas menggunakan

klamer 3 jari pada gigi 17, 25 dan 27 serta klamer half jackson pada gigi 13. Klamer 3 jari pada

gigi 17 digunakan untuk mendapatkan sifat tooth borne pada anasir gigi 16. Klamer 3 jari pada

gigi 25 dan 27 digunakan untuk mendapatkan sifat tooth borne pada anasir gigi 26 dengan tempat

yang terbatas. Klamer half jackson pada gigi 13 digunakan untuk mendapatkan sifat tooth borne

pada anasir gigi 14. Gigi 15 tidak digunakan klamer karena merupakan single standing tooth

sehingga dikhawatirkan akan menjadi pusat stress pada gigi 15 apabila digunakan klamer pada

gigi tersebut. Pada kasus ini, pasien memiliki torus palatinus yang kecil, sehingga desain harus

dibuat relief chamber. Adapun pilihan lain bisa menggunakan plat dengan desain terbuka.

Konstruksi GTSL untuk rahang bawah mengindikasikan klasifikasi Kennedy klas 3

modifikasi 1 yang menandakan GTSL bersifat tooth borne. Untuk desain pertama, klamer 3 jari

pada gigi 34 dan 37 untuk mendapatkan sifat tooth borne dari anasir gigi 35 dan 36. Klamer 3 jari

pada gigi 47 dan 45 digunakan untuk mendapatkan sifat tooth borne dari anasir gigi 46 dengan

tempat terbatas. Pada kasus ini, tidak diperlukan peninggian plat karena konstruksi GTSL tidak

mengindikasikan klasifikasi baik Kennedy Klas 1 maupun Klas 2. Plat dibuat 1 mm di bawah

servikal untuk menghindari penumpukan sisa-sisa makanan pada daerah servikal yang

menyebabkan karies servikal pada gigi anterior.

Perawatan Alternatif pada kasus ini adalah gigi tiruan tetap (GTT). Bahan yang digunakan

pada kasus ini adalah PFM. PFM dipilih karena melibatkan penggabungan dari kebaikan sifat

mekanik logam dengan sifat estetik porcelain yang baik. Secara umum, restorasi terdiri dari sub-

struktur logam campur yang berikatan dengan vinir porcelain.


Pada regio 1 dibuatkan GTT jenis compound bridge. Desain compound bridge pada regio

1 dibuatkan gabungan dari GTT tegar 3 unit di gigi 15, 16, 17, dan GTT setengah tegar 2 unit di

gigi 13 juga 14. Desain compound bridge digunakan pada regio ini karena gigi 15 merupakan

single standing tooth sehingga diperlukan stress breaker, bila tidak beban akan terkumpul pada

gigi tersebut. Pontik yang digunakan adalah jenis ridge lap karena bentuk ridge yang ovoid.

Akhiran preparasi pada kasus ini tepat pada margin gingiva (equigingival) untuk gigi 15 dan 17

karena, sedangkan gigi 13 memiliki akhiran subgingival karena memerlukan estetik yan baik.

Pada regio 2 dibuatkan GTT tegar terdiri dari 3 unit, yang mana gigi 25 dan 27 berfungsi

sebagai abutment dan gigi 26 adalah pontik. Pontik yang digunakan adalah jenis ridge lap karena

bentuk ridge yang ovoid. Akhiran preparasi yang digunakan adalah equigingival karena

merupakan gigi posterior sehingga estetik bukan merupakan hal yang utama.

Pada regio 3 dibuatkan GTT tegar terdiri dari 4 unit, yang mana gigi 34 dan 37 berfungsi

sebagai abutment dan gigi 35 serta gigi 36 adalah pontik. Pontik yang digunakan adalah jenis

sanitary karena bentuk ridge yang tapering. Selain itu, pontik sanitary dipilih karena sisa makanan

yang menempel lebih mudah dibersihkan. Akhiran preparasi yang digunakan adalah eguigingival

karena merupakan gigi posterior sehingga estetik bukan merupakan hal yang utama.

Pada regio 4, GTT tegar terdiri dari 3 unit, yang mana gigi 45 dan 47 berfungsi sebagai

abutment dan gigi 46 adalah pontik. Pontik yang digunakan adalah jenis sanitary karena bentuk

ridge yang tapering. Selain itu, pontik sanitary dipilih karena sisa makanan yang menempel lebih

mudah dibersihkan. Akhiran preparasi yang digunakan adalah eguigingival karena merupakan gigi

posterior sehingga estetik bukan merupakan hal yang utama.