Anda di halaman 1dari 14

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Tepat Penelitian


1. Geografi dan Demografi
Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak

mempunyai jumlah penduduk pada tahun 2011 sebanyak 4.584 jiwa,

1.350 KK, terdiri atas 5 RW dan 27 RT dengan tiap-tiap RW terdapat satu

buah Posyandu. Jumlah rumah tempat tinggal sebanyak 1.165 buah

dengan luas wilayah desa 296.900 Ha.


Batas wilayah Desa Sidomulyo yaitu :
a. Sebelah Barat : Desa Botorejo
b. Sebelah Utara : Desa Kerang Kulon
c. Sebelah Selatan : Desa Telogorejo
d. Sebelah Timur : Desa Pilangrejo
Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak

merupakan desa dengan mayoritas pekerjaan warganya sebagai petani.

Namun banyak pula yang bekerja sebagai karyawan dan pegawai pabrik.

Posyandu merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh

masyarakatnya terutama oleh ibu-ibu dengan bimbingan dan pengawasan

bidan desa setempat. Akses untuk mencapai pusat kota cukup mudah

sehingga berbagai informasi yang berhubungan dengan kesehatan dan

pertolongan lebih cepat dan terjangkau.

B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden
a. Usia
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Ibu di
Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan
Wonosalam Kabupaten Demak Tahun 2011

No. Usia Frekuensi Persentase (%)


> 22 Tahun 45 100

1
1.

Jumlah 45 100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa responden di Posyandu

Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam Kabupaten

Demak tahun 2011 semuanya adalah usia diatas 22 tahun yaitu

sebanyak 45 responden (100%).


b. Pendidikan
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan
Ibu di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan
Wonosalam Kabupaten Demak Tahun 2011

No. Pendidikan Frekuensi Persentase (%)


1. SD 21 35.6
2. SMP 16 46.7
3. SMA 8 17.8
Jumlah 45 100

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa pendidikan responden di

Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam

Kabupaten Demak tahun 2011 sebagian besar adalah pendidikan

SMP yaitu sebanyak 16 responden (46.7%), SD sebanyak 21

responden (35.6%), sedangkan responden dengan pendidikan SMA

sebanyak 8 responden (17.8%).


c. Pekerjaan
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan
Ibu di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan
Wonosalam Kabupaten Demak Tahun 2011

No. Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)


1. Tani 14 31.1
2. Swasta 9 20.0
3. Ibu rumah Tangga 22 48.9
Jumlah 45 100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa pekerjaan responden di

Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam

2
Kabupaten Demak tahun 2011 sebagian besar adalah sebagai ibu

rumah tangga sebanyak 22 responden (48.9%), sebagai petani

sebanyak 14 responden (31.1%) dan swasta sebanyak 9 responden

(20.0%).
2. Analisa Univariat
a. Tingkat Pengetahuan Responden

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat


Pengetahuan Ibu di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo
Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak Tahun 2011

No. Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)


1. Kurang 13 28.9
2. Cukup 16 35.6
3. Baik 16 35.6
Jumlah 45 100
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa tingkat

pengetahuanresponden di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo

Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak tahun 2011 adalah

kategori baik yaitu sebanyak 16 responden (35.6%) sedangkan

responden dengan pengetahuan cukup sebanyak 16 responden

(35.6%) dan pengetahuan kurang sebanyak 13 responden (28.9%).


b. Perkembangan Motorik Kasar

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan


Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 4-5 Tahun di
Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan
WonosalamKabupaten Demak Tahun 2011

Perkembangan
No. Frekuensi Persentase (%)
Motorik
1. Meragukan 25 55.6
2. Sesuai 20 44.4
Jumlah 45 100

Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa Perkembangan Motorik

Kasar Anak Usia 4-5 Tahun di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo

Kecamatan WonosalamKabupaten Demak adalah dalam kategori

3
meragukan (jawaban betul 7-8) sebanyak 25 responden (55.6%)

sedangkan responden dengan kategori sesuai (jawaban betul 9-10)

sebanyak 20 responden (44.4%).

