Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

DIARE PADA AN. M


DI RUANG SA’AD ANAK 3
RSI SUNAN KUDUS

NAMA : RIKI PUSPITASARI


KELAS : 2 C S1 KEPERAWATAN
NIM : 920173132

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS


TAHUN AJARAN 2018/2019
A. DEFINISI
Diare adalah pengeluaran feses yang lunak dan cair disertai sensasi ingin defekasi yang
tidak dapat ditunda. (Grace, Pierce A &Borley, Neil R, 2006).

Diare adalah gejala kelainan pencernaan, absorbsi dan fungsi sekresi (Wong, 2001).

Diare mengacu pada kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi
dengan bagian feses tidak terbentuk (Nethina, 2001). Diare adalah kehilangan banyak cairan dan
elektrolit melalui tinja (Behrman, 1999).

Menurut pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa diare adalah gejala kelainan sistem
pencernaan, absorbsi, maupun fungsi sekresi dimana pasien mengalami kehilangan cairan dan
elektrolit melalui tinja dengan frekuensi buang air besar lebih dari empat kali pada bayi dan lebih
dari tiga kali pada anak dengan konsistensi feses cair, dapat berwarna hijau bercampur lendir
atau darah, atau lendir saja. Diare dibagi menjadi dua yaitu:

1.Diare Akut Diare akut dikarakteristikkan oleh perubahan tiba-tiba dengan frekuensi dan
kualitas defekasi.

2.Diare Kronis Diare kronis yaitu diare yang lebih dari dua minggu

B. ETIOLOGI

Terdapat 3 bahan dalam etiologi diare pada anak (Mary E. Muscari, 2005).
1.Diare Akut Diare akut dapat disebabkan karena adanya bakteri, nonbakteri maupun adanya
infeksi.
a. Bakteri penyebab diare akut antara lain organisme Escherichia coli dan Salmonella
serta Shigella. Diare akibat toksin Clostridium difficile dapat diberikan terapi antibiotik.
b. Rotavirus merupakan penyebab diare nonbakteri (gastroenteritis) yang paling sering.
c. Penyebab lain diare akut adalah infeksi lain (misal, infeksi traktus urinarius dan
pernapasan atas), pemberian makan yang berlebihan, antibiotik, toksin yang teringesti, iriitable
bowel syndrome, enterokolitis, dan intoleransi terhadap laktosa.
2.Diare kronis biasanya dikaitkan dengan satu atau lebih penyebab berikut ini:
a.Sindrom malabsorpsi
b.Defek anatomis
c.Reaksi alergik
d.Intoleransi laktosa
e.Respons inflamasi
f.Imunodefisiensi
g.Gangguan motilitas
h.Gangguan endokrin
i.Parasit
j.Diare nonspesifik kronis
3.Faktor predisposisi diare antara lain, usia yang masih kecil, malnutrisi, penyakit kronis,
penggunaan antibiotik, air yang terkontaminasi, sanitasi atau higiene buruk, pengolahan dan
penyimpanan makanan yang tidak tepat.
C. MANIFESTASI KLINIS
1.Diare akut
-Akan hilang dalam waktu 72 jam dari onset.
-Onset yang tak terduga dari buang air besar encer, gas-gas dalam perut, rasa tidak enak, nyeri
perut.
- Nyeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dan bunyi pada perut.
-Demam.
2.Diare kronik
-Serangan lebih sering selama 2-3 periode yang lebih panjang.
-Penurunan BB dan nafsu makan.
-Demam indikasi terjadi infeksi.
-Dehidrasi tanda-tandanya hipotensi takikardi, denyut lemah
Bentuk klinis diare Diagnose Didasarkan Pada Keadaan

Diagnose Didasarkan pada keadaan


Diare cair akut a.Diare lebih dari 3 kali sehari berlangsung kurang dari 14
hari
b.Tidak mengandung darah

Kolera a.Diare air cucian beras yang sering ada banyak dan cepat
menimbulkan dehidrasi berat, atau
b.Diare dengan dehidrasi berat selama terjadinya KLB
kolera, atau
c. Diare dengan hasil kultur tinja positif untuk V cholers 01
atau 0139