3. Analisa Bivariat
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hubungan
Tingkat Pengetahuan Tentang Alat Permainan Edukatif Dengan
Perkembangan Motorik Kasar Pada Anak Usia 4-5 Tahun di
Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam
Kabupaten Demak Tahun 2011

PERKEMBANGAN MOTORIK
Total
MERAGUKAN SESUAI
KURANG 12 (92.3%) 1 (7.6%) 13
PENGETAHUAN CUKUP 11 (68.7%) 5 (31.2%) 16
BAIK 2 (12.5%) 14 (87.5%) 16
Total 25 (55.5%) 20 (55.5%) 45

Pearson Correlation = 0.652 p-value = 0.000

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa responden dengan

pengetahuan kurang memiliki anak dengan perkembangan motorik kasar

meragukan sebanyak 12 responden (92,3%), dan perkembangan motorik

kasar sesuai sebanyak 1 responden (7.6%), ibu dengan pengetahuan

cukup memiliki anak dengan perkembangan motorik kasar meragukan

sebanyak 11 responden (68.7%), dan perkembangan motorik kasar

sesuai sebanyak 5 responden (31.2%), ibu dengan pengetahuan baik

memiliki anak dengan perkembangan motorik kasar meragukan sebanyak

4
2 responden (12.5%), dan perkembangan motorik kasar sesuai sebanyak

14 responden (87.5%).
Dengan nilai korelasi koefisiensi sebesar 0.652 maka mendekati

angka 1 sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa hubungan tingkat

pengetahuan dengan jumlah kunjungan ibu di Posyandu adalah sangat

kuat.
C. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
a. Usia
Berdasarkan hasil penelitian responden di Posyandu Mawar III

Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak

semuanya adalah usia diatas 22 tahun yaitu sebanyak 45 responden

(100%).
Hasil tersebut menunjukan bahwa usia ibu dengan balita di Desa

Sidomulyo sudah menunjukan usia yang sesuai untuk seorang wanita

cukup umur untuk ibu dengan balita. Dengan cukup umur dan cukup

dewasa maka pola asuh ibu juga akan semakin baik dalam

memberikan pendidikan kepada putra-putrinya.


Menurut Prawirohardjo (2002; h. 185), seorang ibu dengan usia

20-35 tahun merupakan usia yang paling baik untuk proses

pematangan jiwa. Hal ini disebabkan karena pada usia tersebut

seorang ibu relatif sudah siap segalanya, baik organ reproduksinya,

mental dan psikologisnya dalam menghadapi masa kehamilan,

kelahiran dan merawat anak.


Pada usia 20-35 tahun, seorang ibu akan lebih dewasa dalam

mengasuh anaknya, mengikuti semua anjuran petugas kesehatan

dalam perawatan anak terutama dalam hal memberikan gizi

seimbang dan pendidikan dini yang sesuai untuk tumbuh kembang

anak.

5
b. Pendidikan
Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan responden di

Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam

Kabupaten Demak sebagian besar adalah SMP yaitu sebanyak 16

responden (46.7%), pendidikan SD sebanyak 21 responden (35.6%),

sedangkan responden dengan pendidikan SMA sebanyak 8

responden (17.8%).
Hasil ini memberikan gambaran bahwa pendidikan warga

masyarakat di Desa Sidomulyo sudah cukup baik karena sebagian

besar warganya sudah menyelesaikan pendidikan dasar hingga SMP

sehingga diharapkan dengan tingkat pendidikan yang baik dari warga

masyarakat yang ada maka kemampuan masyarakat dalam

menyerap informasi yang ada baik melalui media masa, maupun

berbagai penyuluhan oleh petugas kesehatan dapat lebih baik.


c. Pekerjaan
Hasil penelitian menunjukan bahwa pekerjaan responden di

Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam

Kabupaten Demak sebagian besar adalah sebagai ibu rumah tangga

sebanyak 22 responden (48.9%), sebagai petani sebanyak 14

responden (31.1%) dan swasta sebanyak 9 responden (20.0%).


Notoatmodjo (2003; h. 13-14) mengatakan bahwa status sosial

ekonomi seseorang merupakan faktor predisposisi untuk

terbentuknya perilaku kesehatan. Dengan status sosial yang baik

maka akan meningkatkan pengetahuan seseorang dalam memahami

sesuatu. Lingkungan pekerjaan juga memberikan dampak terhadap

perilaku seseorang dalam keseharianya. Pertukaran informasi yang

cepat akan sangat mempengaruhi perilaku seseorang.

6
Di Desa Sidomulyo sebagian besar pekerjaan adalah ibu rumah

tangga dan petani. Hal ini jelas mempengaruhi tingkat pengetahuan

dari warganya terutama tentang perkembangan motorik pada

anaknya. Jenis pekerjaan seseorang juga sangat mempengaruhi pola

perilaku sehari-hari nya. Kesadaran akan pentingnya memantau

pertumbuhan dan perkembangan anak juga akan berkurang karena

setiap hari hanya disibukan untuk mencari nahkah memenuhi

kebutuhan harian.
2. Analisa Univariat
a. Tingkat Pengetahuan Responden

Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pengetahuan responden

di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan Wonosalam

Kabupaten Demak sebagian besar adalah kategori baik yaitu

sebanyak 16 responden (35.6%) sedangkan responden dengan

pengetahuan cukup sebanyak 16 responden (35.6%) dan

pengetahuan kurang sebanyak 13 responden (28.9%).


Hal ini berhubungan dengan tingkat pendidikan dari responden

yang sebagian besar adalah SMP yang mencapai 46.7% dari total

responden penelitian.
Menurut Notoatmodjo (2003), semakin tinggi tingkat pendidikan

formal yang dicapai seseorang maka semakin baik pula proses

penerimaan informasi yang didapat. Tingkat pendidikan masyarakat

berpengaruh dalam dalam memberikan respon sesuatu yang datang

dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberi respon yang

rasional terhadap informasi yang datang. Sebaliknya jika seseorang

berpendidikan rendah maka pengetahuan yang dimiliki kurang baik

karena proses informasi tidak bisa dicerna dengan baik.

7
Dengan berhasil menyelesaikan sebuah tingkatan sekolah maka

dengan sendirinya pengetahuan seseorang akan bertambah pula.

Pengetahuan seseorang tidak selamanya dipengaruhi oleh tingginya

tingkatan pendidikan yang dimiliki. Banyak ibu-ibu yang dengan

pendidikan rendah justru memiliki wawasan dan pengetahuan yang

luas dibandingkan dengan yang memiliki pendidikan sarjana. Hal ini

dikarenakan oleh faktor lingkungan pergaulan, adanya pertukaran

informasi globalisasi yang sangat cepat dan adanya media masa

yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita yang ternyata

memberikan informasi yang sangat banyak dalam kehidupan sehari-

hari (Amirudin, 2004; h. 132).


b. Perkembangan Motorik Kasar

Hasil penelitian menunjukan perkembangan motorik kasar Anak

Usia 4-5 Tahun di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan

Wonosalam Kabupaten Demak adalah dalam kategori meragukan

(jawaban betul 7-8) sebanyak 25 responden (55.6%) sedangkan

responden dengan kategori sesuai (jawaban betul 9-10) sebanyak 20

responden (44.4%).
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi

tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar,

gerak halus, bicara, dan bahasa serta sosialisasi dan

kemandirian (Depkes RI, 2006 : 4).


Menurut Suherman (2000 : 57), perkembangan adalah

perubahan psikologis sebagai hasil dari proses pematangan

fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor

8
lingkungan dan proses belajar dalam kurun waktu tertentu

menuju kedewasaan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan motorik

kasar pada anak usia 4-5 tahu di Desa Sidomulyo sesuai

penilaian adalah pada kategori meragukan yaitu penilaian

pertumbuhan anak menggunakan skrining tes menunjukan 7-8

poin sesuai dengan materi yang ada dalam penilaian tersebut

sebanyak 55.6 % dan kategori sesuai yaitu menununjukan 9-10

poin sesuai dengan materi yang ada sebanyak 44.5 %.