Disentri a.Diare berdarah (dilihat atau dilaporkan)

Diare persisten a.Diare yang berlangsung selama 14 hari atau lebih

Diare dengan gizi buruk a.Diare apapun yang disertai gizi buruk

Diare terkait antibiotika a.Mendapat pengobatan antibiotic oral spectrum luas


(Antibiotic Associated Diarrhea)
Invaginasi a.Dominan darah dan lender dalam tinja
b.Massa intra abdominal (abdominal mass)
c.Tangisan keras dan kepucatan pada bayi
Klasifikasi tingkat dehidrasi anak dengan diare

Klasifikasi Tanda-tanda atau gejala Pengobatan


Dehidrasi berat Terdapat 2 atau lebih tanda: Beri cairan untuk diare dengan
a. Letargis/tidak sadar dehidrasi berat
b. Mata cekung
c. Tidak bisa minum atau malas
minum
d. Cubitan perut kembali sangat
lambat
(≥ 2 detik)

Dehidrasi ringan atau Terdapat 2 atau lebih tanda: a. Beri anak dengan cairan
sedang a. Rewel gelisah dengan makanan untuk dehidrasi
b. Mata cekung ringan
c. Minum dengan lahap atau haus b. Setelah rehidrasi, nasehati ibu
d. Cubitan kulit kembali dengan untuk penangan dirumah dan
lambat kapan kembali segera

Tanpa dehidrasi Tidak terdapat cukup tanda untuk a. Beri cairan dan makanan
diklasifikasikan sebagai dehidrasi untuk menangani diare dirumah
ringan atau berat b. Nasehati ibu kapan kembali
segera
c. Kunjungan ulang dalam waktu
5 hari jika tidak membaik
D. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi bergantung pada penyebab diare (Mary E. Muscari, 2005)
1. Enterotoksin bakteri menginvasi dan menghancurkan sel-sel epitel usus, menstimulasi
sekresi cairan dan elektrolit dari sel kripta mukosa.
2. Penghancuran sel-sel mukosa vili oleh virus menyebabkan penurunan kapasitas untuk
absorpsi cairan dan elektrolit karena area permukaan usus yang lebih kecil.
3. Patofisiologi diare kronis bergantung pada penyebab utamanya. Lihat unit pembahasan
penyakit seliaka sebagai contoh diare yang disebabkan oleh gangguan malabsorpsi.
Diare dalam jumlah besar juga dapat disebabkan faktor psikologis, misalnya ketakutan
atau jenis stres tertentu, yang diperantarai melalui stimulasi usus oleh saraf parasimpatis. Juga
terdapat jenis diare yang ditandai oleh pengeluaran feses dalam jumlah sedikit tetapi sering.
Penyebab diare jenis ini antara lain adalah kolitis ulserabutiv dan penyakit Crohn. Kedua
penyakit ini memiliki komponen fisik dan psikogenik (Elizabeth J. Corwin, 2007).
E. PATHWAY

Infeksi Makanan Psikologi

Berkembang di usus Toksik tidak dapat Ansietas


diserap

Hiperskresi air &


elektrolit Hiperperistaltik

Isi usus
Penyerapan makanan
di usus

Diare

Frekuensi BAB Distensi abdomen

Mual muntah
Hilang cairan &
elektolit berlebihan
Kerusakan integrasi Nafsu makan
kulit
Gangguan
keseimbanagn cairan Ketidakseimbangan
dan elektolit nutrisi : kurang dari
kebutuhan tubuh