3. Analisa Bivariat
Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai korelasi antara kedua

variabel sebesar 0.652 dimana angka tersebut mendekati angka 1.


Menurut Nugroho (2005; h. 36) sifat korelasi akan menentukan arah

dari korelasi. Keeratan korelasi dapat dikelompokan sebagai berikut:


1. 0.00 – 0.20 berarti keeratan sangat lemah
2. 0.21 - 0.40 berarti keeratan lemah
3. 0.41 – 0.70 berarti keeratan kuat
4. 0.71 – 0.90 berarti keeratan sangat kuat
5. 0.91 – 0.99 berarti keeratan sangat kuat sekali
6. 1 berarti korelasi sempurna
Karena nilai korelasi antara 0.41 – 0.70 berarti nilai korelasi tersebut

memiliki sifat keeratan kuat, sehingga dapat disimpulkan bahwa

hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang alat permainan edukatif

dengan perkembangan motorik kasar anak usia 4-5 tahun adalah kuat.
Posyandu merupakan forum komunikasi alih teknologi dan pelayanan

kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai

strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia seiak dini yang

bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak,

meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan

kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan

kemampuan hidup sehat, meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk

9
menurunkan Indeks Mortalitas Rate, serta meningkatkan dan pembinaan

peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk swakelola

usaha-usaha kesehatan masyarakat.


Adanya Posyandu yang memiliki tujuan sebagaimana disebutkan

diatas merupakan sebuah usaha yang dilakukan Pemerintah dalam hal ini

dilaksanakan ileh Dinas Kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan

kesehatan khususnya kepada peningkatan kesehatan balita dan ibu.


Dalam mewujudkan keberhasilan program pemerintah tersebut tidak

terlepas dari adanya peran serta masyarakat dalam mensukseskan

program tersebut.
Peran serta masyarakat merupakan hal yang mutlak perlu, karena

sistem yang dianut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah

kegotong royongannya. Upaya kesehatan bukan oleh pemerintah saja,

peran serta masyarakat merupakan unsur mutlak dalam kegiatan upaya

kesehatan. Peran serta masyarakat yang dimaksud adalah tercapainya

angka jumlah kunjungan balita pada tiap-tiap Posyandu yang ada.


Kunjungan balita adalah datangnya balita ke posyandu untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan misalnya penimbangan, imunisasi,

penyuluhan gizi dan lain sebagainya.


Menurut Depkes RI, (2007) dalam buku pedoman dan pembinaan

Posyandu kunjungan balita ke Posyandu yang paling baik adalah teratur

setiap bulan atau 12 kali pertahun, tapi Posyandu frekuensinya ada yang

kurang dari 12 kali setahun. Jadi diambil batasan 8 kali penimbangan

yang kurang dari 8 kali pertahun dianggap rawan tapi jika lebih dari 8 kali,

maka dianggap mapan.


Aspek-aspek Perkembangan yang terjadi adalah:
1) Gerak kasar atau motorik kasar adalah aspek yang

berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan

10
dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar seperti duduk,

berdiri, dan sebagainya.


2) Gerak halus atau motorik halus adalah aspek yang

berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan

yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan

oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat

seperti mengamati sesuatu, menulis, dan sebagainya.


3) Kemampuan bicara dan bahasa adalah aspek yang

berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respon

terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah,

dan sebagainya.
4) Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang berhubungan

dengan kemampuan mandiri anak (makan sendiri,

membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu

atau pengasuh anak, bersosialisasi dan berinteraksi

dengan lingkungannya.
Usia prasekolah (terutama mulai usia 4 tahun), perkembangan

sosial anak sudah tampak jelas, karena sudah mulai aktif

berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-tanda

pekembangan sosial pada tahap ini adalah :


a) Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan

keluarga maupun dalam lingkungan bermain


b) Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan
c) Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain
d) Anak mulai bermain bersama anak-anak lain, atau teman

sebaya

11
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh sosio-

psikologis keluarganya. Apabila di lingkungan keluarga tercipta

suasana yang harmonis, saling memperhatikan, saling membantu

(bekerja sama) dalam menyelesaikan tugas-tugas keluarga atau

anggota keluarga, terjalin komunikasi antar anggota keluarga, dan

konsisten dalam melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki

kemampuan atau penyesuaian sosial dalam hubungan dengan

orang lain (Yusuf, 2010).