Dehidrasi

Kekurangan volume
cairan
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Diare akut
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:
a. Tes darah: hitung darah lengkap; anemia atau trombositosis mengarahkan dengan adanya
penyakit kronis. Albumin yang rendah bisa menjadi patokan untuk tingkat keparahan
penyakit namun tidak spesifik.
b. Kultur tinja bisa mengidentifikasi organisme penyebab. Bakteri C. Difficile ditemukan
pada 5% orang sehat; oleh karenanya diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya gejala
disertai ditemukannya toksin, bukan berdasarkan ditemukannya organisme saja.
c. Foto polos abdomen: bisa menunjukkan gambaran kolitis akut.
2.Diare kronis
Pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan harus dipilih berdasarkan prioritas
diagnosis klinis yang paling mungkin:
a. Tes darah: secara umum dilakukan hitung darah lengkap, LED, biokimiawi darah, tes
khusus dilakukan untuk mengukur albumin serum, vitamin B12 dan folat. Fungsi tiroid.
Antibodi endomisial untuk penyakit siliaka.
b. Mikroskopik dan kultur tinja (x3): hasil kultur negatif belum menyingkirkan giardiasis.
c. Lemak dan tinja: cara paling sederhana adalah pewarnaan sampel tinja dengan Sudan
black kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Pada kasus yang lebih sulit, kadar lemak
tinja harus diukur, walaupun untuk pengukuran ini dibutuhkan diet yang terstandardisasi.
d. Foto polos abdomen: pada foto polos abdomen bisa terlihat klasifikasi pankras, sebainya
diperiksa dengan endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) dan/atau CT
pankreas.
e. Endoskopi, aspirasi duodenum, dan biopsi: untuk menyingkirkan penyakit seliaka dan
giardiasis.
f. Kolonoskopi dan biopsi: endoskopi saluran pencernaan bagian bawah lebih
menguntungkan dari pada pencitraan radiologi dengan kontras karena, bahkan ketika
mukosa terlihat normal pada biopsi bisa ditemukan kolitis mikroskopik (misalnya kolistik
limfositik, kolitis kolagenosa).
g. Hydrogen breath test: untuk hipolaktasia (laktosa) atau pertumbuhan berlebihan bakteri
pada usus halus (laktulosa).
h. Pencitraan usus halus: bisa menunjukkan divertikulum jejuni, penyakit Crohn atau
bahkan struktur usus halus.
i. Berat tinja 24 jam (diulang saat puasa): walaupun sering ditulis di urutan terakhir daftar
pemeriksaan penunjang pemeriksaan ini tetap merupakan cara paling tepat untuk
membedakan diare osmotik dan diare sekretorik.
j. Hormon usus puasa: jika ada dugaan tumor yang mensekresi hormonharus dilakukan
pengukuran kadar hormon puasa.
Menurut (Rubebsten dkk, 2007) jika merupakan episode akut tunggal dan belum mereda setelah
5-7 hari, maka harus dilakukan pemeriksaan berikut:
a. Pemeriksaan darah lengkap untuk mencari anemia dan kultur darah untuk Salminella
typhi, S. Paratyphi, dan S. Enteritidid, khususnya bila ada riwayat perjalanan ke luar
negeri.
b. Pemeriksaan laboratorium tinja untuk mencari kista, telur, dan parasit (ameba,
Giardia) dan kultur (tifoid dan paratifoid, Campylobacter, Clostridium difficile).
c. Sigmoidoskopi, khususnya pada dugaan kolistis ulseratif atau kangkaer (atau kolitis
ameba). Biopsi dan histologi bisa memiliki nilai diasnostik.
G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan medis primer diarahkan pada pengontrolan dan menyembuhkan
penyakit yang mendasari (Baughman, 2000).
1. Untuk diare ringan, tingkatkan masukan cairan per oral; mungkin diresepkan glukosa oral
dan larutan elektrolit.
2. Untuk diare sedang, obat-obatan non-spesifik, difenoksilat (Lomotif) dan loperamid
(Imodium) untuk menurunkan motilitas dari sumber-sumber non-infeksius.
3. Diresepkan antimicrobial jika telah teridentifikasi preparat infeksius atau diare
memburuk.
4. Terapi intravena untuk hidrasi cepat, terutama untuk pasien yang sangat muda atau lansia.
Penatalaksanaan diare akut pada anak:
1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi. Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat
memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat, yaitu:
a. Jenis cairan yang hendak digunakan. Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan
pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila
dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl
isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada
setiap satu liter NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan
cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
b. Jumlah cairan yang hendak diberikan. Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang
hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah
kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus:
Mengukur BJ Plasma
Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus: BJ Plasma – 1,025 x BB x 4 ml 0,00
Metode Pierce
Berdasarkan keadaan klinis, yakni:
 Diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB
 Diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB
 Diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB
H. PENGKAJIAN
POLA KESEHATAN FUNGSIONAL MENURUT GORDON

1) Pola Persepsi Kesehatan Ketidaktahuan klien tentang informasi dari penyakit yang
dideritanya. Secara umum, hipertiroid ini adalah akibat dari hiperaktifnya kelenjar tiroid
dalam mamproduksi hormone tiroid. Penyakit ini termasuk dalam autoimun yang
menghasilkan antibody yang dapat meningkatkan produksi hormone tiroid secara bebas.
Kurangnya pengetahuan klien tentang penyebab dan factor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya hipertiroid.
2) Pola Nutrisi Metabolik Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat,
makan banyak, kurus, makannya sering, kehausan, mual dan muntah.
3) Pola Eliminasi Urine dalam jumlah banyak, urin encer berwarna pucat dan kuning,
perubahan dalam feses ( diare ), sering buang air besar dan terkadang diare, keringat
berlebihan, berkeringat dingin.
4) Pola Aktivitas
- Latihan sensitivitas meningkat, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat,
palpitasi, nyeri dada, Bicaranya cepat dan parau, gangguan status mental dan perilaku,
seperti: bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang, delirium, psikosis, stupor, koma,
tremor halus pada tangan, tanpa tujuan, beberapa bagian tersentak
– sentak, hiperaktif refleks tendon dalam (RTD). frekuensi pernafasan meningkat,
takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis), Jari tangan gemetar (tremor),
Jantung berdebar cepat, denyut nadi cepat, seringkali sampai lebih dari 100 kali per menit
Rasa capai, Otot lemas, terutama lengan atas dan paha, Ketidaktoleranan panas
Pergerakan-pergerakan usus besar yang meningkat Gemetaran Kegelisahan; agitasi.

5.) Pola Istirahat Dan Tidur Insomnia sehingga sulit untuk berkonsentrasi.

6) Pola Kognitif Perseptual Ada kekhawatiran karena pusing, kesemutan, gangguan


penglihatan, penglihatan ganda, gangguan koordinasi, Pikiran sukar berkonsentrasi.

7) Pola Persesdi Diri

Gangguan citra diri akibat perubahan struktur anatomi, mata besar (membelalak =
exophthalmus), keluhan lain pada mata (spt nyeri,peka cahaya,kelainan penglihatan dan
conjunctivitis), kelenjar gondok membesar (struma nodosa), kurus., kulit yang seperti
beludru halus, rambut halus dan tipis, Rambut rontok.

8) Pola Peran-Hubungan Nervus, tegang, gelisah, cemas, mudah tersinggung. Bila bias
menyesuaikan tidak akan menjadi masalah dalam hubungannya dengan anggota
keluarganya.

9) Pola Seksualitas
– Reproduksi penurunan libido, hipomenore, amenore dan impoten, Haid menjadi tidak
teratur dan sedikit, Kehamilan sering berakhir dengan keguguran, Bola mata menonjol,
dapat disertai dengan penglihatan ganda double vision).

10) Pola Koping

– Toleransi stress Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik. Emosi labil
(euforia sedang sampai delirium), depresi.

11) Pola Nilai Kepercayaan Tergantung pada kebiasaan, ajaran dan aturan dari agama yang
dianut oleh individu tersebut. Nervus, tegang, gelisah, cemas,

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan (00027)
2) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan
yang tidak adekuat (00002)
3) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kelembapan (00046)
4) Diare berhubungan dengan adanya parasit (00013)
J. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA Tujuan dan kriteria hasil Intervensi