D. Keterbatasan Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti mengalami berbagai kendala yang

menjadikan keterbatasan pada penelitian ini yaitu :


1. Penelitian hanya dilakukan di salah satu Posyandu yang ada sehingga

belum bisa mewakili seluruh populasi Posyandu yang ada di Desa

Sidomulyo dan seluruh masyakat Sidomulyo secara keseluruhan


2. Yang datang ke Posyandu tidak seluruhnya ibu dari balita, melainkan

nenek, kakak, atau saudara yang pada waktu jadual Posyandu ada

dirumah sehingga pengisian kuesioner juga belum bisa mewakili tujuan

penelitian

12
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

1. Usia responden di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan

Wonosalam Kabupaten Demak tahun 2011 semuanya adalah usia diatas

22 tahun yaitu sebanyak 45 responden (100%).


2. Pendidikan responden di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo

Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak tahun 2011 sebagian besar

adalah pendidikan SMP yaitu sebanyak 16 responden (46.7%), SD

sebanyak 21 responden (35.6%), sedangkan responden dengan

pendidikan SMA sebanyak 8 responden (17.8%).


3. Pekerjaan responden di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo Kecamatan

Wonosalam Kabupaten Demak tahun 2011 sebagian besar adalah

sebagai ibu rumah tangga sebanyak 22 responden (48.9%), sebagai

petani sebanyak 14 responden (31.1%) dan swasta sebanyak 9

responden (20.0%).
4. Tingkat pengetahuan responden di Posyandu Mawar III Desa Sidomulyo

Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak tahun 2011 adalah kategori

baik yaitu sebanyak 16 responden (35.6%) sedangkan responden dengan

pengetahuan cukup sebanyak 16 responden (35.6%) dan pengetahuan

kurang sebanyak 13 responden (28.9%).


5. Perkembangan motorik kasar anak Usia 4-5 Tahun di Posyandu Mawar III

Desa Sidomulyo Kecamatan WonosalamKabupaten Demak adalah dalam

13
kategori meragukan (jawaban betul 7-8) sebanyak 25 responden (55.6%)

sedangkan responden dengan kategori sesuai (jawaban betul 9-10)

sebanyak 20 responden (44.4%).


6. Dengan nilai korelasi koefisiensi sebesar 0.652 maka mendekati angka 1

sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa hubungan tingkat pengetahuan

dengan jumlah kunjungan ibu di Posyandu adalah kuat.

B. SARAN

1. Dinas Kesehatan Kabupaten

Posyandu merupakan sarana efektif dalam meningkatkan derajat

kesehatan dan tumbuh kembang balita terutama di daerah pedesaan

sehingga keberadaanya sangat perlu untuk terus dipupuk dan dilestarikan

dengan menambahkan kegiatan yang jauh lebih bermanfaat dan

menempatkan petugas-petugas yang berkualitas dalam hal penyampaian

informasi mengenai kesehatan ibu dan balita.

2. Petugas Kesehatan
Bidan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan ibu dan balita

harus lebih proaktif dalam memberikan informasi seputar kesehatan ibu

dan balita.
3. Masyarakat
Posyandu adalah tempat yang murah dan bermanfaat untuk

meningkatkan kesehatan ibu dan balita, untuk itu diharapkan masyarakat

terutama ibu-ibu untuk selalu aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan

oleh Posyandu setempat. Selain itu peran dari Bapak dan anggota

keluarga yang lain sangat diharapkan memberikan dorongan kepada ibu

untuk rajin datang ke Posyandu.

14