KEPERAWATAN
1 Kekurangan volume Setelah dilakukan tindakan O: - Monitor status dehidrasi.
cairan berhubungan keperawatan selama ...x24 - Monitor ttv
dengan output yang jam, diharapkan kebutuhan - Monitor status nutrisi
berlebihan (00027) cairan dan elektolit dalam - Monitor respon
tubuh pasien dapat teratasi pasien terhadap
dengan kriteria hasil : penambahan cairan
- Input dan output N: - pertahankan catatan
cairan elektolit intake dan ouput cairan
seimbang E: - dorong masukan oral
Menunjukkan membran C: - kolaborasi dengan dokter
mukosa lembab dan turgor kolaborasi cairan IV
jaringan normal
2 Gangguan nutrisi kurang Setelah dilakukan tindakan O: - kaji adanya alergi
dari kebutuhan tubuh keperawatan selama ...x24 makanan
berhubungan dengan jam, diharapkan kebutuhan - Monitor jumlah
intake makanan yang nutrisi pasien dapat teratasi nutrisi dan kandungan
tidak adekuat (00002) dengan kriteria hasil : kalori
- BB ideal sesuai - Monitor adanya
dengan tinggi badan penurunan berat
- Tidak ada tanda- badan
tanda malnutrisi N: - berikan substansi gula
- Menunjukan - Anjurkan pasien
peningkatan fungsi untuk meningkatkan
- Tidak terjadi intake IV
penurunan BB yang - Anjurkan pasien
berarti untuk meningkatkan
protein dan vit C
E: - berikan informasi
tentang kebutuhan nutrisi.
C: - kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien.

3 Kerusakan integritas kulit Setelah dilakukan tindakan O: - monitor aktivitas dan


berhubungan dengan keperawatan selama ...x24 mobilisasi pasien
kelembapan (00046) jam, diharapkan kerusakan N: - memandikan pasien
integritas kulit pasien dapat menggunakan sabun dan air
teratasi dengan kriteria hasil : hangat
- Integritas kulit yang - Mobilisasi pasien
baik bisa setiap 2 jam sekali
dipertahankan - Oleskan lotion pada
- Tidak ada luka atau daerah tertekan
lesi pada kulit - Jaga kebersihan agar
- Perfusi jaringan baik tetap bersih dan
kering
E: - Anjurkan pasien untuk
menggunakan pakaian
longgar
C: - kolaborasi dengan tim
medis lainnya.
4 Diare berhubungan Setelah dilakukan tindakan O: - monitor intake cairan
dengan adanya parasit keperawatan selama ...x24 - Observasi cairan yang
(00013) jam maka di harapkan masuk dan keluar
frekuensi BAB pasien N: - terapi IV
kembali normal, dengan E: - manajemen lingkungan
kriteria hasi : - Ajarkan untuk tetap
- Mengkonsumsi serat menjaga lingkungan
dengab jumlah yang agar tetap bersih
adekuat C: - manajemen pengobatan
- Mengeluarkan feses - Kolaborasi dengan
paling tidak 3 kali dokter untuk
perhari pemberian obat
- Mempertahankan
kontrol pengeluaran
feses
(NIC & NOC, 20008)

DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal – Bedah : Buku Saku untuk Brunner
dan Suddarth. Jakarta : EGC.
Behrman, Richard E, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan dan Anak Nelson, Volume 2. Edisi 15.
Alih Bahasa A. Samik Wahab. Jakarta : EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi, Ed. 3; Alih Bahasa, Nike Budhi
Subekti. Jakarta: EGC.
Doctherman, J. McCloskey. 2008. Nursing Interventions Classification (NIC) &Nursing
Outcomes Clasifications (NOC). USA : Mosby.
Grace, Pierce A & Borley, Neil R. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta : Erlangga.
Herdman, T. Heather. 2013. NANDA Internasional Diagnosis Keperawatan : Definisi
dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.
Kee, Joyce L.1996. Farmakologi : Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC.
Muscari, Mary E. 2005. Panduan Belajar: Keperawatan Pediatrik; Alih Bahasa, Aifrina
Hany. Jakarta: EGC.
Nethina, Sandra, M. 2001. Pedoman Praktek Keperawatan. Alih Bahasa oleh Setiawan,
dkk. Jakarta : EGC.
Nurarif, Amin Huda dan Kusuma, Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperwatan
Berdasarkan Diagnose Medis dan NANDA NIC-NOC . Yogyakarta: Mediaction
Publishing.
Wong, Donna L. dan Eaton, M. H…(et all). 2001. Wong’s Essentials of Pediatric
Nursing . (Ed. 6). Missouri : Mosby.